.

.

A Romantic Story About Love "HAEHYUK YAOI VER" (Remake Story)

.

Desclaimer:

Cerita ini adalah murni bukan karya saya, ini hanya bentuk Remake dari Novel luar biasa karya Santhy Agatha dengan judul asli "A Romantic Story About Serena". Dengan perubahan genre menjadi Boys Love alias YAOI, pergantian cast sesuai dengan bayangan saya serta penambahan dan pengurangan di sana sini sesuai dengan kebutuhan jalan cerita. Semua Cast yang nantinya ada di sini murni milik Tuhan, Orang Tua, dan diri mereka sendiri, karena saya hanya meminjam nama. Tapi untuk Lee Donghae, masih diharapkan hanya menjadi milik saya dan hanya dengan Lee Hyukjae saya rela berbagi ^ , ^

Untuk penggambaran sosok Donghae dan Hyukjae dalam cerita ini, silahkan bayangkan seperti gambar cover-nya ya...

.

Bagi yang tidak suka dengan semua yang berbau Remake, jangan dibaca, Monggo silahkan langsung tutup ini halaman dengan cara klik tanda silang di pojok kanan atas. Jangan ada bash apalagi hujatan, karena itu terlalu buang-buang energi anda.

Terima Kasih

.

Selamat Membaca ^^

.

.

BAB 3

Hyukjae sedikit takut melirik pada Donghae ketika lelaki itu membelokkan mobilnya ke areal hotel berbintang lima. Donghae sama sekali tak mengajaknya bicara. Dia menyetir mobil dengan tenang tetapi rahangnya menegang seperti menahan marah. Apakah lelaki itu akan berbuat kasar padanya untuk melampiaskan kemarahannya?

Tadi siang dia sudah menghina Donghae, dan Hyukjae menyadari bahwa ego seorang lelaki sangat mudah terluka. Terutama seorang lelaki yang begitu arogan seperti Donghae. Sejujurnya Hyukjae ketakutan kalau-kalau Donghae akan melampiaskan kemarahannya dengan kasar. Hyukjae sadar dia juga seorang lelaki yang seharusnya bisa melindungi diri. Tapi menghadapi Donghae, ia bahkan tak yakin dengan dirinya sendiri.

Hyukjae masih begitu awam. Ia belum pernah disentuh oleh siapapun. Bahkan Siwon yang merupakan tunangannya tak pernah menyentuhnya lebih jauh selain berupa pelukan dan ciuman. Apakah dia harus memberitahu Donghae kalau ini adalah hal pertama baginya? Donghae dari awal sudah beranggapan dia murahan, bagaimana jika...

Hyukjae terlonjak ketika pintu terbuka, ternyata Donghae sudah keluar dari mobil dan membukakan pintu penumpang. Donghae mengernyit ketika melihat wajah Hyukjae yang pucat pasi.

"Ayo!" Gumamnya kaku, dan meraih pergelangan tangan Hyukjae untuk perlahan menariknya keluar dari mobil.

Setelah Donghae menyerahkan kunci mobilnya kepada petugas hotel untuk diparkir, mereka berjalan bersisihan memasuki lobby hotel yang sangat mewah. Resepsionis hotel menerima mereka dengan ramah dan memberikan kartu kamar yang dipilih Donghae. Bahkan di dalam liftpun mereka lewati dengan keheningan.

Kamar itu begitu luas dan sangat mewah membuat Hyukjae terpaku sambil terkagum-kagum akan keindahan interiornya. Donghae hanya berdiri di sana menatapnya.

"Kau pasti belum makan, aku akan memesan makan malam untuk diantar ke kamar". Setelahnya lelaki itu melirik Hyukjae dengan sinis. "Sementara itu, kupersilahkan kau mandi duluan, badanmu basah, kau bisa mandi dengan air hangat."

"Ta...tapi, saya tidak membawa baju..."

Donghae sengaja menatap Hyukjae dari ujung kepala sampai ujung kaki dengan begitu intens, membuat wajah manis Hyukjae merah padam. Ya Tuhan, demi apapun kau itu laki-laki Hyukjae, kenapa wajahmu memanas hanya dengan ditatap seperti itu, Hyukjae merutuk dalam hati.

"Aku akan memesan pakaian di butik kenalanku, besok pagi pesanan akan diantarkan kemari. Bajumu yang basah letakkan ditempat yang disediakan di kamar mandi, petugas hotel akan mengambilnya untuk di laundry, sementara itu..." .Donghae sengaja menggantung kalimatnya dengan penuh arti.

"Malam ini kau tak perlu repot-repot memikirkan baju, toh kau tak akan sempat mengenakannya."

Kalau wajah Hyukjae bisa lebih merah lagi, itu akan menunjukkan betapa malunya dia dengan kata-kata vulgar Donghae. Setelah menggumamkan beberapa kalimat tak jelas dengan gugup, Hyukjae setengah berlari menuju kamar mandi.

Di dalam kamar mandi Hyukjae merasa sedikit aman, disandarkannya punggungnya ke pintu dan dicobanya menarik napas dengan normal. Dia takut pada Donghae, lelaki itu seperti seekor singa yang menemukan domba lemah, lalu memutuskan untuk bermain-main dengannya dulu sebelum memakannya.

Hyukjae melangkah telanjang ke kamar mandi, lalu menyiram tubuhnya yang letih dan kedinginan karena kehujanan dengan shower air panas. Setelah selesai mencuci rambutnya, Hyukjae menyandarkan kepalanya di tembok dan membiarkan punggungnya yang pegal tersiram shower air hangat.

Kelopak matanya menutup rapat dengan kekalutan yang teramat sangat. Sejujurnya Hyukjae begitu takut menghadapi masa depan dan ketika membayangkan Siwon, air matanya menetes. Mengalir bersama siraman air shower.

'Maafkan aku Siwonnie, setelah ini mungkin aku akan menjadi manusia kotor dan tak pantas untukmu, tapi hatiku tetap milikmu.'

..:: [HaeHyuk] ::..

Ketika selesai membasuh muka dan menggosok gigi, Hyukjae memandang bayangan dirinya dicermin. Keadaannya sudah lebih baik, pipinya sudah tidak pucat lagi, sudah ada rona merah disana setelah mandi air hangat. Ketukan di pintu hampir membuat tubuh Hyukjae melonjak.

"Kau lama sekali, apa kau baik-baik saja disana?" Tanya Donghae tak sabar.

"Yyaaa...sebentar lagi selesai". Hyukjae menjawab sambil mengedarkan pandangan ke sekeliling.

Apakah dia harus keluar dari kamar mandi dalam keadaan telanjang? Matanya menatap tumpukan baju kotornya. Memikirkan kemungkinan mengenakan bajunya lagi, dan membayangkan mengenakan baju yang hampir basah kuyup itu membuatnya begidik.

Senyumnya muncul ketika menemukan tumpukan handuk berwarna biru tua di lemari samping wastafel, dan dia beruntung, bukan hanya handuk, tapi dia menemukan sepasang bathrobe dengan warna yang sama.

Dikenakannya salah satu bathrobe yang ada. Ukurannya sedikit kebesaran ditubuhnya. Sambil mengernyit pandangannya mengedar. Perlengkapan kamar mandi ini seperti sengaja ditujukan untuk pasangan, terlihat dari sepasang jubah mandi, sepasang sikat gigi, dan sepasang handuk yang begitu lengkap tertata di sana.

Ditatapnya bayangannya di cermin, wah lumayan, lebih dari lumayan malah. Bathrobe itu menutup rapat bagian tubuhnya, bahkan panjangnya menjapai bawah lutut. Dia kelihatan cukup sopan meski sebenarnya tidak mengenakan apa-apa lagi di bathrobe yang dikenakannya.

Ketika Hyukjae keluar dari kamar mandi, Donghae sedang memberikan instruksi pada pelayan hotel yang menata makan malam di meja. Lelaki itu hanya mengangkat alis melihat akal Hyukjae memakai bathrobe, lalu memberikan tips pada pelayan sebelum dia pergi.

"Duduklah, makan dulu". Gumam Donghae mulai santai sambil menunjuk kursi di depannya.

Hyukjae duduk dengan gugup di kursi dan menatap makanan yang tersaji di meja. Air liurnya langsung terbit melihat sajian yang kelihatannya lezat itu. Ada sup krim yang sangat panas yang pasti rasanya sangat nikmat untuk orang yang habis basah kuyup kehujanan, lalu daging panggang dengan bumbu keju dan saus yang sangat menggunggah selera, salad buah-buahan dan cokelat panas yang pasti untuknya, karena Donghae sudah menyesap kopinya.

Dengan penuh perhatian Donghae menuangkan sup di mangkuk dan menyodorkannya pada Hyukjae. Hyukjae menatap Donghae ragu, dan untuk pertama kalinya hari itu, Donghae tersenyum lembut padanya.

"Ayo makan, aku tahu kau lapar, aku sendiri lapar sekali."

Mereka mulai makan dalam keheningan. Dari sudut matanya, Hyukjae dengan hati-hati melirik Donghae dan menyadari jika lelaki itu mulai santai. Jasnya sudah dilepas dan kancing kemejanya dibuka dua dengan dasi yang sudah dibuka ikatannya. Meskipun begitu, cara makannya sangat elegan hingga membuat Hyukjae malu.

"Hyukjae?"

Suara itu menembus lamunannya dengan keras hingga membuat Hyukjae hampir melonjak karena terkejut. Matanya mengerjap menatap Donghae.

"A...apa?"

"Kau hanya mengaduk-aduk supmu, apa tidak enak?"

Dengan terburu-buru Hyukjae menyuap sesendok sup dan menelannya.

"Ti..tidak, ssayaa hanya sedang berpikir."

Donghae tersenyum, lalu sekali lagi menatap bathrobe yang melekat di tubuh Hyukjae.

"Pintar sekali kau memakai bathrobe itu, jadi kau tak perlu tampil telanjang di depanku."

Komentar yang diucapkan dengan santai itu hampir saja membuat Hyukjae tersedak, pipinya langsung merona merah. Donghae menyesap kopinya sambil tetap memandang Hyukjae, lalu meletakkan cangkirnya.

"Oke, giliranku mandi, makanlah sepuasmu lalu taruh saja disitu. Aku akan menelpon pelayan untuk membereskannya 30 menit lagi." Dengan santai pengusaha muda itu melenggang ke dalam kamar mandi.

Setelah menyesap cokelatnya, Hyukjae tidak tahu harus mengerjakan apa lagi, jadi dia hanya duduk di pinggir ranjang dan menyalakan televisi. Beberapa saat kemudian pelayan datang dengan sopan dan membereskan makanan mereka.

Detik-detik berlalu dan terasa begitu mencekam bagi Hyukjae, sangat kontras dengan Donghae yang sedang di kamar mandi. Lelaki itu mandi dengan santai, bahkan Hyukjae mendengar lelaki itu bersenandung begitu riangnya.

Ketika Donghae keluar dari kamar mandi, Hyukjae sudah hampir tertidur di atas ranjang. Pertarungan batin yang bertubi-tubi sudah membuat jiwa dan raganya kelelahan, sehingga berdiam diri berbaring di atas ranjang yang nyaman itu membuatnya merasa sangat mengantuk.

Donghae mengernyit sambil mengencangkan tali bathrobe nya. Ditatapnya Hyukjae yang berbaring miring membelakanginya dengan posisi meringkuk seperti janin di dalam kandungan. Seketika pemandangan itu membuat hati Donghae berdenyut sakit. Entah kenapa, seperti ada dorongan dalam dirinya untuk merengkuh tubuh ringkih itu dan melawan seluruh dunia demi dirinya.

Kernyitan Donghae semakin dalam, tidak pernah dia merasa seperti itu sebelumnya pada seseorang. Baik itu laki-laki maupun perempuan di sekitarnya. Sosok ini telah membangkitkan semacam hasrat liar yang selama ini tersembunyi rapat-rapat dalam jiwa Donghae, dan bukan hanya hasrat tapi dibarengi oleh rasa obsesif dan posesif yang mendalam.

Tidak! geram Donghae dalam hati, hasrat ini tidak boleh sampai membuat dirinya lemah. Dia harus menunjukkan siapa yang berkuasa.

Dengan pelan Donghae naik ke ranjang. Mendekat pada Hyukjae yang memunggunginya, lalu diraihnya pundak Hyukjae. Tubuh ramping Hyukjae terlonjak karena dibangunkan dari kondisi tidur-tidur ayamnya. Dengan mata yang masih sayu. Dalam keadaan setengah tidur ditatapnya Donghae. Donghae bisa melihat sekelebat ketakutan didalam mata itu, dan dengan sedikit kasar dibaliknya tubuh Hyukjae menghadap dirinya,

"Aku membayar kamar di hotel ini bukan hanya untuk tidur". Donghae menggeram parau lalu dikecupnya bibir Hyukjae. Dan...meledaklah, Donghae merasa hasrat langsung membakar tubuhnya, sekaligus menghanguskannya.

Sejenak dia merasa ragu melampiaskan hasratnya seratus persen karena dirinya cenderung kasar ketika sangat berhasrat. Tapi mengingat bagaimana Hyukjae menawarkan diri padanya hanya demi uang, tak ayal goresan rasa kecewa yang nyeri di hatinya membuat Donghae tak peduli lagi. Toh Hyukjae pasti sudah berpengalaman dan mungkin sudah lebih dari sekali dia menjual dirinya demi uang.

Tapi benarkah Hyukjae sudah berpengalaman? Donghae teringat ciuman Hyukjae yang tanpa teknik memadai di tempat parkir tadi. Tidak! putusnya dalam hati, mungkin pemuda ini hanya tidak pandai berciuman.

Seorang pelacur harus diperlakukan seperti pelacur!.

..:: [HaeHyuk] ::..

Hyukjae masih terkejut ketika tiba-tiba saja tubuhnya dibalik dan dicium habis-habisan. Dia masih setengah tertidur tadi dan benar-benar tak berdaya. Donghae sudah melampiaskan hasratnya tanpa ditahan-tahan, ciuman-ciumannya tanpa jeda, seolah-olah lelaki itu tak tahan sedetikpun tidak berciuman dengannya.

Ketika Donghae mengangkat kepalanya, tampak jelas matanya berkabut, pupil matanya membesar terlihat kontras dengan iris cokelatnya yang berubah sedikit pucat.

"Aku ingin bercinta, aku ingin memasukimu...Ah kau tidak tahu betapa aku.." Suara Donghae tersengal, lalu melumat bibir Hyukjae lagi dengan membabi buta.

Kata-kata vulgar Donghae tak ayal membuat pipi Hyukjae merona malu. Tidak terbayangkan, dia, lelaki polos yang tidak pernah intim dengan siapapun, sekarang terbaring dengan penutup tubuhnya yang sudah acak-acakan, ditindih oleh seorang lelaki lainnya yang mungkin sampai beberapa hari yang lalu tidak dikenalnya dengan baik.

Tangan Donghae menelusup di balik bathrobe Hyukjae, menggesekkan telapak tangannya yang kokoh di kulit Hyukjae yang terasa lembut. Jemarinya meraba, menemukan puncak dada Hyukjae dengan dua tonjolan kecil di sana. Dibelainya lembut, namun sedetik kemudian dicubitnya salah satu nipple Hyukjae. Sedikit terlalu keras dan bergairah sehingga membuat Hyukjae mengerang. Donghae menghentikan gerakannya, lalu menatap Hyukjae lembut.

"Sakitkah?" bisiknya parau.

Hyukjae terpaku, suaranya seakan tertelan di tenggorokan, bagaimana dia harus menjawabnya? Tetapi Donghae tidak memerlukan jawaban. Lelaki itu tersenyum, lalu menggerakkan tangannya lagi menjelajah dada Hyukjae. Dengan ahli dia menyingkirkan bathrobe Hyukjae yang menghalangi, dan menemukan hamparan mempesona di baliknya.

"Indah sekali Hyuk." Donghae berbisik serak, membiarkan Hyukjae memalingkan muka dengan malu dibawah tatapan tajam dan memuja lelaki itu.

Lalu bibir Donghae yang panas menelungkupi tonjolan kecil berwarna kecoklatan di dada Hyukjae. Lidahnya bermain di sana. Terasa panas, membakar seluruh tubuh Hyukjae, membuatnya terpaksa merintih, merasa bingung dengan gejolak yang menyebar di seluruh tubuhnya. Donghae begitu ahli sedang Hyukjae sama sekali tidak berpengalaman, dan lelaki itu tampaknya tidak merasa perlu menahan dirinya.

Entah kapan, mereka sudah telanjang bersama di atas tempat tidur itu. Tubuh Donghae yang keras, melingkupi tubuh Hyukjae yang lebih kecil di bawahnya. Menggodanya, menggeseknya dengan kekuatannya, membawa gairah Hyukjae makin naik sedikit demi sedikit ke puncaknya.

Kemudian Hyukjae merasakan kejantanan Donghae yang tidak terhalang apapun bersentuhan dengan miliknya. Donghae menatap Hyukjae dengan tajam, matanya berkabut, napasnya terengah, dan sejumput rambut tampak jatuh di dahinya, membuatnya tampak begitu liar.

"Ah, ya manis...Kau pasti akan sangat menyukainya", geram Donghae pelan.

Perlahan, disentuhnya milik Hyukjae yang mengeras. Hyukjae sudah terangsang, terbukti dari precum yang keluar membasahi tangan Donghae yang melingkupinya. Tatapan Donghae tak pernah lepas dari wajah Hyukjae yang tampak memerah menahan hasrat.

Bibir penuh lelaki di bawahnya ini sedikit terbuka, semakin menambah kesan menggairahkan dalam dirinya. Melepaskan cengkeramannya, Donghae memasukkan telunjuknya yang telah basah ke dalam satu satunya lubang di sana. Menggerakkannya perlahan sedikit membuka akses baginya untuk masuk. Satu jari, dua jari, sampai jari ketiganya yang turut menjajah lubang Hyukjae. Merasa cukup licin, Donghae mengeluarkan jarinya. Ditatapnya Hyukjae penuh nafsu.

"Kau sudah siap!" Erang Donghae.

"Kau sudah basah dan panas, siap untuk diriku..."

Jantung Hyukjae berdegup kencang, beriringan dengan detak jantung Donghae yang bahkan lebih parah. Dengan perlahan, Hyukjae memejamkan matanya, melepaskan hatinya. Demi kau Siwonnie, bisiknya dalam hati bagaikan mantra yang menyelamatkan jiwanya.

Ini adalah sensasi baru bagi Hyukjae, merasakan kejantanan seorang lelaki yang mencoba memasukinya, menyatu dengannya. Rasanya panas dan membuat seluruh saraf ditubuhnya menggila, membuatnya begitu sensitif oleh kebutuhan yang sampai saat ini tidak pernah diketahuinya, kebutuhan untuk mencapai puncak.

Hingga rasa sakit yang menyengat tiba-tiba menyentakkannya ke alam sadar saat sesuatu yang keras itu benar-benar memasukinya. Hyukjae mengerang kesakitan, tubuhnya mengejang, dengan panik dicengkeramnya pundak Donghae dan menggeleng-gelengkan kepala ketakutan atas usaha Donghae untuk menyatu semakin dalam dengannya.

..:: [HaeHyuk] ::..

Donghae menggeram, belum ada sepertiga bagian miliknya memasuki Hyukjae. Tapi ia serasa dicengkeram begitu eratnya, membuat gerakannya terhenti. Ketika merasakan betapa sulitnya ia menerobos masuk, mendengar erangan Hyukjae yang jelas-jelas kesakitan serta pandangan ketakutan yang membayangi mata Hyukjae, Donghae sadar bahwa semua prasangkanya itu salah. Meski tetap tak bisa menjelaskan kenapa Hyukjae dengan mudahnya menjual dirinya, tapi ini sudah menunjukkan bahwa Hyukjae bukan murahan.

Donghae adalah yang pertama. Orang pertama yang benar-benar menyentuh Hyukjae.

Menyadari kesakitan yang mendera Hyukjae, Donghae mengalihkan perhatiannya. Donghae memberikan cumbuan dengan segenap keahliannya, tangan kanannya merangkum pusat terpanas tubuh Hyukjae. Memainkannya dengan sensual, mengocoknya pelan sesekali meremasnya ringan, berusaha mengalihkan perhatian lelaki itu. Rasa senang tak tertahankan membanjiri pikiran Donghae ketika menyadari dirinya adalah lelaki pertama bagi Hyukjae.

Diciumnya bibir Hyukjae dengan lembut, bibir ranum yang sekarang menjadi miliknya. Napas Hyukjae terengah-engah dan Donghae melihat di matanya, ada ketakutan dan kesakitan. Donghae tidak tahu seperti apa rasa sakitnya saat pertama kali dimasuki, dan dia juga tidak mengerti bagaimana meredakannya. Tetapi Donghae tidak suka melihat rasa sakit itu mendera di mata Hyukjae.

"Sssh...Sayang, aku tidak bermaksud menyakitimu."

Dengan lembut Donghae menelusurkan tangannya di sisi tubuh Hyukjae, lalu berhenti di pinggul Hyukjae. Menahan pinggangnya yang sedikit meronta, mencegah tubuh mereka yang sudah setengah menyatu supaya tidak terpisah.

"Mungkin akan sedikit sakit tapi semua akan baik, tubuhmu akan menerimaku seutuhnya..." Suara Donghae terhenti ketika dia mendorong dengan kuat, menembus batas pertahanan Hyukjae dan menyatukan tubuhnya sepenuhnya dengan Hyukjae.

Hyukjae berteriak kencang merasakan pedih yang amat sangat ketika Donghae menembusnya, jemarinya tanpa sadar mencengkeram pundak Donghae dengan keras. Tetapi Donghae tidak berhenti karena dia sadar kalau dia berhenti dia akan menyakiti Hyukjae. Dengan perlahan, Donghae menggerakkan tubuhnya.

Oh Tuhan ! Sekujur tubuhnya terasa nyeri menahan diri. Hyukjae terlalu sempit, terlalu panas, terlalu erat mencengkeram tubuhnya di bawah sana. Dia hampir-hampir tidak tahan dan dorongan untuk memuaskan diri dengan brutal di tubuh Hyukjae semakin menyiksa.

Tetapi Donghae sadar, ini pengalaman pertama bagi Hyukjae. Dia harus membuatnya seindah mungkin, dia tidak boleh menyakiti Hyukjae. Karena itu sambil menggertakkan gigi menahan gairahnya, Donghae mencoba bergerak selembut mungkin. Menarik tubuhnya pelan dari balutan dinding lembut nan panas itu, untuk kemudian menghujamkannya lembut. Lagi dan lagi.

Lalu ketika desah napas Hyukjae menjadi pendek-pendek dengan tubuh yang sedikit melengkung serta pegangannya pada pundak Donghae makin kencang, Donghae sadar, dia hampir membuat Hyukjae mencapai orgasme pertamanya. Dan sedetik kemudian, Hyukjae menumpahkan hasratnya, mengotori perut Donghae di atasnya dan perutnya sendiri.

Donghae tak melepaskan pandangannya. Pemandangan ekspresi wajah Hyukjae saat itu sungguh tak tergantikan, mendorongnya terlempar menuju puncak kepuasan yang sangat tinggi, sangat tak tertahankan seolah-olah dunia melededak dibawahnya. Dan Donghae benar-benar meledak di dalam tubuh Hyukjae.

Orgasme ini terasa begitu dasyat, sebuah pelepasan dari akumulasi gejolak yang ditahannya selama ini. Kenikmatan yang luar biasa ini membuat Donghae merasa sedikit sesak napas, seolah-olah dia terhanyut dalam pusaran gairah yang tak tertahankan dan terus menerus menghantamnya tanpa henti. Erangan parau keluar dari bibirnya ketika dia menenggelamkan wajahnya dalam-dalam di sisi leher Hyukjae. Ketika usai, mereka berbaring berpelukan sambil berusaha menormalkan napasnya.

"Wow!"

Hanya itu yang terlintas dipikiran Donghae, dan dia tak sadar telah mengucapkannya keras setelah menyadari rona merah yang merayap di leher Hyukjae. Dengan lembut dikecupnya leher Hyukjae, diangkatnya kepalanya, dan mereka bertatapan. Onix kecoklatan Donghae yang tajam, yang agak berkabut setelah mencapai orgasme terhebat sepanjang eksistensi kehidupannya, bertemu dengan mata hitam kelam Hyukjae yang berkaca-kaca.

"Apakah kau...", Donghae berdehem ketika menyadari suaranya sangat parau.

"Apakah kau baik-baik saja?"

Hyukjae tidak tahan ditatap dengan sedemikian intens apalagi dalam posisi yang sangat intim, dipalingkannya kepalanya setelah mengangguk pelan. Donghae menarik napas pelan, kemudian dengan hati-hati, sangat berhati-hati, dia mengangkat tubuhnya dari atas Hyukjae dan bergeser ke samping. Donghae menyadari kernyitan tidak nyaman di wajah Hyukjae ketika dia menarik diri.

Tanpa sadar Donghae bersikap begitu lembut, sikap yang tidak pernah ditunjukkannya ketika usai bercinta dengan orang lain. Direngkuhnya tubuh Hyukjae, diletakkannya kepalanya di lengannya. Hyukjae tampak pasrah, mungkin sudah terlalu lelah. Kasihan, kasihan Hyukjae-nya yang masih suci. Ternyata selama ini dia salah paham, Hyukjae memang benar-benar masih suci.

Kepuasan seksual yang luar biasa masih mempengaruhi pikirannya yang berkabut, tangannya dengan santai mengelus punggung polos Hyukjae yang bergelung dipelukannya, sampai lama kemudian disadarinya pundak Hyukjae berubah santai dan napasnya mulai teratur pelan. Dia tertidur. Donghae mengatur posisinya dengan lebih nyaman. Tak pernah sebelumnya dia seintim ini setelah bercinta, sosok ini benar-benar mempengaruhinya...

..:: [HaeHyuk] ::..

Hyukjae merasakan seluruh tubuhnya sakit dan pegal. Dengan mengerutkan dahi dia mencoba menggerakkan badannya. Oh...memang pegal sekali rasanya. Pelan pelan dibukanya matanya, cahaya kamar masih tampak redup, suasana kamar terasa sejuk dan menyenangkan.

"Selamat pagi!"

Sapaan itu begitu mengejutkan, menembus kesadarannya yang masih berkabut, hingga badan Hyukjae terlonjak duduk lalu selimutnya turun sampai ke pinggang, dan barulah Hyukjae menyadari kalau dia telanjang. Dengan gugup ditariknya selimut menutup tubuhnya. Matanya langsung bertatapan dengan Donghae yang duduk disofa, tepat dihadapannya. Sedikit senyum tersirat di bibir tipis itu saat melihat kegugupan Hyukjae.

Sekali lagi Hyukjae benar-benar malu. Donghae sudah tampil sangat rapi dan elegan dengan pakaian santai dan sedang menyesap kopi sambil membaca koran paginya. Penampilannya benar-benar sempurna di pagi hari, sedangkan Hyukjae...Astaga, jam berapakah ini?

"Ini masih pagi sekali, masih gelap, tadi aku bangun dan memutuskan mandi air dingin, kalau tidak aku tidak akan bisa menahan diri untuk membangunkanmu dan bercinta lagi denganmu",

Suara Donghae datar seperti sedang membicarakan acara televisi favoritnya, tak dipedulikannya wajah Hyukjae yang memerah.

"Bukannya aku tidak bisa, tapi sepertinya aku harus menghormati kesucianmu yang baru hilang".

Tatapan Donghae berubah tajam, seperti yang selalu dilakukannya ketika meeting saat dia membuat lawan-lawan bisnisnya mengekeret ketakutan.

"Kenapa kau bisa dengan mudahnya menjual diri padaku? Apa tujuanmu sebenarnya?" Donghae bertanya tanpa ampun. Matanya menatap tajam seolah mengintimidasi. Hyukjae duduk disana dalam kondisi paling tidak siap dan Donghae melemparkan pertanyaan paling sulit untuk di jawab, apakah laki-laki itu sengaja? Tentu saja Donghae sengaja! Seru Hyukjae dalam hati, lelaki seperti dia tak akan sesukses ini dalam bisnis jika tidak tahu cara menyerang lawannya di titik lemah.

Sekarang dia harus menjawab apa? Hyukjae benar-benar kebingungan. Kalau dia menceritakan seluruh kisahnya, akankah Donghae percaya? Lagipula dia tidak ingin melibatkan Siwon disini, jangan sampai Donghae tahu tentang Siwon-nya. Dia harus melindungi Siwon dari lelaki kejam seperti Donghae. Siapa yang tahu apa yang akan dilakukan Donghae kepada Siwon hanya untuk memerasnya nanti? Dengan tegas Hyukjae menegakkan dagunya,

"Saya rasa alasan saya melakukan ini bukan urusan anda, yang penting saya tidak akan merugikan diri anda."

Rahang Donghae mengeras mendengar jawaban Hyukjae tadi. Sejenak tadi dia merasa Hyukjae patut diberi kesempatan, mungkin saja Hyukjae melakukan itu untuk membiayai saudaranya atau apa. Tetapi ternyata dia salah, bodohnya dia. Hyukjae mungkin hanya menunggu kesempatan untuk menjual kesuciannya dengan harga mahal, bukan bermaksud menjaganya. Bodohnya dia sempat berpikir untuk mempercayai lelaki itu.

"Oke, bussiness is bussiness, aku tidak akan bertanya lagi tentang tujuanmu, asal jangan sampai kau merugikanku...". Mata Donghae menyipit kejam, "kalau kau berani berani melakukannya, aku akan membuatmu menderita."

Hyukjae tanpa sadar beringsut menjauh, ketakutan dengan nada suara dan tatapan kejam Donghae. Tiba-tiba saja badan tegap itu bangkit dari duduknya setelah membanting gelas kopinya di meja. Hyukjae menatap Donghae dengan cemas, apa yang salah dari ucapannya? Kenapa lelaki itu tampak begitu marah padanya?

Donghae melirik jam tangannya.

"Aku sudah membuat janji dengan pengacaraku tiga jam lagi, akan kubuat kontrak hitam di atas putih atas perjanjian jual beli kita ini, dan selama aku menunggu jam itu..."

Mata Donghae menelusuri tubuh Hyukjae yang berusaha dia tutupi dengan selimut. Tatapan matanya sangat melecehkan.

"Well kurasa sudah cukup kan penghormatanku atas kesucianmu?"

Lalu Donghae naik ke ranjang dan merenggut tubuh Hyukjae. Membawanya ke tempat tidur bersamanya. Kali ini tidak ada kelembutan. Donghae tidak menahan-nahan diri lagi. Dan dia sudah siap. Dengan kasar dibukannya paha Hyukjae dan tanpa basa basi dia menyatukan tubuhnya dengan Hyukjae. Hyukjae memekik, rasa perih itu kembali Hyukjae rasakan saat milik Donghae memasukinya tiba-tiba.

Donghae menyatukan tubuhnya dalam-dalam, sebuah erangan nikmat lolos dari mulutnya ketika dia merasakan kenikmatan yang menyengat. Lelaki itu menatap Hyukjae, antara bingung dan marah tercampur di dalam matanya.

"Kau...Sungguh membuatku tergila-gila." Erangnya kasar sebelum bergerak dengan begitu ahlinya, membawa Hyukjae menuju puncak kenikmatan.

..:: [HaeHyuk] ::..

Hyukjae menatap tubuh telanjangnya di cermin, air panas mengalir dari shower di atas kepalanya menimpa tubuhnya. Kamar mandi itu beruap, sehingga bayangan tubuhnya terpantul samar-samar di cermin.

Tadi Donghae tidak lembut, well meskipun tidak begitu menyakitinya tetapi lelaki itu berbeda dari semalam. Gairahnya liar dan tidak ditahan-tahan lagi, meluap-luap seolah olah sudah bertahun-tahun laki-laki itu tidak melampiaskan hasratnya.

Tapi itu tidak mungkin kan? Hyukjae tanpa sengaja mengerutkan dahinya. Donghae terkenal suka gonta ganti pasangat. Entah perempuan ataupun laki-laki yang cenderung manis seperti dirinya. Pasangannya selalu setipe, berpenampilan menarik, glamour, dari kelas atas dan terkenal. Entah itu model, artis dan kebanyakan orang luar. Mereka semua rela menyerahkan dirinya pada Donghae dengan sukarela.

Desas desus berkembang bahwa Donghae adalah kekasih yang sangat bergairah dan murah hati, tetapi tidak tanggung-tanggung mendepak pasangannya dengan kejam, karena dia tak pernah memakai hati dalam berhubungan.

Kekasih terakhir Donghae, yang kemarin baru digandengnya dalam acara pernikahan seorang anak direksi adalah artis film yang sedang naik daun. Seseorang wanita yang sangat cantik bernama Yoona. Tubuhnya tinggi langsing semampai dengan rambut cokelat bergelombang yang sangat halus bagaikan sutera. Kulitnyapun tak kalah halusnya sepertu buah peach dan dia tampak sangat serasi, bergelayut manja di lengan Donghae dengan tatapan memuja.

Apakah Donghae juga akan melecehkan Yoona seperti dia melecehkan Hyukjae? Apakah Donghae selalu melecehkan semua pasangan kencannya? Apa yang akan dilakukan Yoona jika dia mengetahu semua ini? Tidak, apa yang akan dikatakan semua orang?

Hyukjae mengernyit melihat bekas bekas ciuman memerah di pundak dan area dadanya. Donghae lelaki yang suka meninggalkan tanda. Hyukjae tahu lelaki itu sengaja meninggalkan bekas-bekas ciuman di tubuhnya...bahkan ada yang di sekitar pinggul dan paha dalamnya.

Astaga...apa yang telah kulakukan ya Tuhan? Apakah aku sudah melakukan keputusan yang paling benar? Hyukjae sudah tidak dapat menangis lagi, air matanya sudah habis dan hatinya sekarang terasa amat hampa.

Dengan pelan Hyukjae meraih handuk dan mengeringkan tubuhnya lalu meraih bathrobe yang tadi ditemukannya tergeletak di karpet. Sepertinya Donghae semalam melemparkannya ke lantai. Dengan langkah pelan Hyukjae keluar dari kamar mandi, bingung mau berbuat apa, dan bertanya-tanya dimanakah pakaiannya sekarang?

Tatapannya menuju ke arah sofa, di situ ada kemasan pakaian. Hyukjae melangkah dan mengambil kemasan itu. Satu set pakaian, masih baru, dari butik ternama lengkap dengan pakaian dalamnya...Apakah ini untuknya? Hyukjae memegang kemasan itu dengan ragu. Haruskah ia mengenakannya? Tapi dia juga tak mungkin memakai bathrobe dalam kondisi telanjang seharian kan?

Dengan hati-hati Hyukjae membuka kemasan itu, terdapat satu skinny jeans warna biru dan sweater kuning cerah. Hyukjae melihat ukurannya dan semuanya pas, Donghae kah yang memesaannya? Dengan gerakan pelan dan tanpa menimbulkan suara Hyukjae memakai pakaian itu, semuanya terasa nyaman. Sangat pas melekat di tubuh rampingnya.

Setelah itu selama beberapa lama Hyukjae berdiri ditengah kamar itu tanpa berbuat apa-apa. Pandangannya mengarah ke arah ranjang yang seperti habis diserang badai. Tubuh Donghae terbaring disana, punggungnya tampak kecokelatan terlihat di balik selimut kamar yang putih bersih. Lelaki itu berbaring tengkurap dengan salah satu lengan membingkai kepalanya, dan tubuhnya diam tak bergerak. Kepalanya terbaring miring di atas bantal.

Hyukjae mendekat pelan kesisi ranjang tempat Donghae berbaring. Wajahnya tampak damai sekali kalau sedang tidur, dia tak tampak berbahaya. Hyukjae melirik ke arah jam dinding, satu jam lagi. Seperti yang dikatakan oleh Donghae tadi, dia ada janji dengan pengacaranya. Haruskah Hyukjae membangunkannya? Tapi bagaimana nanti kalau Donghae marah dan menuduhnya berani mengganggunya karena ingin segera mendapatkan uang pembayaran? Bukannya Hyukjae tidak ingin segera mendapatkan uang itu. Semakin cepat dia bisa membayar ke rumah sakit, semakin cepat Siwon bisa dioperasi. Tetapi Donghae sudah cukup banyak memandang rendah dan melecehkannya.

Tiba-tiba handphone Donghae yang diletakkan di meja samping ranjang berbunyi keras, membuat Hyukjae hampir terlonjak karena terkejut. Tubuh Donghae bergerak dan matanya yang menyorot tajam itu terbuka, langsung menatap Hyukjae. Meski baru bangun tidur, rupanya Donghae tipe lelaki yang langsung terjaga sepenuhnya detik itu juga. Matanya langsung menelusuri tubuh Hyukjae dari atas ke bawah tanpa satu incipun terlewatkan, tersenyum puas melihat penampilan Hyukjae dengan baju barunya.

"Ternyata pilihanku tepat", desisnya parau sambil mengangkat telephone.

Telephone itu dari pengacaranya. Donghae menyuruh Pengacara itu menunggu di restoran hotel satu jam lagi. Ketika Donghae meletakkan telephonnya, Hyukjae masih berdiri diam di tempatnya semula, tak tahu musti mengatakan dan melakukan apa.

"Pengacaraku akan datang sejam lagi".

Dengan santainya Donghae berdiri dari ranjang, tak peduli dengan ketelanjangan tubuhnya. Ia mengangkat alis tersenyum melihat Hyukjae memalingkan muka. Dengan sengaja dia mendekat berdiri di depan Hyukjae dan mengangkat dagu Hyukjae agar menghadapnya.

"Kenapa manis? Kau malu melihatku telanjang? Bukankah kita sudah menghabiskan waktu berjam-jam telanjang bersama?"

Wajah Hyukjae merah padam, tapi dia tidak berkata apa-apa. Donghae mendengus lalu melepaskan Hyukjae dan melangkah ke kamar mandi.

"Bagus kau sudah siap. Aku akan mandi setelah itu kita sarapan, lalu kita akan tandatangani kontrak perjanjian, dan setelah itu kau akan mendapatkan uangmu"

..:: [HaeHyuk] ::..

Hyukjae mengaduk-aduk supnya dengan pikiran menerawang, dia memikirkan Siwon. Kemarin sore dia meninggalkannya dan menitipkannya pada Leeteuk. Sore ini dia harus menjenguknya. Bagaimana kondisi Siwon? Dia baru mengalami serangan, bagaimana kalau dia mengalami serangan lagi?

Donghae menatap Hyukjae dari seberang meja. Apa yang dipikirkannya? Kenapa dia tampak begitu tidak bahagia? Bukankah dia baru saja mendapatkan uang dalam jumlah banyak yang bebas digunakannya melakukan apapun? Ataukah dia menyesal sudah menyerahkan diri padaku? Pikiran buruk itu tiba-tiba menyergap otak Donghae. Dalam Kapasitas apa dia menyesali sudah menyerahkan diri padaku?

Donghae menggertakkan giginya, seharusnya Hyukjae bangga. Aku, Lee Donghae, orang yang sangat kaya dan berasal dari keturunan keluarga kaya terpandang, yang bisa mendapatkan wanita ataupun lelaki manapun yang dia mau, bersedia menidurinya!

Donghae memikirkan semua keputusannya semalam. Ternyata ini bukan obsesi maupun kegilaan sesaat. Bahkan setelah percintaan marathon mereka semalam dan tadi pagi, dirinya masih menginginkan Hyukjae. Amat sangat menginginkannya malahan. Setelah hasratnya terpuaskan pada tubuh Hyukjae, bukannya semakin reda dia malah makin ingin dan ingin lagi.

Hyukjae begitu polos tapi menggairahkan, dan di dalam otaknya ini penuh dengan hasrat untuk mengajari lelaki itu bagaimana cara memuaskannya. Dengan kesal dia mengutuk pemikirannya itu, apakah aku sudah menjadi seorang maniak seks?

Donghae memikirkan jeda sejenak tadi, ketika dia menghubungi Kyuhyun pengacara kepercayaannya dan menyatakan niatnya serta minta dibuatkan draft surat perjanjiaannya. Kyuhyun adalah pengacara kepercayaannya sejak dulu, sekaligus sahabatnya.

Kyuhyun telah menempuh pendidikan hukum di Jerman, dan disanalah mereka berkenalan. Beberapa tahun kemudian, setelah Kyuhyun pulang ke Korea, dia membangun karir menjadi pengacara yang hebat. Dan ketika Donghae memutuskan memimpin perusahaannya di Korea, mereka bertemu lagi, lalu menjalin kerjasama kerja sekaligus persahabatan.

Donghae tahu Kyuhyun tidak akan bertanya apapun yang tidak perlu tentang keputusannya. Lelaki itu sudah terbiasa dengan keputusan dan rencana-rencana bisnis Donghae yang ekstrim. Tetapi saat Donghae membicarakan hal tersebut, ada kecemasan dalam suara Kyuhyun.

"Kau yakin? Ini memang surat jual beli, tapi ini terlalu ekstrim Hyung. Jual beli manusia, jual beli pelayanan seks. Kau bisa dibilang melanggar hukum atau bisa saja suatu saat nanti terjadi masalah, apalagi mengingat kau seseorang yang begitu diperhatikan."

Donghae tersenyum, Hyukjae tidak akan berpikir sejauh itu. Bukannya Hyukjae bodoh, tapi dia terlalu polos, entah kenapa Donghae percaya bahwa Hyukjae akan menepati janjinya.

"Buat saja Kyu, selanjutnya biar aku yang menanggung." Gumamnya yakin.

Kyuhyun tidak mengatakan apa-apa lagi, tetapi Donghae yakin lelaki itu menunggu sampai mereka bertatap muka baru dia akan mengajukan pertanyaan mendetail. Kyuhyun adalah lelaki yang sangat analisis. Walau dia lebih muda dari Donghae, tapi dia bukan seseorang yang bisa diremehkan begitu saja.

Donghae menahan senyumnya. Pikirannya kembali ke masa sekarang, dan menatap Hyukjae yang seolah tidak selera makan,

"Kenapa kau tidak memakan makananmu?" Donghae mendesis. Hanya sebuah desisan dan Hyukjae terlonjak kaget, apakah dia sebegitu menakutkannya bagi Hyukjae.

"D-Donghae Sajangnim." Hyukjae menyebutkan nama Donghae dengan pelan, di telinga Donghae suaranya terdengar begitu merdu bagaikan ajakan bercinta.

"Sesuai perjanjian kemarin, aku akan selalu ada kapanpun kau membutuhkanku". Pipi Hyukjae bersemu merah mengingat arti dari kata 'membutuhkan' yang diucapkannya.

"Aku...bolehkah aku meminta waktu untuk diriku sendiri setiap harinya dari jam pulang kantor sampai jam sembilan malam?" Suara Hyukjae terdengar tertelan dan takut-takut. Donghae mengerutkan keningnya. Sebenarnya itu bukan masalah, Donghae terbiasa bekerja sampai larut malam. Biasanya jam sepuluh atau sebelas malam dia baru sampai di rumah.

"Bukan masalah, aku selalu pulang larut malam." Donghae berdehem. "Tempat tinggalmu sekarang, apakah memperbolehkan lelaki masuk?"

Hyukjae mengernyitkan kening,

"Itu hanya salah satu flat kecil yang tak terlalu jauh dengan kantor, tentu saja kau boleh masuk. Beberapa pegawai juga tinggal di sana."

"Beberapa pegawai?", Donghae mengangkat alis penuh arti dengan tatapan sedemikian rupa.

"Oh..." Pipi Hyukjae bersemu dan tak berani menatap Donghae ketika menyadari arti tatapannya.

"Aku tak mungkin bukan 'berkunjung' setiap malam ke tempatmu?" Tatapannya tampak menahan senyum.

Dan Hyukjae menyadari kebenaran kata-kata Donghae, tempat tinggalnya hanyalah sebuah flat sederhana seadanya yang penting bisa tidur setiap malam. Bukan level Donghae untuk berada di sana. Hyukjae melemparkan pandangan sekilas ke sekeliling ruangan.

"Aku tak mungkin membawamu setiap malam ke hotel, karena jam pulang kerjaku yang tak tentu, tidak mungkin pula menyuruhmu stand by di hotel setiap harinya". Donghae merenung.

"Tak mungkin juga membawamu tinggal di rumahku, kalau sampai ada orang yang tahu bisa berbahaya untukmu juga." Dengan santai Donghae menyesap kopinya.

"Oke, nanti siang setelah bertemu dengan pengacaraku, kita cari apartement di dekat kantor."

Hyukjae hampir menyemburkan teh yang disesapnya, lelaki ini bercanda? Apartemen? Di dekat kantor? Kantor mereka berada di kompleks perkantoran dan bisnis yang mewah, apartmen pun pasti juga kelas atas dan mahal. Bagaimana lelaki itu bisa mengatakan tentang mencari apartemen semudah itu? Dan Donghae sepertinya mengetahui pemikiran Hyukjae.

"Lebih mudah bagiku Hyukjae, aku biasanya capek dan bertemperamen buruk setelah bekerja. Aku tak mau repot-repot menjemput atau tetek bengek reservasi hotel jika malam-malam tiba-tiba aku menginginkan bersamamu". Donghae tersenyum sekilas.

"Apartemen akan memudahkan kita, bukan berarti aku akan mengunjungimu setiap malam", tambahnya cepat.

Hyukjae mengangguk gugup, yah, dia kan hanya mahluk yang sudah dibeli, dia hanya bisa menuruti apapun kemauan Donghae. Setelah menghabiskan kopinya Donghae melirik jam tangannya,

"Well, pengacaraku pasti sudah menunggu di bawah, enjoy your time, aku akan menemuinya sebentar".

Dengan santai lelaki itu berdiri, lalu tanpa diduga-duga menarik Hyukjae berdiri. Mendorongnya ke tembok lalu menciumnya dengan penuh gairah. Lama dan hangat dengan teknik yang sangat ahli, sehingga ketika dia melepas ciumannya Hyukjae hampir tak bisa berdiri membuat Donghae harus menahan tubuhnya. Dengan lembut lelaki itu mendudukkan Hyukjae di kursi,

"Sebenarnya sudah sejak tadi aku ingin melakukan itu". Gumamnya dalam senyum puas sebelum pergi meninggalkan Hyukjae.

.

.

..:: [TBC] ::..

.

.

.