Disclamer: Boboiboy and all of its characters are belong to Monsta.

Author's Warning: Chapter dengan cerita yang kompleks—dimana ketika membuat chapter ini author meyakinkan dirinya sendiri bahwa dirinya bukan homo dan memegang teguh bendera bromance.

Kenyataannya author gagal.

Mereka... terlalu manis.

Maafkan aku.

.

.

.

.


Taufan mendongak. Sambil memeluk bantal favoritnya yang bau apek, ia menatap sang ibu yang memunggunginya. Sibuk momotong bahan makanan. Di sela-sela suara air yang mendidih panas, Taufan berkata dengan suara mungilnya.

"Mama... Kenapa Mama kasih namaku Taufan?"

Ibunya menoleh, tersenyum lembut setelah menaruh pisau di tempat aman. "Ara? Taufan ingin tahu?" ia jongkok, lalu menyentuh pipi gembil Taufan. Si kecil mengangguk lugu, tapi tatapannya terkesan sedih. "Hm? Kenapa, sayang?"

"...Habis... Temen-temen bilang, namaku aneh..."

Sang ibu tertawa kecil, sampai ia tertegun mendengar kata-kata selanjutnya dari Taufan.

"...Aku juga... benci nama kakak."

"Karena kau takut petir?"

Taufan mengangguk. "Suara petir dan halilintar itu bikin aku takut... Ma, Mama bikin acara bubur merah sama bubur putih aja ma, ganti nama kakak..."

Sang ibu tertawa keras. Ia tak sangka anak berumur enam tahun tahu ritual adat mengganti nama. Taufan hanya mengembungkan pipi ketika sang ibu menertawakan ide brilian-nya.

Sang ibu berhenti tertawa melihat reaksi anaknya, lalu memeluk dan menggendongnya. Dibawanya sang anak mendekati jendela, lalu dengan cepat gorden putih yang menutupi disingkap. Taufan melihat cahaya masuk, dan sang kakak yang sedang bermain sepak bola dengan sang ayah di halaman belakang rumah. Saat itu, halaman belakang rumah kelihatan becek, dan jelas nampak seperti baru hujan lebat. Air-air bekas hujan menggenang dan mencipratkan lumpur ke arah dua pemain sepak bola dadakan itu. Meski begitu, sang kakak tetap menendang bola penuh semangat dengan sang ayah dan tertawa ceria.

Senyum dan tawa Halilintar saat itu begitu terang dan bercahaya bagi si kecil Taufan, sehingga membuatnya takjub. "Ka—Kak Hali bersinar...!"

Ibu tertawa kecil sekali lagi, mengetahui anaknya itu begitu polos, sehingga tak tahu bahwa wajah Halilintar bersinar karena efek sinar matahari yang terpantul di genangan air. Namun memang tak bisa ia pungkiri, senyum ceria anak pertamanya itu sangat manis.

"Taufan... Apa kau tahu? Bagaimana terjadinya petir?"

Taufan mengedipkan mata, "Kata Papa itu karena awan jahat ketemu sama awan baik, terus mereka berantem dan bikin gaduh di langit! Mereka mengeluarkan sinar beam seperti Hero Rangers! Psyhuuuuu!" katanya sambil menirukan gaya jagoan favoritnya, 'Hero Rangers'. "Jadilah petir!"

Sang Ibu terpingkal lagi, "Taufan... taufan..." ia menggelengkan kepalanya. "Hmm... Apa yang disampaikan Papa ada benarnya, tapi... cahaya kilat itu bukan beam..."

Taufan menatap sang ibu tak mengerti, "Terus apa?"

"Cahaya kilat singkat diikuti suara gaduh, itu namanya Halilintar..."

"He? Jadi kakak lahir dari langit?" shock Taufan—entah darimana ia ambil kesimpulan itu.

Ibu menahan tawanya sekali lagi. "Tidak... Tapi dari sanalah asal nama kakakmu," sang ibu kembali menatap ke arah apa yang ada dibalik jendela. "Halilintar itu fenomena alam yang luar biasa. Meski ia membuat semua orang takut, tapi kehadirannya membuat semua orang sadar bahwa mereka hanyalah makhluk tak berdaya dan kecil di mata Allah. Jadi manusia akan senantiasa selalu ingat pada Allah dan tidak berlaku sombong."

"Uwoooh, kakak hebat—" Taufan menepuk tangan kagum, lalu ia kembali menatap ibunya dengan wajah lesu perlahan-lahan, "Ta.. Tapi... aku tetap saja takut sama petir..."

Sang ibu tersenyum lembut, "Lalu apa Taufan tahu arti nama Taufan sendiri?"

"Uhm..." Taufan berpikir ragu di gendongan ibunya, "A—Angin Topan?"

Ibu menyentil hidung Taufan gemas, "Betul," ia melanjutkan, "Angin Topan adalah pusaran angin yang berputar—whuuuz!" Ibunya membawa Taufan berputar, Taufan spontan gelak tertawa dan berteriak "Udah Ma! Hahahaaa—Ampuuun!"

Ibunya berhenti lalu menurunkan Taufan, dan mendudukkannya di atas kursi makan. "Pusaran angin yang kuat, dan selalu berputar ke semua tempat sesuai keinginannya. Kalau kau berdiri di bagian luar dekat pusaran angin topan, kau akan terbawa anginnya dan hilang!"

"Huweeee, sereeeem—!" teriak Taufan hampir menangis.

"Tapi..." Ibunya segera menahan kedua pipi gembil Taufan dan menghentikan tangisannya, "Kalau kau berhasil bertahan dari pusaran angin itu dan menembus titik tengah dari angin topan, kau akan merasa terlindungi, karena kau dikelilingi oleh pusaran angin yang seolah menjagamu dari barang-barang yang berterbangan—" ibunya berhenti sejenak, lalu melanjutkan,

"...atau bahkan dari sebuah kilat halilintar."

Taufan memiringkan kepalanya, masih dengan pipi gembil dijepit tangan ibunya. "Taufan ndak ngerti ah... Tapi... kayaknya arti namaku bagus!"

Ibu tertawa kecil, sang ibu menikmati wajah menggemaskan anak bungsunya, sampai bau gosong dengan sengaja merusak masa santainya. "Alamak! Masakanku gosong!"

Taufan melirik ke arah jendela, dan menatap kakaknya yang kini tengah diangkat tinggi-tinggi oleh sang ayah. Halilintar terlihat begitu senang meninjukan kedua kepalannya ke udara, merayakan keberhasilannya mengalahkan sang ayah. Tak lama, Halilintar turun dari gendongan sang ayah setelah ia melihat Taufan duduk dekat jendela. Ia lantas kemudian berlari masuk dalam rumah, tak memedulikan omelan sang ibu karena membuat kotor rumah dengan kaki berlumpurnya.

"Taufan! Aku menang lawan Papa!"

Ckrik!

Senyum kemenangan Halilintar disambut lampu flash dari sebuah kamera.

"Ah? Taufan! Itu kan kameraku!"

"Hehehe, waktu itu kan kakak yang foto aku dengan wajah senyum, sekarang giliran aku dong!"

"Ih... malu, tauk! Ngapain foto-foto kayak gitu!"

"Huweee, kakak gak adil, masa' kakak ngambil foto Taufan, tapi Taufan gak boleh ngambil foto kakak! Lagian senyum kakak tadi bagus lho!"

Wajah si mungil Halilintar memerah samar, ia mengernyit tak terima, tapi di saat yang bersamaan ia malu mendengar pujian sang adik.

"Che, liat aja, aku bakal ngambil foto kamu lebih banyak! Sangking banyaknya bakal bikin kamu sendiri muntah-muntah ngeliatnya!"

"Coba aja! Bwee!" Taufan menjulurkan lidahnya. Lalu terjadilah kejar-kejaran dua makhluk—dan berakhir dengan jitakan dari sang ibu.

.

.

.

.

Meski begitu... Selama sembilan tahun belakangan ini, aku sudah tak pernah melihat kakak dengan kameranya. Aku sudah mulai merasa jauh dengan Kak Hali sejak aku kelas tiga SD. Kami jarang bicara, kami tak punya yang dibicarakan. Kalaupun ada, paling hanya pertengkaran dan saling meledek. Aku pun mulai lupa masa kecil kami, dan aku mulai lupa kapan terakhir aku bermain dengan kakak.

"Maafkan aku... Taufan... Maafkan kakak..."

Kalimat itu... membuatku semakin merasa bersalah.

.

.

.

.

MY BROTHER AND I
CHAPTER 3

"All You Gotta Have is GUTS!"

.

.

.

.

"Hm? Aneh... Rasanya aku masih melihat benda itu kemarin siang..."

Taufan membuka matanya perlahan, kepalanya terasa berat dan tubuhnya terasa panas. Pandangannya berkunang, dan ia merasa sesuatu menghambat hidungnya. Pilek? Pikirnya kalut. Namun dibalik pandangannya yang samar-samar, ia bisa melihat seseorang yang sedang sibuk mencari sesuatu. Ia terlihat kebingungan. Meski demikian, orang itu menyempatkan diri menaruh benda dingin di dahi Taufan.

"Kak... Hali?"

"Hm? Ah, kau sudah bangun? Syukurlah..." Halilintar meringis kecil, ia menghempaskan wajah khawatirnya dengan percuma ketika dilihat adiknya sudah sadarkan diri.

"AH!" Taufan baru sadar sepenuhnya, lalu sontak bangkit dengan kecepatan maksimum hingga tak sengaja membenturkan dahinya dengan sang kakak yang sedang menunduk hendak mengecek suhu tubuh sang adik.

DUAK!

"ADAW!"

"BEGO!"

Cekik.

"GYAAH! GUUUUHHH—OHOOOK!"

Saat ini sedang terjadi adegan pencekikan antara kakak dengan sang adik yang baru saja bangun dari pingsannya, pemirsa. Apakah motif dari aksi pembunuhan ini?

"HEGHHH—KAK! OHOOOKK! AMFHOENNN! KHILAF! TAUFAN KHILAAAAFF!"

"BILANG MAAF GAK? ADIK SIALAN!"

"IYA IYA IYA IYAAA! MAAF!"

Lalu Halilintar melepaskan cekikannya. Taufan terbatuk dan mengelus lehernya, ia terlihat menderita.

"Hmph. Itu juga hukuman karena kamu gak pulang sebelum makan malam, kemarin."

"Kemarin?" Taufan berhenti mengelus leher lalu mengingat-ingat, tapi ia malah mengernyit sekaligus meringis kesakitan. "Aduh... sakit..." ia memegang kepalanya.

"Memangnya kemarin aku kemana?"

Halilintar terkejut, ia mengernyit sebentar. "Kau tak ingat?"

Taufan menggelengkan kepalanya, membalas tatapan terkejut sang kakak dengan wajah bingung.

"Kenapa sih kak? Emang aku darimana kemarin? Terus kenapa aku bisa—Ha... HACHIIII—!" setetes cairan kental menetes dari hidungnya. Halilintar menahan emosi saat semburan hujan dari bersin Taufan menempel di wajahnya.

"Ck," Halilintar berhasil mengontrol emosinya, ia mengelap wajahnya dengan selimut Taufan. "Kamu kemarin pulang kehujanan, lalu sakit. Itu saja."

Halilintar tak menatap adiknya. Ia tahu, ada beberapa kebenaran yang ia tutupi setelah ia tahu adiknya kehilangan ingatannya soal kejadian kemarin—namun Halilintar hanya berpikir ini kesempatan yang baik untuk menghindari obrolan-obrolan tak penting mengenai kemarin. Meski hanya sekedar bayangan ingatan, tapi hatinya sudah perih jika kembali mengenang wajah adiknya yang gemetar dan menangis. Jika kau tanya bagaimana rasanya... Halilintar tak tahu bagaimana menggambarkannya. Yang jelas, rasanya lebih buruk dari mengalami kekalahan di turnamen karate Nasional. Karena kekalahan yang satu ini—adalah kekalahan dalam pertaruhan melawan diri sendiri dan kasih sayang untuk orang yang penting bagi hidupnya.

"Kak? Kakak kenapa? Kok kakak mukanya masam gitu?" tanya Taufan hati-hati.

"Ah? Enggak," tampik Halilintar cepat, lalu bangkit berdiri untuk membelokkan perhatian Taufan. "Laper nggak?"

Taufan memegang perutnya, yang baru ia sadari rasanya seperti kosong tanpa organ. "Ugh, lapar banget... Kak, Taufan mau spaghetti..."

Halilintar menyipitkan matanya, "Yang simpel aja kek, kayak telor ceplok! Kamu tau kan kalau aku gak bisa masak?"

"Tau dong. Apa sih kelemahan kakak yang aku enggak tau~ Apalagi soal ngancurin dapur," Taufan senyum-senyum tanpa dosa—yang tentu saja memancing propaganda aura kekelaman Halilintar, "Makanya Taufan maunya spaghetti nya dibeliin sama Kak Hali~"

"...Jangan seenaknya, ya, anak manja sialan," Halilintar menahan geramnya, dan siap melayangkan jitakan supernya. Tapi tangan itu terhenti oleh tangan Taufan yang menarik ujung bawah kaos Halilintar.

Sampai sini, silahkan bayangkan jurus puppy eyes terbaik yang bisa dilakukan Taufan. Betul. Mata belo, pipi gembil yang sedikit digembungkan, dan alis memelas. Wajahnya terlihat bersinar dan menyilaukan mata Halilintar.

"Kakak... Kakak mau kan, beliin spaghetti yang di restoran deket jalan utama Pulau Rintis demi Taufan?" Taufan memiringkan kepalanya.

"A—" Halilintar tertegun, wajahnya memerah perlahan. Taufan tahu, jurusnya sudah mulai bekerja pada lawannya.

"GAK MAU!" Halilintar menyentak menolak, lalu berpaling untuk menghindari jurus laknat itu.

"Walaupun Taufan sayang sama Kak Hali?" Taufan melakukan jurus kedua, jurus bisikan manis. Semacam jurus legenda kuno yang turun temurun diwariskan pada semua anak yang kurang belaian.

"Ugh—" Halilintar tak kuat, ia mulai muntah darah (bohong, itu saos). Halilintar tak sangka ia akan terkena dampak sebanyak ini. "...Ka—Kamu tega... Pakai jurus itu—" Halilintar masih bersikukuh untuk tak pergi di hari yang panas seperti ini.

Melihat kekukuhan sang kakak, Taufan tak punya pilihan lain. Ia terpaksa mengeluarkan jurus andalan terakhir.

"Kak..." Taufan menarik tangan Halilintar, membuat Halilintar terpaksa menatapnya. Setelah yakin Halilintar melihat wajahnya, Taufan memeluk pinggang sang kakak dengan erat. Taufan dengan sengaja pasang wajah merona malu dengan tatapan lembut sedikit tsundere. Dan deskripsi mengenai ekspresi lainnya, imajinasi diserahkan pada pembaca.

"...Taufan... sayang kakak..."

Dengan suara imut. Sekali lagi, dengan suara imut.

Halilintar mendidih. Tangannya gemetar. "GAAAAHHH! IYA, IYA! KUBELIKAN! PUAS?!" Halilintar buru-buru melepas kedua tangan Taufan dari pinggangnya. Halilintar harus cepat pergi dari sana, sebelum Taufan melihat dengan jelas wajahnya yang memerah padam.

Halilintar membuka pintu setengah membanting saat ia keluar dari kamar Taufan. Hanya sebuah tingkah yang membuktikan bahwa ia sebenarnya malu.

Taufan tersenyum penuh kemenangan dan melambaikan tangan, "Bye kakak~ Hati-hati di jalan, eaaaa~"

"BODO AMAT!" Teriak Halilintar kesal dari koridor di luar kamar, teriakan itu terdengar agak mengecil menandakan sang pemilik suara sudah beranjak pergi meninggalkan lantai dua, diiringi suara-suara omelan merutuki adik sendiri.

Taufan terus melambaikan tangan dengan senyum ceria—yang lama kelamaan sedikit memudar.

"Maaf... kak. Aku... Terpaksa," Taufan menatap sedih sejenak pintu yang masih terbuka itu, lalu bangkit berdiri, ganti baju. Sedikit mencoba mengabaikan rasa pening yang membayang di kepalanya.

.

.

.

.

.

.


Taufan melemparkan beberapa lembar Ringgit Malaysia, yang jumlahnya tidak sedikit—ke hadapan seseorang yang tengah duduk santai di atas puing beton tua gedung tak terpakai.

"Sesuai janji, kubawakan kau uang tabunganku. Sekarang, berikan benda itu, cepat," Taufan mengernyit dalam. Wajahnya mendingin, tanpa senyum.

Sebentar tertegun, orang itu beberapa menit selanjutnya malah tertawa girang. "Bahahaha! Tak kusangka kau benar-benar membawakan uangmu untuk benda sampah seperti ini!"

Kepalan tangan Taufan semakin kuat, ia menahan emosinya, "...Jangan pernah kau sebut benda bersejarah itu sampah dengan mulutmu yang kotor, bajingan."

"Uwaaah, seremnyaa~ Aku jadi takuuut," kata salah seorang yang duduk di tengah. Dari tampang dan caranya duduk yang sok kuasa itu, sepertinya dia bos dari empat orang bertampang om-om berbaju seragam yang ada di situ. Tunggu. Berbaju seragam? Ini kan Minggu?!

"Hemh, tentu saja kalian takut. Kalian kan cuman geng gak modal yang gak punya baju lain selain seragam," Taufan menatap remeh lawannya.

Urat nadi tersembul jelas di dahi sang bos. "APA KATAMU? MINTA KUHAJAR, YA?"

"Aku gak minta itu, dasar bodoh. Aku minta benda yang ada di tanganmu itu untuk kaukembalikan," Taufan menadah tangannya angkuh, ke hadapan orang yang sepertinya benar-benar naik darah melihat sikap belagu Taufan.

Sang Bos berdiri. "Belagak banget, kamu, dasar anak kelas satu."

"Kenapa memangnya kalau aku anak kelas satu? Daripada kalian anak kelas tiga yang gak lulus-lulus," Taufan menjulurkan lidahnya, "Dasar sampah masyarakat."

Lawan bicaranya mendelik. "HAJAR BOCAH KURANG AJAR INI!"

Empat orang di belakang tubuh sang bos segera mengelilingi Taufan.

Taufan menyeringai, "Heh. Kalau aku menang, kalian harus kembalikan barang berharga milikku itu."

Mau tak mau, Taufan memasang kuda-kuda dan siaga. Meski tak pernah ikut bela diri, tapi Taufan juara soal mencari masalah atau sekedar adu tinju. Bukan hal yang besar untuknya menghajar manusia-manusia itu—jika saja kondisi tubuhnya mendukung.

Kepala Taufan pening, matanya berkunang.

Gawat... Kepalaku...

Taufan menyipitkan pandangannya yang mulai kabur dan mengkhianati kontrol tubuhnya. Satu tinju dilayangkan salah satu anak berandalan itu ke arah pipi Taufan. Taufan berhasil menghindar, tapi ia tak bisa membuat tubuhnya menjauhi tendangan yang dilayangkan persis setelah tinju itu berhasil dihindari.

BAGH!

"GUHH—! OHOOK!"

Taufan memuntahkan saliva saat tendangan itu sukses menghantam perutnya. Kepalanya semakin bereaksi saat rasa sakit sampai ke syarafnya dan menambah penderitaannya. Taufan jatuh dengan lutut menghantam tanah, memegangi perutnya dengan payah.

"Hah, ternyata kau lemah. Banyak mulut aja kau! Ayo coy, sikat langsung!" kata salah seorang berandalan yang berhasil menendangnya tadi.

Sial...

Taufan terus merutuki kondisi tubuhnya—sampai pada akhirnya ia tak lagi sempat memikirkan cara untuk menghindari serangan bertubi-tubi yang dilayangkan selanjutnya dari para bedebah yang hanya tahu keroyokan itu.

Duagh! Duaagh! Dug! Buk!

Mereka terus menendang dan menginjak tubuh Taufan dengan tatapan hina dan tawa.

"Dasar lemah!"

"Wuhuuu! Bahan bully baru bos!"

"Kita jadiin dia pelayan kita aja bos!"

"Atau kita jual aja bos? Lumayan, bakal dapet untung~"

"Bah hahaha! Kau benar! Kau benarrr!"

Taufan melenguh, tapi ia bertahan dan tak mengatakan apapun untuk menghentikan orang-orang itu. Di sela-sela penyiksaan itu, ia hanya bisa menatap benda kesayangannya di samping tubuh sang bos berandalan. Benda yang tak berhasil ia dapatkan kembali—dari semenjak ia memulai masa SMAnya dua minggu yang lalu.

"To... Topiku..." Taufan menjulurkan tangan, mencoba meraih topi yang jelas jauh dari jangkauannya itu.

"Berisik!"

Berandalan itu mengangkat kakinya untuk menginjak tangan Taufan. Melihat itu, Taufan hanya bisa memejamkan mata, menutup matanya karena takut.

KRAK!

Bunyi tulang patah terdengar nyaring, beriringan dengan suara lengkingan tajam menusuk telinga.

"Eh?" Taufan membuka mata—terkejut mendengar suara lengkingan lain, bukan dari dirinya sendiri.

"GYAAAAA-! Kakiku-! Kakikuuuu!"

Orang yang tadi hendak melayangkan kaki, malah kini menggelepar di tanah dengan kondisi kaki bagian bawahnya bengkok tidak wajar. Taufan terkejut melihatnya, lalu mendongah setelah ia merasa sebuah bayangan menutupi wajahnya.

Rambut hitam dan topi hitam. Mata iris merah menyala dengan bibir rapat menahan amarah.

"Maaf," Halilintar berdiri memunggungi sang adik yang masih melongo di tanah. "Spaghetti-mu dimakan kucing, tadi."

Taufan mendelik. Bukan hanya karena kata-kata tolol sang kakak yang sama sekali tak keren, tapi juga karena ia terkejut kakaknya bisa hadir di tempat yang jarang dikunjungi manusia kecuali mereka yang berniat mesum atau maksiat.

"Kakak ngapain ke sini! Darimana kakak tahu tempat ini!" Taufan memburu jawaban dari sang kakak. Halilintar tak menatapnya dan terus memunggunginya dengan kuda-kuda yang sering digunakannya untuk turnamen karate nasional.

"Hanya..."

Para berandal itu kembali menyerang bersamaan. "BERANINYA KAAAAU-! TERIMA INI!"

"...Insting."

Jawaban lirih Halilintar adalah tanda dimulainya Halilintar membebaskan amarahnya.

Halilintar melesat, menghampiri satu per satu manusia-manusia itu, lalu dihajarnya seperti boneka latihan. Satu tonjokan menghampiri Halilintar, tapi sebuah tendangan sampai duluan pada dagu si penonjok. Satu orang terpental dengan rahang sedikit bergeser. Tendangan lainnya dilancarkan pada kaki Halilintar, tapi si juara karate nasional itu dengan gesit melompat, lalu menghajar pundak yang hendak menendangnya tadi dari udara. Satu orang meringis karena tulang bahunya yang bergeser. Dua di antara mereka malah sampai harus menggunakan alat seperti baseball besi dan pisau kecil untuk menghadapi Halilintar—tapi itu sia-sia setelah Halilintar berhasil meremukkan tangan mereka dengan satu tonjokan mentah ke tangan mereka.

Dan begitulah Halilintar tanpa ampun menghajar lawannya satu per satu. Empat orang ditambah satu bos, kini harus yakin bahwa iblis di siang bolong itu bukan mitos.

"Kak! Udah!" Taufan menggelayut di pinggang sang kakak, memejamkan mata dan menahan sang kakak sekuat tenaga, ketika Halilintar sudah sampai pada puncak kemarahannya dan hampir mau mematahkan leher si badan besar kepala geng yang kini hanya bisa berupaya melarikan diri dengan menyeokkan tubuhnya di atas tanah.

"Ampuni akuuu! Kumohon! Ampuni akuuu!" sang bos bertubuh dua kali lipat dari Halilintar itu kini menangis histeris seperti anak kecil.

Taufan terseret tubuh Halilintar yang tetap bersikukuh maju mengejar satu-satunya orang yang masih sadarkan diri itu.

"Kaaak!" Taufan semakin mengeratkan pelukannya di pinggang Halilintar, sementara kakinya masih terseret di tanah. Halilintar masih menyorotkan mata penuh dendamnya pada orang yang masih berusaha merangkak itu.

Beruntung, tak lama kemudian, si bos besar pun tak sadarkan diri karena kehabisan tenaga. Ia pingsan di tempat dengan cairan berbau pesing mengalir di celananya.

Halilintar menghentikan aksinya. Ia berhenti, lalu menatap sang adik yang masih menggelayut di pinggangnya—tak tahu kalau sang korban sudah pingsan dan Halilintar sudah tak mengejarnya lagi.

"Lepasin."

Taufan spontan membuka matanya, lalu menatap sang kakak dari bawah.

"Eh... Udah, ya?" Taufan nyengir, lalu melepas pinggang sang kakak. Meskipun Taufan tersenyum cerah dihadapannya, Halilintar sama sekali tak tertipu daya kali ini. Yah, mungkin dia memang sejak awal tak pernah tertipu daya. Kini ia hanya menatap Taufan sambil memiringkan kepalanya dengan ekspresi jengah—meminta penjelasan dan kejujuran sang adik.

Taufan langsung masam melihat tatapan kakaknya yang seperti itu. Dibawanya wajah yang sudah babak belur itu menunduk, menatap tanah.

Halilintar tarik napas, mengeluarkan suara singkat, namun dalam dan menakutkan.

"Lihat wajahmu. Seperti orang tolol."

Taufan mendelik. Ini pertama kalinya seumur hidupnya mendengar kata-kata hinaan dari sang kakak yang terasa lain. Taufan dikatai bego, bodoh, idiot, tolol oleh Halilintar? Itu biasa. Memang sejak dulu kakaknya itu ketus dan dingin terhadapnya kan?

Tapi... Kali ini lain. Ini pertama kalinya Taufan mendengar kata itu terlontar dengan perasaan dingin yang lain. Nada yang diterima telinganya, tersampaikan lalu tertanam di benaknya, dan langsung dirasa sakit ke hatinya. Rasanya pedih dan menyakitkan. Karena...

...kata-kata itu menyampaikan perasaan khawatir sang kakak dengan sempurna pada hati sang adik, dan seketika membunuh ketangguhan hatinya.

Taufan mengangkat wajah, ekspresinya menahan sakit—yang segera disambut tenaga pelukan hangat dari Halilintar.

"Tolol," Halilintar menahan suaranya yang serak dan terus memeluk sang adik erat seolah tak mau melepaskannya. "Tolol banget..."

Taufan tersenyum tipis, sebelum akhirnya membalas pelukan sang kakak. "Maafin Taufan, kak... Taufan cuman pengen kakak gak khawatir... Jadi... Taufan sengaja bikin kakak menjauh dari rumah dulu dengan alasan pengen spaghetti."

Halilintar melepas pelukannya. "Aku tahu. Makanya aku bisa ada di sini sekarang."

Taufan menatapnya.

"Meski kamu manja dan menyebalkan," Halilintar tak peduli dengan ekspresi protes sang adik dan tetap melanjutkan, "Tapi kamu hampir tak pernah mau bersikukuh memaksa. Jika kamu meminta sesuatu lalu aku menolaknya meski hanya satu kali, kau pasti langsung mengurungkan permintaanmu. Mana tadi..." wajah Halilintar memerah, ia melirik ke arah lain, "pa—pakai jurus imut kayak gitu segala, lagi..."

Wajah Taufan spontan mengebul merah. "Be—berisik! Gak ada pilihan lain, tauk! Taufan kan tau kelemahan kakak!"

"E—Eh?!" Halilintar menatapnya gelagapan, "Apa maksudmu?"

"Kakak pikir Taufan gak tau? Kakak diem-diem suka ngambil foto Taufan, kan! Terus ngoleksiin di hape!" Taufan mengernyit dengan wajah yang seolah bilang, 'dasar-mesum-dasar-pedo'.

Halilintar sedikit melonjak mundur, "A—Apaan sih! Jangan ngarang kamu, adik sialan! Kapan aku nyimpen fotomu! Che! Gak penting, tauk!"

Taufan tak mau kalah, "Halah, bau! Basi! Dasar mesum!"

"APA KATAMU?!" Halilintar spontan menjambak rambut Taufan sampai ia merintih kesakitan. Halilintar tak peduli dengan kenyataan bahwa adiknya baru saja jadi korban pukul anak berandal.

"AMPUN KAK! AMPUUUN!"

Halilintar kali ini melepaskannya dengan cepat, setelah ia ingat dengan jalur topik mereka. Karena merasa sudah terpojok, Halilintar hanya hela nafas lalu melirik dan menghampiri benda yang tadi diperjuangkan Taufan. Ia mengangkat benda itu dan menatapnya.

"Sudah kuduga. Topi lamamu diambil orang..." ia berbalik, lalu menyerahkan topi itu pada Taufan.

Taufan mengenakannya. "Kok... kakak bisa tau sih?"

Halilintar hela nafas. "Kau tahu, topi compang-camping yang kautunjukkan waktu itu terasa aneh bagiku. Meski corak dan bentuknya sama, tapi aku merasa ukuran topi itu sedikit lebih besar dari milikmu. Lagipula..." ia menatap Taufan sungguh-sungguh, "Mengingat aku menyimpan semua fotomu dari berbagai ekspresi, aku sedikit tahu kapan kau berbohong."

Taufan tertegun. Kakaknya yang dikenal sebagai Pangeran Raden Tsundere dari Planet Tsun-tsun itu akhirnya mau mengakui perangai dan kelemahannya. Meski kelemahan itu ternyata berubah menjadi senjata Halilintar untuk memperkuat instingnya dalam mengendus permasalahan sang adik.

"Karena aku curiga dengan sikapmu, aku memutuskan untuk membelikanmu topi baru. Aku ingat ketika kita masih kecil, kau selalu senang mendapat barang baru yang belum pernah kau miliki sebelumnya, lalu kau akan langsung memakai barang itu sampai rusak hingga tak bisa dipakai lagi. Jika barang itu hilang dan tidak rusak, kau akan bersikukuh mencarinya, atau bersikukuh tak memakai barang lain yang serupa sampai barang itu ketemu," Halilintar berhenti sejenak, menarik nafas panjang, "Dan topi yang kubelikan hari itu, aku sadar kau tak langsung memakainya. Meski akhirnya kau pakai juga—mungkin itu upaya untuk menutupi kenyataan bahwa topimu hilang."

Taufan tersenyum tipis.

"Ternyata... Aku memang salah tentang kakak."

Halilintar menaikkan alis kirinya. "Apa maksudmu?"

"Selama sembilan tahun ini... yang ada di pikiranku kakak adalah orang yang tumbuh menjadi orang yang menganggap aku tak ada."

Halilintar menatap Taufan dengan tatapan terkejut sekaligus bersalah. Yah, ia tak heran dengan pikiran itu. Selama ini ia tak pernah ada di sisi adiknya. Halilintar sudah mengakui kesalahannya itu, dan semalam ia sudah meminta maaf—meski sayang sekali nampaknya Halilintar harus merelakan kata maaf-nya sebagai kata yang sia-sia karena Taufan tidak mengingatnya.

Kata siapa?

"Dan kakak tau?" Taufan menatap tatapan kakaknya dengan sungguh-sungguh, "Permintaan maaf kakak semalam membuat Taufan merasa bersalah. Aku jadi sadar selama ini bukan kakak-lah yang menjauh, tapi aku."

Halilintar terkejut, namun bukan karena fakta bahwa adiknya ternyata berbohong soal melupakan kejadian semalam, melainkan karena isi pernyataannya. Halilintar menyentuh pundak adiknya, "Bu—bukan begitu! Memang kakak yang salah, kakak—"

Kalimat canggung Halilintar terpatahkan dengan tatapan serius sang adik, yang hampir tak pernah dilihatnya, seumur hidupnya.

"Ta... Taufan?"

"Aku sudah su'udzon selama ini sama kakak. Semua sikap ketus kakak kuartikan sebagai sikap penolakan tentang kehadiranku. Kupikir kakak berubah... dan sudah tak peduli padaku lagi..." Taufan meringis, menggaruk kepala belakangnya, "Namun... kata ketus kakak tadi membuatku seketika sadar... bahwa sebenarnya kakak bersikap seperti itu karena kakak khawatir. Kata maaf kakak semalam juga membuatku sadar, alasan kakak selama ini selalu berada di luar rumah. Aku juga baru tahu kalau kakak ternyata selama ini masih suka memotretku diam-diam selama sembilan tahun ini, aku tau dari Ochobo..."

.

.

.

.

Kilas balik, ingatan Taufan, sehari yang lalu...

.

.

.

.

.


Taufan berlari ke arah teman-temannya setelah ia mengucapkan salam pada Halilintar. Ochobo menatapnya sambil tersenyum.

"Nemenin Kak Ketu latihan?"

"Idih, males amat nungguin kakak kayak dia! Mending gue main sama kalian," sahut Taufan yang disambut tawa oleh Stanley dan Iwan.

"Jahat banget kamu sama Kak Halilintar," timpal Stanley, yang langsung disambung Iwan.

"Padahal kakakmu kayaknya cinta mati sama kamu, tau..." lalu ketawa usil.

"Kampret, cara ngomongmu menjijikan tau gak... Emangnya kakak gue homo?!" Taufan menggeram.

Stanley melirik pada Ochobo, "Woi, Chobo. Kasih tau makhluk polos ini..."

Ochobo nyengir, lalu berkata dengan gaya agak berbisik. "Kamu gak tau? Kakakmu sering diem-diem foto kamu, lho!"

Taufan kontan berteriak cepat, "Bhuuu! Bohoooong! Mati kaaaau!"

"Jiaaah, gak percaya amat..." Ochobo berhenti sebentar, lalu mengambil sesuatu dari kantongnya, sebuah smartphones.

"Hng?" Taufan menunjukkan mimik penasaran, terutama saat tak sengaja dilihatnya Ochobo membuka gallery foto. Taufan dan yang lain kontan mendekatkan diri, lalu turut menatap layar ponsel Ochobo. "He? Apaan noh?"

Ochobo mengetukkan layar ponsel pada sebuah foto. Taufan mendelik.

"O—Oi, ini kan... smartphone-nya kakak?" Taufan terkejut saat melihat apa yang di dalam foto itu adalah ponsel yang ia kenal. Ponsel di dalam foto itu sedang menampakkan berbagai macam foto dirinya. Taufan menatap Ochobo, yang ditatap hanya mendengus geli.

"Kakakmu stalker, tahu," Ochobo meringis, lalu melanjutkan. "Ini aku foto kemarin, waktu ia ke ruang BK. Kamu tau, kan? Kita gak diijinkan membawa ponsel ketika dipanggil guru BK."

Taufan terdiam. Ia tak tahu kalau kakaknya pernah dipanggil guru BK, padahal dia kan Ketua Osis dan tak pernah berbuat—Oh, tunggu. Jangan-jangan waktu Taufan bersumpah serapah di koridor sekolah gara-gara yogurt!

Taufan ikut meringis geli mengingat itu, kemudian teringat sesuatu. "Lho? Bukannya Hape kakak di lock screen ya? Aku aja gak tau kode lock screen-nya..."

Ochobo nyengir bangga, "Fufufu, jangan remehkan jaringan informasiku."

Stanley menatapnya malas, "Eleh. Bilang aja dari Kak Yaya, kan?"

Ochobo berdecak sebal pada Stanley.

"Kok, Kak Yaya bisa tau?" tanya Taufan.

"Iyalah, tau. Kak Ketu kan sering nyeritain kamu sama Kak Yaya, terus sering ngebuka hapenya di depan Kak Yaya untuk nunjukkin semua fotomu! Jadi Kak Yaya hapal kode lock screen-nya."

Wajah Taufan memerah. Malu sekaligus marah, "Kakak brengsek! Dia pake foto gue buat modusin cewek!"

Ochobo menutup ponselnya, lalu memasukkannya kembali ke dalam kantong. "Apa kamu yakin, buat modusin cewek?"

Taufan melempar skateboard-nya ke tanah, lalu meluncur pelan, "Apalagi? Kalo bukan modus namanya!"

"Masalahnya," kali ini Iwan yang angkat bicara, ia ikut meluncur menyusul Taufan, "Kakakmu menceritakanmu ke semua teman Osisnya, gak hanya Kak Yaya."

Taufan melongo, "Bohong!"

Ochobo mengangguk, ia ikut menaruh skateboardnya ke tanah dan menaikinya. Ia mulai meluncur pelan menyusul Iwan, Stanley dan Taufan.

"Betul, kok. Soalnya waktu Kak Yaya nunjukkin foto itu, kakak kelas Osis yang lain senyam-senyum dan sama sekali gak kaget. Mengingat karakter kakakmu yang nyeremin itu, harusnya mereka kaget, kan?"

Taufan diam, ia berhenti meluncur lalu menatap teman-temannya yang akhirnya ikut berhenti dan balas menatapnya.

"Taufan," Ochobo tersenyum. "Kak Ketu menyayangimu sebagai seorang adik. Sama sekali gak seperti yang kaupikirkan selama ini."

Taufan menundukkan kepala. Ia mengepalkan tangannya, menggigit bibir bawahnya. "Bohong..." Ia menahan sesalnya. Bukan mudah mendengar kata-kata itu, setelah selama ini kau berjuang untuk terlihat kuat dan berlagak tak membutuhkan sang kakak—karena kau berpikir sang kakak sudah tak memedulikanmu lagi.

"Kamu... gak masuk SMA yang sama dengan kakak?"

Kalimat itu tiba-tiba membayang di kepalanya. "Enggak... aku..." Taufan memegang kepalanya.

"Taufan?" Ochobo menghampiri, "Oi! Ada apa?"

"Tapi... Aku ingin menghabiskan setahun terakhir masa SMA-ku denganmu..."

Taufan mendelik. Tingkah kakaknya beberapa hari terakhir ini semuanya mengalir satu per satu di kepalanya. Bukan dia yang menginginkan itu, tapi di luar kesadarannya, seiring ia menolak pernyataan tentang prasangkanya yang salah, hatinya terus memberitahu tanda-tanda bahwa sebenarnya ia memang mengharapkan itu.

"Taufan... Tetap di sini..."

Taufan terdiam lama, tingkahnya membuat teman-temannya khawatir dan takut.

"Ta—Taufan... Kamu sakit?" Iwan bertanya penuh kecemasan.

Stanley menyentuh pundak Taufan, "Oi—Taufan—"

Taufan mengangkat kepalanya, lalu tersenyum, "Uhm... maaf, guys... Kalian... duluan aja ke tempat Kak Suzi... Hehe," Taufan nyengir ringan, "Aku jadi ingat hapeku ketinggalan di rumah... Bye!"

Taufan berbalik, lalu meluncur cepat ke jalan.

"E—eh! Taufaaan!" teman-temannya memanggilnya, namun tak ada satupun suara dari temannya yang berhasil menghentikan laju roda skateboardnya.

.

.

.

.

Awan mulai gelap keabuan, namun Taufan tetap meluncur tanpa henti dan tanpa arah yang jelas. Ia kesal pada dirinya sendiri, hatinya sakit, tapi entah kenapa ia tak bisa menangis. Ia tetap tersenyum seperti orang bodoh—dengan tatapan sendu yang menyedihkan. Benar, Taufan menganggap dirinya menyedihkan, walaupun ia tetap tersenyum karena merasa lega bahwa kakaknya tak seperti yang ia pikirkan selama ini. Yah, boleh dikatakan ia mengalami dilema saat ini. Haruskah ia senang? Atau haruskah ia kesal karena kakaknya selama ini menyembunyikan sesuatu yang diinginkannya?

Taufan meluncur semakin kencang di sebuah turunan jalan, angin besar melawan tubuhnya dan membuat topinya terbang mengikuti angin. "Ah—! Topiku!" Taufan berhenti di ujung jalan, lalu mendongah untuk mencari topinya yang terbang di puncak jalan tempatnya turun tadi. Namun saat ia mendongak, matanya melebar ketika dilihatnya awan sudah membumbung hitam pekat dan air mulai menetes membasahi pipinya. Taufan mulai panik. Ia segera kembali ke puncak jalan untuk memungut topinya—namun persis setelah ia berhasil mengembalikan topi ke kepalanya, hujan mulai semakin deras. Ia kelabakan, melirik kiri dan kanan untuk mencari tempat berteduh, namun ia tak melihat apapun untuk berteduh—kecuali sebuah pintu masuk menuju pekarangan belakang sekolah.

Kenyataan bahwa sedari tadi ia hanya berputar di jalan dekat sekolah sempat membuatnya tersenyum sendiri. Tanpa tedeng aling-aling lagi, ia segera masuk ke sekolah.

"Oi! Hujan! Cepat bawa masuk barang-barang karate kalian! Kembalikan ke gudang!" Samar-samar suara Halilintar terdengar dari arah lapangan.

Gudang? Benar juga, Taufan berdiri dekat gudang yang kebetulan pintunya sedang terbuka karena dua orang anak karate baru sedang sibuk mengembalikan barang.

JDARR—!

Petir mulai menyambar satu kali meski suaranya terdengar jauh, tapi cukup membuat Taufan mulai panik dan tak berpikir jernih. Ia refleks masuk ke dalam gudang. Sialnya, tak ada seorang pun dari anak karate yang menyadarinya.

"Kak! Semua barang sudah di gudang! Semua anak karate juga sudah balik ke ruang club!" Teriak seorang anak dari dekat jendela gudang.

"Ya! Langsung kunci saja gudangnya, kuncinya kamu aja yang pegang! Habis itu langsung ke ruang Club, kita keringkan badan di sana! Ayo!" Halilintar berteriak dekat pohon, lalu lekas berbalik dan berlari duluan ke arang gedung khusus ruangan-ruangan ekstrakurikuler. Disusul mereka yang telah selesai mengunci gudang.

Sementara Taufan sudah tak peduli lagi dengan keadaan sekitar. Suara petir yang bertubi-tubi itu membuat Taufan diam tak bisa bergerak. Hanya bisa jongkok dengan tubuh yang basah dan gemetar—sampai Halilintar menemukannya.

.

.

.

.

.

.

.

.

.


Taufan menatap tanah, lalu melirik kakaknya.

"Aku bukan adik yang baik seperti yang kakak bayangkan. Makanya, kak. Kumohon jangan minta maaf. Itu membuatku lebih sakit dan merasa bersalah—"

"Tidak," Halilintar mengibaskan tangannya ke udara kosong. "Kau bohong. Aku tahu kau berbohong. Kalau kau berpikir seperti itu padaku selama ini, lalu untuk apa..." Halilintar balas menatap adiknya penuh keyakinan. "...Untuk apa kau bersikap kuat dan selalu menyembunyikan masalahmu dariku?"

Taufan diam.

"Kenapa kau harus menyembunyikan dariku bahwa selama ini kau phobia terhadap petir? Kenapa kau harus menyembunyikan semua aktifitas bullying ini dariku?" Halilintar menarik nafas dalam, "Kalau kau memang berpikir aku tak peduli padamu, apa gunanya kau menyembunyikan segalanya dan bersikap kuat seperti itu?"

Taufan tersenyum. "Bukannya... Taufan udah pernah bilang ke Kak Hali alasannya, waktu dulu?"

Halilintar menatap tak mengerti adiknya.

Taufan tersenyum semakin lebar, senyumnya terkesan polos dan manis, "Karena Taufan sayang Kak Hali."

Mata Halilintar mendelik lebar. Ia menemukan fakta bahwa adiknya selama ini memiliki kepribadian dan mental yang menakutkan. Bagaimana perasaanmu? Jika kau memiliki adik laki-laki yang selama ini berpikir bahwa kau adalah kakak yang tak memedulikannya dan menganggapnya tak ada, tapi di lain sisi ia masih menyayangimu dan masih berjuang untuk tak membuatmu khawatir tentangnya. Sementara di balik semua itu, berdiri kesalahpahaman dan miskomunikasi yang mendalangi jalannya prasangka itu.

Dan yang membuat Halilintar semakin takjub adalah, meski tersiksa karena harus berjuang akibat prasangka yang salah, setelah mengetahui kebenarannya pun, Taufan masih berpikir bahwa ia merupakan adik yang kejam karena telah berpikir menaruh imej yang salah terhadap Halilintar. Jika Halilintar jadi Taufan, ia akan kesal kepada sang kakak yang selama ini hanya cuek, tak pernah bersamanya dan sama sekali tak pernah menunjukkan tanda-tanda bahwa ia peduli—sehingga menimbulkan miskomunikasi seperti ini. Dilihat darimanapun juga, bukankah ini salahnya karena tak pernah terlihat peduli pada Taufan dan hanya sibuk untuk memperkuat diri sendiri?

Halilintar mengatup bibirnya rapat. Untuk hari ini saja, ia melihat adiknya yang biasanya menyebalkan dan tukang iseng itu sebagai sosok adik ideal—dan lebih tangguh daripada yang Halilintar duga selama ini. Ia terlalu meremehkannya. Ia terlalu meremehkan adiknya yang ia pikir lemah ini.

Bukankah kisah ini terlalu sederhana? Halilintar merasa bahwa cerita yang dialaminya saat ini terjadi hanya karena kebodohannya yang ingin kuat dan ingin melindungi sang adik. Tapi lihat sekarang.

Adiknya babak belur.

Adiknya dalam kondisi sakit.

Adiknya menderita karenanya.

Halilintar larut dalam penyesalannya. Kepalan tangannya pun melemah, ia tak lagi melempar argumen. Halilintar sudah kalah dalam pertarungan kekuatan ini.

"Padahal... Aku cuma ingin jadi kuat. Itu saja," lirih Halilintar. "Tapi kuat rupanya bukan jawaban yang tepat, jika kasus yang kuinginkan hanyalah senyummu."

"...Senyumku?" Taufan memiringkan kepala tak mengerti.

Halilintar tersenyum. Ia hanya ingin kuat untuk melindungi senyum itu—senyum yang selalu ia nantikan—yang hanya ditujukan padanya. Senyum yang tak pernah ingin Halilintar lepaskan apapun yang terjadi. Senyum tulus, senyum yang membuat Halilintar merasa hidupnya bermakna dan untuk senyum itulah Halilintar hidup—sampai merelakan waktu berharganya bersama keluarga selama sembilan tahun. Senyum yang seperti di foto itu, sebelas tahun yang lalu. Juga...

...seperti saat barusan ketika Taufan mengungkapkan kebenaran perasaannya untuk sang kakak.

"Pffft," Halilintar menutup bibirnya untuk membendung tawanya, namun rupanya rasa senangnya itu sulit dihalau. "HAHAHAHAHAAA!" Halilintar mendangahkan kepalanya, tertawa ke arah langit.

"Huo?!" Taufan terkejut, "Kakak gue gila?!"

Halilintar tertawa lepas. Entah kapan terakhir kali... Halilintar bisa merasakan tawa selepas ini. Setelah puas tertawa dan mengusap air matanya, ia tersenyum lebar sepenuh hati ke arah Taufan.

"Aku juga menyayangimu, adik bego."

"WHA—?!" Taufan terkejut dengan pernyataan aneh itu. Wajahnya memerah pelan-pelan, antara senang karena ini pertama kalinya mendengar kalimat itu dari seorang Halilintar, tapi juga marah karena dikatain bego. Taufan sampai bingung, dia harus membalas apa dengan kata-kata berkontradiksi begitu. Namun akhirnya Taufan menemukan balasan yang tepat untuk pernyataan sang kakak.

Yaitu, sepasang jari tengah ke depan wajah si kakak sialan.

"SIAPA YANG BEGO! KAKAK KAMPRET!"

Dan hari ini pun berakhir dengan sepasang jitakan di kepala Taufan—dilanjutkan dengan aksi menyeret adik yang masih babak belur dan flu itu ke rumah.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

"Ngomong-ngomong... Bagaimana topimu bisa berada di tangan anak berandal itu?" Tanya Halilintar penasaran, sambil terus menarik kerah belakang dan menyeret sang adik yang sebagian tubuhnya terseok di atas tanah. Taufan sendiri tak bisa melawan karena nampaknya sudah tak bisa bergerak sama sekali.

"Sebelum kujawab itu... Kak?" Taufan mulai tak sabar, "Bisa gak sih aku digendong atau apa gitu? Masa' diseret kayak gini?!" ia mulai tersulut emosi. Hari mulai petang, dan orang yang berlalu lalang di jalan mulai memperhatikannya dengan tatapan iba. Taufan hanya bisa manyun.

Halilintar berhenti, lalu menjatuhkannya ke tanah.

"GAHH—! Kakak kampret—!" umpatnya kesal, karena seluruh tubuhnya kini tergeletak di tanah. Dengan memar seluruh tubuh dan wajahnya begitu, ditambah flu berat yang dideritanya, ia tak bisa bangkit untuk melawan aksi sadis sang kakak.

Halilintar jongkok di sampingnya, lalu menyeringai.

"Jawab dulu pertanyaanku, atau kau kutinggal di sini."

"Yassalam, Ya Allah, Ya Robbi!" Taufan mendumel, "Masa' iya aku musti cerita panjang lebar dengan posisi tiduran di jalanan begini?!" katanya sambil menatap malu orang-orang yang mulai memperhatikannya dan berkata, 'eh? Kenapa tuh? Pengemis ya?'.

"Nanti saja kuceritakan di rumah! Sekarang bawa aku pulang dulu!" Taufan memaksa karena ia mulai terintimidasi oleh tatapan orang sekitar.

"Oh? Ya sudah," Halilintar berdiri, memasukkan tangan ke kantong celananya lalu mulai berjalan menjauhi Taufan.

"EH—?! K—Kak Hali!"

Halilintar semakin menjauh dan tak menggubrisnya. Taufan semakin panik.

"IYA IYA! BAWEL AKU CERITA SEKARANG! KEMBALI KAU, KAKAK EGOIS!"

Halilintar nyengir, ia kembali dalam hitungan sepersekian detik, ke sisi Taufan.

Taufan memejamkan mata menahan malu atas tatapan orang-orang sekitar, tapi apa boleh buat, kakaknya memojokkannya.

"Jadi... setelah aku dilabrak waktu itu—" Saat Taufan hendak bercerita, ia merasa tubuhnya melayang menjauhi tanah. "—Eh?"

Saat Taufan membuka matanya, ditatapnya wajah sang kakak. Kedua tangannya melingkar di leher Halilintar dari belakang. Halilintar membawanya di punggung, dan mulai berjalan menyusuri jalan.

"Kau bodoh seperti biasa," Halilintar berkomentar dengan wajah dingin, "Mana mungkin aku meninggalkanmu hanya karena alasan itu, kan?"

Taufan tertawa kecil, "Ciyee, yang sayang sama adiknya~"

Cnut. Nadi tersembul di dahi Halilintar. "Mendengar itu darimu sama sekali tidak menyenangkan. Perlu kubuang kau ke kali terdekat?"

"Hieeee! Jangan kak! Ampuuun!"

Halilintar mendengus, lalu membenahi posisi sang adik di punggungnya.

"Jadi... Masih penasaran gak, kenapa topiku bisa ada di tangan mereka?"

Halilintar mendesah. "Kamu tuh kalo cerita bikin ngantuk, kapan-kapan aja ceritanya. Aku lagi capek."

Taufan menggembungkan pipi, "Bhuuu... Gak rameee... Tadi kakak yang nanya, sekarang kakak yang gak mau diceritain. Gimana sih? Labil."

"..." Halilintar berhenti sebentar, lalu melirik kali dekat jembatan.

"KAK? TAUFAN CUMAN BERCANDA OKEY."

Halilintar melanjutkan perjalanannya dengan tampang datar.

"Ha—Hachuuu!" Taufan bersin dan cairan kental di hidungnya mulai meler lagi.

"Gaaah! Jangan bersin dekat wajahku dong!"

"Yaa, apa boleh buat! Siapa suruh wajah kakak dekat wajahku!" kepala Taufan yang ada di pundak Halilintar dan tak bisa bergerak dijadikan alasan oleh Taufan.

Halilintar berdecak. "Kalau kakak sakit flu juga gimana?"

"Biarin, kan bagus..." jawab Taufan seenaknya. Halilintar hendak mengamuk marah lagi, namun gerakannya terhenti beberapa meter dari pagar rumahnya, ketika ia sadari sebuah mobil Lamborghini Anventador putih terparkir di seberang jalan depan rumahnya.

"Hng? Macam kenal mobil itu..." Taufan menyipitkan mata. Lalu matanya tiba-tiba fokus pada plat mobil yang bertuliskan "G 3 MPA".

Halilintar menahan nafas panjangnya, ia menatap pintu rumah yang sudah terbuka.

.

.

.

.

.

.

.


Bersambung.


A/N: Ternyata Gempa-nya belum muncul, ya... Tapi yang penting tanda-tandanya udah ada. *lalu Jim berakhir jadi kambing guling oleh fans Gempa*

Yah, setidaknya di dalam chapter ini sudah terselesaikan beberapa masalah. Lumayan sulit nulis chapter ini, saya sempat writer's block dua bulan karena lumayan bingung dengan perasaan Taufan. Dia sebenarnya ingin punya hubungan yang baik dengan kakaknya, tapi di sisi lain dia gak suka kalau kakaknya minta maaf atau bersikap manis padanya. Dia lebih suka kalau Halilintar marah-marah—mungkin karena dia gak suka kalau mereka berakhir jarang bicara lagi satu sama lain. Argh, beneran kompleks dan membingungkan sikapnya Taufan. Ditambah sifat Halilintar yang maju mundur dan tsundere akut. Hissss. Geram aku. *yang ngetiknya malah geram sendiri*

Hmm. Tapi hampir semua masalah sepertinya terselesaikan di sini ya... jadi bingung selanjutnya mau bikin masalah apa. Padahal Gempa udah mau masuk. Wakakakak~ *dilempar*

Anyway, feel free to review!