:

:


Keterangan :

Yukio : Kakak, Laki-laki (Berambut Pirang sedikit panjang -seperti Minato-, muka oval seperti Naru, mata onyx, manis tanpa 3 garis kucing, dan berkulit putih)

Yuki : Adik, Perempuan (Rambut hitam panjang, bermata shapire, wajahnya cantik namun dengan rahang tegas, dan berkulit putih)


...

"Tadaima." Sebuah suara yang terdengar sekilas seperti Sasuke namun lebih ringan meski tak secempreng Naruto.

Sepi, tumben rumahnya sepi bukannya ia sudah mengabari akan pulang hari ini?

Yah Menma, mengambil jurusan kedokteran di Universias Tokyo. Tahun ini baru bisa pulang dikarenakan mengambil SP tahun lalu, dan ia disambut keheningan? Batinnya menggerutu tak suka.

Ia lepas sepatunya dan mulai memasuki rumah, tasnya ia taruh begitu saja dibawah gantungan berdiri khusus jas ataupun jaket yang memang disediakan. Kebiasaan buruknya tak berubah ternyata. Sembarangan.

"Kaa-san? Tou-san?" teriaknya sambil memasuki ruang tamu.

Eh? kok gelap? Apa mati lampu yah? Aduh kemana sih orang rumah?

"Yuki? Yukio?" teriaknya kembali memanggil sang adik.

Masih sepi dan gelap! Sepertinya mereka meninggalkannya sendiri. Oh setega itu kah mereka dengan anak tertampannya ini? batinnya penuh narsis.

Ia mendesah kasar, dan ia hempaskan tubuhnya kesofa yang ada didekatnya –untungnya teraba olehnya– memijit panggal kepala dan mulai menyandarkan kepala. Capek dan sedikit pusing.

PRAK! PRAK! PRAK!

BYUR!

Plash!

"Gyaaaaaaaaa!"

"AHAHAHA OKAERI."

Astaga kacau sekali, lampu sudah hidup tapi ini engh menjijikan!

Sebenarnya apa yang terjadi? Uhum okay kita sedikit flashback mungkin?

.

.


Naruto © Masashi Kishimoto

Bunch of candies © Heiwajima Shizaya

Pair : SasuNaru

Warning : BL/YAOI/Gay/MxM dan apapun sebutan kalian, AU, OC, OOC, Gaje, absurd and all stuff.

Sequel of Mama wa Doukyuusei : SN vers

Don't Like Don't Read

RnR?


.

.

...

"Tou-chan! Tou-chan!" seru suara manis namun sedikit berat sambil menarik ujung baju ayahnya yang sedang duduk, Yuki.

"Apa?" tanya ayahnya yang hanya melirik sambil tetap menyeruput kopi hitamnya.

"Ne, ne hari ini Menma-nii pulang kan?" tanya Yuki dengan antusia, ia bahkan sedikit melompat-lompat.

"Lalu ada apa Yuki-chan?" kini sang ibu yang bertanya sambil membawa kue-kue kering yang baru saja keluar dari oven, ia menatanya dengan cantik didepan Sasuke, suaminya.

"Ehehe kami ingin," kata Yuki dengan antusia dan secara bersamaan langsung berkata bersama sang kakaknya, Yukio yang menyamber ikut bicara

"Membuat kejutaan untuk Menma-nii." Benar-benar kompak, yah hanya untuk hal-hal tertentu saja sih.

"Kejutan?" beo sang ibu dan ayahnya.

"Eung!" angguk Yukio imut. "Jadi kami ingin membuat kejutan saat Menma-nii datang nanti." Lanjutnya.

"Caranya?" kini sang ayah sedikit tertarik, balas dendam kejadian saat Menma sok tua yang lalu mungkin? Batinnya kejam.

"Uhm~ mungkin melemparinya dengan air sambil berkata 'Okareri~' begitu?" ide sang Yuki dengan telunjuk didagu, pose berfikir yang membuatnya imut namun secara bersamaan keren, tampan? Entahlah, mereka kan kembar yang tertukar~ (eh?)

"Ah~~ terus terus kita bikin hiasan didinding dengan kue-kue yang buanyaaak~" kini sang kakak menyahut dengan imutnya, merentangkan kedua tangannya selebar mungkin ahaha mukanya tetap tampan juga kok meski tertutup wajah imut sih.

Sasuke tersenyum samar, mengerenyit sebentar sebelum menyahut. "Telur bagaimana? Jadi kita pecahkan telur dikepanya sebelum menyiram dengan air?" sarannya dengan wajah datar membuat Naruto, istrinya tertawa kecil. Tumben tertarik dan jahil begini.

"Hihih ide bagus Tou-chan!" balas kedua anaknya bersamaan.

"Are~ are, kalau begitu Kaa-chan akan membuat kue dan cookies." Sang ibu menyahut, tak ingin ketinggalan peran.

"Yang buanyaakkkk Kaa-chan!" sahut yukio semangat.

"hihi iya iya yang buanyaaak, ne jadi yang ada mau membantu Kaa-chan, Yuki? Yukio?" jawab sang ibu sambil bertanya.

"YA! Mau Kaa-chan!" sang anak laki-laki, Yukio yang malah menunjuk diri dengan semangat dan langsung mengambil celemek kecil berwarna biru dengan aksen spiral kuning miliknya.

"Err aku mendekor ruang tamu saja Kaa-chan, ayo Tou-chan!" sedang sang anak perempuan, Yukio dengan sedikit malu menolak dan menarik sang ayah. Masih ingat ia anti dapur dan tetek-bengeknya? Benar-benar kembaran yang ajaib.

Sedang sang ibu tertawa kecil melihatnya dan kembali kedapur menyusul Yukio, sedang sang ayah tersenyum tipis (dan geli) sambil mengikuti Yuki dengan tangannya yang ditarik.

.

.

.

.

Kembali pada waktu sekarang, Menma, sang korban utama telah basah kuyub dengan cairan lengket nan amis ditubuhnya. Sofa merah yang ia duduki pun ikut terkena.

Tunggu sofa merah?

Menma mengerenyit, bukannya sofa mereka itu biru yah? Ia melihat kekanan dan kekiri dan sofa yang lain pun tak ada.

Heh! Dasar Tou-san ia mengganti dengan sofa yang tidak terpakai ternyata, pintar.

"Jadi ini ide siapa?" tanya Menma dengan menggeram, aura gelap menyelimuti.

Yuki, Naruto, Sasuke, Iruka dan Kakashi (yep ada mereka, jangan lupakan posisi mereka sebagai 'kakek' mereka) dengan teganya menunjuk Yukio langsung sedang Yuki sendiri menunjuk Kakashi.

Ckck kasihan sekali kau nak jadi kambing hitam. (Bukannya memang ia yah?)

"Err Menma-nii?" panggil Yuki ragu melihat sang kakak yang sudah berdiri.

Kretek! Kretek!

Suara tangan Menma yang ia renggangkan pun berbunyi dan senyum iblis miliknya (warisan Sasuke) seketika mengembang.

"Yu-ki-chan~" panggilnya dengan nada sing a song.

"Err ya Menma-nii?" sahutnya ragu, kaki kirinya sudah ia kebelakangi, ancang-untuk kabur.

"MATI KAU!" teriak sang kakak yang langsung mengejar Yuki, sedang yang dikejar sendiri langsung dengan gesit berlari kesana kemari, kakaknya benar-benar seram.

Yang lain? Mereka duduk –disofa yang asli dan bersih tentunya– dan tertawa sambil menikmati cookies serta menonton drama live sang anak.

"Yuki, awas dibelakangmu." Arah sang kakak kembarnya namun masih dengan cookies ditangannya.

"Yak dia mendekat Yuki." Arah sang kakak lagi, kini dia dengan santai menyeruput jus jeruk.

"Eh eh Yuki awas!"

dan

Bruk!

Kini arahan sang kakak terlambat, Yuki sudah tersandung karena terjegal Menma. Dan ia dengan indahnya tergeletak dilantai.

"Kyaaa tidakkkk!" teriaknya ala-ala korban pelecehan, berlebihan.

Sedang sang kakak malah tersenyum lebar meski nafasnya memburu. "Main sama kakak yuk manis~" ucapnya ngaco, kenapa ini benar-benar seperti drama picisan sih? Sasuke dan Kakashi sweetdrop. Sedang Naruto, Yukio dan Iruka menangis ala komikal.

GREP!

Menma memeluk Yuki dengan kencang, sedang Yuki menggeliat tak terima yang malah membuatnya semakin kotor dan lengket.

Ingat Menma penuh cairan lengket dan basar akibat telur dan air? Dan kini ia sedang 'membagi' ke adik tercintanya. Baik bukan~

"Hweee bauuuuuu! Kaa-chan, Yukio-nii tolong~" rintih Yuki dengan nada memelas.

"AHAHAHA." Yukio tiba-tiba tertawa dengan terbahak ketika melihat wajah dan baju Yuki yang sudah lengket.

Oh maaf-maaf saja ia tak mau membantu.

Dan yang lain terkiki geli (kecuali Sasuke yang tersenyum tipis).

"Haha sudah-sudah, kalian berdua mandilah baru setelah itu kita makan bersama." Ucap sang ibu bagai dewi (atau dewa?) penolong bagi Yuki.

Menma menurut dan mereka berdua kekamar mandi sambil saling sikut.

"Ahaha astaga dua anak itu." Komentar Iruka dengan tertawa.

"Aaha cucu-mu itu." Tambah Kakashi masih tertawa dibalik maskernya.

Iruka melotot, ia menjewer kuping Kakashi. "Cucumu juga, Ero!"

"Sudah, sudah, Iruka-jii, Kakashi-jii mereka semua cucu kalian, sudah yah~" Naruto memisahkan kedua figur ayah baginya itu.

"Lebih baik kalian menginap saja hari ini." usul Sasuke tiba-tiba sambil berdiri.

"Naru kau siapkan makan malam dan Yukio nanti kau temani kakek-kakekmu." Lanjutnya lagi sambil berjalan kekamar.

"Lalu kau?" tanya Kakashi memicing.

"Mandi." singkat Sasuke membuat mereka sweatdrop. Astaga.

"Baiklah, sebaiknya kalian juga mandi hari sudah gelap, aku akan memasak selagi kalian semua mandi." putus Naruto sambil berjalan kedapur dan diikuti anggukan yang lain.

"Psst mandi berdua yuk Iru-koi." Bisik kakashi ditelingan Iruka, sedang Yukio tak melihat karena sudah berjalan duluan.

"JANGAN BERBUAT MESUM DIRUMAHKU JII-CHAN MESUM!" teriak Naruto dengan sigap melempar sepatulanya –yang entah kenapa sudah ditangannya padahal belum mencapai dapur– ketika mendengar bisikan Kakashi. Telinga super ckck.

"Kyaaa ampun!" teriak Kakashi dengan tidak elitnya dan berbegas kekamar disebelah kamar utama, kamar yang memang disediakan khusus untuk mereka jika berkunjung.

Naruto menggeleng pelan, astaga sudah tua masih saja mesum. Batinnya sambil melanjutkan ke dapur.


FIN or TBC?


Ahaha gomen ternyata kemarin typo(s) bersebaran banget ya? Aduh Shi masih suka ketuker sama Yukio-Yuki sepertinya XD gomen ne~~

Big thanks buat yang udah review :

Hanazawa Kay, Vianycka Hime, Uzumakinamazehaki, Gothiclolita89, Miszshanty05, RisaSano, Fatayahn, Dinda Clyne, LemonTea07, Neko Twins Kagamine, Lussy . Maniezpisan, Yhani . tea . 05, Kei-chan.

And Big thanks juga buat yang udah favo, follow, and baca :

Ne minna bagaimana?

Masih mau lanjut ato stop?

Mind to review again?

Jaa ma– ups ada bonus kayaknya~


...

Sasuke mandi dengan sedikit cepat hari ini, mungkin karena siang tadi ia sudah mandi lalu setelah menyambut anaknya kini ia mandi lagi.

Ia mematikan keran showernya, mengelap wajahnya dengan tangan lalu meraba mencari handuk.

Ia usap seluruh tubuh dengan handuk dan setelahnya melilitkannya dipinggang.

Mandi itu selalu membuat segar!

Ia keluar kamar sambil mengeringkan rambutnya menggunakan handuk kecil lalu mencari pakaiannya. Jangan tanya rambut Sasuke ketika basah oke?

Ia memakai kaos tipis berwana biru gelap dan celana 3/4. Ia sedang malas menggunakan piyama ataupun pakaiannya yang lain, cukup simple saja kan ketika keluarganya berkumpul.

Sepertinya yang lain sibuk mandi.

"Gyahahaha Jii-chan ampun nyahahaha~"

Oh sepertinya kecuali Yukio yang sedang bermain ayo-gelitiki-aku dengan sang kakek Iruaka.

Sasuke kembali berjalan menuju dapur, tepat 'istri'nya menyiapkan makan malam yang cukup cepat? Waktu menunjukan pukul lima sore sih.

"Eh Suke?" kaget sang 'istri' ketika Sasuke memeluk tiba-tiba dari belakang saat ia sedang mengaduk masakannya.

Sasuke mengeratkan pelukannya

"Ada apa hum?" tanya sang 'istri' kembali bertanya masih dengan mengaduk-aduk.

Sasuke menyandarkan kepalanya sambil mengumam sebentar.

"Ahaha–umphhh pffft." Naruto menahan tawa gelinya saat melihat sang suami mendelik dari belakang.

"Kau ini mesih saja merasa cemburu, ku kira setelah Menma kuliah kau sudah berkompromi dengannya." Kata Naruto sambil mematikan kompor dan berbalik sepenuhnya menghadap suaminya. Ia tadi mendengar gerutuan sang suami 'Menma pulang' yang artinya disisi ia bahagia dapat bertemu sang anak, ia masih merasa tersaingi. Ckck.

"Hey!" Naruto menelungkupkan kedua pipi Sasuke dengan tangannya.

"Aku mencintaimu." Ucapnya sambil mengecup pelan bibir Sasuke sekilas.

Smirk!

Kena kau!

Cup!

Smooch!

"Engh~" Naruto kaget dicium dalam sang suami, ia memberontak ini bukan waktu yang tepat.

Mendorong pelan Sasuke yang untungnya mengerti, akhirnya tautan mereka terlepas. Memukul pelan puncak kepala Sasuke, Naruto membelakangi kembali suaminya kembali memasak dan menghidupkan kompor.

"Mesum!" gerutu Naruto sedang yang dikatai tersenyum saja.

Eh ngomong-ngomong mesum, ia jadi lupa bertanya mengenai ini padahal sudah beberapa tahun terlewat.

"Naru, kenapa kedua ayahmu tidak ingin anak?"

Naruto tediam sebentar sebelum kembali berkutik dengan masakannya kembali.

"Kakashi tak ingin diganggu." Jawabnya simple membuat Sasuke mendengus kasar.

"Lagi pula Iruka sudah tak muda lagi, ia hanya takut jika mereka memutuskan mempunyai anak kandung nanti terjadi apa-apa." Lanjut Naruto membuat Sasuke berpikir kembali.

Benar juga, dulu saja waktu lahiran Yuki dan Yukio Sasuke amat sangat cemas. Pasalnya meski serumnya sudah cukup bagus namun untuk persalinan tetap saja Naruto harus dioperasi sedang serumnya tak dapat merubah bagian bawah 'istri'nya itu.

Kalau Iruka menggunakan serum buatannya, resiko yang ia terima lebih besar karena faktor umur juga. Ternyata selain Kakashi tak ingin diganggu, ia juga memikirkan sang 'istri' toh.

"Lagi pula, mereka bilang sudah memiliki aku, Menma, Yuki, Yukio dan kau, Suke." Jelas Naruto.

Ah manisnya~~

Tersenyum lembut Sasuke kembali memeluk Naruto dari belakang dan menciumi rambut pirangnya.

"Ehem! Kalau mau mesraan jangan didapur bisa?" ucapan berat dengan nada skartis itu sudah dihapal mereka berdua terutma Sasuke.

Menma, kembali mengulangi kebiasaannya yang lain, mengganggu aksi mesra mereka lalu akan–

"Kaa-san~ bukain~ tangunku licin~" rengek Menma terhadap Naruto sambil menyerahkan botol jus tomat.

–Memonopoli Naruto!

Sasuke berdecak kasar, lalu keluar dari dapur dan sepertinya akan bergabung dengan Iruka dan Yukio.

"Bwelk." Menma menjulurkan lidahnya.

Ck! Menma ingat marga mu -_- astaga jika mengenai Kaa-san mu kau benar-benar ooc ternyata.

"Hush sudah menggoda ayahmu Menma." Naruto tersenyum geli sambil menegur sang anak. Ia menyerahkan botol jus tomat milik Menma yang telah terbuka. "Bagaimana gadis di Tokyo?" tanya Naruto jahil dengan maksud tersembunyi.

"Tidak usah bertanya begitu Kaa-san." Menma merajuk. "Gadis disana memang cantik tapi tak ada yang menarik." Gerutunya dengan diakhiri meneguk jusnya.

Naruto mengangguk mengerti dan kembali fokus kekompornya. Oh~ masih single toh, dia ini tampan tapi pemilih ckck.

Naruto tersenyum geli memikirkan kesimpulan dari sikap Menma tadi, sedang Menma sendiri masih meminum jusnya sambil duduk di konter yang memang disediakan sebagai pembatas antara dapur dan meja makan.


Jaa mata ne~