Title : One Night Stand

Genre : Romance

Rating : M

Pairing : Various Artist (Mainly DBSK)

Disclaimer : They belong to them selves. I own only the plot.

Warning : Typos, Cursing, YAOI (BOY X BOY), Incest, a SLUTTY!Jae, Don't Like? Back off, I can't tolerate any bashing towards JJ. XO

Summary : YunHo bertemu dengan seorang 'malaikat' disebuah club. Akankah hubungan mereka akan berakhir hanya sebagai one-night-stand-relationship?

.

I dedicate this FF for My Chagiya Sweet Dongsaeng, White Tree.. and also, for you...

.


.

Dengan jari-jarinya sang DJ memainkan berbagai mesin-mesin pada sebuah meja. Menghasilkan berbagai kombinasi efek distorsi yang menggeretak.

"So, tell me who the God?" Teriaknya pada microphone.

"God is a DJ! And the DJ is Micky!"

YooChun terkekeh senang mendengar jawaban yang memuaskan itu.

Orang-orang ini mencintai dan memujanya.

Di sini, setiap malam ia mendapatkan ketenangan.

Di tengah lautan orang-orang yang haus kesenangan, YooChun memberikan apa yang mereka inginkan.

Sesuatu yang menggigit, yaitu, musik.

Ia menyirami mereka dengan musik keras menghentak, yang bagi sebagian orang adalah salah satu cara melepas stress.

Alternatif yang telah diuji dan dibuktikan sendiri oleh sang DJ.

"Oh, DJ Micky, you got me falling in love again." Seorang gadis berpakaian minim, terutama pada bagian depannya menempelkan dadanya pada lengan YooChun. "Tonite my turn, right?" Bisiknya, menarik headphone yang bertengger di telinga YooChun.

YooChun hanya tersenyum menggoda.

"Hey, Micky!" Sebuah suara menghentikan aksi tatap menatap penuh aura panas itu.

"Yo, JoongKi! What's up?"

"Oh, hello, lady."

JoongKi mengabaikan sapaan YooChun dan membungkuk dihadapan sang gadis, kemudian mencium punggung tangannya.

YooChun memutar bola matanya.

Temannya, Song JoongKi, terkadang memang suka bersikap, seperti gentleman ala abad pertengahan (Yang bagi YooChun telah sangat ketinggalan jaman).

Entah bagaimana sikap JoongKi yang kuno itu disukai gadis-gadis, mungkin bila tidak ditunjang oleh wajahnya yang tampan para gadis akan merasa muak.

"Hi, tampan…"

Si gadis dengan senang hati menghampiri JoongKi.

YooChun tak tahu dan tak ambil pusing siapa nama gadis itu.

Ia memanggil semua gadis yang mendekatinya dengan panggilan 'pretty' atau 'baby'.

Alasannya?

Simple, karena YooChun malas harus mengingat nama mereka satu persatu. Antrian menuju tempat tidurnya terlalu panjang dan akan sangat menguras tenaga bila harus menghapalkan nama satu persatu.

Menyibukkan diri dengan turntable dan mixer-nya terkasih, YooChun melewatkan adegan make out JoongKi dengan gadis-yang-harusnya-bersama-YooChun-malam-ini.

Setelah menyelesaikan sesi singkatnya dengan JoongKi, ia kembali ke sebelah YooChun. Seperti tadi, menempel pada lengan Deejay yang tengah membungkuk di atas turntable.

"Wo.. Woo… Maaf, pretty baby, aku tak tertarik dengan bekas temanku sendiri. Dan satu lagi, aku tak suka 3some." Ia melontarkan kalimat terakhir sebelum sang gadis sempat membuka mulut.

"Yah! Kau kasar sekali!" JoongKi memukul puncak kepala YooChun. "My lady, jangan dengarkan dia. Duduklah di counter. Aku akan segera menyusul setelah menghajar pria jahat ini."

"Make it fast." Sang gadis mengangguk dan tanganya berkeliaran pada dada JoongKi sebelum menghilang ke arah bar counter.

YooChun mendengus. "Aku tak mengerti bagaimana aku bisa melewati tahun-tahun berteman denganmu dan JaeJoong."

"Hahahaha…. Orang bilang, seseorang tak mungkin bisa berteman baik denganmu bila tak memiliki setidaknya satu kesamaan kecil. Kebetulan saja kita bertiga loves to play around."

JoongKi mengistirahatkan tangannya pada sisi meja penuh berbagai alat-alat YooChun. "Kapan JaeJoong kembali?"

"Entah. Kenapa?"

"Kulihat ada seseorang yang menghantuimu."

YooChun mengerang keras. "Yeah.. Siberian Husky kecil yang kehilangan majikan."

"Hihihihi…" Kikikan geli lolos dari bibir JoongKi. "Apa menurutmu aman membiarkan Siberian Husky kecil itu berkeliaran begitu saja? Bagaimana bila pemburu menangkapnya?"

Sebelah alis YooChun terangkat tinggi-tinggi. "You, Song JoongKi, worried about that puppy? Am I hear this right?"

"Pabbo.." Sekali lagi genggaman tangan JoongKi mendarat pada puncak kepala YooChun.

"Aku mengerti maksudmu. Tapi JaeJoong pasti bisa mengatasi sang raja. He wrapped the king in his small hand by the way."

"Yeah.. Kau benar. Sudahlah, aku pergi dulu. Seorang lady menungguku, sangatlah tidak sopan bila aku membiarkannya menunggu lebih lama lagi."

"Syuhhh…Syuhhh..." YooChun mengusir dengan melambaikan tangannya.

"Hahahaha… See ya, our God-DJ-Micky."

.

-OneNight-

.

Hal berjalan tidak sesuai yang direncanakan Jung YunHo.

Dan kenyataan ini membuatnya kesal setengah mati.

Setiap malam ia mendatangi W, menyeret Ah-In, HangKyung dan HeeChul bersamanya.

Mengapa?

Karena YunHo masih tak mampu mengingat seperti apa wajah 'malaikat'-nya.

Sementara ketiga orang itu lebih familiar dengan wajah Kim JaeJoong.

Jadi, lebih baik membawa mereka serta bukan?

Makin banyak tenaga yang mencari semakin baik.

Hasilnya? Spekulasinya itu salah besar, karena ketiga orang itu sama sekali tidak membantu.

.

YunHo telah berusaha mengais informasi kesana kemari namun hasilnya nihil.

DJ Micky tak mau memberitahukan dimana keberadaan JaeJoong dan terus menerus mengusirnya.

Dan ia tak punya bayangan harus bertanya pada siapa.

Ide untuk langsung mengunjungi mansion Choi SiWon ditolak mentah-mentah oleh Ah-In.

.

"Mengapa susah sekali mencari Kim JaeJoong ini! Aku mulai lelah setiap malam harus ke club!"

"Kenapa aku tak bisa membeli kepemilikan Red Ocean? Bagaimana caraku membalas player kacangan itu?"

Dua orang sahabat itu menyemburkan keluhan berbeda kepada sepasang kekasih yang masih sibuk merambah tubuh masing-masing.

"Hyungdeul, jangan sibuk sendiri begitu!"

"Benar, walaupun tidak tertarik, berpura-puralah mendengarkan!"

"Yah! Sejak kapan kalian berdua menjadi begitu cerewet seperti nenek-nenek. Mengesalkan sekali." HeeChul yang tak terima diteriaki berbalik marah-marah kepada kedua orang tersebut.

Namun aksi teriak HeeChul diabaikan oleh baik YunHo maupun Ah-In, karena YunHo tengah sibuk menerima telepon dari seseorang sementara Ah-In mengejar bayangan seseorang berpakaian warna abu-abu.

"Yeoboseo…" Suara seorang gadis terdengar dari seberang sana saat YunHo telah menemukan sudut yang tak terlalu berisik.

"Ada apa kau menghubungiku? Bukankah kau berkata semua telah berakhir?"

"YunHo… Jangan begini. Biarkan aku bicara."

"Bicaralah."

"Sedang dimana? Mengapa begitu berisik? Apakah Oppa sedang berada di club? Sejak kapan O.."

"Hentikan." YunHo memotong banjir kata-kata sang gadis. "Kau tak berhak lagi mengurusi aku dan kau tak berhak lagi memanggilku dengan sebutan Oppa."

Tak ada tanggapan, hanya suara listrik statis yang terdengar.

"Langsung kepada intinya saja. Apa yang kau inginkan dariku?" YunHo melanjutkan setelah hening cukup lama.

"Aku tak bisa mendengar dengan baik. Kita bertemu saja."

"Aku tak punya waktu."

"Kumohon…." Suara sang gadis menjadi serak, YunHo tahu ia sedang menangis. Dan tangisan gadis itu selalu mampu melemahkannya.

"Baiklah. Kebetulan besok hari minggu dan aku libur. Kita bertemu di Raising Star café, pukul dua belas siang. Bye."

YunHo menutup telepon tanpa menunggu balasan. "Apa maksudmu menghubungiku kembali, Jess?" Tanyanya pada ponsel yang telah terputus sambungannya.

.

Ah-In mengejar punggung orang itu.

Siapa lagi bila bukan si player kacangan yang telah menabuh genderang perang dengannya.

Sambil mengejar, sesekali Ah-In menabrak seseorang dan seperti biasa, he not give a damn.

Otaknya sibuk menyusun rencana pembalasan.

Saat mencapai bar counter, ia menyambar segelas beer milik orang tak dikenal, pemiliknya yang belum sempat menyentuh minumannya itu tentu saja protes. Namun orang malang itu kemudian bungkam seketika karena mendapat tatapan elang Ah-In.

Senyum iblis merekah di bibir pria itu saat makin mendekati sasaran.

Dengan satu gerakan ringan.

BYUR…

Segelas beer menyiram tubuh yang tengah sibuk mencumbu seorang gadis itu.

JoongKi menutup matanya untuk meredam emosi sebelum menoleh untuk menghadapi siapun jahanam yang berani menyiramnya.

"Ups.. Maaf.. Sengaja…" Ah-In memainkan gelas beer ditangannya sambil bersiul mengejek.

"Kau! Manusia bar-bar."

"Player kacangan, itu adalah pembalasan untuk yang kemarin. Berterima kasihlah karena aku hanya membalasmu begini. Harusnya gigimu telah rontok sepenuhnya."

JoongKi tersenyum manis.

Tanpa basa basi ia menyiramkan segelas beer pada pakaian yang dikenakan Ah-In.

"Upss.. Maaf.. Sengaja." JoongKi memplagiat kata-kata Ah-In dengan gaya tidak kalah menghina.

Kesal, Ah-In mengepalkan tangannya kembali dan seakan memang takdir bahwa wajah itu tak boleh berhias lebam, saat tangannya hampir mengenai wajah rupawan JoongKi, Ah-In mendapati diri tengah diseret keluar club.

"LEPAS!" Jeritnya marah.

JoongKi tertawa. "Tak percuma berteman dengan JaeJoong. Aku jadi mendapat perlakuan VVIP disini." Ujarnya dalam hati.

"Tempatmu itu di luar! Wahai kau bar-bar pengecut yang menyerang orang dari belakang!" JoongKi melambaikan tangannya girang.

"ARGH! SIAL! AWAS KAU, PLAYER KACANGAN!"

"Huuu.. Kau membuatku gemetar ketakutan."

Untuk kali kedua Ah-In mendapat penghinaan yang sama, dilemparkan keluar dengan sangat tidak beradab. Dan hal ini mengakibatkan niatnya untuk membalas dendam bertambah berjuta kali lipat.

.

-OneNight-

.

YooChun membuka pintu apartemennya secara perlahan.

Waktu telah menunjukkan pukul lima lewat tiga puluh menit dini hari dan matahari mulai bangkit dari peraduannya. Memberikan sinar pucat di langit.

Berjingkat, ia melangkah masuk untuk kemudian mendapati seseorang tertidur pada meja makan, lengkap dengan makanan yang tersaji, siap untuk dilahap.

YooChun mendekat dan memandangi sosok pria muda itu.

Ia menggunakan kedua lengannya sebagai bantal sementara kepalanya dimiringkan ke kiri.

Nafasnya teratur dan panjang-panjang.

Rambut berwarna golden brown itu jatuh menutupi dahinya.

Tangan YooChun meraih poni depan sang pemuda. "Kau menungguku lagi, Park JunSu? Kenapa begitu keras kepala?"

Kini tangan YooChun membelai pipi chubby itu, matanya memancarkan rasa sayang dan rindu.

"Su…" YooChun membungkuk untuk dapat melihat wajah JunSu lebih jelas, makin lama wajah YooChun makin mendekati wajah imut-imut itu. Saat bibirnya hampir menyentuh bibir pink milik JunSu, YooChun mengurungkan niatnya dan mengecup dagu JunSu.

.

.

Gelap.

Seorang anak diselubungi kegelapan pekat.

Ketakutan, ia memeluk lututnya dan menangis tersedu.

Ditengah tangisnya seorang pria muncul, menepuk kepalanya dan pergi.

Sang anak mencoba mengejar dan memanggil, suaranya tak dapat keluar.

Saat ia menyerah dan kembali menangis, pria itu berbalik untuk menepuk kepalanya kemudian mendaratkan kecupan pada dagunya.

.

JunSu mengerjabkan matanya.

Otak dan matanya secara lambat mencerna apa yang tengah terjadi kini.

Apakah ia masih bermimpi?

Setelah beberapa saat berlalu JunSu sadar bahwa memang ada seseorang yang mengecupnya dan orang itu adalah kakaknya sendiri.

Deru nafas JunSu yang tiba-tiba tidak teratur memaksa YooChun membuka mata, menarik tubuhnya dan segera berbalik.

"Hyung!" Panggil JunSu.

Tanpa menoleh atau berhenti YooChun menuju kamarnya sendiri.

"Hyung, apa kau membenciku? Mengapa?"

JunSu mengigit bibir bawahnya.

Ia merasa sakit pada dadanya.

Semakin dipikirkan ia semakin tak mengerti sikap dingin sang kakak.

Kakak laki-laki satu-satunya yang selalu berdiri didepan JunSu dengan kedua tangannya direntangkan untuk melindungi adiknya saat kedua orang tua mereka bertengkar dan mulai mengasari mereka.

Sosok kakak yang dikagumi oleh JunSu.

Orang yang selalu berjalan beberapa langkah didepannya, seberapa cepat apapun kaki kecil JunSu mencoba menyamainya.

Tapi sosok itu akan selalu menoleh dan mengulurkan tangannya saat JunSu terjatuh. Yang sepertinya kini tidak pernah lagi dilakukannya.

JunSu merindukan sosok itu.

Satu-satunya orang yang dapat diandalkannya dikeluarganya.

Tempatnya untuk bersandar, selain pada ChangMin.

Getaran pada sakunya mengalihkan JunSu dari lamunannya.

"Yeoboseo…"

"Su-ie.. Kau tidak apa-apa?"

"Eh? Maksudnya? Kau menelpon di pagi hari hanya mengucapkan itu? Tanpa memberikan salam pula."

Seseorang diseberang mendesah. "Baik. Aku ulangi. Yeoboseo.. JunSu, kau tidak apa-apa?"

JunSu tertawa. "Aku baik-baik saja. Memang apa yang dapat terjadi padaku?"

"Oh.. Hanya saja aku merasa kau memanggilku."

"Yah! Kau terlalu percaya diri!"

"…."

"ChangMin ah..? Masih disana?"

"Bila kau tak membutuhkanku, sebaiknya teleponnya aku putus."

"Eh? Jangan! Min ah, Jangan marah. Aku memang merindukanmu dan sedang memikirkanmu barusan." Rasa panas merambati pipi JunSu.

"…"

"Min ah.. Benar-benar marah ya?"

"…"

"Min ah.. Katakan sesuatu." Suara merajuk mulai keluar dari bibirnya.

"Buka pintu apartemenmu."

"Eh?"

"Lakukan saja."

Bingung namun akhirnya menurut juga, JunSu membuka pintu depan apartemen untuk disambut oleh keberadaan tubuh tinggi seorang pria dengan ponsel ditangan kirinya.

"Yah! Kenapa tak langsung bilang telah berada di sini!" JunSu memukul dada sang pria tinggi, berpura-pura marah padahal senyum tak lepas dari wajahnya.

"Aku…"

"Sudahlah, kau tak perlu mengatakan apa-apa. Aku tahu." JunSu memotong.

Ia memang mengerti dan tahu bahwa ChangMin tak pandai berkata-kata. Pria yang lebih muda satu tahun darinya itu mengikuti JunSu, menjaganya dari belakang dan menariknya berdiri saat jatuh.

Tak pernah ada kata-kata romantis penuh cinta ataupun puji-pujian namun ChangMin selalu ada.

JunSu tersenyum, membuat matanya berkilau-kilau oleh perasaan yang meluap-luap. "Aku mencintaimu."

"Aku tahu." Jawab ChangMin dan kemudian membuka tangannya, mengundang JunSu mendekat. "Apa kau perlu jawaban Su-ie?"

"Tidak." Lengan JunSu makin erat memeluk tubuh itu. "Aku sudah tahu."

Dari celah kecil sebuah pintu yang terbuka, seseorang mengintip sepasang pria yang tengah berpelukan itu.

Wajahnya menunjukkan kesedihan mutlak.

"Huh, Sampai mana aku ingin menyiksa diriku sendiri? Sampai mana kau ingin menyiksaku Park JunSu? " Ia tersenyum meremehkan namun matanya tak pernah lepas dari wajah bahagia JunSu. "Aku mencintaimu, adikku tersayang. Aku ingin tahu apa jawabmu bila aku mengatakannya. Apakah kau akan menjawab 'Aku tahu'?"

.

TBC

.


.

Adakah yang menyadari warningnya bertambah satu?

Readers : Tidak~~

Me : Hiks… TToTT

Kalau ada yang mau bilang wajahnya Su-Su dan Chunnie tak ada mirip-miripnya bila disebut saudara, saya hanya bisa nyengir kelinci. Bukankah Su-Su dan saudara kembarnya, abang Zuno juga tidak terlalu mirip? Mirip sih, hanya agak berbeda. Dalam keluarga kadang-kadang ada yang wajahnya berbeda. *malah ceramah*

Chap depan, yang ditunggu-tunggu, YunJae bertemu kembali~~~ (mungkin) mengingat plot diotak saya sedang kacau. *dilempar bata*

Review reply :

Diitactorlove : Muahahaha… JJ memang seksieh~~ Kita lihat nanti apakah Ah-In & JoongKi jatuh cinta apa tidak ya.. Sementara ini sih, masih musuhan tuh..

Donidonita : Iyah, mau buat pair baru. :D Yun bakalan sibuk dulu ngurusin mantannya tuh. :D

ika-chiharu : Yey~~ Soulmate kita memang keren. Tapi sekarang setelah melihat Micky begitu masih keren? :D Iya tuh, JoongKi & Ah-In kaya anak kecil. *disiram beer jg*

RizmaHuka-huka : Iya, saya cari aman, Rizma, makanya naik rating. Song JoongKi & Yoo Ah-In itu yang main Sungkyungkwan Scandal bareng Micky. Ganteng kok, silahkan Tanya mbah Google atau nonton dramya.. Aihh~~Saya lupa SiWon itu alim, saking orang yang diotak saya pantas jadi saingan Uno hanya SiWon.

Delta Dwina Alpha Fujoshi : Yup, banyak love triangle disini.. ^^v Soal YooNa & SiWon dijawab nanti yaw.. Hehehehe

Zhie Hikaru-chan : Iyah, demi kenyamanan bersama, dinaikkan saja. Mahap, Mi jg binggung kenapa kalau buat YJ pasti momentnya sedikit.

Evil Baby Snow : Eh? Sunbae~~~~ Gumawo pujiannya, saya masih belajar. . Sudah update cepat neyh, Sunbae.. ^^

HyukAimimi fishy : Kejadian malam itu? Apa ya~~ *siul-siul gejeh* Yang sabar yaw, saya akan berusaha~~!

Hinata Fuyuki H : JJ tidak jahat, hanya… er… nakal. Hohohoho… Jangan diceburin ke laut Micky n SiWonnya, Chingu. Ditenggelemin ke sungai saja. #plak

Arisa Adachi : Mwo? Arisa mau WonJae? Ada juga yang mau couple ini.. :D

Fishy-kunyukELF : Makasih.. *senyum geje* Iya, mau buat pair baru. Bosan juga itu-itu terus. :D

Kyuyunjae04 capek login : Yaw.. Sudah lanjut Chingu~~ Saya rajin khan? *minta dipuji* #plak

zero BiE : Eh.. Ada lagi yang suka WonJae.. Hohohoho…iya bener, JJ kaya Cleopatra, tapi menurut saya ada satu lagi sebutan yang cocok buat JJ. Tapi pendapat saya disempen dulu ah.. #digampar

Noyii : Apa boleh buat, JJ khan player juga.. Sabar yaw, Chingu.. Minnie? Ada kok.. itu khan.. *tunjuk Min* saya cinta Minnie, jadi pasti dimunculkan.

White Tree : Eon ngerasa Ah-In & JoongKi kok makin gejeh yaw? Ah-In kekanakan banget.. Mahapkan saya Oppa~~~ *pundung* Appa khan memang begitu, walaupun sedikit innocent tapi arogannya Appa tidak akan Eon hilangkan. Khukhukhu…

Angel Xiah : Mahap.. Saya lupa memperhitungkan soal alimnya SiWon.. TToTT Temukan jawaban apa JJ digrepe uno chap depan.. *sok ngiklan*

dfaFallenAngel : Dicopy, Chingu.. Appa pasti akan sangat berusaha mendapatkan JJ. Bosan saya lihat JJ begitu mudah bertekuk lutut sama Appa. :D

icha22madhen : Sudah, update chingu… ^^

Priss Uchun : Hehehe.. JJnya jadi liar kali ini.. Hehehe..Kita lihat apa mereka NC-an nanti.. khukhukhu..

CD-Elfyza : Iya, dy, YJnya nanti saja. Save the best for the last.. :D

Moyoko Tomoyo : Eh? Mo Chan kenapa? Sakit ya? Sudah sehat? Berarti saya tak perlu merasa berdosa nih telah mencemarkan pikiran Mo Chan? Asikkkk~~

park min hyo : Omoo~ Makasie sudah di Fave.. *kissu* Eh? Berkelas? Makasih.. *blushing* Saya akan berusaha~~~

.

Yak, sekian review replynya.

Minta cinta…. Tuangkan cinta kalian buat saya lewat review~~ :D

Love, Cho Jang Mi