Disclaimer oleh Masashi Kishimoto

Hyuuga Hinata X Uzumaki Naruto

#

#

#

#

#

Devilish Lips

#

#

#

#

-Happy Reading-

Pada akhirnya…

Dengan wajah ditekuk Hinata mengerjakan tugas yang seharusnya menjadi tugas Naruto, sesekali mata Hinata menatap punggung pria berjas dokter itu yang sedang menulis sesuatu di meja kerjanya. "Kenapa harus aku?" Hinata mendumel sendiri dan memisahkan berkas rekaman medis milik siswa sekolahnya. Dia terlihat terpaksa membantu Naruto karena ancaman itu, padahal dia hanya ingin istirahat karena hangover. Ah sialan. Hinata menghela nafas dengan berat dan meletakkan kertas yang sesuai dengan kelas.

TUK!

Sebuah kertas yang ditumpuk setebal 5 cm dipakai oleh naruto untuk memukul kepala Hinata. "Ittai." rintih Hinata yang shock langsung menjauh dari Naruto. "Apa yang kau lakukan?" Hinata mengelus kepala yang bekas dipukul Naruto.

"Taruh dimana pikiranmu? Fokus! Aku akan memberikanmu pekerjaan lebih banyak kalau kau tidak fokus."

"Apa kau tahu?!" Hinata langsung bangkit dari duduknya.

"Kau pergi? itu artinya kau tidak mematuhi perintahku." ujar Naruto melipat kedua tangannya didada dan menyeringai licik. "Kau yakin?"

Hinata langsung duduk kembali dan mengerjakan tugasnya dengan cepat agar dia bisa keluar dari cengkram sang iblis.

Inilah mata empat yang mengerikan Uzumaki Naruto, tidak sopan dan memiliki kepribadian kasar. Aku membencinya! jerit hati Hinata.

"Dokter Namikaze-kun~" panggil seorang siswi yang berdiri didepan pintu ruangan perawatan sekolah bersama dua siswi lainnya, gadis dengan nama tag yang bertuliskan Suzume tepat di dada bagian kanannya. Tunggu apa aku tidak salah mendengar? dia barusan memanggil iblis ini dengan suffiks 'kun'.

Naruto yang merasa terpanggil langsung berpaling memandang ketiga siswi itu dengan wajah tersenyum. "Dokter Namikaze-kun, tanganku terjepit pintu." gadis cantik semampai itu menghampiri Naruto.

"Baiklah, bisakah kau duduk dan biarkan aku memeriksanya." Naruto tersenyum memerintah siswi tersebut.

Gadis itu menurut pada perintah sang dokter, ia duduk tepat dihadapan Naruto yang sekarang tengah memeriksa jari yang memar akibat jepitan pintu. "Ittai." rintihnya dengan suara manja.

"Itu sedikit bengkak, untuk sementara aku akan memberikan pertolongan pertama. Tapi, ada baiknya kau pergi kerumah sakit untuk memeriksanya." jelas Naruto dengan penuh senyum.

"Baiklah, mari kita kompres tanganmu dengan es." kata Naruto menebar senyum.

"Oh iya dokter Namikaze-kun." ujarnya dengan lembut dan tak lupa bunga-bunga bertebaran yang mengelilingi gadis itu.

Lihatlah, Naruto terlihat bersahabat dan ramah pada semua orang. Itu terlihat begitu palsu! Hinata benar-benar dibuat shock dengan sikap dokter yang memiliki seringai iblis. Sikap lemah lembut dan tiba-tiba membuat Naruto menjadi dokter paling popular disekolah.

"Kyaa~ arigatou dokter Namikaze-kun."

"Mereka sepertinya belum tahu sikap aslinya." gumam Hinata yang duduk manis dan melihat bagaimana dokter dengan seringai iblis itu melayani pasiennya.

"Kyaa~ dia sangat tampan sekali." seru gadis yang tangannya terluka.

"Jantungku tak bisa berhenti berdetak kencang."

"Dasar muka dua." cibir Hinata.

"Huuuh?" Naruto langsung menolah pada Hinata dengan wajah heran tak seperti tadi yang penuh dengan senyuman. "Kau mengatakan sesuatu?"

"Aku hanya bertanya-tanya apa yang akan mereka pikirkan jika tahu bagaimana kau sebenarnya." ujar Hinata sembari menyusun kumpulan kertas dengan rapi. "Mungkin aku harus pergi memberitahu mereka." gumamnya.

"Jika kau ingin keluar untuk mengatakannya, aku tidak akan menghentikanmu." ucap naruto menopang dagunya pada kedua tangannya.

"Huh? kau tidak keberatan?" Hinata mencoba untuk menyakinkan pendengarannya.

"Hmm, kau tidak begitu bodoh untuk tidak menyadari apa yang akan terjadi selanjutnya jika kau melakukannya, benar?" ia menoleh kearah Hinata yang berada dibelakangnya dengan seringai jahat dan mata sapphirenya terlihat menatap tajam Hinata.

GLEK

Hinata meneguk ludahnya. sial si iblisini mengancamku lagi. jerit hatinya.

"Itu kau tahu bagaimana aku sejak awal. Itu sangat menghibur." Naruto seketika tertawa. Hinata mencoba tertawa dan tawanya sangat garing karena baginya tak ada hal yang patut untuk ditertawakan.

"Hahaha."

.

.

.

.

.

Kau… kau adalah yang paling buruk! Ini membuatku sangat kesal! teriak hati Hinata sembari melempar tong sampah yang tak jauh dari tempatnya berdiri pada gadis itu diberitahu untuk memungut sampah, ya gadis indigo itu sudah keluar dari ruang perawatan dengan aura mengerikan itu. ia bisa membayangkan saat dirinya didalam ruangan itu, dalam bayangan Hinata sang iblis itu tertawa jahat dan dia berada dalam genggaman tangan sang iblis meminta tolong.

"Hi~na~ta! kau disana?" panggil seseorang yang sangat Hinata kenal siapa lagi kalau bukan si rambut permen kapas. Hinata membalikkan badannya dan menemukan kedua temannya.

"Nanti sepulang sekolah kita karoke bagaimana?" ajak Sakura.

"Iya Hinata, lagipula siapa lagi yang mau kita ajak kalau bukan kau?" tambah Ino yang berdiri disamping Hinata.

"Ba~iklah." Hinata tiba-tiba mengingat sesuatu yang harus ia lakukan setelah sekolah berakhir.

"Mungkin akan lebih baik lagi kalo kita mengenalkan teman Sasuke pada Hinata." ujar Ino pada Sakura.

Mengenalkan teman Sasuke? Aku ingin pergi! Hinata tersenyum tapi seketika senyumnya luntur, ia menelan ludahnya kembali mengingat beberapa menit yang lalu Naruto memintanya untuk menyelesaikan semuanya hari ini. Ah, aku tidak bisa. ia menggeleng-gelengkan kepalanya.

"Apa kau tidak mau datang Hinata?"

"Aku… Tentu saja aku datang! Aku akan datang." Jika aku menghabiskan setiap waktu dari hidupku menolong iblisitu. Tidak ada cara untuk aku mendapatkan kekasih. hari ini aku harus pergi untuk mendapatkan pacar pertamaku!

Sepulang sekolah, Hinata segera mengganti sepatunya lalu bersembunyi dibalik loker dengan memeluk tasnya. "Naruto tidak ada disini. Benar, ini saatnya aku pergi untuk keluar dari neraka." gumam Hinata menunduk dan berjalan pelan layaknya pencuri yang sedang mengambil barang berharga.

"Yosha!" nampaknya gadis mungil itu berhasil, ia tersenyum bahagia berjalan menuju pintu masuk sekolah.

"Kau satu juta tahun lebih muda dariku agar dapat mendahuluiku, Hi~na~ta!" sebuah tangan mencengkram bahu Hinata dan seketika suasana disekitar menjadi horror bulu kudung menjadi merinding.

Dengan gaya patah-patah anissa bahar, kepala Hinata menoleh menatap tangan dan wajah sadis itu. NARUTO!

Pelarian Hinata : GAGAL

"Ayo pergi. Kita memiliki pekerjaan setinggi gunung." Naruto menarik kerah belakang Hinata menuju ruang perawatan.

"Tidak mau! Tidak mau!"

.

.

.

.

.

Diruang perawatan…

"Sakura, Ino. Aku akan merindukan kalian."

"Kau ingin pergi bersama kedua sahabatmu yang berambut pink dan pirang itu. Kau tidak menyerah." ujar Naruto menopang pipi kanannya dengan tangan kanan.

"Berhenti membaca pikiranku." Hinata menatap horror pria yang kini duduk disampingnya.

"Tidak ada yang mau memiliki hubungan dengan anak nakal sepertimu. Seharusnya kau bersyukur karena itu hanya membuang waktumu." tawa jahat Naruto yang terlihat senang menggoda sang gadis mungil itu.

"Hey!" Hinata langsung ngamuk dan bangkit dari tempat duduknya. "Ini bodoh."

"Kau memiliki sesuatu yang menganggumu?" tanya Naruto yang seketika menjadi serius.

"Ya, aku diperas dan dimanfaatkan seperti budak oleh seseorang professional dari ruang perawatan."

Twich! perempatan urat kesal itu muncul di dahi sang dokter berkulit tan, "Benarkan? Siapa yang bisa seperti itu?"

Hinata terdiam dan kembali melanjutkan pekerjaannya. Ia memikirkan ucapan Naruto beberapa menit sebelumnya, Sesuatu yang menganggunya seperti kegelisahan, aku merasa kalau aku yang tertinggal diantara yang lainnya. "Sesuatu yang mengangguku-" Amesthyst itu menatap berkas dengan tatapan sendu.

"-semua orang yang berada disekitarku sudah memiliki kekasih, tapi aku belum pernah pergi keluar bersama siapapun bahkan aku belum pernah melakukan dengan siapapun." Hinata meletakkan tumpukan kertas itu. "Kenapa aku tidak bisa mendapatkan pacar seperti Sakura dan Ino? Apa yang tidak ku miliki sampai aku tak memiliki pacar?" Entah setan apa yang membuat Hinata mengeluarkan kegelisahan hatinya pada Naruto yang hanya menopangkan dagunya pada tangannya.

"Hawtness." Hinata menjedukkan jidatnya ke meja setelah mendengarkan ucapan Naruto. "Itu sebabnya kau tidak bisa tumbuh dengan baik." komen Naruto.

Hinata mengangkat wajahnya dan menatap Naruto. Tanpa ada pemberitahuan bahaya, Naruto langsung mencengkram kedua tangan Hinata "Kyaa~" ia mendorong tubuh Hinata agar menyandarkan punggung Hinata pada meja,

"Dok.. Dokter…?" Hinata menatap pria berkulit tan dengan mata sebiru langit itu yang kini berada diatas tubuhnya, Hinata kini berada dalam kurungan Naruto.

Naruto melepas kacamatanya dan kilatan iris biru laut itu menatap tajam amethyst Hinata. "Jika kau merasa kesepian, kau ingin aku untuk menjagamu?" Apa…?

Naruto mendekatkan dirinya pada tubuh Hinata hingga jarak diantara mereka tinggal beberapa centimeter, Hinata yang panik hanya bisa berontak. "Berhenti-" pinta Hinata.

Cengkraman ditangan Hinata menguat dan gadis bersurai indigo yang berada dalam kungkungan Naruto itu hanya bisa meringis, kini tangan Naruto mencoba menyentuh lutut Hinata yang sedikit ia tekuk. Aku harus pergi, ini menakutkan. "Tidak-"

Hinata mendorong tubuh Naruto menjauh darinya dengan menggunakan kakinya, Naruto yang terdorong hanya bisa tersenyum licik, "Bukankah kau ingin melakukannya tidak?"

"Y-ya, aku memang mengatakan itu, tapi bukan itu seperti juga." wajah Hinata memerah dan mencoba membantah ucapan Naruto.

"Itulah sebabnya kau itu masih anak kecil." ucap Naruto santai dan kembali memasang kacamatanya.

"Argh!" perempatan urat kesal Hinata muncul, ia terlihat dongkol karena Naruto mempermainkannya, Sial.

"Kau itu hanya iri tentang hal seperti itu karena orang lain sudah melakukannya dan kau belum." "Kau juga harus tumbuh dan menemukan seseorang yang benar-benar peduli bahkan sebelum kau berpikir tentang hal itu."

Eh! Hinata hanya shock mendengar dua ucapan dari Naruto untuknya, tapi yang Naruto katakan ada benarnya juga untuk Hinata.

"Kau tak perlu stress tentang hal itu." tangan kekar itu mengelus pelan kepala Hinata, sesuatu terasa hangat yang mengalir dari sentuhan tangan Naruto dikepala Hinata.

"Baiklah, aku punya janji untuk menghadiri rapat, jadi pastikan kau tetap bekerja sampai aku kembali." perintah Naruto yang memasukkan kedua tangannya ke saku lalu pergi.

Apa… apa.. Huh? Hinata membalik badannya dan menatap ketars yang sudah tersusun rapi kini berantakkan karena ulah Naruto yang- wajah Hinata merona hebat mengingat itu, gadis itu menghela nafas berat dan mulai bekerja.

.

.

.

.

.

Ugh~ Aku terus memikirkan tentang apa terjadi barusan dan itu membuatku tidak bisa bekerja dengan baik. Hinata menempelkan pipinya dan menatap lembaran kertas yang sudah ia susun kembali, rona merah itu masih setia di kulit porselinnya. Bagaimana tidak, dia masih ingat dengan jelas bagaimana sentuhan tangan Naruto mencengkaram pergelangan tangannya dan bahkan ketika hembusan nafas Naruto terasa di tekuk lehernya. Apa yang kau pikirkan Hinata? Kini wajah hinata sudah seperti kepiting rebus.

Jantung Hinata berdegup kencang, "Kau tak perlu stress tentang hal itu." ucapan Naruto yang itu terniang di telinga Hinata, detak jantung Hinata terus berdetak kencang. Apakah dia berusaha menghiburku?

Tak lama kemudian Naruto datang untuk mengecek pekerjaan Hinata. "kau tidak dapat mengerjakan dengan baik? Kau tidak mengikuti ucapanku?"

"Aku akan membuatmu bekerja untukku selama tiga tahun."

Dia sangat buruk! Hinata terlihat takut melihat ekspresi Naruto yang kesal dengan pekerjaan Hinata yang tak sesuai.

"Minumlah ini untukmu." Naruto menyerahkan minuman kaleng yang sempat ia beli di vending mesin. Hinata mengambil kaleng minuman itu dari tangan Naruto. Teh Oolong.

"Kau punya minuman untukku? Kau bercandakan?" Hinata sedikit tidak percaya dengan sikap lain Naruto yang ia tampakkan pada Hinata.

"Kau tahu apa?" perempatan urat sebal Naruto muncul, apakah gadis yang berada didepannya ini kurang begitu peka. "Sepertinya kau ingin memiliki lebih banyak yang harus kau lakukan." Naruto langsung menambah tumpukkan kertas yang harus Hinata input kedalam komputer.

"Kyaaa! Iblis! Iblis mata empat!" teriak Hinata.

Tapi, walaupun aku benci, benci, benci sangat benci dia. "Kau lebih baik bekerja keras." ucap Naruto tersenyum pada Hinata. Kenapa dengan hatiku… berdetak dengan kencang?

.

.

.

.

Hinata memeluk bukunya dan membawa kontak pensilnya, sekarang saatnya kelas mereka pergi ke laboraturium. "Hinata." panggil Ino yang berada tepat dibelakang Hinata.

Hinata langsung menghentikan langkahnya, "Setelah pulang sekolah bagaimana kalau kita hang out?" usul Sakura.

"Ano.. Gomen ne Ino-chan Saku-chan. aku ada urusan di ruang perawatan." jelas Hinata.

"Ah, yang ku dengar kau sedang membantu dokter tampan itu, benarkan Ino?" Sakura langsung merangkul bahu Hinata untuk mencoba meminta penjelasan lebih detail dari sahabat mungilnya itu.

"Tentu saja, bukankah dokter Namikaze itu yang terbaik. Apalagi dia sangat tampan dan dewasa. Ah aku iri sekali padamu Hinata." ujar Ino dengan nada manjanya.

"Ah~ bahkan Ino jatuh pada kharismanya." gumam Hinata pelan. Dia tak seperti yang kau bayangkan Ino-chan.

"Berhenti mengacaukan baka!."

"Kau harusnya tidak begitu." isak Hinata yang mencoba menahan tangis ketika Naruto berkata kasar padanya. Dia kasar dan…

"Setelah kau selesai dengan itu, aku ingin kau membersihkan semuanya." titah Naruto dengan mutlaknya. Dia berlaku layaknya bos dan menggunakan ku seperti pembantunya. Dan waktu itu… "Apakah kau ingin aku untuk menjagamu?"

"-nata?"

"Hina~ta."

Hinata tersentak setelah mendengar sakura yang tiba-tiba berhenti dan memanggilnya. "Apa yang terjadi?" tanya Sakura yang mendapati Hinata melamun.

"Ap- tidak apa-apa!" reflek Hinata yang masih kaget.

"Kau seperti kepiting rebus Hinata." kasih tahu Ino yang tertawa melihat perubahan wajah Hinata.

Hinata melanjutkan kembali jalannya, DAG DIG DUG. Ada apa denganku?Kenapa aku bisa mengingatnya. Hinata menunduk dan menutup setengah wajahnya dengan buku agar rona merah itu tak nampak.

"Dokter Namikaze."

Hinata mengangkat wajahnya dan menatap Ino sedang berbunga-bunga menghadapi Naruto. Rona merah itu kian menebal dan membuat hinata mengalihkan pandangannya saat Saphhire biru laut itu menatapnya. Sial dia. Sial Hinata langsung berjalan cepat dan memeluk erat bukunya. dia tidak…

Seseorang terlihat buru-buru menaiki tangga dan tanpa sengaja ia menyenggol Hinata yang berdiri dekat tangga.

"Kyaa~" teriak Hinata kakinya oleng dan menginjak bebas sehingga Hinata menjadi tak seimbang lalu jatuh dari tangga.

"Hinata." panik Sakura dan Ino secara bersamaan melihat Hinata yang sudah jatuh dengan posisi terduduk dan tak lupa lututnya berdarah. "Itta~" rintihnya kesakitan.

Sakura dan Ino langsung menuruni anak tangga yang berjumlah 10 itu dan menghampiri Hinata yang meringgis kesakitan.

"Kau baik-baik saja Hinata?" tanya Sakura panik.

"Uh, ini sangat sakit tapi kupikir aku baik-baik saja." jawab Hinata menahan sakit.

"Baik-baik saja darimana? kau itu baru saja jatuh dari tangga Hinata? Lihat lututmu saja berdarah dan bahkan ya tuhan Hinata kakimu merah." Ino nampak kaget melihat betis Hinata memerah akibat gesekan anak tangga saat jatuh.

"Kita keruang perawatan." ajak Hinata.

"Jangan memindahkannya." tegur Naruto yang berdiri dimulut tangga. Ia menuruni anak tangga dan meletakkan tangan Hinata pada bahu Naruto kemudian tangan Naruto yang lain berada disela lutut Hinata. Pria berjas dokter itu mengangkat tubuh Hinata untuk dibawa ke ruang perawatan.

"Aku akan membawanya, katakan pada sensei kalian kalau Hinata sedang berada diruang perawatan." kata Naruto yang langsung membawa Hinata.

Hinata menundukkan wajahnya, ah tidak. Dia sedang menyembunyikan wajahnya dari Naruto, helaian rambut indigonya jatuh dan menutup pipi yang sudah memerah.

.

.

.

TBC

.

.

.

.

Allow minna-san aku kembali sekarang. kali ini berkat dorongan dan semangat aku menulis agak banyak hehehe. aku harap kalian menyukainya. mungkin dua chap lagi fic ini akan tamat dan insha allah akan aku buat squelnya kalo banyak peminatnya #ngarepbgt. untuk chap selanjutnya aku janji akan up minggu ini ya setidaknya nunggu aku bisa selamat kerumah. soalnya sudah waktunya saya balik kampung dari Jawa ke Kalimantan hahaha..

untuk yang review makasih masukan saran atau apapun itu ini saya sudah melanjutkan. terimakasih yang follow dan fav saya berterima kasih..

tertanda

Fushimi Yuuna