*So Baby Don't Go*
"Ceraikan istrimu"
"Tentu saja, apapun akan ku lakukan untukmu Krys"
Tiba-tiba sepasang mata indah itu terbuka lebar dengan jantung yang berdetak cepat dan keringat yang membanjiri dahinya. Mimpi itu lagi, sudah 2 hari ini mimpi itu terus menghantui pikiran bahkan sampai kemimpinya.
Luhan bangkit dari tidurnya perlahan lalu berjalan kearah kamar mandi. Air dingin yang berasal dari shower itu membasahi kepalanya yang terasa panas. Setelah selesai Luhan memakai bajunya dan berjalan keluar kamar, seperti orang linglung ia berjalan perlahan menuju dapur. Disana, ia melihat ibunya sedang memasak. Itu ibunya, ibu yang melahirkan dan membesarkarkannya. Dengan senyum diwajah Luhan memeluk dari belakang sang ibu dengan erat, takut jika ia melepasnya sang ibu akan pergi meninggalkannya.
"Mama.." Luhan memanggil manja sang Mama.
"Oh, kau sudah bangun?!" Mengelus kepala anaknya yang bersandar di bahunya.
"Ma…" Luhan mengulang panggilannya sambil mengeratkan pelukannya juga mengusak-usakan kepalanya ke pundak sang Mama.
"Ada apa, sayang? Mama baru tahu kalau kau manja sekali saat bangun tidur?" Melirik sebentar Luhan lalu kembali memasak.
"Eum? Tak ada apa-apa, aku hanya sangaat merindukan Mama" Luhan semakin teguh pada posisinya.
"Hani hanya merindukan Mama? Tak merindukan Baba?" Sebuah suara mengintrupsi kedua wanita cantik itu dengan nada yang dibuat seakan-akan cemburu.
"Baba" Luhan melepaskan pelukannya dan berlari memeluk Baba.
"Uuh.. kau sudah dewasa sekarang, lihat tinggimu sudah seperti ibumu atau lebih sedikit? Dulu kau hanya bisa memeluk kaki Baba saja. Hm!" Hangeng menepuk kepala Luhan dengan sayang.
"Tentu saja, Hani tumbuh dengan baik. Eomma dan Appa merawat dan menjaga Hani dengan baik" Luhan tersensenyum sangat manis.
"Yah, mereka sangat baik. Sungmin si Ibu kelinci yang manis itu memiliki hati selembut sutra" heechul memghampiri anak semata wayangnya yang masih berpelukan dengan Hangeng.
"Dan Kyuhyun, Pria Setan itu tak kusangka memiliki kebaikan juga." Hangeng merasa tergelitik akan ingatannya bersama dengan Kyuhyun. Dan ia pun terkekeh pelan.
"Hust, kau tak boleh bicara seperti itu, Han!" Heechul menepuk pelan tangan suaminya.
"Maaf, Cinderella. Nah, Luhan. Kau menyayangi mereka kan?" Hangeng menyentuh bahu Luhan yang menatapnya layaknya anak kecil.
"Ya, aku sangat menyayangi mereka. Aku menyayangi mereka seperti aku menyayangi kalian" Luhan menatap kedua orang tuanya yang telah berdiri berdampingan. Haechul merangkul tangan suaminya dan tersenyum pada Luhan.
"Kalau begitu, hiduplah dengan bahagia bersama mereka, buat mereka bahagia" Hangeng menepuk pundak Luhan lembut.
"Pasti Baba. Pasti" mengambil tangan Hangeng yang dipundaknya dan menggenggamnya erat.
"Maafkanlah suamimu, sayang. Sejahat apapun ia, ia tetaps suamimu" Heechul berujar lembut.
"..." Luhan tak menjawab ucapan Mamanya. Dikepalanya kembali berputar kejadian saat itu. Hal itu membuat kepalanya menunduk menatapi tangan Babanya yang ia genggam.
" Suatu saat nanti kalian berdua akan tahu bagaimana akhirnya" Heechul menarik tangan Hangeng dari genggaman Luhan dan menggengamnya.
"Aku.." Luhan menekuk tangan kanannya dan mengelus siku kirinya yang terasa meremang
"Baiklah, Mama dan Baba harus pergi sekarang. Keluargamu sudah memanggil." Kedua orang dewasa itu tersenyum lebar.
"Tapi kalian mau kemana? Kalian akan tinggal disini bersamaku-kan?" mendengar itu membuat Luhan langsung mengangkat kepalanya dan menatap kedua orang tuanya.
"Tidak, sayang. Kami harus kembali." Heechul menatap Hangeng yang mengelus tangannya, Hangeng juga menatapnya.
"Tidak, Ma. Tidak lagi, jangan tinggalkan Hani sendiri"
Tidak, tidak lagi Luhan tak ingin mereka pergi lagi.
"Kau tidak sendirian, kau memiliki banyak keluarga sekarang" Hangeng meyakinkan Luhan.
"Baba.." airmata Luhan telah menumpuk dipelupk mata siap untuk mengalir kapan saja.
"Jangan menangis sayang. Jangan jatuhkan airmatamu lagi" Hangeng menatap Luhan sedih. Ini kesempata pertama dan terakhir mereka untuk menemui Luhan, dan harua berakhir meninggalkan wanita beranak dua itu lagi.
"Maafkan dia" kini Heechul berucap, sungguh ia ingin menangis. Namun, ia takkan melakukan itu didepan anaknya.
"Ya, aku tidak akan menangis dan aku... aku akan memaafkannya" airmatanya tak dapat ia bendung lagi. Entah walau sungguh berat mengucapkan kalimat terakhir, tapi ia harus berusaha. Luhan berjalan lalu memeluk ibunya erat.
"Anak pintar, kau putri Baba yang pintar" Hangeng memeluk Luhan
"Hani juga putri mama yang baik hati dan cantik" Heechul tersenyum mengucapkannya
"Selamat tinggal, sayang. Kami menyayangimu"
Pelukan itu sedit demi sedikit menghilang, begitu juga dengan Hangeng dan Heechul yang menghilang menyisakan angin yang berhembus menerpa wajah Luhan, yang seakan-akan menghapus airmatanya.
"Ba.. Ma.. aku menyayangi kalian"
"Luhan.. Luhan.. ada apa dengamu? Sadarlah" Sejenak ia mendengar suara berat yang terdengar seperti suara Chanyeol.
"Luhan.. sadarlah, sayang" Itu suara Eomma, ia memanggilnya.
Luhan merasa seperti dijatuhkan dari ketinggian dengan cepat. Ia menyadari ada Ibu dan juga Chanyeol yang menatapnya khawatir, lalu seketika semua menjadi hitam. Gelap Gulita. BRUK.
"LUHAN!"
BYUR
"Hahh.. hah" seorang anak lelaki terbangun kaget dengan wajah basah karena air yang disiram secara sengaja oleh seorang wanita dengan pakaian serba mini.
"Akhirnya kau bangun anak pemalas. Cepat bangun dan turun kebawah, Sehun mencarimu" Wanita berpakaian mini itu menyilangkan tangan didada dan berjalan keluar kamar. Krystal, ya itu dia. Dan anak yang disiram air olehnya adalah anak sulung Oh Sehun, Oh Haowen.
Wanita itu keluar dari kamar Haowen yang menatap kepergian wanita itu dengan sangar. Sudah 2 hari ini wanita itu menguasai rumah. Setelah kejadian pengusiran itu, Sehun langsung membawa wanita itu kerumah. Dan hari-hari penuh siksaan Haowen telah dimulai dari sekarang. Setelah mernung cukup lama ia masuk kedalam kamar mandi membersihkan badannya.
SYURR
Air dingin itu menyentuh kepala bersurai hitamnya. Sungguh ia tak sanggup akan semua ini. Ibunya diusir dari rumah oleh ayahnya dan mendatangkan wanita jahat yang ia sebut "Tante-tante girang atau mungkin Cabe-cabean". Cih.
"Hiks.. eomma..."
"Bogoshipo.."
"Oh, Haowen.. kemarilah!" Sehun yang melihat Haowen telah lengkap dengan seragamnya memanggilnya dari ruang makan.
Haowen berjalan mendekati Sehun yang telah rapi dengan jas kantornya ditemani oleh TTG itu. Wanita yang telah merebut ayahnya dari ibunya, juga penyebab perginya sang ibu, juga penyebab hancur keluarga bahagianya.
"Duduklah!" Titah Sehun, namun Haowen justru jalan melewatinya dan berjalan menuju rak sepatu. Sehun yang melihat hal itu pun menjadi geram lalu mendekati anaknya yang sedang memakai sepatunya.
"Apa kau sekarang jadi anak pembangkang Oh Haowen?" Sehun melipat tangannya dan menatapi anaknya yang masih sibuk memakai sepatunya.
" Oh, benarkah? Aku berubah, ya?" Haowen yang telah selesai menali sepatunya berdiri masih dengan posiai membelakangi sang ayah. "Aku berubah? Menurut ayah aku berubah karena siapa?"
Walau ia masih berumur 11 tahun, tapi ia yang dihadapkan oleh permasalahan seperti ini, ia cukup tahu akan pendeknya pikiran sang ayah yang lebih memilih TTG dan menninggalkan ibunya.
"Lihat lawan bicaramu saat kau berbicara, Oh Haowen! Appa tak pernah mengajarimu menjadi anak tak memiliki sopan santun seperti ini." Sehun semakin geram mendengar ucapan Haowen barusan itu mencoba meredam amarahnya dan berkata tegas pada sang anak yang berbalik dan menatap malas sang ayah.
"Tak memiliki sopan santun, ya? Apakah mengusir istri dan anak yang bahkan masih berumur 9 tahun ditengah malam itu sopan? Dan apakah setelah mengusir istri lalu membawa wanita lain kerumah itu perbuatan yang kau sebut sopan santun, ayah?" Haowen takkan menahan diri lagi sekarang. Dihadapannya ini bukan ayahnya, ia tak mengenali orang yang tak berperasaan seperti orang ini.
PLAK
"Jaga ucapanmu, Oh Haowen!" Sehun menampar Haowen hingga hampir terungkur. Entah mengapa ia melakukan itu, sungguh selama ini ia tak pernah memukul anaknya. Tapi setelah Luhan_ Tidak ini benar, anakmu sudah bersikap kurang ajar. Ini hal wajar. Sehun dipenuhi rasa bimbang.
"Pukul lagi saja, pukul Haowen sampai ayah puas seperti kemarin. Ayo Ayah pukul saja!" Haowen hampir saja berteriak kepada Sehun. Sungguh ia kesal.
"HAOWEN" Sehun menatap nyalang Haowen
"APA?!" Haowen juga mentap Sehun tak kalah nyalang.
"Seharusnya kau ikut saja dengan wanita itu, dan pergi dari sini" Sehun berujar tegas
"Ya. Seharusnya memang seperti itu. Aku takkan pernah Sudi berada dalam satu ruangan dengan jalang itu" Haowen menunjuk Krystal yang berada dibelakang Sehun.
PLAK
"Tarik kembali ucapanmu, Haowen!" Sehun semakin geram dengan sikap Haowen
"TIDAK AKAN PERNAH"
BUGH
"TARIK KEMBALI UCAPANMU, CEPAT" Sehun memukul Haowen hinhga tersungkur dilantai.
"Tidak- tidak akan pernah" Haowen berkata tertatih karna perih di bibirnya.
"Oh, baik. Itu yang kai mau"
Sehun mencari-cari sesuatu, matanya pun jatuh pada payung yang terletak didekat rak sepatu. Ia mengambilnya dan memukulkannya ke punggung Haowen.
BUGH BUGH BUGH
"Tarik kembali ucapanmu" Sehun mentap Haowen yang tergeletak tak berdaya dilantai
" Hh.. ti.. tidak" Haowen menatap sang ayah lemah. Segera ia menutup mata dan hanya pasrah saat ayahnya memukulnya. Namun ia tak merasakan apapun, ia kembali membuka mata dan melihat Krystal menahan tangan Sehun.
"Sudahlah, Hunnah.. ini hanya akan membuang waktumu. Lebih baik kita pergi ke kantor sekarang. Pukul 8 kau ada meeting, ingat!" Ucapnya sambil menatap Sehun dan Haowen bergantian.
GLETAK
Sehun melempar payung tepat kelantai sebelah kepala Haowen dan berlalu pergi. Krystal mendekati Haowen lalu menunduk untuk menekan luka bekas pukulan Sehun barusan.
"Ashh..akh" Haowen meringis kesakitan.
"Apakah sakit? Heum? Dasar tidak beguna, percuma saja kau melakukan ini semua, aku akan tetap berada disampingnya. Saat aku bisa membuat ayahmu jatuh ketanganku. Ku jamin, aku akan membuatmu menghilang dari dunia ini" Krystal bangkit dan menunggu Sehun yang sedang merapikan jas barunya (ia mengganti baju). Sehun menghampirinya lalu mereka menghilang dibalik pintu tanpa melirik sedikitpun pada Haowen yang sudah tergeletak tak berdaya dalam tangis pilunya.
"Eungh? Akh.. kepalaku" Luhan memegangi kepalanya yang terasa pening.
"Kau sudah sadar Luhan?" Luhan menatap Chanyeol yang menatap khawatir padanya. Ia tersenyum lalu bangkit
" Istirahatlah dulu.." Chanyeol berusaha mendudukkan lagi Luhan seperti semula
" Aku baik-baik saja" Luhan berjalan pelan menuju dapur
"Luhan!" Chanyeol juga tetap setia mengikuti Luhan kemanapun. Tiba-tiba Luhan berbalik menghadap Chanyeol. Namun, punggungnya tergesek oleh pinggiran lemari kaca. Luhan sedikit meringis, entah mengapa ia sedikit merasa resah setelah tergesek lemari.
"Lihat kau saja tergesek lemari, biar ku lihat" Chanyeol bersihkeras melihat punggung Luhan, namun Luhan tetap menolak.
"Dimana ibu?" Tanya Luhan mengalihkan pembicaraan
"Di kamar mandi, memandikan Ziyu" Chanyeol berujar santai, sepertinya ia lupa akan sesuatu.
"Ohh"
Luhan berjalan pelan menuju dapur, kali ini Chanyeol tak mengikutinya karna masih mencoba mengingat sesuatu yang dilupakannya. Luhan membuka lemari pendingin dan mengambil beberapa bahan untuk dimasaknya. Namun tiba tiba ia teringat sesuatu yang membuatnya menjatuhkan bahan makanan.
"Ziyu!" Ucapnya lalu lari tergesah-gesah menuju kamar mandi didalam kamarnya. Saat hampir sampai, ia berhenti karena melihat Ziyu dan ibunya yang terlebih dahulu keluar dari kamar.
Mata beningnya ia jatuhkan ke Ziyu yang memakai dres mini miliknya dulu. Tidak, ia terlambat. Sudah terlambat.
"Luhan.." pangil Sumngmin yang melihat Luhan hanya bisa mematung menatapi Ziyu di gendongannya. Ia menurunkan Ziyu dan kembali menatap Luhan yang juga menatapnya. Luhan memaku di tempat dengan keringat di dahi.
"Luhan, kenapa kau membohongi kami semua?" Tanya sungmin tegas
" A-aku.." Luhan hanya menunduk, tak lagi berani menatap ibu mertuanya.
"Kenapa kau berbohong kalau Ziyu itu sebenarnya adalah seorang gadis? Kenapa kau memakaikannya baju pria sedangkan ia adalah seorang gadis? Kenapa kau menyembunyikan ini semua dari kami?" Sungmin menatap Luhan sendu. Luhan semakin menunduk dan memainkan dress selutunya.
"Maaf ibu.." Air mata Luhan lagi-lagi mengalir. Sungguh ia belum siap mengatakan yang sebenarnya, tapi saat ia menatap Ziyu yang menggunakan dreas mininya dengan begitu nyaman, ia sedikit merasa lega. Entah untuk apa.
"Katakan, sayang. Ada apa sebenarnya? " Kedua wanita itu duduk di kasur. Sungmin mengelus punggung Luhan lembut.
"Sebenarnya..."
FLASHBACK
Disuatu ruang tamu terlihat dua orang dewasa dan satu anak kecil sedang menonton televisi. Oh, bukan, hanya orang dewasa itu yang menonton dan anak kecil itu telah nyaman dengan tidurnya.
"Hunnah... jika anak kedua kita lahir nanti, kau ingin perempuan atau laki-laki" Tanya Luhan sambil mengelus perut buncitnya. Mendengar itu Sehun langsung menolehkan kepalanya menatap manik istrinya lalu ikut mengelus calon buah hati mereka.
"Aku ingin seorang anak laki-laki yang hebat dan pintar" Sehun berujar menatap Luhan.
"Jika yang terlahir adalah anak perempuan?" Tanya Luhan lagi. Sehun menarik tangannya dan ganti mengelus surai Haowen yang berada di pangkuannya.
" Entahlah, aku tak berfikir kalau anak kita adalah perempuan. Aku tak suka anak perempuan, merepotkan dan manja. Aku tak menginginkannya." Sehun berujar santai sambil menatap Haowen. Ia tak menyadari perubahan raut wajah Luhan yang hampir pucat pasi. Terakhir kali ia USG, hasil kelamin anaknya adalah perempuan. Ia tak membicarakannya dengan Sehun dan ingin bertanya bagaimana pendapatnya, tapi jawaban ini...
Hari Persalinan
Luhan tengah berusaha melahirkan anak keduanya dirumah sakit. Disampingnya Sehun terus menerus menyemangati Luhan. Dalam hati Luhan , ia terus menerus berdoa pada Tuhan akan kelancaran dan ia juga berharap Sehun dapat menerima anak mereka.
Suara tangis bayi terdengar keras memekakan telinga. Membuat Sehun tersenyum menatap Luhan. Luhan hanya tersenyum lemah menatapnya. Seorang suster datang membawa anak mereka.
"Selamat tuan, nyonya. Anda melahirkan bayi perempuan yang cantik. Ini" Suster itu menyerahakan bayi Ziyu ke Sehun yang hanya datar menatap anaknya. Sesaat suster itu pergi.
"Tidak, ini tidak boleh terjadi. Anak ini harus jadi seorang lelaki." Ujarnya
"Sehun, ia anak kita. Dan ia seorang gadis" Luhan mencoba menenagkan Sehun
"Tidak ia bukan anakku, ia anakmu. Aku tak mau tahu, ia harus jadi anak lelaki jika mau kuanggap sebagai anak." Sehun meletakan Ziyu bersama Luhan dan keluar ruangan.
"Hiks.. maafkan ibu nak. " Luhan hanya bis menangi dalam diam.
FLASHBACK END
"Anak itu_" Sungmin geram bukan main kepada Sehun. Sungguh ia ingin sekali menemuinya dan berteriak dihadapannya. Anak Durhaka.
"Sudahlah ibu.. sekarang Ziyu sudah keluar dari rumah itu, ia bisa jadi seorang gadis cantik mulai dari sekarang." Luhan tersenyum menatap Ziyu yang telah berada digendongan Chanyeol yang terheran-heran.
"Kenapa Ziyu memakai dress? Ibu.. aku tahu ibu suka anak perempuan, tapi ini.. keterlaluan" Chanyeol berujar tak terima akan keponakannya.
"Diam kau Oh. Atau aku juga memakaikanmu dress milikku" Sungmin menatap Chanyeol dengan seringai yang menyeramkan. Dan Chanyeol seketika lari terbirit-birit.
TBC
Maaf minna san... bom cuma bisa nulis segini... maaf kalo masih pendek.. Tengkyu yang udah komen cerita bom...#kecupatuatu
Bom moa tanya nih... apa ada yang membuat kalian bingung? Ada yah? Katakan saja.. kritik boleh.. bom setrong kok..
For information...
Chanyeol itu Hyung Sehun, jadi mereka bertiga ini ceritanya tinggal dalam satu rumah dan satu keluarga.. terus terjadi ini.. dan Luhan milih itu dan terjadi ini... Ziyu ketemu ini... jadi itu.. Sehun jadi gini... Luhan jadi gitu... Hepi ending/ Sad ending masih tanda tanya.. bom bingung nentuin
Udah itu doang..
Oh ya.. pada minta ada orang ketiga diantara hunhan? Ada kok... mau siapa? Kai? Kris? Bom? Kayagnya yg terakhir bagus.. Bom nikah ama Sehun.. AHAKKAHAKKA...#Abaikan
Jangan menyumpai sehun juga dong kan kasihan sehunnya.. padahal yang bikin cerita bom tapi ko yg dihujat sehun.. tapi jangan malah hujat Bom lho..
Udah ah.. segini aja panjang nih..makasih lho ya yg komen walau dikit.. ini kan pemula..
gamsahamnida... SAYANGHEYO
