Disclaimer: Naruto by Masashi Kishimoto

Warning: Gaje, Typo, OOC (maybe)

.

.

Dia sudah kembali..

(Ino Yamanaka)

Aku menatap Sakura dengan pandangan penuh tanda tanya malam ini, saat gadis itu keluar dari kamarnya dan mulai berjalan dengan sikap gelisah. Tidak biasanya dia terbangun malam hari dengan wajah menegang seperti itu. Biasanya dia akan langsung berjalan ke kamar mandi dengan muka masih setengah terpejam atau hanya mengambil air mineral lalu pergi tidur lagi. Tapi kali ini dia kelihatan gelisah.

"Sakura, ada masalah?" tanyaku tanpa basa basi.

Sakura menatapku ragu. Tangannya membawa ponsel.

"Ino... Apa kau sibuk? Aku ingin membicarakan sesuatu denganmu," katanya dengan raut wajah gugup. Sakura jarang sekali memasang wajah segugup ini kalau tidak ada sesuatu yang benar-benar membuatnya gugup. Kalau dia sudah mulai berwajah seperti ini, itu artinya memang ada sesuatu yang tidak beres.

"Oh, tidak begitu. Ada apa? Kau mau kopi? Biar aku buatkan," kataku seraya beranjak dari tempatku duduk.

"Tidak, tidak perlu. Kau duduk saja di sini dan temani aku. Ada yang ingin aku tanyakan," kata Sakura seraya duduk di atas sofa di ruang tengah dengan wajah masih menegang. Dia memegang ponsel di tangannya dengan erat.

"Kenapa?" tanyaku seraya duduk di sampingnya.

"Kakekku baru saja menghubungiku," jawabnya.

"Oh, apa kau diminta segera pulang lagi?" tanyaku.

Sakura mengangguk.

"Bukankah kau sudah bilang kau masih ada pekerjaan? Kakekmu terlalu mencemaskanmu karena dia menyayangimu, ya?" kataku tak habis pikir.

"Bukan.." Sakura menggeleng lemah.

"Eh?" aku menatapnya bingung.

"Kakekku mencemaskanku karena kutukan itu. Baru saja aku menerima kabar kalau kakak sepupuku yang bekerja di rumah sakit sebagai perawat, jatuh dari tangga, dan sekarang tulang kakinya retak. Dia bersikeras bilang kalau ada yang mendorongnya dari belakang. Tapi rekannya yang juga sesama perawat yang bekerja dengannya bilang, tidak ada seorang pun yang lewat tangga itu saat dia terjatuh. Tapi kakak sepupuku yakin melihat seseorang sebelum dia jatuh dari tangga, setelah itu dia tidak melihat siapa-siapa," jelas Sakura.

"Hantu? Banyak mitos yang beredar di rumah sakit yang seperti itu 'kan?" tanyaku.

Sakura mengerutkan dahi menatapku.

"Kau percaya hantu bisa melukai manusia?" tanyanya.

"Eh? Yaa, tidak begitu... Tapi..." aku tidak bisa menjawab pertanyaannya.

"Kakekku bilang.. Itu adalah kutukan Romeo. Oh, aku sebenarnya tidak mau percaya tentang ini. Tapi kalau kejadiannya berturut-turut seperti ini, mau tidak mau aku jadi terguncang juga. Belum ada seminggu Paman JIraiya masuk rumah sakit karena kakinya patah, sekarang kakak sepupuku..." Sakura menatap ponselnya dengan putus asa.

"Sebenarnya, bagaimana tepatnya cerita itu? Tentang kutukan yang menimpa keluargamu itu?" tanyaku ingin tahu.

Sakura mendesah keras.

"Ah, aku sendiri juga tidak begitu tahu bagaimana cerita rincinya. Yang aku tahu, jaman dulu sekali, beberapa ratus tahun yang lalu, di keluarga Senju atau Haruno, entahlah.. Salah satu dari keluarga itu, ada seorang gadis yang jatuh cinta pada seorang laki-laki yang disebut-sebut sebagai salah satu dari orang-orang jahat yang sangat dibenci keluarga Senju saat itu. Mereka berdua saling jatuh cinta satu sama lain. Aku tidak tahu kenapa keluarga Senju sangat membenci laki-laki itu dan keluarganya. Hanya saja, mereka terus menjalani hubungan diam-diam tanpa diketahui keluarga mereka. Keluarga Ashihara sendiri tidak tahu siapa nama laki-laki itu. Gadis itu hanya menyebutnya sebagai 'Romeo' di buku catatannya. Novel tentang Romeo dan Juliet sudah sangat terkenal sejak abad ke-16 'kan? Dan kala itu sudah tentu masuk ke dalam dunia seni sastra Jepang. Gadis itu aku dengar sangat menyukai seni sastra. Lalu entah bagaimana ceritanya, si gadis itu terbunuh atau bagaimana dan membuat laki-laki itu marah pada keluarga ini dan mengutuk keluarga kami... Bagaimana menurutmu? Aneh 'kan?" Sakura menatapku dengan pandangan seolah meminta pertimbangan.

"Lalu, bagimana bisa laki-laki itu mengutuk keluarga kalian sampai saat ini? Apa dia penyihir?" tanyaku seraya mengerutkan dahi.

Sakura menatapku ragu untuk beberapa saat.

"Umm, ini yang membuatku berpikir kalau mitos ini hanya omong kosong belaka. Kata orang-orang tua yang tahu sejarah ini, mereka bilang, laki-laki itu bukan berasal dari golongan manusia. Tapi.. Ehm... Vampir. Ah, ayolah... tertawalah.. Kau boleh tertawa," kata Sakura frustasi. Aku menatapnya kaget. Aku sudah hampir tertawa geli mendengar cerita ini. Tapi saat melihat raut putus asa di wajah Sakura, mau tidak mau aku menahan keinginanku untuk tertawa. Sakura pasti sangat tidak mempercayai cerita itu. Aku tahu dia orang yang selalu berpikiran logis. Tapi saat melihat kejadian-kejadian yang menimpa keluarganya secara beruntun seperti ini, kepercayaan dan prinsipnya pasti akan goyah juga, sedangkan orang-orang di sekitarnya terus mendesaknya agar dia mau percaya.

"Lalu kenapa kutukannya baru bekerja sekarang? Bukankah tahun-tahun sebelumnya tidak pernah ada kejadian seperti ini?" tanyaku lagi. Jujur saja, aku tertarik dengan cerita ini. Walaupun tidak mungkin untuk mempercayainya, tapi cerita ini seperti novel.

"Itu karena Romeo yang sekarang, sudah berumur 25 tahun..." kata Sakura sekedarnya.

"Eh?" aku menatapnya bingung.

"Romeo akan bangun lagi saat ada keturunan dari klannya, yang menggunakan nama yang sama dengannya, di usianya yang ke-25 tahun, tepat setelah perayaan Tanabata," jawab Sakura.

"Perayaan Tanabata? Kenapa begitu?" tanyaku lagi.

"Mereka berdua bertemu dan berpisah, tepat setelah perayaan Tanabata berlangsung. Oh, ayolaahh... Kenapa semua orang harus mempercayai kutukan itu?" Sakura meremas kepalanya dengan gemas.

"Kalau memang kutukan itu ada, apa yang akan kau lakukan?" tanyaku lagi.

"Aku akan memukul kepala orang bernama Romeo itu. Ah, lagipula... Tidak ada yang tahu siapa nama laki-laki itu. Kalaupun dia memang muncul lagi sebagai orang lain, aku harus tahu namanya sebelum mematahkan kutukan itu 'kan?" sahut Sakura seraya menekuk kedua lututnya dan menyandarkan dagunya di atasnya.

"Benar. Ah, ya sudahlah.. Jangan terlalu memikirkan tentang kutukan itu. Aku rasa kau juga butuh istirahat. Pekerjaanmu akan terbengkalai kalau kau terus menerus memikirkan kutukan yang belum tentu ada itu. Istirahatlah. Besok aku akan membawamu ke suatu tempat. Sai berjanji akan membawaku ke suatu tempat yang menarik," kataku, seraya tersenyum lebar ke arah Sakura.

"Tapi kalian tidak akan meninggalkanku lagi 'kan? Seperti beberapa waktu lalu. Ingat tidak? Kalian meninggalkanku sendirian di taman, hanya untuk berciuman di tempat sepi? Kalian gila? Kenapa kalian tidak segera menikah saja, sih?" Sakura mulai protes.

Aku menjadi agak kikuk kalau mengingat hal itu. Sakura sering memergoki kami melakukan hal-hal yang seharusnya tidak dia lihat. Walaupun itu hanya sekedar berpelukan saja. Tapi aku tetap saja malu kalau mengingat itu.

"Tidak. Sai akan mengajak teman sekantornya. Double date.. Ada Seung Hyun oppa juga. Jadi, kau bisa pergi berpasangan dengannya," jelasku. Mata Sakura langsung berbinar.

"Oh, benarkah?" tanyanya antusias.

"Kau selalu berubah manis tiap nama Seung Hyun oppa disebut. Bukankah kalian berdua baru saja pergi berkencan dua malam yang lalu?" tanyaku pada Sakura dengan nada menggoda. Sakura menatapku kaget.

"Siapa yang berkencan? Kami hanya tidak sengaja bertemu, lalu pergi makan. Itu saja. Dasar! Sudah, ya? Besok bangunkan aku pukul enam. Selamat malam..." Sakura bangkit dari tempatnya, menggeliat sebentar, sebelum akhirnya berjalan masuk ke kamarnya. Aku hanya angkat bahu seraya tersenyum geli.

.

.

Sendai, Jepang, Jaman Edo

Gadis itu terus berlari menyusuri sepanjang jalan setapak yang ada di tengah hutan itu. Pikirannya kalut dan satu-satunya yang dia inginkan adalah berlari sejauh-jauhnya dari rumah itu. Air matanya yang berderai turun dari matanya ikut larut dengan air hujan yang menerpa wajahnya saat dia berlari. Sakura Haruno terisak di sela-sela napasnya yang tersengal karena terlalu lelah berlari. Dia ingin pergi sejauh-jauhnya dari rumah keluarga angkatnya itu dan memutuskan untuk pulang ke tempat tinggalnya di desa Arakawa. Tapi sepertinya itu tidak mungkin. Desa tempat orang tua kandungnya tinggal ada beratus-ratus kilometer dari sini, dan untuk seorang gadis sepertinya, tidak mungkin melakukan perjalanan sejauh itu. Tapi hanya itu satu-satunya yang dia inginkan saat ini. Lebih baik dia membantu ayahnya bertani di ladang yang kotor daripada hidup di rumah keluarga ningrat ini, menjadi orang berpendidikan, tapi hatinya tidak bebas. Mengingat kalau orangtua asuhnya memaksanya untuk menikah dengan anak dari keluarga Hyuuga, seorang saudagar kaya raya dari Edo membuat perasaannya kembali sakit.

"Ah~!" gadis itu terpekik kesakitan saat salah satu kakinya yang hanya beralas sandal kayu tersandung sebuah akar pohon yang menjulur di tengah jalan yang dia lewati. Lentera kecil yang dia pegang jatuh ke tanah dan langsung padam begitu tutupnya terbuka. Gadis itu terjatuh dan rasa sakit yang luar biasa langsung menjalar ke seluruh kakinya. Sakura meringis kesakitan sambil terduduk di jalanan itu dan memegang kakinya. Nafasnya tersengal dan rambutnya yang tergerai berantakan maupun pakaian yang dipakainya basah karena air hujan.

Dia terdiam di tempatnya sekarang, menatap di sekelilingnya. Hanya ada beberapa rimbun semak belukar dan pohon-pohon besar yang mengelilinya. Malam sudah semakin larut dan sepertinya dia sudah berlari terlalu jauh masuk ke dalam hutan. Sakura tidak pernah berniat akan masuk ke dalam hutan sedalam ini. Karena dia tahu banyak bahaya mengancam saat seorang gadis sendirian di dalam hutan. Banyak perampok dan penjahat yang berkeliaran dalam hutan dan mereka tidak segan-segan berbuat tidak sopan pada semua orang. Tiba-tiba Sakura merinding sendiri membayangkan ada segerombolan orang yang datang dan menyergapnya.

Sakura menggeleng keras-keras dan segera bangkit dari tempatnya, mengabaikan rasa sakit yang mulai menjalar saat dia memijakkan kakinya ke tanah. Bersamaan dengan itu, saat dia berdiri, tepat bersamaan dengan hadirnya sesosok tubuh tinggi dengan pakaian serba hitam yang muncul dengan tiba-tiba di depannya. Gadis itu terlonjak kaget dan segera berteriak kaget melihat sosok yang tiba-tiba berdiri di depannya itu. Dia segera berbalik dan akan berlari dari sosok itu saat suara sosok itu membuat langkahnya terhenti.

"Tunggu~! Apa yang kau lakukan di sini?" ujar sosok di depannya. Sakura mengernyitkan dahi. Dia seperti mengenal suara itu.

Sosok di hadapannya membuka tudung kepalanya dan membiarkan rambutnya yang diikat ke belakang, basah terkena guyuran air hujan yang turun dengan deras. Sakura terperangah untuk beberapa saat dia mulai mengenali wajah itu. Entah kenapa, saat semua anggota keluarga Senju membenci orang ini dan semua hal yang berhubungan dengannya – dan karena dia adalah anggota keluarga Senju – seharusnya dia langsung lari atau setidaknya merasa khawatir dengan kehadiran orang ini. Tapi entah kenapa, yang dia rasakan sekarang justru sebaliknya. Sakura justru merasa lega melihat orang ini berdiri di depannya sekarang, saat dia merasa benar-benar sendirian di tengah hutan yang gelap ini.

"Apa yang kau lakukan di sini?" tanya laki-laki berwajah pucat itu lagi. Mata hitam kelamnya menatap Sakura kaget.

Sakura tidak menjawab.

"Kakimu terluka. Apa kau bisa berjalan? Dan kenapa pakaianmu, rambutmu berantakan begini? Kau lari dari rumah?" laki-laki itu mulai memberondongnya dengan banyak pertanyaan.

Sakura menatapnya agak kesal. Apa orang ini mau memperkeruh masalah dengan pertanyaan-pertanyaan yang menyudutkannya? Tapi dia tidak mengatakan apa-apa.

"Kakimu harus diobati, sebelum bengkak nanti. Aku mengenal seorang tabib muda di dekat sini. Aku akan membawamu ke sana," kata laki-laki di depannya. Sakura menatapnya ragu-ragu.

"Kenapa menatapku seperti itu? Apa kau masih percaya kalau aku, klan kami, akan membunuhmu dan meminum darahmu sampai habis?" laki-laki itu menatap Sakura.

Sakura hanya menggeleng. Apapun yang akan dilakukan laki-laki ini padanya, entah mau membunuhnya atau menjadikannya santapan makan malamnya, itu lebih baik daripada menikah dengan orang yang tidak dia cintai, batin Sakura pasrah.

"Baiklah. Aku akan menggendongmu. Naiklah ke punggungku," laki-laki berbalik dan membungkuk membelakangi Sakura.

Sakura masih meragukannya. Dia tidak bisa begitu saja percaya dengan orang ini. Dengan semua doktrin dan ideologi yang ditanamkan padanya sejak kecil. Tapi hati kecilnya mendorongnya untuk melakukannya. Dia merasa, laki-laki ini tidak akan memakannya dan sepertinya akan lebih aman kalau dia bersama laki-laki ini daripada harus berada di tengah-tengah hutan ini sendirian.

Dengan perasaan yang masih belum tentu, Sakura perlahan menghampiri laki-laki yang sedang duduk membelakanginya itu. Entah ke mana dia akan membawanya, tapi yang pasti, Sakura tidak bisa membohongi perasaannya. Dia percaya sepenuhnya pada laki-laki ini.

.

.

Gubuk kecil dan tampak sudah tua itu masih berdiri dengan kokoh walaupun di sekitarnya hujan disertai angin sedang beradu dengan ganas malam ini. Gubuk kayu yang sudah tampak usang itu berada di tengah-tengah hutan yang di sekelilingnya terdapat banyak tumbuhan obat. Pemilik gubuk itu adalah seorang tabib muda yang kini sedang memasak sesuatu di tungkunya untuk dua tamunya yang datang mendadak malam ini ke rumahnya. Kabuto, nama tabib muda itu, dia mengenal tamunya yang satu. Sasuke, anak salah satu pemimpin klan tertinggi bangsa mereka, datang dengan seorang gadis asing yang sama sekali tidak dia kenal. Dan yang lebih mengherankan adalah, gadis itu seorang manusia murni.

Kabuto sudah selesai merebus sari anggur yang dia petik dari gunung Fujiwara, yang letaknya berkilo-kilo meter dari sini, dan menuangkannya ke dalam cangkir kayu yang sudah dia siapkan. Dia mengintip dari balik tirai yang memisahkan antara dapurnya dan ruang tengah. Sasuke sedang duduk termenung di sana. Gadis yang tadi dibawanya mungkin sedang terbaring di kamarnya. Sasuke bersikeras meminjamkan pakaian padanya agar gadis itu tidak kedinginan sedang dia sendiri masih bertahan dengan bajunya yang basah karena hujan.

Kabuto membawa nampan berisi air anggur itu dan berjalan ke ruang tengah.

"Ke mana gadis itu?" tanyanya seraya meletakkan nampan di atas meja.

"Ada di kamarmu. Mungkin sudah tidur..." jawab Sasuke datar.

Kabuto menatapnya untuk beberapa saat.

"Kau mencintainya?" tanyanya tiba-tiba tanpa basa basi.

Laki-laki di depannya yang semula hanya duduk dengan sikap pasrah, sekarang mendongak menatapnya dengan tatapan kaget.

"Apa katamu? Kenapa tiba-tiba menanyakan itu?" katanya dengan nada protes.

Kabuto tersenyum seraya menyedu minumannya dengan sikap santai.

"Jangan mengelak. Aku sudah menjalani kehidupan lebih lama darimu. Aku tahu kau menyukai.. tidak, mencintai gadis ini. Kau tidak mungkin melakukan aksi nekat dengan membawa seorang keturunan Senju ke sini. Ayahmu tahu tentang ini, kau bisa mati," katanya panjang lebar.

Sasuke tidak menjawab. Dia kembali terdiam. Ada yang berperang dalam lubuk hatinya. Kabuto benar. Antara keluarganya dan keluarga gadis ini adalah dua hal yang tidak bisa disatukan. Tapi perasaan yang sedang dirasakannya saat ini tentang gadis ini... Dia bahkan tidak bisa berhenti memikirkannya sejak pertemuan pertamanya dengan gadis itu. Walaupun itu hanya percakapan singkat, Sasuke merasa gadis itu sudah menarik perhatiannya lebih dari yang dia bayangkan.

"Kenapa melamun? Tidak usah dipusingkan. Kalau kau memang mencintainya, jujurlah pada perasaanmu. Omong kosong dengan konflik keluarga kalian yang tidak pernah ada habisnya itu. Kau tidak bisa membohongi perasaanmu. Tapi, omong-omong... Kau tidak akan pulang ke rumah? Kalau ayahmu tahu kau ke sini dan bersama dengan gadis ini, tamat riwayatmu," kata Kabuto, masih menyedu minumannya.

"Aku harus mengantarkannya kembali ke rumah..." kata Sasuke.

"Ada aku yang akan menjaganya untukmu. Hubunganku dengan para manusia lebih baik daripada kalian. Aku bisa membaur dengan mereka. Lagipula, sudah beberapa kali mereka tidak menyadari kalau aku adalah seorang vampir 'kan? Ahh, aku tidak akan menyentuh gadis itu.. Kau tenang saja. Apa aku kelihatan seperti seorang penjahat yang gampang sekali melukai seorang gadis? Pulanglah.." kata Kabuto dengan sikap tenang.

Sasuke menatapnya ragu. Memang tidak ada yang perlu diragukan kalau dia menyerahkan semua urusan pada Kabuto. Dia sudah mengenal laki-laki ini sejak kecil. Dan untuk beberapa hal, Kabuto memang bisa diandalkan. Kabuto mempunyai wajah ramah dan dia juga tidak segan-segan menolong manusia yang butuh bantuannya.

"Antarkan dia ke rumahnya besok pagi, atau saat kakinya sudah benar-benar sembuh," Sasuke berdiri dari tempat duduknya.

Kabuto tertawa pelan.

"Kenapa tertawa?" Sasuke menatapnya galak.

"Kau lucu sekali. Aku tidak pernah melihatmu secemas ini kecuali saat sepupumu Naruto itu terkena tumbuhan beracun saat kalian masih kecil. Dia sangat menyayangimu 'kan? Aku tidak bisa membayangkan kalau dia tahu perasaanmu sudah terbagi dengan gadis ini.." jelasnya.

Sasuke terdiam.

"Pulanglah. Aku akan merawat gadis ini dengan baik..." kata Kabuto kemudian.

Sasuke tidak menjawab. Dia ragu saat melewati kamar Kabuto, antara ingin melihat keadaan gadis itu sekali lagi, atau langsung berjalan ke pintu. Tapi mengingat tawa Kabuto yang agak menyebalkan tadi, Sasuke mengurungkan niatnya dan langsung melangkah ke pintu dan melesat pergi dari tempat itu.

.

.

Seoul. Saat Ini.

[Sasuke Uchiha]

Ada banyak darah di sekitarku. Aku tidak tahu itu darah apa. Tapi baunya lezat sekali. Aku rasa aku sedang kelaparan. Bau anyir darah di sekelilingku membuat darahku bergejolak. Ada yang harus aku makan agar perutku tidak merasa lapar terus menerus. Darah ini.. Darah yang mengambang di sekitarku ini. Ini bukan darah segar. Yang aku inginkan adalah darah segar.

Oh, apa ini? Kenapa ada begitu banyak darah di tanganku? Apa yang sudah aku lakukan?

"Tolooong... T-tolong..."

Aku mendengar sebuah rintihan pelan di dekatku. Aku menatap sekelilingku. Tidak ada apa-apa. Hanya sebuah ruang kosong yang gelap dan hampa. Tapi suara yang aku dengar baru saja, kedengaran jelas sekali dan seperti tepat di sebelahku.

"T-tolong aku.. Aku mohon..." sebuah rintihan yang memilukan kembali terdengar.

Aku menatap ke arah suara. Tidak apa-apa di sana. Hanya sebuah ruang gelap.

Lalu aku mendengar sesuatu yang membuat bulu kudukku berdiri. Sebuah tawa dalam dan dingin dari suatu tempat di sini. Suaranya dekat sekali denganku. Aku melihat sekelilingku dengan sikap waspada.

"Jangan takut. Aku adalah kau. Tidak ada yang perlu ditakutkan..." suara itu berbicara dengan nada dalam yang tajam. Ada sebuah hawa dingin mengerikan dalam suaranya itu yang membuat tengkukku merinding.

"Siapa?" tanyaku. Suaraku bergema.

"Aku adalah kau. Sudah aku bilang 'kan?" sahut suara itu.

"Apa maksudmu?" tanyaku tidak mengerti.

Tidak ada sahutan.

Sebuah langkah kaki pelan terdengar tak jauh dari tempatku. Langkah kaki itu semakin mendekat. Aku tahu dia sedang menuju ke arahku. Aku menunggu dalam diam. Tenggorokanku tiba-tiba kering dan sangat sulit menelan ludahku sendiri. Aku mengamati di satu titik di ruang gelap itu, titik tempat suara langkah kaki itu berasal.

Langkah itu semakin mendekat dan membuat bulu kudukku semakin berdiri karena tegang.

"Hei! Sasuke!"

Sebuah tepukan keras di bahuku membuatku tersadar. Aku menaikan tubuhku dan menatap di sekelilingku. Bukan ruangan gelap yang suram seperti yang baru saja aku lihat. Tapi ruang kerjaku. Dengan layar komputer yang masih menyala dan beberapa lembar berkas yang masih berantakan di atas meja kerjaku.

"Kau tertidur?" sebuah suara bariton terdengar di sebelahku. Aku mendongak dan mendapati seorang laki-laki tinggi berpakain rapi, lengkap dengan jas yang dikancingkan dengan sempurna, berdiri sambil menatapku penuh tanya. Wajah pucatnya mengarah ke arahku dan mata hitam kami sama-sama bertemu.

"Oh, Sai.. Maaf. Aku.. tidak sengaja..." jawabku buru-buru.

Laki-laki itu tidak menunjukkan ekspresi apa-apa. Hanya menatapku dengan pandangan datar. Dia adalah Sai, temanku di SMA saat kami di Jepang dulu dan sekarang menjadi atasanku di perusahaan kopi terbesar nomor lima di Korea ini.

"Apa kau kurang tidur lagi?" tanyanya.

"Ah, mungkin.." jawabku seraya menggeliat malas. Masih terpatri dengan jelas mimpiku baru saja di ingatanku. Aku bahkan tidak merasa sedang tidur tadi. Mimpi itu.. Seolah-olah benar-benar nyata dan terjadi baru saja.

"Kau kelihatan pucat akhir-akhir ini. Apa kau masih sering bermimpi buruk?" tanya Sai lagi.

"Yah, begitulah.." sahutku seraya menegakkan punggungku dan memukul-mukul bahuku pelan. Rasanya capek sekali.

"Kau harus pergi ke seorang psikolog. Untuk mengkonsultasikan masalahmu itu," kata Sai.

"Aku belum ada waktu untuk itu," sahutku.

"Tapi kau ada waktu untuk double-date nanti malam 'kan? Kau perlu hiburan dan tidak terlalu fokus pada pekerjaan dan masalahmu. Kau sudah mengajak pacarmu? Dia mau datang?" Sai menatapku dari balik kacamatanya. Aku mengangguk.

"Iya. Aku akan datang ke sana. Asal kau yang mentraktirnya. Aku tidak akan melewatkan kesempatan ini," kataku.

Sai berdecak pelan.

"Aku sudah menduga ini yang kau cari. Makanya wajahmu langsung berubah antusias saat aku bilang kalau aku yang akan membayar semuanya," katanya dengan nada setengah kesal.

Aku hanya tersenyum acuh. Aku sudah mengenal laki-laki ini sejak lama. Dia tidak benar-benar marah atas sesuatu yang tidak benar-benar membuatnya marah. Untuk urusan traktir-mentraktir, dia memang paling bisa diandalkan.

.

.

...Aku menciumnya... Aku bisa merasakannya. Walaupun jaraknya masih begitu jauh dan tidak begitu jelas... Tapi aku bisa merasakan aura ini. Bau darah yang khas ini. Ada keturunan keluarga Senju di sini. Di tanah Korea ini.. Bagaimana bisa? Ahh, bukan itu pertanyaannya.. Bukan 'bagaimana bisa'? Tapi.. Apa ini keberuntunganku? Apa Dewi Keberuntungan mulai berpihak padaku sekarang? Setelah beratus-ratus tahunnya, akhirnya jiwaku mulai bangkit lagi. Jiwaku yang sudah lama mati, bersama dengan perasaan cintaku yang sudah hilang beratus-ratus tahun yang lalu. Kini aku sudah kembali, dalam tubuh yang berbeda... Dan hanya satu tujuanku.

Balas dendam pada keluarga Senju yang sudah memfitnah dan membantai keluargaku. Kebencianku pada keluarga itu akan berakhir kalau aku sudah bisa mencelakai bahkan membunuh keluarga itu satu per satu. Butuh waktu sampai jiwaku benar-benar sempurna menguasai tubuh ini. Aku rasa tidak butuh waktu banyak. Tapi aku tidak bisa menguasai tubuh ini begitu saja. Tidak tanpa taktik yang membuat orang tidak akan menaruh curiga padaku.

Hmm... Kita lihat saja nanti. Seperti apa Senju kecil ini? Apa aku akan langsung menyerangnya? Aku rasa tidak. Aku hanya butuh bermain-main sebentar dengannya.

.

.

[Haruno Sakura]

"Hei~! Ino.. Lihat pakaianku. Apa sudah sesuai?" tanyaku seraya membenarkan bajuku. Ino menoleh dengan wajah bosan ke arahku.

"Ini sudah kesepuluh kalinya kau menanyakan itu, Sakura. Aku sudah menjawabnya berkali-kali juga. Baju itu sudah sesuai dengan penampilanmu," jawab Ino.

"Benar, ya? Kata-katamu aku pegang.." kataku seraya membenahi rambutku yang aku biarkan tergerai begitu saja. Hari ini aku sengaja menggeraikan rambut sebahuku dan memberi sedikit poni di bagian depan. Kata Ino hari ini adalah hari spesial, jadi aku juga harus berpenampilan sedikit spesial. Aku tidak tahu apa maksudnya hari spesial. Yang aku tahu, hari ini aku akan bertemu dengan Seung Hyun oppa, jadi aku harus berpenampilan sedikit lebih rapi dan menarik.

Aku menyapu pandang ke sekitarku. Jalanan sudah mulai ramai dan aku tidak melihat ada tanda-tanda orang yang kami kenal berjalan mendekati kami. Langit sudah mulai menggelap dan aku yakin, tidak sampai 30 menit lagi hujan pasti turun. Aku melirik jam tanganku.

Saat aku menunduk untuk melihat jam tanganku, entah kenapa aku merasa bulu tengkukku tiba-tiba berdiri. Aku merasakan hawa dingin yang aneh tiba-tiba menyergapku begitu saja. Membuatku merinding. Walau tidak menoleh ke belakang untuk memastikannya, tapi aku yakin sekali ada yang sedang menatapku dengan tatapan dingin yang tajam. Aku bisa merasakannya. Hawa dingin ini sangat kuat sekali. Apa ini? Aku bahkan tidak berani bergerak satu senti pun dari tempatku sekarang. Aku hanya berdiri mematung dengan ekspresi kaku.

"Nah, itu mereka datang..." kata Ino tiba-tiba.

Aku tersadar. Hawa dingin yang aneh dan menyergapku tadi tiba-tiba menghilang secepat dia datang dan menyerangku tadi. Sekarang aku tidak merasakan hawa dingin yang aneh seperti tadi. Apa itu tadi?

Aku mengabaikannya dan mencoba untuk tidak mengingatnya lagi. Tapi sensasinya masih begitu terasa... Rasa ketakutan yang aku rasakan... Seolah-olah ada seorang pembunuh berdarah dingin yang sedang mengincar nyawaku.

"Sakura... Kau sakit?" sebuah suara besar dan dalam mengagetkanku.

Aku terkesiap sesaat. Seorang laki-laki tinggi sudah berdiri di depanku. Rambut pendeknya yang kecoklatan ditutupi topi hitam dan laki-laki itu sedang menatapku dengan pandangan heran. Seung Hyun oppa!

"Oh?" aku terkejut dan baru menyadari kalau sudah ada beberapa orang di depanku. Sai langsung mengecup kening Ino dan ada seorang laki-laki bertubuh tinggi lain di belakangnya yang menggandeng tangan gadis berambut panjang di sampingnya. Laki-laki itu sedang asyik mengobrol dengan gadis berparas cantik di sampingnya. Siapa dia? Teman Sai? Mata hitamnya yang seperti manik itu menatap gadis di depannya dengan penuh kasih sayang.

"Kau tidak mendengarku?" suara Seung Hyun kembali membuatku terkesiap.

"Oh, aku minta maaf..." kataku dengan nada bersalah. Ya ampun.. Apa yang terjadi denganku hari ini?

"Kau sakit? Aku menyapamu tadi, tapi kau hanya memperhatikan arlojimu terus menerus. Apa kau ada janji dengan seseorang?" tanya Seung Hyun.

"Oh, tidak. Tidak.. Ah, maafkan aku. Tidak akan aku ulangi..." kataku buru-buru dengan bahasa Korea yang sangat kaku. Aku sedikit belajar bahasa Korea dengan Ino akhir-akhir ini dan paham sedikit kata-kata dalam percakapan umum.

Seung Hyun masih menatapku bingung saat Sai mengajak kami memasuki restoran yang ada di belakang kami. Aku mencoba melupakan segala ketakutan yang baru aku rasakan tadi.

.

.

Laki-laki yang sedang duduk di pojokan ruangan itu meneguk air soda-nya dengan sedikit sesapan ringan di bibirnya. Dia meletakkan gelasnya dan kembali menatap pemandangan yang sedari tadi menjadi obyek pengamatannya. Beberapa meter dari tempatnya duduk sendirian saat ini, yang disekat oleh beberapa meja yang sudah terisi oleh beberapa orang yang sedang menikmati pesanan mereka, dia menatap dengan penuh ketertarikan ke arah satu meja di salah satu sisi ruangan itu. Sebuah pemandangan biasa yang selalu dia temui sehari-hari. Hanya pemandangan yang sangat biasa.. Ada tiga orang laki-laki dan tiga orang gadis yang berada di sala satu meja dan mereka sedang berbincang-bincang dengan seru sambil sesekali menikmati hidangan yang ada di atas meja. Yang menjadi perhatian laki-laki ini bukan pemandangan itu, melainkan salah satu laki-laki yang duduk di sana. Laki-laki ini kembali meneguk sodanya sambil tersenyum licik.

"Selamat datang kembali, Sasuke... Aku sudah menunggumu..." katanya pelan, hampir berbisik pada dirinya sendiri.

Tapi laki-laki yang sedari tadi menjadi obyek pengamatannya sepertinya tidak memperhatikan sekitarnya dan terus saja bicara dengan dua laki-laki lain yang ada di sana. Sesekali matanya menatap pada gadis berambut panjang yang ada di sebelahnya dengan tatapan penuh cinta.

"Cih~! Pemandangan itu lagi.. Apa kau akan mengulangi kesalahan yang sama untuk kedua kalinya, Sasuke?" laki-laki itu tersenyum kecut seraya meneguk sodanya sampai habis.

Matanya masih menatap ke arah laki-laki yang duduk di seberang ruangan dengan pandangan yang tidak bisa diartikan. Ada sebuah kerinduan yang terpendam dalam pandangan matanya itu. Tapi tersimpan sebuah ambisi jahat yang tidak begitu kentara dalam bola matanya yang jernih itu.

Pandangannya masih tertuju pada meja di seberang ruangan itu, saat salah seorang dari ketiga gadis itu berdiri dan meninggalkan meja. Awalnya dia hanya menatap gadis itu dengan pandangan sambil lalu. Tapi saat matanya benar-benar memperhatikan gadis yang sedang berjalan meninggalkan meja itu, sesuatu yang dingin seperti mengguyur perutnya begitu saja. Mata laki-laki itu langsung melebar dan dia menatap gadis yang sedang berjalan ke arah pintu belakang restoran ini dengan pandangan tak percaya. Sinar keterkejutan yang luar biasa terpancar dari bola matanya. Pandangannya mengikuti langkah gadis itu yang kemudian berakhir pada pintu yang menghubungkannya ke toilet. Rambut merah mudanya yang tergerai melewati telinganya dan jatuh ke bahunya itu.. Tidak salah lagi! Tidak ada yang mempunyai warna rambut yang sama dengan gadis itu.

Apa-apaan ini? Batinnya tak percaya. Apa aku salah lihat? Bagaimana bisa? Bagaimana bisa gadis itu sangat kelihatan mirip dengan Senju Sakura yang telah tewas beratus-ratus tahun silam? Kenapa? Siapa gadis itu?

.

.

Sendai, Jepang. Jaman Edo.

Rumah besar khas bangunan Edo itu terletak di tengah-tengah hutan Fukawa, hutan yang hampir tidak pernah disentuh manusia. Hutan ini ditumbuhi oleh beberapa tumbuhan dan pepohonan yang masih tumbuh dengan liar dan rimbun, tanpa campur tangan manusia. Dan hanya orang bodoh yang mau susah payah memasuki wilayah yang masih dihuni banyak binatang buas dan dijadikan tempat pemujaan dewa-dewa penguasa hutan ini. Dan satu-satunya rumah yang ada di tengah hutan itu jelas bukan kepunyaan manusia. Seorang pemuda berambut hitam raven terlihat sedang berjalan memasuki halaman utama rumah itu dengan sikap waspada.

Sasuke berjalan dengan sikap santai menuju kamarnya yang berada di salah satu bangunan utama di rumah itu. Sebagai anak pemimpin klan tertinggi di wilayah itu, dia juga harus menjaga sikap pada semua orang. Termasuk tidak boleh bersikap ceroboh di depan banyak orang.

"Kau menemui gadis itu lagi. Iya 'kan?" seseorang tiba-tiba menghadangnya di ujung lorong yang menghubungkannya dengan kamarnya. Lorong itu berbentuk bangunan kayu yang memanjang dengan atap kayu yang disangga dengan kayu-kayu berbentuk lonjong yang kuat. Naruto berdiri bersandar pada tiang penyangga atap dengan tatapan mencela. Sasuke menatapnya kaget. Tidak biasanya Naruto menatapnya dengan pandangan seperti ini.

"Bukan urusanmu," jawab Sasuke singkat. Dia terus berjalan melewati Naruto.

"Tentu saja urusanku. Aku sepupumu..." kata Naruto sinis.

"Aku tahu itu. Tapi kali ini, ini bukan urusanmu, Naruto..." sahut Sasuke, menoleh ke arah sepupunya dengan tatapan bersalah.

"Kau sudah tidak pernah menemaniku berburu. Hanya gadis itu.. Gadis itu terus yang kau cari. Apa tidak ada yang lain? Kau bahkan tidak ikut acara makan malam keluarga dan aku harus berbohong pada ayahmu kalau kau sedang berburu dengan Kabuto. Apa kau lupa dengan pertemuan besar dengan klan Timur? Kau harus menghadirinya denganku, ingat? Tapi kau tidak ada. Dan aku yang harus menghadirinya sendiri. Bisa kau bayangkan aku berada di tengah-tengah para vampir haus darah itu? Kau keterlaluan..." kata Naruto dengan nada kesal.

Sasuke sekarang dapat melihat kilatan kemarahan di bola mata yang jernih itu. Ada sebuah perasaan bersalah yang perlahan merambati hatinya. Dia sangat menyayangi Naruto lebih dari apapun. Dia akan melakukan apapun untuknya dan membuatnya tidak menderita lagi. Sasuke sudah berjanji akan melindungi Naruto saat dia melihat bagaimana orang tua anak itu dibantai dengan keji oleh para manusia. Dia berjanji akan melakukan apapun untuk melindungi sepupunya itu, terutama dari tangan manusia.

Tapi saat dia bertemu dengan gadis itu.. Dia tidak bisa membohongi perasaannya sendiri. Perasaannya pada gadis itu sangat kuat. Dan sekuat apapun dia menampiknya, perasaan itu justru semakin melekat dan wajah gadis itu semakin berkelebatan dalam pikirannya.

"Sasuke.. Ingat.. Gadis itu manusia... Kau ingat janjimu padaku tentang manusia? Gadis itu.. Keturunan Senju..." suara Naruto pelan tapi sanggup meremukkan semua benteng hatinya.

Sasuke berusaha untuk tidak menanggapi perkataan Naruto dan terus berjalan ke kamarnya dalam diam. Ungkapan itulah yang paling membuatnya terluka. Kenyataan kalau mereka tidak akan bisa bersatu.

.

.

Sakura tidak segera menutup jendela kamarnya yang terbuat dari bahan kayu terbaik itu. Malam ini hujan tidak turun dan cuaca sudah mulai dingin. Dia merapatkan yukata-nya dan merapikan rambutnya yang berterbangan terkena angin yang bertiup agak kencang malam ini. Dia menatap keluar jendelanya, ke arah pepohonan lebat yang gelap di seberang kamarnya. Berharap ada sesuatu yang bergerak dan muncul dari kegelapan di sana, seperti malam-malam sebelumnya. Tapi sepertinya malam ini yang diharapkannya tidak akan muncul. Malam sudah hampir habis.

Gadis itu menghela napas panjang. Ada sebuah kekecewaan yang tiba-tiba bercokol di dadanya. Perasaan apa ini? Sakura memegang dadanya dan berkali-kali meyakinkan pada dirinya sendiri kalau yang dirasakannya selama ini hanyalah perasaan semu yang akan berakhir begitu saja.

Tapi... Ah, apa ini? Sakura menggeleng keras-keras. Setiap kali wajah laki-laki itu berkelebatan dalam ingatannya, dadanya jadi bergemuruh tak karuan. Dadanya jadi berdegup lebih cepat saat dia mengingat bagaimana suaranya yang dalam itu memanggil namanya dengan lembut. Dia ingat saat pertama kali bertemu dengan laki-laki itu beberapa waktu lalu. Untuk pertama kalinya, ada seorang laki-laki yang menatapnya dengan tatapan seperti itu, seolah Sakura adalah gadis yang sangat menarik seperti teman-teman bangsawannya yang lain. Sakura ingat saat laki-laki itu menolongnya di tengah hutan dan saat kedua tangan Sakura memeluk punggung bidang laki-laki itu di tengah hutan. Bagaimana saat laki-laki itu memanggil-manggilnya dengan cemas sebelum akhirnya dia pingsan karena kelelahan di gubuk tua itu. Semua itu membuat dadanya berdegup tidak karuan.

Sakura menampik perasaaannya kuat-kuat. Hentikan! Bukan yang seperti ini!

Dia tahu kalau laki-laki itu adalah orang yang harus dijauhi oleh keluarga Senju ini. Dan dia sangat tahu itu.. Tapi perasaan ini...

Cukup! Cukup, Sakura... Gadis itu berkata tegas pada dirinya sendiri.

"Takdirmu adalah keluarga ini.. Kau harus mengikuti aturan yang berlaku di rumah ini. Yah.. Kau juga harus menuruti permintaan mereka untuk menikah dengan anak saudagar kaya raya itu.." katanya dengan suara parau.

Besok pagi dia harus ke Edo dan bertemu dengan keluarga Hyuuga. Dan itulah di mana hari-harinya sebagai seorang Sakura yang bebas, sudah berakhir. Sakura menatap kembali ke arah pepohonan lebat di luar kamarnya. Sebuah pikiran konyol tiba-tiba terlintas begitu saja di benaknya.

Dia lebih memilih laki-laki yang bahkan belum menyebutkan namanya padanya itu membawanya pergi dari sini malam ini, daripada dia harus bertemu dengan keluarga Hyuuga besok pagi. Tapi itu semua tidak mungkin 'kan?

Sakura tersenyum getir sebelum akhirnya menutup jendela kamarnya dengan perasaan yang sulit diartikan.

TBC