Chapter 3
November sial! Leptop rusak total, data ga tau bisa di bek-ap ato gak. HP andro keujanan dan toucscreen ga bisa gerak dan alhasil masuk tukang serpis. Akhirnya dibeliin hape chibi, serasa turun derajat T.T belom tugas yang menumpuk. Jadi maap kalau chapter 3 ga memuaskan. Ini nebeng leptop orang nih. Tapi kuusahain fic ini lanjut ampe tamat. Udahan curcolnya yah. Silahkan dibaca~
Naruto © Masashi Kishimoto
AwK © Kiwok
Rate : T
Warning : AU, OOC, Typo, DLL
Wokwokwok
Itachi berdeham cukup kencang membuat kecanggungan di ruang lingkup Uchiha dengan Uzumaki renggang. Pemuda kuliahan itu mengeratkan pelukannya pada Sasuke. "Sebutkan nama lengkap, kepribadianmu, dan alasanmu menyukai adikku."
Sasuke berjengit, ia melepaskan pelukan Itachi, "Nii-san!" ditanggapi dengan cuek oleh sang kakak.
"Hm.. Hebat juga," Sai tiba tiba menyeletuk, menatap Naruto dengan pandangan cukup meremehkan. "Aku baru pertamakali lihat Sasuke semerona ini wajahnya cuma gara gara ada yang nyatain cinta. Biasanya kan—"
"SAI-NII!"
"Hehehe…" Naruto nyengir selebar mungkin. "Berarti Sasuke cinta padaku."
"Hih! Pede banget!" Suara gengsi Sasuke menggema, "Aku pulang! Kalau kalian masih mau disini aku pulang sendi—"
"Jangan keras kepala, Sasuke! Kau nanti sakit lagi kalau hujan hujanan." Shisui menggenggam lengan Sasuke lalu menariknya untuk mendekat ketubuhnya ketika Uchiha bungsu itu hendak pergi. "Nah, untuk kau pemuda pirang… coba jawab pertanyaan Itachi," ucapannya santai tapi raut wajahnya dingin. Tangannya tetap merangkul lengan Sasuke yang sedari tadi merengut kesal.
"Uzumaki Naruto. Periang, ng.. pantang menyerah, apa adanya, mungkin bodoh tapi aku berusaha untuk jadi pintar kok! Kata orang orang terdekatku aku ganteng dan keren, terus aku pecicilan, oh ya! Aku tidak akan menarik kata kata yang sudah kuucapkan, karena itu jalan hidupku*! Dan.. aku suka Sasuke karena… apa ya? Apa kalau suka butuh alasan?"
Sasuke menggeram kesal, ia paling susah untuk mengontrol urusan hati seperti ini, pasalnya ini yang pertama hatinya tergedor begitu keras oleh cowok yang ngaku ngaku dirinya ganteng.
"Sasuke, kau sudah menerimanya?"
"Huh?!" pemuda spiky itu tersentak, memandang Itachi sinis dalam kurung malu malu. "Bicara pada payung sana!" Itachi yang sukup tersinggung hanya menarik hidung mungil Sasuke.
"Nga hisa naphas, bhakanikhi! (Nggak bisa nafas, bakaniki!)" Sasuke meronta.
Sai terkekeh mengacak sayang helaian surai raven Sasuke, menatap Naruto kemudian. "Kau bilang kau pantang menyerah?"
Naruto mengangguk cepat, "tentu saja! Kalau untuk mendapatkan Sasuke aku percaya diri!"
Keluarga Uchiha disana tersenyum ironi, kecuali Sasuke. "Hooo.. kalau begitu bersiap lah."
"Baka anikitachi! Aku belum bilang suka!" Sasuke berseru kesal. Naruto hanya tertawa sedangkan Sai langsung menarik gemas pipi adiknya, "Jangan buat ekspresi menggemaskan begitu, outoto. Nah, ayo pulang. Untuk kau Naruto, persiapkan dirimu untuk mendapatkan Sasu-chan!"
Sasuke menonjok cukup kencang perut Sai dan hanya di tanggapi tawa renyah oleh ketiga kakaknya. Keluarga Uchiha telah pergi dari area sekolah. Naruto masih ditempatnya dengan senyum lebar.
=:=
"OHAYOU GAARA~!" Pagi hari Naruto ke Sekolah dengan cengir lebih lebar dari hari sebelumnya. Menyapa semua orang yang lewat padahal belum kenal, seolah ingin pamer kalau dirinya bahagia.
Gaara yang di sapa dengan suara gelegar hanya menatap bingung, "Kau baru saja makan spiker panggung dangdut?"
"Ahaha.. bisa saja, ohya.. kemarin aku sudah nembak Sasuke."
Untuk beberapa detik, Gaara hanya bergumam asal setelahnya ia melotot. "Ulangi ucapanmu.."
"Iya, baru mau kuralat, kemarin aku sudah melamar Sasuke dihadapan semua kakaknya!"
Emang dasar mulut toa, ucapan Naruto yang barusan membuat orang orang yang sedang ada dikelasnya melongo menatapnya .
"HYEEEEEEH?! Apa katamu, Uzumaki!?"
"Yang benar?! Astaga berani sekali!"
"Uzumaki! Kau curaaang!"
Dan seruan kagum lainnya saling bersahut, tak sedikit juga yang berkata ngibul dan semacamnya. Gaara mendesah prihatin. Kemudian menyeret Naruto untuk keluar dari pertanyaan histeris teman sekelasnya.
"Sangkyu Gaara, sudah menyelamatkanku dari serbuan pertanyaan." Naruto mendesah lega. Gaara memandangnya jengah, "Yang kau ucapkan itu benar?"
"Kalau aku sudah melamar Sasuke dihadapan semua kakaknya? Benar dong!"
Pemuda berambut merah bata itu tercengang, tapi tak berkata apapun lalu ia menunduk.
"Ah, aku baru tahu Sasuke punya banyak kakak."
"Kau baru tahu, dan kau langsung melamar Uchiha-senpai didepan kakaknya? Idiot.." sindir Gaara sarkas.
"GAAAH! Kau ini kenapa menyindirku? Kau cemburu denganku!?"
"Ap-apa?! Cemburu dengan pemuda pecicilan denganmu itu sama saja mencoreng nama baikku! Aku punya kriteria sendiri orang yang kusuka!"
"Ohya? Sia—"
"Kau akan ditatap terus menerus dengan pakai seperti ini, Sasuke."
"Mau bagaimana lagi? Sudah kesempitan."
"Makanya kita cari baju di ruang kesehatan, biasanya ada baju cadangan."
"Hn.."
Suara orang bercakap cakap dari kejauhan terdengar makin dekat, dikoridor yang sama Naruto melihat senpai incarannya sedang berjalan berdampingan dengan pemuda berambut panjang yang mewanti wanti dengan kesal.
Gaara melirik Naruto yang sedang melihat Sasuke dengan wajah uhukmesumuhuk.
Sasuke… entah baju olahraga yang dikenakannya menyusut atau badan rampingnya berkembang yang menjadikan lekuk pinggangnya terlihat jelas dan celana yang agaknya ketat membentuk sempurna kaki rampingnya. "SASU-CHAAAAAN!" Naruto sudah menghambur mendekati Sasuke.
Pemuda berambut mencuat kebelakang tersentak melihat Naruto mendekat, seketika pikiranya melayang pada peristiwa kemarin sore. "Ma-mau apa kau kesini?!"
"Wow Sasu-chan! Kau eksotis dengan pakaian seperti itu!"
Dan pukulan cukup kencang Neji mengenai perutnya, "Jaga sopan santunmu, anak baru! Apa kau punya etika terhadap kakak kelas?"
Naruto meringis kemudian menatap tak suka Neji. Sasuke yang masih mengenakan pakaian kekecilan dan dilihatin orang orang lewat dikoridor makin risih dengan adanya pertengkaran konyol.
"Aku minta maaf kalau kurang sopan," Naruto menyesal menatap Sasuke yang mulai tidak respek, lalu pandangannya meliar menatap Neji. "Tapi Hyuuga-senpai lebih tidak punya etika karena main asal pukul dan tidak menegur lebih dulu. Untung saja aku tidak dendam."
Pemuda berkulit karamel itu dengan cepat menggamit lengan Sasuke, membawanya mendekat pada tubuhnya. "Ayo, Sasu-chan.. Lebih baik aku yang mengantarmu mencari baju."
"He-eei!" Sasuke terperangah saat lengannya ditarik Naruto. Neji telat merespon untuk mencegah Sasuke dan harus puas dengan dirinya yang masih berdiri diam ditempat. Ia menjernihkan pikirannya dengan mengepal kelima jarinya kuat. Benar juga… ia seharusnya tidak boleh gila hormat dan bersikap kasar dengan Naruto. Tapi..
"Ohayou, Neji."
Tersentak dan sadar dari renungnya, pemuda Hyuuga itu menatap canggung lawan bicaranya disana.
=:=
"Sasu-chan! Ketemu nih! Baju olahraga yang longgar untukmu." Naruto menyodorkan baju yang ditemukannya di UKS. Sasuke menerimanya dengan wajah merona, "Aku mau ganti baju! Jangan lihat!"
"Nggak bermaksud kok.. kan belum sah." Naruto menyeringai, "Nanti kalau udah sah aku pasti boleh lihat. Hahaha…"
"Dalam mimpimu!" Sasuke langsung menutup tirai UKS.
"Nee, Sasuke.."
Sasuke, nggak pakai –chan itu berarti Naruto serius. "Apa?"
"Aku suka padamu."
". . . "
"Ng… Aku cinta padamu."
". . . "
"Um.. Aku sayang padamu."
". . ."
"GAAAH! Katakan sesuatu Sasuke!" Naruto berseru kesal.
"Dobe," terdengar suara dingin, ketika itu tirai putih terbuka dan terlihat Sasuke yang sudah memakai baju olahraga yang baru. "Kita baru kenal dua hari, tapi kau langsung menyatakan cinta padaku. Apa itu masuk akal?"
"Semuanya masuk akal dalam dunia fiksi." Jawab Naruto tanpa ragu. Sweetdrop untuk Sasuke, "Tapi kau… astaga, Neji saja kudengar menjalankan ritual dulu untuk berkata tentang cinta dihadapan kakakku!"
"huh, berarti dia pengecut." Ucap Naruto kecut, kentara sekali masih kesal karna perutnya ditonjok spontan cuma gara gara bilang Sasuke eksotis, padahal kenyataannya memang Sasuke eksotis.
"Kalau begitu…" Sasuke berkata dingin, "Buat aku agar mengucapkan kalimat yang sama sepertimu."
"Eh? Tinggal bilang 'Neji, kau pengecut' apa susahnya?" dasar Dobe kelas mapan, Sasuke hanya mendesah maklum dengan ucapan nyeleneh Naruto. Ia kemudian beranjak keluar UKS karena bel masuk pelajaran sudah berlangsung.
"HAH!" dan si Dobe telah menyadari satu hal. "Baiklaaah! Akan ku buat kau bilang suka padaku juga, Temeee!"
Sasuke mendengus. Namun sekilas ia tersenyum.
=:=
"Uzumaki…"
Yak! Bagus, cetak angka lagi Sasu-chan!
" . …"
Ah.. seandainya aku sekelas denganya aku sudah pasti merangkulnya saat permainan basket kami kompak dan membuahkan skor tinggi.
"Uzumaki Naruto!"
Cih.. si Rambut Berbi itu apa apaan sih? Sok sokan mencubit pipi Sasu-chan?! Menggelikan—
"UZUMAKI NARUTO!"
"Urusai! Dasar rambut berbi!"
Guru yang sedang mengajar di kelas 2-2 berjengit shock. Urat marah langsung berkedut kencang, "KELUAR!"
Naruto bukannyame nyesal, ia menyanggupi dengan semangat, "HAI'!"
=:=
"Sasuke, kau baik baik saja?" tanya Lee saat tim basket mereka istirahat, sedangkan tim Neji baru mulai penilaian basket. "Hn. Aku kekelas dulu."
"Perlu dianter?"
Sasuke menggeleng. Kemudian dengan sedikit terhuyung ia meninggalkan lapangan basket outdoor.
Naruto melihat Sasuke berjalan kekelasnya. Ia segera mengikutinya pelan pelan, berniat mengendap kemudian mengejutkannya dengan memeluk dari belakang.
"SASU-CHAAAAN!"
"Hwaaa!" pemuda spiky nungging itu memikik tidak elit. Naruto yang hendak memeluk malah ditabok. "Brengsek! Kau mengejutkanku!"
"Itte darou! Aku kan cuma mau ngasih surprise!" Naruto meringis lebar. "Oh ya, kenapa disini? Bukannya pelajaran olahraga masih berlangsung?"
Sasuke mengehela nafas, "ada juga aku yang tanya, dobe! Kau kenapa disini? Bukannya masih pelajaran?"
"hehe.. diusir dari kelas."
"Idiot."
"Cheee! Kau juga ngapain disini?! Diusir ama guru olahraga juga kan?!"
Sasuke mendesah, "Sok tahu. Aku ingin istirahat sebentar." Ia mendudukan dirinya di bangku. Naruto hanya menyeringai maklum, Ia tahu calon uhuk-uke-uhuk nya nggak suka keadaan berisik. "Disana berisik ya? Memang sih, kau banyak menarik perhatian soalnya."
"Ck, kau juga berisik."
Naruto menggembungkan pipi. Melihat Sasuke yang sedikit lemas dan menenggak botol minum isotonic didalam tas nya ia mengernyit. "Kau kenapa Sasuke? Sakit?"
Tak ada jawaban. Sasuke hanya menghabiskan minumannya dengan tenang. Lalu mengelap sudut bibirnya yang basah ketika selesai, Naruto meneguk lidah horny. Kenapa wajah Sasuke harus manis begitu? Kenapa kulitnya begitu mulus? Kenapa auranya aura romantis begini? Ayah, mengapa Sasuke berbeda? Batin Naruto autis.
"Sasuke!"
Tiba tiba ada yang memasuki kelas. Naruto mendecih karenanya. Si rambut berbi.
"Ck, aku panik mencarimu, Sasuke!"
"berlebihan."
"pfft…" Naruto menahan tawa, ia mingkem setelah dipelototin mata tak berpupil namun berotot milik Neji.
"Kau kambuh?"
Sasuke mendecih, "Apa maksudmu?"
Sadar, Sasuke nggak suka dengan obrolannya, segera ia alihkan topic. "Maksudku, kita bisa ganti seragam dulu mumpung sudah penilaian olahraga daripada nanti ramai."
"WATDEHEL!" Naruto menyela, "Ganti baju asdfghjk bareng maksudnya!?"
"Kalian berisik!" Sasuke membentak, pelan namun dalam. "Tak bisa kah tenang sedikit?"
Neji mendesah. Ia mendekat pada Sasuke dan mengusap kepalanya lembut. "Maaf, yasudah, kau istirahat dulu saja di UKS, nanti kalau sudah bel pergantian pelajaran kupanggil." Ucapnya lembut. Sasuke tanpa pikir panjang menyetujui untuk istirahat di UKS. Ia paling benci keadaan lemah dirinya kalau habis berolahraga seperti ini, tidak terbiasa masalahnya.
"Aku yang antar." Naruto menggandeng lengan Sasuke.
"Kyouhai, ingat sopan santunmu." Neji langsung menarik Sasuke padanya.
"Aku selalu ingat." Tandas si Pirang jutek, menggamit kembali sang Raven untuk mendekat kearahnya.
"Astaga…" Sasuke mendesah kesal. Melepaskan kedua tangan pemuda yang mengapit tubuhnya. "Berantem saja sana berdua! Jangan tarik tarik, aku bukan panitia lomba tarik tambang!"
Naruto spontan terkekeh. "Bahasa marahmu lucu banget!" Ia menyubit gemas pipi Sasuke, "Aku nggak bermaksud menarikmu. Neji noh yang tarik tarik!"
"Brengsek! Kemana etiket panggilan sopan untukku, heh? Kau yang menarik Sasuke lebih dulu! Dan lagi, jangan cubit cubit pipi Sasuke!"
"Kau juga mencubitnya! Lagipula, kenapa kau sewot? Kau bukan siapa-siapanya Sasu-chan kan, Hyuuga-senpai!"
"Sasuke calon pacarku!"
"Katakan itu dalam mimpi! Sasuke calon pengantinku!"
"HAH?!" Neji teriak, Sasuke yang masih disana mengerjap kaget. Menatap Naruto nyalang, "Apa yang kau sebut pengantin, dobe?!"
Sang rambut pirang terkekeh, merangkul Sasuke mesra, "Tentu saja pengantin, karena kemarin kan, aku sudah melamar didepan seluruh kakakmu dan sudah direstui, kurasa. Melamar kan sudah bisa diungkapkan pada tahap yang lebih tinggi ketimbang pacaran." Terakhir ia mengecup pipi Sasuke.
Bungsu Uchiha itu langsung terduduk lemas. Darahnya naik semua ke wajah putihnya. "Do-dobe.."
Naruto berbalik badan lalu menjambak jambak rambutnya, wajahnyapun memerah. Gila! Ini gila! Untung nggak kebablasan! Wajah Sasuke yang merah manis banget. Demi nyai ronggeng pake celana pensil, Sasuke manis banget…!
Masih di kelas yang sunyi, Sasuke diam. Ia nggak tahu harus bertingkah bagaimana sekarang, pemuda spiky nungging itu sudah kehilangan ke uchiha-annya didepan Naruto. Yaampun! Si Pirang dobe ini berhasil mencium pipi mulus Sasuke tanpa rasa canggung. Kalau Itachi atau Sai yang mencium sih, Sasuke masih bisa stay cool, karena dari bayi ia dibesarkan oleh cinta kakak kakaknya. Tapi kalau sama Naruto… kenal saja baru dua hari!
Neji melihat semuanya. Tangannya sudah tekepal kuat kuat menahan untuk menonjok Naruto sampai mental kemana pun. Namun urung, Neji masih punya sopan santun untuk tak membuat keributan.
"NARU—"
Semuanya menoleh, mendapati pemuda bersuarai merah bata terengah engah diambang pitu. "Gaara?" Naruto sadar lebih dulu dari terkejut, menatap bingung sepupunya.
"Idiot. Aku kira kau kesasar dan terkunci di sebuah gedung! Tahunya disini!" ujar Gaara ketus. Naruto nyengir.
"Sabaku-san…" itu suara Sasuke, Gaara menoleh padanya. "Antar aku ke UKS sebentar." Tanpa menunggu jawaban Gaara, Sasuke sudah menggamit lengan Kouhai nya keluar dari kelas.
UKS sepi. Shizune-sensei yang merangkap sebagai dokter disana sedang izin.
"Ano.. Uchiha-senpai, apa tadi terjadi sesuatu?" Sesampainya di UKS, pertanyaan Gaara langsung menjebak. Sasuke kembali ingat sensasi bibir dingin Naruto menempel pada kulit pipinya. Wajahnya memerah kembali.
"A-apa… Neji-senpai melakukan sesuatu terha—"
"Sabaku," Sasuke menyela. Membiarkan wajahnya merah seperti dikukus sepertinya tidak baik, ia harus melencengkan topik. "Kau tadi mencari Naruto? Pelajaran masih berlangsung, kan?"
"Ah.. itu tadi, aku pura-pura izin ke toilet."
"Hm…" Sasuke berdehem. Ia mulai mencopot baju olahraganya dan menggantinya dengan seragam sekolah. Di depan Gaara, Pemuda Uchiha itu tidak akan malu. Karena mereka tidak ada uhuknafsuuhuk. Toh kalau uke bercampur uke, nggak akan seru/dikerek/
"Senpai suka Naruto?"
Sasuke menoleh, menatap datar. "Dia idiot."'
"Memang."
"Ceroboh,"
"Banget."
"Pecicilan."
"Banget!"
"Tapi pemberani."
"Sudah pasti!" Gaara langsung menjawab, "Naruto pemberani tanpa memegang teguh prinsip gensi atau jaga imej, itu yang buat ia menarik. Walau bodoh, ia selalu berusaha sekuat tenaga untuk menjadi pintar. Aku melihatnya waktu SD ia belajar mati matian untuk dpaat nilai bagus demi mainan."
Sasuke tersenyum.
Pemuda Sabaku disana agaknya terkejut. Rumor yang dikatakan orang orang benar. Uchiha Sasuke kalau tersenyum auranya beda. Ia terlihat lebih tampan sekaligus cantik. Pantas saja Naruto langsung jatuh cinta dipandangan pertama. Apa pemuda pirang itu sudah melihat Sasuke tersenyum?
"Gaara."
"Eh?" Gaara tersadar dari lamun, cukup bingung ketika senpai didepannya tak memanggil dengan nama marga. "Ya?"
"Kau suka Naruto?"
"Tidak."
"Che," Sasuke menyindir.
"Naruto hanya serius sama Senpai. Kalau sudah menentukan target, ia pasti tak akan menyerah sampai targetnya tercapai dan bahagia dengan apa yang ia capai. Aku sudah lama kenalnya jadi aku cukup mendukung apa yang ia mau."
Sasuke kembali menatap dingin, "Kalau dia berhasil mendapatkanku, Kau akan menampilkan sikap yang bagaimana dengan Naruto, huh? Apa masih perhatian sampai harus meninggalkan kelas demi mencarinya?
Gaara tercengang. "Uchiha-senpai mencintai Naruto?"
"Kurasa kau belum tuli kalau tadi kubing 'kalau'."
"Ya-yaah.. bersifat seperti biasanya saja. Aku tadi cuma kawatir kalau Naruto nyasar terus bikin masalah, dia masih baru disini. Kalau sudah lama disini nanti juga biasa saja."
"Hn, yasudah kalau begitu. Kembalilah kekelas. Ini masih jam pelajarann," Sasuke hendak membuka kenop pintu UKS. "Oh ya, kalau memanggilku jangan terlalu formal. Sasuke saja." Gaara hanya mengangguk. Dalam hati entah kenapa pemuda manis bertato 'cinta' itu merasa senang.
=:=
"Kau tahu kalau aku ingin menonjokmu sampai kau tak berbentuk, heh murid baru?"
Naruto terkekeh, Ia membalas ucapan senpainya sinis. "Silahkan saja, paling kau yang akan penyok dan botak, dasar rambut berbi."
"APA KAU BILANG?!"
"RAMBUT BERBI! Kenapa memangnya?"
Neji lepas kendali dan berhasil menonjok pipi kiri Naruto. "Aku kira batas kurang ajarmu masih sepantara dengan cecunguk yang mengincar Sasuke, tahunya kau lebih kurang ajar."
Naruto yang sedikit terhuyung mendecih kesal lalu dengan brutal balas memukul Neji. Begitu terus kalau saja Neji tak berniat kembali memukul. "Dengar Uzumaki Naruto! Sasuke adalah milikku!"
"Hahaha…" Naruto tertawa ironi, "Dari tadi kau hanya sok sokan bilang 'Sasuke adalah pacarku, atau milikku', Kau tahu? Kau baginya tak lebih dari seorang pelayan yang setia tahu?"
Neji menggeram, "Sasuke bukan tipe orang yang suka di manja, ia hanya pemalu untuk merasa nyaman jika di perhatikan. Dan aku bukan pelayannya, dasar rabut duren."
Urat marah langsung nongol di dahi Naruto tapi pemuda itu hanya mengerang kesal. Ia langsung mengalihkan topic. "Sasuke.. bukannya punya banyak kakak?"
"Ya, ia tak punya orang tua. Ibunya meninggal saat melahirkannya, Dan ayahnya meninggal saat usia Sasuke masih enam bulan dalam kandungan. Jadi yang ia punya hanya kakaknya."
"Hm.." Naruto bergumam tak menatap Neji, terlalu enek mungkin. "Mereka semua terlalu overprotective. Aku lihat kemarin… Sasuke dipeluk erat sekali."
"Yah, mereka bahkan sudah seperti brother complex. Apalagi Itachi-san. Sai-san juga terlalu sering kulihat mencium Sasuke."
"Dipipi?"
"Bibir." Tandas Neji kalem.
"WATDEHEL?! Itu sih nggak bisa dibiarin! Sai itu yang wajahnya hampir mirip Sasuke tapi sering senyum aneh itu, kan?"
"Ck. Waktu ku protes padanya, dia bilang itu hal yang biasa, toh cinta pada keluarga sama ke orang lain yang dicintai itu beda. Aku pernah lihat Sai-san kencan dengan pacarnya. Jadi mungkin ciuman singkat dibibir bagi keluarga Uchiha sudah biasa." Jelas Neji panjang lebar. Entah mengapa obrolan mereka mulai nyambung.
"Tapi kan…"
"Sasuke… menarik ya?"
"Tentu saja! Kau nggak usah sok sokan melonkoli deh! Ingat ya, SENPAI… aku yang akan mendapatkan Sasuke!" Kilatan imajiner terlihat dari mata Naruto yang mengarah pada Neji, pemuda rambut panjangpun juga memberi kilatan yag serupa.
"Aku tak akan kalah!"
End of chapter 3
Chapter berikutnya Naruto akan serius untuk mengincar Sasuke. Nantikan ya ^^
Kedipnajis, KiWok.
