SCARS
Summary: Sebatang kara, tanpa keluarga. Kehidupan yang sulit dan cinta yang harus terpisah paksa darinya. Kebaikan yang selalu buatnya sengsara. Pria itu sangat ia takuti dan benci. Membuatnya menangis, sakit. Hidup yang penuh luka dan derita. Akankah ia masih bisa bahagia?
Disclaimer: Naruto just Masashi Kisimoto punya
Rated: M
Chap 3
Sedikit info:
Uchiha Sasuke 27 th
Hyuuga Hinata 21 th
Uzumaki Naruto 24 th
Haruno Sakura 22 th
Sabaku no Gaara 26 th
Yamanaka Ino 22 th
Happy reading ^^
Perapian di ruang baca ini sungguh membantu penglihatan manusia yang ada disana. Lampu yang sengaja dimatikan dan jendela yang tertutup rapat. Menunjukkan bahwa yang punya rumah menginginkan suasana hening dan tenang malam hari. Sosok yang memakai selimut di punggung itu membenahi kaca mata bacanya dan beralih pada sosok lain yang hanya diam menatap perapian. Suasana hening yang kental tak mengganggu maupun membuat canggung mereka berdua. Justru saat seperti itulah yang mereka sukai. Ketenangan.
"Jadi, kau berhasil menjerat sebuah perusahaan lagi?" yang diajak bicara tak bergeming dan hanya menoleh ke arah sosok berambut merah yang melemparkan sebuah buku ke meja. Sosok itu memiliki kulit pucat serta wajah yang menawan. Terlihat tegas dan dingin. Garis wajah yang semakin terlihat ketika rupa itu terkena cahaya yang berasal dari perapian. Tipe orang jenius dan tak acuh seperti Sasuke.
"Namikaze.. kah?" Sasuke menekan hembusan napasnya dan beralih pada perapian kembali.
"Kenapa? Kau tak suka?"
"Heh, aku tak peduli dengan semua urusanmu. Hanya saja, kau harus memperhatikan sedikit sisi manusiamu. Kau bagai robot saat ini," berbeda dengan Sasuke, Gaara –nama sosok berambut merah itu- adalah orang yang lebih rasional dan bijaksana. Meski dingin, ia memiliki wibawa dan jiwa kepemimpinan yang lebih tinggi. Yah, walau jika hal itu hanyalah hal yang bersangkutan dengan dirinya maupun nama baik keluarganya.
"Kau sudah tahu, bukan?" Sasuke menolehkan kepalanya ke arah Gaara.
"Sudah lama hati manusia yang kumiliki telah mati,"
Gaara terkekeh demi mendengar ocehan Sasuke. "Ah, kudengar Namikaze itu punya aliansi erat dengan Uzumaki corp. Ma, penerus masing-masing perusahaan itu adalah suami istri," Sasuke menaikkan salah satu sudut bibirnya sedikit. "Jika yang mau kau katakan adalah kalau ingin memaksimalkan cengkeramanku terhadap Namikaze aku harus membekukan Uzumaki pula, aku sudah tahu itu sejak awal,"
"Maka dari itu aku memperingatkanmu tentang sisi manusiamu, Sasuke-san."
"Kau tak perlu khawatir, Gaara. Aku sudah membuang sisi itu sejak lama. Lagi pula, jika saja keluargamu tidak memiliki peran andil dalam 'masa-masa' itu, mungkin perusahaanmu sudah berada pada cengkeramanku dari dulu,"
Gaara juga menunjukkan sedikit smirknya. "Kau benar-benar licik. Ah, sudah larut malam. Aku ingin pulang," Gaara berdiri dari sofa diikuti Sasuke. Ia mengantar pemuda yang setahun lebih muda darinya itu hingga pintu depan. Mereka sering bertemu dan menghabiskan waktu 'hening' bersama, namun tidak bisa dikatakan bahwa mereka adalah individu yang dekat. Mereka hanya merasa memiliki beberapa pesamaan yang tak bisa dipahami orang lain. Gaara cinta ketenangan dan Sasuke suka keheningan. Sama, namun sedikit berbeda.
"Sampaikan salamku pada Temari-san dan Kankurou," Gaara mengangguk sebelum lenyap dari pandangan Sasuke dengan Ferari orange-nya.
"S-ss-sakura...c-chan...?"
"Hi... H-hinata?"
Hening beberapa saat.
Sakura seolah tak memepercayai penglihatannya.
Hinata terkejut bukan main mendapati gadis itu ada di lingkungan sekitar rumahnya.
Mereka sama-sama diam. Dengan mulut terbuka. Namun tak bisa dipungkiri, ada kilat kerinduan dalam mata azure dan amethyst itu. Hingga belum satu suara pun keluar dari keduanya, Hinata dikejutkan dengan tubrukan yang disusul oleh pelukan erat sahabat karib masa sekolahnya. Tangan itu bergetar. Tubuh itu bergetar ketika memeluknya. Pundaknya terasa basah, yang membuat matanya mau tak mau ikut pula mengeluarkan air mata.
"Gomen Hinata... Gomen..." gadis pink itu menumpahkan segalanya.
"Gomen merebut Naruto darimu... Gomen melukai perasaanmu..."
"Ti-tidak apa-apa Sakura-chan... Itu bukan salahmu... Justru aku yang bodoh menyukai Naruto-senpai yang j-jelas-jelas menyukaimu..."
"Hiks!" Sakura merangkum wajah manis di depannya. Sedikit mengeluarkan senyum sebelum air yang lebih deras keluar dari matanya.
"Kau semakin cantik saja," Ia peluk erat lagi tubuh gadis mungil itu. Seakan ingin melindungi dan tak membuatnya tersakiti.
Hinata tertawa kecil. Ia tarik lengan Sakura agar bisa melihat wajahnya.
"Ne, a-ada yang ingin kuceritakan padamu. Ba-banyak sekali. Banyak hal yang ingin kuceritakan,"
.
.
.
.
.
Sakura tak henti-hentinya mengeluarkan air mata sedari ia pertama bertemu Hinata hingga gadis indigo itu menceritakan semua kisah hidupnya. Bahkan Ino yang baru bertemu dengannya pun sudah hampir menghabiskan pasokan tisunya.
"Hah..." menghela napas berat, Sakura mengelus pundak mungil yang bergetar di sampingnya.
"Maaf, membuatmu merasa menjadi beban bagiku. Maaf pula, jika hal yang kulakukan untuk membuatmu tidak membenciku malah semakin menambah keterpurukanmu. Maaf..."
"Daijobu Sakura-chan... Kita hanya perlu mengabari Naruto-senpai, jika kita sudah baikan lagi,"
"Ya, kau benar. Si baka penggila ramen itu pasti akan langsung kegirangan ketika mendengarnya,"
"Umh... a-atau mungkin, ia akan bersikap lebih tenang dengan hanya tersenyum senang,"
"Heh? Apa maksudmu?"
"Sa-sakura-chan mungkin tak tahu, ka-kalau Naruto-senpai sekarang su-sudah menjadi pribadi yang d-dewasa, mm-mungkin?"
Sakura diam sejenak, memandang mata bulat yang balik memandangnya dengan tatapan polos. Ah... Hinata tak berubah. Ia tetap naif dan imut seperti dulu.
"Hmm.. mungkin kau benar. Hahaha... entahlah! Yang jelas kau dan aku bisa berteman lagi seperti du-,"
"Hei! Apa kalian akan terus bermesraan tanpa menghiraukanku? Hiks!"
Ouch... mereka baru sadar akan kehadiran Ino sekarang.
"Gomen Ino-pig. Tadi kan aku sudah menyuruhmu duluan, tapi kau malah mengekori kami. Dan lagi pula, kau masih mbeler walau sudah menghabiskan tisumu, baka!"
Hinata tertawa kecil. Sakura juga tertawa terbahak-bahak sambil terus mengolok-olok Ino yang tak tahu harus menaruh rasa malunya dimana. Malam itu sungguh malam terindah bagi Hinata. Kesalahpahaman yang dialaminya di masa lalu sudah terselesaikan dengan tuntas. Ia merasa kebahagiaan mulai masuk, melingkupi ruang dingin hatinya lagi.
Semoga kebahagiaan ini tetap bertahan. Semoga rasa senang dan senyum di wajahnya tak pernah pudar. Semoga kegembiraan ini terus berlangsung hingga selama sisa hidupnya.
Pagi yang mendung.
Lagi.
Hinata berjalan tergesa menyusuri trotoar jalan dengan tas selempangnya. Kuliahnya dimulai 10 menit lagi. Perlu waktu setahun untuk ia bisa menamatkan jenjang pendidikannya, hingga ia bisa melamar pekerjaan yang layak.
Jalan setapak kampus yang dihiasi pepohonan rindang di sepanjang jalannya membuat suasana sejuk yang seharusnya, kian terasa dingin. Sedikit demi sedikit rintik hujan mulai turun. Sesampainya di kelas, ruangan itu tampak sepi. Banyak bangku masih kosong menandakan para mahasiswa seakan enggan memasuki kelas hari ini. Tak lama Hinata duduk di bangkunya, seorang dosen dengan sebatang rokok di bibirnya memulai pagi itu dengan sebuah salam.
Beberapa jam di kampus tak terasa sudah Hinata lampaui dalam rangka menimba ilmu disana. Mumpung masih jauh dari jam makan siang, Hinata menyempatkan diri mampir di perpustakaan kampus untuk mencari bahan yang diperlukan untuk mengerjakan tugasnya.
Melewati jajaran mobil mengkilap nan berharga puluhan atau bahkan ratusan juta yen. Berpas-pasan dengan mahasiswa lain yang memakai pakaian modis mereka, yang Hinata yakin harganya mungkin akan cukup untuk biaya hidupnya selama setahun. Memang, Konoha University bukanlah perguruan tinggi negeri yang main-main. Universitas terkemukan nomor satu Jepang yang mencetak mahasiswa berkualitas tiap tahunnya, dan tersohor hingga bahkan di seluruh manca negara. Selain terkenal dengan kualitasnya, ptn ini juga terkenal dengan para mahasiswanya yang hampir kesemuanya berasal dari kaum ningrat. Mengingat sekolah ini juga didirikan oleh perusahaan adikuasa di Jepang.
Jika anak para pejabat bisa dengan mudah masuk dengan merogoh kocek yang fantastis, beda dengan Hinata. Butuh waktu tiga tahun penuh baginya untuk belajar keras agar mendapat beasiswa penuh disini. Meski hingga hidungnya berdarah dan ia sering pingsan karena kelelahan belajar, toh akhirnya ia berhasil sampai di tempat ini.
Memilih buku yang berada pada rak ber-tag Economy & Business, gadis bermarga Hyuuga itu sibuk memilah buku yang dirasanya mudah untuk dipelajari. Dan sebuah buku setebal hampir 10 cm yang berhasil berada di hadapannya untuk siap dibaca. Seakan tahu bahwa bisnis bukanlah bidang yang pembacanya suka, buku itu semakin lama malah semakin membuat Hinata bingung. Ia perlu kamus untuk menerjemahkan beberapa kata asing yang belum pernah ia dengan sebelumnya. Hingga saat ia berdiri dengan agak ceroboh, tubuhnya serasa menubruk sesuatu yang keras dan hal itu membuat tubuhnya oleng. Keseimbangan yang mengakibatkan sikutnya harus rela merasakan kerasnya meja pohon ek perpustakaan.
"Aduh!" Hinata menganga sedikit merasakan sakit di sikutnya. Belum hendak ia hendak mendongak ke arah orang ia yang ia tabrak, dirinya sedikit tersentak mendengar nada yang meski diucapkan dengan nada tengan, namun rasanya sangat pedas untuk di dengar.
"Kau punya mata? Jika punya apa mata itu ada di belakang kepalamu?"
Hinata mendongak.
Sepasang mata tajam tertangkap jendela retinanya meski mata itu langsung beralih dengan iringan decihan yang ketara.
"Tch!"
'Siapa dia?' Hinata tak pernah tahu ada mahasiswa seperti itu di kampusnya. Laki-laki itu, atau bisa disebut pria itu, memiliki perawakan tinggi dan terlihat atletis. Ia sangat tampan. Rambut ravennya mencuat seolah melawan gaya gravitasi bumi. Dengan memakai coat yang tak umum di kalangan mahasiswa. Ia seperti seorang dewasa yang hanya ada segelintir di universitas ini yang memiliki kepentingan menimba ilmu.
Atau mungkin ia adalah petugas baru perpustakaan? Ah, itu tak mungkin juga. Petugas perpus mana ada yang memakai coat mahal seperti itu. Lagi pula, Ayame –si petugas perpustakaan- masih ada di tempatnya. Membaca novel roman picisan seperti biasa.
Hinata mencoba tak mengabaikannya dan kembali di tujuannya semula. Rasa penasarannya lenyap saat mengingat sikap kasar pria tadi. Ia tak suka denga pria semacam itu. Lebih baik dihindari saja.
Mendapat kamusnya, Hinata berkonsentrasi penuh lagi pada bukunya. Perpustakaan sangat sepi, hanya ada ia, Ayame, dan... pria itu.
Pria kasar itu duduk di sebrang, dua bangku jaraknya dari bangku di hadapan Hinata. Wajahnya terlihat serius. Menatap layar ponselnya dengan wajah mengeras. Hingga puncaknya ia berdiri dari duduknya dengan gestur seperti menelepon seseorang. Decihan dan umpatan tak pernah ketinggalan ia ucapkan. Krusak-krusuk yang mengganggu itu tak ayal membuat konsentrasi Hinata. Dipandanginya Ayame yang masih sibuk membaca novel. Tapi kini wajahnya seolah hanya menatap buku bergambar sepasang muda berciuman itu tanpa ekspresi berarti. Seolah berpura membacanya saja tanpa berbuat apapun. Biasanya Ayame akan menegur siapapun itu yang membuat gaduh di perpus. Tapi kali ini wanita itu hanya diam dan berpura-pura membaca saja.
Hinata agak kesal tentu saja.
"Teme! Lima menit aku menunggumu di tempat ini, dimana kau sekarang?! Cepatlah, brengsek!"
Dan ucapan yang seolah menyerapahi itu seakan ingin Hinata bungkam.
"Apa ada macet di hari mendung seperti ini, bodoh?! Ini bukan pekan raya nasional, jangan banyak alasan lagi atau kau kupecat!"
'Pecat? Apa dia orang sepenting itu?'
"Kau tahu aku tidak suka menunggu!"
BRAKK!
Hianta terlonjak dengan gebrakan meja yang kasar itu. Dilihatnya Ayame masih bungkam. Pria itu terlihat sangat marah. Hinata sedikit takut juga. Ia keluarkan earphone dan mencoba tak menghiraukan pria itu.
Tak berapa lama kemudian seorang pria berambut putih dengan masker di wajahnya menghampiri mereka. Pria itu membungkuk sedikit ke arah pria pemarah tadi yang kini memijat keningnya.
"Maaf Sasuke, sebenarnya aku tadi mampir untuk membeli ini," pria itu menunjukkan buku kecil bertuliskan Icha-Icha Paradise.
'Buku apa itu?'
"Sudah kuduga,"
Tapi tunggu.
'Apa pria itu tadi menyebut Sasuke? Uchiha Sasuke? Uchiha yang itu?!'
"Cepat laporkan perkembangannya! Sebentar lagi aku ada rapat dengan para rektor di kampus ini!"
"Bukankah itu rahasia? Maksudku, ehm" pria berambut putih itu berdehem.
"Ada orang lain selain kita,"
"Cih! Kau usir mereka! Memangnya untuk apa aku membayar setiap bulannya?!"
"Oi Sasuke, aku ini lebih tua darimu lo. Yare-yare, kau ini memang kasar orangnya,"
Sasuke tak menanggapi dan hanya bersidekap saja dengan wajah 'seramnya'.
Kakashi –pria berambut putih itu-, menghampiri Hinata yang beruasaha keras memfokuskan otaknya untuk buku tebal di hadapannya. Hingga sebuah tangan besar yang memegang pundak mungilnya membuat ia tekejut. Ia membuka earphone-nya dan melihat siapa yang menyentuh pundaknya.
"Maaf nona, bisa kau baca bukumu lain kali saja?"
Hinata mengernyitkan alis. Sedikit lama untuk ia mengerti maksud pria berambut putih itu. Hingga Sasuke yang tak sabaran mulai membentak Hinata.
"Bawa pulang saja buku itu! Satu buku murah tak akan membuat rugi sekolah ini!"
Cepat-cepat Hinata membereskan semua peralatannya. Sungguh, ia tak mengira jika pemilik marga yang menjadi pendonasi terbesar sekaligus pendiri Konoha University adalah orang yang tak ramah. Begitu ia keluar, tak lama kemudian Ayame juga keluar dengan bunyi bedebum pintu perpus yang ditutup dari dalam.
'Mereka terlihat aneh.'
Hinata dan Ayame saling berpandangan dan memutuskan untuk pulang bersama saja.
"Bagaimana?"
"Terakhir terlihat mereka mengadakan pertemuan di sekitar Distrik Yamaguchi,"
"Dekat sekali dengan 'wilayahku',"
"Aa... banyak perumahan murah dan sebagian rumah kosong disana. Cocok sekali untuk transaksi senjata,"
"Hh... teruskan penyelidikan. Jika mulai ada pergerakan, langsung laporkan padaku,"
"Tentu,"
"Para tikus got itu tak akan pernah mendapatkan apa yang mereka inginkan."
.
.
.
.
.
Lolongan anjing memecah sunyi di malam dingin ini.
Sekelebat bayangan hitam melesat, melintas di antara rimbun pohon. Membelah hembusan dingin angin yang mampu membekukan tulang. Bayangan itu diikuti oleh beberapa bayangan lainnya. Mereka melesat, bagai menyatu dengan kelam gelap malam. Tanpa cahaya bulan bintang. Langit abu-abu, mendung tebal yang membuat malas semua orang untuk keluar dari selimut tebalnya.
Mereka mengepung sebuah rumah kosong yang jauh dari pemukiman padat. Sebuah aba-aba diberikan, dan selanjutnya terdengar kegaduhan yang sangat keras. Suara tembakan dan baku hantam senjata riuh saling bersahutan. Beberapa lama suara itu berlangsung hingga menyisakan teriakan-teriakan yang mengarah pada pengepungan. Satu sosok bayangan seorang pria tertatih-tatih berusaha melarikan diri. Ia berlari sejauh mungkin dari rumah itu. Bersembunyi di bawah sebuah jembatan kecil menunggu bantuan datang.
Di lain sisi ada sesosok bayangan mungil yang berjalan santai melewati temaram lampu jalan. Bayangan itu memakai jaket tebal dan syal yang menggelung leher jenjangnya. Uap keluar setiap kali ia menghembuskan napas. Berbekal kenekatan, ia beranikan keluar seorang diri di tengah malam mendung seperti ini.
Hinata kehabisan tinta pulpen. Deadline sudah di depan mata, ia tidak bisa menunggu esok untuk sekadar membeli sebatang pulpen. Cukup apes baginya, pulpen di minimarket hanya tersisa yang bertinta selain hitam. Ia harus membelinya di toko peralatan tulis yang agak jauh dari flat. Membelinya sendiri di malam yang sepi ini.
Dengan satu pack pulpen yang sudah berada di genggamannya, Hinata bergegas pulang karena rintik mulai turun satu per satu. Saat melewati jembatan dekat flatnya yang menghubungkan Distrik Yamaguchi dan Distrik Nagoya, Hinata mendengar suara rintihan kecil seperti suara orang kesakitan. Ia langsung menghentikan langkah kakinya. Takut-takut ia coba pertajam pendengarannya.
"...rrgh.."
Benar!
Itu seperti suara orang yang sedang menahan rasa sakit.
Dengan perlahan pemilik mata lavender itu menyusuri sumber suara itu. Entah datang dari mana dorongan dalam dirinya berani mencari sumber suara itu. Jujur saja, ia adalah gadis penakut. Tapi jika itu memang benar suara seseorang, Hinata tentu wajib menolongnya.
KRESK!
Bunyi semak di ujung jembatan membuat Hinata bergegas menghampiri tempat itu. Dan benar saja, ia melihat sebuah tangan dari sana. Pelan ia coba melihat lebih jauh sosok apakah itu. Berbekal cahaya dari ponsel yang ia bawa, Hinata menyoroti sosk tersebut, dan sangat terkejut mendapati siapa yang ia temukan tengah malam di temoat sepi seperti ini.
"Sa-sas-sasuke-san...?!"
TBC
Gomen!
Menghadapi segala macam tetek bengek kelas 12 membuat akun ff Shiro jadi terbengkalai. Tolong maklum Reader-tachi, menghadapi UN kur 2013 bener2 gak bisa dianggep enteng. Dan hasilnya? Huhuhu... bikin Shiro pengen nagis aja T_T
Ah, lupakan! Yang penting Shiro udah berusaha aktif lagi di fandom ini.
Terima kasih buat Ana-san yang review buat update kilat ni ff. Jujur, Shiro ngerasa bersalah n terharu ada yang suka ff Shiro. Secara ya, menurut Shiro ff Shiro itu gak ada bagus2nya amat dibanding ff-nya author lain. Jadi Shiro seneng banget ada yang nantiin ff Shiro walau si authornya malah suka PHP *:D
Shiro bakal usaha update2 lagi ff-nya
Doa'in juga ya Reader-san, SBMPTN Shiro bisa lulus TT_TT
Sumpah, sedih banget ngeliat hasil SNMPTN kagak masuk...
*baper
Okey, See You Next...^^
