Title : Lost Time Memory

Cast :

Chen a.k.a. Kim Jong Dae (EXO-M)

Xiu Min a.k.a. Kim Min Seok (EXO-M)

And other…

Genre : Hurt/Comfort, Tragedy, little Mistery, Fantasy, Supernatural

Rated : T

Author : Rin Kim CM. KL. UT

.

Disclainmer : EXO ɷ SM • Lost Time Memoryɷ Rin Kim CM. KL. UT

.

Summary : "Selama ini, Jongdae merasa selalu melupakan sesuatu, melupakan seseorang… tapi ia tidak ingat siapa orang yang dia ingin ingat itu." EXO fic. ChenMin couple and other pairing. Warning! GS! Alur kecepetan, OOC, GJ, Typo(s), dll!

.

WARNING! TYPO BEREDAR DI MANA-MANA! EYD TIDAK BERATURAN! ALUR KECEPETAN! RIN RIN MASIH PEMULA! HARAP DIMAKLUMI!

Author P.O.V


Story of the other members four x three side's


Member number : 3, Pen Name : Kris00 , Power : Dragon


"… Jongdae?" Yifan menyipitkan sebelah matanya, "kau memaksaku duduk disini hanya untuk menanyakan hal itu?

Baiklah, menurutku… Jongdae orangnya sedikit aneh. Namun dia juga jenius, bahkan bisa menyelesaikan pekerjaan rumahku dalam lima menit," Yifan berdeham, "tapi tetap saja, kadang orang itu sangatlah menyebalkan."

Yifan terdiam sebentar, menatap kebawah dengan sendu.

"Tapi, pernah sekali, aku melihat dirinya menangis didalam kamarnya. Saat itu aku hanya ingin memanggilnya untuk berkumpul. Namun ketika aku membuka pintu, Jongdae sedang menunduk menangis sambil menggumankan… 'Min … Min …'."

Yifan menghela nafas, "Jadi ya… Jongdae menurutku sekarang, orangnya penuh dengan misteri, aku sendiri sampai bingung dengan asal usul Jongdae yang sebenarnya. Padahal Jongdae adalah manusia biasa—tidak seperti kita."

"Memergoki Jongdae lagi? Maksudnya seperti menangis atau kesakitan dikamarnya?" alis sebelahnya terangkat, bingung, "pernah sih, malah aku sering sekali memergokinya seperti itu—dan aku pernah melihat dia mendekatkan gunting kearah lehernya, tapi itu hanya sekali. Beruntung aku bisa menyelamatkannya." Ujar Yifan.

"Pendapatku lagi setelah melihat itu…?" Yifan hanya meremas lututnya, seperti enggan menjawab, "… itu … sungguh masih aku pikirkan.

Mengapa? Karena, aku sangat sering memergoki Jongdae melakukan hal aneh sejak dia bergabung dengan kami. Beruntung anggota lain tidak mengetahuinya.

Ck, iya. Menurutku, Jongdae adalah… 'kunci' yang dicari-cari. Tapi, hal ini aku masih ragu. Mengingat sifat anti-social milik Jongdae. Tapi mendengar dia berguman hal 'itu', membuat ku sedikit yakin. Namun aku tidak berani memberitahu anggota lain, aku harus memastikan dengan bukti yang kuat."

Ucap Yifan, menutup matanya rapat ketika mengetahui apa yang dia pikirkan. Jongdae adalah 'kunci' itu. Yifan mencoba berpikir bahwa itu adalah lelucon.

"Bisakah kau merahasiakan ini? Aku tidak ingin anggota lain mengetahui hal ini." pinta Yifan.

"Terima kasih, tapi kau harus benar-benar berjanji, sebelum hari itu tiba…" desis Yifan, memijat pelipisnya, seakan ia memiliki beban yang berat.

"… ada cerita lain yang ingin ku ceritakan, bolehkan?" tawar Yifan, "ini tentang masa lalu ku. Kau harus mendengarnya baik-baik."


-0o0-


Name : Wu Yifan, Gender : Man, Ages : 05th, Spesies : Human, Status : Live

"Hiks… semua orang sama. Menganggapku sampah—aku memang sampah! Lalu, kenapa aku harus hidup didunia ini?!" pekik seorang anak laki-laki.

Pakaiannya lusuh, tubuhnya kotor, rambutnya yang seharusnya pirang itu kini sudah bercampur dengan kotoran, matanya bengkak—menangis.

Ditengah hujan deras, anak laki-laki itu meringkuk, mencoba mencari kehangatan, walau dia tahu pasti itu tidak akan bisa.

"… seandainya aku bisa menghasilkan api untuk kehangatan …" desis anak itu.

Dan malam hari dingin itu terlewati dengan satu dari dua harapan anak lelaki malang itu.

Anak laki-laki itu berjalan tertatih menuju pinggir hutan kecil yang berada dipinggir kota, biasanya dia berada disini untuk beristirahat disaat siang hari—malam hari mau tidak mau dia harus beristirahat didalam kota.

Ekor matanya melihat burung yang terbang bebas.

"… seandainya … aku bisa terbang seperti burung itu, itu pasti sangat menyenangkan. Ah, naga sepertinya lebih menarik …"

Desisan anak itu mengalir bersama angin lembut menuju seluruh penjuru dunia.

Anak itu menutup matanya, menikmati angin lembut yang menerpa seluruh tubuh kotornya. Lalu matanya terbuka.

"Lebih baik aku membersihkan diri di sungai …"

Dan anak itu menghilang dari balik pohon menuju sungai kecil.

.

"Jangan tertawa! Dulu aku hanyalah anak kecil polos yang tidak tahu apa-apa." Gertak Yifan kesal.

Yifan menghela nafas berat, "Aku hidup sengsara, dibuang oleh orang tua, diusir dari panti asuhan, sampah masyarakat…

Terima kasih, kau tidak perlu menghiburku dengan menyebutkan diriku bukanlah sampah masyarakat. Tapi dulu aku memang sampah masyarakat." Ujar Yifan, tersenyum simpul.

"Tapi, itu sebelum aku bertemu dengan … 'teman' ku …" desis Yifan,mengingat masa lalu kelamnya.

.

Disaat Yifan tengah berendam di air sungai yang dingin itu, dia merasakan benda kenyal dan basah menyentuh pipi nya beberapa kali.

Jadi, Yifan memutuskan untuk membuka mata—

"UWAAAAAA!"

Pekikan Yifan yang keras sampai membuat beberapa burung kaget dan terbang dari dahan nya.

BYUR

Akhirnya Yifan kembali berada didalam air karena terlonjak kaget melihat anak singa yang tengah menatapnya bingung.

"K—kau, tidak ganas kan?" tanya Yifan, takut-takut.

Anak singa itu terdiam, seperti enggan menghampiri Yifan dikarenakan dia berada didalam air sungai.

"Dimana orang tua mu?"

Anak singa itu tetap diam.

Yifan menghela nafas, dirinya memutuskan untuk bangkit. Dia sudah cukup bersih, walau masih kucel.

"Kau sendirian?" tanya Yifan, sambil memakai baju yang sudah sedikit kering karena panas matahari.

Anak singa itu mendekati Yifan.

"… sama, aku juga sendirian." Balas Yifan, seakan mengetahui jawaban dari anak singa itu.

Keheningan melanda mereka, walau anak singa itu seperti mendekatkan diri kepada Yifan dengan menggesek-gesek kepalanya kepinggang Yifan.

"Kau… tidak akan memakan ku, kan?" tanya Yifan, menatap mata bening milik anak singa yang sudah cukup besar itu.

Yifan tersenyum, lalu mengangkat anak singa itu kedalam pelukannya, "Ayo, kita berteman. Bukan hanya sebuah kata. Namun teman yang sebenarnya." Bisiknya ditelinga anak singa itu.

Dan anak singa itu menggeram pelan mendengar perkataan Yifan, seakan mengiyakan perkataan Yifan.

"… kau memiliki nama, tidak?" tanya Yifan.

Anak singa itu mengangkat kepalanya.

"Bolehkah aku menamai dirimu…. Ace?" tanya Yifan.

Anak itu tiba-tiba saja mengangguk.

Yifan tersenyum lebar, "Baiklah Ace, kau sekarang adalah teman ku. Ya teman—pertama ku!"

.

"Yeah, dia adalah teman pertama ku. Makhluk pertama yang menerima ku." Desis Yifan, matanya berkaca-kaca mengingat itu.

"Ace begitu gesit, kami mencari makan bersama, walau aku harus memasaknya dulu dengan membakar hasil yang kami dapatkan. Tapi aku lebih sering makan buah-buahan atau dedaunan.

Hingga, tiga tahun berlalu …"


Name : Wu Yifan, Gender : Man, Ages : 08th, Spesies : Human, Status : Live

Saat itu, Yifan tengah berada di kota untuk mengambil makanan yang ia temukan, untuk dimakan bersama Ace.

Dirinya berlari menjauhi orang-orang yang berada dibelakangnya—berusaha mengejarnya karena mengambil makanan tanpa izin—

hell, bahkan dirinya hanya mengambil bekas makanan yang sudah tidak mereka butuhkan, peduli apa mereka dengan makanan yang sebenarnya sudah tidak ingin mereka makan?

Yifan berhasil menghindar, dan sekarang dirinya sudah berada didalam hutan yang sudah dia anggap menjadi rumahnya.

"ACE!" seru Yifan girang, tetap berlari menuju sungai yang menjadi tempat makan mereka.

Setelah berada dipinggir sungai dan melihat Ace yang sudah sedikit besar, Yifan menghampiri nya.

"Aku menemukan daging, bagaimana?" tanya Yifan, memperlihatkan daging yang dia temukan.

Ace bergeram senang, dengan senang dilahapnya daging yang sudah Yifan letakkan keatas daun yang sudah disiapkannya.

Tidak menyadari dua orang yang menatap mereka licik.

Keesokan harinya, mereka terbangun diatas pohon. Masih normal dari yang biasa mereka lakukan.

Yifan turun dari dahan pohon, lalu melihat keatas dimana Ace masih mendengkur.

Tersenyum simpul, Yifan memutuskan untuk mencuci muka sebentar disungai, atau sedikit membasahi diri untuk semakin segar.

BRUK

Disaat Yifan masuk kedalam sungai, terdengar suara benda jatuh dari tempat dia dan Ace suka beristirahat. Sedikit curiga dan khawatir, namun Yifan memutuskan untuk menuntaskan masalah menyegarkan badan.

Setelah selesai, Yifan berlari ketempat istirahatnya. Jarak antara tempat itu dan sungai hanya delapan ratus meter, jadi sedikit lama menuju ketempat tujuan itu.

"—ACE! KAU DIMANA!?" seru Yifan, melihat temannya sudah tidak berada di dahan pohon tempat dia tidur.

Mungkin kah, Ace mencari makan?

Tidak. Tidak. Yifan merasakan sesuatu yang lebih buruk dari itu.

"GRAAWW!"

Auman yang berasal dari arah tenggara itu menarik perhatian Yifan. Itu suara Ace. Yifan yakin itu.

Tanpa menunggu auman lagi, Yifan berlari kearah tenggara, mencari teman nya, Ace.

"TUNGGU AKU, ACE!"

.

"… Ace diculik, oleh orang-orang brengsek. Mereka mengatakan untuk melindungi orang-orang dari binatang buas—hell, mereka melakukan itu karena mereka tidak menyukai diriku dan Ace. Namun lebih terarah kepadaku,

Lalu mengapa Ace yang mati? Ini salahku, kau tahu itu ..."

Yifan menundukkan kepalanya, bahunya bergetar, menahan tangis—namun sudah tidak bisa ditahan lagi.

"… Lalu …"

.

Yifan menemukan Ace dan kedua orang yang sedikit dia kenal di percabangan sungai menuju sungai yang lebih besar.

"HENTIKAN! LEPASKAN ACE, BRENGSEK!"

Seruan Yifan seperti tidak diperdulikan oleh kedua orang itu.

"LEPASKAN BODOH!"

Yifan mengambil tongkat kayu yang berada dibawah, lalu mengambil ancang-ancang memukul dengan seluruh kekuatannya.

Terlambat.

Kedua orang itu sudah membuang Ace ke sungai yang besar itu…

DUAK

"ACE!"

Setelah memukul salah satu dari mereka dengan keras—bahkan tempat dimana dia pukul itu membiru keunguan, Yifan berlari menuju sungai itu dan menceburkan diri.

Dengan seluruh kekuatannya, Yifan mencoba meraih Ace. Diketahui bukan jika bangsa kucing sangat tidak menyukai air. Maka dari itu Ace tidak bisa berenang.

HAP

Tangan Yifan berhasil meraih tubuh Ace. Dipeluknya tubuh yang besar itu. Namun karena terlalu lama di air, mulut Yifan yang sedari tadi ditahan kini terbuka. Hingga dia hanya bisa merasakan bahwa kematian akan menjemputnya.

'Kau ingin membalaskan dendam mu? Kau ingin menjadi kuat? Atau kau ingin keduanya?'

.

-0o0-

.

"Aku sangat merasakannya, air masuk ke paru-paru ku, dan aku saat itu hanya bisa merasakan kegelapan—aku mati! Seharusnya!" seru Yifan, mengingat betapa sakitnya kematian yang pernah dia alami itu.

"Tapi, aku tidak mati. Aku berada disini, kau melihat sendiri bukan bahwa aku disini? Duduk disini, menceritakan hal ini sejak tadi?!

Tapi, cukup lama, aku merasakan diriku terbangun disuatu tempat, kukira itu adalah tempat terakhir ku. Namun ternyata, itu bukan tempat yang sering kudengar dari orang-orang. Namun… ternyata itu adalah dunia 'monster' itu …"

.

"Sayang sekali, anak sehebat dirimu berada dalam takdir ini. Jujur saja, aku merasa kasihan kepada mu."

Yifan tetap diam.

"Kau … begitu menarik. Aku akan memberikan sedikit kekuatan ku kepada mu, sesuai harapan mu itu." Ujar makhluk itu, berjalan anggun mendekati Yifan, secara berlahan.

"Awasilah orang-orang disekitar mu. Kekuatan ini adalah salah satu bagian dari hidup mu." Dua kalimat yang tidak saling berhubungan keluar dari mulut mungil makhluk itu. Selanjutnya hanya terdengar teriakan pilu Yifan karena kedua matanya dicolok oleh makhluk itu.

.

Yifan bisa merasakannya, sangat bisa. Tubuhnya seperti mati rasa. Ketakutan bertambah ketika ular-ular hitam itu memasuki dirinya dengan cara melilit tubuh Yifan.

Ingin berteriak namun rasanya percuma.

Yifan berada diruangan hampa, mana mungkin ada yang bisa menolongnya, bukan?

Ditambah, dirinya tidak bisa bernafas karena ruangan ini seakan tidak ada udara.

"Ace … tolong aku … kau berjanji akan terus berada disamping ku …" desis Yifan, pasrah sudah ketika kesadarannya kembali menghilang karena ular-ular itu sudah masuk kedalam tubuh Yifan.

Yifan tidak menyadari seekor naga juga memasuki tubuhnya.

.

Yifan membuka matanya perlahan, digerak nya jari-jari tangan yang terasa kaku itu. Belum menyadari bagaimana keadaan nya itu.

"… aku masih … hidup …?" desis Yifan, sangat pelan.

Di pinggir sungai, Yifan terbaring lemah. Butuh beberapa jam untuk mengumpulkan tenaganya.

Setelah serasanya cukup untuk bangkit, Yifan duduk dengan perlahan. Lalu menatap sekeliling.

"… dimana … aku …?"

Yifan menatap dirinya. Oh, betapa terkejutnya dirinya tengah terlilit garis-garis hitam dengan ujung runcing. Merangkak, Yifan melihat dirinya dari pantulan air.

Oh tidak, bahkan rambut pirangnya berubah menjadi perak. Muka nya juga sudah terlilit oleh garis-garis hitam itu, dan lagi jika dilihat baik-baik, iris kecoklatan miliknya berubah menjadi perak juga. Samar-samar, Yifan melihat sayap kelelawar dari punggungnya.

Apa itu miliknya?

Tubuh Yifan bergetar, ketakutan. Namun dia berusaha mengkontrolnya. Tapi, menyadari dirinya hanya sendiri, Yifan menyadari bahwa ada yang hilang—

"ACE!"

Seru Yifan, memanggil temannya itu.

"KAU DIMANA, ACE?!"

Hening, tidak ada jawaban.

Tubuh Yifan yang semula sudah berdiri, ambruk seketika menyadari hanya dirinya yang selamat. Temannya … sudah mati …

"Hiks …"

Biarlah, dia menangis.

.

Yifan berjalan lemas kearah kota. Tidak peduli kondisinya seperti apa—masih dengan tubuh terlilit garis-garis hitam, sayap kelelawar, mata perak, rambut perak, dan sekarang kulit perak bersisik.

Emosi-yang-entah-apa karena temannya menghilang begitu memukul Yifan. Sangat.

BRUK

Yifan terjatuh, tidak tahu mengapa.

"Monster!"

"Pergi kau dari sini!"

"… mama … ada monster …"

"Tenanglah nak, monster itu akan mati."

Yifan masih terduduk kaku. Tidak memperdulikan tubuhnya yang sudah mulai lecet dikarenakan benda-benda-berbagai-bentuk-dan-tingkat-kelunakan.

"Sialan kau, pembawa sial!"

"Pergi, monster!"

"Kau harus mati."

Semua makian itu sangat di dengar oleh Yifan. Sangat. Bahkan telinganya sampai bising karena teriakan-teriakan itu.

"… diam …"

Desisan Yifan pasti tidak akan didengar karena teredam oleh teriakan-teriakan orang kota.

"Sampah!"

"Monster!"

"Pembawa sial!"

"AKU BILANG DIAM!"

Kembali, teriakan Yifan membuat angin menghantam tubuhnya dari atas, perubahan yang sebenarnya sudah maksimal itu semakin maksimal.

Membuat, orang-orang yang memakinya, orang-orang yang melemparkan benda-benda kepada Yifan, menjauh perlahan.

"… dia benar-benar monster, kita bakar saja dia!"

Seruan salah satu warga disetujui dengan sorakan semangat—untuk membunuh Yifan.

Yifan yang terlihat marah berdiri tertatih, menatap garang orang-orang yang didepannya.

"Kalian … yang harus mati …"

Hampir saja Yifan mengeluarkan api—yang sebenarnya juga dia tidak menyadari itu, semua benda-benda yang berada disekitar mereka melayang.

"A—apa ini?! Monster! Kau yang melakukannya kan?! Cih, jangan kira kami takut." Gertak salah satu laki-laki dengan gemetar.

Yifan terdiam, masih tersulut emosi, mata tajamnya menatap sekeliling.

Siapa yang melakukan ini? Dia sangat yakin, bahwa dirinya tidak melakukan hal ini.

Orang-orang mulai menyalahkan Yifan dalam hal ini, karena memang, Yifan dianggap monster pembawa sial yang membuat hal ini terjadi.

"MATI KALIAN!"

Sekali lagi, hampir saja Yifan mengeluarkan api dari tangannya, seluruh tempat yang mereka pijak berubah menjadi es, bahkan kaki mereka tertanam di es itu. Tapi, tangan Yifan juga tersulut oleh es.

Mungkin untuk mencegah api keluar dari tangannya itu.

"S—sialan kau monster! Singkirkan es ini!"

"… diam kau …" desisan Yifan yang sangat terdengar ditelinga orang yang tadi menggertak Yifan, membuat orang itu geram.

"MONSTER SIALAN, SINGKIRKAN ES INI DARI KAMI! KAU INGIN MEMBUNUH KAMI, HAH? KAMI YANG AKAN MEMBUNUH MU TERLEBIH DAHULU!"

Teriakan protes dan makian kembali menghujat Yifan.

Salahkah dia?

Shit, sialan untuk orang yang mempunyai kekuatan mengangkat benda dan es ini, membuatnya kembali emosi saja.

Dan dalam hitungan detik, orang-orang yang mencaci maki Yifan, membeku.

Mata Yifan membulat.

Ap—apa-apaan ini …?

"Tenanglah …"

Mata Yifan melirik kesamping.

Ah, dua orang perempuan—berwajah asia.

Ada apa mereka disini?

"Kami sama seperti dirimu, tidak perlu takut." Ungkap perempuan berambut hitam legam, tangannya mendekatkan kearah Yifan, dan dalam hitungan detik es itu berubah menjadi debu.

"Ayo kita pergi, Minseok akan menghancurkan es itu kepada orang-orang ini." ucap perempuan berambut coklat bergelombang.

Siapa… mereka ini?

Sama sepertinya?

Benarkah?

Pertanyaan-pertanyaan mulai bermunculan didalam kepala Yifan.

Oh tidak, pikirannya blank

Yifan bisa melihat perempuan berambut bergelombang itu tertawa pelan.

"Untuk semua pertanyaan yang berada didalam kepalamu itu, kita bisa menjawabnya, namun tidak disini—ah, namamu Yifan kan?"

Dilihat sekilas, mata perempuan itu berubah menjadi perak tajam, dan mulai sedikit muncul garis hitam di pipinya.

"… baiklah …"

Akhirnya, Yifan mengikuti kedua orang perempuan yang mengaku sama seperti dirinya.

.

Badannya bergetar, kesakitan. Hei, dilempar barang-barang—di mulai dari barang berat, ringan, tumpul, tajam, lebar, dan lain-lain itu sangat menyakitkan!

Yifan menyadari logat bicara mereka kaku, bahkan mengatakan bahasa inggris saja sedikit tersendat-sendat.

"T—terima kasih." Desis Yifan.

"Tidak apa-apa," jawab perempuan berambut hitam itu, "sudah lumayan?"

Yifan menggeleng.

Badannya masih kesakitan, namun sekarang sudah sedikit lumayan karena tidak dilempari benda-benda berbagai jenis itu.

"Yifan… kau bisa bahasa mandarin selain inggris?" tanya perempuan berambut gelombang itu.

Yifan terdiam. Mencoba mengingat bahasa yang sudah sangat lama tidak keluar dari mulut nya. Walau dia mengucapkan bahasa itu disaat kecil, namun dia masih mengingat nya.

"Ya."

Jawab Yifan, sedikit ragu.

"Baguslah, hanya tinggal mempelajari bahasa Korea." Ucap perempuan berambut hitam yang berada disebelahnya.

Yifan mengeryit, mendengar bahasa asing dari mulut perempuan itu.

"Yifan, maukah kau ikut dengan kami. Kami sama seperti dirimu—

Kami sama-sama orang yang mendapatkan 'kutukan' ini. Dengan kekuatan ku, telekinesis, dan Minseok … ice."

Yifan terdiam. Kekuatan? Kutukan? Jadi, apa yang dia miliki itu kekuatan yang hebat atau kutukan yang menyeramkan?

"… aku tidak tahu, apa kekuatanku." Jelas Yifan yakin, karena memang dia tidak tahu apa yang ada didalam dirinya.

"Tidak masalah," perempuan berambut hitam itu menyahut, "kita bisa mengetahuinya bersama."

Yifan tersenyum sedikit, "Ya, kita akan mengetahuinya bersama."

"Ngomong-ngomong, namaku Kim Minseok, dan dia Xi Luhan. Bisa sebutkan nama lengkap mu?" tanya Minseok.

Yifan menatap mereka, "Wu Yifan, itulah namaku."

.

"Begitu menyenangkan bertemu Minseok dan Luhan … mereka teman kedua ku. Sungguh, aku sangat berterima kasih kepada 'monster' itu, karena memberi kekuatan mengerikan ini kepada ku. Jika tidak, aku tidak akan bertemu mereka," Yifan termenung, "setelah itu kami pergi ketanah Korea. Kita terbang, tentu saja. Namun mereka tidak kuat terbang selama lebih dari dua belas jam, jadi kadang aku membantu mereka, karena sebagai pemilik kekuatan Dragon ini, bisa terbang sesuka hatinya lebih dari empat puluh delapan jam." Terang Yifan.

"Ketika sampai, mereka menyebut daerah ini bernama Po-hang. Sedikit bingung karena pertama kali aku mendengar kata-kata asing.

Kami bekerja, dan disana aku sudah bisa mengendalikan kekuatan ku ini. Sampai akhirnya kami bisa menyewa apertement murah didekat tempat kami bekerja. Padahal setiap bulan upah kami sedikit, dan lagi kami masih kecil saat itu."

Yifan menghela nafas sebentar, sedikit sedih mengingat masa lalunya, namun dia tersenyum tipis.

"Suatu hari, aku memutuskan untuk berjalan-jalan ke hutan terdekat—anehnya, hutan itu dipagari. Menurut orang-orang sekitar, itu untuk menjaga mereka dari 'monster' yang tinggal didalam hutan tersebut.

Namun karena suasana hatiku sedang tidak baik, aku memutuskan untuk memasuki hutan itu. Tentunya jalan ku tidak tertentu arah—"

.

Dengan earphone ditelinganya, Yifan berjalan kedalam hutan. Lebih dalam lagi, dan dalam lagi.

Lagipula ini yang dia butuhkan setelah susah payah mengumpulkan uang dan mengambil cuti sehari.

Hutan ini, begitu indah. Masih terlihat alami tanpa campur tangan manusia. Namun tetap saja Yifan harus berhati-hati, khawatir ada binatang buas yang siap menerkamnya kapan saja.

Tapi jangan lupa bahwa Yifan pernah hidup dihutan selama tiga tahun lebih.

Sampai ditengah hutan, Yifan memilih berjalan pelan, untuk melihat keadaan sekitar.

Ternyata hutan ini lebih besar dari yang dia perkirakan.

Matanya menangkap takjub seluruh objek yang berada didepannya. Sungguh, ini sangat hebat. Sekarang dia bisa melihat air terjun dan sungai dengan air yang jernih.

Ah, sudah lama dia tidak merasakan ini.

BRUK

Yifan merasa ada benda jatuh didekatnya. Namun melihat sebelah nya tidak ada benda jatuh, Yifan memutuskan untuk melihat kebelakang—

Oh, seorang yeoja dengan mata panda yang sangat menggemaskan, tengah menatap kaget sosok Yifan. Mulutnya terbuka. Saat ekor mata Yifan melihat kebawah, ranjang dengan isi buah-buahan itu tengah berada didepan kaki nya.

Mungkin itu adalah benda jatuh tadi, ya?

Eh, tapi mengapa ada orang di hutan ini?

"A—a—a—aa …"

"Kau … tidak apa-apa …?" tanya Yifan, khawatir.

"J—jangan mendekat, t—tuan …" jawab perempuan itu takut-takut, tubuhnya mundur sedikit ketika Yifan bangkit dari duduk dipinggir sungai.

"… kau takut kepada ku …?" tanya Yifan hati-hati.

"Kumohon, jangan mendekati ku—"

Yifan berani bersumpah, tadi perempuan itu berada didepannya, kini sudah tidak ada, bahkan keranjang yang tadi jatuh juga tidak ada. Ada apa dengan keadaan ini?!

"Huft, kenapa dia tiba-tiba menghilang—dalam hitungan detik?" rutuk Yifan, matanya melihat sekeliling.

.

"Saat itu aku berpikir, apa dia sama seperti ku? Sama seperti Luhan? Minseok?" Yifan tertawa pelan, "pertanyaan itu terus berputar dikepala ku. Karena sangat penasaran, akhirnya aku mengelilingi hutan, dan tanpa disangka, aku menemukan sebuah rumah—"

.

Tok Tok Tok

Yifan mengetuk pintu itu, dengan pelan.

Cukup lama dia berdiri didepan pintu ini, karena tidak ada jawaban, kembali Yifan mengetuk pintu.

Tok Tok Tok

BRUK

Yifan terkaget karena suara benda yang jatuh itu. Berarti ada orang bukan didalam rumah yang ditumbuhi tanaman rambat di dindingnya ini?

"Kau … tidak apa-apa …?!" seru Yifan, khawatir.

"Pergi! Jika kau bersama ku—kau akan mati!"

Seruan perempuan yang berada didalam itu membuat Yifan kembali diam.

Cukup lama terdiam, Yifan memutuskan untuk membuka sendiri pintu yang sedari tadi berada didepan nya.

Clek.

Suara pintu terbuka terdengar jelas, Yifan bisa langsung melihat perempuan tadi yang menghilang tiba-tiba itu terduduk jatuh didekat kursi.

"J—jangan mendekat!" seru perempuan itu.

Yifan semakin mendekat.

"Aku juga takut, orang-orang disekitar ku mati, karena diriku." Ungkap Yifan, berjongkok didepan perempuan itu.

Perempuan itu menatap lucu Yifan.

Yifan terkekeh, lalu mengusap puncuk rambut hitam legam itu.

"Percayalah bahwa dirimu orang-orang disekitarmu tidak akan mati. Jika kau bisa melindungi mereka."

Ucap Yifan lembut.

"HUWAAA!"

Yifan terkaget, mengapa perempuan didepannya menangis …?

"Te—tenanglah … aish, sesuatu yang tidak membuat menangis … ah—"

Yifan mengambil earphone dan mp3 nya, lalu menempelkan ketelinga perempuan itu.

Beruntung mp3 itu sedang memutar lagu klasik yang menenangkan.

"… ini … apa …?" desis perempuan itu.

"Itu adalah lagu, keren bukan? Dan… ini sangat bisa menangkan …" jawab Yifan, tangannya masih mengelus lembut puncuk rambut perempuan itu.

"Nama ku Wu Yifan, siapa namamu?" tanya Yifan.

"… Huang Zi Tao, itulah nama ku. Tapi… aku bukan manusia …" jawab Tao pelan.

Yifan mengeryit.

"… aku manusia, namun aku juga monster … singkatnya, aku setengah manusia, setengah monster …" lanjut Tao.

Yifan mengangguk mengerti, "Aku juga monster, gara-gara menerima kutukan ini."

"Bukan itu maksud ku—"

.

"Setelah itu, aku kembali ke apertement. Memberitahu Minseok, lalu keesokan harinya aku dan Minseok kembali ke rumah Tao. Lalu kami membawa Tao ke apertement kami. Dan Tao bergabung dengan four x three … begitulah."

Yifan menghela nafas, dia merasa cukup menceritakan sampai ini.

"Sudah selesai, terima kasih telah mendengar cerita ini … dan maafkan aku."


-0o0-


"Namanya FxT world, dunia itu sekarang dalam keadaan kritis, kau tahu itu? Hyukjae tengah terkurung oleh kekuatannya sendiri. Dan lagi, sebenarnya musuh bukan Hyukjae, namun sisi gelap dari—"

"Bisakah kau hentikan omong kosong itu? Memuakkan." Potong Jongdae kesal, menatap malas Minseok yang berada disebelahnya.

Minseok tertawa kaku, "Maaf … maaf … aku hanya menceritakan apa yang harus kuceritakan, Jongdae-ya."

"Apanya yang harus diceritakan, bodoh …" cibir Jongdae, memilih membaca buku didepannya dengan tatapan malas.

"Jongdae …"

"Apa?"

"Aku serius, musuh sebenarnya bukan Hyukjae, namun … dia adalah … sisi gelap dari Joonmyu—"

"Bisakah kau hentikan omong kosong ini? Jangan membuat ku marah, Minseok." Gertak Jongdae kesal.

Minseok tersenyum tipis.

"Dunia ini akan terus terulang di tanggal itu. Karena orang itu akan membunuh kalian … bahkan diri ku …"


|TBC|


|Next Chapter : Story about Tao


Ini gagal zzzz ;_;

Ceritanya makin aneh ya? Hiks, maafkan Rin, Rin emang nggak pandai buat misteri /jedugin kepala ke tembok/

Ada reader yang bilang terserah Rin saja jika mau hapus ff ini, karena itu adalah hak rin. Namun ada pula yang bilang sayang sekali ff ini dihapus …

Wks, Rin bingung, tapi kayaknya Rin usahakan untuk menyelesaikan FanFic ini

Ohya, Rin jelaskan umur mereka disini.

Tao : karena dia keturunan dari 'monster' sebenarnya, jadi umurnya panjang—ratusan tahun gitu.

Minseok, Luhan, Yifan, Baekhyun, Jongdae, Chanyeol : umur mereka sama.

Joonmyeon, Yixing, Kyungsoo, Jongin : umur mereka sama.

Sehun : paling kecil /pukpuk.

Oh ya, Rin bakal jawab satu pertanyaan ;


Q.

Kapan Xiumin keluar dicerita ini?


Mungkin, diakhir chapter atau dibagian 'story about Minseok'. Dan mungkin Rin akan membuat chapter khusus Jongdae dan Minseok dimana mereka sudah bersama.


Well, segitu aja.

Ah, thanks for your review : [Alexara] [ChenMinDonsaeng14] [Sonewbamin] [Brigitta Bukan Brigittiw] [Choi Arang] [EllisaAzzusa] [xiumin lover] [chengu] [L] [anki. manika]

Okesip, [Review] [Favorite] [Follow] please~