YunJae Fanfiction /Secret Wedding/Part Three
Pairing : Yunho x Jaejoong
Rate : PG – NC
Genre : Romance, Yaoi, hurt, … (maybe masih ada yg laen)
Length : Three – …?
Author : Andrea
Enjoy.. ^0^
****Secret Wedding****
"Apa?"
"Kim Jaejoong, kau menyukaiku?"
Suasana tiba-tiba berubah hening. Pertanyaan singkat Yunho barusan sukses membuat Jaejoong diam seribu bahasa. Wajah pria manis itu terlihat canggung sementara jemarinya bergerak-gerak mengintari mulut gelas. Sesekali wajahnya terangkat demi mengamati raut seperti apa yang tengah di pasang Yunho, dan hasilnya benar-benar menyebalkan. Jung Yunho sih pria brengsek (menurut Jaejoong) melipat kedua tangan di depan dada sambil menyeringai..Jaejoong memutar otaknya.
Mengapa ia harus bingung hanya karena pertanyaan bodoh tadi? Setelah cukup lama terdiam, Jaejoong mulai memberanikan dirinya lagi. Senyumannya pun bermunculan hingga berakhir dengan gelak tawa. Seisi restoran bahkan menghentikan kegiatan mereka hanya untuk melihat ke arah mereka. Ada apa gerangan yang membuat pria berambut cokelat itu terbahak-bahak..?
Tatapan serta bisik-bisik dari tamu restoran jelas saja membuat Yunho terganggu dan malu. Pria tampan itu tak henti-hentinya mengumpat. Ia menyanggah satu tangannya ke meja kemudian menutup wajahnya dari pandangan orang-orang itu berharap tak ada dari mereka yang mengenalinya. Oh, apa jadinya jika salah satu dari mereka ternyata adalah rekan bisnis ayahnya? Bisa-bisa nama keluarganya akan tercoreng – pikir Yunho, sangat mengadah-ngadah.
Dan yang membuat Yunho semakin terganggu adalah Jaejoong yang sampai detik ini masih tertawa keras, bahkan dia menggunakan satu tangannya untuk menutupi mulutnya, satu lagi memegangi bagian perutnya.
Apa situasi ini begitu lucu menurut Jaejoong?
Dimana letak kelucuannya?
Lelah atau mungkin juga sudah malu dengan tatapan di sekitarnya, Jaejoong menghentikan tawanya dan dengan mata besarnya dia memandangi Yunho.
"Ohgosh, Jung Yunho! Kau ini terlalu percaya diri atau apa? Aku menyukaimu? Yang benar saja…. Dengarkan aku! jika saat itu aku tidak mabuk, aku lebih memilih terjun dari gedung bertingkat ketimbang menikah denganmu.." Jaejoong kembali tertawa tapi tidak sekeras tadi.
Entah apa yang ada dipikiran Yunho saat ini, tapi setelah pernyataan yang Jaejoong sampaikan barusan, ia juga ikut tertawa sehingga membuat Jaejoong menutup mulutnya rapat-rapat – jadi terdiam, sekaligus bingung.
"kau sangat lucu, Kim Jaejoong" seringaian menakutkan tampak dari wajah tampan Yunho.
Mengapa sih bodoh ini tertawa? Dia baru sadar kalau ternyata aku ini lucu, eoh? Hahahaha" batin Jaejoong.
"Jadi…mengapa sekarang kau tidak meloncat dari gedung bertingkat agar keinginanmu untuk tidak menikah denganku dapat terwujud?..ngomong-ngomong kita berada di lantai 4. Cukup tinggi untuk bunuh diri…" Yunho melanjutkan ucapannya.
"…"
"Dan..jangan lupa tinggalkan pesan sebelum kau meloncat, agar aku tahu kalau kau sudah tewas.. okay?"
Yunho sengaja membuat penekanan di bagian akhir menunggu Jaejoong bicara, ia pun bergegas pergi.
Apa yang terjadi pada Jaejoong? Pria manis itu mendengus kesal sembari mengerucutkan bibirnya. Suaranya tercekat di tenggorokan. Sungguh saat ini juga dia ingin mengejar Yunho, menjambak rambut si brengsek itu, lalu melempar tubuhnya ke jalanan. Benar-benar mimpi buruk harus mendapati kenyataan bahwa dia telah menikah dengan pria terbrengsek di dunia.
Menit berikutnya gertakan gigi Jaejoong terdengar.
****Secret Wedding****
Namsan Tower
Sepasang muda-mudi yang tengah dilanda badai kasmaran(?) berdiri berdampingan sambil memandangi indahnya pemandangan dari atas Namsan Tower. Mereka adalah si tampan Jung Yunho dan kekasihnya(?) Tiffany. Okay, sedikit diralat, sebenarnya kasmaran dalam arti sepihak. Sampai sekarang Yunho belum bisa membuat hatinya benar-benar menerima kehadiran Tiffany meski pada kenyataannya mereka telah menjalin hubungan selama tiga tahun. Mungkin keadaan jadi lebih rumit karena mereka tidak selalu bersama. Yunho menghabiskan hampir tiga tahun masa pacaran mereka di Paris sedangkan Tiffany menunggu di Korea. Masalah jarak memang sangat menentukan bagi setiap pasangan, apalagi yang idak serius seperti Yunho. Sama halnya dengan yang sudah-sudah, kebersamaan mereka kali ini karena kemauan orangtua Yunho, terlebih sang ibu. Mrs. Jung sangat menyukai Tiffany dan berharap perempuan yang nantinya akan melahirkan banyak cucu untuknya adalah Tiffany.
"Oppa… semuanya jadi sangat kecil dari atas sini.."
Tiffany berujar sambil terkagum-kagum memandang ke bawa seolah saat ini adalah pertama kalinya ia berdiri di atas Namsan, padahal tak terhitung lagi sudah berapa kali dia ke sana. Gadis itu tak henti-hentinya memperlihatkan senyuman manis, sesekali tertawa lepas. Jauh berbeda dengan Yunho yang sedari tadi hanya bisa menghela nafas beratnya. Dia juga memandangi apa yang dilihat Tiffany tapi pikirannya tidak tertuju disitu. Akhir-akhir ini kepala Yunho sering sakit karena memikirkan pernikahannya di Paris. Ah… bahkan hanya mengingatnya sudah akan membuatnya ingin terjun dari Namsan. Sekali lagi Yunho harus mengutuki dirinya sendiri. Namun, disela-sela kekesalan pada dirinya, Yunho juga dibayang-bayangi oleh wajah Jaejoong. Okay, Yunho tidak munafik. Kim Jaejoong memang pria yang sangat menarik, dia sangat manis, tapi entah mengapa sangat menyebalkan dan tetap saja membuatnya menyesal telah menikahi pria itu.
"Oppa.. kenapa wajahmu masam begitu? Kau tidak suka berada disini denganku?"
Yunho menmbuang nafas beratnya lagi dan lagi. Tidak ingin Tiffany bersedih, ia memasang wajah manis pada gadis cantik itu.
Kalian pasti berpikir mengapa Yunho terkesan tidak suka dengan kekasihnya, bukan?Yap, sebenarnya Tiffany adalah sahabat Jihye – adiknya. Dan Yunho juga menganggap Tiffany sebagai adiknya sendiri, namun tidak demikian dengan gadis ini. Tiffany terlalu jauh dalam menanggapi perhatian yang Yunho tujukan untuknya. Dan yang paling membuat Tiffany semakin menaru harapannya pada Yunho, karena orangtua Yunho yang terlalu menyayangi dan mendukungnya untuk menjadi istri Yunho.
"Tentu saja tidak.."sahut Yunho, bibirnya masih menyunggingkan senyuman manis.
"Mwo? Jadi maksudmu…"
"Eh? Bukan itu… maksudku aku senang. Sangat senang bersamamu disini.."
Dan beginilah setiap jawaban yang Yunho lontarkan ketika menenangkan Tiffany. Dan pada akhirnya Tiffany akan berbunga-bunga karena menganggap Yunho juga mencintainya.
"Aku benar-benar bahagia.. tidakkah oppa juga bahagia?"
Yunho hanya mengangguk menanggapi perkataan Tiffany. Setelah itu tidak ada lagi yang bicara di antara keduanya, hanya suara-suara dari sebelah-menyebelah mereka yang terdengar, serta hembusan angin kencang yang menerpa wajah mereka. Yunho agak terkejut ketika tiba-tiba Tiffany menyandarkan kepala ke pundaknya. Ia menengokkan kepalanya sebentar untuk melihat gadis itu, mata Tiffany terpejam dengan tenang. Ia jadi tidak tega untuk menjauhkan pundaknya.
Di tengah-tengah suasana hati Yunho yang berangsur membaik, samar-samar….terdengar…
"Bagaimana menurutmu, Jaejoong? Tempat ini sangat indah, bukan?"
Yunho langsung mengernyitkan keningnya. Suara tadi.. sebenarnya bukan suara, tapi nama itu.. seperti pernah mendengarnya. Ah, mungkin saja hanya halusinasi dan telinganya yang bermasalah. Tidak mungkin nama Jaejoong yang dia dengar tadi adalah Kim Jaejoong si pria aneh pasangan menikahnya kan?
"Ne, disini sangat menyenangkan…"
Tapi tunggu.. Jaejoong? Suara tadi..Perlahan-lahan Yunho menggerakan kepalanya kesamping kiri untuk melihat ke arah suara tadi..Dan..Ternyata benar dia Kim Jaejoong! SAESANGE! Mengapa harus ada Kim Jaejoong di sini?
Pandangan mereka pun bertemu.
"Oh.. Jung Yunho..?"
****Secret Wedding****
Selesai dengan keterkejutan karena secara tidak sengaja bertemu di Namsan Tower, sekarang mereka sudah duduk bersama dengan pasangan masing-masing di sebuah café dekat Tower itu.
"Jadi gadis ini kekasihmu, Jaejoongie?"
Jaejoong mengangguk datar. Ia benar-benar kesal harus berhadapan dengan Yunho. Mungkin salahnya tadi sudah menyapa pria itu. Andai saja dia pura-pura tidak kenal, suara menyebalkan tadi tak akan memenuhi telinganya sekarang.
Caroline menyimpan gelas kopi nya ke meja. Agak penasaran juga dengan panggilan ' Jaejoongie' yang diucapkan Yunho tadi. Ia saja yang berstatus 'kekasih' dan segera akan menjadi 'tunangan' dari pria itu tak pernah memanggil Jaejoong dengan begitu akrab dan…manis?
"Jaejoongie? ku dengar Jaejoong hanya mengijikan jika orang-orang terdekatnya yang memanggilnya demikian.. kalian pasti sangat akrab ne? "
Yunho mengangguk pasti. "Tentu saja Caroline ssi..bukan begitu Jaejoongie? Ah, seharusnya kau juga memanggilnya 'Jaejoongie'.. kalian sepasang kekasih, kan? bukan begitu Jaejoongie?"
Jaejoong mengerutkan keningnya. Apa-apaan yang barusan didengarnya? Yunho sedang tidak mabuk kan? Bagaimana bisa dia mengeluarkan suara seaneh itu..? Jaejoong terus menatap Yunho dengan mata besarnya, memberi isyarat agar pria itu menghentikan senyumannya. Namun Yunho sama sekali tak ambil pusing, ia malah terus tersenyum manis padanya juga pada Caroline.
"Jadi, sudah berapa lama kalian pacaran?"tanya Yunho, lagi.
Caroline tiba-tiba tersipu malu.." baru beberapa hari..errr sebenarnya kami akan segera bertunangan.."
"Oh, Jeongmal?Aku pikir uri Jaejoongie sudah menikah di Paris..benarkan Jaejoongie?"
Yunho memasang raut wajah seolah sedang kebingungan dan berpikir keras.
"APA?!"Caroline hampir pingsan gara-gara pernyataan Yunho. Gadis cantik itu menuntut penjelasan dari Jaejoong. Sementara Tiffani yang dari tadi diam mulai bertanya-tanya dalam hati 'apa yang sebenarnya terjadi pada kekasihnya dan Jaejoong?
'"Jangan didengarkan.. Yunho sangat suka membuat lelucon.."ucap Jaejoong pada Caroline.
Ternyata Yunho ingin balas dendam padanya? Sungguh kekanakan.
"Bukan hanya aku saja, Caroline ssi. kekasihmu juga sangat-sangat suka lelucon.. benarkan Jaejoongie?"
Jaejoong tidak tahan lagi. Suara Yunho yang dibuat-buat untuk menyebut namanya sungguh membuatnya marah. Jaejoong menggebrak meja dengan keras, untung saja suasan café itu tak seramai di restoran tempo hari. Caroline dan Tiffany hampir terlonjak dari kursi karena kaget.
"Yak! Apa kau sudah gila, Jung Yunho?! Bukan begitu Jaejoongie, benarkan Jaejoongie..benarkan Jaejoongie? suaramu itu benar-benar mengerikan.."
Yunho tersenyum penuh kemenangan melihat aksi Jaejoong.
"Ayo kita pergi… berlama-lama disini bersama orang ini bisa membuatku mati mendadak.." ujar Jaejoong sembari menarik lengan Caroline..
Yunho akhirnya memudarkan senyumannya. Ia juga beranjak dari duduknya, tak kalah tajam memandangi Jaejoong.
"Kau pikir aku juga senang bersamamu disini..? "
"Kau.."
"Apa?"
Adegan di depan mereka membuat Caroline dan Tiffany saling berpadangan, seolah berkomunikasi lewat tatapan, 'apa yang terjadi dengan mereka?
'"Sebenarnya dari awal aku bertemu dengan Jaejoong oppa, aku sudah merasa ada yang aneh di antara kalian. Mengapa kalian begitu tidak akur? Yunho oppa dan Jaejoong oppa jawab aku! Ada apa di antara kalian?!"ujar Tiffany panjang lebar.
"Tidak ada apa-apa" sahut Yunho dan Jaejoong bersamaan.
"Ayo kita pergi…" Setelah itu Jaejoong langsung menarik lengan Caroline meninggalkan pasangan Yunho dan Tiffany.
"Kau baik-baik saja kan?"
Jaejoong menormalkan nafasnya kemudian mengangguk lemah.
"Bagaimana kalau kita menonton film, hum?"
Jaejoong kembali mengangguk. Tidak ada ruginya ia mengikuti kemauan Caroline. Hitung-hitung untuk menghilangkan sakit kepalanya.
****Secret Wedding****
Bioskop
"Oppa…kajja. Sebentar lagi film nya mulai. Aku tidak mau ketinggalan.."
Tiffany menarik-narik lengan Yunho agar segera masuk ke dalam teater. Mereka memang agak terlambat membeli tiket karena Yunho yang susah sekali dibujuk untuk menonton. Alasannya karena pria itu tidak enak badan, tapi Tiffany tahu itu karena pertemuan mereka dengan Jaejoong tadi. Ah, benar-benar membingungkan.
"Kau tidak akan membeli sesuatu?"Tiffany menggelengkan kepalanya.
"Tidak usah..aku masih kenyang.."
"Tunggu sebentar..soda saja, okay?"
Gadis cantik itu mengangguk malas.
Tiffany benar-benar sebal saat ini. bagaimana tidak? Hanya untuk membeli dua gelas soda bisa menghabiskan 15 menit. Dan hasilnya film nya sudah di putar itu tandanya banyak adegan yang terlewatkan.
"Oppa…sudah ku bilang kan kita terlambat! Gelap sekali aku bahkan tidak bisa melihat jalannya" dia terus saja mengoceh di belakang Yunho.
"Pegang saja tanganku"
Keduanya berjalan melewati tangga-tangga kecil menuju kursi mereka.
"Oww..kaki ku.."
"maaf..maaf"
Terdengar rintihan kesakitan dari sebelah Yunho. Ia baru saja menginjak kaki seseorang.
Di tengah kegelapan itu tampak Jaejoong duduk gelisah. Dari tadi pria itu tak tenang. Ia melirik Caroline dan gadis itu terlalu focus pada film yang mereka tonton, bahkan mulutnya mengangah dengan kagum. Jaejoong tak habis pikir mengapa Caroline begitu terpukau dengan sosok-sosok menakutkan di depan sana? Ah, sial. Jaejoong memejamkan matanya ketika suara-siuara mengerikan terdengar. Merasa suara-suara aneh itu tak lagi terdengar, Jaejoong membuka matanya dan kembali melihat pada Caroline.
"Caroline…"bisiknya.
"hmmm?"
"Kau tidak takut?"
"Tidak.."
"Caroline.."
Kali ini Jaejoong dengan sengaja memainkan jarinya di tangan Caroline berharap perhatian gadis itu akan tertuju padanya. Tapi apa yang didapatnya lebih dari itu.
"Yak, ada apa? Jangan mengangguku terus, Jaejoong ah.. Fokuskan saja mata mu ke depan. Lihat film ini sangat bagus.."
Oh demi apa Jaejoong sangat takut dengan hantu. Mengapa dia menyetujui menonton film ini tadi? Caroline sudah menjebaknya. Memang bukan salah Caroline karena perempuan itu tidak tahu yang sebenarnya kalau Jaejoong takut gelap dan hantu. Jaejoong tidak tahu lagi harus berbuat apa, Caroline tampak sangat mengagumi hantu-hantu di layar itu, dan menganggapnya tidak ada.
Okay Jaejoong, lihat terus. Kau ini laki-laki, masa harus takut pada hantu? Terlebih ini hanya bohong-bohongan. Jaejoong akhirnya memberanikan diri untuk membuka matanya dan menatap lurus ke depan, tapi sial bagi Jaejoong karena saat matanya bertemu pandang dengan layar besar itu, wajah paling menyeramkan sepanjang penglihatannya terpampang jelas di sana.
"Oh my God! akhhhhhhhh" teriak Jaejoong bersamaan dengan suara-suara yang lain yang tak kalah heboh. Jaejoong refleks menggenggam tangan seseorang yang tengah tergerai bebas di sebelah kiri nya. Refleks.
Sementara itu..
Yunho sebenarnya yang hampir tertidur itu, langsung terbangun karena suara-suara teriakan barusan, terutama saat merasakan tangannya di cengkram dengan kuat. "Tiffany.. jangan meremas tanganku sekuat itu…kalau kau takut tutup saja matamu.."
Tiffany menatap Yunho dengan bingung.
"Siapa yang meremas tanganmu, oppa?" sahut Tiffany sambil menunjukan tangannya
OMO!Jadi siapa?Yunho melihat ke bawah pada tangannya, kemudian melihat ke samping.
"KIM JAEJOONG?"Suara-suara teriakan telah lenyap ketika Yunho sendiri yang berteriak. Dan alhasil semua mata tertuju padanya.
"Aishh.. oppa! Ini sangat memalukan.."
Jaejoong dengan polosnya malah tersenyum menanggapi keterkejutan Yunho. Meski tak dipungkirinya ia juga terkejut bukan main karena ternyata tangan yang di cengkramnya adalah tangan Yunho.
"Aigoo Jung Yunho, aku tidak menyangkah bertemu lagi denganmu di sini.. mian. Apa tanganmu terluka sampai kau menjerit sangat keras tadi?"
Yunho hanya melongoh seperti orang bodoh.
"Omo.. apa terluka?"
Yunho menggeleng.
"Tidak terluka, tapi aku heran mengapa harus bertemu denganmu lagi! Tidak di restoran, di namsan, di bioskop, dimana-mana tempat, mengapa kau selalu ada Kim Jaejoong? Kau sengaja membuntutiku ya?"
"Tutup mulut mu. Justru kau yang mengikutiku. Buktinya kau juga ada disini.."
"Aku penasaran mengapa kau meremas tanganku..apa kau takut hantu?"
Yunho mulai tertawa pelan.
"Siapa yang takut? Itu gerak refleks!"
"Haa.. kau memang penuh dengan kebohongan.."
"Seperti itu kau menyimpulkan siapa aku? Memangnya kapan aku berbohong pada mu, Jung Yunho ssi?"
"ckckckck.. kau sudah lupa dengan cincin ku?"
"Aku tidak bohong..cincin mu memang tidak mau lepas dari jari- "
"Bisakah kalian berdua diam?!"
Yunho dan Jaejoong terkejut dengan seruan Tiffany dan Caroline. Keduanya kemudian saling bertatapan aneh lalu memalingkan wajah masing-masing ke kanan dan ke kiri.
Hari paling menyebalkan.
****Secret Wedding****
Next day..
Jaejoong tengah menyetir sambil mulutnya terbuka bersenandung. Suara Jaejoong memang sangat merdu. Sebenarnya Jaejoong memimpikan untuk menjadi seorang penyanyi tapi keinginannya itu tak mendapat respon baik dari orangtuanya. Terlahir sebagai putera dari keluarga kaya raya memang tidak seberuntung pemikiran kebanyakan orang. Apa yang kita inginkan belum tentu dapat terwujud masih berlanjut ketika mobilnya tiba-tiba terhenti seketika.
Jaejoong mengernyitkan keningnya. Apa-apaan ini?"
Sungguh sial.. mengapa harus mogok saat ini? urrggg…"
Jaejoong turun dari mobilnya lalu melihat-lihat bagian mana yang bermasalah pada mobil itu. Ia benar-benar tidak mengerti bagaimana harus membetulkannya. Kepalanya pun bergerak ke sana- ke mari berharap aka nada pertolongan yang datang. Dan benar saja!Sebuah audi hitam berhenti di belakang mobilnya. Tuhan ternyata mendengar doa nya tadi dan Ia mengirimkan seorang penolong untuk memperbaiki mobilnya.
Jaejoong tersenyum senang.
Namun senyuman Jaejoong perlahan pudar ketika mengetahui siapa pengedaran audi itu. Dia adalah Jung Yunho. Ternyata bukan penolong yang datang tapi sih pembuat kesialan.
"Mobilmu mogok ya?"Sebenarnya niat Yunho bertanya tadi sangat sopan dan baik, tapi entah mengapa malah ditanggapi dengan tak bersahabat oleh Jaejoong.
"Mogok saat kau datang.. benar-benar sial, bukan?"
"Mwo?"J
aejoong memilih diam. Dia memutar-mutar matanya.
"Kau perlu bantuan? Atau kau mau ikut bersamaku? Aku akan mengantarmu…"
Jaejoong tak menjawab.
"Jangan gengsi, Kim Jaejoong…"
Jaejoong mengernyitkan keningnya. Percaya diri sekali orang ini!
"Okay kalau kau mau disini.. aku pergi.."
Jaejoong masih diam, menimang-nimang apa akan ikut bersama Yunho atau berharap ada pertolongan lain. Yunho sudah masuk ke dalam mobilnya dan sebentar lagi pasti akan pergi. Okay, Jaejoong harus membuang gengsi nya kali ini. Ia benar-benar menyerah karena sama sekali tidak tahu harus bagaimana memperbaiki mobilnya. Akhirnya dengan gontai dia mengikuti Yunho masuk ke mobil itu.
"Ku pikir kau tidak mau ikut.." ucap Yunho.
"Antarkan aku pulang.."
"Lalu mobilmu?"
"Sudah jangan banyak bertanya.. Aku akan menyuruh supir di rumah untuk mengambilnya.."
Yunho hanya menganggukkan kepalanya.
Di tengah perjalanan keduanya diam. Yunho hanya focus dengan kemudinya sementara Jaejoong memandang keluar lewat jendela. Kalau dipikir-pikir mereka berdua sungguh aneh. selalu dipertemukan oleh waktu tanpa janji tapi selalu saja bertengkar. Sebenarnya hubungan mereka harus membuat mereka dekat, karena bagaimana pun mereka telah menikah walau semua terjadi diluar kesadaran memalingkan wajahnya ke depan.
"Okay, sebaikanya kita jangan terus bermusuhan. Bagaimanapun kita sudah menikah.."ungkap Jaejoong sesuai apa yang ia pikirkan tadi.
"Apa? Menikah kepalamu.."
"Aishh kau.."
Jaejoong mengerucutkan bibir, sungguh lucu. Dapat dipastikan kalau Yunho menangkap pemandangan itu ia akan meneteskan air liurnya..
"Oh, apa Caroline benar-benar kekasihmu? Atau kau hanya berpura-pura untuk memperlihatkannya padaku?"
Jaejoong melirik Yunho setelah pria itu selesai bertanya.
"hahahaha.. kau memang sangat percaya diri.. Untuk apa aku berpura-pura memperlihatkanya padamu? justru kau yang berpura-pura mesra dengan Tiffany untuk…. Untuk.." Jaejoong bingung sendiri dengan ucapannya.
"Untuk membuatmu cemburu begitu?"
"Ne?"
Yunho tiba-tiba menghentikan mobilnya. Ia membetulkan duduknya agar menghadap mangsa di sebelahnya. Jaejoong benar-benar gugup dan entah mengapa sangat sulit untuknya bersuara, terlebih cara Yunho memandanginya. Apa Yunho sakit, eoh?
"Kau cemburu?"
suara berat Yunho membuat gemuruh di dada Jaejoong. Jika saat ini Jaejoong berubah jadi seoang gadis, ia pasti akan meleleh. Suara Yunho sangat seksi. MWOYA? Jaejoong menggelengkan kepalanya. Ia pasti sudah tak waras sampai punya pikiran seperti tadi.
Jaejoong mulai memasang wajah berani.
"Untuk apa aku cemburu? Harus berapa kali aku mengataknnya Jung Yunho ssi! Aku lebih suka terjun bebas dari gedung bertingkat..dan sekarang kau bilang aku cemburu? Yang benar saja.. apa aku sudah gila?"
Yunho malah mendekatkan wajahnya pada Jaejoong, kemudian berbisik.."Kau sangat lucu, Kim Jaejoong.."
Wajah Jaejoong kembali berubah aneh. Ia mengerjapkan matanya berkali-kali. Tapi sebelum pikirannya kembali berkelebat hal-hal aneh, ia segera menjauh.
"Yah, berhenti bertingkah aneh.."
Yunho tersenyum dengan tingkah Jaejoong
."Kau sangat lucu.. kau hanya tidak tahu itu.."
Jaejoong kembali melihat pada Yunho yang masih betah dengan posisinya tadi. Lama mereka bertatapan sampai Yunho duduk kembali dengan menghadap ke depan.
"Kau mau pulang kan? aku akan mengantarmu.. "
"Jika saja mobilku tidak rusak aku tidak akan sudi menumpang di mobil ini.."
"Ne?"
"Ani,, jalan saja.."
Jaejoong mulai menyadari bahwa jalanan yang mereka lalui ini bukan arah menuju rumahnya. Ia duduk tidak tenang melihat ke kiri dan ke kanan.
"Yah, Jung Yunho. Kau mau membawa aku kemana?" seruhnya.
"Kau bilang jalan saja.. kau juga tidak memberi petunjuk dimana arah tempat tinggalmu.." sahut Yunho dengan malas.
Jaejoong terdiam, menyadari kebodohannya.
"Jadi dimana?"
"Mengapa kau membentakku?"
"Siapa yang membentakmu?"
"Itu tadi suaramu begitu kuat.."
"Ha?"
"Sudah berhenti di sini saja.. "
Yunho pun menghentikan mobilnya. Ia melihat keluar.. Apa benar di sini Jaejoong tinggal? Tidak ada rumah di sekitar sini. Sebelah kiri adalah tanah lapang, di sebelah kanan sekolahan.
"Di sini rumahmu?"
"Ya ya ya.. "
"Okay.. silakan turun.."
Jaejoong langsung turun dan membanting pintu mobil Yunho kuar-kuat.. Yunho sebenarnya sangat marah tapi diurungkan niatnya untuk memarahi Jaejoong, pria itu pun memilih segera pergi.
"Sialan.. benar-benar sial. Mengapa aku selalu sial jika bertemu dengannya? Mobil tiba-tiba mogok, dan sekarang entah aku berada di mana dan yang paling sial, dompet dan ponsel ada di mobil.. lengkap sudah kesialanku.."
Jaejoong tak tahu lagi harus bagaimana untuk sampai di rumahnya. tidak mungkin ia berdiri saja di tempat ini, kan? Ah, benar-benar menyebalkan. Jaejoong terus saja mengoceh tak jelas.
Tit.. tit..
Bunyi klakson menghentikan gerutuan Jaejoong. Ia mengangkat wajahnya yang tadi sempat tertunduk. Yunho? Mengapa dia kembali?Yunho menurunkan kaca mobilnya. Seringaian khas pria itu terlihat.
"Aku tahu kau tidak mungkin tinggal di sana dan tidak mungkin juga di sana"
kata Yunho sambil bergantian menunjuk arah kiri dan kanan. "Naiklah.."
Meski Jaejoong tidak suka dengan suara Yunho yang terdengar tidak tulus, namun pada akhirnya ia naik ke mobil Yunho juga.
"Berhenti di sini.."
Yunho melihat ke samping kirinya, tampak sebuah rumah bergaya tradisional namun mewah berdiri di sana.
"Jadi ini rumah mu?"
"Ne.."
"Okay. Turunlah…"
Meski gaya bicara Yunho sangat menyebalkan tadi, tapi Jaejoong tak ada mood untuk membalasnya. Ia pun segera turun dari mobil Yunho. Yunho bersiap menjalankan mobilnya tapi sebelum itu ia melambaikan tangannya pada Jaejoong.
"Sampai bertemu lagi, Jaejoongie.."
"Ne.." balas Jaejoong tanpa sadar...
O.o
"Apa yang baru saja kukatakan? Apa aku baru saja mengatakan sampai bertemu lagi kesialan?ohgosh..aku sudah gila.."
TBC….
Secret Wedding
jeongmal gomawo buat komen-komen kalian 3
