Scarlet : Wah... gak kerasa udah lama kita ga ngelanjutin pik ini...
Nagi : sebelumnya, kita liat ripiu dulu ya...
.
Pertama, dari mbak Wind Scarlett :
Chapter pertama boring banget, maklum baru prolog. Chapter kedua ini lumayanlah, suka sama wawancara itu, meski secara logika amat sangat tidak mungkin, tapi gw suka banget sama pasangan Lee dan Anna, jujur aja mereka pairing fave gw, hohoho. Sekali lagi humornya emang bukan gaya gw, tapi cukup menghibur, hehehe. *ditendang Lee*
.
Nagi : dia SUKA!
Scarlet : lebay -_-'a. Lanjut!
Kemudian, dari adek Trina Higrani A Gumiho alias Kagamine Yukimura :
hello... :D . . maap aku baca terburu burur karena ada yang ngirim pesan ke FBku mulu... _ . . tapi tetep ok... :D
.
Scarlet : kita sudah dapat ini dari yang lain... Cukup membosankan...
Nagi : WOY! Terbalik! Daripada ngawur lagi, kita langsung ke cerita aje ye!
Disclaimer :
Tekken, belongs to Katsuhiro Harada-sensei and Namco Games
.
Summary : Scarlet menemukan sebuah peluit misterius di tengah jalan hingga membuatnya terlibat kecelakaan. Ternyata, pria misterius tersebut sangat dikenali oleh Jin Kazama, bahkan dia menanggung biaya rumah sakit sebelum sahabatnya datang. Siapakah lelaki ini? Benarkah Scarlet akan mengangkatnya sebagai orangtua?
WARNING! This fic contains gaje-ness, garing jokes,Drabble sarap, self-inserted, more OOC and other sides of Author's errors… Usia Dragunov akan saya genapkan jadi 30 tahun…
Nagi and Scarlet presents…
When Scarlet Meets Dragunov(?)
.
.
The White Angel in Winter
.
"Scarlet-chan…"
Siapa itu? Keluarlah…
"Hei, Scarlet-chan…"
Ayah, kaukah itu? Benarkah aku sudah mati? Ayah, aku datang untukmu!
.
.
.
.
"SCARLET SALAZAR!"
JBOK!
Aduh! Hah, ternyata mimpi…
Argh! Itu tabokan apa mukul pake palu? Sumpah sakit banget!
"Loh? Kamiya-nii? Aku di rumah sakit? Aku pikir Ayah masih hidup… Ternyata Kamiya-nii yang nabok aku di kepala!", kataku kesal.
"Maaf, Scarlet-chan. Suster kira kamu koma, jadi aku coba bangunin kamu…", balas Kamiya-nii polos dengan wajah mutados-nya yang setara dengan tampang alamakjan-ganteng-nya Kazama-kun.
"Bangunin sih bangunin aja. Tapi jangan mukul kepala juga! ", kataku seraya memegangi kepalaku yang diperban. "Memangnya, aku pingsan berapa hari?"
"Untungnya hanya pingsan dua hari. Nanti sore kita bisa rawat jalan"
"Kamiya-nii, memangnya aku sakit apa sampe dibawa kesini?"
"Ruas tulang punggungmu retak dan kepalamu bocor karena menabrak tiang halte yang keras. Kau mengorbankan dirimu untuk menyelamatkan seseorang…"
"Oh, begitu. Tapi, aku sempat teringat untuk mengembalikan barang miliknya yang terjatuh di jalan. Sayangnya, dia sudah pergi duluan…"
"Orang yang kau selamatkan dari kecelakaan itu? Ngomong-ngomong, kau sempat melihat wajahnya tidak?"
"Entahlah. Aku sempat melihat sekilas sewaktu menoleh padaku…"
" Wajahnya seperti apa? "
"Mata, hidung, mulut. Rambut gondrong. Ga ada yang ga lengkap"
"Aku serius!"
"Aku duarius! "
"Scarlet-chan…"
"Iya. Kalau tidak salah lihat, rambutnya hitam, diikat seseparuh. Matanya biru safir, sebiru lautan samudra. Ada retakan bagai ubin di hidung dan daerah mulutnya, sekaligus berwajah putih pucat. Namun, ketika sedang tersenyum, dia mirip dengan…"
"Dengan… Apa?"
"Julukan Ayah saat masih muda, Malaikat Putih di Musim Dingin"
Aku mencoba menerawang kembali sosok tersebut. Andai saja hidupnya bahagia dan bisa menjadi ayah keduaku, pasti aku bisa memandangnya tersenyum setiap hari…
Alasan aku memanggilnya Malaikat di Musim Dingin sebenarnya bukan apa-apa. Entah mengapa aku suka menyebutnya begitu. Mungkin saja karena wajahnya yang dingin di tengah musim dingin yang cukup… dingin. Atau tepatnya, lebih dingin dari musim dingin. Oke, aku tahu jika kalian mengira lelaki itu semacam zombie atau vampire. Tapi, aku merasa berbeda. Aku seperti mendapatkan kesejukan hati tanpa perlu diceramah oleh Pak Ustad. Aku hanya… Entahlah…
Di tengah lamunan dan obrolan tersebut, Nagi-san dan Kazama-kun muncul membawakan buah-buahan untuk menjengukku.
"Oh, ayolah! Kenapa harus buah-buahan? Apakah tidak ada makanan lain untuk disantap? Aku bukan vegetarian!"
"Seharusnya kau bersyukur aku sudah menjengukmu!", omel Nagi-san.
"Oke. Kazama-kun baru saja datang…"
"Ada apa dengan Kazama-kun?", tanya Kamiya-nii.
"Seharusnya dia datang lebih dulu untuk membayar perawatan rumah sakit!"
"Oh, iya. Siapa yang membayar ya?", kata Kamya-ni bingung.
Semua hening sejenak hingga 5 ment kemudian, seorang suster memberikan nota perawatan rumah sakit.
"Jangan kuatir, semuanya sudah terbayarkan…", kata suster tersebut.
"Siapa yang bayar, mbak?", kata Kamiya-nii masih bingung.
"Menurut catatan yang kami terima baru-baru ini, perawatan rumah sakit sudah dibayar oleh…"
Suasana hening sejenak, dan Kazama-kun tegang seketika ketika menunggu namanya seperti menunggu perolehan skor pasangan bulutangkis Lilyana Natsir dan Tantowi Ahmad(?).
"Sergei…"
Kazama-kun sedikit tegang dan mulai berdiri. Tangannya memegangi pagar tempat tidurku. Dengan tegangnya dia berteriak dengan lebay,"Tolong, jangan nama itu!"
Karena berisik, aku memegangi pundak Kazama-kun. Segelas sake sudah siap di tangan kiriku.
.
.
.
"Dragunov"
KROEK! BUAK!
Pagar tempat tidurku roboh dan kepalanya yang pantat bebek itu menghantam kepalaku. Segelas sake pun secara tak sengaja tersumpal ke dalam mulutnya.
"ADUH! Bisakah kau menabrak selain di kepalaku?", teriakku kesakitan.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
"Jadi, siapa sebenarnya orang ini? Mengapa kau selalu tertimpa sial ketika menyebut namanya?", tanyaku kebingungan.
"Orang ini adalah anggota organisasi rahasia yang bertugas memburu sesuatu yang menurut mereka bukan berasal dari Bumi. Saat ini, tugasnya di Jepang adalah memburu sosok yang disebut sebagai The Devil", jelas Kazama-kun.
"Biar kutebak dulu… ", kataku sambil berpikir sejenak.
Aku memanggil suster untuk menemuiku. Lalu, aku berkata, "Mbak Suster, susu coklatnya diganti Vanilla Latte aja ya. Saya lagi ga mabuk kok!"
Suster itu pergi meninggalkan kamarku. Dengan spontanitas berlebihan, aku berkata," Jangan bilang yang disebut The Devil itu Kazama-kun sendiri…"
"Hah? Tidak mungkin! Bagaimana bisa?", kata Kazama-kun dan Kamiya-nii serempak.
"Ada tiga faktor yang menjadi prediksi. Pertama, Kazama-kun seorang CEO di Mishima Zaibatsu. Kedua, hanya keluarga Mishima yang memiliki Kutukan Darah Setan. Ketiga, Kazama-kun rajin ikut turnamen", jelasku memberi pendapat.
"Itu bukan prediksi! Keluarga Mishima itu tidak hanya satu orang! Bagaimana mungkin!", komentar Nagi-san.
"Tapi, hanya wujud setan Kazama-kun saja yang tidak terkontrol. Sehingga menjadi keuntungan tersendiri bagi… Dragunov?", bantahku.
Saat aku meyebut kata itu, ternyata Kazama-kun yang sedang berdiri di samping Kamiya-nii menginjak kaki sahabatnya itu, dan otomatis karena meringis kesakitan, dia menendang Kazama-kun dengan lututnya. "Ayolah, kenapa harus begitu? Apa salahnya menyebut nama itu? Jangan aneh-aneh deh!", kataku yang merasa masih bingung dengan "kesaktian" nama tersebut.
"Sebenarnya selain kutukan Darah Setan, jika salah satu anggota keluarga Mishima mendengar atau menyebut nama itu, dia akan tertimpa sial selama orang itu masih mendengar namanya! Jadi ingat, sekali lagi kau menyebut nama itu, aku akan membunuhmu!", ancam Kazama-kun padaku.
"Oh ya? Make me!", kataku menentang ucapannya.
Kazama-kun sudah siap dengan palu raksasanya. Dia akan memukulku! Aku masih belum sembuh total! Ah, iya. Kenapa aku tidak menggunakan nama sakti itu saja? Kemungkinan kata pepatah tentang senjata makan tuan akan berhasil padanya…
Kazama-kun mulai mengayunkan tongkatnya. Oh, tidak! Tongkatnya sudah di atas kepala!
"Dragunov!", teriakku.
Dan mata palu raksasa yang terbuat dari baja itupun melorot dan menghantam kepala Kazama-kun. Beruntung dia tidak mati. Karena jika dia mati duluan di cerita ini, aku tak tahu jalan ke rumah Oom Dragunov dan dia tak mampu menjadi umpan dalam rencana penangkapan oom Kazu.
Oke, jangan ngelantur. Bektustori.
"Oh, iya, Nagi-san. Dia pasti orang Rusia dong! Trus, dia punya kerjaan sampingan apa enggak?",tanyaku.
"Berdasarkan catatan turnamen, Tekken Wiki dan Tekkenpedia, dia hanya bekerja di organisasi militer Rusia sebagai pemburu berdarah dingin", kata Nagi-san dengan memasang wajah serius.
"Boleh lihat gambarnya?"
"Ini. Kamu boleh lihat kok…"
Nagi-san menyerahkan laptop dan kumpulan fotonya. Aku dan Kamiya-nii melihatnya bersama-sama. Dan sosok yang kulihat di foto ini terlihat cukup familiar dengan seseorang… Tapi, siapa ya?
Seperti palu raksasa yang menghantam kepalaku, aku teringat dengan sosok yang kulihat waktu itu…
"Nagi-san, Kazama-kun… Kamiya-nii…", kataku gugup.
Semuanya, termasuk Kazama-kun yang baru pulih dari kesialan hidupnya, menatapku dengan serius dan berkata serempak," Kau mengenalnya?"
"Benar…", jawabku sambil memasang wajah bingung.
"Kamu kenal dimana?", tanya Kazama-kun yang histeris sendiri.
"Dia orang yang aku selamatkan dari kecelakaan mobil. Aku niatnya mau ngembaliin peluitnya yang jatuh di jalan. Tapi, setelah kecelakaan itu, dia udah ga keliatan…", jelasku.
"oh, begitu… Kau berani juga, ya?", kata Nagi-san dan Kamiya-nii serempak. Oke, perasaanku mulai tidak enak kali ini…
.
.
.
"TIDYAAAAAK!"
Suara cempreng Kazama-kun yang dipadukan dengan vibrato kentut(?) menggemparkan seisi rumah sakit. Setelah itu, kami berempat diusir karena keributan tersebut.
"Kazama-kun! Ini semua karena kamu dan kesialanmu itu! Coba lihat Scarlet-chan!", Nagi-san mengomel di depan Kazama-kun. Whoa, ternyata dia jadi OOC kalau dimarahi Nagi-san. Badan doang yang gede, otaknya kecil! Ikut marah-marah juga, ah…
"Sebagai hukumannya, Kazama-kun harus menjadi penunjuk jalan untukku!", kataku ikut-ikutan.
"Maksudmu, kau ingin menemui The White Angel of Death? Maaf, tapi tidak!", kata Kazama-kun tetap kokoh dengan keputusannya.
"Maksudmu The White Angel of Death itu, Dragunov?",kataku memancingnya. Dan selang beberapa detik, Kazama-kun tersentak kaget dan kepalanya menabrak dada Nagi-san. Dan kejadian di turnamen kelima itupun terulang dengan pukulan dahsyat hingga membuatnya jatuh terkapar.
"Oke! Aku tunjukkan jalannya! Dari sini, kau hanya jalan kaki ke kanan, naik turun bukit, dan masuki jalan setapak.", Kata Kazama-kun menyerah dan menunjukkan jalan.
"Maksudku, kau yang memimpin perjalananku kesana! Kamiya-nii dan aku akan membuntuti dengan motor. Kau memimpin dengan mobil sepanjang ujung duniamu itu", kataku dengan menekan kata "memimpin".
"Baiklah, aku menyerah saja", Kazama-kun menyerah dengan masuk ke mobil dan menuntuk kami semua menemui sosok lelaki yang dia sebut Dragunov itu.
.
.
.
.
5 jam kemudian…
"Ini rumahnya? Sebenarnya ini seperti gubuk tua. Terutama letak rumahnya cukup familiar untukku.", kataku kebingungan.
"ini memang rumahnya. Tapi, aku dan Nagi hanya bisa mengantarmu sampai disini. Sisanya, kau saja yang berangkat", kata Kazama-kun ketika sampai di pintu sebuah rumah berwarna coklat dan beratap jerami. Setelah aku dan Kamiya-nii mengetuk pintunya, Kazama-kun dan Nagi-san pergi meninggalkan kami berdua. Namun sayangnya, Kamiya-nii merinding di tengah jalan, jadi hanya aku sendiri yang memasuki rumah itu. Dengan kepala yang masih diperban, aku berteriak memanggil orang itu agar segera keluar.
"Hei, Dragunov! Kau ada di dalam? Jika kau tuli atau bisu, keluarlah!", teriakku sambil sedikit memakinya.
Selang beberapa detik, seseorang dengan gambaran yang mirip foto Nagi-san dan ingatanku itu keluar. Lelaki itu terlihat diam membisu, tak bicara sedikitpun. Namun tatapan matanya bertanya tentang kedatanganku.
"Sebenarnya, aku datang kesini bukan untuk membuat ulah. Aku hanya ingin berterima kasih karena kau mau membayar perawatanku selama di rumah sakit. Dan aku juga ingin bertanya, bagaimana caranya kau bisa masuk ke rumahmu melewati perjalanan panjang ini? Karena aku tak melihat tak satupun kendaraan terlihat di depan rumahmu…", kataku menjelaskan maksud kedatanganku ke tempatnya.
Lelaki itu mengajakku keluar rumah, lalu menunjuk sebuah tempat…
Aku memandang arah tangannya sejenak dan memikirkannya….
.
.
.
.
.
"Penunjuk jalan sialan! Seharusnya aku sudah mengerti jika letaknya berseberangan dengan rumah sakit tempat aku dirawat!", kataku mulai marah."Oh,iya. Aku hampir lupa. Jika kau tak keberatan, aku ingin kau tinggal di rumahku sebagai tanda terima kasihku padamu. Apakah kau terkena Mobius Syndrome? Karena sejauh ini kau hanya diam dan tak bicara…"
Lelaki yang bernama Dragunov tersebut memasang tatapan heran, namun dia memalingkan mukanya ketika aku meragukan dirinya yang tak mau bicara dan ekspresinya yang datar. Meski begitu, dia setuju dan ikut denganku . Dari tatapan matanya, aku yakin dia sangat bahagia ketika menemukan tempat tinggal yang lebih layak.
~TBC~
Scarlet : Wah, maaf Kamiya-nii. Perannya terlalu sedikit.
Nagi : Lain kali buat yang ngepens, kita coba banyakin deh! Yang penting pada ripiu semua!
Scarlet : Kita tunggu loh!
.
Keterangan lengkap
*Mobius Syndrome juga sempat disebut sebagai penyakit wajah datar, dimana penderitanya tak memiliki otot wajah yang kuat untuk menunjukkan perasaannya sehingga terlihat berwajah datar tanpa ekspresi dan sangat sulit untuk mengetahui perasaan penderita penyakit ini.
