Main Cast : Chanyeol X Baekhyun

Other Cast : Kejutan di dalam nyaa :)

Disclaimer : Cerita ini milik author pervert (Gloomy Rosemary)

perhatian: Dalam fic ini mengandung konten dewasa,harap waspada.


Previous Chapter

"Bukankah kau berjani tak akan takut padaku, jika aku membawamu kembali?" Chanyeol masih gigir meraih tubuh mungil itu,berusaha mendekapnya.

Namun sepertinya apa yang dilakukannya salah, ketika bocah manis itu melihat dengan jelas...dua taring di sela bibirnya. Membuat dirinya lebih terlihat seperti monster di mata Baekhyun, bocah itu pun kembali menjerit histeris dengan tubuh menggigil ketakutan.

"A-AAAAAAAHHHHHHHHH!"

Hingga lunglai begitu saja karna lemas..

"B-baekhyun.."


Blood On A White Rose

Chapter 3

.

.

.

Dalam diam Ia mulai menatap getir...sosok mungil yang diyakininya kelak akan mencurahkan senyum dan tawa yang jenaka itu. kini benar-benar menaruh rasa takut untuknya.

Tak cukupkah dirinya menjadi bayang selama belasan tahun lamanya, hanya untuk melindungi Baekhyun?

Menepis semua sakit dan menggantinya dengan senyum manis di bibir mungilnya, meski nyatanya hingga detik ini. Baekhyun sama sekali tak mnyadari kehadirannya bahkan tak menganggap visual dari sosoknya.

Dan jika harus dilugaskan...sesuatu dalam dirinya benar-benar terasa sesak melihat tatapan kedua mata indah itu.

Chanyeol beralih membuka tirai kamar kecil itu, membiarkan bias mentari menyeruak masuk dan sebagian menerpa wajah namja kecil yang masih terbaring nyaman di ranjangnya.

Lebih dari 3 jam lamanya Baekhyun terpejam, selepas histeris melihat wujud aslinya.

"Baekhyun.." Panggilnya pelan, seraya menyentuh pipi tirus Baekhyun. "Bangunlah..." Ucapnya lagi.

Seolah terpengaruh sapuan magis, perlahan namun pasti kedua mata bulat itu mulai mengerjap. Membiasakan diri dengan silaunya bias mentari.

"Ngh.." lenguhnya, dan detik itu pula pemuda tinggi yang sedari tadi menjaganya melenyapkan diri. Sebelum Baekhyun melihatnya dan kembali berteriak ketakutan atau bahkan hingga kehilangan kesadarannya.

..

Baekhyun membuka lebar kedua matanya, merasa asing dengan cara berbaringnya saat ini. Ia benar-benar terbaring nyaman di ranjangnya, seingatnya...beberapa saat yang lalu dirinya berteriak hingga membuat dadanya sesak kala melihat sosok yang baginya mustahil.

Ya! Sosok itu!

Baekhyun bangkit terduduk, dan menoleh kasar...mengedarkan pandangan ke setiap sudut kamarnya.

Hanya hening...

Begitu senyap, Ia tak menemukan sosok mengerikan itu di manapun.

Mungkinkah penggalan dari mimpi buruknya?

Ah! Terlalu naif jika Ia masih membodohi diri dengan menganggap sosok itu bagian dari mimpinya.

Baekhyun melihat dan merasakan dengan jelas, bagaimana cara sosok asing itu bicara dan menyentuhnya.

Dia nyata...

"Nuguya?" gumam Baekhyun, seraya menoleh ke arah jendela...memandang jauh keluar.

.

.

.

.


Ahhaha...kau memberiku nilai uang yang cukup fantastis Tuan" Seorang pria bertubuh tambun, tampak tertawa lepas saat berbicara dengan seseorang dalam sambungan teleponya. Kedua matanya terlihat mendelik penuh tamak, kala mengibas-ngibsakan puluhan lembar uang di wajahnya, dan masih banyak lagi yang tersimpan di kopernya.

"kau tak mengecewakanku?"

"Tenang saja...anak itu akan sangat memuaskanmu Tuan, saat melihatnya kau akan langsung tergila-gila" Ujar Shindong meyakinkan

"Siapa nama anak itu?"

"Ohoooh...Byun Baekhyun" Gumam Shindong, mengeja lugas nama putra dari mendiang kakaknya itu.

"Baiklah...esok aku akan mengambilnya. Pastikan dia patuh padaku" suara pria itu kembali mengalun berat. Membuat Shindong bersenda dan mendelik ke atas tepat pada pintu kamar Baekhyun.

"Ahaha tentu saja Tuan Top...aku tak pernah mengingkari janji"

.

.

.

Shindong bersenandung riang, kala mengemas ratusan kertas berharga itu ke dalam kopernya. Ah sungguh! ia tak pernah menduga...Baekhyun akan menjadi tambang emas baginya. Lihat...semua uang di hadapannya, itu hanya permulaan...

Sebagian uang muka...dan akan masih banyak lagi harta yang kelak mengucur dari kantong pria yakuza yang kerap dipanggil Top itu.

Ia beranjak b erjalan ke atas, menuju kamar Baekhyun...tentunya dengan senyum lebar terpatri di wajahnya.

.

.

"Baekkie...Baekhyunnie" Panggilnya terdengar manis saat mengetuk pintu kamar Baekhyun.

.

.

Tok..Tokk

Baekhyun berjengit, begitu seseorang mengetuk pelan pintunya.

"Baekhyunnie"

Baekhyun makin mengerjap tak percaya, bukankah itu pamannya? Apa ia tak salah dengar...Shindong mengetuk pintunya seperti itu, bukankah pria itu selalu mendobrak kasar kamarnya jikapun Dia ingin melihatnya, dan lagi...panggilan manis itu?

Cklek

Pintu terbuka, dan di sanalah Shindong berdiri dengan senyum manis yang jauh dari dugaannya.

"A-ahjjusi.." gagapnya, seraya bangkit dari ranjang. Takut kalau-kalau Shindong menggertaknya keras.

"Yya...ada apa dengan cara melihatmu itu hm? Apa Ahjjushimu ini semengerikan itu?" canda Shindong, seraya berjalan perlahan menghampiri namja mungil itu.

Baekhyun menunduk dalam, masih merasa asing dengan sikap yang tak biasa dari pamannya itu

"Aiggoya...masih saja kau melihatku seperti itu"

Shindong menepuk pelan surai hazel Baekhyun. "Cha...lekaslah mandi, dan ikutlah denganku"

Baekhyun mengerjap dan menoleh cepat ke arah pamannya. "I-ikut dengan Ahjjusi?"

"Yaa...aku akan membelikanmu pakaian baru, dan ah! bukankah kau sangat menyukai banana ice cream? Ahahah...benar bukan? ah...aku memang tau banyak tentangmu nak" Sanjung Shindong pada dirinya sendiri seraya terbahak.

Baekhyun makin terhenyak, merasa takjub sekaligus tak percaya dengan sikap yang mendadak hangat dari pamannya itu. meskipun sebenarnya, hatinya sempat menyangkal pernyataan Shindong. Baekhyun tak menyukai banana ice cream...tapi strawberry. Ah! jika saja Ia bisa merajuk seperti itu kepada pamannya.

Tapi..biarlah,

Ia cukup antusias dan bahkan kelewat senang dengan cara bicara itu, mungkinkah Shindong telah berubah? Dan kembali menyayanginya seperti dulu?

"Bagaimana Baekhyunnie?"

"N-nde..Ahjjusii" Jawab Baekhyun cepat

"Pakaian baru?"

Baekhyun mengangguk antusias

"Banana Ice Cream?"

Namja mungil itu mulai tersenyum manis, mengiyakan semua pertanyaan Shindong dengan girang. "Ahaha baiklah baiklah...lekaslah mandi, aku akan menunggumu di bawah"

Baekhyun kembali mengangguk antusias, dan begitu riang berlari ke dalam kamar mandinya. Terlihat jelas, namja mungil itu menaruh harapan besar akan sikap Pamannya, tanpa sadar...sesuatu tersirat di balik sikap manis dan penuh kasih dari pria tambun itu.

.

.

.

Sementara itu...

"Kau kembali?"

Chanyeol menghentikan langkahnya, begitu suara berat dari sosok tinggi itu mulai menyapa hadirnya.

"..." Chanyeol tak menjawab, bahkan tak berniat memutar tubuh untuk sekedar balas menatap

Pemuda tinggi itu –Sehun- sedikit berdecak, dan berjalan perlahan menghampiri Chanyeol. "Tsk...jangan membodohi dirimu, menjalin hubungan dengan manusia lemah itu"

Chanyeol mengeras, merasa terusik dengan cara bicara itu. "Berhenti mencampuri urusanku"

Pemuda berwajah tegas itu hanya terkekeh. Merasa...pewaris tahta sekaligus kakaknya itu terlalu lama bermain dengan waktu.

"Dengar Hyung, berhenti mengulur waktu. Temukan pendampingmu dan jadilah Raja di alam ini. Tapi bukan manusia itu...kau tak akan berarti apapun dengan —

"Hentikan omong kosong itu!" Sergah Chanyeol cepat, lalu melenyapkan diri dalam sekejap.

Membuat Sehun semakin terkekeh sinis melihatnya, apapun itu...Ia benar-benar tak mengerti pikiran apa yang tengah merasuki Chanyeol.

Bertahan begitu lama hanya demi manusia lemah itu.

Sebagi seorang pewaris..sudah seharusnya Chanyeol mencari pendamping dengan klan yang sama tinggi dengannya, tentu...Dia harus seorang Vampire. Bukan manusia biasa yang bahkan akan mudah terbunuh hanya dengan sekali tusukan taringnya.

"Bodoh.." Desis Sehun lagi, masih tak mengerti alasan dibalik mengapa Chanyeol mempertahankan manusia bernama Baekhyun itu.

.

.

.

Chanyeol memejamkan sejenak matanya, lalu menatap redup pada ranjang yang masih tak tertata selepas Ia tinggalkan. Masih lekat dalam ingatannya, bagaimana namja berparas cantik itu terlelap di sana.

Ia beralih berjalan mendekati ranjang, meraih kaca mata berframe hitam milik Baekhyun yang tertinggal untuk digenggamnya. "Cepat atau lambat...kau akan menjadi milikku seutuhnya. Ibumu harus menepati janji itu"

.

.

.

.


"Whoaa...lihat, kau benar-benar manis dengan baju ini" takjub Shindong seraya memutar-mutar tubuh kurus Baekhyun di depan cermin besar.

"Tapi Ahjjusi...pakaian ini sangat mahal"

"Aishh...bicara apa kau ini. berapapun harga baju ini...tetap akan kubeli, jika hasilnya seperti ini...lihat kau benar-benar menawan. Aku yakin dia—

Shindong menutup rapat bibirnya, merutuk diri...Ia telah lepas bicara.

"Dia?" ulang Baekhyun seraya menoleh ke arah pamannya, merasa curiga dengan sikap pria tambun itu.

"tck! Ahaha Dia..yang melihatmu tentu saja...siapapun akan berdecak kagum dengan kau yang seperti ini bukan?" tukas Shindong cepat, berusaha mengalihkan pembicaraan. Dan lihat...Baekhyun terlihat lengah percaya dan mudah saja dikelabui seperti itu.

.

.

.

"Ahjjusi.." Panggil Baekhyun begitu Ia dan pamannya berjalan keluar dari pusat perbelanjaan besar itu, sebuah cone ice cream pun bertengger manis di tangan keduanya.

"Hmm?"

"Mengapa tiba-tiba membelikanku semua baju ini?"

Shindong melirik sesaat, menyimpan rapat-rapat niatan terselubung dalam sikapnya penuh kasihnya.

"Ahaha...karna tentu saja aku Pamanmu, Baekkie~aah"

Baekhyun tersenyum cerah mendengarnya, akan menyenangkan jika Shindong terus menerus seperti ini...dan mungkin ada baiknya pula setelah ini Ia mengatakan pada pamannya itu, bahwa ia bertemu dengan sosok mengerikan di rumahnya.

.

.

.

.

Skip Time

Malam telah menjelang, derik serangga malam yang terdengar makin membuat namja kecil itu mnggeliat gusar. Terbesit rasa resah sekaligus takut bertahan di kamarnya. tentu saja...karna Baekhyun ingat benar, Ia bertemu dengan sosok mengerikan itu di kamar ini.

Namja mungil itu menggigit bibir bawahnya sesaat, menarik selimut lalu berjalan perlahan menuju kamar Shindong.

.

.

"Ahjjusii..." Panggil Baekhyun lirih begitu sampai di pintu utama kamar Shindong.

"..." Tak ada sahutan dari dalam, membuat Baekhyun semakin meremas tangan gelisah. Oh sunggun...Ia benar-benar merasa malam ini sangatlah mencekam. "Ahjjusi...bisakah aku masuk?"

CKLEK

Pintu terbuka, membuat senyum cantik itu merekah di bibir tipisnya...namun senyuman itu tak berlangsung lama begitu Ia melihat tatapan masam dari pamannya.

"Ada apa?" Singkat Shindong.

Berawal dari itu, Baekhyun mulai menyadari ada hal yang salah...mengapa sikap itu berubah begitu cepat, sangat kontras dengan beberapa jam yang lalu.

Namun Baekhyun hanya menggeleng berusaha menepis pemikiran itu. Ia masih meyakini...Shindong telah berubah menjadi sosok yang hangat.

"A-ahjjusi...bisakah aku tidur di kamarmu? Aku takut dengan kamarku,...karena aku melihat seorang monster di sana"

Shindong mengernyit. Celoteh macam apa kali ini? Monster?

"Hahaha...apa kau bercanda Nak? Aku tak memelihara monster di rumahku" Ujar Shindong berusaha menyamarkan sikapnya.

"Tapi Ahjjusi...aku benar-benar melihatnya, bahkan Dia sempat mambawaku ke—

"Dengar Baekhyun, aku sangat lelah...sekarang tidurlah di kamarmu sendiri. Ada banyak persiapan yang harus kulakukan esok hari, jadi biarkan aku tidur"

BRAK

Pintu terbanting, menyela...semua racauan yang sesungguhnya ingin Ia utarakan pada Pamannya itu, Baekhyun hanya menghela nafas berat. Pamannya mungkin benar-benar lelah...hingga enggan berbicara bahkan tak mengizinkan dirinya masuk.

Namja mungil itu menyeret langkahnya pelan, tak ingin kembali ke kamarnya dan berakhir dengan meringkuk di atas sofa...hingga terlelap di sana.

.

.

.

TAP

Seorang pemuda terlihat menapakkan kaki di sudut ruangan itu, perlahan mengedarkan pandangan ke sekitar sebelum akhirnya berjalan mendekati sosok mungil yang meringkuk di atas sofa.

"Mengapa kau tidur di sini?" Gumamnya sembari menyentuh pipi Baekhyun, sangat dingin.

Membuatnya yakin Baekhyun tertidur di tempat itu dalam waktu yang cukup lama.

Pemuda itu –Chanyeol- beralih menyusupkan kedua tangan kokohnya di punggung dan paha Baekhyun, lalu mengangkatnya bridal dengan mudahnya.

Dalam sekejap...keduanya melesat, hingga tiba di ruangan hangat-kamar Baekhyun.

Vampir itu tampak tersenyum tipis, begitu membaringkan Baekhyun di ranjangnya dan menarik selimut untuknya...seolah memang terbiasa melakukan hal semacam ini untuk namja mungilnya.

Detik berganti menit, terus bergulir hingga bermenit-menit lamanya, kendati demikian Pemuda vampire itu tetap betah berlama-lama memandangi Baekhyun. Seakan paras cantik itu semakin membuatnya jatuh terpana.

Chanyeol mulai tersenyum...

Sangat manis, bahkan terlalu manis dengan hanya melihatnya terlelap di hadapannya.

Jika saja...ia bisa melihat sisi Baekhyun yang seperti ini, saat namja cantik itu membuka mata dan menatapnya dengan kedua mata indah itu, mungkin Ia tak perlu lagi menawar waktu. Hanya untuk menunggu bocah mungil itu menerima kehadirannya.

Chanyeol menekan dagu Baekhyun ke bawah, hingga bibir mungil itu sedikit terbuka. Ia tersenyum getir...sebelum akhirnya melumat lembut bibir Baekhyun. Menyesap rasa manis...yang tercecap dari ciuman kilat itu.

Selalu seperti ini, mencuri satu kecupan manis di setiap malamnya. Ia tak pernah menyesal atau bahkan merasa bersalah akan perbuatan ini.

Bagi vampire tampan itu, Ia telah mengklaim Baekhyun sebagai miliknya...sejak jauh hari sebelum Baekhyun terlahir di dunia ini.

"Hn...jadi anak ini yang kau pilih?"

Chanyeol terbelalak lebar, dan melepas cepat pagutan bibirnya begitu suara seseorang datang menginterupsinya. Dan makin mengeras saat tau siapa pemilik suara tersebut.

"Kau!" Gumam Chanyeol, seraya berdiri menghadang seolah tengah menyembunyikan Baekhyun dari sosok pendatang itu.

"Tck...tenanglah Hyung, apa kau pikir aku akan menerkamnya" kekeh pemuda bernama Sehun itu, Ia berjalan pelan mendekat tak peduli Chanyeol makin menatapnya tajam.

"Tapi ku akui, anak itu memiliki aroma yang mengesankan..." Sehun merunduk, namun tertahan begitu Chanyeol mencengkeram pundaknya. Memaksanya untuk menjauhi Baekhyun. "Cukup menakjubkan, kau mampu menahan diri dengan aroma seperti ini" Desis Sehun lagi, perlahan mulai terlihat taring tajam mencuat dari sela bibirnya.

"MENJAUH DARINYA!"

BRAKK

Chanyeol menghempas kasar tubuh kokoh itu, hingga membuat Sehun terpental keras menghantam sebuah almari di belakangnya.

Namun bukannya merintih, sosok tampan itu hanya berdecih dan terkekeh geli. "Hn...aku hanya mengikuti instingku" Candanya seraya menegakkan tubuh, meski nyatanya Ia memang tau...sikapnya telah membuat pemuda tinggi di hadapannya makin meradang.

"Apa tujuanmu?" desis Chanyeol, tanpa mengalihkan tatapan tajamnya, sesungguhnya Ia tau, Baekhyun bukanlah satu-satunya alasan yang membuatnya kemari.

Sehun menyeringai mendengarnya "Kuharap kau tak sebodoh ini, mengabaikan pergerakan musuhmu"

Chanyeol mulai mengernyit , dan berdecak pelan begitu menangkap kemana arah pembicaraan itu. terlalu membuatnya jengah jika itu berkaitan dengan tahta.

"Kau adalah pewaris tahta, dan Zico—

"Miliki tahta itu jika kau menginginkannya" Desis Chanyeol

Membuat pemuda di seberangnya berdecih geli melihatnya. "Jika aku memiliki garis takdir itu, tentu aku akan merampasnya darimu, tapi sayangnya—

Sehun menggantungkan kalimatnya dan beralih menatap lekat pria yang masih memandangnya angkuh. "Hanya pecundang sepertimu yang memilikinya" Lanjutnya sarkastis, beraharap sikapnya kali ini benar-benar banyak berpengaruh dan memecut emosi Chanyeol. Oh ayolah..Ia tau benar seberapa keras kepalanya Pangeran Sulung itu, sebagai satu-satunya pewaris tahta tentu Chanyeol menjadi satu-satunya harapan.

Ya...harapan, semenjak penyatuan kedua klan itu terlanjur dilakukan oleh Ayahnya.

Sejak awal, Sehun memang tau...wanita dan putranya yang bernama Zico itu memiliki ambisi besar untuk menguasai alamnya. Namun mereka terlalu lihai melangkah halus di balik topeng muslihatnya,hingga Ayahnya benar-benar terperangkap dalam tipu daya itu

"Ayah memanggilmu" Ucap Sehun kemudian, melugaskan apa tujuan sebenarnya yang membawanya menemui saudaranya itu.

"Tinggalkan manusia itu, jika kau tak menginginkanku mengincarnya!" Sentak Sehun lagi, begitu membaca pergerakan Chanyeol yang ingin mendekati Baekhyun. Sontak ancaman itu membuat Pria yang tak banyak bicara itu kembali mengeras mendengarnya.

"Kau tau Hyung, aku tak pernah bermain dengan ucapanku"

Chanyeol mengepalkan kedua tangannya erat, satu sisi Ia benar-benar terusik dengan kehadiran Sehun yang begitu picik mencampuri hidupnya, tapi satu sisi yang lain pula Ia tak bisa menyangkal Sehun. Ucapan namja yang memilki darah yang sama dengannya itu, terlalu telak untuk disangkal

Ya...Ia tau benar, posisi dan beban macam apa yang kelak berada di bawah kuasanya.

Tak hanya untuk mempertahankan klan-nya, tapi juga keselamatan Baekhyun pun berkaitan dengan semua ini.

Chanyeol beralih memandang namja mungil yang masih terbuai dalam bunga tidurnya, menatapnya begitu teduh seakan tengah berbisik, Ia tak bisa menjaga Baekhyun untuk sementara ini. senyum tipis sedikit tersimpul di bibir merahnya, sebelum akhirnya pemuda vampire itu benar-benar melenyapkan diri.

Sehun berdecih, lalu menatap Baekhyun dengan sorot yang sepenuhnya dingin. "Aku akan melenyapkanmu, jika kau menjadi penghalang untuk kami" desisnya seraya menyeringai tajam, kemudian lenyap dalam sekejap.

.

.

.

Beberapa Jam Kemudian

"L-Lagi?" Gumam Baekhyun seraya meremas erat selimutnya, menariknya ke atas hingga menutupi setengah wajahnya. Oh sungguh...tubuhnya benar-benar meremang kali ini. mendapti dirinya telah terbaring nyaman di ranjangnya. Baekhyun ingat betul...dirinya tertidur di atas sofa ruang tamu, bukan kamar ini.

"JANGAN MENGGANGGUKU HANTU!MONSTER!" Teriaknya keras, seakan-akan sosok yang dianggapnya mengerikan itu memang di dalam kamarnya.

"YACK! BAEKHYUN!" Teriak Shindong dari ruangan yang lain, membuat namja mungil itu menenggelamkan diri di dalam selimut lalu memejamkan matanya erat, hingga akhirnya kembali tidur begitu saja karna rasa kantuknya.

.

.

Esoknya

Baekhyun mulai menggigiti bibir bawahnya sendiri, menciptakan semburat merah di bibirnya yang mulai memucat pasi. Bukan...

Bukan karena Ia sakit, melainkan...sudah lebih dari satu setengah jam lamanya namja mungil itu terkurung di dalam kamar mandi, membuat tubuh kurusnya kian menggigil di bawah guyuran shower.

"A-Ahjjusiii...a-aku sudah membersihkan tubuhku,b-buka pintunya" seru Baekhyun terbata, sambil sesekali mencoba memutar knop pintu kamar mandi. Namun berbuah percuma, jangankan terbuka ...berdecitpun tidak.

"Yyaaa~ anniyaa itu belum cukup, bersihkan tubuhmu lebih lagi...bersihkan semuanya ahahaha, kau dengar Baekkie~ jangan mengecewakan Pamanmu ini" sahut Shindong dari luar. Membuat Baekhyun benar-benar tak mengerti, mengapa Pamannya mendadak bersikap seperti ini.

"Di—ngin Ahjjusii" Gagap Baekhyun lagi, alih-alih menaruh simpati...Shindong rupanya lebih memilih mengunci pintu itu lalu beralih mengangkat panggilan telepon dari seseorang yang dikenalnya.

.

.

"Ah ye yeobbsseyo...Tuan Top?"

"Tak lama lagi, aku akan tiba di rumahmu. Bawa anak itu untukku, dan jangan membuatku menunggu lama"

Shindong tertawa renyah mendengarnya," Baik Tuan, anda hanya cukup menikmati apa yang telah kupersiapkan dengan sangat sempurna"

"Hm...bagus"

PIP

Shindong berjalan ringan mendekati pintu kamar mandi Baekhyun, masih dengan senyum terkulum...Pria tambun itu membuka pintu tersebut. "Cha...Baekkie~ apa kau sudah selesai?" Ucapnya seraya mengetuk-ngetuk pintu.

Baekhyun yang sedari tadi meringkuk kedinginan itu cepat-cepat bangkit dan berlari mendekati pintunya. "Ahjjusii...b-buka pintunya"

Shindong terkekeh mendengarnya, sejujurnya Ia memang sengaja mengurung Baekhyun seperti ini, hanya untuk menebas waktu, dan mencegah Baekhyun mengetahui semua rencananya. Meski sebenarnya mustahil bocah sepolos Baekhyun akan mencium niatan tersembunyi itu. lihat saja...anak itu begitu termakan dengan sikap palsu yang Ia tunjukkan.

"Baiklah, aku akan membuka pintu ini dan keluar dari kamarmu. Tapi sebelum itu...pastikan kau memakai baju yang kubelikan kemarin. Arrasseo?"

"N-nde Ahjjusii~" Jawab Baekhyun seraya menganggukkan kepala cepat, ia tak ingin banyak bertanya perihal untuk apa dirinya harus mengenakan baju baru seperti itu, yang jelas saat ini baekhyun hanya ingin keluar dari ruangan lembab nan dingin itu, oh demi apapun itu...mengguyur tubuh dengan air dingin di ucara sepagi ini, benar-benar serasa membekukan persendiannya.

CKLEK

Pintu terbuka, secepat itu pula Baekhyun melangkah keluar dan mendapati kamarnya kosong. Pamannya benar-benar meninggalkan kamarnya kali ini. Tak banyak menyiakan waktu dan membuat tubuhnya makin menggigil hebat, namja mungil itu beralih meraih baju yang dimaksud Shindong dan mengenakannya secepat yang Ia bisa.

.

.

.

Skip Time

"Woaahh...Daeebak"Takjub Shindong begitu melihat Baekhyun melangkah perlahan keluar dari kamarnya.

Namja mungil itu tersenyum riang melihatnya, lalu berlari kecil mendekati Shindong."Ahjjusi...apa kau ingin mengajakku pergi ke suatu tempat?" Tanya Baekhyun. Seraya menatap penuh binar pada pria yang dianggapnya sebagai ayah itu.

Seolah tersedak dalam tawanya,Shindong terdiam sesaat lalu tersenyum ramah pada bocah manis itu. "Oho...tentu saja, jika tidak...untuk apa aku memintamu berpenampilan seperti ini hmm?"

"Jinjjayo?"

"Yyaaa...kau akan bersenang-senang" Ujar Shindong seraya mendorong pelan bahu Baekhyun, lalu membimbingnya melangkah menuju pintu utama rumah itu.

"Bersenang-senang? Ah...apa Ahjjusi ingin mengajakku ke taman hiburan? Terakhir kali aku kesana..saat usiaku 8 tahun, sangat lama sekali bukan?...aku benar-benar ingin—

Celoteh riang itu terhenti, begitu pintu utama terbuka dan disanalah Baekhyun melihat mobil mewah terparkir di depan rumah Pamannya. Namun bukan mobil itu yang membuatnya diam tercekat, melainkan pada sosok pria yang berada dalam mobil itu. Siapa dia? Samar-samar Baekhyun merasakan firasat buruk dari apa yang dilihatnya kini.

"A-ahjjusi.." Panggil Baekhyun terbata, seraya meremas lengan Shindong...seolah tengah menuntut penjelasan dan meminta Shindong meyakinkan dirinya, bahwa pria asing itu tak ada sangkut pautnya dengan dirinya.

"Waeyoo? Ada apa dengan wajahmu itu huh? Tersenyumlah...karna kau akan bersenang-senang" Sergah Shindong sambil menyentak tangan Baekhyun lalu memegang kedua bahu namja mungil itu, untuk didesaknya melangkah ke depan.

"Tentunya dengan Pria kaya itu...Baekhyun~ah" Bisik Shindong lirih, namun cukup telak membuat Baekhyun terbelalak lebar bahkan kini mulai meronta ingin melepaskan diri.

"A-andwae...aku tidak...ti—dak Ahjjusi" Racau Baekhyun seraya menggelengkan kepalanya, Ia begitu kacau ingin melepaskan pegangan tangan Shindong. Demi apapun itu, Baekhyun benar-benar takut saat ini.

"Lepaskan Ahjjusiii!" Jerit Baekhyun pada akhirnya, dan menggigit tangan Shindong hingga cengkeraman itu terlepas dari lengannya.

"Argh! SHIT!" Umpat Shindong mengeras.

Baekhyun tak menyiakan kesempatan, dan memaksa lari dari tempat itu

Tapi naas...

Langkahnya tersendat begitu saja, kala dua pria dewasa berpawakan kekar menahan tubuhhnya. Dan memasung pergerakannya, tak memberinya kesempatan untuk melawan.

"Bawa anak itu ke dalam" Titah Pria dalam mobil. Membuat Baekhyun semakin terbelalak nanar dan meronta payah bahkan berulang kali pula Ia memanggil manggil Shindong, berharap Pamannya itu lekas menyelamatkannya. Namun..hanya tatapan dingin yang didapatnya, bahkan Pria Tambun itu kini mulai memalingkan tubuh meninggalkannya.

"TIDAK! AHJJUSIII! LEPASKAN AKU! AHJJUSH~ BUAGH

"Nghhh" Baekhyun lunglai tak sadarkan diri, begitu salah seorang bodyguard kekar itu memukul keras tengkuknya. Lalu membawanya dengan mudahnya, masuk ke dalam mobil mewah milik Top.

.

.

.

.


Beberapa Jam Kemudian

Semilir angin kian berhembus melalui sela jendela yang memang sedari tadi dibiarkan terbuka, menyentak hawa beku hingga membuat namja mungil yang terpejam itu, mulai terusik dan menggeliat tak nyaman.

"Ugh..." Pelan namun pasti kedua mata itu mengerjap, merasa seuatu yang dingin tengah menahan pergerakannya. Ia mengernyit, lalu membuka lebar kedua matanya, kala menyadari semua memang berjalan salah, sejak kapan Ia terbaring di ranjang berukuran besar itu?

Baekhyun pun makin terbelalak panik, begitu melihat dua borgol memasung erat kedua tangan di atas kepalanya. Apa yang sebenarnya terjadi?

"Lama sekali tidurmu hm"

Namja mungil itu tersentak, dan menatap ciut seseorang pria tinggi kekar mulai mendekatinya, meski samar namun Baekhyun yakin...sosok itu adalah pria yang berada dalam mobil beberapa saat lalu.

"A-ahjjusiii! Shindong Ahjjusiiii!" Panggil Baekhyun spontan, seraya meronta...berusaha melepas borgol itu meski nyatanya semua hanya berbuah nihil. Besi itu hanya semakin membuat tangan putihnya memerah lebam.

"Tsk! Siapa yang kau panggil hm?"

"AHJJUSIII!" Lagi, Baekhyun semakin ketakutan dan memanggil Shindong lebih keras. Berharap pamannya itu lekas datang dan membawanya pergi dari tempat pria asing itu.

"Percuma saja, Dia sudah menjualmu padaku" Tukas Top, sembari berjalan mendekat dan menduduki ranjangnya, membuat namja mungil itu makin menggeleng kacau, dan berusaha beringsut menjauh. Namun tertahan begitu Top, memenjarakan tubuhnya hanya dalam sekali gerakan.

"Dan aku, telah membayar mahal untuk tubuhmu ini" Lanjutnya lagi seraya menyentuh wajah Baekhyun, menyusuri paras manis itu dari dahi hingga ujung dagunya. "Sempurna..."

Baekhyun menggeleng kasar, mustahil pamannya melakukan hal sekejam itu padanya. Ia kembali berontak, tak peduli pergelangan tangannya makin tergores karna perlawanannya. "Tidak! Kau Pembohong!" Seru Baekhyun, membuat pria kekar itu terkekeh pelan mendengarnya.

"Oh ya? Baiklah...aku sendiri yang akan membuatmu mengerti" Desis Top, kali ini dengan melepas satu persatu kancing kemeja Baekhyun. Membuat namja mungil itu makin menggigil takut, sesungguhnya Ia tau kemana gerak gerik pria itu akan membawa nasibnya.

Baekhyun kembali menggeleng, samar-samar bulir bening mulai merembas dari sudut matanya. Ia tau, dirinya yang lemah tak memiliki daya apapun untuk melawan, terlebih dengan tangan terpasung sedemikian eratnya,

Namun, sempat Baekhyun menyisipkan harapannya. Bahwa pria itu masih memiliki nurani untuk tak menyentuhnya terlebih menyakitinya detik itu juga.

"Lepaskan aku...K-ku Mohon" Pinta Baekhyun

"Menangislah...aku ingin menikmati apa yang telah menjadi milikku manis" Kekeh Top, seraya menyentuh dagu Baekhyun, menekannya hingga bibir mungil yang bergetar itu sedikit terbuka.

Baekhyun membulatkan mata lebar, dan -BUAGH-

Ia reflek memendang perut Top, hingga membuat namja bermata tajam itu mengerang kesal.

"Brengsek" Umpat Top seraya menahan kaki Baekhyun. "Sepertinya sedikit hukuman, bisa membuatmu patuh padaku" Lanjutnya lagi kali ini dengan melucuti semua pakaian Baekhyun, tak ayal namja mungil itu pun berteriak kacau bahkan menangis.

.

.

.

"A-andwaee! Aghh!" Baekhyun hanya mampu membusungkan dada dan menjerit payah, begitu pria itu mulai menahan kedua kakinya, membukanya lebih lebar tanpa perlawanan berarti dari namja kecil di bawahnya. Apalagi yang bisa Baekhyun lakukan dengan tangan tertahan seperti itu, terlebih pukulan pria berotot beberapa jam yang lalu di tengkuknya masih menyisakan denyut pening yang hebat di kepalanya.

Baekhyun diam tercekat, begitu pria di atasnya kini beralih menunjukkan sebuah benda hitam berbentuk oval tepat di depan matanya. Meski tak tau benda apa itu, tapi Baekhyun yakin...benda itu ancaman untuknya.

"J-Jauhkan benda itu!" Pekik Baekhyun, masih berusaha mengatupkan kedua pahanya. Membuat Pria itu semakin tergoda, dan kini membawa benda asing itu tepat di bibir rektum Baekhyun.

"J-jangan! K-Kumohon! Ja-ngan laku-kan—

Tubuh kurus itu seketika menengang dengan kepala mendongak ke atas, begitu Top melesakkan benda asing itu ke dalam rektumnya hanya dengan sekali dorong.

Baekhyun menjerit perih, dan makin menggelinjang kacau kala benda itu mulai bergetar maksimum di dalam lubang analnya.

"A—AHHHH!"

"Nikmati saja, ini yang akan kau dapatkan jika berani melawanku"

.

.

.

.

seringainya semakin terkembang tajam, bahkan kerap kali Ia terkekeh pelan. Terlalu puas melihat sosok ramping di hadapannya makin menggelepar dengan tubuh penuh peluh, dan sari yang mulai merembas banyak dari genitalnya.

"Menakjubkan.." Bisiknya, saat melihat Baekhyun mencapai klimak dengan cepatnya hanya dengan permainan vibrator itu. Bahkan Ia semakin terpuaskan, menyadari Baekhyun begitu payah untuk bernafas karna orgasme untuk ke sekian kalinya.

"A-arghh! Henti—kann AHH!"

.

.

.

GREBB

Seseorang tiba-tiba saja meremukkan borgol, menarik tubuh Baekhyun dan mendekapnya erat, di saat Baekhyun kembali mengejang karna klimak hingga mengenai pakaian pria itu.

Walau tak sepenuhnya melihat, namun Baekhyun menyadari kehadirannya...dan berusaha payah meremas pakaian sosok itu. "To—longh...NNH! AGHHH!" Lagi, Baekhyun tak mampu menahan letupan orgasme itu, membuatnya semakin kebas dan melemas.

"SIAPA KAU!" Top yang sedari tadi terperangah karna kehadirannya yang tak terduga, kini mulai berteriak geram dan mengeluarkan senjata apinya.

Meski diam, namun terlihat jelas kilat amarah dari mata ambernya. Namja bernama Chanyeol itu sama sekali tak menaruh hirau dan lebih memilih mngeluarkan vibrator yang bersarang dalam rektum Baekhyun dengan jarinya. Tak peduli Baekhyun melenguh kesakitan karenanya.

Menariknya paksa lalu membantingnya keras, hingga benda yang bergetar kasar itu remuk seketika.

.

.

'DORR'

Letupan senjata mulai menggema, Top tak main-main mematuk senjata apinya...membuat peluru itu benar-benar menembus dada Chanyeol. kendati demikian, tak ada yang berubah...

tak ada erang kesakitan atau bahkan tubuh yang tumbang akibat timah panas menembus jantung.

"K-kau—" Gagap Top, begitu melihat Chanyeol begitu tenang menyeka darah pekatnya, lalu luka itu lenyap dalam sekejap.

"Kau sedang bermain denganku?" desis Chanyeol dingin.

Top tak tinggal diam, dan kembali menembbakkan pistolnya—DORRR

Tembakkan yang sama di tempat yang sama...

Chanyeol hanya menyeringai, dan beralih melesat mendekat tanpa melepaskan rengkuhannya di tubuh Baekhyun.

"Simpan pelurumu. Itu tak akan membunuhku" Kekeh Chanyeol meremehkan.

Top yang lengah karna rasa tak percayanya, membuat Chanyeol begitu leluasa merampas senjata api pria itu dengan mudahnya.

"Tapi tidak jika itu menembus dagingmu" Gumam Chanyeol seraya mengarahkan pistol itu di kaki Top, menarik pelatuk dan—

"ARGHHHTTTT!" Erangan hebat itu lolos begitu saja, menyertai letupan keras dari timah panas yang menembus kedua pahanya sekaligus. Tak ada peralawanan berarti selain raungan dan darah yang semakin deras meremas dari pusat luka itu. Top benar-benar jatuh bersimpuh saat itu juga.

.

.

Chanyeol hanya melirik sesaat pria yang masih meraung di bawahnya itu, Ia memang tak berniat membunuh. Cukup melihatnya kesakitan seperti itu,sudah lebih dari cukup meredam amarahnya.

Ia beralih menatap Baekhyun, detik itu pula Ia mengernyit menyadari Baekhyun rupanya tengah memandangnya. Oh sungguh! Ia benar-benar tak menginginkan namja kecil itu berteriak ketakutan setelah ini.

"Tenanglah aku tak—

"Go—mawo"Gumam Baekhyun lirih, membuat pria yang tengah merengkuhnya itu terhenyak, nyatakah ini? Baekhyun benar-benar bicara padaya.

Vampire itu sedikit menyimpul senyum. sebelum akhirnya menarik blanket dan melilitkannya di tubuh Baekhyun yang polos. "Aku akan membawamu pulang"

Namun langkahnya terhenti, begitu Baekhyun berbisik lirih dengan kepala tertunduk. "Mengapa semua orang meninggalkanku?"

Bocah mungil itu kembali merasa ciut, bukan—

Bukan karena rasa cekam akan takutnya, melainkan...lebih pada meratapi hidupnya yang seoalah siapapun benar-benar tak menginginkannya.

"M-mengapa Shidong Ahjjusi membuangku?" Lolos sudah air mata yang sebelumnya begitu payah Ia tahan, membuat pemuda yang merengkuhnya itu kian menatapnya getir. Sesungguhnya Ia tak tau, apa yang sebenarnya terjadi pada Baekhyun selepas dirinya kembali ke alam Vampirenya.

Chanyeol hanya memejamkan mata sesaat, lalu kembali menatap Namja mungil itu lekat...jika saja Baekhyun tau...hanya ada satu pria yang tak pernah sekalipun meninggalkannya.

Ya...Jika saja Baekhyun menyadarinya

"Aku—

"Bunuh aku Tuan! B-biar aku bersama kedua orang tuaku...BUNUH AKU!"

.

.

.

Tbc

.

.

Next Chap

Baekhyun menatap kosong, tak ingin menaruh hirau pada namja yang makin panik mendekatinya. "Buang pisau itu! B-Baekhyun dengar—

Baekhyun melirik sesaat, sebelum akhirnya menikam dirinya sendiri dengan pisau itu.

"Ughh~ "

"Shit! Mengapa kau tak mendengarku!"

.

.

.

Annyeooong Gloomy datang lagi membawa Ch 3 nya...

untuk:

SHINeexo , YuRhachan , Park RinHyun-Uchiha, light195, chanyeol's kid , chococream2 , Monster 614 , OX Wind , minghyun28 , kirarabaekyeo, chanbaekmama , , Shengmin137 , vkeyzia23 , Sanshaini Hikari , scorcap65 , megujoy ,ByunJaehyunee, sherli898, ohsehyunie , daebaektaeluv , Chanyeoltidakmesum , istiqomahpark01, Ryuuki621 , kiyasita , bbhrealpcy, Hyo luv ChanBaek , Siti409 , dhantieee , BI Pybi , , yehethun, Byunsilb, Ryuuki621 , brokeangle ,meilan124 , secretchanbaek , neha , Riskakai88 , dotmon12, lily , minami Kz , kazukashin , baekhee , yeolchorom , FlashMrB, Whitetan, ChanChuBaek dan all Guest

Terima kasih sekali atas reviewnya kemarin, sangat bahagia membaca review chingu reader :)

Mohon Reviewnya lagi untuk Chap 3 ini. bila ingin update Asap hihi

Gomawoooo

Saranghaeeeeeeeeeeeeeeee