Saling melempar kata cinta dan rindu adahal hal yang paling indah menurut Baekhyun daripada harus saling melempar punggung dingin di saat tidur. Baekhyun tidak menyangka Chanyeol akan marah saat Baekhyun dengan baik hatinya memberi tahu bahwa Changmin menghubungi nya kembali. Padahal niat awal Baekhyun baik. Dia hanya ingin Chanyeol tau dan tidak ingin menutupi apapun dari kekasih tinggi nya itu. Tapi Chanyeol membalasnya dengan marah-marah pagi itu, Demi tuhan! itu masih pagi dan Chanyeol memarahinya hanya karena masalah sepele. Siapapun yang di marahi pagi-pagi pasti juga akan tersulut emosi. Lebih disayangkan, pagi itu Baekhyun membalas Chanyeol dengan nada yang tinggi pula. Pertengkaran yang seharusnya bisa dihindari malah terjadi. Argh, menyebalkan sekali.
.
.
.
.
.
.
.
Chanyeol sudah pergi pagi-pagi sekali. Tidak membangunkan Baekhyun seperti biasanya. Tidak meminta ucapan cinta dari Baekhyun. Tidak sarapan. Chanyeol masih marah.
Kantin rumah sakit adalah pilihan terakhir Chanyeol. Disanalah dia duduk dengan secangkir kopi dan roto.
"Dr. Loey! Tumben kau sarapan di sini" Seorang wanita bertubuh kurus tinggi menghampiri Chanyeol. Berjalan sedikit anggun dan berlenggok dengan secangkir kopinya. Chanyeol hanya berdehem. Tanda bahwa dia tak berminat bericara. Wanita itu mengambil posisi duduk di depan Chanyeol lalu menyesap kopi paginya.
"Disini bukan tempat yang asik untuk sarapan"
Yes bitch yes! Chanyeol juga tau itu. Dia punya tempat lain yang sangat asik untuk sarapan. Bersama orang yang asik pula tapi sekarang mereka sedang marahan. Ingin sekali Chanyeol menendang wanita itu. Terlalu banyak bicara.
"Kau seharusnya bersiap-siap untuk mencetak senyum palsu didepan pasien. Tidak usah pedulikan aku" balas Chanyeol dingin.
"Ya seharusnya aku tidak usah mempedulikan mu" good. Diam saja. Aku tidak mau mendengar kau yang penuh pura-pura.
"aku ingin mengajak mu mengobrol tapi tidak tau tentang apa. Jadi percuma saja" lanjut wanita itu lagi.
"Aku sedang tidak mau diajak bicara Seulgi" Chanyeol menyerah. Wanita bernama Seulgi itu tidak juga mau mendiamkan bibirnya.
Seulgi diam sejenak. Memperhatikan Chanyeol. Salah satu rekan dokternya.
"Kau terlihat sedang dalam mode waspada. Adakah milikmu yang akan diambil orang? atau mungkin kau sedang ketakutan?" Seulgi menyesap kopinya. Menyapu sedikit sisa kopi dibibirnya.
"Tsk" Seperti tau masalahnya, Seulgi langsung memborbardir Chanyeol dengan pertanyaan. Tidak heran mereka Psikolog. Tidak sia-sia gelar yang disematkan.
"Kau hanya sedang dalam fase sangat sangat mencintainya. Karena itu kau jadi emosi berlebihan. Haha" Seulgi tertawa lepas. Tapi Chanyeol menatap Seulgi dengan tajam.
"Sejak kapan kau jadi lebih pintar dari ku?"
"Kau yang bodoh. Bukan aku yang jadi lebih pintar"
"Kau tau apa soal aku?"
Seulgi mengangkat bahu. Acuh. Sial pikir Chanyeol.
"Memang sangat susah mengenali diri sendiri. Lebih lebih ketika jatuh cinta" Seulgi laku terkikik. Berdiri membawa cangkirnya.
"Aku duluan Loey. Aku tau kau akan membuatku banyak tugas hari ini" Seulgi berjalan menjauh
"Ingat dan pikirkan. Emosi sesaat akan merugikan mu. Kendalikan itu sedikit man! Jangan kekanakan!" lanjut seulgi sambil melambai ke arah Chanyeol.
God! Tiba-tiba Chanyeol menyesal sudah marah kepada Baekhyun, kekasih galaknya.
.
.
.
.
"Aku akan menjaga mu"
Baekhyun masih dengan jelas mengingat kalimat bagaikan candu yang diucapkan Chanyeol padanya. Chanyeol selalu memiliki kalimat penenang di saat hatinya sedang bersedih. Tapi tidak untuk sekarang.
Baekhyun berbaring di sofa, memeluk boneka Rilakkuma raksasa milik Chanyeol. Memeluk bonekanya serasa memeluk pemiliknya. Batin Baekhyun. Biasanya Baekhyun tak perlu memeluk boneka Chanyeol. Chanyeol sendiri lah yang selalu bersedia memeluk.
"Nama ku Chanyeol. Aku ketua kelas" Baekhyun mengingat-ingat awal pertemuan nya dengan Chanyeol. Tidak sulit untuk mengingat nya. Karena moment itu moment favorite nya.
"Anak-anak di sini jahil. Apalagi terhadap anak baru. Jadi, jika ada yang mengusik mu beritahu aku ya" lanjut Chanyeol dengan suara Bass nya yang sedikit pecah. Sewaktu itu Baekhyun hanya lah remaja laki-laki biasa yang di harus kan pindah ke sekolah baru karena orang tua pindah tugas. Masuk ke sekolah khusus laki-laki dan harus satu kelas dengan anak-anak yang 2 tahun berada di atas nya. Sebab, ketika anak-anak lain masuk sekolah berumur 7 tahun, orang tua Baekhyun memasukkan nya ke sekolah saat Baekhyun masih berumur 5 tahun.
.
.
.
.
.
Sejak saat itu, entah bagaimana Baekhyun sangat dekat dengan Chanyeol. Rumah mereka berdekatan. Chanyeol juga sering mengunjungi rumah Baekhyun hanya untuk bermain game.
"Baekhyun"
"iya?" baekhyun membalikkan halaman buku yang di pegang nya. Membaca nya sekilas lalu melipat halaman buku yang menurut nya di halaman itu ada materi penting yang harus Chanyeol pelajari. Chanyeol yang belajar, Baekhyun belajar nanti saja. Dia hanya akan mengerti pelajaran ketika Chanyeol yang mengajari.
"Apa cita-cita mu?" mata hazel Chanyeol menatap Baekhyun yang duduk disamping nya. Mata mungilnya, hidung mungilnya, bibir kemerahannya,rambut hitamnya. Jangan lupakan tahi lalat kecil di pipi kanan Baekhyun. Sangat manis untuk seorang pria. Pikirnya.
Baekhyun berdehem. Menutup buku, lalu bertumpu lengan diatas meja. Keadaan kelas sepi, anak-anak yang lain sedang bermain bola menikmati waktu istirahat setelah hampir mati berkutat dengan pelajaran.
"aku ingin jadi pilot"
Chanyeol tertawa. Ah, memang ada yang salah dengan jawabanku? Batin Baekhyun hwhwhw Chanyeeeoool
"Kenapa kau tertawa?" Baekhyun melayangkan buku pelajaran ke bahu Chanyeol.
"tinggi mu kurang" WTH Park Chanyeol. Kalau saja kau tidak tampan akan aku ceburkan kau ke lautan api!
"memangnya pilot harus tinggi? jangan mentang-mentang tinggi seenaknya saja mengejek cita-citaku"
Chanyeol terkekeh. Dirinya ikut bertumpu tangan dimeja. Melakukan hal yang sama dengan yang Baekhyun lakukan. Posisi mereka sekarang saling bertatap-tatapan. Dikelas yang sunyi. Waktu yang hangat. Hanya ada mereka berdua. Dan perasaan cinta. Well, mungkin hanya sepihak.
"aku ingin jadi dokter"
.
.
.
.
.
.
.
.
"yas fuck meh harder babyyh ahhh" suara wanita bugil masuk ke indera pendengaran Baekhyun. Seperti remaja pada umumnya, Baekhyun menonton film porno. God! ini pertama kalinya Baekhyun menonton. Mata Baekhyun tak lepas dari adegan yang ia lihat di layar notebooknya. Sang wanita menungging, lalu sang pria menampar-nampar pantat sang wanita dengan keras lalu sang wanita meminta pria melakukannya lebih keras dengan desahan desahan yang sesungguhnya menjijikkan.
"lick my dick honeyhh sshh ah" kali ini suara sang pria yang terdengar. Lama video porno itu ia tonton. Baekhyun menyadari satu hal. Dia tidak tertarik dengan desahan wanita di video porno tersebut, dia...ah dia tertarik mendengarkan desahan dari si pria. What happened to me?
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Selain Chanyeol, Baekhyun mempunyai satu lagi teman lelaki bernama Changmin. Changmin orang kedua yang menyapanya ketika masih menjadi anak baru setelah Chanyeol. Changmin sangat ramah, senyumnya seperti malaikat. Setidaknya itu first impression yang Baekhyun dapat ketika bertemu Changmin. Hubungan Baekhyun dengan Changmin juga tidak seperti hubungannya dengan Chanyeol. Jika Chanyeol tak ada, Changmin sering kali melakukan skinship. Changmin kerap kali memeluk Baekhyun, menggelitik leher Baekhyun bahkan pernah mencium pipi Baekhyun dan menepok pantat Baekhyun. Hell. Gemas katanya. Bodohnya Baekhyun, dia menerima segala perlakuan Changmin. Bodoh. Seharusnya Baekhyun menolak. Secara dia adalah anak laki-laki harusnya dia merasa jijik dengan segala perlakuan Changmin. Tapi nyatanya dia enjoy saja. Something wrong with him.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Chanyeol memijat pelipisnya. Hari ini dia tidak mau diganggu siapapun. Dia hanya ingin tenggelam di dalam pikirannya sendiri. Memikirkan Baekhyun. Bahkan, pasien-pasien pesakit mental yang biasa berkonsultasi dengannya Ia hand-over ke Seulgi. Meminta Seulgi menggantikan posisinya. Sebenarnya kenapa dia harus marah? Padahal Baekhyun tidak salah dalam hal ini? Changmin hanya menghubungi Baekhyun tapi dia marah yang berlebihan. Chanyeol gagal mengendalikan dirinya sendiri. Seperti kasus para pasiennya.
"argggh"
Chanyeol menyambar Handphone di saku Jubah dokternya. Mendial sebuah nomer. Lalu tersenyum miring saat suara diseberang sana menyapa indera pendengarannya.
"babe... I need you tonight"
