Happy reading yeoreobun... ^^,
.
.
.
GS, No Bash please ^^,
Sorry for typo
.
.
.
I hope you'll like my story
ChikinChikin
Cast : Kim Jongin & Do Kyungsoo (GS)
CHAPTER 3
Patient
Previous chapter
Halmeoni menawarkan bantuan pada Kyungsoo untuk membayar kerusakan mobil Jongin. Tapi, Kyungsoo harus bekerja di rumah halmeoni. Kyungsoo harus memasak dan menyiapkan makanan untuk halmeoni dan Jongin. Makan pagi, makan siang, dan makan malam. Jongin yang tidak tahu kalau Kyungsoo bekerja di rumah neneknya begitu terkejut saat melihat Kyungsoo ada di tempatnya. Suatu siang,restoran Kyungsoo sedang ramai. Tapi ia harus segera pergi ke rumah halmeoni untuk menyiapkan makan siang. Saat sedang bingung, Jongin datang ke restorannya. Tanpa tahu apa-apa Jongin langsung diminta Kyungsoo untuk menjaga restoran sampai semua pelanggan selesai makan.
.
.
.
.
Kyungsoo yang sudah selesai menyiapkan makan siang heran, kenapa Jongin tak juga sampai di rumah. Halmeoni sudah mulai dengan makan siangnya.
"Halmeoni, maaf. Jongin belum datang?", tanya Kyungsoo.
"Dia tidak akan datang".
"Kenapa?".
"Jongin kan harus kuliah. Jadi tidak akan makan siang di rumah. Memang kenapa?".
"Ah, tidak apa-apa, halmeoni". Kyungsoo kembali membereskan dapur.
Sekarang Kyungsoo benar-benar khawatir. Bukan khawatir pada Jongin yang tidak makan siang di rumah. Tapi khawatir pada restorannya yang Kyungsoo tinggalkan bersama Jongin. Kyungsoo belum bisa pergi, ia harus menunggu sampai halmeoni selesai makan siang.
"Halmeoni, maaf. Apa aku bisa meminta nomor Jongin?".
"Kenapa? Kau khawatir dia tidak makan siang?", goda halmeoni. Kyungsoo benar-benar tidak khawatir dengan Jongin yang belum makan siang.
'Aku yakin sekarang dia seperti di surga. Diam di restoran ayam sendiri tanpa ada pemilik restoran', pekik Kyungsoo dalam hati.
"Buu... buuu... bukkan. Ada yang perlu aku bicarakan".
Setelah mendapat nomor Jongin, sesegera mungkin Kyungsoo menelepon Jongin. Jongin tidak menjawab telepon Kyungsoo. Kyungsoo mulai kesal. Kenapa Jongin selalu membuat masalah dengannya. Halmeoni sudah selesai dengan makan siang, buru-buru Kyungsoo membereskan semuanya.
"Halmeoni, aku akan kembali ke restoran", pamit Kyungsoo.
"Oh... terima kasih. Kembali nanti sore untuk makan malam".
"Baik, halmeoni". Kyungsoo membungkukkan badannya.
Kyungsoo berlari menuju restoran. Dengan nafas yang terengah-engah akhirnya ia sampai di depan restorannya. Benar dugaan Kyungsoo. Papan dengan tulisan TUTUP SEMENTARA memang ia gantung di pintu. Kyungsoo mencoba masuk. Ternyata pintu restoran Jongin kunci dalam. Jongin sedang duduk di salah satu meja, dengan beberapa piring ayam pedas manis yang sebagian sudah kosong.
"Ya! Buka pintunya cepat!", teriak Kyungsoo dari luar sambil mengetuk-ngetuk pintu restoran.
Jongin masih asik dengan semua ayamnya. Akhirnya Jongin selesai. Ia berjalan menuju pintu dengan bahagia. Sedangkan Kyungsoo seperti ingin meledak menunggu Jongin di luar.
"Ah... ayam pedas manismu enak".
"Kau. Apa yang kau lakukan?".
"Aku menuruti semua ucapanmu".
"Heh?".
"Aku menunggu sampai semua pelanggan pergi", Jongin menunjuk ke arah meja yang memang kosong.
"Lalu aku memasang papan ini di pintu", menunjuk pada papan yang menggantung di pintu.
"Lalu aku mengunci pintu restoran tadi", jawab Jongin santai.
"Aku menyuruhmu untuk menguncinya dari luar. Lalu ini, kenapa kau makan semua ini?", omel Kyungsoo.
"Kau harus lebih jelas jika menyuruh orang, kau harus bilang padaku, kunci restoran dari luar. Kau tidak melarangku untuk makan di sini juga".
Kyungsoo merasa wajahnya panas, dadanya seperti terbakar karena kesal. Kyungsoo memegang belakang kepalanya.
"Ah, kepalaku".
Kyungsoo mencoba tenang. Kyungsoo selalu berusaha tidak melayani dan tidak mengomentari apa yang di lakukan Jongin. Kyungsoo tidak mau membuat masalah lagi dengan Jongin.
"Baiklah. Kau pergi saja".
"Tapi, kau. Mau apa kau datang ke restoranku?", tanya Kyungsoo.
"Aku mau membeli ayam untuk makan siangku. Tai ternyata aku tidak perlu membelinya, bahkan aku dapat gratis satu porsi".
"Pergilah. Aku seperti ingin meledak jika berbicara denganmu", ucap Kyungsoo menyerah.
"Sampai bertemu di rumah saat makan malam", Jongin melambaikan tangannya sambil berjalan keluar.
.
.
.
.
Kyungsoo sedang membereskan restorannya sendiri. Kyungsoo sebenarnya ingin memiliki seorang pelayan setidaknya. Agar jika seperti ini semua tidak Kyungsoo kerjakan sendiri. Baekhyun datang ke restoran bersama Chanyeol.
"Bagus. Kalian datang disaat yang tepat", Kyungsoo lalu duduk di salah satu meja yang sudah ia bersihkan.
Baekhyun dan Chanyeol yang baru saja datang langsung membereskan restoran. Mereka memang seperti itu. Baekhyun dan Chanyeol selalu refleks jika datang ke restoran Kyungsoo saat waktunya tutup, merema juga akan membantu Kyungsoo.
"Kenapa? Kau sakit?".
"Kepalaku seperti mau meledak".
Baekhyun menghampiri Kyungsoo lalu memegang kening Kyungsoo, memeriksa suhu badan Kyungsoo.
"Badanmu tidak panas".
"Tubuhku memang baik-baik saja".
"Baekyuna, aku rasa, aku tidak akan bisa terus bekerja di rumah halmeoni".
"Kenapa?".
"Aku tidak tahan jika harus terus bertemu dengan Jongin". Baekhyun lalu menceritakan apa yang terjadi siang tadi. Baekhyun dan Chanyeol terkekeh mendengar cerita Kyungsoo.
"Hanya karena itu?".
"Baek, dia itu sangat... sangat... menyebalkan". Baekhyun hanya tertawa menanggapi Kyungsoo.
"Kau harus hati-hati, Sooya", ujar Chanyeol.
"Hati-hati kenapa?".
"Kau jangan terlalu membenci dia. Ingat bagaimana aku duu dan Baekhyun. Sampai akhirnya kita seperti ini sekarang".
"Hah? Maksudmu aku akan menyukainya?".
"Itu tidak akan terjadi!", tegas Kyungsoo.
.
.
.
.
Kyungsoo berjalan menyusuri jalan menuju rumah halmeoni. Kyungsoo harus cepat-cepat mengembalikan uang yang dipinjamkan oleh halmeoni. Kyungsoo tiba-tiba teringat. Uang yang dipinjamkan halmeoni untuk membayar kerusakan mobil Jongin belum ia berikan pada Jongin. Besok saja, sudah malam, Kyungsoo tidak berani mengambil uang sebanyak itu sendirian., begitu pikir Kyungsoo. Lagi pula anak itu juga tidak memberikan nomor rekeningnya agar Kyungsoo bisa mentransfernya. Kyungsoo sampai rumah halmeoni. Memencet bel di depan pagar. Halmeoni membukakan pintu. Pasti ada Jongin, karena Kyungsoo melihat mobil yang membuat Kyungsoo dlam masalah ini, sedang terparkir di depan rumah. Halmeoni sudah mulai memasak. Kyungsoo yang baru datang langsung membantu.
"Halmeoni, kenapa melakukan ini. Biar aku saja".
"Ah tidak apa-apa. Biar pekerjaanmu sedikit ringan. Lagi pula ini sebentar lagi selesai".
Sambil menunggu masakannya selesai halmeoni memanggil Kyungsoo yang sedang di dapur.
"Ada apa halmeoni?". Halmeoni memberikan sebuah kunci dengan gantungan kunci berbentuk huruf 'J' dalam tulisan hangul.
"Apa ini?".
"Itu kunci pagar dan rumah".
"Heh? Kenapa halmeoni memberikannya padaku?".
"Agar setiap pagi aku tidak perlu membukakan pagar untukmu. Kau langsung masuk saja.
"Tapi...", Kyungsoo ragu.
"Tidak apa-apa. Tapi ingat Jongin tidak memegang kunci rumah sama sekali. Jangan sampai dia bisa memegang kunci ini. Aku juga akan memberitahu kode rumah, Jongin juga tidak tahu", jelas halmeoni sedikit berbisik.
"Memang kenapa?".
"Jika dia tahu kode rumah dan memegang kunci rumah. Dia akan sering pulang malam".
Akhirnya Kyungsoo tahu kenapa halmeoni selalu yang membukakan pintu untuk Jongin. Kenapa Jongin tidak masuk begitu saja di rumah neneknya sendiri. Kyungsoo juga akhirnya tahu bahwa Jongin ini datang ke Korea karena sering membuat masalah di Amerika. Makan malam sudah siap. Halmeoni tadi memasak sup taoge. Kyungsoo memasak ayam dengan saus teriyaki.
"Kyungsooya, panggil Jongin turn untuk makan malam".
Kyungsoo tidak beromentar. Ia langsung nai ke lantai dua memanggil Jongin yang sedang menyetel lagu keras-keras di kamarnya. Kyungsoo mengetuk pintu kamar Jongin. Tak ada jawaban. Sampai Kyungso sudah mengetuknya sampai jari-jarinya yang dipakai mengetuk sakit karena terlalu keras mengetuk.
"Bagaimana dia bisa mendengar ketukan pintu jika menyetel lagu sekeras ini. Halmeoni benar-benar nenek yang hebat bisa tahan tinggal dengan dia".
Kyungsoo akhirnya memilih untuk membuka pintu kamar Jongin. Kamarnya tidak dikunci. Kyungsoo semakin lebar membuka pintu kamar Jongin. Saat kyungsoo akhirnya bisa melihat ke dalam dengan jelas, Kyungsok melihat Jongin yang sedang menari. Menggerakkan seluruh tubuhnya, tangan, dan kakinya mengikuti irama musik. Setelah lagu musik selesai, Jongin pun selesai melakukan gerakan. Kyungsoo yang sejak tadi berdiri di pintu kamar Jongin hanya diam menunggu Jongin selesai. Jongin tidak menyadari Kyungsoo sejak tadi memperhatikan Jongin yang sedang menari.
"Kau lumayan juga", komentar Kyungsoo.
"Hah! Apa yang kau lakukan?".
"Makan malam sudah siap". Jongin tak merespon perkataan Kyungsoo.
"Kau! Diam-diam mengintipku?".
"Berhentilah berkomentar, cepat turun. Halmeoni sudah menunggu".
Jongin mengelap keringatnya dengan handuk lalu menyusul Kyungsoo yang jalan di depannya. Kyungsoo kembali diminta untuk ikut makan malam. Halmeoni bilang aku harus mencicipi masakanku sendiri. Jongin melihat ke arah Kyungsoo yang menyisakan ayamnya saja.
"Kau tidak makan itu?", tanya Jongin. Kyungsoo menggeleng.
"Kau tidak suka ayam?".
"Kurang suka".
"Kau membuka restoran ayam tapi kau tidak suka ayam?". Jingin lalu tertawa dengan lepas. Kyungsoo melirik sinis ke arah Jongin.
"Jongina, hentikan. Tidak baik seperti itu ada orang lain", ujar halmeoni. Seketika pula Jongin diam.
.
.
.
.
Sudah pukul 8 malam. Kyungsoo selesai membereskan dapur dan mencuci semua piring kotor. Kyungsoo pamit pada halmeoni untuk pulang.
"Sebentar Kyungsooya".
"Ada apa, halmeoni?".
"Kau ada tidak ada acara setelah dari sini?".
"Tidak, halmeoni. Aku akan langsung pulang".
"Kalau begitu, pergilah ke supermarket untuk membeli bahan makanan. Ini masih pukul 8. Pergilah dengan Jongin. Biar nanti dia langsung mengantarkanmu pulang".
"Hameoni...", protes Jongin.
"Biar besok pagi-pagi saja aku ke pasar sebelum aku kemari, halmeoni".
"Tidak. Tidak. Terlalu pagi. Lebih baik sekarang saja. Jongina... cepat pergi dengan Kyungsoo".
"Halmeoni...", Jongin merengek.
"Cepatlah", perintah halmeoni.
Dengan langkah terpaksa Jongin pergi ke kamarnya untuk mengambil jaketnya. Jongin kembali turun dengan jaket berwarna hitam yang sudah ia pakai. Kyungsoo merasa sejak ia bertemu dengan Jongin, harinya terasa sangat panjang. Bahkan, hari ini pun seperti itu. Tapi apa yang bisa Kyungsoo lakukan. Dia ingun menolak, tapi bagaimana. Dia ingin kabur, tapi tidak bisa. Dia ingin berhenti bekerja disini, itu pun tidak bisa. Dia ingin berpacaran dengan Kai EXO, itu lebih tidak mungkin. Ya tuhan, apa kesalahan yang Kyungsoo lakukan sampai dia harus seperti ini.
Sekarang, tubuh Kyungsoo sudah duduk dengan sitbelt yang terpasang. Di samping, orang yang wajahnya tidak mau Kyungsoo lihat. Bahkan mendengar namanya saja Kyungsoo ingin membenamkan kepalanya ke dalam pasir. Kyungsoo menari nafas, lalu membuangnya. Itu berkali-kali ia lakukan selama perjalanan menuju supermarker. Jongin melihat apa dilakukan Kyungsoo di sampingnya.
"Apa yang kau lakukan?".
"Diam. Menyetir saja. Jangan berkomentar", jawab Kyungsoo yang ters melihat ke arah kaca mobil.
"Begitu gugupkah duduk di sampingku? Sampai kau terus menarik nafas seperti itu?", tanya Jongun dilanjutkan dengan suara tawanya.
"Aku tidak tertarik bercanda denganmu". Jongin akhirnya diam karena Kyungsoo tidak merespon dengan baik perkataannya. Kyungsoo memengalihkan pandangannya.
"Ya, kau masih kuliah. Berarti umurmu lebih tua dariku. Harusnya kau memanggilku nuna".
"Tapi kau tidak terlihat seperti nunaku".
Kyungsoo mendengus, "benar, tidak seharusnya aku permasalahkan itu".
Mereka akhirnya sampai di supermarket. Sudah tak begitu ramai. Itu jelas karena sekarang sudah pukul setengah 9 malam. Sebentar lagi supermarket ini akan tutup. Kyungsoo mendorong kereta belanjaan. Jongin lalu merebutnya, sekarang Jongin yang mendorong kereta belanjaannya. Kyungsoo memilih apa saja yang harus ia beli. Kyungsoo sudah membuat daftar yang harus dibeli. Jadi Kyungsoo hanya tinggal mengambil barang-barangnya saja. Selama berbelanja sesekali Kyungsoo bertanya pada Jongin.
"Kenapa kau begitu menuruti halmeoni?".
"Aku takut".
"Takut?".
"Halmeoni pernah memarahiku. Padahal halmeoni tidak pernah marah sebelumnya padaku".
"Memang apa yang kau lakukan sampai halmeoni seperti itu?".
"Aku hanya menggunting gaun halmeoni yang diberikan oleh kakek. Sampai sini", jawab Jongin sambil menunjukkan pahanya. Menggambarkan seberapa pendek ia menggunting gaun halmeoni.
"Jelas halmeoni marah padamu. Cucunya menggunting baju pemberian orang tersayang, tapi kau merusaknya".
"Karena aku pikir halmeoni akan seksi jika memakai itu". Kyungsoo tersenyum mendengar jawaban Jongin.
"Kau bisa tersenyum juga ternyata. Aku pikir kau hanya bisa mengomel dan ketus padaku".
.
.
.
.
Wait for next chapter reader... sory for late update. Jeongmal... jeongmal mianhae... *bowing*
Selalu tunggu review kalian reader , apalagi silent readernya..
Thank you for read my story, apalagi sampai suka ^^,
So, please wait for next chapter... annyeong ~~
Kamsahabnida *deep bow*
