**Disclaimer**
Bungou Stray Dogs just by Asagiri Kafuka & Harukawa Sango
WARN : BoysLove, ABO, Lime/Lemon, OOC, Typo (always)
.
.
LOVELECTRY
CHAPTER III
Kali ini tidak perlu berkeliling lagi. Setelah tau rumah Chuuya, Dazai yang merupakan orang yang menghabiskan setengah umurnya di Distrik 8 bisa dengan cermat memilih rute tercepat dan terefektif untuk mencari ide menggoda Chuuya hari ini. Dan bagus! Dia menemukan satu. Sesuatu yang biasa diberikan seorang pria pada kekasihnya. Bunga.
"Aku mau bunga yang memiliki arti positif."
"Arti positif?" seorang pria yang kira-kira lebih muda dari Dazai kembali bertanya untuk memastikan telinganya karena Dazai tidak pakai salam langsung saja memberi pesanan. Tidak salah memang, mengingat Pembeli adalah Raja, tapi lihat lihat kondisi Tuan Rumah yang sedang memandikan anjing kesayangannya dong.
"Yah, dan tolong cepat. Atau, selesaikan dulu memandikan anjingmu, lalu bawa dia pergi jauh, aku yang akan menunggu." Ucapnya merasa iritasi.
"Oh, Anda tidak suka anjing yah?" si penjual tertawa lembut. "Baik baik, tolong masuk saja. Anjing saya yang akan menunggu di luar. Lagipula dia suka dengan bak airnya."
Dazai dengan sigap mengikuti pria itu. Masuk ke dalam toko bunga yang dindingnya dari kaca, anggrek merambat di sela-sela jerjaknya, etalase yang penuh dengan tunas-tunas hijau, dan kolam kecil berhias teratai di sudut ruangan.
"Aku pikir yang ada di dalam cuma bibit saja."
"Yah.. Di rak-rak ini memang bibit semua. Beberapa tanaman lebih efektif dipelihara di dalam ruangan dan vahaya redup. Lagipula, saya tidak punya banyak tempat diluar." Penjual itu memberi senyum lembutnya lagi. "Lalu Anda ingin bunga seperti apa?"
"Yang memiliki arti positif."
"Yah,, arti positif yang seperti apa?"
"Seperti.." kalimatnya terpotong, mencoba berpikir deskripsi yang tepat untuk perasaannya pada Chuuya. Cinta? Bukan. Nafsu? Bukan. Iba atau kasihan? Bukan juga. Kasih sayang? Mungkin iya. "..Kasih sayang." Ia melanjutkan.
"Oh. Ada banyak kasih sayang Tuan. Untuk orang tua, teman, saudara, rekan kerja, kekasih.." pria itu kembali bertanya. Dazai kembali berpikir, mencari makna seorang Nakahara Chuuya di hidupnya. Dia bukan teman, bukan kekasih, hanya seorang kenalan yang ingin Dazai ketahui tentang dirinya lebih banyak. Lalu yang seperti itu disebut apa?
"Aku tidak tau.." ia akhirnya menjawab demikian. Bingung akan dirinya yang padahal sudah banyak meniduri orang, sudah master dalam merayu, tapi tidak tau cara memilih bunga. Aneh.
"Aku baru bertemu dengannya beberapa hari lalu. Tapi rasanya dia sangat menarik." Katanya jujur.
"Kau ingin selalu melihatnya?" pria penjual bunga itu bertanya.
"Selalu. Ingin selalu mendengar suaranya."
"Kau ingin bercerita tentang dirimu padanya?"
"Aku juga ingin dia bercerita tentang diri dan hidupnya padaku. Hal-hal tentang dirinya yang bahkan ia sendiri tidak tau."
Pria itu tersenyum, "Kau ingin memeluknya setiap saat?"
"Dia sangat kuat, namun dibalik itu dia sangat rapuh. Sangat lemah, aku ingin memeluknya seakan kalau tidak kurengkuh dunia akan menghancurkannya. Aku ingin membantunya, menolongnya, memeluknya. Sangat ingin memeluknya. Tidak pernah aku mengenal orang yang sangat ingin kupeluk seperti ini."
"Tuan, Anda tau perasaan kasih sayang apa itu?"
Dazai menggeleng.
Pria itu menyodorkan beberapa tangkai bunga putih dibalut pita merah.
"Aku tau, ini anyelir kan?"
"Yap, Anda benar." Dazai menerima bunga itu sebelum sang penjual menjelaskan, "Anyelir putih, Carnation putih, bermakna sebagai cinta yang tulus, dalam, lembut namun kuat. Bahkan walau Anda baru bertemu beberapa hari lalu, tapi rasa cinta yang seperti itu bergejolak dalam hati Anda. Saya sudah lama menjual bunga, beberapa dari pelanggan yang terkadang tidak bisa mengutarakan isi hati mereka mengutarakannya dengan bunga. Karena saat bunga berbicara, perasaan itu pasti tersampaikan."
"Jadi, bunga ini adalah perasaanku sekarang?" senyum menjawab pertanyaan Dazai.
Putih bersih, kelopaknya indah dan saling tindih, rimbun sampai tak tampak pusat sarinya. Aroma manisnya seperti pria bermata biru itu. Semakin lama Dazai memandang bunga itu, semakin kuat debaran di dada yang rasanya membuat hangat pipi dan pulupuk matanya.
"Tuan?"
"Oh, iya."hingga akhirnya ia terbangun dari pikirannya dan segera merogoh kantong untuk mengambil beberapa lembar uang.
"Ah, tidak usah.. Sebenarnya dari pada berjualan, saya lebih senang disebut pemberi bunga sebagai pengganti surat untuk mengantarkan pesan dari satu hati ke hati yang lain."
Dazai tersenyum lembut. "Terimakasih.." Lalu pria itu membalas senyumnya. "Oh iya.." langkah Dazai terhenti di depan pintu, "Siapa namamu?"
"Atsushi. Nakajima Atsushi."
"Terimakasih Atsushi-kun. Lain kali aku akan datang lagi.."
Dalam dadanya ada sebuah gebu hangat. Ingin segera bertemu dengan sosok mekanik mungil. Wangi Carnation menyapa indra, kembali mengingatkan manis aroma omega itu. Dazai tersenyum membayangkan reaksi macam-macam yang akan ia dapatkan saat memberikan bunga itu pada Nakahara Chuuya.
Hanya tinggal satu tikungan setelah penjual jeruk itu, Dazai akan menemukan toko Nakahara mech. Apa Chuuya akan menangis haru? Atau dia akan memeluk Dazai dengan gembira? Oh, kemungkinan Dazai akan mendapat tinjuan sepertinya lebih besar.
Senyum Dazai melebar. Namun saat toko mekanik itu sudah tertangkap di hazelnya, raut gembira itu hilang. Kandas. Terbelah. Musnah.
Ia dapat melihat Chuuya tersenyum setelah melepas rengkuhan dari pria bersurai coklat brick. Genggaman mengerat, tangkai anyelir patah. Dazai membuangnya ke jalan, seperti pria yang patah hati. Tapi Dazai tidak punya hati, menurutnya ia tidak punya. Lalu yang seperti ini disebut apa untuknya? Kenapa dadanya seperti disiram hingga meleleh dengan lahar panas?
Azure indah Chuuya bertemu dengan kakaonya yang gelap. Seperti dasar dari kopi hitam, pekat. "Dazai!" tapi namanya yang disebut suara itu memunculkan kepul coklat di permukaannya.
Dazai melangkah mendekat, tangannya dimasukkan ke saku, ia tersenyum ramah dengan akting yang super perfect.
"Hai.." sapanya dan dijawab senyum oleh si sinoper, "Pacarmu?"
"Ahaha.. Kau ngomong apa? Aku sudah bilang tidak mungkin ada yang seperti itu.." Chuuya tertawa, "Ini Tachihara, pelanggan setiaku."
Dazai menerima jabat tangan Tachihara saat Chuuya menyebutkan "Ini Dazai, anggap saja stalkerku."
"Ah, malah kupikir Dazai-san pacarnya Chuuya-san."
Chuuya merona, "Mana mungkin. Kalian berdua ini level bodohnya sama yah... Tachihara datang kesini tiap bulan untuk memeriksa peralatan berburunya."
"Ohh..." Tidak peduli dengan penjelasan Chuuya, si brunette hanya memasang senyum ramahnya yang menyiratkan rasa kesal pada pemuda Tachihara.
"Tapi,," suara si pelanggan melanjutkan. "Tapi untuk kali ini aku juga ingin memberi undangan." Ia mengeluarkan sebuah kertas biru penuh ukiran dari tasnya. "Pesta dansa, perayaan ulang tahun sepupuku."
"Untukku?"
"Iya. Kalau Dazai-san mau ikut silahkan saja... Terakhir kali Chuuya-san ke sana tidak berjalan baik yah..."
"Hehh... Sudah jangan bahas masa lalu. Dan kenapa si Dazai ini boleh ikut?" ucap mekanik itu setelah membaca sekilas undangan yang diberikan padanya.
Tachihara menjawab pertanyaan itu pada Dazai yang sedari tadi masih terdiam. "Chuuya-san jarang sekali dekat dengan seseorang. Kalau dia sampai menganggap Anda sebagai stalker, itu sebuah hal yang luar biasa. Sebagai temannya aku terharu." Kemudian tangan Chuuya menepuk kepala pria itu.
"Hentikan. Kau ini ngomong apa..." ia menghela napas sebelum berkata pada brunette di sebelahnya, "Hei, jangan dengar perkataannya."
Dazai kembali melempar senyum.
"Kalau begitu aku pergi dulu Chuuya-san."
"Hati-hati..." dengan lambaian tangan dan senyumnya pada pria brick itu sudah cukup membuat Dazai tahu kalau seorang Tachihara lebih berharga darinya.
"Ngomong-ngomong," Chuuya bersuara seraya berbalik masuk ke toko, "apa yang kau lakukan di sini?"
Dazai menjawab dengan diam, mengikuti Chuuya hingga lonceng berdenting saat pintu tertutup.
"Kenapa tidak menjawab? Kau sakit yah? Lapar?"
"Peduli sekali." sarkas. Dazai bersandar pada tembok dengan matanya yang gelap, suara yang dalam. Pertama kali didengar Chuuya hingga ia hanya berdiri seraya menatap penuh tanda tanya dari balik meja tempatnya biasa bekerja.
"Kau aneh." setelah kata-kata itu Chuuya kembali melanjutkan pekerjaannya. Mengambil lap untuk merapihkan meja tersebut. Kemudian ia melanjutkan, "Aku masih punya hutang pancake padamu. Jadi tunggu sebentar."
"Tidak usah.. Aku sudah makan." bohong, sekali lagi Dazai menjawabnya dengan dingin. Sekali lagi, suara itu berdesir di kulit Chuuya. Ia takut pada Dazai yang seperti ini, pada dirinya yang tidak tau kenapa Dazai seperti ini.
Mata birunya hanya melihat sosok jangkung itu. Dazai yang melihat jauh keluar kaca jendela, menghindari kontak mata dengan Chuuya, atau memang tidak ingin melihat Chuuya.
Chuuya melangkahkan kakinya mendekati pria itu. "Kau kenapa sih? Kalau kau tidak ada kepentingan pulang saja sana."
Chuuya menepuk bahu Dazai hingga pria itu menoleh. Melihat mata coklat yang gelap itu, membuat kaki Chuuya melangkah mundur. Kaget, walau baru bertemu beberapa kali tapi tatapan dingin yang membekukan itu tidak pernah terlintas di kepala Chuuya.
Beberapa saat Chuuya terdiam. Melihat raut datar Dazai yang polos namun penuh amarah di dasar manik kopi hitam itu. "Hei, aku minta maaf kalau aku bersalah padamu. Kau menakutiku, kau tau?"
"Bersalah? Bersalah apa?" Dazai mendekat pada pria mungil itu. Membuatnya terpaksa mundur hingga menabrak etalase di belakangnya.
"Itu.." Chuuya kehabisan kata saat tubuhnya terhimpit antara Dazai dan etalase. Dia menundukkan kepala, tidak ingin bertatap dengan sepasang kakao gelap. Satu tangannya ia gunakan untuk membuat jarak antara Dazai dan dirinya, sementara satu tangan lagi digunakan untuk menyanggah tubuhnya di etalase.
"Kau juga aneh. Seharusnya kau bisa menghajarku dengan gerakan kilatmu itu kan? Lalu kenapa kau diam saja?"
Ah benar. Chuuya bisa lepas dari belenggu itu dengan bela dirinya, tapi ia tidak ingin melakukan itu. Kenapa?
"Aku tidak mau menggunakannya." karena ada sebuah benih dalam hatinya yang tidak ingin menyakiti Dazai, tidak ingin membenci Dazai, tidak ingin kehilangan Dazai Osamu. "Aku tidak mau menggunakan itu padamu."
"Kenapa?" Dazai memaksa wajah itu untuk melihatnya walaupun mata Chuuya terpejam, masih menghindar. "Tidak tau heh?"
Chuuya tau, hanya dia tidak ingin mengatakannya. Tapi Dazai berbeda dari kemarin, tatapan itu akan menggali ke tiap kata-kata dan perilaku Chuuya. Dipastikan akan menjadi hal buruk jika ia merasakan sebuah kebohongan. Karena itu Chuuya terpaksa menjawab, dengan jujur.
"A-aku..." ia mulai bersuara, dibukanya kelopak mata hingga tampak azure indah walau masih beralih dari Dazai. Suaranya bergetar, bukan takut, tampak dari pipinya yang mulai merona. "Umm.. Aku, menurutku, kau akan berhenti tanpa aku harus memaksa." Chuuya menahan malu saat ia mengatakan hal selanjutnya dengan meremas kemeja biru Dazai. "Setelah yang kau lakukan, walau hanya sebentar, aku tau kau bukan orang jahat."
Sadar akan kejujurannya yang memalukan, Chuuya menambah alibinya, "Lagi pula aku masih punya hutang pancake dan lemon tea padamu. Aku beri tau yah, aku ini orang yang tidak lupa membayar hutang.."
Sejenak hening mengisi waktu mereka sampai akhirnya Dazai mendengus memancing mata sapphire itu melihatnya. Tersenyum, semua raut menakutkan tadi seketika hilang berganti dengan mata teduh dan semburat merah muda tipis. Dazai melangkah mundur, melepaskan Chuuya yang masih terpaku bingung. "Chuuya kau aneh sekali.."
"Heh?"
Gelaknya berhenti kemudian ia beralih menatap pria mungil di depannya, "Maaf, aku menakutimu?"
"H-hah?" wajah Chuuya bertambah bloon namun sedetik kemudian ia menaikkan alisnya, marah. "Kau sialan! Itu tidak lucu!"
"Memang tidak lucu. Yang lucu itu Chuuya.."
"Hah?"
"Berhenti mengatakan 'hah', nanti kucium loh.." Chuuya kembali merona lalu Dazai melanjutkan, "Aku tidak pernah bertemu orang sepertimu. Orang yang bisa membuatku bingung sekaligus rindu lebih dari mati. Chuuya menyeramkan sekali yah.."
Tiap katanya membuat rona itu bertambah terang, ditambah tangan Dazai yang membelai pipinya lembut. Chuuya tidak tau sejak kapan dia merasa nyaman dengan sentuhan pria itu.
"Kau wangi.." Dazai menyesap aroma yang menguar dari helai helai jingga.
"Dazai.."
"Hm?"
"Jangan lakukan itu. Aku ini seorang omega dan kau adalah alpha, kau tidak lupa itu kan?"
Dazai menarik dirinya, "Kau sedang heat yah?"
"Tidak sih.."
"Tapi kau wangi sekali loh Chuuya.."
"Hidungmu saja yang seperti anjing. Jangan dekat-dekat denganku." kali ini Chuuya berhasil lepas dari Dazai. Ia langsung pergi untuk mencari jarak aman dari nafsu seorang alpha, sekaligus berusaha menetralkan degup jantung yang sedari tadi semakin terpacu saat Dazai mendekatinya.
"Oh, aku tidak boleh lalu Tachihara-kun boleh?" si brunette menyindir.
"Apa maksudmu?"
Napas dihela, sebuah maklum atas kebodohan seorang Nakahara Chuuya, "Tidak." jawabnya singkat. "Ngomong-ngomong, kapan pesta itu?"
Mata Chuuya masih menyelidik, tapi karena Dazai dengan sengaja mengalihkan topik, ia tidak ingin menuntut jawaban pertanyaannya. Bagaimanapun firasatnya berkata Dazai sangat berbeda hari ini. Akhirnya ia mengambil undangan yang tadi diletakkan di atas meja kerja, "Minggu depan, di Distrik 4."
"Oh.. Distrik di tengah tengah lembah. Yah sudah, nanti aku ikut yah.."
"Apa? Buat apa?"
"Dia juga mengundangku kan? Lagipula tempat itu cocok untuk liburan." Dazai tau itu alasan yang lebih logis dan lebih bisa dimengerti mekanik bodoh itu. Setidaknya Dazai tidak perlu mengatakan kebenaran kalau dia tidak ingin membiarkan Chuuya berdua dengan pria Tachihara atau orang lain. Hal itu sangat tidak boleh terjadi, jadi Dazai harus ikut.
"Terserah kau sajalah. Yang penting, aku tidak mau bayar ongkos, makan, dan tidurmu."
"Oh, kalau itu tenang saja.. Kita naik kereta kan?"
"Kita?" Chuuya mengoreksi, "Tapi yah memang, kalau ke Distrik 4 lebih cepat naik kereta."
"Yah sudah.. Nanti aku beli tiketnya, Chuuya tidak usah beli lagi."
"Hah?"
Sebuah kecupan mendarat di pipi Chuuya, memancing rona itu kembali muncul. "A-apaa?"
"Sudah kubilang kalau kau berkata 'hah' lagi akan kucium kan?"
Chuuya memasang wajah bloonnya lagi sebelum kemudian melempar kunci terdekat pada Dazai. "Kau sialan!" Tentu saja si brunette menghindar dengan mudah ditambah senyum kemenangan di bibirnya.
"Yang pasti, nanti aku beri tiketnya pada Chuuya."
"Kau tau aku tidak suka berhutang, Dazai."
Dazai kembali menghela napas. Di dalam batinnya ia tersenyum penuh paksaan karena omega yang punya ego sangat tinggi. "Ini bukan hutang, Chuuya-kunn..."
"Tapi kau memberikanku terlalu banyak."
"Itu layak diberikan untukmu."
"Aku?"
"Chuuya itu istimewa, jadi layak diberikan banyak.."
Harapannya untuk melihat rona merah itu pupus karena yang ia dapat adalah raut sendu.
"Hei, kenapa?"
Bisu menjawab. Chuuya beralih pada sebuah oven rusak. Dalam hatinya ia senang, namun senang itu membalut sebuah rasa sedih. Sedih yang membuat raut yang tidak ingin dilihat Dazai.
"Ngomong-ngomong," Chuuya mengalihkan pembicaraan dengan mata yang fokus pada oven tersebut, "kau mau apa ke sini?"
Beberapa saat Dazai diam. Ingin tau sebab ekspresi itu, namun ia tidak ingin menggali hal menyedihkan dari Chuuya. Karena itu ia menjawab, "Aku rinduu~~" dengan nada ceria yang biasa.
"Kurasa kau pernah terbentur tapal kuda, otakmu sangat tidak beres." Chuuya menyindir sarkas namun Dazai membalasnya dengan senyum. Itu Chuuya-nya yang biasa.
"Hehe... Aku bosan di kantor, jadi ke sini. Tempatmu ini unik sih.. Sangat rapih dan artistik sampai seorang tamu kehormatan sepertiku tidak bisa duduk." ia balas menyindir dengan ironi.
"Oh memang. Tempat ini tidak diciptakan untuk tamu kehormatan sepertimu yang cuma datang, bicara omong kosong tanpa beli apa-apa. Jadi silahkan kau pulang saja.." lambaian tangan pengusiran mengakhiri sarkasme Chuuya yang kesekian.
"Tidak mau yahh..." Dazai menggembungkan pipinya.
"Apa-apaan wajahmu itu? Menjijikkan haha.." tawa yang lepas dibalas senyum oleh si brunette.. "Disitu kamarku, kalau kau mau bersantai. Aku mau bekerja, jangan ganggu aku oke."
"Untuk apa aku masuk ke kamarmu tanpa dirimu? Lebih baik aku mengganggumu saja.."
"Kau makhluk ter-sialan yang pernah kutemui." perempatan kesal muncul di dahi Chuuya.
"Kalau begitu aku berkesan dong.."
"Terserah kau sajalah.." Chuuya mengalah dalam adu mulutnya. Namun ia tersenyum lebar di akhir, menampakkan sedikit deretan gigi putih rapih yang ingin Dazai asah dengan lidahnya—
Jika saja tidak ada getaran di balik coat coklatnya, mungkin kepala nistah Dazai sudah menjelajah tubuh Chuuya secara illegal.
"Cih, panggilan kantor." decihnya kesal saat melihat nama 'Sok-perfect-Kunikida' di layar ponselnya.
"Siapa?" Chuuya bertanya, sebenarnya tidak terlalu tertarik tapi demi menyenangkan Dazai tak apalah. Tunggu, kenapa dia ingin menyenangkan Dazai?
"Kunikida-kun, teman sekantorku."
"Oh, yang marah-marah padamu saat aku meledakkan rumah itu?"
"Iya, dia. Bagaimana ini Chuuya? Aku malas pergi ke kantor."
"Bukan urusanku.. Pokoknya aku tidak mau terlibat kalau Kunikida itu marah-marah lagi.." Chuuya menjawab culas, dan Dazai hanya memajukan bibirnya imut.
"Kalau aku datang pasti dimarahi karena bolos semalam, laporanku belum selesai, dan aku tidak menjawab panggilan Kunikida 40 kali."
Chuuya memasang wajah terkejut, hanya sepersekian detik. Setelah itu ia kembali tenang dan berkata, "Daripada dia datang ke sini dan mengacak-acak tokoku,," dengan penuh semangat ia menarik Dazai ke ambang pintu, lalu membuangnya keluar dengan penuh kasih sayang. "Lebih baik kau ke kantor dan selesaikan semua pekerjaanmu, Dazai sialan."
"Heh, Chuuya jangan kejam!" Begitu Dazai ingin kembali masuk, Chuuya sudah menutup pintu. Menguncinya dan membalik papan Open menjadi Close. Berjalan masuk ke kamarnya, mengabaikan Dazai yang membatu diiringi ribut teriakan para pedagang dan penjudi di sekitarnya.
Dengan berat hati, dia pun pulang ke tempat Kunikida-kun akan menyambutnya dengan ceramah sepanjang perjalanan keliling dunia, bahkan sempat pulang pergi ke bulan.
-O-O-O-O-
Sesaat setelah Dazai memeluk pria itu, dia sudah terguling ke tanah karena sebuah gerakan entah apa namanya.
"Dazai?" pelaku gerakan gulat itu bertanya dengan polosnya.
Dazai bangkit, mencoba berdiri dengan tulang yang terasa remuk, "Chuuya kau jahat sekali.."
"Kenapa aku?! Aku kan tidak salah menghajar orang asing yang tiba-tiba memelukku di tempat pembuangan sampah!"
"Oh, aku orang asing begitu?"
"Mana aku tau kalau itu kau bodoh!" Chuuya masih membela dirinya, "Dan apa-apaan pula kau tiba-tiba memelukku, kan aku jadi salah paham."
"Sudah empat hari tidak bertemu, wajarkan aku rindu?"
Rona merah muncul di pipi Chuuya, "Kenapa pula kau rindu? Lagi pula baru empat hari lalu kau ke sini. Dasar otak udang!" cibirnya setelah membalik tubuh, mengambil keranjang sampah yang tadi ia letakkan, lalu berjalan ke arah rumahnya tanpa memerdulikan Dazai yang berusaha bangkit dengan susah payah.
Dazai -setelah jerih payahnya- ikut melangkahkan kaki di belakang si mungil lalu memulai sesi curhatnya, "Kunikida-kun kejam sekali. Dia membuatku bekerja keras seperti kuda.."
"Hah?" alisnya naik, "Itu wajar karena kau membiarkan pekerjaanmu sebelumnya terbengkalai.. Aku akan bilang 'Nice job' pada Kunikida itu."
"Chuuya kenapa membela dia sih? Bela aku dongg..." Dazai merengek manja yang langsung di amit-amit kan oleh Chuuya.
Begitulah jenis percakapan yang mereka lakukan selama perjalanan ke toko Nakahara mech. Penuh dengan omong kosong dan hiperbola Dazai yang hanya dijawab singkat tak berarti oleh Chuuya.
Bel pintu berdenting saat Dazai membuka pintu. Sialan sekali, seperti rumahnya saja. Chuuya pergi ke belakang, mencuci tangannya yang tadi memegang sampah sementara si brunette, tentu mengikutinya.
Saat keran dihidupkan dan Chuuya membasuh tangan dengan sabun, sebuah lengan kukuh melingkar di pinggangnya. "Da-Dazai?!" pipinya menyala merasakan napas hangat pria itu berhembus di pucuk rambutnya. Hangat tubuh Dazai membalut tubuh Chuuya yang basah karena keringat setelah bersih-bersih.
"Aku rindu aroma Chuuya~" Dazai menggoda dengan suara rendahnya, membuat seluruh darah Chuuya naik ke kepala, membakar wajahnya dengan rona merah.
Tangannya yang masih bersabun menjadi penghalang untuk mendorong pria itu, karena bagaimanapun, Chuuya bukan orang yang sekurang ajar Dazai. Jadi dia hanya diam, tidak bisa bergerak. Sampai akhirnya Dazai yang menggenggam kedua tangan Chuuya yang masih bersabun. Membawanya pada keran air, dan membasuhnya. Modus karena ingin meremas jari jemari Chuuya.
"Uhh..." Napas yang ia hembuskan berat hingga diikuti suara lenguh yang tidak seharusnya keluar. "A-aku bisa sendiri." ucapnya kemudian.
"Hmmm..." diabaikan oleh Dazai. Pria perbanan itu lebih memilih meletakkan dagu di kepala Chuuya dan lanjut memainkan tangan si mekanik di air yang mengalir dari keran.
"He-hei.. Sudah." Chuuya yang tadi hanya pasrah tangannya dimanja oleh Dazai kini mulai melepas diri karena merasakan tubuh Dazai yang semakin rapat dengannya. Ia menarik tangannya yang sudah dicuci bersih oleh tangan Dazai, mencoba dan berhasil pergi dari pria itu.
Dazai masih berdiri menghadap westafel yang tidak ada lagi Chuuya di depannya. Pria mungil itu sudah pergi beberapa waktu lalu dengan telinga yang memerah. Mengingat itu, ia mengembangkan senyum kemenangan.
Saat Dazai tiba di ruang tengah, tempat Chuuya biasa bekerja, dilihatnya pintu kamar pria itu sedikit terbuka. Penasaran, ia melangkah kesana. Mengintip, yang ia dapat adalah punggung Chuuya yang terekspos saat ia melepas kausnya. Mungil, putih, tanpa noda, tapi tunggu. Tidak terlalu jelas dan hanya tampak ujungnya saja, Dazai melihat sedikit tato di pinggangnya. Oh, Chuuya itu seliar apa sih?
Bejad, Dazai bahkan tidak berpikir kalau yang ia lakukan adalah mengintip! Mengintip seseorang berganti pakaian. Ya ampun.. Bahkan saat Chuuya membuka lemari, mengambil sebuah kaus, dan mengenakannya, Dazai menikmati dengan sangat baik. Dalam hati ia memohon pada dunia untuk membuat Nakahara Chuuya juga melepas celananya, namun permohonan itu tidak terjadi. Terimakasih alam yang masih menjaga kesucian Chuuya.
Saat Chuuya selesai dengan pakaiannya, Dazai mengetuk pintu, "Chuuya kau sedang apa? Aku masuk yah?" dengan kebohongan yang sempurna, dan diizinkan oleh Chuuya yang tidak tahu kalau telah menjadi korban pelecehan.
Kali ini Dazai masuk, ia cukup takjub dengan ruang kecil itu. Tempat tidur single yang digabung dengan lemari dan sebuah tingkat di atasnya, rak buku kecil di sebelah lemari pendingin. Bergabung dengan bagian dapur, walau hanya kompor, lemari pendingin, dan rak piring kecil, lalu mesin cuci kecil, di sebelah kamar mandi yang juga kecil. Karpet maroon, satu satunya benda yang punya ukuran besar di ruangan itu terbentang di tengah. Semua tertata rapih dan apik, menunjukkan bahwa Chuuya benar benar orang yang hidup sendiri.
"Maaf tempatku kecil. Aku lebih banyak menghabiskan waktu di toko." ucapnya mengambil beberapa telur dari lemari pendinginnya. "Duduklah. Kau sudah makan? Aku tidak punya bahan untuk buat pancake, omelete mau?"
Dazai duduk di tempat tidur. Seprainya biru muda sederhana, tidak empuk namun nyaman. Membayangkan setiap malam Chuuya tidur disini cukup membuat tempat kecil itu sempurna. "Kalau kau mau membuatkannya." ia tersenyum menjawab.
"Aku tidak pernah memasak untuk orang lain. Jadi maaf kalau nanti rasanya aneh." kata Chuuya masih fokus pada masakannya.
"Tidak apa." mata Dazai terus terpaku pada punggung kecil itu. Tangannya lihai memainkan alat dapur, sesekali memandang ke luar jendela di depannya. Melihat Chuuya dari sisi belakang ternyata sangat menyenangkan.
"Bisa tolong kau pasangkan mejanya?" Dazai sadar dari terpesonanya, "ada di bawah tempat tidur." Tangan Chuuya menunjuk ke tempat yang ia sebut dan Dazai mengikutinya. Dia bangkit sebelum berjongkok untuk mengambil sebuah meja lipat yang disimpan di bawah tempat tidur Chuuya.
"Mau ditaruh dimana?" tanyanya.
"Di atas karpet."
"Seperti ini?" Dazai membuka meja lipat segi empat itu. Meletakkannya di tengah tengah karpet dan mendapat "Yap benar." dari Chuuya. Kemudian ia duduk di salah satu sisinya sementara Chuuya mematikan kompor.
Beberapa saat kemudian dua buah piring berisi omelete dihidangkan Chuuya. Asapnya masih mengepul, membawa aroma sedap yang memancing liur Dazai. "Apa-apaan wajahmu itu?" Chuuya tergelak. Bagaimana tidak, Dazai membuka matanya hingga membulat lucu. Tangan yang memegang garpu diangkat, siap menyantap sajian di hadapannya.
"Aku makan."
"Hati-hati masih panas."
Dazai mengambil sedikit masakan itu lalu menghembusnya untuk menghilangkan panas. Setelah cukup, ia melahapnya. 'Ya Tuhan, makanan apa ini? Enak sekali..' dalam batinnya ia menangis haru.
"Aku tidak pernah makan dengan orang lain, jadi sedikit gugup tentang rasa masakanku." Chuuya menatap omeletenya dengan senyum tipis dan tatapan sendu.
Raut itu memanggil Dazai dari euforia masakan Chuuya. Membayangkan setiap hari selama hidup ia makan sendiri disini, pagi siang malam, tidak berteman dan berbicara. Rasanya Dazai tau bagaimana kesepian yang sesungguhnya dari bayangan itu. Walau Dazai hidup sendiri, tapi sesekali teman kantornya akan mengajak makan bersama. Dia masih berteman, beda dengan Chuuya yang terkurung dalam ruang kesendirian.
"Kau kenapa menangis? Memang tidak enak yah?"
Dazai tertegun. Menangis? Siapa? Ia memeriksa matanya, dan benar saja ada tetes air mengalir disana. "Ah, tidak.." tangannya mengusap air mata itu, lalu ia tersenyum, senyum tulus yang selalu diinginkan Chuuya untuk memuji masakannya, "Ini sangat enak."
Sepanjang siang, bahkan sepanjang sore, Dazai benar-benar menjadi pengamat seni. Bagaimana tidak? Yang dilakukannya hanya duduk di kursi putar Chuuya dan melihat mekanik itu terpaksa berdiri memerbaiki sebuah radio dan lampu tidur pesanan pelanggannya.
Awalnya Chuuya mengamuk hebat, mengusir dan mencoba menendang pria itu agar lengser dari bangkunya. Namun mengingat kalau itu hanya buang-buang waktu dan tenaga, ia berhenti dan mulai mencoba mengabaikan Dazai.
"Hey Chuuya," dengan tangannya yang menopang kepala, mata yang masih menatap mekanik itu, Dazai memanggil namanya.
"Hm?" fokus Chuuya sepenuhnya milik lampu rusak sekarang.
"Kau selalu sesibuk ini? Temani aku dong. Bosan.."
"Tidak juga." Chuuya membuka kacamatanya, "Di SideD8 mekanik diperlukan karena banyak orang menggunakan barang bekas sebagai perabot. Jadi benda-benda itu rawan rusak, dan para mekanik bermunculan, karena itu juga bayarannya murah."
"Hehh.. Aku pikir kau hanya suka mengutak-atik barang.."
Senyum tertantang muncul di wajah Chuuya, "Maaf saja aku bukan pegawai pemalas sepertimu." kemudian ia memasang kacamatanya lagi. Kembali berkutat dengan kabel-kabel lampu.
"Ngomong-ngomong, kau sebenarnya ngapain sih kesini? Sekali lagi kau datang kalau cuma mau duduk di kursiku, dengan senang hati kutendang kau keluar."
Dazai mendengungkan suaranya, "Aku rindu.."
"Omong kosongmu itu benar-benar rendahan yah."
Tawa membalas ucapan Chuuya. Setelah hening sejenak, suara kursi berderak. Memancing mekanik itu menghentikan pekerjaannya dan beralih memandang Dazai yang melangkah mendekat.
"Kita berangkat besok yah.."
Pemuda Nakahara itu memasang wajah bloon favorit Dazai, "Berangkat..." gumamnya.
"Kau tidak lupa pestanya kan Chuuya?"
"Aaah!" ia berteriak ingat, "Besok? Cepat sekali."
"Di tiketnya begitu.." Dazai menaikkan bahunya.
"Mana tiketnya?"
"Tidak kubawa, besok sekitar pukul 9, Chuuya tunggu saja di depan gerbang Taman Palm. Itu saja sih... Sudah sore, waktunya aku pulang."
Chuuya melangkah mengikuti Dazai yang beranjak ke pintu, matanya menatap penuh selidik. "Firasatku mengatakan kau merencanakan sesuatu. Benar tidak?"
Langkah Dazai berhenti tepat di tangga pertama luar pintu. Melihat Chuuya yang menyanggah daun pintu itu dengan wajah lucunya yang berpikir namun tidak mendapat apa-apa. "Kenapa kau berpikir begitu?"
"Yahh,,," benarkan. Dia tidak dapat apa-apa.
Dazai mendengus geli. Tangannya bergerak membelai pipi si mekanik. Menatap manik biru itu, merapihkan sinoper lembut yang tersangkut di daun telinganya yang memerah.
"Chuuya ikuti saja, oke?" ucapnya dengan senyum sebelum beranjak dari toko Nakahara mech. "Ah,, aku akan sangat senang kalau Chuuya memasakkan sesuatu~"
Kalimatnya sengaja mendayu, dikuatkan agar pria yang namanya disebut bisa mendengar.
Disinari sinar senja yang menimpa keringnya SideD8, Chuuya hanya bisa terpaku di ambang pintu rumahnya. Menatap punggung Dazai Osamu yang perlahan menjauh. Hingga akhirnya ia menutup pintu itu dan menguncinya, dilanjut membalik papan tulisan dari Open menjadi Close.
TO BE CONTINUED
Maaf atas kelamaan posting.. Anggap saja orang sibuk. :'v
Seharusnya chapter 3 tidak seperti ini, tapi karena lagi mood jadilah 4k words yang -menurut saya- fluff
Cerita ini masih panjang kok.. Sangat panjang malah.. Jadi, setialah menunggu sekaligus latihan sabar yah..
Maaf sekali lagi kalau plot/kalimat/kata/huruf banyak yang khilaf. Untuk chapter ini saya males ngecek ulang sih.. *ditampar.
Yah, sudahlah.. Sampai jumpa di chapter selanjutnya, atau di karya saya yang lainnya.
See You~
Cylva
