.
.
Disclaimer : Naruto itu selalu milik Masashi Kishimoto
Story : V3Yagami
Genre : Angst, Romance, Tragedy, Hurt/comfort, Mystery
Rated : M
Notes : Tolong jangan meng-copy atau memindahkan cerita ini pada bentuk apapun (Blog, FP, FFN, LJ, DLL) tanpa se-izin aku.
.
.
Hari berganti hari, kedekatan antara Sasuke dan Sakura semakin membuat Ino cemas. Biasanya dia selalu melihat Sakura protes akan kelakuan Sasuke entaph apapun itu, sekarang Sakura lebih bisa berbaur dengan Sasuke. Bahkan Sasuke pernah sesekali membantu mengikat rambut Sakura... dan Sakura membiarkan hal itu.
"Ada yang tidak beres," gumam Ino.
Shino yang mendengar gumaman Ino dari dalam mobil menoleh padanya. Saat ini, Sasuke lah yang menyetir dan Sakura duduk di depan, sedangkan Ino dan Shino duduk di kursi belakang, "Tidakkah kau berpikir mereka semakin lama semakin dekat?" bisik Ino pada Shino.
"Ya, aku sadar."
"Lalu kenapa kau diam saja?"
"Memangnya aku harus bagaimana?"
Ino melirik sinis pada Shino kemudian melipat kedua tangannya, "Aku tidak boleh membiarkan Sasuke masuk ke dalam hati Sakura," bisik Ino pada Shino.
"Kenapa kau bersikeras menentang mereka?" tanya Shino yang juga berbisik.
"Karena Sasuke itu sangat mirip dengan-"
"Kalian bisik-bisik apa sih?" tanya Sakura yang kini sudah mneoleh ke belakang.
"Aaahhh tidak, bukan apa-apa. Shino bilang dia ingin mengenalku lebih jauh, jadi dia malu untuk bicara keras-keras," jawab Ino dengan spontan.
Shino menatap Ino dengan tatapan seolah berkata 'alasan macam apa itu.'
"Wah, aku tidak pernah tahu hubungan kalian sudah sejauh itu, apa kau tahu, Sasuke-kun?" tanya Sakura pada Sasuke.
Tunggu...
Ada yang aneh...
Ino berpikir, sejak kapan Sakura memakai embel-embel 'kun' pada Sasuke? dan suasana macam apa ini yang tercipta di antara mereka? Begitu banyak pertanyaan Ino yang ingin sekali ia lontarkan sekarang, kalau saja bukan karena mobil yang berhenti mendadak.
"Ada apa?" tanya Ino.
"Ada apa kenapa? Ini sudah sampai," jawab Ino sambil menyentil kening Ino.
"Sampai ketemu nanti siang," ucap Sakura yang membuka pintu dan keluar dari mobil.
Begitu Ino mengikuti apa yang Sakura lakukan, Sasuke memutar mobilnya dan menempatkan mobil itu di jarak yang sedikit jauh dari gerbang sekolah. Ino menghampiri Sakura dengan tatapan curiga.
"Baiklah, kita hentikan sekarang tatapan yang membuatku curiga itu, ada apa denganmu dan Sasuke?" tanya Ino langsung pada intinya.
"Tidak ada kok," jawab Sakura malu-malu.
"Sakura."
"..." Sakura terdiam kemudian menghela napas panjang, "hhhhh, Ino... rasanya aku bisa melupakan Sai kalau..."
Belum sempat Sakura menyelesaikan kalimatnya, Ino sudah mengangkat kedua tangannya membentuk tanda silang, "Tidak! Tidak! Tidak! Kau tidak boleh dengan Sasuke, kau tahu kan dia itu sedingin es, bagaimana kalau dia mencampakanmu seperti Sai!"
"Aku tidak bilang ingin menjalin hubungan dengan Sasuke, aku hanya ingin mencoba menghilangkan perasaanku pada Sai," jawab Sakura pelan.
"Dengan menyukai Sasuke? Itu pilihan yang buruk! Apalagi kau sudah akan bertunangan!"
"Aku bahkan tidak tahu siapa tunanganku sebenarnya diantara empat kandidat itu," ujar Sakura.
"KIta bahas ini nanti, bel sudah bunyi," ucap Ino sambil menarik lengan Sakura berlari memasuki gedung sekolahan.
.
.
Waktu berjalan begitu cepat, kini Sakura yang sudah melakukan semua kegiatan sekolahnya sudah berada di rumah yang bisa dibilang sangat besar. Dirinya berdiri di ruang kerja sang ayah, dengan telepon menempel di telinga serta ekspresinya yang sangat datar.
"Iya," jawab Sakura pada seseorang di seberang telepon sana, "iya aku mengerti, baik ayah, ayah..."
Tuut Tuut Tuut
"... Aku sayang ayah."
Sakura menutup teleponnya, tatapannya terlihat sendu. Ia melangkahkan kakinya ke kamar Ino dan menemukan sang punya kamar sedang berbaring sambil membaca novel favoritnya.
"Kenapa wajahmu lesu?" tanya Ino.
Sakura menutup pintu dan mengikuti Ino yang berbaring di kasur, "Ayah tadi telepon, katanya dia sudah memutuskan siapa yang akan menjadi tunanganku dan membatalkan tiga calon yang lainnya."
"Loh? Kenapa tiba-tiba?" Kini Ino lebih tertarik dengan cerita Sakura daripada dengan novelnya sendiri.
"Aku tidak berani bertanya."
"Sakura... kau selalu begitu, selalu setuju tanpa bertanya alasannya."
Sakura terdiam, pikirannya kembali pada saat pertama kali dirinya dan Sai bertemu. Sakura masih ingat betul saat Sai menolongnya dari preman jalanan yang berusaha melecehkannya yang masih memakai seragam SMP. Saat itu Sai begitu baik, dan sejak saat itu mereka berhubungan baik hingga menimbulkan perasaan khusus masing-masing. Namun hubungan mereka tidak berjalan dengan lancar, karena ketika Sakura memperkenalkan Sai pada ayahnya... Sai mulai menjauhi Sakura.
Tiba-tiba Sakura bangkit dari kasur dan melangkah keluar, "Aku ingin tidur, rasanya penat sekali."
"Ng, selamat istirahat," ucap Ino tersenyum lembut.
Sakura berjalan ke arah kamarnya, perasaannya sangat gelisah. Sebenarnya dia tidak menginginkan semua ini, pertunangan ini... tapi dia bisa apa? Kalau Sakura menolaknya, bisa-bisa ayahnya nanti membencinya dan dia tidak mau hal itu terjadi. Tapi untuk saat ini... dirinya merasa sangat lelah... lelah mengikuti semua perintah yang ada... ingin sekali Sakura melakukan suatu hal yang sesuai dengan keinginannya sendiri tanpa harus khawatir sang ayah akan membencinya... sekali saja.
"Sakura?"
Suara berat yang memanggilnya menyadarkannya pada realita kehidupannya yang bagaikan di dalam sangkar. Sakura menoleh pada pemilik suara yang kini berdiri di belakangnya, "Sasuke-kun?"
"Sedang apa berdiri di depan pintu kamarku?"
"Pintu kamarmu?" Sakura kembali melihat warna pintu yang kini berada di hadapannya bukanlah pintu kamarnya, "waahh, ke-kenapa bisa?"
"Kau melamun?"
Melihat tatapan Sakura yang terlihat sedikit kosong membuat Sasuke penasaran, apa yang terjadi pada gadis ini, "Apa yang terjadi?"
Sakura tidak menjawab, dia hanya menghela napas panjang kemudian menatapa jendela luar yang bisa dilihat dari tempatnya berdiri, "Sudah mau malam saja," gumam Sakura.
"Kau bosan?" tanya Sasuke. Dan Sakura mengangguk.
"Mau ikut denganku?"
"Eh?"
Dan di sinilah mereka berada.
Sasuke dengan jaket kulitnya yang berwarna hitam, celan jeans hitam dan Sakura yang memakai celana jeans pendek, sepatu boots serta syal yang melingkar di lehernya. Sasuke menyerahkan helm kecil pada Sakura, mereka kini berada di halaman belakang tempat dimana Sasuke menyimpan motornya.
"Kita mau kemana?" tanya Sakura.
"Nanti juga tahu," jawab Sasuke sambil memakai helm-nya yang berwarna hitam kemudian menggendong Sakura agar menaiki motor Sasuke yang besar itu.
"Motor ini besar sekali," ujar Sakura dengan nada yang terdengar senang.
"Biasanya ini untuk balapan," ujar Sasuke.
"Eh? Semacam MotoGP?" tebak Sakura.
"Bukan, balapan liar," jawab Sasuke santai, "pegangan."
"Eh? HUAAAAAAAA!" Belum sempat Sakura bertanya, Sasuke sudah menyalakan mesin dan melajukan motor dengan kecepatan di atas rata-rata. Memang motor sport itu tidak bisa kalau tidak melaju cepat.
Sakura memeluk erat perut Sasuke, bisa laki-laki itu rasakan kalau lengan Sakura sedikit gemetar karena belum terbiasa oleh kecepatan motornya. Sasuke tersenyum dibalik pengaman kepalanya itu dan mulai menggenggam lengan Sakura yang memeluk pinggangnya dengan lembut. Genggaman Sasuke sedikit membuat Sakura tenang, dan bersyukur Sakura sudah bisa kembali membiasakan diri dengan kecepatan motor Sasuke.
Entah dibawa kemana dirinya oleh Sasuke ini, yang jelas saat ini Sakura bisa melihat suasana pergantian malam di pantai yang mereka lewati. Pemandangannya begitu cantik, membuat pikiran Sakura kembali tenang dan seolah beban dari pundaknya terangkat. Sasuke menghentikan motornya di pinggir dan membuka helm-nya.
"Suka dengan apa yang kau lihat?" tanya Sasuke pada Sakura.
"Sangat," jawab Sakura pelan.
"Ada tempat dimana kita bisa melihat seluruh suasana kota di malam hari, mau kesana?"
Sakura mengangguk kencang, seolah sangat senang dengan apa yang Sasuke tawarkan padanya, "Tapi pemandangan itu akan terlihat indah sekitar pukul 12 malam, sambil menunggu itu, kau mau ikut denganku?"
"Kemana?"
"Aku harus mengikuti balapan liar ini, Naruto membuat onar lagi, dan sebagai taruhannya, kalau aku menang... daerah tokyo sebelah barat bisa kami kuasai," jawab Sasuke lagi-lagi dengan nada tenang.
Sakura mengerutkan keningnya, "Waw... aku tidak pernah tahu ada hal yang begitu di Jepang."
"Itu karena kau hidup di dalam istana yang nyaman," ucap Sasuke yang kembali memakai helm-nya, "siap?"
"Ayo meluncuuurrr!" teriak Sakura.
.
.
Suasana yang belum pernah Sakura lihat, kerumunan anak-anak muda yang berpesta dengan minuman keras, para wanita dengan pakaian seksi, ada yang berciuman, bahkan ada yang bercumbu di tengah keramaian seperti ini. Mata Sakura meng-eksplore sekitarnya... benar-benar kehidupan yang berbeda, dunia yang sangat berbeda dengan dunianya. Dan inilah dunia Sasuke.
"Yo Uchiha!"
Sakura menoleh pada laki-laki dengan tato di kedua pipinya sambil memberikan salam khas mereka, "Kiba."
"Bagaimana hari ini?"
"Deal tiga putaran," jawab Sasuke.
"Kau tahu, semua bertaruh besar memilihmu, haha siapa yang bisa mengalahkan seorang Uchiha Sasuke dalam hal balapan liar seperti ini."
"Mana Naruto?" tanya Sasuke.
"Dia di sana," laki-laki itu menunjuk ke arah Naruto yang sedang berdebat dengan wanita, "dia baru saja akan mencampakkan wanita itu, dan seperti biasa ditinggal setelah mendapatkan apa yang dia inginkan."
Sakura menatap miris pada sosok Naruto yang kini terlihat risih oleh wanita yang menarik lengannya, namun mata Sakura saat ini tertuju pada sosok di sebelah Naruto... entah kenapa melihat sosoknya saja membuat Sakura salah tingkah, bukan karena Sakura mempunyai perasaan khusus pada laki-laki itu, hanya saja sangat aneh bukan bertemu dengan calon tunangannya di tempat seperti ini? Bagaimana kalau nantinya dia melaporkan pada sang ayah bahwa Sakura mendatangi tempat seperti ini? Tanpa Sakura sadari, ia menggenggam erat lengan Sasuke dan itu membuat Sasuke menoleh padanya.
"Ada apa?"
"Shi-Shikamaru di sini," bisik Sakura pelan.
"Lalu? kau tidak menyukainya kan?"
"Tidak! Aku tidak menyukainya... hanya saja... tadi sore ayah meneleponku dan menetapkan bahwa dialah yang menjadi calon tunanganku nanti," jawab Sakura pelan.
Jawaban Sakura membuat darah Sasuke memanas, kenapa Shikamaru tidak memberitahukannya tentang hal ini? Kapan mereka mengambil keputusan ini? Dan sejak kapan... Sasuke dan Shino tidak lagi terlibat oleh pengambilan keputusan antara presiden dan Black Dragon?
"Sasuke-kun?" Panggilan Sakura membuat Sasuke sadar kembali dari lamunannya.
"Maaf," jawab Sasuke, "Apa kau bisa turun?"
"Hehehe, pacarmu, eh? Uchiha?"
Sasuke membantu Sakura turun dari motornya dan menatap Kiba yang bertanya, "Ya, katakan pada semua orang di sini agar menjaga matanya baik-baik," ujar Sasuke.
"Waw, belum apa-apa sudah memberi peringatan, baiklah, lagipula siapa yang mau berurusan denganmu. Baiklah, kita mulai satu jam lagi," ujar Kiba
Melihat Sakura yang masih sedikit membiasakan diri dengan suasana membuat Sasuke sedikit terkekeh, "Heh, ilmu bela dirimu tidak akan mempan pada mereka."
"Aku tahu, tidak usah meledekku."
Sasuke kembali tersenyum lembut, namun tidak ada yang sadar dengan raut wajahnya saat ini. Setelah berhasil menghilangkan senyum dari wajahnya, dia mengulurkan tangan pada Sakura, "Kita kesana."
Sakura melihat arah yang Sasuke tunjukkan adalah arah dimana Shikamaru dan Naruto sedang berdiri, sebelum Sakura menggenggam tangan Sasuke, dia melontarkan pertanyaan, "Kenapa kau bilang aku ini pacarmu?"
"Karena kalau tidak, kau akan bernasib sama seperti mereka," tunjuk Sasuke pada wanita yang sedang dijamah tubuhnya oleh beberapa laki-laki. Sakura menatap horror pada pemandangan itu, tahu bahwa Sakura sedikit takut, Sasuke menutup mata gadis itu, "maka dari itu, tetaplah diam dan menuruti kata-kataku."
Tanpa izin Sakura, Sasuke menggenggam tangannya dan membawa Sakura ke tempat Shikamaru dan Naruto.
"Sasuke! Kemana saja kau! Kupikir tidak akan hadir, aku hampir frustasi," ujar Naruto.
"Salah kau sendiri, membuat onar dengan wanita milik orang lain, berujung Sasuke yang menyelesaikannya," geram Shikamaru, menyadari ada sosok lain yang Sasuke bawa, Shikamaru membuka mulutnya namun Sasuke memberi kode agar tidak ada yang tahu identitas Sakura.
Merasa canggung dengan suasana Sakura dan Shikamaru, akhirnya Sasuke mengambil alih pembicaraan. Dia menarik lengan Shikamaru dan Sakura dan mendekatkan mereka berdua, kemudian berbisik, "Kalian memang tunangan, tapi ini adalah dunia yang berbeda dari dunia yang sebenarnya, jadi status kalian di sini hanyalah hubungan sesama manusia biasa, mengerti?" geram Sasuke.
"Mengerti," jawab Sakura cepat. Seperti murid yang menjawab gurunya yang sedang marah.
Shikamaru melepaskan tangan Sasuke dari lengannya, "Kau seperti bocah, Sasuke."
Mereka membicarakan antara geng satu dengan geng yang lainnya, mungkin bagi Sasuke ini adalah kelompok kecil, tapi bagi Sakura... kelompok ini sudah sangat besar, bagaimana dengan kelompok mafia-mafia besar di luar sana? MEreka semakin asyik merencanakan ke-onaran berikutnya yang akan mereka jalani, namun Sasuke tidak lalai untuk melindungi sosok Sakura dari tatapan nafsu para lelaki yang ada di sana. Sesekali Sasuke melingkarkan tangannya di pinggang Sakura, bahkan sekarang Sakura sedang memakai jaket Sasuke agar tidak terkena angin malam.
Sakura tahu, ini semua hanya pura-pura agar dirinya tidak celaka seperti wanita yang tadi ia lihat... tapi, apakah salah kalau Sakura sedikit menikmati perlakuan lembut Sasuke?
"Baiklah, sudah waktunya," ucap Sasuke bersiap-siap dengan motornya.
"Ah, jaketmu," kata Sakura sambil membuka jaket Sasuke.
"Jangan, kau pakai saja, aku sudah biasa tidak memakai jaket." Saat ini Sasuke hanya mengenakan kaos biru gelap dengan gambar naga putih di dada sampingnya. Entah kenapa Sakura merasa Sasuke sangat seksi malam ini.
"Baiklah, semua uang sudah terkumpul dan waktunya pertandingan dimulai. Sasuke dan Kabuto, kalian siap?" ujar Kiba yang berdiri di tengah-tengah mereka.
Sasuke menekan rem dan menggas motornya berkali-kali sehingga menimbulkan suara bising, begitu pula dengan Kabuto yang sedang memakai helm-nya. Saat Kiba sudah menurunkan tangannya, mereka melaju begitu cepat. Sakura sempat menahan napasnya ketika sosok Sasuke sudah menghilang dari lokasi.
"Sasuke pasti menang," ujar Naruto menyeringai.
Mendengar Naruto mengucapkan itu, Sakura menoleh pada pemuda berambut pirang yang kini menyengir lebar, "Kenapa kau bisa tahu?" tanya Sakura.
"Karena Sasuke menguasai lokasi ini lebih dari siapapun." Shikamaru yang menjawab.
Perhatian Sakura beralih pada motor Sasuke sudah melewati lagi lokasi start mereka.
"Satu putaran," gumam Sakura.
Seluruh remaja yang berada di situ bersorak meneriaki nama Sasuke, ada perasaan aneh dalam diri Sakura saat ia mendengar seluruh orang menyoraki nama laki-laki yang saat ini sedang dekat dengannya itu, perasaan bangga, senang... juga ingin meneriaki bahwa Sasuke adalah... adalah...
"Sasuke-kun..." gumam Sakura pelan.
Motor Sasuke kembali melewati garis start awal.
"Dua putaran," gumam Sakura lagi.
Saat Sakura akan menantikan putaran ketiga, penentu pemenang balapan liar ini, seseorang menarik lengannya. Dan hal ini tidak disadari oleh Shikamaru maupun Naruto yang sedang asyik menunggu sosok Sasuke.
Sakura tertarik menjauh dari arena balap, ingin sekali ia berteriak kalau saja saat ini orang itu tidak menutup mulut Sakura. Sakura hanya bisa meronta, tidak ada yang menolongnya karena suasana seperti Sakura saat ini sudah sering terjadi pada wanita mabuk dan dipaksa pulang oleh kekasihnya.
"Emmpphh!"
"Akan kulepas, asal kau jangan teriak," ujar suara berat yang sangat Sakura kenal.
Mata Sakura terbelalak, "Lepas jaket yang bukan milikmu ini, lalu tinggalkan pesan bawah kau sudah pulang, letakkan jaket ini di dekat garis start. Aku akan menjelaskan semua padamu apa yang terjadi."
Sakura mengangguk, sebelum ia menolah untuk mengetahui siapa sosok itu, dia sudah bisa menduga. Laki-laki itu... suara itu, suara yang dulu sanga ia cintai.
Sai.
.
.
Saat Sasuke sudah selesai dan sudah dipastikan siapa pemenangnya, kelompok Sasuke berhasil menguasai Tokyo daerah barat. Naruto dan Shikamaru merayakan dengan membuka beberapa botol bir, namun Sasuke mencari dimana sosok Sakura. Dia tidak menemukan dimanapun, sampai dia melihat sebuah jaket di pinggir, jaket yang sangat mirip dengannya, dengan secarcik kertas kecil.
'aku pulang duluan, Sakura.'
Sasuke mengerutkan keningnya, tidak biasanya Sakura begini. Atau memang mungkin Sakura tidak menyukai suasana yang terlalu liar begini. Akhirnya Sasuke memutuskan untuk pulang dan berpamitan pada Shikamaru dan Naruto.
Sesampainya Sasuke di kediaman presiden, ia langsung memeriksa kamar Sakura tapi tidak menemukan sosok Sakura dimanapun, dia mencoba untuk memeriksa di kamar Ino, tapi itu tidak akan sopan dan pasti Ino akan sangat marah kalau tahu Sakura dibawa pergi ke tempat liar begitu. Akhirnya Sasuke menelepon Shino dari kamarnya.
Tidak diangkat, mungkin Shino sudah tidur, jelas saja karena saat ini waktu sudah menunjukkan pukul 3 pagi. Tapi kemana Sakura? Kenapa dia tidak menemukan sosok gadis itu?
Saat Sasuke akan ke ruang kerja presiden, ia melihat ada seseorang yang datang dari gerbang utama. Sasuke memicingkan matanya untuk melihat lebih jelas siapa yang datang pagi-pagi buta begini, begitu ia jelas melihat siapa yang datang, darahnya mengalir panas seketika, tangannya mengepal dan bisa dijamin... tidak ada yang mau melihat ekspresi Sasuke saat ini.
Sasuke tahu bahwa Sakura kini akan mengendap menuju kamar tidurnya, maka dari itu ia memutuskan untuk menunggu gadis itu dengan senang hati di dalam kamar tidur gadis itu. Sakura mengendap kemudian membuka pelan pintu kamar tidurnya lalu menutupnya kembali, suasana kamar masih gelap, sampai ia menyalakan lampu dan menemukan sosok Sasuke yang berdiri bersender di jendelanya.
"Kyaaaa! Sa-Sasuke-kun kau mengagetkanku," ujar Sakura dengan nada yang cepat.
"Dari mana kau?"
"Aku... Aku jalan-jalan cari angin segar," jawab Sakura.
Sasuke sadar kini Sakura mengenakan jaket lain berwarna merah, saat Sakura membuka jaketnya Sasuke berjalan menuju pintu dan dengan suara yang sangat pelan, Sasuke menguncinya.
"Jaket siapa itu?"
"..." kini Sakura mengalami jalan buntu, matanya terpejam seolah menyuruh otaknya menemukan jawaban yang tepat.
"Sakura," panggil Sasuke dengan suaranya yang berat.
Sakura menoleh dengan tatapan seolah merasa bersalah, "Baiklah Sasuke-kun, maafkan aku... aku bukan bermaksud meninggalkanmu... aku..."
"Sai..." potong Sasuke yang membuat Sakura tersentak. Sakura memejamkan kedua matanya dan mengangguk.
Sasuke berjalan mendekati Sakura, tatapannya begitu tajam dan mengerikan. Sakura merasa takut, tubuhnya sedikit gemetar saat merasakan nafas Sasuke pada wajahnya, "Kau berani melakukan ini padaku?" ujar Sasuke dengan nada yang dingin.
"Sasuke-kun... maaf, aku emphh!" Sasuke langsung mencium Sakura tanpa izin dari gadis itu.
Ciuman yang sangat kasar dan memaksa. Sakura meronta, namun kedua tangannya berhasil Sasuke kunci hanya dengan satu tangan, tangan Sasuke yang satu lagi kini menekan kepala Sakura.
"Emmphh! Phuaahh Sasuke-"
Kesempatan Sakura berbicara digunakan oleh Sasuke untuk memasukkan lidahnya, ingin sekali rasanya Sakura menangis dan berteriak untuk meminta tolong. Karena tidak tahan, Sakura menjatuhkan dirinya namun Sasuke langsung berhasil menangkap tubuh gadis itu.
Sasuke melempar Sakura ke kasur, sorot mata Sasuke begitu dingin, Sakura kali ini benar-benar merasa takut. Air mata mulai mengalir, dan Sakura mulai memohon, "Sasuke-kun aku mohon~ Jangan lakukan ini~ Aku mohon..."
Sasuke tidak mendengarkan permohonan Sakura. Laki-laki itu terus menyerang Sakura, menciumnya dari mulut, leher, sampai ke dada. Sasuke membuka paksa baju Sakura bahkan sampai merobeknya, sambil meraba payudara Sakura, Sasuke membuat tanda di leher gadis itu.
"Sasuke-kunn~ aku mohoon...~" Sakura tidak bisa meronta, tubuhnya lemas karena takut. Dia hanya bisa menangis sambil memohon semoga ada keajaiban yang menghentikan tindakan Sasuke saat ini.
"Kau tidak bisa berbuat seenaknya," geram Sasuke, "sebentar kau baik padaku, kau perhatian padaku lalu kau membuangku... aku tidak terima itu."
Mata Sakura terbelalak ketika ia merasakan sesuatu meraba area sensitive-nya.
"Sa-Sasuke-kun! Jangaaan! Aaahhnnn! Tidaaak!"
Kepala Sakura meronta, tubuhnya bergerak tidak beraturan ketika Sasuke meraba bagian paling sensitive miliknya, Sasuke memainkan clitoris Sakura dengan cepat sampai dia merasa dirinya menegang dan...
"Aaaaahhhn!" Sakura menjerit sambil menjambak rambut Sasuke. Laki-laki itu sengaja membuat Sakura klimaks dengan cepat kemudian menjilat cairan milik Sakura.
"Ini hukuman karena telah menelantarkanku," ujar Sasuke sambil menatap Sakura yang masing menangis dibawahnya.
"Huuu..huuu... maafkan aku~"
Sasuke menyibak poni Sakura dan mencium lembut kening gadis itu, "Lain kali berpikir lebih dulu sebelum bertindak."
Sasuke beridir dan meninggalkan Sakura yang masih terlentang, untung saja Sasuke tidak membuka semua pakaiannya. Saat Sasuke keluar, Sakura masih mennagis, dia masih tidak mengerti dengan Sasuke. Kenapa dia melakukan semua ini? Kenapa Sasuke begitu marah? Mereka bahkan bukan sepasang kekasih, bahkan tidak ada pengakuan cinta diantara mereka... sebenarnya apa yang terjadi pada hubungan mereka?
.
.
"Permisi pak presiden, ini semua data-data yang anda minta."
"Terima kasih, apa ini yang asli?"
"Ya, kami dapatkan data ini langsung dari sumbernya."
Sang presiden memandangi foto yang kini berada di tangannya, dengan tatapan lembut ia mencium foto tersebut, "Akhirnya kita akan bertemu, putriku."
Kedua mata emerald itu perlahan terbuka, sang pemilik kini sedikit menggosok pelan matanya, menyesuaikan dengan cahaya yang masuk ke kamarnya melalui jendela. Sakura masih memakai pakaian yang tadi malam, sejak kejadian Sasuke menyerangnya... Sakura menangis sampai tertidur. Dirinya kembali mengingat ekspresi Sasuke yang begitu marah padanya, namun seketika ia kembali mengingat saat dirinya dibawa pergi oleh Sai.
Sai... Setelah sekian lama dia menghilang dari hadapan Sakura, kini laki-laki itu muncul seenaknya dengan kata-kata yang tidak Sakura mengerti.
"Mulai saat ini, aku ingin kita saling memberi kabar, aku ingin minta maaf padamu dengan cara yang benar tentang kejadian dua tahun yang lalu. Besok aku tunggu di taman, aku mohon datanglah."
Itulah yang Sai katakan.
Walaupun terkesan Sai berbuat semaunya, Sakura yakin Sai melakukan ini semua pasti ada sebabnya. Karena Sai bukan tipe orang yang akan melakukan sesuatu yang fatal kalau bukan karena suatu hal yang penting.
Sakura bangkit dari tidurnya dan berdiri di depan cermin, dia melihat pada dirinya sendiri. Matanya yang masih sembab, terlintas ciuman Sasuke tadi malam yang begitu kasar, tanpa disadari Sakura kini menyentuh bibirnya sendiri. Dan mengingat bagaimana Sasuke sukses membuat dirinya klimaks hanya dengan satu jarinya, itu membuat Sakura merasa malu. Itu memang bukan ciuman pertamanya, tapi tadi malam adalah klimaks pertamanya dan pertama kali dia rasakan dengan cara yang menyedihkan.
Sakura berdoa agar hari ini tidak bertemu dengan Sasuke, walaupun kemungkinan itu sangat kecil karena kemanapun Sakura pergi Sasuke harus bersamanya. Sakura menggelengkan kepalanya dan memutuskan untuk mandi.
Ino kini berdiri tegang di depan pintu ruang dimana presiden bekerja, kedatangan presiden yang begitu tiba-tiba membuat seluruh pengguni istana itu heran, ditambah lagi sang presiden memanggil Ino secara pribadi tanpa Sakura, Ini berpikir apakag dirinya akan dipecat? Sementara ini Ino menyingkirkan pikiran buruk itu dan mengetuk pintu dengan cepat.
"Masuk." Suara presiden menjawab.
Ino membuka pintu dan melihat di dalam ruangan itu hanya terdapat sosok presiden seorang diri, "Duduklah."
Ini menuruti perintah presiden dengan menduduki kursi yang berhadapan langsung padanya.
"Mulai saat ini, kau dibebas tugaskan sebagai pengawal pribadi Sakura."
Ino tersentak, namun sebelum dia mengeluarkan protesnya, sang presiden kembali berucap, "Mulai sekarang kau akan melindungi putriku."
Ino memiringkan kepalanya, mencoba mencerna apa yang diucapkan presiden, "Tapi putri anda kan hanya nona Sakura."
Presiden Haruno menatap Ino dengan tatapan serius namun mengandung kesedihan, merasa paham apa yang presiden maksud, Ino menutup mulutnya dan matanya terbelalak lebar.
"Aku harus segera memberitahu kenyataan padanya."
"Tu-tunggu dulu, tidak bisa tiba-tiba begini, Sakura... Dia..."
"Jangan libatkan hubungan persahabatan kalian di sini, ingat kau berhutang banyak padaku yang sudah mengasuhmu. Sekarang tugasmu mengawal Sakura sudah selesai, nanti malam aku akan mengenalkanmu pada putriku yang asli."
"Ta-tapi..."
"Kau boleh keluar."
Seolah sang presiden tidak mau lagi mendengar pertanyaan macam-macam lagi dari Ino, akhirnya Ino berpamit untuk keluar, saat dia keluar dari ruangan tersebut, sosok Sakura lah yang muncul di hadapannya.
"Loh, Ino? Sedang apa di ruangan ayah?" tanya Sakura dengan senyumannya yang seperti biasa.
Melihat Sakura yang masih tersenyum seperti ini membuat Ino merasa bersalah dan sedih. Bagaimana reaksi Sakura apabila dia mengetahui hal yang sebenarnya? Apalagi kabar ini sangat tiba-tiba... Tidak! Tiba-tiba Ino terpikir oleh sesuatu, sesuatu yang sangat dia lupakan akhir-akhir ini.
"Ayahmu sudah datang, ehm Sakura aku pinjam kamarmu sebentar ya."
"Iya silakan," jawab Sakura.
Saat Ino berlari ke atas, Sakura membuka pintu ruang kerja sang presiden untuk menyapa ayahnya. Ino berlari ke kamar Sakura dan langsung membuka brankas yang menyinpan memory card. Melihat sosok Ino tang tergesah-gesah membuat Shino penasaran dan akhirnya mengikuti langkah gadis itu.
"Ino, ada apa?" tanya Shino.
Ino tidak menjawab, setelah dia berhasil membuka brankas tersebut, Ino mengambil memory card dan memasukannya pada laptop Sakura yang memang sudah menyala.
"Woow, apa sudah dapat izin dari Sakura?" tanya Shino.
"Tidak ada waktu untuk itu," jawab Ino dengan tatapan serius pada layar.
Saat memory card terbaca, Ino membuka foldernya. Ada beberapa data yang tersimpan dalam bentuk ms. word, saat Ino membuka salah satu file dengan nama 'truth'.
Mata Ino terbelalak ketika ia melihat sebuah tulisan... Mungkin lebih seperti surat dengan beberapa gambar bayi di dalamnya. Reaksi Shino tidak kalah terkejutnya dengan Ino.
"Ini... Akte kelahiran Sakura?" Ujar Shino.
Saat Ino menekan scroll ke bawah, Shino tiba-tiba menyuruhnya berhenti.
"Stop! Ino... Sebentar," Shino membaca dengan ekspresi yang benar-benar terkejut, "jadi karena ini pihak Eagle mengincar Sakura."
"Karena apa?" Sasuke tiba-tiba muncul di belakang mereka.
"Sasuke kau harus baca ini semua," ujar Shino.
Saat Sasuke membaca apa yang Shino usulkan, ekspresi Sasuke pun sama dengan Shino, "Tidak mungkin."
"Tadi... Presiden membebas tugaskan diriku menjadi pengawal Sakura," ucap Ino dengan air mata yang sudah mengalir, "apa ini artinya Sakura akan pergi dari tempat ini?"
"Tidak, kita tidak boleh menyerahkan Sakura pada pihak Eagle, pasti ada alasannya kenapa pimpinan Eagle..." Sasuke tidak melanjutkan kata-katanya.
"Apa? Aku masih tidak mengerti apa maksud dari kalimat ini," ujar Shino menunjuk layar, "kornea mata dan sidik jarinya adalah kunci masuk menuju pintu yang menyimpan harta terbesar di dunia."
"Andai saja ayahku masih hidup!" Geram Sasuke, "kenapa dia menyerahkan memory card ini pada Sakura?"
"Dan yang membuatku heran, kenapa Sakura tidak pernah membuka memory card ini," ujar Ino.
"Aku akan membicarakan hal ini dengan kakak, Shino kau jaga Sakura," ucap Sasuke.
"Sepertinya Sakura hari ini akan pergi, tadi aku bertemu dengannya di bawah, dia berpakaian rapi," ucap Ino.
Sasuke terdiam, sebenarnya dia sangat penasaran kemana Sakura akan pergi, tapi masalah ini lebih penting, apalagi saat kejadian tadi malam mereka belum bertemu sama kembali. Akhirnya Sasuke hanya bisa mengandalkan Shino, "Shino, awasi dia."
"Serahkan padaku."
Sakura berdiri di tengah patung di taman, sesekali ia melihat ke arah jam tangannya. Pandangannya sekarang tertuju pada sosok laki-laki tua bersama seorang anak kecil perempuan yang merengek meminta dibelikab es krim. Sakura tersenyum kecil melihat pemandangan itu, selama ini dia tidak pernah menghabiskan waktu bersama ayahnya, Sakura harus memaklumi kesibukan ayahnya yang menyandang status sebagai presiden Jepang. Tapi sesekali, Sakura selalu berharap akan ada waktu dimana mereka menghabiskan waktu berdua senormalnya hubungan ayah dan anak.
"Sakura."
Sakura menoleh pada suara yang memanggilnya, "Sai."
Sai tersenyum pada Sakura dan mendekatinya, Sakura merasa senang karena akhirnya dia bisa mendapat penjelasan dari Sai secara langsung, namun dirinya tidak menyadari bahwa penjelasan Sai... Akan merubah kehidupannya.
Sasuke mempercepat langkahnya yang kini sudah menapak di markas besar Black Dragon, misteri ini... Hal tang membuat dirinya penasaran harus segera diselesaikan. Maka di sinilah Sasuke berada...
"Kak, apa kau tahu mengapa ayah menyerahkan memory card itu pada Sakura?"
Itachi yang sedang bersandar di kursinya terkejut melihat Sasuke yang tiba-tiba datang dengan ekspresi yang sangat serius.
"Ada apa ini?"
Sasuke mendekati sosok Itachi dan mulai menceritakan kejadiannya dari apa yang dia baca tadi sampai rasa penasarannya. Itachi mendengarkannya dengan seksama, memang sangat aneh bila sang ayah memberikan memory card pada Sakura tanpa alasan.
Namum sesaat Itachi teringat akan sesuatu, saat dulu ibunya terbunuh, saat ibunya memaksa Itachi membawa Sasuke pergi...Itachi mengingat sebelum hal itu terjadi sang ibu sempat menceritakan sesuatu pada mereka dengan ekspresi yang penuh dengan kesedihan.
"Sasuke," panggil Itachi dengan posisi seolah sadar akan sesuatu, "apa kau ingat dulu sebelum ibu terbunuh, ibu sempat memberitahu kita sesuatu..."
Sasuke terdiam dan berusaha mengingat apa yang Itachi ucapkan, tidak membutuhkan waktu lama sampai kedua saudara kandung itu mengingat secara bersamaan...
"Dosa yang telah diperbuat tidak akan bisa diampuni oleh apapun." Ucap Sasuke dan Itachi bersamaan.
Itachi dan Sasuke saling tatap, "Dosa apa?" tanya Itachi.
"Dan siapa?" sambung Sasuke.
Kini Sakura berdiri di hadapan Sai dengan wajahnya yang pucat, ekspresinya seolah baru saja melihat hal yang mengerian. Sedangkan Sai menatap Sakura dengan tatapan pilu, perlahan Sai menggenggam tangan Sakura dengan lembut.
"Aku melakukan ini semua demi hari ini, hari dimana aku akan melindungimu seutuhnya... ikutlah denganku, tinggalkan identitas palsumu dan kembalilah pada identitas aslimu."
Sakura menggelengkan kepalanya, "Aku tidak percaya... kau tidak mempunyai bukti Sai bahwa aku bukan anak kandung ayahku!"
"Memory card itu," ujar Sai yang membuat Sakura tertegun, "apa kau tahu, mengapa kami... Pihak Eagle sangat ingin merebut memory card itu darimu?"
Sakura tidak menjawab, Sai meneruskan, "Itu karena kami tidak ingin kau mengetahui hal yang sebenarnya dengan cara yang tidak pantas."
"Jadi menurutmu cara yang pantas adalah cara seperti ini? Tidak! Aku akan menanyakan ini langsung pada ayah!" Ujar Sakura dengan nada emosi.
Sakura berbalik arah menuju rumahnya, Sai mengikutinya karena memang saat ini Sai sudah ditugaskan untuk datang ke istana presiden, dalam waktu yang bersamaan pula... Karin tiba di ruangan presiden dengan koper-kopernya.
"Karin... anakku," ucap sang presiden.
"Tidak usah basa-basi, aku datang kesini hanya karena Sai janji padaku akan selalu berada di sampingku," ucap Karin dengan ketus.
Sang presiden tersenyum lembut pada Karin. Ino yang melihat situasi ini hanya bisa mengutuk dirinya karena tidak bisa berkutik, saat ini dirinya merasa kasihan pada Sakura, karena kalau yang mengucapkan kalimat ketus itu adalah Sakura, sang presiden pasti akan marah besar.
"Mulai saat ini, dialah yang akan mengawalmu," ucap sang presiden sambil menunjuk Ino pada Karin.
Karin melirik Ini dan tersenyum ramah. Ino pun tidak bisa sebal pada Karin karena pada dasarnya wanita berambut merah itu memang ramah, wanita itu hanya ketus pada presiden yang merupakan ayah kandungnya sendiri.
"Ayaaahhh!"
Gebrakan pintu yang Sakura lakukan membuat mereka tersentak dan menatap sosok Sakura dengan tatapan kaget, Ino menghampiri Sakura dan berusaha menenangkan gadis itu.
"Ayah, katakan padaku... Apa benar... Apa benar aku bukan anak kandungmu?"
Karin terkejut saat melihat sosok Sakura dengan wajah yang acak-acakan, juga ekspresi takut mendengar jawaban dari presiden.
Sang presiden menatap datar pada Sakura, "Ya, tapi tenang saja, aku sudah menyiapkan pesta pernikahannu dengan Shikamaru sehingga nanti kau tidak akan merasa kesepian lagi."
Mendengar jawaban dari presiden membuat Karin kesal," Apa-apaan ini? Kau tidak bisa seenaknya mengatur kehidupan dari anak yang sama sekali bukan darag dagingmu sendiri!"
"Itu bayaran terima kasihku karena dia telah menggantikan posisimu sampai hari ini tiba, aku harus menukar kalian agar dirimu terhindar dari bahaya," jawab sang presiden.
Mendengar jawaban itu membuat Sakura sakit hati, sejujurnya Sakura tidak mengharapkan apa-apa dari presiden ini, yang dia inginkan hanyalah kasih sayang seorang ayah pada anak perempuannya. Sakura menoleh pada Karin yang bisa ia tebak bahwa wanita itulah anak kandung presiden.
Saat itu, Sai datang dengan wajahnya yang pilu begitu dia melihat Sakura yang tengah menangis.
"Sai... Kau tidak memberitahu Sakura tentang semuanya?" tanya sang presiden.
Karin merengutkan keningnya dan berjalan ke arah Sai, "Apa maksudnya?"
Sai memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana, " Aku harus membawa Sakura ke Hongkong."
Sakura, Ino dan Karin terbelalak ketika mendengar jawaban Sai, "A-aku tidak mau!" Tolak Sakura.
"Kau tidak bisa menolaknya," ujar sang presiden.
"Disanalah tempatmu berasal," ucap Sai dengan lembut, "kita harus pulang... Sakura."
"Kita...?" kini Ino yang bertanya.
Sai menatap nanar pada Sakura yang kini masih shock dengan kenyataan yang bertubi-tubi menimpanya, air matanya tidak bisa berhenti... Sakura kini merasa semua berubah, sekelilingnya tiba-tiba merasa asing, bahkan ketika ia menoleh pada Ino... Gadis pirang itu terlihat asing di mata Sakura.
"Sakura... kau adalah adikku," jawab Sai penuh dengan kenyataan yang pahit.
Tubuh Sakura menegang, pikirannya makin kusut, dia menggigit bibirnya sendiri hingga berdarah karena menahan jerit yang ingin dia keluarkan. Karena tidak mau lagi mendengar kenytaan yang labih pahit, Sakura berlari meninggalkan mereka di ruang kerja presiden.
"Sakuraaa!" Ino mencoba untuk mengejarnya tapi ucapan dari presiden menghentikan langkahnya.
"Tugasmu melindungi Karin sekarang, Ino."
Ino menatap keji pada Sai. Dulu dia meninggalkan Sakura sesuka hatinya, dan sekarang dia mengatakan bahwa Sakura adalah adiknya. Kalau bukan di ruangan presiden mungkin Ino sudah akan mematahkan leher laki-laki itu.
Sakura yang kini berlari tanpa melihat hadapannya menubruk salah satu pelayan yang sedang melintas, tubuhnya jatuh ke lantai dan membuat pelayan itu berkali-kali minta maaf. Namun saat Sakura melihat sosok pelayan yang memanggilnya 'nona' Sakura merasa sangat asing. Kemudian Sakura sadar, langit-langit di ruangan ini, pajangan, lukisan serta pintu-pintu yang biasa dia buka... kini terlihat sangat asing.
Mengabaikan permintaan maaf dari sang pelayan, Sakura berlari keluar sekuat tenaganya. Tidak peduli bahwa kini langit mulai mendung dan cuaca mulai dingin.
Suasana di ruang presiden mulai menegang sampai sang presiden berucap, "Biarkan saja dulu, perlahan dia harus menerima kenyataan."
"Tapi bukan begini caranya," ucap Karin.
Sasuke melangkahkan kakinya menuju kamar Shino, masih banyak hal yang harus dia selidiki. Saat Sasuke membuka pintu kamar sahabatnya, dirinya terkejut melihat Shino sedang memeluk Ino yang sedang menangis.
"Maaf aku mengganggu," ucap Sasuke segera menutup pintu kembali.
"Sasuke tunggu!" Pinta Ino tiba-tiba, " aku butuh bantuanmu, tolong aku."
"Kenapa harus aku?"
"Karena hanya kau yang bisa mencari Sakura saat ini," jawab Shino.
Jawaban Shino cukup membuat Sasuke bingung, "Maksudmu?"
"Sakura sudah tahu semuanya, bahkan dia sudah bertemu dengan anak kandung presiden tadi... Ditambah... Sai... " Ino yang tidak bisa meneruskan kata-katanya kembali dipeluk oleh Shino.
"Cari dia, apalagi sekarang sedang hujan deras," ucap Shino pelan.
Sasuke langsung berlari keluar, dia tidak peduli kalau langkahnya membuat kegaduhan di istana ini, saat ini Ino hanya bisa berdoa agar Sakura ditemukan dan kembali padanya.
~TBC~
A/N : Hai hai haiii, maaf yaa lama updatenya... kalau untuk chapter ini adalah gabungan dari 2 chapter di notes :D
btw, Karin disini ngga jahat kok :3
nah, aku bingung mau cuap-cuap apa lagi nih #plak
udahan ya? hahahaa
sampai bertemu di chapter berikutnyaa XD~
XoXo
V3Yagami
