Hari itu adalah hari pertama Boboiboy di sekolah 'baru'nya. Ia bangun dan melihat Gempa yang sedang memasak sarapan untuk mereka semua.
Gempa tersenyum melihat Boboiboy yang sudah bangun, "Sudah bangun?"
Boboiboy mengangguk, "I- iya.. Yang lain masih tidur, ya?"
"Tenang saja, palingan sebentar lagi kak Taufan bangun, dan biasanya dia yang membangunkan yang lain tetapi dengan cara yang, ehem.. bisa dibilang lumayan ekstrim..."
Boboiboy memiringkan kepalanya, bingung, "Eh?"
"Eh, Boboiboy sudah bangun, ya?"
Gempa dan Boboiboy menoleh ke sumber suara dan terlihat Taufan sedang menuruni tangga, terlihat masih mengantuk.
"Padahal tadinya kalau kamu gak bangun aku mau coba bangunin kamu~"
Gempa yang masih memasak menghela nafasnya, "Janganlah, kasihan Boboiboy.. Oh iya, kak Taufan tolong bangunin yang lain ya!"
Taufan tersenyum tetapi terlihat ada makna dibalik senyuman tersebut, "Baik Gempa~ Tanpa diberitahu aku juga udah tahu kok~"
Lalu Taufan pergi, pertama-tama ia akan membangunkan kakak tertuanya tercinta.
Boboiboy menatap tempat dimana Taufan tadi berada lalu ia menatap Gempa, Gempa hanya tersenyum, "Ya, tunggu saja..."
Tiba-tiba terdengar suara kencang,
"TAUFAAAN!"
"AMPUN KAK! AMPUN!"
Boboiboy merasa lumayan kawathir, lalu Gempa yang menyadarinya mengatakan, "Tenang saja.. Itu sudah biasa.."
"Hmm..."
Boboiboy menghela nafas lalu berpikir, 'Misalnya mereka semua punya kuasa elemen nanti gimana ya? Pasti Taufan sudah kesetrum tuh..'
"Hoaam..."
Boboiboy menoleh ke sumber suara sedangkan Gempa sudah tahu itu siapa, "Api, tumben udah bangun."
"Iya tuh, gara-gara kak Halilin dan kak Taufan. Suaranya kenceng banget!" Lalu Api menoleh ke Boboiboy dan tersenyum lebar, "Selamat pagi, Boboiboy!"
"Pa- pagi.."
"Gak usah malu-malulah~! Dulu waktu aku pertama kali dateng kesini aku juga seperti kamu kok!"
'Api.. Malu...?' Batin Boboiboy.
'Bohong banget..' Batin Gempa.
Lalu Gempa menyadari sesuatu, "Oh iya, Api! Tolong bangunin Air, dong!"
"Ehhh? Tapi anak yang satu itu sekali tidur susah dibangunin!"
"Api..."
"Iya deh! Iya!"
Seperti itulah pagi hari para Elemental bersaudara, sebenarnya Boboiboy merasa lumayan senang karena ia tidak pernah merasakan bagaimana rasanya mempunyai saudara kembar sebelumnya. Tetapi Boboiboy juga lumayan merindukan keluarga dan teman-temannya dari dunianya, karena walaupun ia memang bisa bertemu dengan mereka yang berasal dari dunia itu tetapikan mereka masih juga bukan orang yang sama.
Boboiboy sampai di sekolah barunya, sekolah itupun sekolah yang sama dari dunianya. Ia pergi ke ruang guru karena disuruh ke ruang guru sama Gempa. Sebelum ia pergi ke sekolah ia mengetahui bahwa Halilintar dan Air berada di kelas 9A, Taufan dan Api di 9B dan Gempa di 9C dan karena itu juga Boboiboy dimasukkan ke kelas sama dengan Gempa daripada nanti satu kelas ada 3 kembaran. (Humikmika : Maaf! Aku gak terlalu tahu sistem pendidikan di Malaysia! Aku cuma ngeliat wiki umur Boboiboy berapa lalu aku masukkan saja di kelas sesuai dengan umurnya itu! Sekali lagi maaf!)
Boboiboy menunggu gurunya untuk memanggil Boboiboy ke kelasnya.
"Baiklah murid-murid, bu guru akan memperkenalkan seorang murid baru yang akan masuk di kelas ini."
Para murid di kelas itu berbisik-bisik kata-kata seperti, "Siapa ya?" "Perempuan atau laki-laki, ya?" dan sebagainya. Gempapun tersenyum.
"Baiklah, silahkan masuk Boboiboy!"
Boboiboy melangkah masuk ke kelasnya itu, dan ia melihat para murid yang terkaget-kaget melihat Boboiboy. Lalu mereka segera bertanya-tanya pada Boboiboy.
"Kamu juga kembaran dari Elemental Bersaudara!?"
"Hebat!"
"Bagaimana bisa!?"
Gempa tersenyum mendengar teman-teman sekelasnya itu, tiba-tiba Gopal menengok ke arah Gempa, "Gempa! Kamu gak pernah bilang kalau kamu punya kembaran lain! Sebenarnya keluargamu itu apa, sih!?"
Gempa hanya tertawa, "Mana kutahu.."
Boboiboy menggaruk-garuk pipinya yang tidak gatal itu, "Selamat siang.. Aku Boboiboy"
"Baiklah, Boboiboy! Kau boleh duduk di.." Gurunya mencoba untuk mencari kursi kosong lalu terdapat sebuah kursi kosong di paling belakang, gurunya menunjuk kursi itu, "..situ!"
"Baik, bu.."
Setelah itu kelas berjalan seperti biasa tetapi tidak jarang Boboiboy ditanya-tanya oleh teman sekelasnya dan berakhir dengan teguran guru.
Saat itu sudah istirahat, cerita tentang ada murid baru dan bahwa murid itu ada salah satu kembaran dari Elemental Bersaudarapun menyebar dengan cepat. Gempa dan Gopal mendatangi mejanya Boboiboy.
Gopal tersenyum dan segera bersalaman dengan Boboiboy, "Halo Boboiboy! Aku Gopal! Kawan baik kau!"
Boboiboypun ikut tersenyum melihat Gopal dari dunia itu, "Halo Gopal!"
Gempa tersenyum melihat mereka berdua, "Kau tidak apa-apakan, Boboiboy? Sebenarnya ini juga pernah terjadi saat Api datang dan apalagi Air!"
Boboiboy hanya tersenyum mendengarnya, "Aku tidak apa-apa kok, makasih sudah bertanya ya, Gempa!"
Tiba-tiba pintu kelas terbuka dengan Taufan yang berdiri disitu, "Boboiboy, Gempa! Mau makan bareng di kantin gak? Untuk merayakan kedatangan saudara kita yang hilang lho~! Kak Hali, Api dan Air sudah menunggu di kantin, jadi tinggal kalian saja! Ayo!"
Taufan segera menarik Boboiboy dan Gempa, "Oh iya! Gopal maaf ya, di istirahat ini kamu gak bisa main ama mereka! Nanti aku traktir biskuit Yaya dari kedai Tok Aba deh~!"
"BISKUIT YAYA!?"
"Eh? Ada apa dengan biskuitku?"
"ALAMAK! YAYA!"
Boboiboy berusaha menahan tawa dan Gempa hanya menghela nafas.
Saat mereka sudah sampai ke kantin mereka bisa melihat Halilintar, Api dan Air sedang duduk di bangku kantin, Api dan Air tersenyum melihat mereka sedangkan Halilintar hanya tersenyum tipis sangaaat tipis sampai tidak ada yang bisa menyadarinya.
"Lama banget sih!"
"Hehe~ Maaf tadi ada hambatan di tengah jalan!"
Merekapun duduk di bangku kantin dengan Boboiboy duduk di antara Taufan dan Gempa,
"Ayolah Boboiboy jangan malu-malu~!"
"Iya! Kita gak jahat, kok! Mungkin kecuali kak Hali.."
"APA KATAMU!?
"Cuma bercanda kok!"
"Boboiboy, kalau kamu capek tidur aja~"
"Air, sesekali jangan mikir tentang tidur napa!"
"Sudah, sudah! Katanya kita datang kesini buat merayakan kedatangan Boboiboy!"
"Oh iya! Boboiboy kalau mau sesuatu nanti kita traktir deh~!"
"Eh..! Aku gak mau merepotkan kalian.."
"Ayolah! Kitakan saudara!"
Boboiboy tersenyum tetapi ia memiliki rasa sangat bersalah juga karena telah 'menipu' mereka, bahwa sebenarnya Boboiboy bukanlah saudara mereka tetapi Boboiboy sendiri adalah mereka.
Halilintar menyadari bahwa Boboiboy masih malu-malu dengan mereka lalu ia menghela nafas, "Sudahlah, jangan malu-malu. Kitakan memang saudara."
Mereka semua kecuali Halilintar kaget,
"Eh! Kak Hali sesekali bilang sesuatu yang seperti itu ke aku dong~"
"Gak sudi."
"Jahat!"
"Kak Halilintar benar, masa sesama saudara malu-malu!"
"Iya Boboiboy!"
Akhirnya merekapun mulai ngobrol berbagai macam topik untuk saling mengenal, dan Boboiboy merasa mulai terbiasa dengan para Elemental Bersaudara.
"Oh iya! Kak Taufan inget gak film yang tadi malem kita tonton?"
"Ohh! Yang tentang seseorang yang memiliki kekuatan elemen, ya?"
DEG! 'Kenapa aku kaget mendengarnya? Kan mereka tidak tahu siapa aku..' Batin Boboiboy.
Gempa mulai penasaran, "Kekuatan elemen?"
"Iya! Elemen di bumi!" Api nyengir, "Kalau aku punya kekuatan seperti itu aku mau punya yang elemen api, sesuai dengan namaku!"
"Kamu bakal ngapain dengan kekuatan itu?"
"Hm.. Gak tahu deh! Mungkin aku bisa bermain-main dengan apinya dan sekali-kali membakar barang kalo lagi kesal!"
Boboiboy yang mendengarkannya hanya terdiam, 'Itu memang pasti kamu lakukan kalau kamu punya kuasa itu..'
"Kalau kak Taufan, bagaimana?"
"Kalau aku sih pengennya yang elemen angin! Kan keren, bisa terbang-terbang gitu! Bisa bebas dan merasa tidak akan terjerat oleh apapun!"
'Memang benar, kalau berpecah kamu suka terbang-terbang..' Batin Boboiboy.
"Hee~ Kalau kak Gempa gimana?"
Gempa berpikir sebentar, "Mungkin kalau aku elemen tanah.."
"Kenapa?"
"Gak tahu.." Gempa tersenyum, "Mungkin karena kalau punya kekuatan elemen itu, bisa mengubah-ngubah bentuk tanah menjadi berbagai macam hal dan juga bisa digunakan sebagai berbagai macam hal juga.."
'Seperti Tangan Tanah, Golem Tanah dan Golem Naga Tanah, ya?' Batin Boboiboy.
"Kalau kak Hali gimana?"
"Pertanyaan konyol."
"Ayolah~ Kan gakpapa~"
"Kalau aku pilih listrik."
"Kenapa?"
"Biar kalau ada yang menyembalkan sepertimu bisa langsung disetrum sampai pingsan!"
"Tega!"
'Itu memang apa yang kamu lakukan jika aku berpecah..' Batin Boboiboy.
"Kalau kamu Air?"
"Eh.. Mungkin kalau aku pilih elemen Air.."
"Kenapa? Karena itu namamu, ya!"
"Bukan.. Itu karenakan air itu enak buat diminum jadi gak kehabisan stok minum gitu.. dan juga siapa tahu airnya bisa dibikin jadi kayak kasur terus ditidurin jadi kasur yang dingin dan empuk gitu.."
"Alasan macam apa itu?"
'Itu memang apa yang Air akan lakukan...' Batin Boboiboy.
Gempa menoleh ke arah Boboiboy, "Kalau kamu Boboiboy?"
Boboiboy tersentak, "Eh? A- aku?"
Mereka semua menatap Boboiboy karena juga ingin tahu elemen apa yang akan dipilih Boboiboy.
"Kalau aku.."
KRINGGG! KRINGGG!
Boboiboy menari-nari di dalam hati, 'Terima kasih banyak, bel!' Batinnya.
"Eh? Jam istirahat udah selesai! Ayo balik!"
Akhirnya mereka semua balik ke kelas mereka masing-masing.
Humikmika : Ini chapter ke 3~! Terima kasih banyak atas reviewnya! Aku kira fanfic ini gak bakal ada yang ngerti karena bahkan Authornya lumayan gak ngerti :v Canda kok~ Ini chapter ke 3, maaf jika banyak kekurangan di chapter ini juga dan terima kasih banyak atas orang-orang yang telah mereview, follow dan fav! Soalnya biasanya itu yang membuatku ingin melanjutkan ceritanya~ Aku aja senyum-senyum sendiri baca review, hehehe~
Terima kasih telah membaca!
