Yaaak! Akhirnya saya bisa update chap 3 ini... Yeeey~

Saya minta maaf karena updatenya lama (*bungkuk"*) . Sebenernya chap ini udah lama jadinya, tapi tiba" saya males ngapdetnya, saya sempet minder baca fic senpai" yang keren" semua -" . Selain itu, habis terima nilai TO, semangat nulis saya jadi ilang. Jijik saya liat nilai IPA saya. Waktu mau update minggu kemarin kompi saya malah rusak =="

Yaaa sudahlah yang penting, sekarang saya bisa update (*plak), langsung saja yaaa... (maaf, kl chap ini mengecewakan)

Happy Reading ^0^

.

.

.

Disclaimer : I don't own Naruto

Warning : gaje, abal, typo, garing, sinetron BGT, OOC, ide pasaran, imajinasi berlebihan (jujur saya belum pernah suka sama orang), dan segala hal buruk lainnya~

.

.

.

Chapter 4

Setelah menyiapkan makan malam, Hinata pergi ke kamarnya untuk mengganti baju dan segera ke rumah Sasuke. Hinata tahu sahabatnya itu paling tidak suka kalau disuruh menunggu, apalagi ini sudah hampir malam, padahal tadi siang Sasuke menyuruhnya datang sore. Yaah, mau bagaimana lagi Hinata juga punya urusan yang harus diselesaikan di rumah. Seperti mengajari Hanabi membuat kue, entah kenapa tiba-tiba saja si tomboy Hyuuga itu ingin sekali bisa membuat kue. Hm, mungkin karena sekarang dia sedang dekat dengan Saratobi junior. Hinata sering tersenyum sendiri jika membayangkannya, dia tidak menyangka Hanabi bisa suka laki-laki. Oh, ayolah Hinata bagaimanapun adikmu itu juga perempuan kan...

Setelah mengganti baju dan menyisir rambutnya Hinata turun dan mencari Hanabi. Tapi dia tidak menemukannya. Pasti sedang asik di kamar, batinnya dalam hati.

"Hanabi-chan..."

Tidak ada jawaban.

"Hanabi-chan..."

"Iya iya nee-chan... Ada apa, sih?" sahut Hanabi dari dalam kamar.

"Aku mau ke rumah Sasuke-kun."

"Yaaa, pergi saja... apa perlu diantar? Rumahnya kan hanya di depan rumah kita."

"Aku Cuma mau berpamitan Hanabi-chan..."

"Iya iya, sudah sana pergi..."

"Kau mengusirku Hanabi-chan?" tanya Hinata pura-pura sedih.

"Ahh, nee-chan sebenarnya jadi pergi tidak sih, kalau pergi ya pergi saja sana, nee-chan menggangguku tau..." gerutu Hanabi frustasi seraya keluar dari kamar.

"Kau benar-benar mengusirku..."

"Astaga, baiklah baiklah... nee-chan jadi pergi? Apa perlu kuantar?" tanya Hanabi lembut yang kentara sekali sedang menahan amarahnya.

"Hihihi, tidak perlu kok Hanabi-chan. Aku pergi dulu yaa..."

"Huh, iya iya... hati-hati di jalan" kata Hanabi sambil lalu seraya berjalan menuju kamarnya.

Baru saja Hanabi mau masuk kamar, tapi dia mengurungkan niatnya karena ada seseorang yang memanggilnya. Kejengkelannya semakin bertambah saat mengetahui yang memanggilnya adalah nee-chan nya tercinta –Hinata-.

"Oya, Hanabi-chan..."

"Nee-chan..." geram Hanabi.

"Ja-jangan memasang wajah seperti itu imouto-chan, aku Cuma mau bilang kalau makan malam sudah siap-"

"Yaa sudah sana." katanya seraya masuk kamar.

"E-eh? Tapi aku belum selesai bicara Hanabi-chan..."

"Astaga... ada apa lagi sih nee-chan? Cuma mau pergi ke rumah Sasuke-nii kok ribet banget..." seru Hanabi gregetan.

"A-ano, tou-sama malam ini tidak pulang."

"Huh, biarkan saja. Jadi, apa nee-chan jadi pergi ke rumah Sasuke-nii?"

"Te-tentu saja jadi. Aku pergi dulu." pamit Hinata seraya menuju pintu depan.

"Huh, mengganggu saja. Kalau perlu 'orang itu' tidak usah pulang." gerutu Hanabi sambil masuk ke kamarnya dengan muka cemberut.

Memang seperti itulah Hanabi kalau ayahnya tidak pulang. Padahal kalau Hiashi di rumah dia sering bermanja-manja padanya. Dasar Hanabi!

.

.

.

"Hinata-chan... Sudah lama kamu tidak main kesini..." sapa Mikoto ketika membukakan pintu untuk Hinata.

Hinata yang mendapatkan sapaan begitu hanya tersenyum sopan. Padahal baru minggu kemarin dia main kesini.

"Jangan berlebihan kaa-san, baru juga seminggu Hinata tidak kesini." kata Itachi yang baru keluar dapur sambil membawa apel.

"Apa iya? Kok rasanya sudah lama yaaa..."

"Seharusnya kau minta bayaran padanya Hinata." kata Itachi tidak mempedulikan gumaman Mikoto.

"Eh?"

"Pasti si 'pantat ayam' itu ingin minta bantuanmu kan..."

"Oh. Ti-tidak apa kok nii-san, aku senang bisa membantu Sasuke. Bagaimanpun dia kan sahabatku."

"Hm, memang begitulah Hyuuga Hinata." kata Itachi seraya tersenyum tipis.

"Sebaiknya kau ke kamar Sasuke saja Hinata, aku yakin dia sudah menunggumu. Tadi dia berpesan kalau kau sudah datang langsung ke kamarnya saja." kata Mikoto yang merasa diabaikan.

"Ah, iya Mikoto baa-san. Permisi."

.

.

.

Baru saja Hinata menutup pintu, dia sudah disambut suara dingin sahabatnya.

"Kenapa lama sekali?" tanya Sasuke datar.

"Maaf, tadi aku ada urusan dengan Hanabi-chan, dan tertahan lumayan lama dibawah."

"Tch."

Hinata hendak duduk disofa, saat Sasuke kembali mengeluarkan suaranya.

"Duduk disini saja." katanya seraya menepuk permukaan kasur yang didudukinya.

Hinata hanya menurut. Sambil berjalan menuju tempat tidur Sasuke, Hinata memperhatikan barang-barang yang ada di kamar Sasuke.

'Tidak banyak berubah', pikirnya. Dulu ketika masih kecil, Hinata sering main ke rumah Sasuke. Mereka akan bermain di taman belakang. Setelah lelah, biasanya mereka istirahat di kamar Sasuke sambil berbagi cerita atau menggambar. Terkadang Hinata sampai tertidur di kamar Sasuke.

Tapi, bukan berarti sekarang Hinata tidak pernah main ke rumah Sasuke. Sekarang pun, dia masih sering ke sana. Hanya saja, sekarang dia sudah tidak pernah masuk ke kamar Sasuke. Karena mereka sekarang bukan anak kecil lagi, mereka sudah remaja. Biasanya kalau dia ke rumah Sasuke, dia hanya akan duduk-duduk di taman belakang yan biasanya sering menjadi tempat main mereka saat masih kecil sambil mendengarkan cerita dan keluh kesah Sasuke. Seingatnya terakhir kali dia masuk kamar Sasuke saat Sasuke sakit karena stres menjelang ujian akhir sekolah. Bahkan orang sejenius Sasuke pun bisa stres menghadapi ujian. (apalagi saya ==" #plak)

Dan ternyata setelah sekian lama Hinata tidak kesini, kamar ini tidak banyak berubah atau mungkin tidak berubah sama sekali. Cat kamarnya masih biru tua. Tidak ada foto keluarga, hanya ada foto mereka saat SD yang diletakkan di meja kecil disamping tempat tidur. Kamar ini terasa lengang. Hanya ada tiga sofa dan meja belajar di kamar yang seluas ini. Sasuke memang tidak suka kalau kamarnya terlihat ramai.

"Jadi, apa yang ingin kau bicarakan?" tanya Hinata setelah hening beberapa saat.

"Ini... tentang... Sakura" jawab Sasuke lirih dipanjang-panjangkan.

'Sudah kuduga.'

"Ke-kenapa d-dengan Sakura-chan?" tanya Hinata sekuat tenaga menahan suaranya agar tidak bergetar.

"Apa aku sudah berlebihan Hinata?" tanya Sasuke yang sama sekali tidak menjawab pertanyaan Hinata.

Hati Hinata mencelos saat melihat mata Sasuke. Belum pernah dia melihat mata Sasuke yang begitu redup. Belum pernah dia melihat mata Sasuke yang dipenuhi rasa bersalah.

'Begitu besarnya kah pengaruh Sakura untukmu, Sasuke?' batin Hinata perih.

"Hm, kurasa kau memang sedikit berlebihan." Hinata sekuat tenaga menahan air matanya agar tidak jatuh, karena sekarang matanya terasa begitu panas.

"Apa yang harus kulakukan Hinata?"

"Minta maaf padanya."

"Itu sulit."

"Abaikan darah Uchihamu kalau kau tidak ingin kehilangan Sakura-chan. Kau pasti akan sangat menyesal ketika melihat dia bersama orang lain."

"Kau mau membantuku?"

"Bahkan minta maaf pun kau minta bantuanku, Uchiha?" sindir Hinata setengah bercanda untuk mencairkan suasana.

"Heei, kau bilang kau ingin membantuku kan..."

Setidaknya usaha Hinata mencairkan suasana sedikit berhasil. Kini binar di mata Sasuke sudah ada yang kembali.

"Itu bukan berarti aku membantumu dalam segala hal kan, kau juga harus berusaha sendiri."

"Tch, bagaimana caranya aku minta maaf padanya?"

Hinata memutar bola matanya. Sasuke yang di sampingnya ini tidak seperti Sasuke yang biasanya, bukan Uchiha Sasuke yang jenius, bukan Sasuke yang merupakan rival sekaligus teman Nara Shikamaru dan Sabaku Gaara. Sasuke yang disampingnya ini seperti bocah berusia dua tahun, yang belum mengerti apa pun.

"Astaga Sasuke! Apa memang seorang Uchiha tidak pernah diajarkan untuk minta maaf? Atau kau Uchiha terbodoh sepanjang sejarah?"

"Aku serius Hinata. Aku tidak tau bagaimana cara minta maaf maaf padanya."

"Kau benar-benar butuh bantuanku yaa?" tanya Hinata dengan wajah pura-pura malas.

"Kalau tidak ikhlas, sebaiknya tidak usah." jawab Sasuke sambil mendengus.

"Hihihi, jangan marah begitu... Baiklah, aku akan membantumu tapi aku hanya akan mencarikan momen yang tepat, selebihnya kau yang harus berusaha sendiri."

"Momen yang tepat?"

"Yaa, minta maaf kan juga perlu momen yang tepat kalau untukmu. Atau kau ingin besok?"

"Aku rasa kau benar. Aku belum siap kalau besok."

'Dasar, minta maaf saja perlu persiapan.'

"Kalau begitu menurutmu kapan momen yang tepat?"

"Hm... Biar kupikirkan dulu. Kau latihan saja dulu."

"Heh, sepertinya kau meremahkanku sekali Hinata."

"Kau kan, memang payah dalam hal ini Sasuke. Terima kenyataan saja."

"Tch. Tapi terima kasih Hinata. Kau memang sahabat terbaikku."

"Sahabatmu kan memang hanya aku." canda Hinata.

Sasuke hanya menanggapinya dengan senyum tulus. Senyum yang hanya diperlihatkannya pada Hinata, sahabatnya.

'Kenapa rasanya sakit? Padahal senyum dan mata Sasuke yang berbinar sudah kembali. Seharusnya aku senang kan? Kenapa malah perih yang kurasakan?'

.

.

.

Sabtu, saat pulang sekolah...

"Kau yakin tidak bisa ikut Ino-chan?" tanya Hinata pada Ino saat keluar kelas.

"Hm, sepertinya tidak bisa Hinata-chan."

"Dia kan ada kencan denga si 'mayat hidup' itu, Hinata" timpal Sakura yang baru keluar kelas.

"Heee, Sai bukan mayat hidup... Setidaknya dia mau tersenyum-"

"Walau tidak tulus." potong Sakura dan Hinata bersamaan sebelum Ino menyelesaikan kalimatnya.

Ino yang merasa jengkel pada kedua temannya itu mempercepat langkahnya menuju tangga.

"Hei hei hei Pig, jangan ngambek begitu... Kita kan hanya bercanda, iya kan Hinata?"

"Iya, Ino-chan. Kami hanya bercanda kok..."

Ino pura-pura tidak mendengar dan malah mempercepat langkahnya.

Hinata dan Sakura mengejar Ino dengan berlari-lari kecil. Saat sampai di depan kelas Sasuke, mereka menolehkan kepala mereka untuk melihat keadaan kelas 2-1. Ternyata sudah sepi, hanya ada beberapa siswa yang sedang piket. 'Sepertinya Sasuke sudah menunggu di parkiran', pikir Hinata.

"Heeeii Ino-pig! Jangan cepat-cepat!" seru Sakura pada Ino yang sudah jauh di depan mereka.

"T-tunggu kami Ino-chan..."

Akhirnya Ino berhenti dan berbalik mengahadap Sakura dan Hinata.

"Baiklah. Aku akan ikut kalian."

"E-eh? Kalau memang tidak bisa, tidak usah tidak apa-apa kok Ino-chan" Hinata jadi merasa tidak enak pada Ino.

"Tidak apa kok Hinata-chan... Masa kau nanti mau jadi obat nyamuk sih?"

"E-eh?"

"Apa maksudmu, Pig?"

"Kau tidak perlu tau, Forehead."

Sakura hanya mendengus sebal.

"Kau yakin Ino-chan?"

"Tentu saja." jawab Ino dengan tersenyum lebar membayangkan hari minggu besok.

.

.

.

"Daaaaah, Sakura-chan, Ino-chan... Sampai jumpa!"

Hinata berlari menghampiri Sasuke yang sudah stand by di depan mobilnya.

"Kau lama sekali."

"Maaf."

"Kau sekarang jadi suka membuat orang menunggu."

"Bu-bukan begitu, tadi aku ada sedikit urusan. Ma-maaf."

"Sudahlah. Ayo pulang."

Mobil Sasuke meluncur meninggalkan KSHS yang sudah mulai sepi.

Tidak seperti biasanya, Sasuke mengawali pembicaraan di antara mereka.

"Siang ini kaa-san mengundangmu untuk makan siang bersama."

"Eh? Memangnya ada acara apa?"

"Tidak ada. Hanya saja okaa-san rasa dia sudah lama sekali tidak berbincang-bincang denganmu."

"T-tapi kalau siang ini aku tidak bisa. Aku sudah janji akan menemani tou-sama makan di luar."

"Tidak biasanya Hiashi jii-san mau makan di luar."

"Entahlah, aku sendiri juga tidak tau. Sepertinya dia ingin menebus kesalahannya pada Hanabi-chan tadi malam karena tidak pulang."

"Hn, kalau begitu lain kali saja. Akan kuberitahu okaa-san."

"Sampaikan permintaan maafku yaa..."

"Hn."

Suasana diantara mereka kembali hening. Mobil Sasuke berhenti di depan rumah Hinata. Hinata membuka pintu mobil hendak turun setelah mengucapkan terima kasih, tapi dia mengurungkan niatnya dan kembali mengahadap Sasuke.

"Apa ada yang tertinggal?" tanya Sasuke datar.

"Tidak. Besok jadi kan?"

Sasuke tampak mengerutkan keningnya mengingat-ingat besok ada acara apa dengan Hinata. Semenit kemudian dia ingat sudah janji pada Hinata untuk menemaninya ke toko buku besok.

"Hn."

Hinata tampak tersenyum senang. Walaupun sebenarnya hatinya sedikit terluka membayangkan apa yang terjadi besok.

"Kalau begitu sebaiknya kau siapkan dirimu, Sasuke"

Sasuke mengerutkan keningya lagi, heran apa maksud perkataan Hinata.

"Apa maksudmu Hinata?"

"Sebaiknya kau sudah banyak latihan akhir-akhir ini."

"Aku tidak mengerti, Hinata."

Hinata hanya tersenyum simpul dan keluar dari mobil Sasuke.

"Sampai jumpa besok Sasuke." katanya seraya berlari memasuki rumahnya.

'Semoga yang kulakukan ini benar Sasuke.'

.

.

.

Minggu pagi . . .

"Hari ini jadi?" tanya orang diseberang sana.

"Iya, jadi Sasuke-kun."

"Hn. Kalau begitu kau akan kujemput jam 10."

"E-eh? T-tidak usah menjemputku."

Sasuke tampak mengernyitkan alisnya di sana. Tapi tentu saja Hinata tidak bisa melihatnya, karena sekarang mereka sedang bicara via telepon.

Hinata yang menyadari keheranan Sasuke segera menjelaskan alasannya.

"A-ano, kau tunggu di taman Konoha saja Sasuke."

Sasuke makin heran mendengarnya. Rumah mereka kan hanya berseberangan, kenapa Hinata menyuruhnya untuk menunggu di taman, pikirnya.

"A-ano, begini Sasuke ; aku tidak ingin kau men-"

"Sejak kapan kau menjadi gagap lagi?" tanya Sasuke memotong penjelasan Hinata.

"A-aku tidak gagap."

"Kau menyembunyikan sesuatu, Hinata."

"T-tidak. P-pokoknya kita beretemu di taman Konoha saja, a-aku akan me-menunggumu disana."

Setelah mengatakan itu, Hinata langsung menutup teleponnya. Dia tidak ingin Sasuke menjadi semakin curiga. Dari dulu dia memang tidak bakat berbohong, tiap kali dia berbohong pasti gagapnya kambuh.

Hinata melihat jam digital disamping sofa. 'Ternyata sudah jam 7, sebaiknya aku segera menyiapkan sarapan dan mandi.'

.

.

.

Setelah selesai sarapan Hinata segera menuju kamarnya untuk ganti baju. Dia menyisir rambutnya dan membiarkannya tergerai. Setelah mengambil tas selempang ungu yang telah disiapkannya dan hp-nya, dia segera ke bawah.

"Kau sudah siap, Ino-chan?"

"Iya. Aku akan segera kesana Hinata. Ini aku sedang perjalanan menjemput si Forehead."

"Oke. Akan kutunggu."

Hinata mematikan hp-nya.

Setelah beberapa saat menunggu Hinata mendengar deru mobil menuju rumahnya.

'Itu pasti mereka.'

Hinata bangkit dari duduknya.

"Hanabi-chan, aku keluar sebentar."

"Aku kan juga mau keluar nee-chan, nee-chan pamit saja sama maid yang ada."

"Kau saja yaa imouto-chan. Aku pergi dulu. Jaa..."

"Huh, dasar nee-chan!"

.

.

.

"Mobilmu ditinggal disini saja Ino-chan, kita ke taman jalan kaki. Aku yakin Sasuke pasti membawa mobil."

"Oke."

"Sasuke?" tanya Sakura yang baru keluar dari mobil. "Apa tadi ada yang menyebut nama Sasuke? Apa Sasuke akan ikut kita?"

"Apa tadi ada yang menyebut nama Sasuke, apa Sasuke akan ikut kita?" cibir Ino menirukan Sakura.

Sakura memutar bola matanya kesal.

"Apa yang ada di kepalamu itu hanya si 'pantat ayam', Forehead?"

"Jangan meledekku Ino, aku serius."

"Tidak ada yang menyebut nama Sasuke, Sakura-chan. Jangan-jangan kau sedang memikirkannya yaa?"

"T-tidak." Jawab Sakura cepat dengan wajah semerah kepiting rebus.

"Hahahaha..."

"L-lebih baik kita berangkat sekarang saja. Keburu siang."

"Hmpf... Oke oke"

Mereka berangkat menuju taman Konoha dengan jalan kaki. Jarak taman Konoha dan rumah Hinata tidak terlalu jauh, hanya perlu waktu paling lama 15 menit untuk sampai disana.

Hinata sengaja menyuruh Sasuke menunggu di taman Konoha karena dia tidak ingin Sasuke tau kalau Hinata mengajak Sakura dan Ino. Ya, dia menjadikan acara ke toko buku hari ini sebagai momen yang tepat untuk Sasuke minta maaf pada Sakura. Walau ada sedikit rasa tidak rela di hatinya, karena momennya bersama Sasuke harus diganggu. Tapi mau bagaimana lagi, Hinata paling tidak suka melihat Sasuke yang lesu, kehilangan citranya sebagai seorang Uchiha.

Dia sudah menceritakan rencananya pada Ino. Dan Ino dengan semangat ingin membantunya. Pada mulanya Ino tidak bisa ikut, tapi setelah dipaksa; lebih tepatnya diejek; Sakura kemarin akhirnya Ino ikut. Kebetulan hari ini Sakura juga ingin mencari buku, jadi kemarin Hinata mengajak Sakura sekalian.

Hinata, Ino, dan Sakura sudah sampai di taman Konoha. Taman Konoha hari ini ramai sekali, tapi itu wajar karena ini memang hari Minggu. Banyak orang yang berakhir pekan di taman yang indah nan sejuk ini. Entah itu sepasang kekasih, sahabat, maupun keluarga. Taman Konoha memang nyaman dijadikan tempat berakhir pekan.

"Dimana kita bisa menemukan si 'pantat ayam' itu di tempat seramai ini?" bisik Ino pada Hinata.

"Kenapa kita kemari Hinata? Bukannya kita mau ke toko buku?" tanya Sakura heran, karena dia tidak tau apa tujuan mereka datang ke taman Konoha ini.

"Mm, sebentar Sakura-chan... Kita sedang mencari seseorang."

"Seseorang?" Sakura mengernyitkan dahinya tidak mengerti.

Hinata mengedarkan pandangannya di sekitar taman itu. Dia mencari sosok laki-laki dengan rambut pantat ayam. Hinata melihat mobil yang sangat dikenalinya, diparkir didepan toko penjual es krim. Dia kembali mengedarkan pandangannya mencari pemilik mobil tersebut.

"Ah, itu dia! Ayo kesana Sakura-chan, Ino-chan..." seru Hinata saat sudah menemukan apa yang dicarinya. Orang yang dicarinya duduk tidak jauh dari air mancur.

Sasuke duduk sambil melihat jamnya. Sudah jam 10 lewat 5 menit, tapi Hinata belum datang. Hinata adalah orang yang tepat waktu. Tidak biasanya dia terlambat, walau hanya 1 menit sekalipun.

"Itu kan..." belum sempat Sakura menyelesaikan gumamannya, tangannnya sudah ditarik Ino.

"Ah, maaf Sasuke, aku terlambat." Hinata meminta maaf pada Sasuke saat sudah sampai dimana Sasuke duduk.

"Hn. Kau lam-" , Sasuke menghentikan kalimatnya saat melihat siapa yang bersama Hinata.

"Sasuke..."

"Sakura..."

Ino dan Hinata hanya tersenyum melihat pemandangan didepan mereka. Tapi berbeda degan Ino yang tersenyum geli, Hinata justru tersenyum pahit melihatnya.

'Aku tidak boleh seperti ini. Ini semua kulakukan kan demi Sasuke.'

.

.

.

~~~~TBC~~~~

Bagaimanakah? Apakah makin ancur? (reader : bangeeet)

Maaf kalo chap ini sangat mengecewakan~

Saya sudah mencoba untuk memperbanyak SasuHina, apakah masih kurang?

Dan untuk cowok yang suka sama Hinata, kita liat di chap depan aja yaa~ soalnya saya udah kepikiran endingnya . .

Ok, saya mau berterima kasih untuk yang sudah review di chap kemarin, terima kasih untuk :

Sora Hinase-senpai, DeFile-ShoSeki (sebener'a saya jg g suka -benci- pair SasuSaku, tp kl g ad itu g jalan~ jd sabar yaa), just wanna 2 comment (i have tried to make SasuHina more than last chapter, what do u think? thx 4 review ^^) , hyuga-chan, ika chan, Nerazzuri, Shaniechan, Yuiki Nagi-chan, uchihyuu nagisa, ulva-chan, Lollytha-chan, Yuki Tsukushi.

Terima kasih atas reviewnya, setiap review yang ada berikan menambah semangat menulis saya. Terima kasih juga untuk yang sudah mem-fave fic aba ini ^0^

Sekali lagi maaf kalau chapter ini mengecewakan~ (*bungkuk")

Thanks for reading , Review please? O.o