Pertemuan Badai

Disclaimer : Masashi Kishimoto

WARNING : DONT LIKE? DONT READ!

.

.

.

Chapter 3 : Penderitaan Keluarga Haruno

PLAK! Sebuah tamparan telak mendarat mulus di pipi kanan Sasuke. Bertambah sudah mimpi buruknya hari ini; diomeli sang kakak – bertemu gadis berdarah – disalahkan atas semuanya – dan yang terburuk, ditampar oleh seorang Uchiha Itachi di depan banyak orang yang tercengang!

"APA YANG KAU LAKUKAN, SASUKE?" seru Itachi tak percaya, "KAU BUAT ANAK ORANG MASUK UGD? AKU TAHU, KAU INI MEMANG PEMBUAT ONAR, SASUKE! SEMUA KELAKUANMU INI KELEWATAN, SASUKE!"

"T-Tapi, Itachi!" sergah Sasuke. Itachi langsung mencengkeram erat lengan Sasuke, yang langsung mengentakkan tangannya dengan keras, "APA YANG KAU LAKUKAN? AKU MASIH ADA URUSAN DENGAN MEREKA!"

"TAPI KAU JUGA MASIH ADA URUSANKU!" sahut Itachi seraya memandang mata adiknya tajam, "DAN JUGA KIRI, KAU MASIH PUNYA URUSAN UNTUK PULANG KESANA!"

"BERKALI-KALI KUKATAKAN, AKU TAK MAU PULANG KESANA, KE NERAKA SANA!" Sasuke meringis kesakitan saat Itachi menampar pipi kanannya sekali lagi, "HENTIKAN, ITACHI! KAU JANGAN MEMBUAT KERIBUTAN DISINI!"

"KAU YANG TELAH MEMBUAT KERIBUTAN, SASUKE!" pekik Itachi. Tiba-tiba atmosfer di sekitar ruang UGD menjadi semakin mencengang.

"BERHENTILAH KALIAN!" pekik Ino ditengah isakannya, "SAKURA SEDANG DIRAWAT, DISINI JUGA MASIH BANYAK PASIEN! APAKAH KALIAN TAK MALU BERTENGKAR DI DEPAN RUANGAN UGD?" Itachi langsung menoleh ke arah Ino yang sedang menyangga tubuh Ibu Sakura yang tengah menangis.

"Su-Sudahlah, Ino.." sahut Misaki pelan, "Lagipula mereka masih punya urusan masing-masing, bukan?"

"Tapi, Tante! Mereka menganggu ketertiban!" jawab Ino, lalu menatap kedua beradik Uchiha itu sekali lagi, terutama pada Itachi, "Itachi-senpai, Sasuke sebenarnya yang menyelamatkan Sakura dari badai!" jelas Ino, "Jangan berprasangka buruk padanya!"

"Tuh, kau dengar sendiri!" sahut Sasuke dendam. Itachi melirik Ino.

"Kalau benar yang kau katakan, Ino, siapa Sakura itu?" tanya Itachi, "Lalu sebenarnya apa yang terjadi?" Ino menghela nafas dalam. Ini akan jadi cerita yang panjang.

"Sebenarnya aku tak tahu secara runtutnya, Itachi-senpai.." jawab Ino, "Yang jelas, saat Sasuke ke toko kami, Sakura sudah berlumuran darah. Aku langsung mengeceknya, dan memastikan bahwa hipotermianya tak kambuh.. ternyata memang hiportemianya kambuh lagi dan sekarang ia pun kembali mendapatkan luka lamanya.." Ino kembali menangis, mengikuti Misaki yang kembali mengingat saat dimana Sakura mendapatkan luka itu.

Flashback ON

"Kaa-san!" sahut Sakura saat Misaki tengah melihat-lihat sayuran di suatu toko di pasar Konoha, "Nanti kita masak apa?"

"Umm.." Misaki meletakkan telunjuknya di dagu, "Mungkin mi soba. Sudah lama kita tak masak itu, bukan?" Sakura mengangguk riang.

"Yeeay! Kita makan mi soba!" soraknya. Ia kembali bersemangat menemani ibunya pagi itu untuk berbelanja di pasar Konoha yang tampak sangat ramai. Misaki terus menggandeng tangan Sakura agar mereka tak terpisah.

"Berhati-hatilah dan terus mendekat dengan Kaa-san, Sakura," ujar Misaki. Sakura tersenyum mengiyakan. Sakura memegang keranjang belanjaan milik Misaki dengan erat seraya melihat-lihat toko yang dilewatinya. Mereka pun melewati toko kue, dan Sakura terhenti melihat mochi khas Suna yang terlihat nikmat.

"Kaa-san! Aku mau mochi itu!" ujar Sakura seraya menarik rok seseorang, "Kaa-san?" Dan orang itu melihatnya dengan pandangan heran, "AH! KAU BUKAN KAA-SANKU!" pekiknya histeris. Sakura melihat ke seluruh penjuru pasar, nihil. Ia tak dapat berjinjit untuk dapat melihat lebih luas. Ia tak bisa lebih tinggi dari semua orang. Alhasil, ia terduduk di depan toko kue itu, menundukkan kepalanya dan memasukkan kepalanya ke lutut dalam-dalam. Ia terisak menangis.

"Kaa-san.." isaknya, "Kaa-san dimana.." Ia mengangkat perlahan kepalanya, melihat apakah di sebelahnya telah ada seseorang yang bisa ia sebut Kaa-san. Nihil. Yang ia temui hanya boneka kecil berwarna biru, dan seorang anak yang tampak terisak mencari-cari bonekanya. Sakura langsung mengambil boneka itu, lalu memberikannya ke anak yang sedang terisak itu. Sakura kecil merasa sangat prihatin dengannya, "Punyamu?" Anak itu mengangguk lalu menyeka air matanya.

"Dimana orang tuamu?" tanya orang itu balik. Sakura menundukkan kepalanya.

"Aku.. tak tahu.." jawabnya, "Kaa-san.. menghilang."

"Kalau begitu, bagaimana kalau kau kubantu mencari Kaa-sanmu?" tanya anak sebaya Sakura kecil itu, "Tetapi, aku mau minta izin dulu ke Tou-san dan Aniki. Tunggu disini, ya?" Orang itu berpaling, lalu lama kelamaan menghilang di keramaian orang di pasar itu. Sakura kecil sangat senang masih ada orang yang peduli padanya, lalu ia pun menyeka air matanya dan tersenyum bahagia. Ia menunggu dengan senang di depan toko kue, hingga akhirnya anak itu datang sesuai janjinya, "Aku datang. Menunggu lama, ya?"

"Ah, tidak kok.." jawab Sakura kecil dengan senyum lepas, "Ayo, pergi.."

"Baiklah," jawab anak laki-laki itu. Mereka mencari selama 10 menit, dan akhirnya ibu Sakura ditemukan sedang menangis di bawah pohon Sakura kesukaan Sakura yang setiap hari dilewatinya saat pergi menuju sekolah, di dekat jalan raya.

"AH, KAA-SAN!" seru Sakura bahagia. Langsung saja ia memeluk ibunya yang terisak di bawah pohon, "INI SAKURA, KAA-SAN!"

"Syukurlah, Nak.." isaknya, "Syukurlah kau tak apa-apa.."

"Anak itu menemaniku, Kaa-san," jawab Sakura. Ia menunjuk ke arah anak tadi yang membantunya mencari Kaa-sannya, tepatnya anak laki-laki, "terima kasih banyak, ya!"

"Tak masalah," jawabnya. Ia pun berpaling menuju jalan raya seraya tertawa kecil, namun langkahnya terhenti dan langsung melemparkan sarung tangan ke arah Sakura yang menyusulnya, "untukmu! Jangan menangis lagi, ya!" Dan anak laki-laki itu langsung berlari seraya menatap ke arah Sakura kecil yang terpaku dengan saputangan biru muda itu.

"Terima kasih banyak!" seru Sakura. Ia melambaikan tangannya, namun..

CKIIT! BRAKK! KYAAAA!

Sakura berusaha menyusul anak laki-laki itu, namun akhirnya sebuah truk menabraknya dari belakang. Kepalanya terbentur keras, dan segera saja ia menangis dengan keras. Misaki langsung panik dan meminta tolong. Anak laki-laki itu ikut menangis di sebelah Sakura.

"Sakura!" panggil Misaki saat Sakura sadar di rumah sakit, "Tak kenapa-kenapa, kan, Nak? Apa kepalamu terasa sangat sakit?"

"Sa-Sakit, Kaa-san.." jawab Sakura lemah, "Oh iya, dimana anak laki-laki tadi, Kaa-san?"

"Kau beristirahatlah dulu," ujar Misaki, "anak tadi pulang diantar kakaknya.."

"Yah, padahal Sakura belum tahu namanya, Kaa-san.." ujar Sakura menyesal, "Saku juga.. Ah! Dimana saputangan biru muda itu, Kaa-san?"

"Ini, maksudmu?" tanya Misaki saat ia mengorek isi tas kecilnya dan memberikan sekain biru bercak darah yang dipegang Sakura tadi, "Nanti Kaa-san cucikan, ya?" Sakura mengangguk lemah. Misaki langsung memeluk anaknya. Tak disangka, luka seperti ini dialami oleh orang sekecil ini. Dan, mungkin akan ada penghubung antara luka ini dan masa depannya.

Flashback OFF

"Sakura.. punya luka di belakang kepalanya waktu kecil.." ujar Misaki di tengah isakannya. Itachi langsung melirik ke arah Sasuke.

"Jelaskan ke semuanya, Sasuke!" perintahnya. Sasuke menundukkan kepalanya, lalu mulai bercerita. Apa, sih, susahnya bercerita, Sasuke?

"Tadi aku ingin beli jus di minimarket.." Sasuke memulai ceritanya, "Lalu badai bertambah deras. Aku tak tahu apa yang terjadi, namun sekelebat bayangan hitam melayang tepat di depan wajahku.."

"Dan ternyata itu adalah payung hitam bercorak bunga sakura." Sasuke menatap payung hitam yang tengah dipegang oleh Ibu Ino, "Aku melihat bercak darah di selokan. Mungkin payung ini punya orang itu.. Dan aku berjalan menuju arah dimana selokan itu menunjukkanku ke arah gadis itu."

"Dimana jalannya, Sasuke?" tanya Itachi.

"Jalan dekat Yamanaka's Flower Shop, tepat di dekat tiang listrik ketiga di sebelah kanan yang baru saja ditegakkan," jawab Sasuke, "di dekat persimpangan jika belok ke kanan akan mengarah ke Yamanaka's Flower Shop. Gadis itu tergeletak dengan posisi kepala di dekat batu besar dekat selokan. Darah mengucur dari mulut dan hidungnya, sementara kepalanya mengucurkan darah saat aku menggendongnya." Sasuke memperlihatkan bercak darah di sweternya, "Ini bercaknya."

"Bagaimana ini.. Aku takut luka lama Sakura kembali membuka.." isak Misaki. Ia kembali menangis, sedangkan yang lainnya sibuk menenangkan kecuali Sasuke dan Itachi yang tengah berdiam diri.

"Sasuke, hanya itu?" tanya Itachi. Sasuke mengangguk, "Apa kau masih punya urusan disini?" Sasuke tampak ragu. Begini-begini, ia harus melihat korban yang ditolongnya tadi, bukan? Lagipula rupanya cukup rupawan! Sasuke pun mengangguk pelan.

"Aku ingin melihat rupa gadis itu," jawab Sasuke. Itachi tersenyum tipis, "kunci kutaruh di bawah pot biasa."

"Baiklah, aku pulang dulu. Nanti kalau kau pulang, aku akan meminta semua penjelasan atas hal ini, Sasuke," ujar Itachi pelan. Ia langsung melirik ke arah Ino, "dan kau, Ino. Maafkan atas mengganggu ketertiban kalian. Saya permisi." Itachi melenggang pergi dengan cepat. Dipegangnya sekali lagi luka tamparan dari Itachi oleh Sasuke. Menyakitkan, apalagi dilakukan oleh seorang kakak yang –ehm, kau segani, bukan?

"Sakit, Nak?" tanya Misaki beralih ke Sasuke, "Maaf, ya. Gara-gara Sakura yang hipotermianya kambuh, kau harus mendapat masalah seperti ini.."

"Tak apa, Bi," jawab Sasuke sopan. Ia berjengit menahan sakit saat Misaki memegang lukanya dengan lembut.

"Sebentar, ya. Bibi ambil kompres luka dulu." Misaki beranjak meninggalkan mereka semua. Sasuke masih tertunduk, lalu Ino mendekatinya.

"Itachi-senpai.." gumam Ino, "Bisa seperti itu? Bukankah ia pribadi yang tenang?"

"Ia selalu berperilaku begitu padaku, serampangan, menyeramkan, menyebalkan, seenaknya saja," jawab Sasuke. Tak sadar, ia kembali memegang pipi kanannya, seraya tersenyum kecil, "namun ada sisi lembut yang diperlihatkannya bila berada di dekatku. Ia khawatir."

"Aku pikir juga begitu," sahut Ino, "mungkin ia hanya kaget tadi karena mengetahui kau datang kesini, di depan ruang UGD pula. Lagipula, apa hubunganmu dengan Kiri, Sasuke?"

"Aku tak bisa menceritakannya," jawab Sasuke pelan. Ino menepuk bahunya pelan.

"Tak apa, Sasuke. Aku tahu kau masih syok dengan Itachi-senpai yang terlalu mendadak melakukan hal tadi," jawab Ino. Ia tersenyum tipis, "lagipula aku bisa menanyakannya ke Itachi-senpai nanti." Ino terkekeh kecil.

"Hei! Jangan!" ujar Sasuke, "Nanti kalau ia menceritakannya, ia akan memutar balikkan faktanya!"

"Tidak, pasti tidak benar," ujar Ino, "ia pribadi yang jujur, dan itu tersirat dari tatapan matanya." Ino menerawang lorong sekitar UGD yang tadinya mencekam menjadi lebih tenang. Kedua orang tuanya masih terdiam seraya berdoa dalam hati masing-masing. Sasuke masih merundukkan kepalanya, lalu Misaki muncul membawakan baskom air dengan batu es dan kain handuk di dalamnya.

"Sini, Nak," ujar Misaki. Ia menarik dagu Sasuke dan tersenyum manis, "lukamu sakit, bukan? Bibi sangat berterima kasih karena mau menyelamatkan Sakura."

"Tak apa, Bi," jawab Sasuke sopan. Ia sedikit memundurkan wajahnya, "nanti saja, Bi. Aku akan membersihkan lukanya di rumah." Misaki semakin menarik wajah Sasuke mendekat.

"Nanti lukanya tambah perih, Nak," ujar Misaki, "sini Bibi obati, ya?" Sasuke terpaksa mengangguk kecil, tak mau membuat Misaki berkecil hati. Ia sesekali meringis kesakitan saat Misaki menyentuhkan kompres itu ke pipi kanannya yang –sebelumnya, mulus, "Namamu siapa, Nak?"

"Uchiha Sasuke, Bi," jawab Sasuke, "nama gadis itu siapa tadi? Sakura?" Misaki mengangguk pelan.

"Namanya Haruno Sakura, Sasuke," jawab Misaki tenang, "ia memiliki sifat keibuan, sama seperti Bibi, mungkin." Misaki tertawa kecil, "Mungkin karena trauma masa kecilnya."

"Trauma?" tanya Sasuke. Ino dan keluarganya memilih menyingkir, membiarkan mereka berdua menuntaskan urusan mereka, "Trauma yang seperti apa?"

"Seperti yang Bibi ceritakan tadi," jawab Misaki, "ia pernah tertabrak mobil dan kepala belakangnya terbentur keras, demi melindungi sahabatnya waktu itu."

"Sahabat?" tanya Sasuke. Kalau ia jadi Sakura, tak mau ia menyelamatkan dan menukarkan nyawa bagi sahabat yang bahkan meninggalkannya sekarang, batin Sasuke.

"Dan sayangnya temannya itu menghilang selama 8 tahun. Ia tetap menunggunya di bawah pohon Sakura dekat pasar.." jawab Misaki seraya menerawang pikirannya ke masa lalu anaknya, "Namun ia tak pernah kembali lagi. Sebelumnya, bahkan Sakura tak tahu namanya siapa.."

"Benarkah?" tanya Sasuke tak percaya. Seorang Sasuke, menanyakan lebih lanjut soal seseorang? Langka! "Jadi, ia bahkan tak mengenalnya dan menyelamatkannya, mengorbankan kepalanya?" Misaki mengangguk sedih.

"Dan 3 tahun lalu, ia diajak untuk mendaki gunung di Kiri, dan ia pun menderita hipotermia akut semenjak saat itu," gumam Misaki, "lain kali aku akan menjaganya lebih ketat agar ia tak kembali seperti ini.." Sasuke merasa bersalah bertanya lebih lanjut tentang hal ini.

"Haruno-san!" seru Shizune yang keluar dari ruang UGD, "Sakura sudah bisa dijenguk sekarang."

"Baiklah, Shizune." Misaki beranjak dari tempat duduknya seraya menyeka air matanya, "Terima kasih banyak!" Shizune tersenyum simpul. Misaki pun mengajak semua orang yang ikut untuk menengok keadaan Sakura yang berada di ruang UGD.

"Ah, maafkan kami, Haruno-san. Tapi yang bisa masuk hanya 2 orang," ujar Shizune mencegah mereka yang ingin masuk ke dalam. Ino menghela nafas kesal.

"Hah.. UGD ketat sekali, ya?" gumamnya kesal. Ia melirik ke arah Sasuke yang masih tampak tenang, "Kalau begitu, lebih baik Tante Misaki dan Sasuke saja yang masuk!" Sasuke didorong oleh Ino untuk maju ke belakang Misaki.

"Ah, baiklah. Kalian tunggu, ya," ujar Misaki seraya tersenyum simpul. Sasuke masih tetap tenang menaruh kedua tangannya ke dalam saku celana. Misaki masuk pertama kali ke dalam ruang UGD, dan menemukan Tsunade sedang berdiri tegap di sebelah sosok ringkih yang tengah dirawat intens di dalam ruangan besar tersebut.

"Bagaimana keadaannya, Tsunade-sama?" tanya Misaki. Ia langsung melihat ke arah kasur, dan menemukan anaknya masih ditopang dengan alat bantu nafas. Tak terasa matanya kembali memanas.

"Kondisinya sudah jauh lebih stabil, berkat Kami-sama, ia bisa bertahan hidup dari hipotermia akut miliknya," jawab Tsunade, "tetapi lain kali, Misaki, kau harus menjaga Sakura. Ia tak boleh keluar di musim dingin ekstrem tanpa penghangatan." Misaki mengangguk, pandangannya mengabur.

"Oh iya, Sasuke," panggil Misaki tak menghilangkan penyebab blurnya pandangan matanya, "terima kasih banyak sudah mau menyelamatkan Sakura.." Sasuke menoleh ke arahnya, "Kalau saja Sakura dibiarkan sampai beberapa menit saja, mungkin nyawanya telah hilang.." Misaki terisak sedih melihat anaknya, "Untung saja masih bisa diselamatkan.."

"Tak apa, Bi," jawab Sasuke sopan. Ia langsung melenggang menuju pinggiran tempat tidur yang terbuat dari besi, yang terasa dingin di tangan Sasuke. Efek dari badai semakin memanjang, membuatnya merasa pusing. Kepalanya ia rengkuh dengan lengan kanannya, namun ia memilih untuk tak pikir panjang. Ia hanya menatap Sakura yang masih bernafas mengenakan alat bantu nafas dan selang-selang yang menancap di tubuhnya. Tak ada lagi bercak darah di tubuhnya. Wajah rupawannya semakin terlihat, namun ia masih belum bisa melihat warna mata gadis rupawan itu. Yang ia lihat hanya sosok ringkih berambut merah muda yang tengah berjuang bertahan hidup menghangatkan tubuhnya. Misaki menepuk bahunya pelan.

"Nak Sasuke," panggil Misaki. Ia menyimpulkan senyumnya, "sekali lagi Bibi mau berterima kasih banyak." Sasuke mengangguk, "Sakura akan dirawat beberapa hari, ya, Tsunade-sama?"

"Mungkin hanya 3 hari," jawab Tsunade, "tetapi selama 5 hari ia tak boleh melakukan aktivitas-aktivitas yang terlalu berat."

"Tetapi, apakah ia bisa kembali ke sosok biasanya? Apakah ia kehilangan ingatannya? Aku harap Saku bisa sembuh sebelum ayahnya datang kesini.." tanya Misaki cemas.

"Kurasa tak apa-apa, tak mungkin ingatannya akan hilang. Mungkin kepalanya hanya akan nyut-nyutan biasa, kami telah melihat ke dalam kepala Sakura. Ia akan jadi lebih sering punya masalah di kepala," jawab Tsunade. Sasuke tersentak kaget. Apakah gegar otak? "kuharap tak terjadi hal yang terlalu fatal akibat kepalanya yang berdarah tadi. Shizune dan yang lainnya masih meneliti, dan aku akan ikut meneliti sekarang." Tsunade melenggok pergi meninggalkan ketiganya yang masih membeku di dalam kamar.

"Nanti kami akan beritahu hasil ronsennya, Haruno-san." Suara berdebam pintu UGD pun mengakhiri percakapan mereka. Misaki tak mampu berkata-kata. Ia menutup mulutnya tak percaya, derai air mata mengucur deras dari kedua matanya. Kakinya tak mampu lagi menahan bobot tubuhnya, dan akhirnya ia pun merosot ke lantai. Ia menangis terisak tanpa suara, sedangkan Sasuke hanya dapat memandangi Sakura dengan tatapan iba. Gadis itu masih terlalu rupawan untuk terkena penyakit konyol seperti itu, bukan, Sasuke?

"Andai saja, aku tak menyetujuinya yang ingin ke rumah Ino.." gumam Misaki dengan nada penuh penyesalan, "Mungkin tak akan begini jadinya.."

"Tenanglah, Bibi.." gumam Sasuke, "Tak akan terjadi apa-apa padanya." Misaki masih menangis terisak. Hening menyelimuti mereka, Misaki tetap menangis terisak tanpa suara. Sasuke yang prihatin dengan keluarga kecil ini pun segera merengkuh Misaki, menenangkannya, "Sudahlah, Bibi.."

"Terima kasih, Sasuke.. Kalau saja Bibi tidak mengizinkannya tadi-" Sasuke menatap ke arahnya dengan intens.

"Bibi, tenanglah. Hasil penelitian di ronsen belum sampai, bukan? Masih ada harapan untuk Saku," ujar Sasuke menenangkan Misaki, "lagipula aku yakin Sakura adalah gadis yang kuat."

"Ya, Sakura itu gadis kuat anakku," ujar Misaki seraya tersenyum getir, "dia anakku. Dia bahkan tahan untuk mengorbankan kesehatan dan hipotermia akutnya hanya demi laporan karya ilmiah.."

"Hanya demi laporan karya ilmiah?" Tipikal gadis pekerja keras dan bodoh, tambahnya. Misaki mengangguk, namun kembali menyeka air matanya lalu duduk di sebelah pembatas besi tempat tidur yang dingin. Sasuke merasa matanya berlinang-linang. Tidak! Bukan saatnya ia harus terharu! Tapi.. rasanya seperti.. mendapat sebuah tekanan berat di kepala. Ia tahu apa yang harus ia lakukan, memalingkan wajahnya dari gadis itu agar ia tak kembali melinangkan air matanya, dan lehernya pun terasa kaku! Ia bahkan tak tahu harus berpaling kemana lagi.

"Nak Sasuke," panggil Misaki seraya menggenggam erat tangan Sakura, "Sakura sangat berterima kasih denganmu. Bibi bisa mendengar kata hatinya, lewat sentuhan tangan ini.." Sasuke mengangguk. Ia tersenyum kecil.

"Permisi, Bi. Saya harus pulang sekarang. Kakak saya menunggu dirumah," pamit Sasuke. Terbesit rasa kecewa di hati Misaki. Buru-buru Sasuke melanjutkan kalimatnya, "besok saya akan kesini lagi bersama kakak saya untuk menengok, setelah ia sadar." Misaki mengangguk, lalu menggenggam tangan Sakura semakin erat. Sasuke membungkukkan badannya sopan, lalu beranjak pergi dari ruang UGD yang semakin lama semakin membuatnya sesak. Dengan nafas tersengal, ia keluar dari ruang UGD dan langsung berlari ke rumahnya.

"Kau dengar itu, Saku?" tanya Misaki saat Sasuke telah menghilang dari ruang UGD, "Akhirnya kau punya sahabat laki-laki." Misaki tertawa kecil, "Ia mengkhawatirkanmu, lho. Jangan sia-siakan pertolongannya padamu!" Tak ada jawaban. Ruangan UGD memang sangat menyesakkan, dan lagi, kau harus bertahan dengan suara alat bantu nafas dan yang lain semacamnya itu yang terkadang sangat berisik dan mengganggu ketenangan berfikir.

"Oh iya, ada Ino dan keluarganya diluar. Mau dipanggilkan?" Misaki tak berharap jawaban dari Sakura, lalu langsung pergi menuju pintu ruang UGD, melihat keluarga Yamanaka yang menunggu dengan cemas di depan ruang UGD.

"Bagaimana keadaannya?" tanya Ibu Ino. Misaki menghembus nafas pasrah.

"Keadaannya semakin membaik, sudah stabil, setidaknya." Misaki tersenyum kecil. Keluarga kecil Yamanaka itu pun menghembuskan nafas lega, "Mau melihat Sakura? Ia sedang tertidur." Mereka bertiga mengangguk, lalu mengikuti Misaki menuju ruang UGD yang menyesakkan. Suara alat bantu nafas dan yang lain semacamnya tak terhindarkan dari ruang UGD.

"Ah, Sakura!" seru Ino saat melihat Sakura yang memakai alat bantu dengan kepala bagian atas yang diperban, "Ya ampun, kepalanya! Tante, Sakura kenapa?"

"Itu.. hasil ronsen belum keluar." Misaki menundukkan kepalanya. Kedua orang tua Ino mengusap pelan bahu wanita paruh baya di dekat mereka, memberikan support untuknya.

"Saku masih tertidur, ya, Tante.." gumam Ino sedih, "Harusnya ia tak memaksakan diri dalam badai.."

"Sudahlah, Ino.." jawab Misaki pelan, "Sakura sedang berusaha menahan penyakitnya." Ino mengangguk. Matanya kembali memanas dan bersiap mengeluarkan uap airnya, "Wajah Sakura.. kalau tidur.. sangat manis, bukan?" Ino kembali mengangguk. Ia mengerti maksud dari ucapan wanita Haruno di dekatnya. Tak terasa air mata kembali turun dari mata aquamarine miliknya. Kedua orang tuanya hanya mampu menenangkan Misaki agar tak lepas kontrol, sedangkan Ino menggenggam erat tangan Sakura yang terasa sedingin besi pembatas tempat tidur ruangan UGD. Ponsel Ino berdering beberapa kali.

"Ah, SMS," ujarnya panik. Ia meraba ke sakunya untuk mengambil ponselnya, lalu melihat semua SMS yang tiba di ponselnya. Ia langsung menghela nafas berat, lalu membuat SMS untuk dikirim ke banyak orang sekaligus.

To : -Hinata-, -Tenten-

Hari ini Saku masuk RSU Konoha. Aku tak bisa ikut kerja kelompok karena harus menjenguk Saku. Kalian kerja kelompok sendiri saja, ya? Maafkan aku dan Saku yang merepotkan. Besok kita jenguk bersama, ok?

Setelah memencet tombol send, Ino langsung memasukkan kembali ponsel ke dalam sakunya. Ia hanya ingin tenang hari ini bersama -tiba, suara pintu dibuka pun terdengar. Misaki berharap itu Shizune yang membawakan hasil ronsen dan mengatakan bahwa kepala Sakura tak apa-apa, namun takdir berkata lain. Yang muncul adalah sosok yang sangat dikenal dekat oleh Misaki, sehingga ia langsung menghambur ke pelukan sosok itu yang langsung berseru panik melihat Sakura yang tengah tertidur pulas di atas ranjang putih dingin itu.

"Sakura!" serunya, "Apa yang terjadi?"

"Nanti aku ceritakan.." ujar Misaki seraya tersenyum getir dan menangis erat di pelukan orang itu, "Sekarang beristirahatlah dahulu, Ayah.."

TO BE CONTINUED

.

.

.

AN: Author masih bingung sama nama OOC bagi ayahnya Sakura. Kira-kira bagusnya siapa, ya? kasih masukan, doong xD #ciri-ciri Author gak mau mikir #plakk Terima kasih telah membaca Pertemuan Badai :DD sepertinya multi-chap kali ini akan memakan banyak sekali chapter, dan kuharap kalian tak bosan untuk mengikuti terus ceritanya. Ah, iya, Author sekarang lagi sibuk buat novel yang ceritanya di wonderland. Nah, Author yang kupluk(?) satu ini agak susah buat bangkitin gimana suasananya pas si tokoh udah masuk ke dunia wonderland. Ada yang bisa bantu Author? O.o #Author ngebayangin muka mesem-mesem para senpai yang ngajarin Author karena kebodohan Author yang lemot dan susah menerima ide #plakk Soal flame? yah saya tetep terima, kok, SUNGGUH! justru flame itu malah saya tanggap dengan senang hati ^o^v

Saatnya balas review! :3

harappa: waah sekarang udah tau, kan? ^^'a ahahah trims atas perbaikannya, nanti aku perbaiki lagi, kok, harappa-san ^o^ waah senangnya di fav :'3
karikazuka:
aku juga biasanya ngetik pake 8 tangan tau T^T itu hanya aku ambil sebagian dari para POV, kok, ehehe ^^ waah pasti ku PM kok ! aku semangat update sehari sekali huahahah xDD

Minamoto Sayaka: ah, trims yah sayaka-san :'3 terharu #plak Oh iya, soal flame itu gapapa kok sayaka-san, soalnya orang-orang punya cara tersendiri untuk menyampaikan pendapat, bukan? Nyahahah ini udah update! trims for review!

No Name: wah, iya, nih. aku cuma bikin POV dari keduanya, dan setelahnya mungkin akan banyak sekali perpindahan latar -err, seperti chapter ini, mungkin #dihajar. Nah, itutuh, kesan lebaynya Author vs Ino udah keluar! ahahah X3 Thanks for review!

Reviewnya membantu sekali! Terima kasih banyak! Oke, saatnya review lagi, onegaaaaii?

29/04/12 -kags