Bad&Bad

Im Jaebum k.a. JB GOT7

Park Jinyoung k.a. Junior GOT7

And other…

GOT7 JYP • Bad&BadRin Rizawa

Kisah antara seorang yang berperilaku kasar dengan seorang yang suka bermain di belakang.

chapter3

Mereka bertemu bukan ditempat atau suasana romantis. Mereka bertemu ditengah hiruk piruk manusia yang tengah bergoyang mengikuti aluran musik, bahkan sampai bercumbu ditengah-tengah hiruk piruk juga ada. Ditengah hirup piruk itu—mata mereka saling bertemu, saling menatap datar, tidak ada yang spesial, dipikiran masing-masing mereka hanya beranggapan 'oh, orang asing,' setelah itu mereka memutuskan kontak mata.

Jinyoung saat itu sangat suka sekali melakukan sex, berarti bukan hanya bercumbu, tapi juga bersetubuh, maka tidak heran jika pada malam hari dia berada di bar mencari mangsa yang siap mengisi lubang anusnya.

Jaebum saat itu sangat cuek dan datar sekali. Dia datang ke bar hanya untuk minum lalu keluar bar, berbuat onar ataupun membunuh orang jika ada yang meminta atau dia ingin sendiri.

Keduanya tidak menyadari ikatan takdir yang mengikat mereka. Mengapa? Tentu saja, kedua orang itu terlalu masa bodoh memikirkan jodoh atau pasangan hidup, toh di dunia kotor ini mereka hanya bersenang-senang dengan cara masing-masing.

Hidup di dunia ini begitu singkat, mengapa tidak dinikmati saja? Walau harus berlumuran dengan dosa—tetapi jika itu adalah kesenanganmu, apa masalah?

Begitulah kesimpulan Jinyoung dan Jaebum tentang dunia.

.

Seminggu kemudian, mereka kembali bertemu. Dengan tanggapan masing-masing, bahwa 'ia adalah orang asing,' mereka menjadi dekat, hanya mengobrol sambil meminum alkohol yang membahayakan namun begitu enak ditenggorokan sang peminum. Obrolanpun tidak sampai ke hal pribadi, hanya hal umum namun detail.

Jinyoung langsung berpendapat tentang Jaebum setelah obrolan mereka selesai.

Jaebum orang yang cukup menarik.

Hanya menarik, dan dia tidak ingin terlalu dekat dengan Jaebum—instingnya mengatakan itu sekarang, tetapi disisi lain ada rasa ingin tahu yang sangat besar tentang Jaebum yang begitu datar dan dingin.

Sedangkan Jaebum—dia berpikir bahwa Jinyoung orang yang cukup cerewet, terbukti dari saat mengobrol dengannya itu Jinyoung yang paling banyak bicara, sedangkan dirinya hanya menanggapi beberapa. Namun disisi lain Jaebum melihat Jinyoung dengan pandangan tertarik untuk mengenalnya lebih jauh.

Seminggu setelah pertemuan mendapatkan sedikit kemajuan, 'kan?

.

Sebulan mengenal, Jaebum tahu bahwa Jinyoung begitu suka bermain dengan banyak orang. Bermain dalam arti dewasa, bukan dalam arti anak kecil ingusan. Pantas saja jika dia memperhatikan tubuh Jinyoung selalu ada bekas—ya… tidak perlu dibicarakan. Namun Jaebum melihat Jinyoung melakukan itu bukan untuk mencari uang, tetapi—kesenangan. Bajingan sekali.

Sedangkan Jinyoung melihat Jaebum sebagai sosok yang masih misterius, yang ia tahu Jaebum datang ke bar untuk minum saja lalu pulang jika sudah puas—walau tidak sampai mabuk. Kadang pula dia mencium bau darah dari tubuh Jaebum. Apakah pekerjaannya menyangkut dengan hal yang berdarah? Jika iya, bajingan sekali.

Intinya—keduanya berprepepsi jika orang yang dikenalnya itu bajingan, yang berarti keduanya bajingan, bukan?

.

Setengah tahun mengenal, keduanya merasa bahwa mereka hampir sama. Ya, sama dalam hal berlawanan namun saling melengkapi. Jinyoung suka kesakitan, Jaebum suka menyakiti. Kadang jika ada waktu mereka akan melakukan sex yang ekstrim, keduanya menikmati hal ini, tentu saja.

Namun tetap, sekalipun mereka sudah ketahap bersetubuh—masih ada yang disembunyikan satu sama lain.

.

Dibulan kedelapan, Jinyoung mengeryit di malam hari akhir pekan, sudah jam satu pagi tetapi sang teman belum juga datang. Mungkin dia sedang ada kerjaan dengan berhubungan darah itu, ya? Mungkin lagi dia sedang memang ada urusan daripada membunuh waktu malam seperti biasa.

Sambil meminum alkohol berkadar sedang itu, Jinyoung melamun—mengingat kembali masa lalunya yang membuat dia seperti ini. Dimana dia hanyalah anak kecil ingusan yang begitu menyayangi keluarganya. Menyayangi kedua orang tua dan kedua kakak perempuannya. Semua yang berbau keindahan itu sirna saat dia pulang sendiri dari tempat bermain yang biasa ia gunakan jika bosan—dia diculik, lalu dijadikan sebagai—tempat bersetubuh…? Ya, bisa dibilang seperti itu, saking seringnya disetubuhi dan disiksa saat masih berusia delapan tahun, dia menjadi suka disakiti—bukan dalam seperti disakiti disuatu hubungan merah jambu konyol itu, tetapi disakiti oleh benda-benda tajam maupun tumpul yang menghampiri kulitnya yang sudah lama tidak mulus itu.

Jinyoung tertawa sendiri memikirkan itu, meminum kembali alkohol berkadar sedang yang tanpa sadar tangannya mengelus bagian perut yang terdapat luka kasar jika dilihat itu sudah lama mengering.

Puk.

Merasa ada yang menyentuh bahunya, Jinyoung menoleh, dan menyeringai mengejek. Mulutnya bergerak—kau lama sekali—kepada orang itu.

Ada yang aneh, tatapan mata itu berbeda, bahkan aura yang dikeluarkan orang itu berbeda. Namun karena terbawa pengaruh alkohol berkadar sedang itu Jinyoung mengabaikan keanehan yang ia rasakan itu.

Tentu saja orang itu adalah sosok Jaebum—yang mungkin itu adalah Jaebum.

.

Jaebum membatasi dirinya dengan interaksi terhadap masyarakat luar. Tidak ada seorangpun yang mengenalnya dengan baik, karena dirinya benar-benar sosok tertutup. Mata tajam itu kadang benar-benar akan menusukmu namun kadang mata tajam itu menjadi sendu—tanpa raut muka berubah sedih.

Namun akhir-akhir ini ada seseorang yang begitu menarik, yang jika dirinya tengah sibuk sendiri, orang itu akan memperhatikannya diam-diam, tapi saat sedang berbicara dengan dirinya pun orang itu tetap memperhatikan dirinya.

Jaebum sendiri tertarik dengan orang itu—orang yang akhir-akhir ini menemaninya diakhir pekan.

Sudah delapan bulan lebih mereka dekat—dan sudah tak terhitung jari ia dan orang itu melakukan sex ekstrim karena—mereka berbeda.

Namun—dirinya juga sangat berbeda dari manusia kebanyakan. Bisa dibilang dia termasuk manusia langka—karena dia mempunyai sisi lain. Ia dan sisi lain itu sebenarnya sama saja—tetapi juga berbeda. Entah dari kapan dia mempunyai sisi lain itu tetapi dia—sisi lainnya itu selalu muncul saat dia akan membunuh.

Karena Jaebum begitu menginginkan membunuh namun tidak mempunyai keberanian walau dia sangat ingin mencoba untuk membunuh, maka sosok itu yang menjalankan. Tadi malam, Jaebum tahu bahwa sisi lain itu menemui seseorang yang menarik perhatiannya itu, dan sisi lain itu mengatakan kepada Jaebum.

'Aku menyukainya, kau tidak menyangkal bahwa kau juga menyukainya, bukan?'

Jaebum menatap datar sisi lainnya ketika ia mengatakan itu dengan seringai.

Menyukai? Huh, drama sekali.

.

Bukan hal aneh jika Jinyoung merasa kaget, karena melihat Jaebum datang pada hari Rabu di bulan kesepuluh minggu kedua. Setahu Jinyoung mengenal Jaebum selama sepuluh bulan lebih terakhir ini, Jaebum selalu datang pada hari Jum'at, atau tidak Sabtu, atau tidak Minggu. Namun kini aura dan sorotan mata Jaebum terasa beda—seperti sama saat beberapa minggu lalu Jaebum datang pukul satu pagi itu.

Jinyoung baru menyadarinya sekarang, Jaebum memang ada yang aneh.

Tidak perlu beranjak dari tempat duduknya, Jaebum langsung menghampiri Jinyoung yang tengah duduk di kursi bar, lelaki yang auranya tengah berbeda itu langsung memesan minuman. Jinyoung terus memandanginya dengan teliti. Dia merasa—baru mengenal Jaebum.

Jinyoung ingin mencoba bertanya, tapi ia urungkan, memilih meminum kembali alkohol walau kadang matanya melirik ke seseorang di sebelahnya. Namun gerakan Jinyoung berhenti saat sosok itu mengajaknya melakukan sex esktrim lagi.

Sebenarnya Jinyoung tidak keberatan, hanya saja ada instingnya yang mengatakan waspada kepada Jaebum yang sekarang.

Sepertinya pita suara Jinyoung mengabaikan insting, hingga ia bersuara 'ya'.

Sosok Jaebum yang menurut Jinyoung aneh itu seperti biasa, membawa Jinyoung ke tempat tinggalnya karena disana tempat dan alat lebih mendukung.

Keduanya sudah memasuki ruangan gelap itu, dan saat itu juga Jinyoung langsung didorong ke dinding dan dicium ganas oleh sosok Jaebum itu.

Benar, ini aneh—Jinyoung langsung tahu ini bukanlah Jaebum yang sebenarnya.

Namun Jinyoung tetap meladeni ciuman ganas itu walau ia harus akui dari semua orang yang pernah berciuman dengannya, Jaebum adalah good-kisser, bahkan mungkin sosok ini juga good-kisser. Hingga akhirnya Jinyoung menyadari tangannya dituntun keatas dan diikat, digelantungkan di besi yang memang didesain kegunaannya untuk hal seperti ini.

Jinyoung menatap sosok itu—yang tengah berjalan ke sisi ruangan lain. Dia sangat yakin itu bukanlah Jaebum yang biasanya. Saat tengah fokus, Jinyoung tidak menyadari dia tersengat oleh listrik yang begitu kuat, dia akhirnya berteriak sangat keras karena sengatan itu berlangsung selama dua menit.

"Wow—benar-benar kuat juga kau."

Dalam keadaan terengah setelah tersengat listrik, Jinyoung mencoba melirik sosok didepannya yang sudah membawa besi—mungkin saja hal lain-lainnya tergeletak di lantai.

"Siapa… kau…"

"Call me, JB."

"Alter-ego?"

"Apa maksudmu," sosok itu menatap tajam Jinyoung lalu melempar asal besi ditangannya ke tubuh Jinyoung yang masih tersemat baju, "Nyeongie, nikmati saja~"

Setelah itu, Jinyoung tidak tahu ini nikmat atau sakit—yang pasti dia merasa keenakan selama sex ekstrim berlangsung bersama sosok lain dari Jaebum—JB.

.

Pada akhir pekan, Jaebum datang lebih cepat dari biasanya ke bar, menunggu Jinyoung yang ia tahu selalu datang jam sepuluh malam. Tentu ada alasan mengapa dia datang lebih cepat dari biasanya—mungkin pula ini pertama kalinya dia merasa bersalah—Jaebum ingin menjelaskan semuanya kepada Jinyoung. Jaebum juga mengabaikan sindiran sisi lainnya yang memenuhi kepalanya sedari tadi.

"Jinyoung!"

Panggilan terdengar, Jinyoung menoleh keasal suara dan menemukan sang pemanggil—Jaebum. Sebelum itu Jinyoung memperhatikan Jaebum terlebih dahulu, ya ini adalah Jaebum, bukan JB.

Jinyoung menghampiri Jaebum dan menanyakan 'ada apa', Jaebum tersenyum tipis dan menyuruhnya bersantai dahulu karena waktu mereka masih banyak sampai pagi nanti, dan Jinyoung hanya bisa menurutinya—dia tidak ingin susah-susah berpikir.

Semakin larut, bar semakin ramai, banyak orang yang menikmati waktu lama dengan bergoyang-goyang ditengah lautan manusia. Kedua lelaki berusia sangat matang itu masih terdiam. Jinyoung masih saja kadang melirik kearah Jaebum, memperhatikan Jaebum, gerak-geriknya, gerakan pupilnya, raut mukanya…

Jinyoung tersentak saat mendengar gumanan Jaebum, mereka saling bertatap saat itu juga. Dengan berakhir Jaebum menceritakan masalahnya, masa lalunya, untuk pertama kali dihidupnya kepada orang lain dengan suara pelan ditengah kebisingan hiruk piruk lautan manusia tetapi dia yakin Jinyoung mendengarnya.

Tentu Jinyoung mendengarnya—dan dia tidak terlalu kaget.

Selesai Jaebum bercerita, keduanya terdiam selama beberapa menit. Dengan tanpa sadar Jinyoung pula menceritakan masalah dan masa lalunya kepada Jaebum.

Sepuluh bulan lebih kini mereka sudah mengetahui jati diri masing-masing.

.

Di bulan ke empat belas, di sore hari yang sejuk dengan langit mulai berwarna orange, handphone yang jarang ia gunakan tetapi selalu dibawa kemana-mana itu bordering. Jinyoung melihat, nama kontak yang masuk adalah Jaebum—maka dari itu dia tidak ragu-ragu untuk menerima panggilan itu.

Namun dia mengeryit saat suara yang terdengar bukanlah suara Jaebum—ataupun sisi lainnya. Lima belas detik mendengar suara di handphonenya itu, Jinyoung langsung keluar dari tempat tinggalnya menuju suatu tempat dimana yang katanya itu kejahatan diberantaskan.

Ya, kantor polisi.

Sesampainya disana, Jinyoung bisa melihat dibalik jeruji dengan Jaebum terborgol di kedua tangan dan kedua kaki. Bahkan empat polisi menodongkan pistol yang siap kapan saja menembakkan timah panas jika Jaebum memberontak.

Hey situasi apa ini? Jinyoung sama sekali tidak mengerti.

Sang polisi menjelaskan kepada Jinyoung mengapa Jaebum seperti itu—berawal ditemukannya Jaebum pembunuh dari dua keluarga kaya yang dihabiskan dalam satu malam, dan saat pihak polisi menyita handphone Jaebum, mereka tidak menemukan kontak yang aktif—kebanyakan nama kontak dengan simbol aneh dan tidak aktif—tetapi hanya satu kontak yang aktif dengan diketik huruf hangul.

Kontak Park Jinyoung.

Sebenarnya Jinyoung cukup bingung karena Jaebum seperti menambah tambahan hangul dikontaknya setelah nama lengkapnya itu.

Namun kebingungan Jinyoung terhenti saat melihat kearah Jaebum, ia merasakan aura yang begitu kuat dan tatapan sangat tajam. Benar sekali saat Jinyoung melihat dibalik jeruji itu, Jaebum melihat kearahnya, menyeringai.

Itu bukan Jaebum. Itu JB.

Tegas Jinyoung dalam hati.

Sungguh aneh sebenarnya Jinyoung bisa membedakan keduanya yang padahal tampak familiar, tetapi itu bukan hal yang harus dipermasalahkan.

Sang polisi tadi membisikkan untuk bertanya hal-hal yang mengapa dia membunuh dua keluarga kaya itu, membuat Jinyoung mendekati jeruji itu, dan polisi lain keluar dari ruangan, membiarkan privasi sementara kepada keduanya.

"… JB?"

"Wah Nyeongie, kau memang selalu hebat!"

Suara berat yang terasa menusuk telinga…

"Kau—mengapa bisa seperti ini?"

"Jaebum yang menginginkannya."

"Apa maksudmu?"

"Jaebum ingin membunuh, dan langsung mengganti posisinya saat sudah dalam keadaan seperti ini, kejam bukan?"

Jinyoung terdiam, kata-kata yang berat dan menusuk itu seperti memasuki alam pikirnya.

Jinyoung benci pembunuh—sebenarnya.

Namun ia merasa Jaebum bukan orang yang seperti itu—

"Mengapa kau—atau Jaebum hy—hyung… membunuh dua keluarga—"

"Bayaran, biasa."

Jawaban yang sangat ringan, bahkan dari raut mukanya seperti ia tidak melakukan hal-hal yang begitu keji sebelumnya.

Jinyoung merasa tubuhnya gemetar. Seakan ingatan buruk memenuhi pikirannya. Namun dia tetap menatap tegas sosok didepannya itu.

"Kau bisa percaya padaku, JB."

"Wow—wow—wow, sabarlah Nyeongie."

"Aku serius."

"Kalau begitu kau harus menjadi milikku."

Jinyoung tersentak, heol, mereka sedang berada dalam suatu tempat yang dinamakan wilayah penjara tetapi orang ini mengatakan hal gila? Mungkin dia memang gila, sisi lain Jaebum yang gila!

"Itu urusan lain," Jinyoung kini menatap datar JB, "aku tidak suka kau masuk penjara, baik itu kau atau Jaebum hyung."

Mungkin Jinyoung juga ikut gila—

Suara pintu besi terbuka, menampilkan beberapa polisi yang bersenjata dan tidak, yang bersenjata langsung mengelilingi sang pelaku. Sedangkan Jinyoung disuruh mengikuti polisi tadi—mungkin meminta keterangan.

Sesampainya di suatu ruangan kepolisian, Jinyoung menceritakan kesimpulannya yang dari kata-kata Jaebum—maksudnya JB jelaskan tadi. Namun tetap, Jaebum—atau JB itu dikenakan masa penjara selama lima belas tahun.

Lima belas tahun? Huh? Sangat lama…

.

Dua bulan kemudian, entah uang dari mana Jinyoung mendapatkan tiga puluh milyar won, dan entah mengapa pula Jinyoung memberikan kepada pihak kepolisian untuk kebebasan seorang Im Jaebum yang dipenjara selama lima belas tahun. Polisi buta oleh uang, maka dari itu yang seharusnya dipenjara seorang pembunuh dua keluarga besar itu lima belas tahun menjadi dua bulan lima belas hari.

Ya, baru nanti Jaebum akan keluar dari penjara lima belas hari setelah uang itu masuk ke rekening masing-masing polisi yang bertugas disana.

Negeri yang mengenaskan.

Jinyoung tersenyum ketus saat mengetahui kenyataan itu, tetapi masa peduli, hasil dia melakukan sex gila dengan sejumlah orang besar membuat dia bisa membebaskan Jaebum, entah dari mana pula pikiran untuk membebaskan Jaebum dan melakukan sex untuk harta.

Memikirkan sex membuat Jinyoung ingin melakukan sex lagi. Jinyoung tidak sabar waktu malam.

.

Malam kelima belas sejak ia memberikan uang kepada para polisi itu, Jinyoung sepertinya lupa dengan keluarnya Jaebum dari penjara, karena Jinyoung sejak pagi sampai sore bermalas-malasan dan saat sore hingga malam ini berada di bar—tidak, sekarang dia sedang berada disuatu kamar sewa yang memang menjadi fasilitas bar sendiri. Bersama dengan lelaki tidak dikenal tetapi sepertinya mampu menyembuhkan hasrat Jinyoung sekarang ini.

Jinyoung ingin bersenang-senang.

Dia tidak mau memikirkan hal-hal berat.

Tidak mau memikirkan perasaan orang lagi.

Memikirkan perasaan khawatir kepada orang lagi—

Mungkin…

Jinyoung mendesah saat lelaki itu terus menusuk anusnya dengan penis lelaki itu sendiri, bahkan tangan lelaki itu tidak tinggal diam untuk memainkan permukaan tubuh Jinyoung yang lengket oleh peluh namun harum sex begitu menguar dari tubuh Jinyoung dengan kuat.

Lelaki itu terus memuji bagaimana Jinyoung hebat dalam sex, yang juga ikut memuaskan ia saat melakukan sex, sedangkan Jinyoung hanya mendesah—tidak puas—karena lelaki patnernya ini kurang cepat dan tidak mengadukan lukanya menjadi lebar.

Suara pintu terdengar, Jinyoung mendengar itu, tetapi bagian terdalam dirinya saat itu tengah dihantam oleh milik lelaki itu membuat Jinyoung mengabaikan suara itu sejenak. Saat penis lelaki itu keluar dan ingin masuk kembali ke anus Jinyoung, suara hantaman terdengar keras.

Jinyoung terbelak, dengan kecepatan sedang dia mencoba duduk dan melihat pemandangan didepannya—

Sosok Jaebum—dengan aura yang berat—menginjak-injak lelaki itu dilantai, bahkan dia membawa pisau yang sudah ditusuk-tusukkan ke kedua lengan lelaki itu.

Jinyoung terdiam. Tubuhnya membeku, matanya terbelak lebar, menyaksikan bagaimana Jaebum membunuh orang yang melakukan sex dengannya—

"Sudah kubilang, kau itu milik ku, Nyeongie!"

Bukan, itu bukan Jaebum. Itu JB.

Sosok itu berdiri, di wajahnya terciprat banyak darah. Jinyoung yakin, lelaki yang beberapa menit lalu masih menjadi patner sexnya itu sudah tidak bernafas.

"Kau… sudah keluar?"

"Ya tentu, terima kasih Nyeongie," JB duduk diatas kasur, menarik Jinyoung kedalam pelukannya dan mencium aroma Jinyoung dalam-dalam.

"Syukur… lah…" bisik Jinyoung lirih.

Tiba-tiba tubuh Jaebum terasa berat, dan langsung menimpa Jinyoung. Jinyoung mendorong pelan tubuh Jaebum—dan melihat wajah Jaebum yang matanya tertutup… indah.

Jaebum membuka matanya, mata yang teduh, ya ini sosok Jaebum yang Jinyoung rindukan.

"Jaebum hyung!"

Jinyoung mendorong tubuh Jaebum supaya tidak menindihnya. Jaebum pun mencoba bangkit, setelah bangkit dia melihat sekeliling, saat menemukan seonggoh mayat, bibirnya hanya tersenyum miring.

"Junior…"

Jinyoung mengeryit, merasa familiar dengan kata itu.

Jaebum memeluk Jinyoung yang masih telanjang dan dari anusnya mengeluarkan sperma dari patner sexnya tadi. Sosok yang baru saja keluar dari penjara itu terus memeluk Jinyoung, dengan bisikan lirih dia menceritakan kembali segalanya—tentang bayaran membunuh dua keluarga—tentang dua bulan lebih dia dikurung dipenjara walau kadang JB lebih mendominasi dirinya saat berada disana—dan mengatakan mengapa JB bisa muncul akhir-akhir ini.

"Aku ingin membunuh—tetapi tidak bisa… dan selalu JB yang menggantikan posisi itu untuk membunuh… percayalah, jika JB yang membunuh, bukan diriku…"

Jinyoung meremas lengan baju Jaebum. Dia merasa langsung percaya—tidak dengan saat JB yang berbicara.

"Ya… hyung…"

Mereka terus berpelukan, membiarkan mereka lembut saat itu juga, tidak menjadi kasar seperti biasanya.

"Jadilah milikku…"

"Ya hyung…"

"Kau hanya melakukan sex dengan ku…"

"Kau hanya milikku…"

"Aku mengerti…"

"Hanya dengan ku, kau dan aku, kita hidup bersama…"

"Iya hyung… hyung juga harus berjanji untuk tidak membunuh…"

"Ya…"

"Jangan pernah masuk penjara lagi…"

"Ya…"

"Hyung, bolehkah aku berbicara dengan JB sebentar?"

Jinyoung menatap Jaebum, dan dibalas anggukan. Jaebum langsung ambruk dipelukan Jinyoung, dan langsung pula bangkit—dengan aura berat.

Jinyoung tersenyum.

"JB."

"Ya Nyeongie."

"Bisakah—"

"Sesuai Jaebum, Nyeongie, keinginannya."

Jinyoung mengangguk mengerti, menganggap JB setuju.

Setelah itu Jaebum ambruk kembali, dan kemudian bangkit.

"Hyung tidak capek berganti posisi dengan sisi lain mu itu?"

"Sebenarnya—kami sudah berlatih untuk hal itu..."

"Aneh."

Jinyoung terus menatap Jaebum, begitupula Jaebum menatap Jinyoung.

"Cepat pakai pakaianmu, kita lanjutkan di apartement ku, Junior."

"Wow! Aku mau!"

-0o0-

Waktu sudah menunjukkan angka empat pagi. Jinyoung menangis, bayangan masa lalu berputar di otaknya, dia menyesal meminta hal ini beberapa waktu lalu. Tubuhnya sekarang telanjang, tempat ini sangat berantakan. Disebelahnya ada sosok lain yang menemaninya sex tadi.

"Maafkan aku Jaebum hyung—huks—maafkan aku—"

|tbc;|

Wow, hebat juga Rin /liat keatas/

Rin pengen banget buat bdsm lagi, tapi apa daya, Rin masih polos sehingga ga bisa buat tulisan menjadi mature /slapped/

Rin pengen bales semuanya satu-satu o.o

Balesan review :

Peachpetals — kok perih :") iya hanya Jaebum yang punya macam inner gitu hehehe. JB jahat atau Jaebum yang jahat mungkin tulisan diatas cukup menjawab ya '-'a

Jiraniatriana — jangan bingung T_T ini mungkin sudah cukup menjelaskannya ya…?

Ocju — JANGAN SPEECHLEES Q_Q ini flashbacknya biar kalian ngerti _ terima kasih sudah menunggu ini sudah lanjut hehehe.

KyungsooUminhere — aniyo… bdsm disini masih standar, Rin tidak sehebat seorang admin fav Rin yang jika nulis bdsm itu hebat banget o.o /oke malah curhat/ hmmm jika mereka normal lagi, tunggu nanti chapter depan kayaknya hehehe. Maksudnya masokis ya? Ehehehe. Ini sudah lanjut yaa ^^

Lilmarkson — wah takut ya Jackson dibunuh, Rin juga gak tega T_T wah lebih hot lagi bdsm nya? nanti deh akan Rin pikirkan ehehehe. Ini sudah lanjut o.o

Untuk yang chapter satu, maaf Rin tidak membalas atau mengucapkan terima kasih sudah membaca T_T Rin saat itu sangat terburu-buru T_T maafin Rin /bow/ Rin harap kalian ga kapok buat memberi komentar kalian ke kotak review T_T

Okay then—mind to review? Hehehe.