Braaaaak...

Naruto terkejut dan berteriak histeris membuat Sasuke terkejut, bingung dan sekaligus khawatir.

"Ampuni aku... Aku mohon jangan pukul aku..." Naruto duduk bersujud sambil menggosokan kedua telapak tangannya di depan dada berharap Sasuke akan mengampuninya.

Sasuke terkejut melihat tindakan Naruto apalagi di sekujur tubuh Naruto banyak terlihat luka sayatan.

"Naruto apa yan terjadi? Kau kenapa?" tanya Sasuke dan berusaha mendekat tapi Naruto malah berteriak dan menggeser tubuhnya kebelakang.

"Ampuni aku hiks..." Naruto terisak sambil menggelengkan kepalanya.

Sasuke terdiam mendengar perkataan Naruto. Apa yang sebenarnya di alami Naruto hingga gadis yang baru saja menginjak usia tujuh belas tahun itu terlihat ketakutan dan meminta ampun kepadanya.

"Aku mohon jangan pukul aku... ampuun hiks... Aku bukan pembunuh dan aku akan belajar dengan rajiin hiks... jangan pukul aku..." Naruto menangis tersedu memandang wajah Sasuke yang terlihat seperti wajah Minato.

"Tidak akan ada yang memukul mu." ujar Sasuke pelan sambil berusaha untuk menyentuh Naruto tapi gadis itu semakin berteriak histeris.

Terpaksa Sasuke kembali ke dalam kamarnya untuk mengambil obat bius. Setelah siap dengan suntikannya Sasuke kembali kedalam kamar Naruto dan melihat gadis itu sedang melukai dirinya sendiri menggunakan gunting.

Sasuke merampas gunting itu cepat dan Naruto berteriak semakin keras. Sasuke langsung saja memeluk Naruto dan menyuntikan obat bius.

Naruto terdiam setelah suntikan itu menusuk lengannya lalu secara perlahan-lahan dia mulai tenang dan tidak berteriak seperti tadi. Sasuke membuang suntikan itu ke dalam kotak sampah kemudian menggendong Naruto ala bridal style dan menidurkannya ke atas kasur.

Pandangan Naruto mulai mengabur tapi air matanya masih mengalir dari sudut mata kemudian dia tertidur akibat obat bius yang Sasuke suntikan untuknya.

Setelah Naruto tenang dan tertidur, Sasuke kembali ke dalam kamarnya untuk mengambil tas besar miliknya yang memang berisi alat-alat kedokteran pribadi miliknya serta obat-obatan.

Sasuke mulai mengobati luka-luka Naruto yang masih terlihat baru bahkan ada yang menganga cukup lebar dan harus di jahit. Setelah mengobati luka yang baru, Sasuke mengoleskan salep ke luka yang sudah kering agar bekas-bekas itu menghilang karena saat ini tubuh penuh luka sayatan dan sangat tidak enak untuk di lihat.

Jika melihat semua luka yang ada di tubuh Naruto ini, siapapun akan tahu kalau Naruto itu self-injury tapi apa dan kenapa Naruto melakukannya.

Apa yang di alami oleh gadis yang baru saja menginjak usia tujuh belas tahun itu, hingga melakukan hal ini?

Apa penyebabnya?

Apa yang Naruto pikirkan?

Dan kenapa?

Pasti alasan di balik semua ini.

Sejak awal Sasuke bertemu dengan Naruto. Dia sudah merasa aneh. Mengapa kedua sapphire Naruto terlihat kosong tanpa cahaya. Gadis itu boleh tersenyum di depan siapapun, dia boleh bertindak seolah dirinya bahagia didepan semua orang tapi dia tidak bisa membohongi Sasuke yang memang seorang dokter. Naruto menyembunyikan sebuah rahasia yang dia tidak ketahui dan sebentar lagi akan dia gali dan dia ketahui.

.

.

.

.

.

.

.

.

Arigatou

Chapter 3

By Mitsuki HimeChan

Baturaja, 16 Agustus 2016

Sumatera Selatan

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Naruto berjalan keluar dari dalam kamarnya dan menghampiri Sasuke yang sedang menikmati secangkir kopi hitam di pagi hari. Langkah kaki Naruto terhenti setelah dia sampai dan memilih untuk berdiri, menunggu Sasuke memintanya untuk duduk.

"Apa yang kau lakukan dengan berdiri?" tanya Sasuke seraya menaruh cangkirnya keatas meja.

"Kalau Sasuke bilang duduk, aku akan duduk." jawab Naruto sambil menundukan kepalanya.

"Duduklah."

Naruto langsung duduk setelah diperintah lalu dia kembali diam.

"Kenapa belum sarapan? Makanlah." ujar Sasuke setelah lama Naruto duduk tapi belum juga menyentuh lembaran roti tawar yang ada di atas meja.

"Iya." Naruto mengangguk dan menuruti perintah Sasuke.

Sasuke menghela napas melihat sikap Naruto. "Kau seperti budak, yang harus disuruh baru nurut." ujar Sasuke sarkastik. Kepala Naruto menunduk sambil menguyah rotinya dalam diam.

"Siapa yang mengajarkan mu seperti ini?" tanya Sasuke sinis.

"Ayah." jawab Naruto pelan. Sebelah alis Sasuke naik mendengar jawaban Naruto yang menurutnya tidak masuk akal.

"Maksudnya?" tanya Sasuke bingung.

"Kata ayah aku baru boleh makan kalau ayah bilang boleh." jawab Naruto jujur dengan wajah polosnya sambil memakan roti. Sasuke mendengus dan menyederkan tubuhnya kesandaran kursi.

"Jangan bilang kalau siang dan malam kemarin kau tidak makan?" Naruto mengangguk sebagai jawaban.

"Disekolah kau juga akan makan kalau ayah mu mengizinkan?" Naruto kembali mengangguk.

"Dan sekarang kau sudah menikah dengan ku dan ayah mu meminta mu untuk menuruti perintah ku?" Naruto mengangguk mengiyakan.

Kedua tangan Sasuke mengepal karena kesal. Oh inikah alasan tubuh Naruto benar-benar kurus seperti orang kurang gizi? Padahal keluarganya tidak pernah kekurangan apapun soal uang.

"Lalu kenapa semua tubuh mu luka? Jawab dengan jujur!" ujar Sasuke tegas membuat Naruto berhenti menguyah.

"Kalau aku tidak bisa mengerjakan soal kimia dan mendapat nilai kecil, aku akan menghukum diriku sendiri dan kalau aku merasa kesal dan tidak berguna, aku juga akan menghukum diri ku sendiri." jawaban Naruto membuat Sasuke semakin kesal dan marah, marah bukan karena tidakan yang Naruto ambil tapi lebih tepatnya marah dan kesal kepada Minato, ayah Naruto.

"Lalu luka lebam mu? Siapa yang buat?" tanya Sasuke sambil menahan amarahnya.

"Ayah." jawab Naruto.

"Kenapa ayah mu memukul mu?" tanya Sasuke.

"Karena aku pembunuh, pembawa sial dan bodoh." jawab Naruto sambil menautkan kedua tangannya.

Braaaak...

Sasuke berdiri dari duduknya sambil menggebrak meja dengan keras hingga Naruto ketakutan dibuatnya bahkan Naruto mulai beranjak dari kursi.

"Jangan pukul aku Sasuke." pinta Naruto ketakutan dan berhasil membuat amarah Sasuke redah karena melihatnya.

"Hari ini kau jangan sekolah, kita akan psikolog." ujar Sasuke mutlak membuat Naruto mendongkan kepalanya. "Tapi kalau aku tidak sekolah nilai ku akan kecil dan ayah akan memukul ku." ujar Naruto sambil memeluk dirinya sendiri. Kedua sapphirenya terlihat resah menatap lantai.

"Tidak akan ada yang memukul mu Naruto." ujar Sasuke seraya berjalan mendekati Naruto yang berjalan mundur karena dirinya mendekat tapi gerakan Sasuke jauh lebih cepat dan meraih lengan Naruto lalu menariknya mendekat.

"Ganti pakaian mu sekarang juga."

...

Mikoto terpekik senang mendengar perkataan Itachi mengenai Sasuke yang menerima tawaran menjadi guru di KIS. Sebenarnya itu hanya akal-akalan Mikoto dan Itachi untuk mendekatkan keduanya.

Itachi meraih gelasnya yang berisi juz jeruk lalu meminumnya hingga setengah.

"Ku rasa Sasuke akan benar-benar memperhatikan Naruto selama di sekolah." ujar Itachi.

Mikoto tersenyum lebar sedangkan Fugaku hanya menggelengkan kepalanya pelan. "Kalian ini." ucapnya pelan. Mikoto tersenyum lalu mengamit lengan suaminya.

Mikoto menghela napas dan menyandarkan kepalanya kebahu Fugaku. "Aku yakin, Kushina pasti akan bahagia." ujarnya tulus seraya mengukir senyum di wajahnya yang masih terlihat muda meski usianya semakin menua.

"Tapi bu, apa ini tidak terlalu berlebihan?" tanya Itachi.

Mikoto menggeleng pelan, "Ini yang terbaik untuk Naruto, ibu tahu kalau selama ini Naruto sendirian. Naruto sulit di sentuh tapi kalau dia sudah menikah mungkin dia bisa berbagi kesedihannya dengan Sasuke. Meskipun Naruto selalu terlihat bahagia tapi ibu yakin kalau selama ini sebenarnya Naruto menderita." ujar Mikoto sendu.

"Maksud ibu?" tanya Itachi tidak mengerti.

"Kau akan tahu nanti Itachi." timpal Fugaku. Itachi mengangguk mengerti.

"Kalau begitu bu, aku mau ke kantor dulu menggantikan Sasuke." ujar Itachi lalu beranjak dari duduknya.

"Hati-hati." ujar Mikoto sambil tersenyum cerah.

"Hn." sahut Fugaku sambil mengangguk mengerti.

...

"Sasuke." panggil Kabuto pelan setelah keluar dari ruang pemeriksaan

"Hn." sahut Sasuke.

"Istri mu mengalami trauma yang bisa di bilang cukup berat. Apalagi sepertinya dia self-injury yang bisa dibilang kelewat batas, ada ketakutan didalam matanya. Aku harap kau bisa menjaganya dengan baik, mungkin kau memang bukan dokter kejiwaan tapi aku tahu, kau pasti mengerti maksud ku saat ini." ujar Kabuto seraya duduk dikursinya.

"Aku akan memberikan resep obat untuk Naruto." ujarnya lagi dan mulai menulis di selembar kertas putih.

Sasuke hanya diam memperhatikan karena saat ini pikirannya sudah melayang entah kemana karena mendengar penuturan Kabuto.

"Apa yang gadis itu alami hingga dia seperti itu Sasuke?" pertanyaan Kabuto menyadarkan dirinya.

"Menurutmu." jawab Sasuke. Kabuto berdehem pelan, dia tahu maksud Sasuke. Naruto tidak akan bertindak seperti itu meski dapat tekanan dari luar karena dari dalam ada keluarganya yang setia tapi kalau keluarganya juga bertindak seperti yang orang luar lakukan maka inilah hasilnya.

"Temani dan sayangilah dia Sasuke, dia gadis yang lemah dan rapuh, jika tidak kau topang mungkin akan runtuh. Jiwa dan raga gadis itu terluka parah. Kedua matanya terlihat kosong dan hanya dipenuhi dengan ketakutan." ujar Kabuto seraya menyodorkan selembar kertas kepada Sasuke.

"Aku mengerti." sahut Sasuke dan menerima selembaran kertas kecil itu lalu di lipatnya dan disimpan didalam saku celana.

"Terima kasih Kabuto." ujar Sasuke dan beranjak dari duduknya.

"Sama-sama." sahut Kabuto lalu pria berambut putih itu mengantar Sasuke kedalam ruang pemeriksaan dimana Naruto duduk diam diatas kasur dengan pandangan kosong.

"Hei ayo ikut aku." ujar Sasuke seraya mengulurkan tangan kanannya di depan wajah Naruto, Naruto yang melihatnya, menatap tangan itu datar dan penuh tanda tanya.

Melihat wajah polos Naruto membuat Sasuke menghela napas lalu meraih tangan kanan Naruto menggunakan tangan kirinya lalu menaruh tangan Naruto diatas tangan kanannya. "Kita harus pergi sekarang." ujarnya sambil menggenggam erat tangan Naruto.

Naruto mengangguk patuh lalu turun dari atas ranjang dengan tangannya masih berpegangan dengan tangan Sasuke yang terasa hangat dan nyaman saat dia sentuh.

"Arigatou." gumam Naruto pelan nyaris tidak terdengar oleh siapapun kecuali Sasuke yang hanya termenung mendengarnya, suara Naruto terdengar sedikit lebih hidup.

...

Sasuke bertanya apa yang ingin Naruto lakukan dan makanan apa yang Naruto inginkan semuanya dia tanyakan dan Naruto menjawab. Naruto tidak tahu harus apa saat semua keinginannya di kabulkan oleh Sasuke.

Sasuke membelikannya lima buah boneka berbeda bentuk dan Naruto suka boneka rubah berwarna kuning gelap dengan jumlah ekor sembilan, Sasuke juga membelikan dirinya ice cream rasa jeruk manis, membelikan dirinya flat shoes sesuai dengan keinginannya, lalu membelikan dirinya ramen.

Sasuke ingin tertawa melihat Naruto makan ramen yang terlihat lucu, Naruto yang tahu Sasuke ingin menertawai dirinya hanya diam saja lalu membuang muka dan menghabiskan ramennya yang ketiga.

Lalu Sasuke membawanya ke temezone untuk bermain sepuasnya.

Naruto menatap timezone di depannya dengan takjub dan mulai memainkan semua permainan yang ada. Dia sangat senang bahkan dia tersenyum puas saat menang sedangkan Sasuke hanya memperhatikan saja.

Apa yang sebenarnya Minato lakukan kepada Naruto? Dan bagaimana keadaan Naruto selama ini? Apa gadis itu kelaparan setiap hari saat tidak mendapat izin untuk makan?

Itulah yang Sasuke pikirkan saat ini, dia merasa kasihan kepada Naruto tapi tidak dia tunjukan karena dia tahu Naruto adalah orang yang tidak suka dikasihani.

"Lihat Sas! Aku menang lagi!" seru Naruto melihat layar didepannya. Sasuke yang tersadar langsung melihat kearah Naruto seraya tersenyum tipis tanpa dia sadari. Dia tidak tahu, apakah ini memang senyuman tulus dia berikan kepada Naruto atau hanya kasihan?

Ditempat lain, Sakura dan Ino saat ini sudah berada dilantai lima dimana tempat timezone berada dan hari ini, Ino akan mengajak Sakura bermain sampai puas dan melupakan Sasuke karena Sakura susah move on dari mantannya itu.

Ino tidak habis pikir, kenapa Sasuke meninggalkan Sakura hanya untuk menikahi gadis yang bahkan belum tamat SMA. Kalau Sasuke memang mencintai Sakura, kenapa tidak di perjuangkan? Kalau Sakura memilih untuk meninggalkannya karena tidak di restui, seharusnya Sasuke berusaha dan terus berusaha untuk mendapatkan restu dan meyakinkan Sakura kalau dia sangat mencintai Sakura.

Tapi apa akhirnya apa? Dia tidak memperjuangkan Sakura sama sekali.

Ino menarik lengan Sakura dan membawanya kearea permainan lempar bola basket.

"Aku akan masukan koinnya." ujar Ino seraya memasukan koin timezone yang tadi dia beli.

Waktu telah berjalan dan mereka mulai melempari bola basket agar masuk kedalam ring.

Sakura tersenyum cerah dan kembali berusaha memasukan bola ke dalam ring tapi gerakannya terhenti saat kedua emeraldnya melihat Sasuke yang sedang berdiri memperhatikan seorang gadis berambut pirang yang sedang bermain dengan asik. Sasuke tersenyum tipis karena melihat gadis itu bermain.

"Kau kenapa?" tanya Ino dan mengikuti arah pandang Sakura.

Ino mengepalkan kedua tangannya saat melihat Sasuke bersama Naruto. Naruto berbalik lalu menunjukan tiket-tiket kecil yang dia dapat kepada Sasuke, gadis itu terlihat bahagia tapi bahagianya gadis itu sudah membuat Sakura menderita.

Ino langsung berlari begitu saja kearah Sasuke saat Naruto kembali sibuk bermain.

Plak!

Dengan cukup keras Ino menampar pipi Sasuke hingga Sasuke tidak sadar dari arah mana Ino datang. Sakura yang melihatnya mengejar Ino dan berhenti di hadapan Sasuke.

"Ino apa yang kau lakukan?" tanya Sakura setengah membentak.

Ino menggeram kesal, "Kau! Kau tidak pantas mendapatkan Sakura! Setelah kau meninggalkan Sakura menderita, kau malah bahagia dengan gadis ingusan!" bentak Ino kesal.

Sasuke mengelus pipinya pelan dan menatap Ino tajam, "Siapa yang kau sebut gadis ingusan?" tanyanya dingin tapi menusuk.

"Tentu saja istrimu!" jawab Ino ketus. Sasuke mengepalkan kedua tangannya kesal, berani-beraninya Ino menghina istrinya. Meskipun Sasuke akui dia benci dengan perjodohan ini tapi tetap saja dia tidak bisa menerima jika ada orang yang menghina miliknya dan Naruto adalah miliknya yang tidak akan dia lepaskan meski Naruto yang memintanya karena di keluarga Uchiha, perceraian itu haram!

"Kau!" desis Sasuke tajam dan siap melayangkan tangannya ke pipi mulus Ino tapi tertahan karena Ino adalah wanita dan dia tidak memukul wanita.

"Ino sudahlah." ucap Sakura lembut karena takut melihat Sasuke marah besar.

"Jangan pernah kau menghina istriku kalau tidak aku bisa sa–"

"Kyaaaaaaa..." perkataan Sasuke terhenti saat mendengar terikan Naruto bahkan kini semua mata pengunjung mengarah ke Naruto yang berjongkok sambil menutup kedua telinganya.

"Naruto!" seru Sasuke dan berusaha menghampiri Naruto tapi Naruto berdiri dan berjalan mundur.

"Jangan mendekat!" bentak Naruto keras. Ino dan Sakura yang melihatnya ikut mendekat kearah Sasuke.

"Naruto ada apa?" tanya Sasuke dengan suara yang melembut agar Naruto tidak ketakutan tapi gadis itu malah menggelengkan kepalanya pelan.

"Tadi ada dua anak berseragam KIS datang dan mengejeknya lalu dia berteriak." ujar salah satu pengunjung kepada Sasuke. Sasuke menoleh kearah pengunjung itu lalu kembali melihat ke arah Naruto yang ketakutan.

"Aku Sasuke, Naruto ayo kemari." ujar Sasuke lagi dan berusaha mendekat dan mengulurkan tangannya kedepan. Naruto menggelengkan kepalanya pelan dan masih berusaha untuk mundur.

Sakura dan Ino yang melihat hal tersebut hanya bisa diam dan juga merasa khawatir sekaligus bingung dengan sikap Naruto.

"Lepaskan!" teriak Naruto keras saat Sasuke berhasil menariknya ke dalam pelukan.

Beberapa petugas datang menghampiri dan hendak memisahkan Sasuke dan Naruto tapi Sakura melarang dan mengatakan kalau mereka suami istri.

Naruto menangis dan berusaha untuk melepaskan dirinya.

"Naruto tenanglah, tidak akan ada yang menyakiti mu. Aku janji." ujar Sasuke. Naruto masih menangis tapi tidak berusaha untuk melepaskan diri seperti tadi.

Sasuke membawa Naruto menjauh dari area timezone saat Naruto sudah tenang. Sakura dan Ino mengekor dari belakang untuk memastikan keadaan Naruto yang entah kenapa membuat mereka khawatir.

Sasuke membawa Sasuke ke tempat makan. Naruto duduk disamping Sasuke sambil melihat ke bawah karena di depannya ada Sakura dan Ino.

"Mereka teman ku, kau jangan takut." ujar Sasuke sambil mengelus rambut pirangnya lembut.

Perlahan Naruto mengangkat wajahnya dan melihat kearah Sakura dan Ino yang tersenyum untuknya.

Karena Naruto mulai tenang, Sasuke mulai bertanya karena Naruto itu nurut dan tidak bohong, jadi itu akan lebih mudah untuk mengorek apa yang Naruto alami tadi hingga seperti ini.

"Kenapa kau berteriak tadi?" tanya Sasuke.

"Aku takut." jawab Naruto pelan.

"Apa yang membuat mu takut?" tanya Ino dengan suara yang cempreng membuat Naruto kembali menundukan kepala karena takut. Sasuke menatap Ino tajam dan wanita itu hanya tersenyum dengan wajah tanpa dosa sedangkan Sakura hanya diam memperhatikan Naruto.

"Apa yang mereka katakan hingga kau takut?" tanya Sasuke.

"Aku bodoh dan membawa sial. Sasuke jangan dekat-dekat dengan ku." jawab Naruto dengan polos.

"Kau tidak bodoh dan tidak membawa sial. Kau adalah gadis yang pintar dan selalu membawa keberuntungan. Mereka iri dengan mu dan berkata bohong tentang kau yang bodoh dan membawa sial, mereka bohong." ujar Sasuke menjelaskan sambil mengelus rambut Naruto.

"Benarkah?" tanya Naruto penuh harap sambil memandang ke dalam onyx Sasuke.

"Hm." Sasuke mengangguk.

Tak lama pelayan datang dan membawakan pesanan mereka.

"Naruto, kenalkan aku Ino dan ini Sakura." ujar Ino seolah lupa dengan apa yang dia lakukan tadi. Naruto menatap keduanya takut-takut. "Naruto." ucap Naruto pelan lalu menyembunyikan dirinya di lengan Sasuke yang sejak tadi merangkulnya.

"Jangan takut Naruto, kau tidak boleh lagi takut. Kau harus berani." ujar Sasuke yang terus memotivasi Naruto untuk bangkit dari keterpurukan.

"Sasuke." panggil Naruto pelan.

"Ya?" sahut Sasuke.

"Jangan tinggalkan aku." pinta Naruto dengan suara yang memohon.

Sasuke terdiam mendengar permintaan Naruto. Bukan dia saja yang mendengar permohonan Naruto tapi Ino dan Sakura juga mendengar.

"Jika Sasuke seperti ini terus, aku takut suatu saat nanti Sasuke akan pergi dan juga meninggalkan aku. Tapi kalau Sasuke jahat, gak apa kok. Aku senang karena Sasuke pasti tidak akan meninggalkan aku seperti ayah. Ayah jahat tapi tidak pernah meninggalkan aku. Aku takut Sasuke, aku takut saat orang baik kepadaku, mereka akan pergi meninggalkan aku." ujar Naruto yang kembali hampir menangis bahkan air mata kembali membendung di pelupuk matanya.

Ino hampir menangis mendengarnya begitu juga dengan Sakura.

"Aku Uchiha Sasuke berjanji tidak akan pernah meninggalkan Uchiha Naruto sampai kapanpun dan aku tidak akan jahat hanya karena tidak akan meninggalkan Uchiha Naruto."

Bersambung~