DISCLAIMER :
Togashi-sensei
TITLE :
TRAPPED
SUMMARY :
That night was the beginning of everything. The beginning of the suffer, the beginning of a new open wide future, then suddenly got trapped. I trapped you with my tricks...without realized that I let myself trapped into your love. LAST CHAPTER UPDATE!
GENRE :
Angst/Romance
PAIRING :
KuroPika
WARNING :
AU, OOC, FemPika, rate T – semi M.
Happy reading!
I've lost who I am, suspended in a compromise
Like passing the graves of the unknown
But I can't understand why my heart is so broken
You're starring right into my eyes and said, "There's a light, there's a sun"
"Danchou, Mito Lucca meninggal dunia karena kecelakaan pesawat saat akan menghadiri acara di kampus Nona Kurapika," Shalnark berkata.
Pria di hadapannya, Kuroro Lucifer yang kini berumur 28 tahun, sangat terkejut mendengarnya. Mito adalah salah seorang kaki tangannya yang setia...dia pun sudah membantu Kuroro untuk merawat dan menjaga Kurapika selama ini.
"Apa kau sudah memastikannya?" tanya Kuroro.
"Sudah...dan tak ada penumpang yang selamat. Nama Mito Lucca ada di antara daftar nama penumpang yang berada di pesawat yang jatuh itu."
"Oh...begitu..."
Jawaban Kuroro terdengar mengambang, seolah dia sedang tidak fokus saat itu. Shalnark masih diam menanti perintah yang mungkin akan diucapkan majikannya. Tapi ternyata hal itu tak terjadi.
"Baiklah, tinggalkan aku sendiri."
Apapun substansinya, ucapan itu merupakan perintah bagi Shalnark, maka dia pun pergi meninggalkan Kuroro sendirian di ruang kerjanya.
'Kurapika...bagaimana dia sekarang? Dia pasti sangat sedih karena kematian Mito,' pikir Kuroro dalam hati. Kemudian pria itu membuka laptop-nya dan mengirimi email untuk Kurapika...
Arianna Sayang, aku sudah mendengar berita tentang kecelakaan itu. Aku turut berduka. Kumohon janganlah bersedih terlalu lama. Bagaimana rencanamu setelah ini? Beritahu aku jika kau sudah memikirkannya.
Aku akan mengirimkan sejumlah uang ke rekeningmu untuk biaya pemakaman Mito. Kabari aku segera begitu kau bisa...agar aku bisa mengetahui bahwa kau baik-baik saja.
Salam,
Bintang Jatuh
Dengan wajah sendu dan mata bengkak karena berkali-kali menangis, Kurapika mengantar kepergian para tamu yang datang pada upacara pemakaman Mito. Mengenakan baju terusan selutut berwarna hitam, rambut pirang panjangnya digelung sederhana di balik topi dengan cadar berjala di bagian depan, Kurapika melangkah meninggalkan makam Mito...melewati berbagai makam dari orang-orang yang tak dikenalnya.
'Kakak...Aku sudah menganggapmu sebagai kakakku sendiri. Tapi kini kau sudah tak ada...,' batinnya. Dengan mata berkaca-kaca dia menengadah menatap langit yang kelabu sebelum melanjutkan langkahnya kembali.
Sejak peristiwa kecelakaan itu, semua terasa bagai mimpi bagi Kurapika. Kesedihan dan rasa kehilangan yang dia alami membuatnya terguncang. Setelah sampai di rumah yang dulu dia tempati bersama Mito, air matanya kembali mengalir...hingga sampai pada suatu titik di mana Kurapika tak bisa menahannya lagi. Dia jatuh bertekuk lutut, menangis tersedu-sedu.
Lalu tiba-tiba saja...Kurapika merasakan sakit di bagian kepalanya, bersama dengan sebuah kepingan masa lalu.
'Anakku...putri kami tersayang...'
'Eh?! Siapa...suara siapa itu?! Ahh...sakit! sakit sekali!'
Kurapika memegangi kepalanya, berusaha mengenyahkan suara itu...
'Kurapika, kenapa kau belum tidur? Apakah ada sesuatu yang mengganggu benakmu? Ceritakanlah pada Ibu...'
'HENTIKAN! Siapa Kurapika?! Aku Arianna!'
'Mari, Ibu akan memelukmu sambil menunggu Ayah pulang...Kau mau Ibu menyanyikan sebuah lagu tidur?
Slumber on, until down
While the angels are watching
While the moon above you beams
May you dream the sweetest dreams
So goodnight, dear again
Let me show you the way
Slumber on, slumber on
I'll be with you at dawn...'
'Ibu...ku? Itu Ibuku? Lalu...pria dengan rambut pirang yang sama dengan rambutku itu...'
Dengan cepat, potongan masa lalu Kurapika datang bergantian bagaikan adegan yang terus berpindah pada sebuah film. Hingga kenangan itu pun sampai di malam terkutuk itu. Peristiwa berdarah...di mana orangtuanya dibunuh dengan keji.
Mata biru Kurapika membelalak ngeri. Dan suara yang membangkitkan adrenalinnya pun muncul...
"Aku seorang pembunuh, aku seorang bajingan yang telah memerkosamu dan mengurungmu di sini. Tapi anakku yang ada di dalam perutmu sama sekali tak berdosa. Semuanya salahku."
Kuroro Lucifer.
Pintu kamar mandi di salah satu kamar di rumah itu sedikit terbuka. Sepertinya orang yang tengah menggunakannya tak mau repot untuk menutupnya. Air mengalir deras dari shower...membasahi sebuah sosok yang tengah duduk di lantai kamar mandi dalam kondisi telanjang sambil memeluk kedua lututnya.
Ya, semuanya sudah jelas sekarang. Kurapika mengingat semuanya. Dia adalah Kurapika Clementine...yang kedua orangtuanya dibunuh oleh Kuroro Lucifer, orang tak beradab yang juga telah tega memerkosanya di malam yang sama ketika peristiwa itu terjadi.
Kurapika menggigit bibir bawahnya geram, air mata yang membasahi pipinya bercampur dengan air yang mengalir dari shower. Perlahan dia meraba bekas luka operasi di bagian perut bawahnya, yang nampak seperti sebuah garis tipis.
'Kau pernah memiliki kista ovarium, itu adalah bekas operasinya," Mito menjelaskan.
'Bohong...ternyata itu bohong! Kakak...'
Namun Kurapika tak bisa marah begitu saja. Di hati kecilnya dia yakin bahwa Mito melakukan itu karena demi kebaikan Kurapika sendiri.
'Apa yang terjadi pada bayiku? Aku harus segera mengetahuinya!'
Dengan hanya mengenakan mantel handuk dan rambut yang masih basah, Kurapika sudah duduk di depan laptop dengan raut wajah serius. Dia tahu tak sembarang orang bisa mengetahui data pasien di rumah sakit tempatnya dirawat dulu. Untunglah Kurapika memiliki teman kuliah yang terbiasa berpetualang dengan menjadi hacker.
"Arianna, aku tak tahu apa arti dari semua ini, dan apakah yang akan kukatakan merupakan hal yang menyedihkan untukmu. Bayi yang dikandung pasien dengan nama yang sama denganmu sudah meninggal saat lahir."
Air mata Kurapika menetes lagi. Sungguh, dia membenci Kuroro tapi dia tak mau kehilangan putrinya. Malah dia melarikan diri waktu itu hanya demi hidup putrinya.
Kurapika semakin marah. Kedua orangtuanya dibunuh, bayinya sudah meninggal ketika dilahirkan. Apakah itu semua belum cukup kejam? Tanpa sadar dia mencari tahu tentang Keluarga Lucifer di internet. Ketika dirinya sudah tinggal bersama Mito, Raito tewas bersama anak buahnya di rumahnya sendiri. Muncul dugaan bahwa Kuroro sendiri yang membunuh mereka, namun sepertinya tak ada tindak lanjut untuk menangani kejadian itu. Lalu Kuroro menggantikan Raito dan kemudian, seolah semua yang terjadi di masa lalu tak berarti apa-apa, pria itu melakukan berbagai kebaikan dan masyarakat sepertinya memaafkannya dengan begitu mudah.
'Kenapa mereka memaafkannya semudah itu?!' batinnya geram. 'Dia yang telah bersalah pada banyak orang...membunuh ayahnya sendiri, membunuh kedua orangtuaku...menyebabkan kematian putriku...'
Kurapika kembali masuk ke kamar mandi, menatap pantulan dirinya di cermin.
'Aku harus membalas dendam...Aku tak boleh membiarkannya hidup setenang itu. Tapi aku tak bisa memperlihatkan diriku di hadapannya sebagai Kurapika Clementine.'
Kurapika mengambil gunting yang berada di sana, lalu memegangi rambutnya yang panjang. Ketika dia akan mengguntingnya, suara Eliza bergema dalam benak wanita muda itu...
'Kurapika, putriku yang cantik...bagaikan malaikat dengan rambut pirangnya yang indah. Ibu sangat menyayangimu...'
Gunting di tangan Kurapika langsung jatuh seketika.
"Bagaimana? Apakah Nona puas dengan hasilnya? Katakan saja jika ada yang kurang," ucap seorang hairstylist di sebuah salon terkemuka pada wanita yang tengah bercermin di hadapannya.
Wanita itu—yang tak lain adalah Kurapika—menelusuri rambutnya yang kini agak ikal dan berwarna merah. Seulas senyum tipis nampak di wajahnya yang cantik.
"Ini cukup. Terima kasih," ucapnya singkat.
'Aku sudah punya nama baru, kini penampilanku pun semakin mendukung penyamaran yang akan kulakukan,' ucap Kurapika dalam hati. 'Kuroro Lucifer, aku akan mencari kesempatan untuk bisa bertemu denganmu.'
Sesampainya di rumah, Kurapika membuka email-nya dan membalas email dari Kuroro yang belum dia balas sejak membacanya saat itu.
Pangeranku, maafkan aku karena baru mengabarimu saat ini. Aku tak bisa bicara banyak. Aku sudah mengingat semua masa laluku yang terkubur selama sekian tahun. Dan tentu saja aku akan melakukan sesuatu berkaitan dengan hal itu. Doakan aku...
Salam,
Arianna Lucca
Di kediamannya, Kuroro terkejut membaca email yang dikirimkan Kurapika. Dia pun menatap penampilan baru wanita itu melalui foto yang ikut dikirimkan bersama dengan email tersebut.
Hanya dalam waktu satu bulan, Kurapika sudah diterima bekerja di Rumah Sakit Elysia. Dia menjalani tugasnya sebagai seorang dokter namun tak pernah sekalipun melupakan keinginannya untuk membalas dendam.
Termasuk malam ini. Dengan sabar wanita itu memeriksa beberapa orang pasien yang tengah diobservasi di Instalasi Gawat Darurat tempatnya bertugas sekarang. Namun Kurapika tak menyangka...dia akan bertemu seorang pasien yang tak pernah dia sangka sebelumnya.
"Pasien seorang pria berumur 28 tahun, Kuroro Lucifer, bahunya ditembak. Sejauh ini tak ada riwayat penyakit kronis dan alergi obat tertentu," kata seorang perawat ketika menghampiri Kurapika.
Kurapika terpaku seketika. 'Kuroro? Kuroro katanya?'
"Dokter Lucca? Anda baik-baik saja?"
Kurapika segera tersadar dari rasa terkejutnya. "Y-ya, tentu saja," jawabnya cepat. "Baiklah, segera lakukan pemeriksaan awal dan siapkan semuanya."
Kurapika merasakan jantungnya berdegup kencang. Dan dia pun melihatnya. Kulit yang putih pucat itu...rambut hitam itu...
Lalu mata hitam Sang Lucifer, bertemu pandang dengan mata biru Kurapika Clementine.
'D-dia! Memang benar dia!'
Tangan Kurapika gemetar saat memeriksa kondisi Kuroro, dia berusaha menahan emosinya...sementara Kuroro berusaha menahan luapan kerinduan yang dipendamnya selama ini.
"Kenapa kau tidak membalas orang yang menembakmu?" Kurapika tiba-tiba bertanya.
Kuroro menjawab dengan tenang, seolah lukanya tidak terasa sakit sedikit pun, "Dokter, orang yang membunuhku itu...adalah salah seorang dari masa lalu keluargaku. Jika aku membalasnya, sama saja dengan menimbulkan pembalasan yang tiada akhir..."
Hal itu membuat Kurapika tersentak seketika. Merasa tak nyaman dengan tatapan yang diarahkan Kuroro padanya, dia langsung pergi ke ruang jaga setelah selesai melakukan pemeriksaan. Sementara itu, Kuroro mengepal erat kedua tangannya. Matanya yang hitam menatap kosong ke langit-langit.
'Kurapika...Akhirnya, setelah beberapa tahun berlalu...'
Tentu saja Kuroro sudah mengetahui kemungkinan ini sejak diberitahukan bahwa dirinya akan dibawa ke Rumah Sakit Elysia, karena sebelumnya dia sudah mengetahui Kurapika bekerja sebagai salah seorang dokter umum di sana.
Luka tembak yang mengenai bahu Kuroro cukup dalam, dia pun harus menjalani operasi agar dokter bedah bisa mengeluarkan peluru yang bersarang di tubuhnya. Kurapika dilanda dilema. Dia bisa saja membunuh Kuroro dengan menggunakan kemampuannya sebagai dokter. Jalan pintas ini...sangat membuatnya tergoda.
'Tapi aku tak mau membuat pembalasan ini menjadi begitu mudah baginya,' batin Kurapika. 'Lagipula...kini dia mengenalku sebagai Arianna Lucca.'
Sebuah seringai jahat nampak di wajahnya. Sepertinya dia sudah membuat keputusan...dan rencana tentu saja.
Sementara itu, Shalnark segera menemui Kuroro setelah pria itu siuman dari obat bius yang diberikan padanya sebelum operasi dimulai.
"Shalnark...kau melihatnya, 'kan?" bisik Kuroro sambil menoleh padanya.
Shalnark tersenyum. "Ya, Danchou. Aku melihatnya."
'Tentu saja aku melihat wanita itu...Kurapika Clementine, alias dr. Arianna Lucca,' ucapnya dalam hati. 'Danchou, sesungguhnya aku punya firasat buruk tentangnya. Aku melihat tatapannya sekilas sedikit berbeda saat melihatmu.'
"Shalnark," tiba-tiba Kuroro bicara lagi.
"Ya, Danchou?"
"Ada yang belum aku katakan padamu...Dia, sudah mengingat semuanya."
"A-apa?!"
"Ya, Shalnark...semuanya."
Merupakan keberuntungan bagi Kurapika, karena dokter bedah yang mengoperasi Kuroro menunjuk dirinya untuk mendampingi setiap kali dia mengunjungi pria itu untuk memeriksa perkembangan kondisinya. Selama itu pula, Kurapika sengaja melakukan pendekatan—sesuatu yang belum pernah dia lakukan sebelumnya—pada Kuroro.
Kurapika sering memergoki Kuroro tengah menatapnya, lalu dia pun membalas dengan senyuman yang menggoda. Hal itu terus berlangsung di hari kelima, di mana Kuroro sudah diijinkan pulang.
"Kau pasti senang sekali, Tuan Lucifer," ucap Kurapika sambil memasang stetoskop di telinganya.
Kuroro hanya menjawabnya dengan sebuah senyuman. Dia membuka beberapa kancing atas kemejanya lalu membiarkan Kurapika memeriksanya. Mata Kuroro terpejam sesaat ketika merasakan tangan halus wanita itu menyentuh kulitnya. Ketika tangan Kurapika terangkat dari sana, tanpa sadar dia meraihnya.
"Tuan?" tanya Kurapika heran. 'Laki-laki ini! Dia mau apa?! Tidak mungkin penyamaranku terbongkar!'
"Arianna...," Kuroro memanggil, baru kali ini dia memanggil nama baru Kurapika tanpa sebutan 'dokter'. Dia menatap mata biru wanita itu—dengan tatapan yang penuh dengan kerinduan.
Kurapika segera menenangkan diri, menyembunyikan fakta bahwa sesungguhnya dia tengah berpikir keras. Tapi kemudian dia menyadari bahwa ini adalah salah satu kesempatan untuk menjalankan rencananya.
"Tuan Lucifer...alasan apa tepatnya, yang membuatmu memegangi tanganku dengan begitu erat dan langsung memanggil nama depanku?" tanya Kurapika sambil tertawa kecil.
Kuroro menjawabnya dalam hati, 'Betapa aku rindu padamu...Aku ingin memeluk dan menciummu...'
"Aku menyukai sentuhanmu," Kuroro berterus-terang.
Kurapika menaikkan sebelah alisnya heran, namun dia tidak terlihat terkejut. "Maksudmu...sentuhanku saat memeriksamu tadi?" dia bertanya lagi dengan suara yang dipelankan hingga terdengar lebih menggoda, sambil menelusuri dada bidang Kuroro dengan ujung jarinya yang lentik.
Kuroro mulai merasa terangsang, namun dia berusaha mengatur napasnya. Perlahan sebelah tangannya membelai rambut Kurapika, membuat wanita itu sedikit membungkukkan badannya hingga jarak di antara mereka menjadi lebih dekat.
"Arianna...artinya suci...Apakah benar kau memang wanita yang suci?" bisik Kuroro mesra.
Kurapika tersenyum. "Kata itu memiliki dua penafsiran. Untuk penafsiran pertama, oh kau terlalu tinggi menilaiku, Tuan Lucifer. Aku wanita yang jahat..."
'Karena aku tengah melaksanakan balas dendamku padamu,' dia melanjutkan ucapannya dalam hati. Lalu Kurapika pun bicara lagi, "Dan untuk penafsiran yang kedua...," dia mendekatkan wajahnya, menatap mata hitam Kuroro. Wangi tubuhnya membuat Kuroro semakin tergoda dan tak bisa menahan diri. "Aku sama sekali tidak suci...Seseorang sudah mengambil kesucianku—entah kapan. Apakah itu mengecewakanmu...?"
"Tidak. Berpengalaman...aku suka," jawab Kuroro sambil menarik kepala wanita itu dan mencium bibirnya dengan penuh gairah.
Kuroro meresapi rasa yang terakhir dia rasakan sekitar enam tahun yang lalu. Dia memutuskan untuk melampiaskan gejolak gairah dan rasa rindunya. Kuroro melepaskan jas putih yang dikenakan Kurapika, lalu melepaskan ciumannya sebentar dan memberi isyarat pada wanita itu untuk berbaring di sampingnya.
"Tuan Lucifer, ada dua hal yang harus kita khawatirkan," ucap Kurapika setelah berada di samping Kuroro dan memalingkan wajahnya memberi keleluasaan bagi pria itu untuk menciumi lehernya. "Lukamu dan...pintu kamar ini."
Kuroro terkekeh pelan di antara ciumannya. "Daripada itu, aku lebih risau dengan penghalang yang masih ada di antara kita..."
Tentu saja Kurapika mengerti apa maksudnya.
'Entah sudah berapa orang wanita yang kau tiduri semudah ini sejak aku pergi,' dia berkata dalam hati sambil membantu Kuroro melepaskan sisa kancing kemejanya yang belum terbuka. Entah kenapa, ada sedikit rasa sakit di hati Kurapika saat itu.
Kuroro tak mau diam saja. Dia ingin mendominasi kegiatan mereka ini, maka dia pun melanjutkan tindakannya...namun pikirannya berbeda dengan yang dipikirkan Kurapika...
'Oh Kurapika...Aku merindukanmu...Aku...mencintaimu...'
Kuroro dan Kurapika saling memeluk sambil mengatur napas.
"Adakah kesempatan bagi kita untuk bisa bertemu lagi?" tanya Kuroro sambil menghirup aroma wangi rambut wanita itu—wangi yang sama yang dikenalnya dulu, walau gaya dan warnanya kini berbeda.
Kurapika menatap dada bidang Kuroro yang ada di hadapannya. "Kurasa...lebih baik kita biarkan takdir yang menjawabnya."
Tak ada tanggapan. Kurapika pun mendongak, dan tertawa pelan ketika melihat raut wajah Kuroro yang nampak tak setuju dengan jawabannya yang tak pasti.
"Tapi...aku akan memberikan jalan untuk itu," lanjutnya. Dia mengangkat tubuhnya sedikit dan meraih selembar tissue beserta pulpen yang ada di meja kecil di samping tempat tidur, lalu menuliskan nomor ponselnya.
Tindakannya membuat Kuroro tersenyum. "Bagus," jawabnya sambil mengecup bibir wanita itu.
Setelah keduanya siap, Kuroro pun meninggalkan rumah sakit dan Kurapika kembali ke ruang jaga dokter. Perasaannya berkecamuk. Rasa sakit hati, marah dan jijik bercampur menjadi satu. Apakah dia benar-benar memberikan nomor ponselnya pada Kuroro? Ya, tentu saja. Namun Kurapika mematikan salah satu ponselnya yang menggunakan nomor itu dan meninggalkannya begitu saja di dalam laci.
'Kau sudah masuk dalam jebakanku,' batinnya, tanpa mengetahui bahwa Kuroro sudah mengenalinya sebagai Kurapika Clementine.
Kurapika baru menyalakan ponselnya kembali tiga hari kemudian, setelah dia menenangkan diri dalam masa liburnya selama tiga hari itu. Kurapika sempat emosi kembali saat berada di rumah sakit. Tiba-tiba saja kemarahannya memuncak saat melihat papan nama dirinya yang terletak di atas meja. Kurapika melemparkan gelas ke dinding hingga pecah berantakan dan salah satu pecahannya ada yang melukai betisnya.
'Gara-gara Kuroro Lucifer...aku tak bisa lagi kembali menjadi Kurapika Clementine,' pikirnya dalam hati. 'Tidak bisa...sebelum dia mati tentu saja.'
Lalu pukul empat pagi keesokan harinya, Kuroro meneleponnya.
"Merindukanku, Tuan Lucifer?" ia bertanya dengan suara yang menggoda, suara yang mampu membangkitkan khayalan terlarang di benak setiap lelaki.
"Waktu itu kau tidak menjawab teleponku, dan beberapa hari belakangan ini ponselmu tidak aktif," jawab suara yang berada di seberang sana.
"Lalu adakah yang bisa kubantu hingga kau harus membangunkanku sepagi ini? Tak bisakah kau menunggu hingga matahari menampakkan wujudnya?"
"Tidak."
Kurapika tertawa pelan mendengar jawaban itu, suara tawa yang terdengar merdu laksana senandung bidadari dan begitu nyaman didengar.
"Hm...jadi sekarang dirimu menjadi posesif, Tuan Lucifer?"
Percakapan terhenti sejenak. Kurapika membayangkan apa yang tengah dilakukan oleh pria itu.
"Begitulah," akhirnya Kuroro menjawab. "Di mana kau selama menghilang kemarin? Bersama siapa? Dan jangan katakan kau ada di rumah sakit karena aku sudah memeriksanya."
"Oh? Aku benar-benar tak suka jika ada orang yang menguntitku. Lagipula kurasa kau tak memiliki hak apapun atas diriku."
Kali ini suara Kurapika terdengar tegas, menimbulkan spekulasi di benak Kuroro. Mungkin dia tengah menyesali kata-katanya barusan, dan mengira-ngira apa yang harus dikatakannya kemudian. Ah, betapa Kurapika menikmati percakapan ini!
Ketika keheningan kembali terjadi, Kurapika pun bicara lagi, "Aku berlibur sebentar...hanya itu. Dan tak ada yang menemaniku. Tuan Lucifer, apakah kau mencariku karena masih teringat akan pengalaman kita hari itu, ketika kau akan pulang dari rumah sakit...pengalaman yang begitu intim dan rahasia..."
Kuroro menghela napas. Kurapika berani bertaruh, pria itu pasti sudah mulai tergoda dengan topik yang ia ajukan.
"Kau cantik, berani dan menakjubkan...Aku tak mungkin melupakan hari itu."
'Jadi kau tak bisa melupakan rasa-ku...yang kaurasakan melalu tubuhku waktu itu?'
Kurapika membaringkan tubuhnya dengan ponsel tak bergeser sedikit pun dari telinganya.
"Dengarkan aku baik-baik, Tuan Lucifer...Aku akan mengatakan sesuatu yang mungkin begitu lancang karena melewati batas di antara kita sebagai dua orang yang sebenarnya tidak begitu saling mengenal."
"Katakanlah," jawab Kuroro tak sabar.
"Apakah terlalu dini jika aku mengatakan bahwa kau adalah yang satu-satunya bagiku?"
Kuroro tak bisa menahan diri untuk tak tertawa. Kurapika hanya tersenyum mendengarnya.
"Yang satu-satunya, hah?" ulang pria itu.
"Ya...di saat ini tentu saja, karena aku tak melakukannya dengan siapapun lagi sejak saat itu aku kehilangan kesucianku."
"Apa kau sedang menggodaku?"
"Bukankah itu sudah jelas?"
Suasana hening kembali.
"Hei, Dear My Only One...apakah kau masih ada di sana?" tanya Kurapika heran. Dia menahan segala rasa marah dan jijik ketika menyebutkan panggilan itu.
"Selalu," jawab Kuroro pendek.
"Eh? Maksudmu?"
"Aku akan selalu ada untukmu, Dokter Arianna Lucca."
Kali ini suara Kuroro pun terdengar begitu menggoda. Kurapika menghela napas, menimbulkan suara desahan yang terdengar di telepon. Kuroro pun menarik napas tertahan...menandai gairahnya yang semakin memuncak.
'Aku hanya sekedar menikmati kegiatan kita itu, Kuroro. Menikmatinya dengan seseorang...yang sayangnya memang benar hanya dirimu. Hanya bersamamu aku pernah melakukannya. Aku akan melakukan apapun demi tujuanku.'
"Aku ingin bertemu denganmu berdua saja...dan berbicara," Kuroro berkata membuyarkan lamunan Kurapika.
Kurapika menaikkan sebelah alis matanya heran. Apa maksudnya? Apakah benar pengaruhnya bekerja secepat itu? Tapi...yah, memang itulah yang diharapkan Kurapika dari permainan tarik ulur yang akan dia menangkan sebentar lagi.
"Aku ingin kau selalu bersamaku."
Kurapika tersenyum lebar mendengarnya. Itu yang dia tunggu-tunggu! Sebuah pernyataan yang menunjukkan sifat posesif. Kelemahan seorang Kuroro Lucifer.
Kebanyakan orang posesif menganggap bahwa pasangannyalah yang jatuh ke dalam jebakannya, tapi sebenarnya dia sendirilah yang terjebak dalam cinta yang begitu menguasai hati dan pikirannya.
"Kau membuatku merasa sangat tersanjung, Tuan Lucifer," ucap Kurapika. "Tapi kau tahu sendiri, aku tak bisa...Aku seorang dokter yang bekerja di rumah sakit dan harus siap kapan pun juga."
"Aku akan membereskan masalah itu. Akan kujelaskan lebih lanjut ketika kita bertemu nanti," Kuroro memaksa.
"Aah...jadi kau sudah menyusun rencana tertentu, yang bisa membuatku selalu berada dalam pelukanmu, menjadikanku satu-satunya orang yang bisa menikmati dirimu dalam kondisi yang murni dan polos..."
"Ya, hingga kita berdua merasa puas. Bagaimana?"
Kurapika merasakan adanya perbedaan dalam nada suara Kuroro. Sepertinya dia sudah hampir mencapai batasnya, entah apa yang terjadi jika pria itu tiba-tiba muncul di hadapannya sekarang.
"Aku cukup terkejut kau tidak mencari tahu alamatku dan datang ke rumahku," tanya Kurapika sambil menyembunyikan rasa penasarannya. Memang benar, dengan segala kekuasaan yang dimiliki pria itu sebenarnya dia bisa mendapatkan hampir semua informasi yang dia inginkan.
"Aku ingin melakukannya dengan pantas," Kuroro menjawab. "Walaupun ketertarikan...dan gairah, jauh lebih mudah daripada apa yang disebut dengan cinta."
"Apa kau mencoba untuk menjadi lebih melankolis, Tuan Lucifer?"
Kurapika tertawa lagi.
"Terima saja ajakanku ini...Arianna."
Percakapan mereka berlanjut, hingga berakhir tak lama kemudian. Kurapika beranjak mengangkat tubuhnya dan turun dari tempat tidur. Ia melangkah ke depan meja rias...menatap bayangan dirinya yang memantul di cermin.
Jemarinya menelusuri helaian rambut merah yang dahulu berwarna pirang. Dan ia tersenyum. Sebuah senyum yang licik.
"Tolong antar aku ke toko mainan yang biasa hari ini," ucap Kuroro sambil menikmati sarapannya, pada pria berkacamata yang berdiri di sampingnya. Dia adalah Leorio Paladiknight, yang menggantikan posisi Nobunaga tak lama setelah pria itu tewas. "Tadi pagi-pagi sekali Biscuit meneleponku, menanyakan kenapa aku belum juga datang untuk berlibur bersama dengannya. Aku ingin membawakannya sesuatu sebagai permohonan maaf."
"Baiklah, Danchou," Leorio menyanggupi.
"Dan kosongkan jadwalku untuk besok. Aku ada pertemuan pribadi dengan Arianna."
Sebuah seringai nakal muncul di wajah Leorio. Dia tak mengetahui masa lalu Kuroro dan wanita itu, namun dia tahu bahwa Kuroro tertarik padanya.
"Jangan menyeringai terlalu lebar, Leorio. Kau mau otot wajahmu tidak kembali ke tempatnya semula?" Kuroro berkata tanpa menoleh.
"Tentu saja itu tidak mungkin," jawab Leorio sambil cemberut. Tapi kemudian dia melirik majikannya lagi. "Apa kau mau aku menyiapkan yang lainnya, Danchou? Mungkin sesuatu yang romantis, atau—"
"Hotel Parthenia. Itu saja."
Setelah mengatakan hal itu, Kuroro beranjak dari kursinya. Sebentar terngiang di benaknya saat dia membawa Kurapika ke hotel itu untuk pertama kalinya. Yaitu di malam yang sama ketika Kuroro membunuh pasangan suami istri Clementine, orangtua Kurapika.
"PEMBUNUH! KAU SUDAH MEMBUNUH ORANGTUAKU!"
Hotel Parthenia...
Kurapika turun dari taksi. Dengan raut wajah tegang dia mendongak menatap bangunan bertingkat yang mewah itu.
'Kenapa dia memilih tempat ini? Apa dia selalu meniduri semua wanita di sini?! Tempat ini...sesungguhnya aku tak mau lagi menginjakkan kakiku ke sini,' batinnya.
Namun Kurapika tak punya pilihan lain. Dia tak mau membuat Kuroro curiga jika dirinya terlalu bersikeras untuk tidak mau bertemu di hotel itu. Sebelum masuk, Kurapika menarik napas dalam-dalam lalu menghembuskannya perlahan. Dia berusaha mengabaikan kenangan buruk masa lalu ketika Kuroro memerkosanya di sana.
Kurapika melangkah ke dalam restoran, memasang senyuman palsu saat melihat pria itu sudah duduk menantinya. Kurapika bisa melihat...mata Kuroro yang mengagumi penampilannya. Dia mengenakan gaun hitam di atas lutut dengan kerah halterneck, memperlihatkan punggungnya yang putih dan sedikit belahan dadanya. Kuroro pun mengenakan setelan jas hitam dengan dalaman kemeja yang beberapa kancing atasnya sengaja tidak dipasangkan, membuatnya semakin terlihat tampan dan gagah.
"Parthenia...artinya perawan dalam bahasa Yunani," komentar Kurapika tiba-tiba sambil menelusuri pinggiran gelas anggur merahnya dengan ujung jari. Lalu matanya memandang ke arah Kuroro. "Sebenarnya aku tidak cocok untuk berada di sini."
Kuroro tertawa pelan. "Ayolah...itu hanya sebuah nama, Arianna."
"Siapa tahu nama itu memang pernah memiliki arti khusus bagimu?"
Kuroro membalas tatapan Kurapika. Dia melihat keseriusan di mata wanita itu. 'Kurapika...kau membicarakan tentang saat itu, bukan?' ia bertanya dalam hati. Tak ingin membicarakan hal itu sekarang, Kuroro meraih tangan Kurapika...menggenggam tangan itu sambil membelainya dengan ibu jarinya. "Jadi...maukah kau menerima tawaranku?"
"Sebenarnya aku tak suka dikekang..."
"Dengar, aku akan memberikanmu apapun...asalkan kau mau menjadi dokter pribadiku. Tentu saja tugasmu ini mengharuskan kau untuk sering bersamaku."
'Aku tak ingin kau memeriksa orang lain selain aku dan Biscuit...Kau hanya milikku, Kurapika...'
Kurapika terdiam. Dia menatap Kuroro dan terkejut ketika melihat keseriusan di mata itu. Wanita itu sedikit merasa aneh...Apakah dia begitu posesif sampai-sampai ingin memiliki Kurapika untuknya sendiri? Tanpa sadar Kurapika berusaha mengingat kembali ketika dia masih tinggal bersama Kuroro di mansion Keluarga Lucifer.
Ya. Tentu saja. Kuroro memang orang yang posesif.
"Baiklah," akhirnya Kurapika menjawab.
Sebenarnya Kuroro sudah menduga jawaban itu, karena dia yakin Kurapika mau melakukannya untuk membalas dendam padanya.
'Strategi apa yang akan kaugunakan padaku, Kurapika Sayang?' Kuroro bertanya-tanya dalam hati.
Setelah selesai makan malam, Kuroro mengajak Kurapika ke kamar President Suite hotel itu, yaitu kamar yang sama di mana dia membawa Kurapika dulu. Kurapika seketika terpaku ketika melangkah masuk ke dalamnya.
Tiba-tiba Kuroro memeluknya dari belakang, dan mulai menciumi punggungnya.
"Dulu...aku pernah membawa seorang gadis ke sini," dia tiba-tiba mengaku, membuat Kurapika tersentak. "Dia memiliki rambut pirang dan mata biru yang sewarna dengan matamu."
"Kau menikmatinya?" tanya Kurapika dingin. Kedua tangannya mengepal erat, mengingat malam terkutuk itu.
Kuroro melangkah ke hadapan Kurapika dan menatapnya. "Saat itu mungkin iya, tapi kemudian aku menyesalinya. Aku menyesal...kenapa hal itu harus terjadi dengan cara yang tidak pantas. Karena itu, aku tak akan mengulangi kesalahanku kali ini."
Tanpa aba-aba sebelumnya, Kuroro langsung mencium bibir Kurapika dengan ganas. Sebelah tangannya membelai punggung wanita itu dan sebelah tangannya lagi mulai menggerayangi paha Kurapika hingga gaun yang dikenakannya mulai tersibak.
"Aku menginginkanmu...Arianna..."
'Kurapika...aku selalu menginginkanmu...'
Kuroro memerintahkan beberapa orang anak buahnya untuk membantu Kurapika pindah ke mansion Keluarga Lucifer. Tentu saja sebelumnya mereka sudah melepaskan semua foto-foto Biscuit yang terpajang di dalamnya. Kuroro berpikir, sekarang bukan saat yang tepat bagi Kurapika untuk mengetahui tentang putri mereka.
'Aku yang telah menyebabkan rasa dendam itu,' ucapnya dalam hati. 'Dan aku akan bertanggungjawab untuk mencoba menghilangkannya.'
Kurapika memeriksa kembali pakaian dan sedikit barang-barang yang ia bawa, dan kadang membetulkan letak penyimpanannya.
"Maaf Nona Lucca, Danchou ingin bicara dengan Anda," kata Shalnark sambil memberikan ponselnya pada Kurapika. Kuroro tengah pergi selama beberapa hari ke pulau pribadinya, di mana Biscuit sudah pergi lebih dulu untuk berlibur di sana.
"Kau menyukai kamarmu?" terdengar suara Kuroro di seberang sana.
Kurapika mengalihkan pandangannya sekilas ke kamar yang luas, nyaman dan mewah itu. Itu adalah kamar yang pernah ditempatinya dulu namun anak buah Kuroro sudah menatanya ulang. "Ya, aku menyukainya," jawabnya singkat. "Kapan kau akan mencoba kamar ini bersamaku, Tuan Lucifer?"
"Hm...sekarang kau yang menjadi tidak sabaran rupanya?" Kuroro terkekeh. "Sebentar lagi...aku akan kembali."
Sebuah email kembali dilayangkan oleh Kurapika kepada Pangeran Bintang Jatuh-nya sore itu...
Pangeranku, aku sudah melakukan suatu langkah yang besar. Aku mengorbankan hidupku...semuanya. Jika pada suatu hari nanti aku tak menghubungimu kembali, itu artinya aku sudah tak pantas lagi. Ketahuilah bahwa aku sangat berterimakasih padamu...Aku mencintaimu. Maafkan aku.
Salam,
Arianna Lucca
Kurapika menatap apa yang telah dia tulis lalu memencet 'send'. Ya, sejak mengenal orang itu, dia seperti gadis kecil yang jatuh cinta pada sosok pangeran di dalam dongeng. Apa yang dilakukan Kurapika saat ini membuat hatinya sakit...seperti sebuah pengkhianatan, dan rasa kehilangan akan harapan baru yang diberikan Pangeran Bintang Jatuh padanya.
Wanita itu berkedip ketika balasannya datang dengan cepat, hanya berselang beberapa menit kemudian. Isinya untaian kalimat yang singkat...
Ketahuilah bahwa aku pun mencintaimu...Semoga kau bisa memaafkanku suatu hari nanti. Aku akan menunggu saat itu tiba.
Salam,
Bintang Jatuh
Kurapika terheran-heran, 'Maaf? Pangeranku, memangnya kau melakukan apa hingga harus meminta maaf padaku?'
Kuroro kembali beberapa hari kemudian...dan semuanya terasa agak berbeda bagi Kurapika. Selain rasa posesif, Kurapika pun merasakan apa yang biasa disebut dengan perhatian dan kasih sayang. Sesekali, dia merasa seperti kembali ke masa di mana dia tengah mengandung...dan Kuroro memberinya perhatian lebih. Namun rasa bencinya pada Kuroro membuatnya tak bisa merasakannya saat itu.
"Lucifer...," desah Kurapika ketika Kuroro mulai menyentuhnya.
Kuroro menghentikan tindakannya. Dia memegangi wajah wanita itu dengan kedua tangannya, lalu menatapnya lembut. "Kuroro...panggil aku Kuroro..."
Tanpa sadar, sejak saat itu Kurapika mulai menikmati peranannya. Kadang kemarahannya tiba-tiba timbul...namun seolah Kuroro mengetahui apa yang tengah dia rasakan—dan pria itu memang benar-benar mengetahuinya—dia selalu menenangkan Kurapika. Menggenggam tangannya dan menatap mata Kurapika dengan lembut, memeluknya beberapa lama hingga Kurapika merasa tenang kembali.
Kurapika yang malang, menjebak Sang Lucifer ke dalam pesonanya, tanpa mengetahui bahwa dirinya pun terjebak dalam cinta pria itu yang selalu terjaga selama beberapa tahun lamanya.
"Tahukah kau apa artinya pengorbanan?" tanya Kurapika tiba-tiba. Saat ini dia tengah berada dalam pelukan Kuroro.
Dengan mata setengah terbuka karena aktivitas bercinta mereka yang baru saja usai, Kuroro tersenyum dan mengecup kening wanita itu. Dia memilih untuk tidak menjawabnya secara langsung, lalu berkata, "Gadis yang dulu pernah kukatakan padamu...Dia, membuka mataku tentang cinta dan arti hidup yang sebenarnya. Dia membuatku ingin mengorbankan semua kekuasaan yang dimiliki Keluarga Lucifer pada saat ayahku masih hidup."
"Benarkah kau membunuh Raito Lucifer?"
"Ya...kami tidak sependapat saat aku mengajaknya untuk meninggalkan dunia mafia. Dan saat itu aku pun mengetahui bahwa dia telah membunuh ibuku."
Kurapika langsung terdiam. Itu...adalah pengakuan Kuroro yang pertama kali dan mungkin yang terakhir pada orang di luar kelompoknya. Tiba-tiba dia merasakan pria itu memeluknya semakin erat...seperti rasa sedih yang telah lama dipendam. Tanpa sadar Kurapika membelai rambut hitam Kuroro perlahan.
"Aku kehilangan dia...," ucap Kuroro lagi tanpa memperlihatkan wajahnya.
"Ibumu?" tanya Kurapika.
"Tidak...melainkan gadis itu. Saat aku sudah membuat keputusan untuk menjadikannya milikku dalam ikatan yang tiada akhir...dia mencoba melarikan diri dariku."
"Maksudmu? Aku tidak mengerti—"
"Aku memutuskan untuk melamarnya...bahkan ketika hal itu terjadi, aku tengah membeli cincin kawin untukku dan dia."
Rasanya Kurapika tak percaya akan apa yang telah didengarnya. Dia pun tak bisa bicara apa-apa saat Kuroro memperlihatkan cincin yang ia beli untuk pernikahan dirinya dan Kurapika yang dulu dia rencanakan. Semua terlalu mengagetkan bagi Kurapika Clementine.
Merasa tak tahan, Kurapika segera beranjak setelah Kuroro tertidur. Dia berhenti sejenak di depan sebuah meja di kamar itu. Kurapika menoleh, ke arah laptop di sana yang berada dalam keadaan sleep. Entah apa yang membuat Kurapika merasa terdorong untuk melakukan apa yang dia lakukan kemudian. Kurapika menyalakan laptop itu kembali dan matanya langsung membelalak sempurna begitu melihat layarnya.
Folder inbox di dalam email milik Kuroro. Dan Kurapika mengenal email masuk di dalamnya. Itu adalah...semua email yang dia kirimkan untuk Pangeran Bintang Jatuh-nya.
Kurapika tersentak. Dia segera mematikan laptop itu dan dengan mata menerawang melangkah keluar dari kamar Kuroro. Kurapika segera bersandar di dinding koridor ketika tiba-tiba tubuhnya merasa lemas.
'Dia...Kuroro Lucifer...adalah Bintang Jatuh...,' batinnya. 'Dia tahu aku...'
Kurapika betul-betul merasa shock. Dia tak pernah tahu sebelumnya...bahwa orang yang dia benci adalah juga orang yang dia cintai selama ini.
"Papa, apakah Papa benar-benar tak bisa menjemputku?" terdengar suara manja Biscuit di dalam telepon.
"Iya, maafkan aku," jawab Kuroro lembut sambil melirik Kurapika yang tengah menuangkan champagne untuk mereka berdua. Dia tak ingin wanita itu mendengarnya. Tidak...sebelum kejutan yang ia persiapkan untuknya terlaksana.
"Ah! Pesawatnya sudah mau berangkat, Papa! Paman Leorio sudah memanggilku. Jangan sampai Mama tahu rencana kita, ya!"
Lalu telepon pun terputus. Kuroro duduk bersandar kembali di atas tempat tidurnya yang besar, namun matanya menampakkan sedikit rasa terkejut ketika melihat sesuatu yang tengah dilakukan Kurapika. Mungkin wanita itu tidak menyadari bahwa Kuroro menyaksikannya. Ketika Kurapika berbalik sambil membawakan dua gelas champagne sambil tersenyum, Kuroro sudah kembali ke ekspresinya yang biasa.
"Champagne? Apakah ada perayaan yang istimewa?" Kuroro bertanya. Dia menatap Kurapika yang melepaskan mantel tidurnya. Ketika wanita itu berbalik sebentar, dia menukar champagne miliknya dengan milik Kurapika.
Kurapika melangkah dan naik ke atas tempat tidur lalu duduk di samping Kuroro. Sedikit demi sedikit Kurapika meminum champagne-nya, begitu pula halnya dengan Kuroro.
"Kau terlihat berbeda, apa yang membuatmu sedih?" tanya Kurapika sambil membelai pipi pria yang tampan itu. Sejak mengetahui bahwa Kuroro adalah Bintang Jatuh, Kurapika bersikap seolah dia belum tahu apa-apa.
Kuroro tersenyum. Matanya yang gelap menatap sendu mata biru Kurapika.
"Aku mencintaimu...," ucapnya tiba-tiba.
Kurapika terkejut, dia pun terlihat salah tingkah. "T-Tidak...Kuroro, jangan bicara yang bukan-bukan...Kau tahu aku tidak begitu menyukai rayuan."
"Aku sungguh mencintaimu..."
Kuroro mendekatkan wajahnya ke wajah Kurapika yang masih terdiam karena kaget, lalu melumat bibirnya dengan mesra. Kegiatan intim mereka saat itu terasa berbeda...lembut dan penuh cinta, laksana sepasang kekasih yang telah lama terpisah dan saling melepaskan kerinduan. Kurapika pun menikmatinya walau dia merasa heran akan sesuatu.
'Racun itu...kenapa belum bereaksi juga? Padahal aku sudah meminum semua champagne di dalam gelasku...' pikirnya.
Tiba-tiba Kurapika mendengar suara tersedak yang berasal dari Kuroro. Pria itu langsung berbaring, raut wajahnya mengejang seperti tercekik.
Saat itulah...Kurapika menyadarinya.
"Oh tidak! Kuroro! Kenapa begini?! Kenapa aku bisa salah?!" pekik Kurapika panik sambil memandangi Kuroro dengan ngeri. Dia mengira, dia salah memberikan champagne miliknya yang sudah dibubuhi racun kepada Kuroro.
Kuroro terbatuk keras, dia menggelengkan kepalanya pelan. "Aku...cinta..." Sebelah tangannya terulur, menyentuh wajah Kurapika. "Kurapika...maaf..."
"K-Kau...Kau melihatnya?! Kau melihatku membubuhkan racun itu lalu menukarnya secara diam-diam?! BODOH!"
Kurapika meraih telepon di samping tempat tidur, bermaksud untuk mencari bantuan namun Kuroro segera menariknya hingga gagang telepon yang dipegangnya terjatuh.
"Jangan...diamlah...," Kuroro berkata dengan susah payah.
"SHALNARK...! SIAPAPUN, CEPAT KE SINI!"
Kurapika berteriak, air mata mulai menetes membasahi pipinya. Dia merasakannya kali ini. Dia tak mau berpisah dengan Kuroro Lucifer, pria yang sesungguhnya dia cintai.
"Biscuit...Mademoiselle-ku...jaga dia..."
"Biscuit?! Siapa yang kaubicarakan?! Diamlah! Jangan buang tenagamu!"
"Biscuit...Putri kita, Kurapika..."
Kurapika terperangah mendengarnya. Putrinya masih hidup! Rasanya sulit untuk dipercaya.
"Berbahagialah..."
Kuroro terbatuk lagi, dan langsung memejamkan matanya. Dia menyadari dilema yang dialami Kurapika akhir-akhir ini. Antara cinta...dan ambisinya untuk membalas dendam atas kematian kedua orangtuanya. Kuroro merasa sakit melihat semua itu. Maka ketika Kuroro mengetahui bahwa Kurapika berencana untuk mengakhiri hidupnya, dia memutuskan untuk menggantikan posisi Kurapika. Dia mengira, kematiannya akan mempermudah Kurapika untuk melanjutkan hidupnya.
"Kuroro...?" tanya Kurapika lirih sambil mengguncang tubuh pria itu pelan.
Tiba-tiba pintu kamar terbuka. Masuklah seorang gadis kecil dengan rambutnya yang berwarna coklat muda dan mata biru laksana samudera. Dia mendekap sebuah album foto yang cukup besar. Dengan langkah malu-malu, gadis itu melangkah menghampiri tempat tidur.
"Mama, aku Biscuit Lucifer...putrimu," ucapnya dengan mata berbinar-binar. Dia melirik Kuroro yang tak bergerak sedikitpun. "Papa masih tidur, Mama?"
Kurapika membalik album foto yang dibawa Biscuit, halaman demi halaman. Semua ada di sana. Foto Biscuit ketika bayi, sejak saat dilahirkan hingga ulangtahunnya yang ketujuh. Banyak pula foto-foto Kurapika di sana...foto-foto yang pernah dikirimkan Kurapika kepada Pangeran Bintang Jatuh-nya, lalu foto yang entah berasal dari mana.
"Papa sering memberiku foto Mama...dan mengumpulkannya di album ini. Papa bilang, ketika saatnya sudah tiba nanti...aku bisa bertemu denganmu..."
Ucapan Biscuit beberapa saat lalu—sebelum akhirnya gadis kecil itu tertidur—kembali terngiang di benak Kurapika. Kurapika segera menutup album itu, lalu memandang ke arah tempat tidur yang berada di hadapannya...dengan sosok pria berambut hitam di atasnya.
Saat ini, dia dan Biscuit beserta beberapa orang anak buah Kuroro tengah berada di rumah sakit. Kurapika sempat memberikan pertolongan pertama lalu segera meminta mereka untuk membawa Kuroro ke sini.
Kurapika menoleh, menatap Biscuit yang tengah tertidur di sofa di mana ia pun sedang duduk. 'Kuroro, kau benar-benar harus menjelaskan semuanya padaku,' ucapnya dalam hati. Dia langsung menoleh ketika mendengar suara erangan dari arah tempat tidur. Dia tersenyum...lalu beranjak menghampirinya, menatap mata Sang Lucifer yang telah terbuka.
"Aku belum menjawab pernyataan cintamu...jadi jangan pergi sebelum aku mengatakannya," ucap Kurapika sambil menggenggam tangan Kuroro. Cincin kawin yang dulu dibeli Kuroro terpasang di jari manisnya, dan cincin yang sama terpasang pula di jari manis Kuroro. Kuroro sedikit terkejut. Dia tersenyum...pasti Kurapika yang sudah memasangkan cincin itu ketika dia belum sadar tadi.
"Setelah aku mendengarnya, kau akan mengijinkanku pergi?" tanya Kuroro pelan.
"Tidak sebelum kau menikahiku, lalu membahagiakanku dan Biscuit...hingga takdir memisahkan kita."
"Aku terima syaratmu, Nyonya Lucifer..."
Kurapika mendekatkan wajahnya, menempelkan dahinya ke dahi pria itu. "Aku mencintaimu..."
Pernyataan itu diakhiri dengan sebuah ciuman lembut, yang kali ini terasa tanpa beban.
"For those who had found happines, please flourish it with love
Do not let it escape your hands
And for those who haven't found happiness, do not give up
We all deserve happiness"
-by Angel of True Hope
THE END
A/N :
Gyaaaaa...akhirnya selesai juga xD
Terimakasih untuk Sends yang udah bantu aku publish chapter terakhir ini...and happy birthday for you x3
Untuk semua readers and reviewers, makasih juga yaaaa
Ini balasan review chapter lalu :
Nekomata Angel of Darkness :
Ga dong...nie aku jadiin happy ending xD
Whatt? Masalahnya Kuroro yang ga mau ditangkap olehmu =='
Hidupnya tak kuakhiri, aku hanya 'hampir' mengakhirinya saja...HAHAHAHA! XD
Hana-1empty flower :
Scene wedding ga aku sertakan di sini...udah kepanjangan ==a
Yang penting happy ending dan tetap KuroPika 'kan *wink*
Hana, ayo coba bkin KuroPika xD
HaeUKE :
Iya Kurapika beneran amnesia...dan yang jatuh itu pesawat yang dinaiki Mito. Kuroro ga mungkinlah...soalnya dia kan merahasiakan indentitasnya sebagai Bintang Jatuh *wink*
Natsu Hiru Chan :
Hahaha, makasih...Kuroro memang sengaja aku bkin jadi lebih mellow di sini, sementara Kurapika sebaliknya.
Udah terjawab 'kan, tentang rambut Kurapika yang berubah jadi warna merah dan endingnya? xD
Sampai jumpa pada karyaku yang lain! Aku berencana mau bikin SasuFemNaru...
.
Review please...^^
