Warning :

Psycho!Chara, OOC (Kecuali Akashi, mungkin? hehehe), maybe typo(s) everywhere, AU, drabbles kepanjangan, beberapa cerita disadur dari beberapa website atau rumor dan forum di Internet, Kuroko no Basuke milik Fujimaki Tadatoshi. Balasan review no account ada di paling bawah.

.

.

.

.

.


We are Psycho, so what?


.

.

.

.

.


[3] [Midorima Shintarou]


Musim panas di Jepang memberikan sensasi tersendiri bagi Takao Kazunari. Jangkrik yang bersahut-sahutan, bulan purnama yang bersinar terang, bahkan panas suhunya yang membuatnya tak henti menggerakkan kipas kertas di tangannya. Iklim yang tiba-tiba berbeda dengan salju Jerman yang empat tahun belakangan ini dikecapnya memang awalnya membuat suhu musim panas Jepang bak neraka. Namun, ketika sudah biasa rasanya Takao cukup menikmatinya.

Takao menenggak sake pesanannya dengan tenang. Penginapan tradisional yang disewanya untuk dua hari ke depan ini memang bagus, terutama dalam menyajikan sake yang memiliki cita rasa tinggi. Tidak rugi ia membayar sedikit mahal demi menikmati sake mewah, sebuah sensasi alami musim panas di Jepang, serta kamar tradisional yang memiliki balkon dengan pintu geser dan interior tradisional lengkap di dalamnya. Ada satu futon empuk, sebuah meja kecil dengan lampu penerangan mini di atasnya, sebuah cermin berukuran sedang digantung di salah satu dinding kayunya, lampu tradisional khas Jepang, dan satu lemari setinggi dua meter dengan dua sekat di dalamnya yang berisi beberapa yukata ganti, hanya ada di kamarnya saja.

Spesial.

Lalu, ketika Takao sudah mulai hanyut dalam ketenangan Jepang dan matanya mulai mengindikasikan serangan kantuk, bulan purnama yang sejak tadi dikaguminya perlahan-lahan tertutup awan. Sontak, matanya pun membelalak kaget, sekaligus kesal. Sayang sekali, ternyata sang awan penutup itu juga nampaknya bukan hanya awan biasa, tetapi sebuah raja kumulonimbus yang membuat langit jadi semakin pekat.

Angin dingin bertiup. Takao menyumpahi sang kumulonimbus musim panas yang tak lama lagi pasti akan menurunkan hujan. Dan benar saja, choir Jangkrik yang tadi dinikmatinya dengan khidmat kini berganti deru hantaman serdadu tetes air hujan. Untung ia segera masuk dan menutup balkonnya sebelum hujan dadakan itu menghantamnya.

Ah, tapi kan biasa hujan tiba-tiba terjadi saat musim panas.

Setengah mabuk, Takao meraih futonnya dan menggelarnya susah payah. Mencoba untuk jatuh tertidur saja sepertinya ide bagus, mengingat kantung mata yang dibuatnya di Jerman membuat jadwal tidurnya sekarang tidak pernah benar. Bekerja sebagai seorang asisten dokter spesialis yang sedang mengadakan penelitian memang bukan pekerjaan mudah. Agak ironi sebenarnya, merawat orang lain, tapi diri sendiri tidak dirawat.

Takao menarik tali lampu dan membuat seisi ruangan gelap. Ketika ia akan berbaring, baru saja ia teringat untuk menyetel alarm paginya untuk mengembalikan kembali siklus bangun paginya. Jadilah ia menyalakan lampu kecil di atas meja lalu meraih ponselnya untuk menyetel alarm. Setelah selesai, tampak lampu indikator ponsel pintarnya berkedap-kedip. Penanda sebuah panggilan masuk—karena ia mengaktifkan profile silent.

Panggilan dari hide mode number.

"Moshi moshi, Takao desu." Jawab Takao dengan nada mengantuk.

Telepon itu masih tersambung, tapi tidak ada suara di seberang sana.

"Halo?" Tanya Takao, memancing orang yang meneleponnya bicara.

Kresek kresek

Takao mulai gusar. "Maaf, saya akan menutup teleponnya sekarang." Tegasnya.

"Hosh... hosh..."

Alis Takao mengernyit aneh. Gila, orang yang meneleponnya ini pasti orang mesum! Menjijikkan sekali! Pemuda berponi belah tengah itu pun bersiap memutuskan hubungan telepon sampai akhirnya terdengar suara berat yang lirih dari sana.

"Aku menemukanmu..."

Sepasang iris obdisian Takao membelalak kaget. Hilang sudah rasa kantuknya semua. Refleks, ia melihat ke arah sekelilingnya. Pintu balkon dan kamar sudah ditutupnya erat dan tidak ada jendela satu pun di ruangan ini. Seisi kamar gelap dan hanya ada pendar kecil dari lampu di atas meja.

"Ha... ha... apa maksudmu? Si.. siapa kau?"

Rasanya Takao bisa menebak sang penelepon pasti sedang tersenyum puas. "Senang ya pergi meninggalkanku? Kamu tidak bisa lari dariku, Bakao."

Jantung Takao serasa berhenti. Suaranya memang terdengar sedikit berbeda, tetapi hanya satu orang saja di dunia ini yang memanggilnya seperti itu.

Mendadak Takao merasa tidak aman berada di ruangan itu. Ia berusaha mengintip dari balkon dengan menggeser sedikit pintunya. Hujan masih mengguyur bumi dengan lebatnya, dan lampu-lampu penerangan di sekitarnya tidak membantu Takao untuk melihat keadaan sekitarnya. Menyebalkan, tapi pasti si peneror itu sendiri juga tidak bisa melihat dengan jelas kalau begini caranya.

Apalagi sang peneror itu memakai kacamata yang minusnya sudah tidak cocok lagi.

"Tunggulah, aku akan menghampirimu, bersama 'istri'mu." Lanjut suara di telepon itu, semakin mengintimidasi.

"Istri? Hahaha? Apa-apaan ini? Bahkan aku belum pernah menikah!" Sangkalnya panik.

"Yah, itu cuma istilah. Yang jelas kamu sudah sangat tidak bertanggung jawab meninggalkannya setelah merebut masa depannya begitu nanodayo."

"Me.. merebut masa depan apanya?! Kau... Kau yang... Kau yang salah!"

"Hmph, kalian yang bermain tapi menyalahkan diriku, ya?"

Takao semakin merasa gelisah. Mabuknya pun hilang sudah. Tanpa pikir panjang ia bergegas pergi dari kamarnya. Membuka kunci pintu kamarnya. Ingin cepat-cepat pergi kemanapun asal bisa menjauh dari tempatnya berada sekarang. Tapi, entah kenapa dia tidak bisa melepaskan ponselnya yang masih tersambung dengan sang peneror.

"Hahaha..." Langkah Takao semakin cepat di koridor ketika tawa sinis sang peneror terdengar puas di seberang teleponnya.

"Ingin menyambutku ceria seperti biasanya, Bakao?"

Langkah Takao berhenti tepat sebelum belokan menuju pintu depan penginapan tersebut. Bercampur dengan suara kilat dan hujan lebat di luar, terdengar suara pintu geser untuk masuk ke penginapan dibuka dengan kasar. Wajah Takao memutih.

Itu pasti si peneror!

Takao pun berlari panik kembali ke kamarnya tanpa memedulikan langkah kerasnya akan didengar sang peneror atau tidak. Tempo larinya semakin cepat seiring tawa pelan sang peneror terdengar dari ponselnya.

"Aku bisa mendengar langkahmu dengan jelas nanodayo. Satu, dua, tiga..."

Refleks, Takao pun melempar ponselnya ke lantai kayu tepat di depan kamarnya. Ia segera masuk kamar dan membantingnya dengan panik. Bunyinya bergaung cukup keras. Dalam hati pemuda itu mengutuki kenapa tidak ada seorang pun penghuni penginapan ini yang setidaknya menyadari ada yang tidak beres di sini? Bukankah atensi yang tadi ditimbulkannya harusnya cukup menarik perhatian orang yang sedang tidur sekalipun?

Takao melihat sekeliling kamarnya, mencari tempat sembunyi. Dan saat itu juga lemari besar di kamarnya terlihat begitu bersinar di matanya. Sebuah tempat persembunyian yang sempurna, bukan?

Ia pun bergegas membuka pintu balkon dan membuat kesan dirinya pergi ke luar. Lalu, tanpa membuang banyak waktu lagi, Takao masuk ke dalam lemari. Tidak muat, tentunya, dan ia terpaksa meringkuk habis-habisan di dalamnya.

Sekarang, Takao hanya bisa berharap sang peneror berambut hijau itu tidak akan menemukannya.

.

.

.

.

.

Brakk!

Pintu kamar Takao dibuka paksa. Helaan nafas lega Takao selama beberapa detik sebelumnya mendadak diam sama sekali. Ia bahkan berusaha bernafas lewat mulut perlahan-lahan di tempat minim oksigen ini. Tidak apa-apa beberapa saat teracuni karbondioksida, dari pada bertemu dengan sang peneror yang jelas sekali bernafsu membunuhnya, dan katanya, membawa 'istri'nya.

"Kemana kau, Bakao?!" Bentaknya kasar. Ia tidak menyalakan lampu, tetapi mengacak-acak seisi kamar Takao. Bahkan ia memecahkan cermin yang menggantung di dinding. Dalam suasana tegang itu Takao tidak henti berharap dalam hati, semoga si pemilik bulu mata lentik yang tengah mencarinya itu tidak terpikir membuka lemari persembunyiannya ini, walau sepertinya mustahil.

.

Ada beberapa kemungkinan, jika pria ini menemukannya di lemari

Satu, pria ini akan langsung menusuknya dari luar dan terus menusuk dengan liar sampai Takao mati—jika ia punya pisau yang cukup besar untuk menusuk lemari tua ini, atau

Dua, pria ini akan membuka lemari dengan kasar lalu membunuh Takao langsung di dalam lemari atau menyeret Takao keluar dulu lalu langsung menebas Takao tanpa ampun, atau

Tiga—kemungkinan yang sangat diharapkannya—Pria ini terlalu kalap untuk menemukan Takao di lemari dan terkecoh lalu pergi mengejar ke luar.

.

Dalam hati, Takao mulai bersiap menahan suaranya habis-habisan di dalam jika kemungkinan kedua terjadi dan membuat si peneror segera menghentikan tusukannya sebelum Takao mati dan ketika lemari itu di buka, Takao berniat merebut senjatanya dan menyerang balik pria itu. Ia percaya penuh kepada kekuatan adrenalin.

Lalu, kegaduhan itu tiba-tiba berganti hening. Hening yang cukup lama. Jika ia bisa melihat jam, mungkin waktu sudah berlalu sekitar satu jam lebih. Takao pun menghembuskan nafas lega. Harapannya terkabul, pasti pilihan ketiga lah yang dipilih sang peneror. Tapi ia tak ingin terburu-buru keluar ketika sang peneror mungkin saja masih belum jauh sekali dari tempat ini. Ia harus menunggu sebentar, sampai dirasanya benar-benar aman.

Otak encernya pun tiba-tiba melayangkan dirinya ke dalam long term memory-nya bersama sang peneror. Takao meringis, dulu keduanya adalah teman baik sejak SMA. Bahkan, rasanya pemuda itulah yang menaikkan taraf hidup Takao dengan mengubahnya dari anak malas yang suka main-main menjadi asisten dokter spesialis sekaligus peneliti hebat di Jerman—yang mana sang dokter adalah si peneror itu sendiri.

Semuanya berubah, setelah keduanya menjadi peneliti, dan gadis itu datang ke kehidupan mereka, tanpa nyawa.

Dan membuka mata Takao akan sifat dasar sang atasan.

Oksigen pun menipis, dan karbon dioksida sudah mulai banyak masuk ke dalam paru-paru Takao. Kepalanya mulai pusing, tapi disempatkannya menajamkan pendengarannya dulu untuk memastikan si peneror tidak kembali ke kamar ini.

Aman, dan Takao merasa siap untuk keluar.

Dengan posisi meringkuknya yang cukup terjepit, Takao hanya bisa mendorong pintu lemari itu sedikit-sedikit dengan kepalanya agar terbuka. Berhubung sang peneror pasti sudah pergi jauh jika selama ini, Takao sedikit berani mengetukkan kepalanya keras-keras agar pintu lemari cepat terbuka. Kalau tidak cepat keluar, bisa-bisa ia malah mati bunuh diri dengan meringkuk di dalam lemari, memalukan.

Tapi pintu lemari itu tampaknya tidak bergeser sedikit pun.

Karbon dioksida semakin banyak meracuni. Satu pikiran menyeramkan pun muncul di dalam otaknya. Jangan-jangan ketika si peneror sedang mengacak-acak kamarnya, meja kecil di kamarnya terlempar ke depan lemari dan menghalangi pintunya terbuka? Ngeri memikirkan kemungkinan itu, Takao pun mempercepat sundulannya dan mendorong lebih kuat lagi dengan kepalanya, meskipun rasanya seperti hampir mau putus. Ia tidak bisa membiarkan karbon dioksida menginvasi paru-parunya!

Terlebih, ini terjadi karena ia menghindari pria peneror itu!

Duk duk duk duk

Hentakan Takao semakin keras.

Duk duk duk duk!

Semakin keras, semakin keras!

DUK DUK DUK

Semakin keras sampai kesadarannya dirasa hampir hilang.

DUK DUK DUK DUK!

Yang untungnya membuahkan hasil. Pintu lemari itu terbuka sedikit, dan memberikan celah bagi tangan Takao untuk mendorongnya terbuka lebar. Oksigen pun mulai bersirkulasi perlahan-lahan, membuat Takao bernafas banyak sebentar sebelum keluar dari lemari penghimpit jahanam itu...

Dan mata tajamnya bersirobok dengan kedua iris zamrud sang peneror yang menunggunya di luar.

.

.

.

.

.

"GYAAAAAAAAAAAAAAAAAAA...!"

.

.

.

.

.

Keesokan harinya, penginapan tradisional Kiriya ditutup garis kuning kepolisian karena menjadi TKP ditemukannya sebuah mayat seorang tamunya dan sebentuk kepala seorang gadis. Sang tamu diidentifikasi sebagai seorang asisten dokter ternama di Jerman dan kepala sang gadis dikenali sebagai seorang perawat yang telah hilang berminggu-minggu di Jerman.

.

.

.

.

.


Ready to meet another Psycho? Stay tune!


A/N : Youkoso, minna~! Yang kemarin itu bukan indikator kalau kalian cenderung psikopat kok :p lagipula untuk memutuskan seseorang memiliki kecenderungan psikopat aja makan banyak waktu dan metode untuk hasil yang akurat ya. Benar juga kata Renka Sukinakalau orang psikopat cenderung dingin, suka melamun, dan antisocial juga. Nah, chapter ini udah dibuat sedikit creepy kan? Hehehe... Untuk bloody scene yang parah-parahnya mungkin nanti akan kupisah aja karena jatuhnya nanti rate M~


Balasan review no account :

Tsukuro Reiko : Hwaaaa~ Tak apalah selama kau belum membahayakan seseorang, nak Semoga apa yang kamu sebut psiko pikiran itu jangan sampai terwujud ya Tapi kalo psiko kayak gini di fanfic boleh deh huehehe kayak aku

acio : Terima kasih review-nya! Dan abis dia beneran lepas tali itu dia cuma bilang, 'lihat, aku berhasil' dengan polosnya... creepy...

Azucci : Thanks for review! Yap, si datar satu itu yang bunuh kakaknya demi Momoi (kapan lagi coba kan Momoi di-notice begitu sama Kuroko wkwkwk) Wah, syukurlah kalau keren B) btw ini next-nya MidoTaka dulu ya~ si Mukkun kusimpan dulu. Siap kanjeng ini sudah as soon as possible, ok?

septaaa : Makasih review-nya! Eh gapapa dong sekali-sekali Ki-chan sadis huhuhu... tapi Kise yang nomor satu tetep yang asli masokis dong yaaay! Hidup OOC!

Thanks all for your responds! :D