Ritual sore Eren Jaeger adalah mengurung diri di dalam studio seperti pertapa. Levi memantau pergerakan sosok yang menjadi tanggung jawabnya kini lewat layar sentuh smartphone-nya yang berukuran kurang lebih lima inchi. Gadget hitam itu menampilkan tampilan jernih dari kamera yang diletakan Levi di dalam studio—teritori yang menurut Carla Jeager terlarang untuk dimasuki bahkan oleh Levi sekalipun.
Levi menekuk satu lututnya dan menyandarkan tangannya yang tengah menopang smartphone sementara satu tangan lagi melepaskan rokok menthol yang terkulum di bibir. Karbon monoksida dihembuskan dalam bentuk asap dengan bau yang khas. Cangkir kopi yang diletakan di atas lantai, persis di sebelah tempat Levi duduk sudah separuh habis isinya.
Menunggu itu sangat membosankan, tapi setidaknya untuk Levi, memerhatikan Eren Jeager tidak buruk juga. Mungkin karena remaja yang ada dalam pengawasannya ini sendiri adalah seniman. Levi memerhatikan perubahan ekspresinya ketika anak itu tengah berkutat di depan laptop. Levi jadi menebak-nebak sendiri apa yang tengah ia tulis dengan sedemikian seriusnya. Senyum tipis ketika di bagian yang manis, sendu ketika tengah memosisikan diri dalam kisah sebagai tokoh tertentu, dan mungkin yang lain. Wajah anak ini benar-benar tidak membosankan.
Dan andai Levi bukan berstatus penjaga Eren Jeager dan jika saja pria berambut hitam arang ini menemukan anak itu mungkin di pub atau di manapun selain karena koneksi Erwin selaku pemberi kerja, Levi sungguh tidak keberatan mengajaknya bermain-main sedikit. Dengan wajah manis dan tubuh yang mengundang baik wanita maupun pria melirik, Levi tidak akan munafik berkata ia tidak tergoda. Salahkan postur model yang dimiliki bocah itu sangat sesuai dengan selera Levi.
Layar Levi menampakan Eren yang sudah menutup laptopnya. Mungkin anak itu lapar. Sudah hampir jam makan malam, Levi menerka seraya memerhatikan jam yang melingkari pergelangan tangan kirinya.
Pintu berderit terbuka dan Levi bangkit berdiri. Tak lupa memasukan ponsel ke saku celana dan berganti membawa asbak keramik dan cangkir kopi di dua tangan. Eren yang refleks menatap ke samping, ke tempat semula yang diduduki Levi, menaikan satu alisnya.
"Dari tadi kau membuntuti aku?" tuduh Eren dengan mata menyipit tak suka.
"Mengawasi..." Levi meralat. "Bukan membuntuti. Catat fakta bahwa ada perbedaan antara dua hal tersebut di otak kecilmu, bocah..."
Eren mendengus sebal. Keras kepala. Apa maunya? Padahal akan jauh lebih baik apabila dia menuruti saran Levi untuk bersikap kooperatif. Levi jadi tidak mengerti mengapa anak ini tampak sangat ingin memberi garis batas antara Levi dan dirinya sendiri di saat anak itu sangat membutuhkan perlindungan Levi.
Bicara tentang perlindungan, Levi belum bicara banyak pada Carla Jeager maupun pada Erwin mengenai alasan mengapa Eren membutuhkan perlindungan ekstra. Dan dengan tolak ukur yang standar, diincar karena menjadi pewaris harta Grisha Jeager, rasanya tidak mungkin oknum yang menjadikan Eren target bias sangat nekat membuntuti sampai ke kapal saat pemakaman. Jika iya, maka motifnya terlalu sederhana.
Sebenarnya apa alasannya?
.
.
PROTECTION
Disclaimer: Shingeki no Kyojin by Hajime Isayama.
This is only a fan works. Non-profitable one.
—2—
The Intruder
.
.
Sebagai bodyguard terhormat—dilihat dari sudut pandang Carla yang menaruh respek besar padanya semenjak insiden kapal—Levi diberi tempat duduk di sisi kanan Carla sementara Eren duduk di hadapannya di sisi kiri sang ibu. Carla yang secara otomatis menempati posisi kepala keluarga, mendapat tempat duduk di posisi yang semula ditempati Grisha Jeager; ujung dari meja makan berbentuk persegi panjang.
Taplak putih halus dibentangkan mengalasi meja dan di atasnya tertata rapi alat makan porselen yang mengkilap. Vas bunga berisi bungan mawar merah muda mempercantik penataan ruang makan sekaligus memberi aroma samar tersendiri.
Levi makan dengan sangat santun. Baginya aturan makan yang seperti ini biasa. Cara Levi bersikap yang menunjukan kelas tersendiri membuat Carla bertambah respek pada pria tersebut. Acara makan malam yang semula Levi kira akan ia lalui hanya sambil mendengarkan percakapan antara ibu dan anak ternyata bisa diisi dengan percakapannya dengan Carla. Sebaliknya Eren banyak diam. Mengunyah makanan pun seperti tidak berselera.
"Kau bekerja hampir sepuluh tahun di Recon?" tanya Carla takjub. Dia tidak menyangka mengenai usia Levi yang nyaris menginjak tiga puluh tiga. Paras Levi sangat muda dan tampan menurutnya.
"Begitulah, Ma'am..." jawab Levi kasual.
"Sebelumnya pernah bekerja di mana?" tanya Carla. Pertanyaan tersebut ditanyakan dengan sangat santai. Sebagai istri dari figur masyarakat sepenting Grisha Jeager, wajar bagi Carla mengetahui bahwa Recon merupakan institusi bisnis yang merupakan perpanjangan akses dari 'dunia belakang' tempat para kriminal berjaya. Sebelumnya pun dia pernah berdiskusi mengenai kapabilitas Levi bersama Erwin dan sepenuhnya paham bahwa Levi—di luar reputasinya sebagai The Silent Beast yang berdarah dingin—sebenarnya hanya korban dari ketidakmampuan berpikir jernih sesaat, seseorang yang melahirkan dosa akibat dendam. Karena alasan demikianlah, kurang lebih Carla dapat memahami mengapa Levi bisa sangat tenang saat ini dalam proses penebusan masa kurungannya.
"Garrison..." jawab Levi tanpa merasa perlu menyembunyikan fakta bahwa sebelumnya dia adalah sosok yang pernah berada dalam badan penyelidikan nasional yang hanya memperkerjakan detektif-detektif ternama dan kompeten.
Mata Carla bersinar takjub. "Aku tidak heran kini kamu bisa demikian kompeten sebagai bodyguard... Aku tidak menyesal memintamu menjaga Eren..."
Suara pisau dan garpu beradu dengan piring terdengar. Eren bangkit dari kursinya dan menyeka bibirnya dengan serbet putih cepat-cepat.
"Aku sudah selesai..." ujar Eren. Pemuda berambut coklat itu bergegas.
Carla tanpa sadar meninggikan suaranya, "Eren!"
Levi memerhatikan bahwa Eren hanya menyentuh sedikit dari makanan yang disajikan di hadapannya. Potongan fillet ayam berlapis saus kaya rasa itu hanya habis seperempatnya dan bahkan Eren tidak menyentuh saladnya sama sekali.
Levi yang kebetulan terbiasa makan dengan tenang namun lebih cepat dari orang biasa bangun dengan anggun dan meletakan serbetnya di sisi piring dengan rapi. "Aku juga sudah selesai..."
"Ah, Levi... Kau bisa menyelsaikan makananmu dulu..." ujar Carla tidak enak hati.
"Tidak apa. Aku akan mengawasi Eren..." ujar Levi lagi. "Terima kasih jamuannya..."
.
.
Eren baru saja membenamkan wajahnya ke bantal putih yang empuk dan wangi pelembut kain ketika pintu kamarnya terbuka. Eren menatap ke balik pundaknya dengan mata terbelalak. Dia yakin dia sudah mengunci pintu. Levi yang seolah mengerti kekagetannya, memamerkan deretan kunci yang melingkari jarinya. Eren mengerang.
Yang benar saja. Bahkan kini Levi bebas keluar masuk kamarnya.
"Ibumu yang memberikan aku kopian kuncinya. Jangan protes..." ujar Levi santai. Dengan langkah santai, Levi memasuki kamar Eren dan menutup pintu di belakang punggungnya.
Jantung Eren berdegup kencang ketika Levi mendadak mendekat ranjangnya. Otaknya secara otomatis memutar adegan sebelum ini ketika Levi mengintimidasinya dengan menahannya di atas tempat tidur. Levi menaikan satu lututnya ke ranjang yang lekas berderit pelan. Satu tangan berada dekat tubuh Eren, menopang bobot tubuhnya.
Tangan Levi yang lain menahan kepala Eren yang kini menatapnya dengan paras campuran wajah memerah dan ekspresi horor. Jantung Eren seolah akan melompat keluar dari rongganya. Levi mendekatkan wajahnya.
Eren memejamkan mata ketika dirasakannya keningnya dan kening Levi bersentuhan. Terdengar decakan kesal.
"Kau demam, bocah bodoh... pasti gara-gara berenang di laut waktu itu..."
Eren mengerjapkan matanya beberapa kali ketika kembali terdengar bunyi pegas ranjang berderit. Levi rupanya hanya mengukur suhu tubuhnya. Sialan. Eren tidak pernah bereaksi seperti ini pada pria lain selain Jean sebelum ini. Ini pasti karena Levi sudah merebut ciuman pertamanya. Eren mengutuki pria tersebut dalam hati.
Walaupun diklaim sebagai pernafasan buatan, untuk Eren, rasanya tidak sah kalau kontak bibir intimnya yang pertama bukan dengan orang yang benar-benar ia sukai.
Eren memerhatikan Levi yang bergerak menuju telepon wireless paralel rumahnya dan menekan nomor menuju ruang pelayan. Begitu Levi mendengar suara seorang pelayan wanita menyahut, tanpa basa-basi pria itu langsung berkata, "Parasetamol dan air mineral bersuhu ruang untuk Eren..."
Eren mempelajari satu hal. Cara bicara Levi sangat to the point.
Usai menelpon pelayan, Levi berjalan ke arah pintu kamar Eren yang berhubungan dengan ruangan pakaian. Eren mendengar suara pintu dan laci lemari dibuka tak sabaran satu persatu sampai Levi kembali dengan satu set piyama berwarna biru.
"Ganti bajumu yang basah karena keringat dingin itu. Menjijikan..."
Levi melemparkan pakaian itu ke hadapan Eren. Eren dengan bodoh, dan kepala sedikit pusing—mengherankan bagaimana peningnya baru terasa ketika Levi menyatakan jelas bahwa dia demam—menatap piyama di ranjangnya dan Levi bergantian. Gantian Levi yang memasang ekspresi bingung.
"Apa?" tanya bodyguard bermata tajam tersebut.
"Kau akan memerhatikan aku ganti baju di sini?" tanya Eren dengan nada jengah yang tidak bisa ditutup-tutupi.
Humor yang nyaris tak kasat mata berkilat di mata Levi. "Kenapa? Kau keberatan? Kita sama-sama laki-laki..."
Eren merasa bulu kuduknya meremang mendengar suara Levi yang dingin sekaligus menggoda. Levi mendekat sekali lagi, Eren langsung siaga mundur sampai punggungnya membentur head board ranjang.
Levi mendudukan diri di sampingnya, tangannya berlari nakal menyelipkan helaian rambut coklat Eren yang halus ke belakang telinga dengan gerakan yang sengaja dibuat lambat.
"Takut aku menggigit, hah?" tanya Levi dengan suara rendah di telinga Eren.
Eren sudah tidak bisa lagi membedakan apakah pipinya terasa hangat karena demamnya atau karena Levi. Eren menjauh dan lekas meloncat ke sisi ranjang yang lain sambil membawa piyama-nya dalam dekapan di dada.
"A-aku ganti baju di kamar mandi!"
Levi medenguskan tawa pelan ketika suara pintu kamar mandi yang dibanting buru-buru terdengar.
Sekarang Levi seratus persen yakin ada yang salah dengan orientasi seksual bocah di bawah tanggung jawabnya tersebut. Rupanya dia tidak salah membaca situasi ketika pria muda bernama Jean muncul di kediaman Jeager siang ini. Levi sendiri tidak keberatan mengakui orientasinya yang fleksibel terhadap gender apapun selama yang bersangkutan bisa menarik minatnya lebih.
Pintu diketuk pelan dan Levi yang membukakan pintu lekas mengambil alih nampan berisi obat dan gelas air tinggi. Pintu baru saja kembali ditutup ketika Eren keluar dari kamar mandi sudah dengan piyama gantinya.
"Minum obatmu dan tidurlah..." Levi berkata seraya meletakan nampan obat di buffet di samping ranjang Eren. Matanya menatap kalender meja yang sudah dilingkari dengan spidol merah. Dalam kotak tanggal esok hari, tampak tulisan 'Janji pada Christa dan diskusi dengan Jean'. Levi dengan seenaknya berkata "Aku akan batalkan semua janjimu besok..."
Eren yang baru saja menelan obatnya tersedak. Air yang diminumnya membasahi dagu dan menetes ke piyamanya. "Hah?"
Levi menatapnya kesal. "Untuk apa kau ganti baju kalau kau buat basah lagi, bodoh."
Eren tidak menggubris. "Tadi kau bilang apa? Membatalkan janjiku?"
Levi mengangguk, seolah ia tidak sedang mengatakan hal penting. Mengabaikan fakta bahwa ia baru saja mengacak-acak jadwal seseorang tanpa permisi dan izin sama sekali.
"Tidak mau!"
"Ck... Jangan seperti anak kecil merajuk..." Levi berujar. "Kau ini demam..."
"Besok aku ada janji penting!"
"Apa yang penting dari mengunjungi teman dan editor?" Levi mendebat. Suatu ide melintas di benak Levi.
"Atau kau sebegitu inginnya bertemu lagi dengan Kirschtein?" sindirnya.
Eren yang merasa diserang langsung memasang sikap defensif. Ternyata demam tidak melunturkan sikap tidak mau patuhnya itu. "J-jean bukan siapa-siapaku..."
"Oh? Apa yang barusan itu semacam pengakuan kau berharap jadi siapa-siapa untuknya?"
Eren melempar bantalnya pada Levi, telak mengenai punggung. Wajahnya menampakan ekspresi murka. "Pokoknya kau tidak bisa mengaturku!"
Eren bersikap kekanakan dengan menyelubungi dirinya dengan selimut sampai seperti kepompong setelah meleparkan bantalnya. Levi hanya bersikap tenang sebelum menepuk gundukan di posisi yang ia perkirakan sebagai kepala Eren. Pria itu menghela nafas.
"Oh ya?" tantang Levi lagi dengan suara meremehkan—tahu Eren masih mendengarkannya. Tangannya meraih ponsel Eren di buffet yang sama dengan kalender meja. "Kita lihat saja apa kau besok bisa bangun tepat waktu..."
Eren yang sontak tersadar lekas kembali terbangun dan benar saja, Levi sudah mengambil ponselnya. Padahal tanpa benda itu, mustahil Eren bisa bangun tepat waktu.
"Kembalikan!" ujar Eren keras kepala. Ia memanjangkan tangannya, mencoba meraih ponselnya. Sialnya, walau Levi sepuluh sentimeter lebih pendek darinya, tangan pria yang lebih dewasa darinya itu sangat gesit. Ia dengan mudah berkelit dari semua serangan Eren. Sampai Eren tanpa sadar menarik bajunya dan menyudutkan Levi ke ranjang. Levi hanya mendenguskan tawa ketika Eren kini menduduki perutnya dan tangannya berusaha meraih ponsel di tangan Levi yang masih setia menghindar dari jangkauan Eren. Tangan Levi di pinggang Eren, menahannya supaya tidak bisa bergerak jauh-jauh.
Tak sampai berapa lama, tawa Levi berhenti. Eren pun membeku. Levi dapat merasakan Eren demikian dekat. Di balik piyama, tubuhnya tetap mengurkan kehangatan yang kini bahkan beberapa derajat lebih tinggi akibat demamnya.
Levi melepaskan ponsel Eren dan benda tersebut jatuh lembut di atas permukaan empuk kasur. Dua iris berbeda warna bersiborok kembali. Tatapan Eren antara fokus tidak fokus akibat demamnya. Wajahnya memerah. Dari bawah, Levi dapat melihat ekspresi Eren dari angle yang menurutnya cukup bagus. Menggairahkan—pikir Levi.
Tangan Levi menangkap tangan Eren yang sebelumnya berusaha meraih ponsel, jari jemari mereka bertaut. Eren tidak melawan. Keduanya bertatapan lama sebelum Levi secara instingtif membiarkan tangannya yang semula berada di pinggang Eren naik ke punggung dan menekan tubuh anak itu agar menunduk. Levi menatap sayu pada bibir Eren yang tampak sedikit pucat. Eren diam, membeku di tempat. Hembusan nafasnya non-ritmikal dan panas. Levi dapat merasakan harum pasta gigi mint menerpa wajahnya.
Dari bibir, mata Levi beralih memetakan setiap kontur wajah Eren Jeager. Mata yang bulat dan berwarna terang. Alis tebal yang tegas kontas di kulitnya yang tan. Poni yang sekilas tampak acak namun nyatanya membingkai wajahnya serasi. Eren menatap Levi dengan ekspresi yang tak terdeskripsi. Ragu, penasaran, takut, dan entah apa lagi.
Bibir keduanya nyaris bersentuhan ketika alunan lagu instrumental terdengar dari ponsel Eren.
Eren tersentak sadar dan langsung bangun dari posisinya. Ia membawa dirinya langsung sibuk dengan ponselnya lagi. Levi tidak tahu harus merasa kesal karena kesempatan yang direbut sebuah panggilan telepon atau lega karena setidaknya hubungan kerja profesionalnnya tidak hancur dalam waktu sangat cepat.
"Halo, Jean.."
Mendengar nama itu, tanpa sadar Levi merutuk dalam hati.
"Eren? Kau baik-baik saja? Kenapa suaramu seperti tercekat begitu?"
"A-aku agak demam. Tapi selebihnya aku baik-baik saja."
"Demam? Kalau begitu sebaiknya besok kita tunda saja meeting kita. Kebetulan aku juga harus menemani Christa check up lagi... Kondisnya sempat drop tadi..."
Eren terpaksa menelan kecewa. Tapi dipaksakannya suaranya biasa saja. "A-ah... begitu..."
"Kau tidak apa, Eren? Jangan bekerja terlalu keras. Lihat, sekarang akibatnya kau demam..."
"Ya... Aku akan hati-hati lain kali..."
"Kalau begitu..."
Levi dengan menutup sesaat semua memorinya tentang sopan santun, dengan gemas merebut ponsel Eren. "Maaf Kirschtein, Eren harus segera istirahat..."
"Hei!" Eren memprotes. Apa-apaan Levi ini?
Levi menahan pundak Eren dengan satu tangan. Wajahnya sama sekali tidak menunjukan ekspresi bersalah.
"Ah ini... Sir...?"
"Levi Ackerman... Penjaga sementara Eren..."
"Ah, Sir Ackerman..." ulang Jean. "Aku titip Eren kalau begitu. Sampaikan 'selamat malamku' padanya..."
"Ya. Sampai nanti, Kirschtein..."
Eren menganga tidak percaya ketika Levi benar-benar menutup panggilan telepon Jean. "Yang benar saja! Apa-apaan kau ini?"
"Bocah sakit harus segera tidur, Levi melemparkan selimut Eren sampai menyelubungi figur Eren yang tengah duduk bersila di kasur dengan ekspresi menganga yang menurutnya bodoh. Ponsel Eren resmi dinon-akifkan alarm-nya. Tangan Levi membuka laci buffet dan mengeluarkan marker merah besar.
Eren bersiap memuntahkan amukan lagi ketika Levi dengan santai membuka tutup marker merah tersebut dan memberi tanda silang besar untuk jadwalnya besok.
"Levi!"
Ini pertama kali Levi mendengar Eren memanggil jelas namanya. Tidak buruk juga.
"Tidur..." Levi mendorong pundak Eren agar punggungnya rebah sejajar dengan kasur dan menutupi badannya dengan selimut lalu menepuk-nepuk selimut tersebut seolah Eren anak kecil. "Takut kalau lampunya dimatikan, bocah?"
Eren marah diperlakukan demikian. "Tentu saja tidak!"
"Baguslah. Aku juga lebih suka tidur di kamar tanpa penerangan. Levi bergegas mematikan saklar lampu. Cahaya yang kini menerangi kamar hanya cahaya kuning remang-remang dari lampu meja.
Levi duduk di sofa panjang di kamar Eren. Eren memperhatikan. "Kau..."
"Aku belum gila untuk tidur di tempat yang sama denganmu yang adalah klienku walau kau masih bocah..." ujar Levi. Eren mencibir.
Memutuskan bahwa mengkonfrontasi orang semenyebalkan Levi—menurut Eren saja—akan sia-sia, Eren membalik badannya memunggungi Levi. "Hmph!"
Levi menyeringai. "Dasar anak kecil..."
Levi menarik selimut cadangan yang sudah disiapkan Carla entah kapan di atas sofa kamar Eren. Walaupun akan tidur, Levi tidak melepaskan tempat pistol dan pisau lipat di yang disembunyikan jas hitamnya.
"Selamat tidur, bocah..."
.
.
Setiap tiga puluh menit sekali Levi membuka matanya. Sarafnya tidak sepenuhnya rileks dalam buai kantuk. Jarum jam mendekati pukul dua pagi ketika Levi mendengar suara pelan—benar-benar pelan—dari halaman. Levi mengecek ponselnya. Kamera mini yang diposisikannya di taman dekat kamar Eren menangkap pergerakan dua sosok serba hitam lengkap dengan topeng yang menutupi seluruh wajah.
Levi membangunkan Eren pelan dan menutup mulut anak itu agar ketersiapannya tidak menimbulkan keributan. Eren yang terkaget dengan Levi yang ia kira akan nekat menyerangnya nyaris berteriak sampai Levi berbisik di dekat wajahnya. Mata Levi menatapnya tajam dan serius.
"Ada penyusup..." Mata Eren melebar mendengar pernyataan Levi. Levi melanjutkan perintahnya. "Kita tukar tempat. Kau bersembunyilah di bawah tempat tidur dan jangan bersuara. Mengangguklah kalau kau mengerti..."
Eren mengangguk. Segalanya terasa seperti adegan film action bagi Eren. Dia hanya bisa diam ketika sudah berada di bawah tempat tidur. Penasaran, ia menyingkap sedikit selubung selimut yang menutupi sampai nyaris menyapu lantai. Tanpa sadar Eren menahan nafas ketika dari jendela terdengar bunyi kaca dikikir dengan suatu alat dan bayangan kaki orang asing oleh cahaya bulan tercetak di lantai kamarnya.
Levi yang tengah berbaring di atas ranjang sebagai ganti Eren memperhitungkan timing dengan seksama. Kaca yang dilubangi sudah dilepaskan dan tangan ahli salah satu sosok hitam yang tadi terpantau kameranya kini meraih kunci di bagian dalam kamar untuk membuka jendela yang sekaligus adalah pintu akses menuju balkon kamar di lantai tiga.
Eren memejamkan mata. Takut.
Ketika dua sosok tersebut hendak menarik selimut Levi, Levi bergegas melemparkan selimut tersebut menutupi akses pandangan dua penyusup. Kakinya dengan lihai mendaratkan tendangan keras ke tubuh salah satu sosok sampai penyusup yang bersangkutan terpental dan menghantam tembok. Bunyi tulang yang berbenturan dengan permukaan keras terdengar. Eren yang tidak berani melanjutkan mengintip hanya menahan diri untuk tidak terkesiap kaget dengan menutup mulutnya menggunakan dua tangan.
Levi menahan pergelangan tangan penyusup yang satu lagi. Pisau lipat tajam berujung berkilap gagal menyentuh tubuh Levi. Sebaliknya, dengan pukulan di siku yang melemahkan lengan sang penyusup, pisau itu terlepas dan Levi dengan ahli merebutnya. Luka gores diberikan Levi di pundak. Rompi berbahan parasut yang dikenakan penyusup tersebut robek dan luka gores menganga lebar. Tampaknya serangan Levi sebelumnya terlalu kuat. Levi sempat mengira kedua penyusup ini akan memakan rompi anti peluru atau apa, tapi rupanya tidak. Mungkin mereka tidak memperkirakan Eren Jeager akan dijaga seketat ini oleh Carla dengan bantuan Levi—staf terbaik Recon.
Dua sosok penyusup yang bangkit terseok-seok menyerang Levi bersamaan. Dengan gerakan mulus, Levi menghindar dan bahkan sukses menjadikan tubuh salah seorang penyusup sebagai tameng. Dua rekanan itu bertabrakan karena trik sederhana Levi dan dalam sekejap Levi sudah mendaratkan tinju mantap di wajah salah satunya. Bunyi tulang hidung yang patah terdengar.
Bukan perkara sulit untuk Levi menyelsaikan keduanya. Setidaknya sampai salah satunya mengeluarkan handgun dari balik rompi. Levi meloncat dari ranjang ke lantai dengan gesit menghindari timah panas yang dimuntahkan perangkat berwarna hitam tersebut. Satu, dua tembakan, Levi menghindarinya dengan mulus.
Bunyi ribut itu membangunkan hampir seluruh staf kediaman Jeager—termasuk sang owner, Carla.
Berguling di lantai sesaat menghindari peluru, Levi bangkit dengan posisi start lari jarak pendek yang mantap dan menyerang telak ke arah perut lawan dengan siku telak diarahkan pada perut. Sebagaimana pisau yang dilucuti sebelumnya, Levi dengan mudah melucuti pistol sang penyusup. Tembakan peringatan diarahkan Levi tepat pada paha dua penyusup berturut-turut. Pendidikannya sebagai mantai penyelidik dan sense-nya yang bagus membuatnya tahu bagaimana menghindari daerah fatal namun cukup untuk melumpuhkan lawan.
Dua penyusup dibekuk tanpa perlu bersusah payah. Membanting tubuh salah satunya menimpa tubuh rekanannya yang sudah lebih dulu ambruk bersandar pada dinding sampai seorang staf menggedor pintu kamar Eren.
"Tuan Eren?!"
"Eren!"—bahkan Carla pun ikut serta.
"Buka pintunya Eren..." perintah Levi. Eren yang akhirnya keluar dari persembunyiannya takut-takut dengan tangan gemetar membuka pintu kamar dan menyalakan lampu. Carla langsung memeluknya lega sementara staf lain menatap kekacauan yang dibuat Levi—tercengang.
"Ambilkan tali..." perintah Levi. Sementara seorang pria tua pelayan kediaman Jeager tergopoh-gopoh menurutinya, pria itu mengeluarkan ponsel dari saku celana dan mendial nomor Erwin.
"Levi... Kau tahu ini jam berapa?" Alih-alih mengatakan halo, Erwin menegurnya dengan suara parau.
Terdengar suara yang Levi kenali sebagai suara Arlelt muda di ujung sambungan telepon. Levi jijik sendiri mendengar nama Erwin disuarakan dengan manja dan berat oleh pemuda pirang itu. "Aku tidak punya waktu basa-basi, Erwin. Kau dan Arlelt muda punya banyak waktu melakukan apapun yang kalian lakukan saat ini tapi aku..."
Levi menatap dua penyusup yang kini tengah diikat tangan kakinya oleh para staf pria kediaman Jeager. "... butuh kau dan Nile di kediaman Jeager pagi ini. Segera..."
"Ada apa memangnya?"
"Objek interogasi. Ini di luar wewenangku bukan? Jadi... jangan mengeluh kau pirang busuk..."
.
.
TBC
.
.
Sorry for the lack of author's note. Saya berusaha nggak membocorkan apa-apa di sini.
Thanks to:
Nareudael: Terima kasih sudah mereview walau di chapter 2. Saya senang kok :) Semoga chapter 3 cukup memuaskan walau belum banyak yang saya ungkap di sini selain apa pekerjaan Levi sebelum jadi narapidana.
Kim Arlein: Terima kasih sudah mereview. Kebetulan saya memang suka tsundere!Eren. Uke itu memang greget kalau sedikit tsundere sementara semenya agak dingin dan suka mempermainkan. Itu menuru saya sih :) Soal Eren dan Jean... saya suka dengan pair ini juga sebetulnya. Jadinya ya begini.
Eiwayu: Terima kasih reviewnya, semoga bahasa saya di chapter tiga cukup mudah dimengerti juga ya.
Remah 181: Terima kasih sudah mereview lagi. Saya senang sekali ada reviewer berkesinambungan seperti ini. Jadi mengerti kesan pembaca untuk setiap chapternya. Untuk masa lalu Levi. Maaf, belum bisa diungkap banyak di chapter ini. Semoga belum bosan menunggu yang berikutnya juga.
Rivaille Yuki Gasai 2: Terima kasih untuk reviewnya. Untuk banyaknya words, saya belum bisa komentar apa-apa. Karena tema cerita yang agak berat, saya takut pembaca pegal juga memabaca banyak deskripsi. Tapi jika ada bagian adegan penting yang detail, saya yakinkan saya akan coba menjabarkan lebih banyak.
Terima kasih banyak, semuanya.
Saya mengusahakan update setiap minggu di akhir pekan.
