Author's Note:
Untuk kenyamanan bersama, dimohon kepada para reader untuk membaca
Author's Note yang berada di bagian bawah, setelah cerita selesai. Hal ini dimaksudkan agar untuk selanjutnya para reader tidak menanyakan pertanyaan yang sama, dan ini berlaku dari Chapter 2 hingga seterusnya. Terimakasih… (^0^)

.

.

.

Disclaimer : Masashi Kishimoto (Naruto) and Hiro Mashima (Fairy Tail)

Pairing : Naruto x Erza, Naruto x Harem (Mungkin~… Pairing tidak usah dipikirkan, ini hanya hiasan untuk saat ini. Dilaksanakan atau tidak, itu terserah nanti. ^^V)

Genre : Friendship, Adventure, Hurt, Romance(?), Angst(?), Bloody(?), Hurt(?)

Rated : T+ untuk chapter ini

Warning : OOC, Semi-Canon, Typhoo, Bloody and Hurt (dikit)

Summary : Naruto yang merasa bersalah karena membuat keluarganya mederita karena kondisi tubuhnya memutuskan untuk pergi dari desanya. Selain itu Naruto juga memiliki tubuh yang lemah dan tidak memiliki aliran chakra di tubuhnya. Lalu bagaimanakah kehidupan Naruto selanjutnya setelah ia pergi dari desa? Kenapa juga Naruto tidak memiliki aliran chakra dan memiliki tubuh yang lemah?

.

.

.

Keterangan (Berlaku hanya dalam mimpi)

… Percakapan : "lalalalalalalala" (Kutip 2, Italic)

… Efek : 'lalalalalalalala' (Kutip 1, Italic)

… Naruto : lalalalalalalala (Bold)

Catatan: Bagi yang menggunakan mobile version, mohon maaf jika format 'italic' ada yang tidak terbaca. Saya juga baru ngeh setelah tadi di cek via HP. Jadi... yang ingin melihat fict dengan format yang sebenarnya bisa buka di PC atau buka ffn-nya versi web jangan mobile. Terimakasih atas pengertiannya. ^^

.

.

.

"KAASAN! TOUSAN! Hiks… Hiks…."

Eh? Dimana ini? Mimpi kah? Lalu, siapa anak kecil itu? Kenapa ia menangis sambil berlari-lari seperti itu?

"HEI BOCAH! JANGAN KABUR KAU! AKAN KU SIKSA KAU SAMPAI MATI! GYAHAHAHA!"

Eh? Apa? Siapa mereka? Kenapa mereka ingin membunuh anak itu?

"Ti-tidak. A-aku tidak mau. Aku takut… Hiks… Hiks…"

Hei! Awas didepan mu!

"Huwaa!"

'Bruk'

"Hahaha, sudah ku bilang bukan? Jangan kabur, bocah! Kami hanya ingin bersenang-senang dengan menyiksa mu saja. Hahahaha!"

A-apa? Kalian mau menyiksa anak kecil? Manusia macam apa kalian!? Dik, cepat bangun! Kalau tidak, kau akan dibunuhnya!

"Ti-tidak. Aku tidak mau. Kalian jahat! AKU BENCI ORANG SEPERTI KALIAN!"

'slash'

"Arghhh!"

Ti-tidak mungkin. Apa yang kalian lakukan dengan anak kecil itu!? Apa kalian benar-benar berniat menyiksannya!?

"Hahahaha! Itulah akibatnya jika kau macam-macam dengan kami, BOCAH. Oh ya, aku peringatkan. Jagalah omongan mu itu, gyahahahaha!"

"I-ittaii… Kaasan… Tousan… Aku takut… hiks… hiks…"

Dik, bertahanlah. Aku akan mencari bantuan! Tunggu, tapi bagaimana caranya? Tidak ada seorang pun yang bisa melihat ku. Bagaimana ini!?

"Kau bilang sakit!? Hahaha, lelucon belaka! Ayolah, itu hanyalah goresan kecil. Masa segitu saja sakit? Hahaha!"

Hei! Tentu saja sakit, kalian melukainya!

"Kalian jahat! Hiks… hiks… BUSUK!"

"Apa kau bilang!? Ucapkan sekali lagi, BOCAH!"

Tunggu… Jangan, jangan ulangi kata-kata mu itu. Kau akan dalam bahaya, dik.

"K-ku bilang… KALIAN BUSUK!"

'jleb'

"Arghhhh!"

Hei! Apa yang kalian lakukan!? Menusuk seorang anak kecil yang tidak berdaya? Yang benar saja! Apa kalian gila!?

"Hahaha! Rasakan itu, BOCAHH!"

"Ugh… Kaasan, Tousan… Ittai… Takut, aku takut… Hiks… Hiks…"

Hei dik, kau tidak apa-apa?

"Da-darah?"

Hei!?

"Kaasan, Tousan… Ada darah… Aku takut… Sakit… Kaasan, Tousan… Tolong aku…"

"…"

Eh? Ada apa dengannya? Kenapa dia tiba-tiba terdiam?

"Hahaha, rasakan itu! Gyahahhaha!"

"…"

Tunggu, ada yang aneh dengannya. Dia tidak bergerak. Apa dia sudah mati?

"Eh, Aniki. Anak itu tidak bergerak. Apa mungkin dia mati?"

"Ha? Yang benar saja. Mustahil dia mati. Sekalinya parah juga, dia hanya akan pingsan."

"Hm… Akan ku cek,"

Semoga dia belum mati…

"Terserah kau…"

"Eh? Arghh!"

Eh? Eh? Tunggu, apa yang terjadi!?

"Hm, ada apa? Eh? Anzen! Ada apa dengan mu!?"

"A-aku dicekik! Ugh!"

'pletak'

Eh? Eh? Kabut hitam itu mencekikinya? Yang benar saja!

"A-aniki! Lihat! Lehernya patah!"

"Mana mungkin!?"

"Ittai… Ittai…"

Eh? Kau masih hidup, dik? Syukurlah…

"Huwaaa, apa ini!? Aniki, tolong! Tolong! Huwaaa!"

'crack-crack-cressss'

Eh? Eh? Apalagi itu. Kenapa kabut itu keluar banyak darah? Darah siapa itu?

"A-apa!? HEI BOCAH! APA YANG KAU LAKUKAN!?"

"Nee, Ojisan. Perutku sakit dan berdarah… Tolong aku…"

"Jangan… jangan mendekat kau, MONSTER!"

Mo-monster? Kalian yang monster, bukan anak itu! Tunggu, tapi ada apa dengan anak itu?

"Monster? Aku bukan monster, Ojisan."

"Kabut apa ini!? Huwaa, TIDAKKKKK!"

'cresssss'

Hoekkss! Ugh! Terlalu banyak darah. Menjijikan.

Kabut itu lagi-lagi hanya mengeluarkan darah. Ada apa sebenarnya? Kabut itu… kalau tidak salah tadi menyelimuti pria itu, dan meremasnya? Ti-tidak mungkin!

"Nee, Ojisan. Kenapa menusuk ku? Kenapa menggores pipi ku? Kenapa mengejar ku? Apa salah ku, Ojisan?"

Eh? Eh? Anak itu benar-benar bersikap aneh.

"Mundur, mundur! Aku tidak mau dekat-dekat dengan mu, MONSTER!"

"Kenapa Ojisan tachi memanggil ku monster? Kenapa?"

'srettt'

"HUWAAAA! BOCAH MONSTER SIALAN APA YANG KAU LAKUKAN! TANGAN KU… TANGAN KU…"

Eh!? Tangan kanannya putus? Bagaimana bisa?

"Nee, Ojisan. Aku bukan monster…"

Hei dik, sudahlah…

'sretttt-sretttt'

"ARGGHHHH! HEH, BOCAH MONSTER! APA KAU BERNIAT MEMBUNUH KU!?"

A-apa? Hei dik, apa kau gila!? Kau memutuskan tangan kiri dan kedua kakinya? Kau sudah berlebihan dik! Cukup! Hentikan!

"Ojiisan… Aku bukan monster…"

Hei! Ku bilang, HENTIKANN!

"A-APA!? TIDAKKKKKK!"

'srett'

'duk'

Ugh! Ke-kepalanya… kepalanya putus. Siapa anak itu sebenarnya? Kekuatan apa itu? Ada apa dengannya?

Tu-tunggu… Dia melihat ke arah ku dan berjalan menuju sini. Apa dia akan membunuh ku? Tidak… tidak… Apa salah ku? Kenapa kau ingin membunuh ku?

Berhenti disitu… kubilang berhenti!

TIDAKKKKKK!

.

.

.

The Power of Golden Darkness

Chapter 3

By : Tsukiakari Zero-Five

.

.

.

"Huwaaa! hah... hah... hah… Mi-mimpi apa itu tadi? Kenapa tiba-tiba aku bermimpi seperti itu? Siapa anak itu? Terlebih lagi, kekuatan apa itu!? Benar-benar menakutkan dan tidak masuk akal…"

Naruto kembali terbangun dengan mimpi buruk yang menurutnya sangatlah aneh, menyeramkan, dan terlalu sadis. Mau bagaimana pun dalam mimpi itu ia melihat begitu banyak darah yang mengalir, dan juga penyiksaan yang berakhir dengan kematian.

Keringat dingin membanjiri tubuhnya. Meskipun itu hanyalah mimpi, tapi Naruto merasakan ketakutan dan kengerian yang nyata. Mimpi itu… seperti bukan mimpi pada umumnya. Ia merasa bahwa dirinya benar-benar ada di tempat itu, menyaksikannya dari awal hingga akhir. Apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa mimpi itu datang? Apakah akan ada sesuatu yang terjadi pada dirinya? Pertanda buruk kah? Atau… apa?

Entahlah. Saat ini Naruto benar-benar shock dengan mimpi yang dialaminya itu. Ia ingin melupakannya. Benar-benar ingin melupakannya. Takut… Takut… Jika diingat-ingat lagi, mimpi itu benar-benar membuatnya takut. Apalagi jika ia mengingat tatapan anak itu. Benar-benar membuatnya merinding.

'Tidak… Tidak… Mimpi, itu hanyalah mimpi. Kau harus melupakannya, Naruto. Demi kebaikan batin(?) mu…"

Naruto mencoba menenangkan dirinya. Tenang… dan tenang. Tarik nafas, hembuskan. Ia melakukannya lagi hingga pikirannya merasa tenang.

Tidak memakan banyak waktu, akhirnya Naruto kembali tenang. Ia usap keringat yang berada didahinya, lalu beranjak menuju kamar mandi untuk membersihkan badannya dari peluh akibat mimpi buruknya itu.

Setelah beberapa menit mendinginkan kepala dibawah butiran air shower, akhirnya Naruto beranjak dari tempatnya berada. Ia berjalan menuju cermin dan menatapnya. Akhir-akhir ini Naruto sering sekali memandang dirinya dicermin. Entah apa alasannya, yang jelas itu membuatnya sedikit tenang.

Naruto memandang dengan lekat pantulannya di cermin. Seketika wajahnya terlihat menegang dan membulatkan matanya. Lama, cukup lama. Hingga beberapa saat kemudian, ia membilas wajahnya dengan air kran. Lalu menggeleng-gelengkan kepalanya.

"Tidak… Tidak… Lupakan. Kau harus melupakannya, Naruto! Itu hanya mimpi, tidak lebih!"

Merasa sudah kembali tenang, Naruto berjalan menuju pintu kamar dan mengganti pakaiannya. Hari ini adalah hari yang penting bagi dirinya. Hari dimana akhirnya ia bisa mengenal dunia luar setelah sekian lama berada di rumah kakeknya ini.

Setelah penyegelan itu, Naruto dipaksa harus beristirahat total selama 2 hari. 2 hari memanglah tidak lama, tapi beda ceritanya jika 5 hari lagi kau harus meninggalkan semua ini untuk sementara. Bukankah begitu?

Ia ingin menghabiskan waktunya itu untuk mengenal dunia luar, dan melihat seperti apa guild yang bernama 'Fairy Tail' itu. Apakah nanti dia akan memiliki banyak teman? Atau mungkin keluarga baru? Hmm… Sepertinya akan menyenangkan.

Setelah selesai bersiap, akhirnya Naruto keluar dari kamarnya dan berjalan menuju dapur untuk menyiapkan sarapan. Laxus dan Makarov belum bangun, maka dengan itu ini kesempatan bagus untuk membuat kejutan.

.

.

.

Di lain tempat, disebuah mansion yang author rahasiakan keberadaannya.

"Sepertinya dia sudah mulai mengingatnya, Tuan…" ucap seseorang yang terlihat seperti pelayan.

Orang yang dipanggil 'Tuan' pun berdiri dari tempat duduknya, lalu berjalan menuju jendela yang tidak jauh dari tempatnya berada. Kemudian ia tersenyum, "Ya, sepertinya begitu."

"Apa yang akan kita lakukan selanjutnya, Tuan?" Tanya pelayan itu.

"Untuk sementara waktu, biarkan saja dulu."

"Baiklah, saya mohon undur diri."

Setelah sang pelayan keluar, orang yang dipanggil 'Tuan' itu membuka pintu menuju balkon yang ada didepannya, lalu berjalan menuju balkon.

'Selamat datang di dunia sihir, Namikaze Naruto…' ucapnya dalam hati sambil tersenyum puas.

.

.

.

"Huwaaa! Nii-chan, apa kau yang membuat semua ini?" Tanya Laxus dengan mata yang berbinar-binar saat melihat masakan yang Naruto buat. Sedangkan Naruto hanya tersenyum senang melihat ekspresi Laxus yang kagum dengan masakannya.

"Naruto, aku tidak bermimpi kan? Ini benar-benar makanan kan?" Kali ini Makarov lah yang bertanya. Dia tidak percaya, cucunya bisa memasak makanan seperti ini.

"Hahahaha… Tentu saja tidak, Jii-chan. Ini kenyataan, dan lagi ini benar-benar makanan. Coba Jii-chan dan Laxus cicipi," tawar Naruto sambil tersenyum lembut.

"ITTADAKIMASU!"

Laxus dan Makarov dengan gerakan slow-motion mengambil makanan yang dekat dengan mereka, lalu memasukan makanan itu ke mulutnya. 'Hap' makanan pun dimasukan. Diam… Diam… Laxus dan Makarov saling menatap satu sama lain, "OISHI!" teriak mereka bersamaan. Naruto yang melihat adegan itu hanya bisa tertawa lepas. Bukannya apa-apa, ekspresi mereka itu loh. Seperti yang baru kali ini memakan makanan seperti itu.

"Horaaa Naruto! Bagaimana kau bisa memasak makanan seenak ini? Kapan kau belajar?" Tanya Makarov berturut-turut dengan mata yang berbinar dan menahan tangis karna makanan yang dibuat Naruto. Lebay? Ya, sangat lebay. Tapi itulah ekspresi yang sedang Makarov perlihatkan.

"Ara? Haha… Aku hanya belajar dari buku-buku yang aku baca, Jii-chan. Dulu aku kadang-kadang membantu ibuku di dapur. Tapi kalau memasak seperti ini, baru kali ini sih." Jawabnya sambil memasang pose berpikir. Makarov sweetdrop mendengar jawaban Naruto. Jawaban yang menurutnya benar-benar menyebalkan.

"Nii-chan! Osihi~…" Ucap Laxus yang melanjutkan makannya dan tentu saja ia tidak peduli dengan percapakan sang kakak dan kakek yang menurutnya tidak lah penting. Sekarang yang penting adalah mengisi perutnya yang kosong dengan makanan enak yang ada didepannya.

Melihat Laxus yang terlihat semangat memakan makanan itu, membuat Makarov dan Naruto tertawa lepas. "Terimakasih Naruto, kau membuat keceriaan Laxus kembali…" gumam Makarov, lalu ia melanjutkan acara makannya. Naruto terkejut mendengar gumamam itu, ia tersenyum lalu membalasnya "Aku pun berterimakasih, karena kalian telah menerima ku apa adanya." Laxus yang kebetulan mendengarnya ikut tersenyum bersama Makarov.

Beberapa menit kemudian, makanan pun habis. Makarov dan Laxus terlihat sangat puas dan kekenyangan. Sedangkan Naruto hanya bisa tersenyum senang melihat masakannya dihabiskan tanpa sisa oleh keluarga barunya itu. Tak lama kemudian, Naruto bangkit dari duduknya, lalu membereskan piring-piring itu dan mencucinya.

"Nee Naruto, meskipun aku tahu kalau kau itu jenius. Tapi aku tidak menyangka, kejeniusan mu itu menular pada keterampilan mu. Aku benar-benar bangga padamu, hahahaha…" ujar Makarov yang sedang menepuk-nepuk perutnya yang terlihat buncit karena makanan yang telah dihabiskannya.

"Iya Nii-chan, kau hebat!" Laxus mengacungkan jempolnya tanda setuju dengan perkataan kakeknya.

"Haha… Kalian berlebihan. Kebetulan saja aku bisa melakukannya. Tapi selama itu membuat kalian senang, aku terima pujian kalian." Ucapnya sambil tersenyum, lalu kembali ke tempat duduknya tadi. Bagaimana dengan kondisi piring-piring yang kotor? Tentu saja sudah ia selesaikan dengan tingkat kekinclongan yang maksimal. Oke, itu lebay. Next.

"Jadi, bagaimana agenda kita hari ini?" Tanya Naruto pada Laxus dan Makarov, sedangkan yang ditanya malah saling bertatapan. Makarov lalu menggaruk kepalanya yang tidak gatal.

"Anoo Naruto… Sebenarnya aku tidak bisa menemani mu berkeliling. Aku harus menemui pertemuan. Mungkin akan pulang sore, tidak masalah kan?"

Naruto menatap Makarov sedih, lalu menghembuskan nafasnya. "Yasudah, mau bagaimana lagi kan? Hehe…"

"Gak apa-apa nih?" Tanya Makarov meyakinkan. Jujur saja, ia tidak tega melihat Naruto seperti itu.

Naruto tersenyum, "Iya, gak apa-apa kok. Kan masih ada Laxus, hehe…"

"Iya Jii-chan, masih ada aku. Tanpa ada Jii-chan juga, kami masih bisa bersenang-senang. Benarkan, Nii-chan?" Laxus melirik ke arah Naruto sambil tersenyum, dan dibalas dengan senyuman pula oleh Naruto. Makarov tersenyum, "Baguslah kalau begitu."

Tak lama kemudian akhirnya mereka pergi untuk menjalankan aktifitas masing-masing. Makarov yang pergi ke pertemuan, dan Naruto bersama Laxus pergi untuk bekeliling kota.

Saat bekeliling, Naruto dibuat terkejut dengan semua hal yang ada di kota itu. Makanan, benda-benda sihir, peralat tempur, buku-buku, baju-baju, semuanya… Naruto kagum dengan semuanya yang ia lihat dan rasakan, terlebih lagi keramahan yang diberikan penduduk kota ini. Jika Naruto harus jujur, baru kali ini ia merasakan hal seperti ini. Dulu, untuk berjalan-jalan yang jaraknya tidak seberapa saja harus ditemani oleh Anbu. Benar-benar tidak nyaman diperlakukan seperti itu, tapi sekarang tentunya ia tidak merasakannya lagi. Ia merasa beruntung pergi dari desanya, karena ia bisa bertemu dengan orang-orang yang menerima dia apa adanya dan juga kembali menjalani hidup seperti orang pada umumnya. Bebas.

Banyak kenangan dan pengalaman yang Naruto rasakan hari ini, dan semua itu menurutnya sangatlah berharga. Sangat-sangat berharga.

"Arigatou, Laxus…" gumam Naruto pelan, namun beruntung Laxus mendengarnya.

"Sama-sama, Nii-chan!" balasnya sambil tersenyum, "Kalau begitu, bagaimana kalau kita pergi ke guild? Sepertinya semua orang sudah pulang dari misi."

Senang, itu yang kini Naruto rasakan. Setelah sekian lama ia menunggu, akhirnya kesempatan ini muncul juga.

"Kalau begitu, ayo!" Ajak Naruto dengan nada senang dan semangat.

"Hahaha… Nii-chan, kau semangat sekali. Hahaha…" Laxus tertawa melihat tingkah Naruto yang menurutnya sangatlah lucu dan juga konyol.

Saat diperjalan menuju guild, banyak sekali ibu-ibu dan juga gadis-gadis yang memperhatikan mereka. Meskipun pada dasarnya, semua orang lah yang memperhatikan mereka, namun yang dominan tentu para kaum hawa. Yang mereka perhatikan lebih tepatnya adalah Naruto. Orang asing yang juga penduduk baru di kota mereka. Di mata mereka, sosok Naruto terlihat sangat mempesona dan menarik. Laxus yang menyadari dari sebelumnya tatapan-tatapan itu hanya bisa menghela nafas. Dia mengerti, mengapa para penduduk bersikap seperti itu. Harus dia akui juga, pesona sang kakak memang sangat kuat. Terlebih lagi dengan tampangnya yang sangat memadai, tampan dan terlihat pintar. Meskipun sebenarnya memang pintar, ralat… jenius.

Naruto yang ternyata baru menyadari tatapan dari para penduduk akhirnya merasa sedikit risih dan aneh. Lalu ia menepuk pundak Laxus, "Mereka kenapa? Apa aku terlihat aneh? Kenapa tatapan mereka seperti itu? Apa aku dibenci oleh mereka?" Tanya Naruto berturut-turut.

"…" Laxus terdiam tanpa kata. Dia bingung, kakaknya ini memang tidak peka atau bodoh? Jelas-jelas beberapa gadis disana melihatnya dengan tatapan terpesona. Oke, Laxus tidak mengerti dengan semua ini. Meskipun dia masih berumur 12 tahun, dia setidaknya mengerti hal-hal seperti itu. Meskipun tidak menguasainya(?). Kakaknya ini jenius, tapi dia tidak peka? Laxus menghela nafasnya. Ia terkadang bertanya entah pada siapa, apakah semua orang jenius itu memang tidak peka? Oke, abaikan. Author juga sering berpikir seperti ini.

"Laxus?" panggil Naruto menyadarkan Laxus yang sedari tadi melamun.

"Hm?"

"Hah, lupakan…" Naruto pasrah dengan semuanya. Laxus tidak menjawab pertanyaannya, yang ada dia malah diam sambil memasang ekspresi yang menurut Naruto sulit diartikan.

Tak terasa akhirnya Laxus dan Naruto sampai juga di depan pintu masuk guild Fairy Tail. Kesan pertama Naruto saat melihat bangunan itu adalah… "Wah!" Dapat dipastikan, Naruto sangat senang melihatnya. Ekspresi Naruto memang terkesan sangat berlebihan, tapi itulah kenyataannya yang akan terjadi jika kita ingat-ingat keadaannya di masa lalu.

"La-Laxus, ini guild Fairy Tail?" Tanya Naruto memastikan dengan tatapan berbinar.

Laxus tersenyum, baru kali ini ada yang melihat tempat ini dengan ekspresi seperti itu. Banyak yang senang berada dan bisa menjadi anggota Fairy Tail, namun ekspresi seperti Naruto saat ini tidak pernah ia temui selama ia berada di sini.

"Ya, Nii-chan. Selamat datang di FAIRY TAIL!" teriak Laxus diakhir kata dengan nada senang.

"Sugoi!"

"Kalau begitu, ayo kita masuk!" Ajak Laxus kepada Naruto, dan dibalas anggukan olehnya.

Saat Laxus membuka pintu itu, semua tatapn orang yang berada di dalam guild tertuju pada terbukanya pintu itu. Naruto tersentak kaget dengan suasana di dalam guild. Begitu rama dengan orang, dan bermacam-macam karakter disana bisa ia lihat. 'Unik' itulah yang ada didalam pikiran Naruto saat ini.

"Yo Laxus, kemana saja kau!?" teriak seorang pria berambut hitam.

"Yo Laxus!"

"Selamat sore, Laxus!"

Dan masih banyak sapaan yang mereka lontarkan pada Laxus, sedangkan Laxus? Membalasnya dengan cuek. Karena pada dasarnya, Laxus memang selalu bersikap cuek terhadap mereka. Menurutnya mereka itu selalu berisik tidak pada tempatnya. Meskipun cuek, setidaknya Laxus selalu membalas sapaan mereka dengan mengangkatkan tangannya ke atas.

"Mereka unik ya?" bisik Naruto sambil sedikit tertawa. Laxus menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal, "Abaikan saja, Nii-chan. Mereka memang rada-rada. Ayo ikuti aku."

Tidak mengindahkan pertanyaan pria tadi, Laxus dan Naruto melanjutkan perjalanannya menuju tempat duduk yang berada di depan bar. Pria yang tadi bertanya sedikit merasa kesal, lalu menghadang Laxus.

"Horaaa! Setidaknya kau jawab pertanyaan ku, Laxus!" teriak pria itu.

"Kau berisik, Macao. Tidak lihat apa ada tamu?" jawab Laxus ketus pada pria yang didepannya. Mendengar jawaban Laxus yang menurut Naruto 'sedikit tidak sopan', Naruto pun menyenggol Laxus. "Hey, bicaralah sopan pada orang yang lebih tua." Bisiknya pelan.

Laxus menggaruk kepalanya yang tidak gatal-lagi-. Ia bingung harus menjawab apa. Jujur saja, ini sudah kebiasaan dia dan orang-orang disini bersikap seperti ini. Karena bingung harus menjawab apa, akhirnya ia mengabaikan ucapan Naruto.

"Hoo… Benar juga. Aku baru sadar. Jadi, siapa dia?" Tanya Macao yang ternyata baru sadar ada seseorang yang mengikuti Laxus dan dengan bodohnya menunjuk Naruto dengan seenaknya. Kesal dengan tingkah Macao, Laxus menangkis dengan kasar tangan Macao yang menunjuk kakaknya itu.

"Horaa! Kenapa kau!?" teriak Macao tidak terima.

Cari aman, itulah yang ada dipikiran Laxus saat ini setelah melihat raut wajah Naruto yang terlihat tidak suka dengan sikap Laxus.

"Tangan mu bau. Kau belum cebok ya?" Tanya Laxus sambil mengangkat salah satu alisnya.

"Hufffttt…. Huwahahahahahahahahahhahahahahahah!" Oke, semua orang yang ada di guild tertawa lepas mendengar pertanyaan atau mungkin lebih tepatnya candaan yang diberikan oleh Laxus. Merasa puas dengan hasilnya, Laxus mengajak Naruto untuk melanjutkan perjalanan. Lalu bagaimana dengan Macao? Wajahnya merah padam, kesal.

"LAXUS! AWAS KAUU!" teriaknya sambil melempar botol kearahnya, yang ternyata malah mengenai temannya.

"Macao, kau!"

Setelah itu, mungkin para pembaca yang mengikuti cerita Fairy Tail tau apa yang akan terjadi selanjutnya. Jadi tidak usah saya jelaskan saja ya. ^^V

Naruto dan Laxus yang sudah berada di depan bar, akhirnya duduk dan mencoba menikmati pemandangan yang ada didepannya. Laxus tertawa melihat pertengkaran yang ada didepannya, dan terlihat sedang menikmatinya. Sedangkan Naruto menatap pertengakaran itu dengan tatapan yang ia sendiri tidak bisa mengartikannya.

"Laxus, apa tidak apa-apa membiarkan mereka seprti itu?" Tanya Naruto pada Laxus. Laxus melirik Naruto sebentar, lalu kembali menatap pertunjukan didepannya. "Tenang saja, hal semacam ini sudah biasa kok. Hehehe…"

"Argghh! Semua ini gara-gara Laxus. Horraaa Laxuss! Kesini kau, ayo kita bertarung!" teriak Macao dengan nada kesal sambil mengeluarkan sihirnya. Naruto melihat Laxus dengan perasaan was-was, sedangkan Laxus malah memasang senyum meremehkan andalannya.

"Tidak masalah," Laxus bangkit dari tempat duduknya, lalu mengeluarkan listrik dari tubuhnya. Melihat Laxus menggunakan sihirnya, membuat yang lainnya pun ingin menggunakannya.

Naruto diam membeku, dia bingung harus melakukan apa. Ikut serta? Membantu? Menahan? Atau apa? Dia saja belum bisa mengendalikan kekuatannya. Entah kenapa dia saat ini berharap Makarov alias kakeknya tiba-tiba datang dan menghentikan keributan ini.

Sesaat sebelum Macao akan melancarkan sihirnya, pintu guild terbuka.

'Kriettt'

"HENTIKAN SEMUANYA!" teriak seseorang dari arah pintu. Semuanya terdiam melihat sosok itu.

"Ma-Master…"

Bagaimana dengan Naruto? Dia terdiam, shock. Ini adalah yang kedua kalinya ia melihat makhluk yang sebesar itu setelah Kyuubi no Kitsune. Makhluk atau orang yang ada di depannya itu sangatlah besar. Tingginya saja sampai ke langit-langit bangungan guild ini. Tubuhnya hitam semua, dan terlihat menyeramkan. Naruto berpikir, apa mungkin ada orang atau makhluk seperti itu? Tapi tunggu, tadi ia mendengar seseorang memanggil sosok itu dengan 'Master'. Master? Kakeknya kah? Atau ada Master lain selain kakeknya?

"HAH, APA YANG KALIAN LAKUKAN SEBENARNYA. APA KALIAN TIDAK MALU DENGAN TAMU KITA YANG SATU ITU?" ucap sosok itu sambil menunjuk Naruto.

"Macao yang mulai, Jii-chan." Laxus membuka suaranya, dan sontak membuat Macao berkeringat dingin.

"Horaaa, Laxus. Bisakah kau diam?" Bisik Macao pada Laxus, sedangkan yang dibisikan memasang tampang cuek.

'Tunggu, Laxus tadi memanggilnya apa? Jii-chan? Apa benar dia Jii-chan?' Tanya Naruto di dalam hati.

"HA? YASUDAH. LUPAKAN SAJA." Sosok itu tiba-tiba mengecil, dan terlihat lah sosok Makarov yang pendek, unyu-unyu dengan topi sirkusnya, namun keriput dimana-mana. #PLAK

"Selamat sore semuannya~!" sapa Makarov dengan nada riang gembira(?).

"Sore, Master!" jawab semuanya.

"Jii-… Jii-chan?" panggil Naruto was-was. Makarov yang merasa dipanggil, melirik ke arah sumber suara. "Na~ni~?"

"Jadi, tadi itu beneran Jii-chan?" Tanya Naruto memastikan.

Laxus menepuk pundak Makarov, "Tuh kan, Jii-chan. Nii-chan pasti gak percaya kalau tadi itu Jii-chan…"

Makarov memasang wajah sedih, namun kemudian ia kembali tersenyum.

"Tentu saja. Jii-chan hebatkan!?"

"Iya hebat, tapi pas sudah berubah ke bentuk semula malah jadi aneh. Terus, kenapa Jii-chan harus pake topi sirkus segala sih?" Naruto bingung dengan kakenya yang satu ini. Awalnya kren, akhirnya aneh. Selain itu, seingatnya saat terakhir kali mereka bertemu, kakeknya tidak memakai topi itu. Tapi kenapa sekarang pakai topi sirkus yang aneh itu!? Oke, abaikan.

'Jleb' Sakittt! Makarov memasang tampang sedih, "Kau jahat, Naruto. Hiks… Hiks…"

Naruto yang entah kenapa merasa kebal dengan tingkah kakeknya itu malah mengabaikan Makarov dan berjalan menuju Laxus.

"Laxus, sihir mu kren. Baru kali ini aku melihatnya," ucap Naruto pada Laxus.

"Eh? Memang aku belum pernah memperlihatkannya ya?"

Naruto terdiam, lalu menjitak Laxus. "Tentu saja belum. Ini baru pertama kalinya aku melihat sihir mu itu. Jangan bilang, kau lupa ingin memperlihatkannya padaku?"

Laxus tersenyum, "Hehehe… Gomenasai."

Pemandangan yang jarang, itulah yang sekarang ada dibenak semua anggota Fairy Tail. Sang Master yang pundung dipojokan hanya karena omongan seorang anak berumur 12 tahun. Lalu Laxus yang terkenal cuek dan jarang tersenyum pada orang lain, namun sekarang terlihat sangat senang.

'Aneh, ajaib, hebat!' batin mereka semua minus Naruto, Laxus, dan juga Makarov.

"Jadi Master, siapa Nii-san itu?" Tanya seorang gadis kecil berambut putih pendek pada Makarov.

"Oh, Lisanna ternyata. Kemana saja kau? Aku tadi tidak melihat mu," Tanya Makarov balik, padahal sebelumnya ia belum menjawab pertanyaan gadis itu.

"Aku, Cana, Elfman Nii-chan dan Mira Nee-chan tadi ngumpet. Males ah berurusan sama orang seperti dia," tunjuk Lisanna dengan polosnya pada Macao. Entah kenapa pada kasus ini, Macao terlihat yang paling bersalah dalam keributan ini. Tapi yasudah lah. Mungkin sudah nasib dia. Poor Macao.

"Hmm, baguslah. Kalau begitu. Semuanyaa! Minta perhatiannya!" Teriak Makarov dan suasana yang tadinya bising, sekarang menjadi tenang tanpa ada suara. Naruto yang mengerti dengan aba-aba tangan Makarov yang menyuruhnya untuk mendekat, langsung berjalan menuju arahnya dan beridiri disampingnya.

"Ehem, hari ini kita kedatangan anggota baru. Ayo Naruto, perkenalkan dirimu."

"Hm… Selamat sore, minna. Perkenalkan, nama ku Naruto Dreyar. Yoroshiku onegaishimasu…"

"Oh iya, Naruto juga adalah cucu ku. Hohoho…" tambah Makarov setelah Naruto selesai memperkenalkan diri.

"…"

No responding… Hening… Hening… Hening…

'Krik Krik Krik'

"USOOOO!" teriak semua orang yang ada di guild, minus Laxus, Makaro dan juga Naruto.

"MUSTAHIL! Kau tidak bercanda kan Master kalau anak itu cucu mu!? Dari tampangnya saja sudah jelas tidak mirip dengan mu!" Tanya Macao-lagi- dengan nada tidak percaya dan mengharapkan penjelasan sejelas-jelasnnya.

"Tentu saja dia cucu ku. Lebih tepatnya cucu angkat ku. Hahaha…" Jawab Makarov sembari tertawa.

"Huwaaa! Nii-chan, Nii-chan… Nii-chan tampan ya. Hehehe. Tapi kebetulan sekali ya, warna rambut kalian sama. Jadi terlihat benar-benar seperti keluarga, meskipun wajah tetap terlihat berbeda." Lisanna yang sedari tadi memperhatikan Naruto akhirnya membuka suaranya meskipun apa yang dibicarakannya benar-benar jujur dengan tingkat kepolosan maksimal.

"E-eh?" Naruto yang mendengar ucapan Lisanna malah bingung harus menjawab apa.

"Iya, kau benar Lisanna. Kalau dilihat-lihat, orang ini tampan juga." Ucap gadis berambut putih yang mirip dengan anak yang bernama Lisanna. Namun yang membedakan adalah umur, tinggi, dan juga rambutnya yang panjang di ikat seperti ekor kuda.

"A-aku setuju…" Kali ini gadis berambut coklat yang seumuran Lisanna yang berbicara. Gadis ini terlihat sangat pemalu dimata Naruto.

"La-… laki-laki sejati…" Sudah tau kan siapa yang bilang? Intinya anak cowok berambut putih juga.

"Nii-chan, kau laku juga." Ucap Laxus ngasal. Naruto bingung, benar-benar bingung harus menjawa. Akhirnya dia hanya membalas obrolan mereka dengan "Ha-hahaha…"

"Kalau boleh aku tau, nama kalian siapa?" Tanya Naruto dengan senyuman menghiasi wajahnya.

Ke empat anak-anak tadi tiba-tiba matanya langsung bebinar dan berkaca-kaca.

'Apa mereka juga terkena pesona Nii-chan?' batin Laxus heran dengan orang-orang yang melihat Naruto tersenyum.

Perkenalan dimulai dari anak perempuan berambut coklat, "Cana… Cana Alberona. Sa-Salam kenal," ucapnya malu-malu. Tapi kesan imutnya dan manisnya tetap terlihat, membuat Naruto gemas melihatnya.

Selanjutnya, gadis berambut putih yang rambutnya di ikat seperti ekor kuda. "Hallo, aku Mirajane Strauss. Salam kenal. Oh iya, ku harap suatu saat kita bisa bertarung menentukan yang terkuat. Kalau dilihat-lihat lagi, sepertinya kau kuat. Hahahaha!" Mirajane, atau kita panggil saja Mira memperkenalkan diri dengan semangat '45 dan tidak lupa dengan kalimat penutup tantangan. Naruto hanya bisa tertawa maklum melihat gadis didepannya ini yang menurutnya terlihat sangat galak, unik, periang, namun juga terlihat baik.

'Mengendalikan sihir ku saja aku belum bisa, bagaimana cara melawannya?' batin Naruto masih dengan wajah yang menampilkan senyum.

"A-aku Elfman Strauss. Yo-yoroshiku…" Jika Naruto harus jujur, perawakannya tidak cocok dengan sikapnya yang malu-malu seperti itu. Terlalu bertolak belakang. Meskipun begitu, ia terlihat baik di mata Naruto.

"Hai, Nii-chan. Aku Lisanna Strauss, adiknya Elfman Nii-chan dan Mira Nee-chan. Yoroshiku~…" ucapnya dengan nada riang gembira, benar-benar tipikal gadis seumurannya. Kalau dipikir-pikir, dari Strauss bersaudara ini. Sepertinya hanya Lisanna yang terlihat normal dan tidak aneh di mata Naruto. 'Hahahaha… Benar-benar unik,' batinnya.

Perkenalan terus berlanjut hingga beberapa saat. Naruto yang merasa senang karena telah mendapatkan teman sekaligus keluarga baru, kini selalu memasang senyumnya. Ia senang, benar-benar merasa senang. Laxus yang melihatnya pun ikut merasa senang.

'Syukurlah kalau akhirnya seperti ini,' batin Laxus senang.

"Jadi Master, dia lah yang membuat hari-hari mu menyenangkan?" Tanya Wakaba. (Author tidak bisa menjelaskan ciri-cirinya, berhubung lupa lagi ciri-cirinya seperti apa. Males buka animenya, sedangkan internetnya lagi mati. ^^V)

"Haha, begitulah." Jawab Makarov seadanya. Entah kenapa ia tidak bisa menahan rasa senangnya saat melihat Naruto kewalahan menghadapi orang-orang yang secara 'ajaib' malah membuat fans clubnya Naruto. Semenarik itukah Naruto dimata mereka? Oke, saya kembali katakan. Abaikan~…

Singkat cerita, perkenalan sudah berakhir dan sekarang adalah saatnya Naruto memasang tato Fairy Tail di salah satu bagian tubuhnya.

"Jadi Naruto, kamu mau memasangnya di sebelah mana?" Tanya Makarov sambil tersenyum.

"Hmm… Sepertinya di sini saja," tunjuknya pada lengan sebelah kiri bagian atas. (Itu, yang deket pundak itu loh… :3)

"Warna?" Tanya Makarov lagi.

"Eh? Ada warnanya juga? Hm… Hitam… mungkin?" jawab Naruto kurang yakin. Lalu ia melirik ke arah Laxus.

Laxus yang merasa diminta Naruto untuk memberikan saran, akhirnya membuka mulutnya. "Warna identik dengan elemen biasanya, Nii-chan."

"Hm, yang jadi masalah. Aku kan punya 2 elemen utama, Laxus." Naruto mulai bingung dengan keputusannya. (Dia galau~…)

Laxus dan Makarov saling bertatapan, lalu menghela nafas. 'Benar juga,' batin mereka berdua.

Lama memikirkan warna apa yang cocok, Naruto akhirnya menyerah. "Aku menyerah, mungkin hitam lebih cocok. Hitam kan warna yang bagus jika dipasangkan dengan warna apa pun. Jadi sudah ku putuskan, aku akan menggunakan warna hitam."

"Haha, ada-ada saja alasan mu. Yasudah, hitam ya." Makarov memasangkan alat pembuat tato itu di tempat yang Naruto inginkan. Tidak memakan waktu yang lama, tato pun berhasil dibuat.

"Huwa, krenn!" ucap Naruto bangga.

"Selamat, Nii-chan." Laxus menepuk-nepuk pundak Naruto sambil tersenyum.

"Arigatou, Laxus."

"Selamat, Naruto!" ucap semua anggota guild.

"Arigatou, Minna~"

"Kau tidak mengatakannya pada ku, Naruto?" Makarov kembali pundung.

"Haha… Arigatou, Jii-chan." Naruto tersenyum dan memeluk Makarov. "Arigatou juga telah menjadikan ku cucu mu," lanjutnya.

Makarov terharu, lalu dengan OOC nya ia menangis kencanga.

"HUWEEE! NARUTO~~!"

#abaikan

Singkat cerita, Naruto sudah memiliki tato Fairy Tail di lengan kirinya dan hari demi hari hubungan Naruto dengan anggota guild semakin dekat. Begitu pula dengan Makarov dan Laxus. Meskipun hanya dalam kurun waktu 5 hari, entah kenapa Naruto merasa bahwa ia sudah bersama mereka berbulan-bulan atau mungkin bertahun-tahun lamanya. Namun pada akhirnya, Naruto kini harus rela meninggalkan mereka semua (minus Makarov dan Laxus) untuk sementara waktu.

Semua ini ia lakukan demi menguasai sihirnya. Maka dengan itu, hari ini Naruto harus pergi dari kota Magnolia untuk berlatih. Sesuai perjanjian Makarov, Naruto akan berlatih disebuah tempat yang bernama 'Green Leaf'.

Kepergian Naruto tentunya membuat para anggota Fairy Tail sedih, namun mau tidak mau mereka harus menyembunyikan rasa itu. Agar Naruto tidak ikut terbebani nantinya.

Untuk urusan guild, Makarov menyerahkan tanggung jawab sementara pada Porlyusica dan juga Macao. Jika darurat, Makarov akan memaksakan diri untuk pulang dan menyelesaikannya secepat mungkin. Mau bagaimana pun juga, meskipun ada Laxus, ia tetap harus mengawasi perkembangan Naruto yang masih dikategorikan pemula amatir.

Tak terasa waktu berjalan sangatlah cepat, dan kini Naruto, Laxus dan juga Makarov sudah berada di tempat yang bernama 'Green Leaf'. Jika dilihat-lihat, tempat ini sangatlah cocok untuk menenangkan diri dan juga untuk berlatih. Pepohonan yang rindang, air terjun yang terlihat menyegarkan, ada juga sungai dan danau, dan banyak lagi yang membuat tempat ini sangat cocok untuk jadi tempat menenangkan diri dan juga berlatih.

Berjalan, berjalan dan berjalan. Akhirnya mereka menemukan sebuah bangunan yang tidak terlalu besar dan sudah tidak terurus, namun masih menandakan bahwa bangungan itu masih bisa dipakai.

"Baiklah, inilah tempat tinggal kita sekarang. Rumah ini milik ku. Dulu aku tinggal disini saat masih berlatih menggunakan sihir, atau kalau sedang ingin menenangkan diri." Ucap Makarov.

Naruto dan Laxus terpana dengan pemandangan yang disekelilingnya. Rumah ini menghadap sebuah danau yang ukurannya tidak terlalu besar, dan pemandangannya sangatlah indah. Entah kenapa, mereka berdua sangat yakin. Mereka akan betah ditempat ini.

"Kalian pasti lelah. Istirahat lah, besok kita akan memulai latihan kita."

"Ha'i!" Jawab Naruto dan Laxus serentak.

Setelah melakukan perjalanan yang cukup jauh, akhirnya Naruto dan Laxus bisa beristirahat dan kembali melanjutkan aktifitas mereka di esok hari. Hari ini sungguh melelahkan menurut Naruto. Mau bagaimana pun juga, Naruto tidak pernah berjalan sejauh itu. Selain itu, Naruto bersyukur dengan segel yang beberapa waktu lalu Makarov tanamkan pada dirinya. Karna segel itu membuat tubuhnya tidak mudah terasa lelah, meskipun terkadang dadanya terasa sesak. Namun untuk batasan sesak seperti itu, masih bisa ia atasi dengan meminum air dan mengistirahatkan tubuhnya sebentar.

Naruto yang masih terjaga melihat ke arah Laxus yang sudah terlelap, lalu ia tersenyum.

'Akhirnya saat ini tiba juga,' batin Naruto.

Keesokan harinya

Latihan untuk Naruto pun dimulai. Laxus yang pada dasarnya sudah mengerti dasar teorinya, hanya duduk manis melihat Naruto yang sedang bersusah payah mengontrol sihirnya.

Saat ini Naruto sedang mencoba mengontrol tenaga sihir apinya. Sebelum latihan dimulai, tentunya Makarov menjelaskan dasar teori pengontrolan tenaga untuk sihir. Beruntung Naruto langsung mengerti, dan itu tentunya mempermudah Makarov untuk melatihnya.

Latihan berawal dari bagaimana caranya mengeluarkan sihir kita sesuai dengan kehendak kita, dan latihan ini berjalan lancar dengan waktu yang menurut Makarov sangatlah cepat.

Selanjutnya pengontrolan tenaga sihir api, yang sekarang sedang dicobanya. Tidak memakan banyak waktu, Naruto berhasil menguasainya.

"Kau benar-benar jenius, Naruto. Kau tahu? Tahap ini biasanya membutuhkan waktu yang cukup lama untuk menguasainya," ujar Makarov dengan senyuman bangga menghiasi wajahnya.

"Hm… Mungkin karna ayah ku memiliki kontrol chakra yang sempurna, jadi menurun ke anaknya." Jawab Naruto ngaco, namun kalau dipikir-pikir ada benarnya.

"Hm, begitu."

"Kau hebat, Nii-chan!" teriak Laxus senang.

"Arigatou, Laxus!" balas Naruto tidak kalah senang.

"Baiklah, ayo kita lanjutkan latihan kita."

"Ha'i!" Jawab Naruto semangat.

Hari demi hari Naruto jalani bersama Laxus dan juga Makarov. Kebersamaan mereka juga lama kelamaan semakin erat.

Setiap saat, Naruto selalu menunjukan hasil yang membuat Makarov berdecak kagum pada dirinya, begitu pula dengan Laxus. Selama Naruto berlatih, entah kenapa Laxus juga ingin ikut berlatih untuk memperkuat sihirnya. Alhasil, Makarov juga dibuat kagum dengan perkembangan Laxus.

.

.

.

Singkat cerita. Selama 1 tahun, Naruto mencoba untuk menguasai kedua elemen utamanya, yaitu Kegelapan dan Api Emas. Selama 1 tahun juga Naruto mengalami perubahan sikap, fisik dan juga mental. Naruto yang dulu masih bisa menangis jika mengingat masa lalunya, kini menghadapinya dengan senyuman. Naruto yang dulu terkadang mudah terbawa emosi, kini bisa menjaga emosinya.

Selain itu, perawakan Naruto juga sekarang sudah berubah. Kini Naruto sudah terlihat benar-benar maskulin meskipun masih menginjak umur 13 tahun. Rambutnya kini terlihat tidak terlalu jabrik dengan panjang rambut sepundak. Tubuhnya pun sudah terlihat otot-otot yang menonjol.

Dalam 1 tahun, banyak sekali yang terjadi dengannya. Ya, hanya dalam 1 tahun semuanya berubah. Kehidupannya, masa depannya, semuanya.

Segel yang ada pada punggung Naruto kini telah hilang. Dengan kata lain, kini Naruto sudah bisa menguasai kedua kekuatannya. 1 tahun, waktu yang benar-benar singkat.

Lalu bagaimana dengan Laxus? Selama 1 tahun juga Laxus berubah. Kini ia sudah bisa mengontrol emosinya yang terkadang meluap-luap, kekuatannya bertambah, dan jangan lupa otot-otot mulai terlihat menonjol di tubuhnya seperti Naruto.

1 tahun ini, menjadi sebuah kebanggaan bagi Makarov selama melatih Naruto dan juga Laxus. Namun juga menjadi sebuah misteri bagi Naruto. Masih ada yang mengganjal pikirannya, mengenai siapa sebenarnya Naruto? Darimana dia mendapatkan kekuatan itu? Bagaimana cara dia bisa berkembang secepat ini? Kenapa dia memiliki sesuatu yang spesial yang jarang dimiliki anak pada umumnya? Dan… Kenapa anak sepertinya memiliki kekuatan kegelapan?

Pertanyaan itu selalu melayang-layang di otak Makarov. Ingin ia bertanya pada Naruto sejak ia memikirikan itu, namun ia masih belum memiliki keberanian untuk menanyakannya. Tapi saat ini, Makarov merasa ini sudah waktunya ia bertanya. Mau bagaimana pun juga, tingkat rasa penasarannya dari hari makin hari semakin memuncak, apalagi jika melihat kenyataan bahwa Naruto selalu berkembang setiap saatnya.

Selain itu, ada sesuatu juga yang ingin Makarov bicarakan dengan Naruto.

"Naruto, bisa aku berbicara sebentar dengan mu?" Panggil Makarov.

"Hm? Ada apa Jii-chan?" Tanya Naruto penasaran karena tiba-tiba sang kakek memanggilnya.

"Aku ingin menawari mu sesuatu…"

"Eh? Apa?" Tanya Naruto lagi, terlihat bahwa kali ini Naruto benar-benar penasaran.

Makarov menatap Naruto dengan tatapan serius, "Kau tahu kan, apa itu S-Class Mage?"

"Iya. Lalu?" Naruto bingung dengan pertanyaan sang kakek. Tentu saja ia tau, penyihir mana yang tidak tahu 'Apa itu S-Class Mage'.

"Aku akan mempromosikan mu menjadi salah satu S-Class di Fairy Tail," Makarov mengatakannya dengan nada dan wajah serius. Sedangkan Naruto yang mendengarnya hanya memasang wajah terkejut. Namun tak lama kemudian, akhirnya ia tersenyum.

"Boleh aku tolak tawaran mu, Jii-chan?" Tawar Naruto dengan senyuman khasnya.

Kini giliran Makarov yang dibuat terkejut oleh Naruto, "Tidak, kau tidak boleh menolaknya. Terlepas dari itu, kenapa kau menolaknya? Ini adalah kesempatan yang semua penyihir nantikan, Naruto."

Naruto kembali tersenyum, lalu ia alihkan pandangannya ke langit.

"Kalau begitu, bolehkah aku menundanya? Bukannya aku tidak mau, hanya saja… Aku belum bisa menerimanya. Aku belum merasa pantas menyandang gelar itu. Aku juga belum terlalu kuat, dan belum benar-benar menguasai kekuatan ku saja. Aku ingin bertambah kuat dulu, dan memiliki banyak pengalaman. Setelah semua itu, mungkin aku akan menerimanya. Selain itu… Aku ingin membuat Laxus menjadi S-Class juga…"

Makarov tertegun dengan apa yang Naruto ucapkan, rasa bangga dan senang menghampirinya.

"Kau tahu? Jarang sekali ada orang yang berpikiran seperti mu, Naruto. Baiklah kalau begitu, sudah ku putuskan. Aku akan menunda promosi mu ke S-Class Mage. Tapi aku ingin, disaat Laxus menjadi S-Class Mage, otomatis kau juga menjadi S-Class Mage. Bagaimana?" tawar Makarov terakhir kalinya.

"Tidak masalah," jawab Naruto spontan.

"Baiklah, sepakat?"

"Sepakat!"

Di lain tempat, ternyata secara tidak disengaja Laxus mendengar percakapan antara Naruto dengan Makarov-kakeknya-.

Laxus mengepalkan tangannya dengan erat, dan tak lama kemudian air matanya perlahan jatuh. Ia menangis. Ya, Laxus menangis terharu dengan apa yang telah Naruto korbankan untuk dirinya. Ingin rasanya ia marah pada Naruto, namun entah kenapa ia juga merasakan benar-benar senang dengan apa yang Naruto lakukan untuk dirinya.

"Ba-baka!" Gumamnya pelan, lalu meninggalkan tempat itu secepatnya. Bahaya juga kan kalau ketahuan dia menguping, apalagi menangis. Bisa hancur nama baiknya.

Kembali ke Naruto dan Makarov.

Makarov kini ikut melihat langit bersama Naruto. Hembusan angin perlahan menerpa mereka berdua, hingga pada akhirnya Makarov tiba-tiba tertawa.

"Hahahaha, kau tau Naruto? Kau selalu membuat ku senang sekaligus bangga!"

"Eh? Maksudnya?" Tanya Naruto tidak terlalu paham dengan apa yang kakeknya ucapkan.

"Hahaha, lupakan…"

Makarov yang awalnya ikut tidur-tiduran bersama Naruto, kini memposisikan diri menjadi duduk.

"Ngomong-ngomong, Naruto… Aku masih tidak mengerti dengan dirimu," Makarov menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal sembari menghela nafasnya. Naruto terheran-heran dengan apa yang sang kakek katakan, dia bingung.

"Hm? Maksud Jii-chan?"

Makarov menatap Naruto sekejap, lalu memalingkannya. Raut wajahnya kini sulit untuk dijelaskan.

"Kau bilang, kau berasal dari keluarga ninja bukan?" Tanya Makarov memastikan.

"Ya," jawab Naruto singkat.

"Aku penasaran, darimana kau bisa mendapatkan kekuatan sihir mu itu. Memang, semua orang bisa mendapatkan kekuatan itu jika mereka ingin dan percaya bahwa sihir itu ada dan ada alasan yang kuat untuk mendapatkannya. Sedangkan kau?" Makarov menatap Naruto dengan tatapan yang sulit diartikan-lagi-, "… Bukan hanya itu, kau juga mendapatkan elemen yang langka dan secara misterius kau bisa menguasainya hanya dalam waktu 3 bulan dan menyempurnakannya hanya dalam kurun waktu 9 bulan. Bukankah itu aneh?" lanjutnya.

Naruto terdiam mendengar penuturan sang kakek yang menurutnya 'ada benarnya juga'.

"Aku juga tidak tahu, Jii-chan."

"Apa kau punya kakek atau keturunan yang memiliki kekuatan sihir? Atau pernah terjadi sesuatu denganmu sebelumnya?" Tanya Makarov penasaran.

Naruto menggelengkan kepalanya. "Setahu ku tidak ada, dan… tidak pernah terjadi sesuatu. Sepertinya kekuatan ini sudah ada sejak aku dilahirkan ke dunia ini."

Ada jeda sesaat. Saat itu pula ingatan itu kembali muncul, ingatan mengenai mimpi 1 tahun lalu tentang seorang anak kecil yang membunuh orang-orang dengan kekuatan anehnya.

"Hah…" Makarov bangkit dari duduknya, "Lupakan apa yang sudah ku tanyakan tadi. Jujur saja, aku jadi tidak enak dengan mu. Gomen nee, Naruto…"

"Iie Jii-chan. Tidak apa-apa…" Jawab Naruto, masih dengan wajah yang terlihat sedikit sedih.

Merasa benar-benar tidak enak hati, akhirnya Makarov mengatakan sesuatu yang menurutnya bisa membuat suasana hati Naruto kembali normal.

"Kau tahu Naruto? Ada mitos, bahwa di dunia ini ada 1 dari sekian juta umat manusia yang dianugrahi sesuatu yang istimewa oleh Tuhan. Kekuatan, kecerdasan, keterampilan, dan lainnya. Kadang aku berpikir, kau adalah salah satunya." Ucap Makarov sambil tersenyum kearah Naruto.

Naruto membulatkan matanya, lalu ia melihat sang kakek tersenyum. Senang, terharu. Itulah yang sekarang Naruto rasakan. Jujur saja, beberapa saat yang lalu Naruto sempat merasa sedih. Namun setelah ucapan kakeknya, ia kembali tersenyum.

"Arigatou, Jii-chan…" ucapnya sambil tersenyum hangat, dan dibalas dengan senyuman juga oleh Makarov.

"Sudah malam, ayo masuk?"

"Jii-chan duluan saja. Aku nanti nyusul, hehe…"

"Yasudah, jangan lama-lama. Malam ini sepertinya udara akan benar-benar dingin," Makarov mengeratkan mantelnya tanda bahwa udara dingin mulai menyentuh kulitnya.

Beberapa saat setelah Makarov masuk ke dalam rumah, Naruto kembali menatap langit yang sudah mulai berubah warna menjadi gelap. Lalu ia mulai memikirkan sesuatu yang baru saja mengusik pikirannya, "Suatu kejadian ya? Hm… Apa mimpi saat itu adalah nyata? Apa jangan-jangan saat itu, aku benar-benar ada disana dan menyaksikan pembunuhan itu? Tapi, siapa yang membunuh orang-orang itu? Kenapa aku tidak mengingat wajahnya, dan rupanya? Yang aku ingat hanyalah… bagaimana dia membunuh orang-orang itu dan… dan… darah…"

.

.

To Be Continued

.

.

.

Terharu dengan banyaknya review di chapter ini. T_T

Arigatou minna~… telah membaca dan menyempatkan diri untuk me-review fict saya yang satu ini.

Thanks to:

str0m, NtoeD Uzumaki, n, dikdik717, nara naruto, Vin'DieseL No Giza, agustatsumi, anggraxl, yami no kuni, Romi uzumaki, ketikasenja88, reff, Yogi 35912, anggimasadepan470, Me'o D Theguh, samsulae29, Neko Twins Kagamine, Blood D Cherry, Yuriko Rin, Guest, zeinz muhammad 1, Gembel Elit, Red Dragon Emperor97, Natsu Namikaze, Akasuna D Raga, Guest, Namikaze Sholkhan, uzumakiseptian, muharrom catang, uzumaki D, Yasashi-kun, Yokai999, ashlight41, revanshirokiva, Genesis Of Aquarion, revanshirokiva, Guest, Aditya Otsutsuki Namikaze, MF Dark Youko, awar muna, sebuno16, Miryoku Arifu, Dark Namikaze Ryu, BosRongsok, Naozumi, yudrikul setyawan, Sai Akuto, Pain Tendou, Uzumaki 21, BlueFlash99, Guest, mitsuka sakurai, Taufan no Taifuu, TobiAkatsukiID, fadlun foolish, Sayaku Shiina 'Shi-Chan, issei-shan, ok brow, ok brow, Dragon warior, Kagami Ryuu, The Uzumaki Dragneel, Uchiha dant57, Akira No Sikhigawa, Yamigakure no Ryukage, Jim, opek zesyu, uchiha hani namikaze, yudhabooyz, Guest, monkey D nico, Minami, dianrusdianto39, MAGENZ, Akemi Yoshi, Vicestering, DarkYami Kugamawa, lussy maniezpisan, , YonaNobunaga, Mchsyafii, Mchsyafii, Feng jun'long, shinichi kudosaki, Loss Of Identity, Pearl-chaan, Guest, daikinz namikaze, daikinz namikaze, Uzumaki mutia, Kurogami, Delta Cleophysis, Delta Cleophysis, Selena rais123e, Dark revan, agisummimura, kalista, dattebayonaruto, xilla liimborgo, Kirara Natsuko, Guest, Guest, altadinata .

Mohon maaf jika ada kesalahan pengetikan. ^^

Selanjutnya saya akan menjawab beberapa pertanyaan dari para pembaca. ^^

Douzo~…

- 1 -

Q: Apa nanti pas Laxus sudah besar, sifat dan sikapnya sama dengan di canon?

A: Rencananya sih agak sama. :3

- 2 -

Q: Rate M boleh juga, tapi kalau ada lime atau lemon jangan jadi bikin cerita porno…

A: Aih~… Saya tidak berminat bikin cerita yang menjurus porno. Terlalu menakutkan~… #eh

- 3 -

Q: Naruto dan Fairy Tail satu dunia atau satu dimensi?

A: Umm… Sepertinya yang benar itu satu dimensi ya. Hehe, gomen kalau membingungkan. ^^

- 4 -

Q: Gimana kalau Naruto punya pedang/katana? Gak usah legenda, yang penting hebat…

A: Akan saya pertimbangkan. Arigatou atas sarannya… ^^

- 5 -

Q: Apa nanti Naruto ketemu sama imouto-nya?

A: Pasti. ^^

- 6 -

Q: Thor, Naruto punya kekuatan cahaya dong. Jadi kayak pika pika no mi, hebat gitu. Tapi jangan terlalu godlike…

A: Gomenasai, sepertinya tidak bisa. Soalnya kekuatan Naruto yang sekarang itu ada asal-usulnya. Kalau kekuatan tambahan yang dasar-dasarnya sih, bisa saya tamping idenya. ^^

- 7 -

Q: Nanti bakalan ada time skip gak?

A: Rencananya ada. ^^

- 8 -

Q: Kapan Naruto ketemu Erza? Kalau bisa Naruto sama Erza sampai menikah ya…

A: Akan saya usahakan. ^^

- 9 -

Q: Kekuatannya kayak Zeref ya? Kegelapannya kayak gimana? Kalau diserang, badannya bisa tembus kayak di One Piece buah setan type logia atau kayak pasirnya Gaara? Atau biasa aja?

A: Iya, kayak Zeref. Masalah kekuatan kegelapannya kayak gimana, nanti akan bongkar step by step. Harap bersabar ya. ^^ Type kekuatannya… Both. :D

- 10 -

Q: Apa Natsu akan menantang Naruto sebelum atau setelah Naruto masuk Fairy Tail?

A: Itu sih pasti. Natsu kan memang gitu, gak liat siapa yang dia lawan. Selama menurutnya orang itu menarik, dan pantas untuk ditantang, pasti dia tantang. XD

- 11 -

Q: Kapan Naruto masuk Fairy Tail?

A: Tepat di chapter ini. ^^

- 12 -

Q: Kekuatan Naruto setelah bisa menguasai kekuatannya, seimbang dengan Gildarts atau lebih?

A: Masih rahasia. Intinya Naruto kuat gak kuat tetap akan dilihatin step by step dan pastinya buat semua orang kagum.

- 13 -

Q: Buat Naruto bertemu dengan adik-adiknnya secara kebetulan saat menjalankan misi…

A: Rencana memang seperti itu. Tapi masih bingung di misi yang mana. ^^

- 14 -

Q: Boleh aku fav fict-nya?

A: Boleh banget. ^^

- 15 -

Q: Apakah ada julukan untuk Naruto?

A: Entahlah. Mungkin ada. :D

- 16 -

Q: Apa Natsu nanti bisa makan api emas milik Naruto?

A: Bisa, hanya saja… saat darurat saja. #LirikLaxus

- 17 -

Q: Sifat Naruto itu kalem seperti Minato?

A: Yup. Semuanya turunan dari Minato dan Kushina, baik otak maupun kekuatan. Hanya saja Naruto tidak punya chakra. Selain itu, karena Naruto selalu mengasah otaknya dengan sesuatu yang WOW, kejeniusannya melebihi Minato. Oh iya, otaknya juga rada-rada lemot kalau masalah cewek atau ada yang naksir sama dia. ^^

- 18 -

Q: Apakah nanti segel Naruto dibuka? Apa tidak?

A: Segel Naruto tidak dibuka, namun melebur. Jenis segelnya yang melebur alias melemah. Intinya sih, Naruto sendiri yang buat segel itu menghilang.

- 19 -

Q: Apa Naruto bakal punya kabut kegelapan yang menyerap energy kehidupan kayak Zeref?

A: Entahlah. Saya masih bingung. :3

- 20 -

Q: Bagaimana kalau Naruto belajar senjutsu? Gak usah senjutsu yang aneh-aneh, cukup sage katak saja.

A: Gomenasai. Rasanya itu mustahil. Berhubung Naruto disini tidak mempunyai chakra.

- 21 -

Q: Naruto dan Laxus kuat mana?

A: Mana pun tidak jadi masalah, dan hal ini masih rahasia. Meskipun masih rahasia, sudah ketahuan siapa yang lebih kuat diantara mereka berdua. ^^

- 22 -

Q: Apa Naruto akan jadi Dragon Slayer?

A: Sepertinya tidak. ^^

- 23 -

Q: Apa Menma punya kekuatan sihir?

A: Tentu saja tidak. Disini saya setting, mereka yang memiliki sihir tidak bisa memiliki chakra. Begitu pula sebaliknya. ^^ Kalau punya dua-duanya, GOD banget. -_-

- 24 -

Q: Naruto itu sifatnya baik atau jahat?

A: Tergantung segi pandangan anda. Kalau disini saya buat Naruto itu baik. ^^

- 25 -

Q: Nanti Itachi masuk ke dunia sihir gak?

A: Masuk ke dunia sihir dalam artian kekuatan, tentu saja tidak. Tapi kalau main atau semacamnya, iya. ^^

- 26 -

Q: Pairingnya jangan sama Erza. Terlalu mainstream. Jangan harem juga, kasihan…

A: Tidak masalah, karna mainstream lah yang membuat kisah cinta(?) mereka akan terlihat jelas perbedaannya dengan fict lainnya. Soalnya pasti dibanding-bandingkan dengan fict lainnya kan? Hehehe… Masalah harem, saya sudah memikirkannya. Ya… Intinya sih masalah pairing tergantung mood saya dan jalan cerita nanti mau kayak gimana. Hehehe… ^^ #digampar

Fyuhhh~ selesai juga balas pertanyaannya.

Sekali lagi saya ucapkan terimakasih atas partisipasi teman-teman meramaikan kotak review fanfict saya. Meskipun saat saya baca-baca ada yang mau memutilasi saya (Huwa! Jangan ya, saya masih ingin hidup! ^^), disebut cetar juga (Fans Syarini ya? ^^V), benci sama Naruko (Pukpukpuk) dan banyak lagi yang membuat saya senyam-senyum gak jelas, tertawa, terharu, garuk-garuk kepala, cengo dan semacamnya. Arigatou minna~…

Masalah update cepat, saya sudah membahasnya di chapter sebelumnya. Saya tidak bisa update secepat mungkin dalam artian beberapa hari (kurang dari 7 hari). Alasannya? Karena saya lebih memprioritaskan kuliah saya, dibandingkan hobi saya. Jadi mohon maaf sebesar-besarnya.

Masalah typhoo, saya hanyalah manusia biasa dan tidak memiliki beta reader. Jadi mohon maaf jika ada typhoo. Baik di chapter sebelumnya maupun chapter sekarang. ^^

Kali ini saya membuat fict disela-sela UTS. Gara-gara males belajar, stock buat nonton anime habis, dan alasan gaje lainnya, akhirnya saya memutuskan untuk melanjutkan fict saya. Hoho…

Meskipun akhirnya cuma bagian mimpi doang yang selesai, sisanya baru selesai hari ini jam 04:18 tanggal 13 April 2014. Wow! #abaikan

Ehem, gomen kalau chapter ini agak-agak aneh dan kurang memuaskan bagi para reader. Gak tau kenapa otak saya sekarang rada-rada konslet kalau masalah imajenasi. Hontouni, gomenasai~…

Untuk bagian akhir-akhir cerita, atau dimana gitu. Ada yang rada-rada gaje, itu pengaruh otak mulai konslet. Hehe… ^^

Mohon maaf jika bagian yang menurut kalian sedang asyik-asyiknya, atau bagian yang menurut kalian bakalan asyik malah saya skip. Jujur aja, gara-gara gak bisa download jadi males ngedeskripsiin lebih jelas. Mana daftar download-an banyak banget pula. Huwaa! #abaikan

6k word, cukup kali ya? Awalnya mau buat sampai 10k. Cuma ya itu… gara-gara alasan diatas, jadi males banget. Jadi, yasudahlah. #ngacir

Oh iya, itu saya sudah membuka sedikit demi sedikit misteri di fanfict ini. Kalau ada yang nanya, kapan fict ini tamat. Jawabannya adalah ENTAHLAH. Soalnya kalau dipikir-pikir, kayaknya bakal lebih dari 20 chapter. Sedangkan saya kemungkinan update saja 1 bulan-an lebih. Tapi yasudahlah. Bagi para pembaca yang menyukai cerita saya, bersabarlah. Karena pasti saya akan semakin jarang update untuk tahun depan. Hahaha… TA. #nangis…

Sepertinya sekian. Arigatou gonzaimasu atas masukannya dan bantuannya. Review dari pada reader akan memotivasi saya untuk membuat cerita lebih menarik. ^^

See you next di Chapter 4. \(^0^)/

.

.

.

Mind to Review?

Flame & Kritik saya terima dengan senang hati. ^^