High School
[ Falling in love is dying by the cupid's bow ]
Sasuke tidak pernah suka ditantang. Ia masih mengingat jelas bagaimana kalimat yang diucap Naruto dengan wajah penuh lebam, di atap sekolah mereka.
'Jika memang itu yang menurutmu benar, maka lakukan saja.'
Kalimat yang membuatnya tertawa sinis jika mengingat itu diucap hanya beberapa detik, tepat setelah si pirang menciumnya.
Menjijikkan.
Semua hal yang dilakukannya hari ini adalah jawaban dari kalimat tantangan itu, dan ia bangga pada dirinya sendiri karena telah membuktikan, jika memang inilah yang menurutnya benar. Tidak peduli meskipun harus menentang kedua orangtuanya, meninggalkan semua prestasinya di belakang, menunggu satu tahun setelahnya hanya untuk kembali bersekolah, atau harus beradaptasi dengan lingkungan baru.
Lihatlah dirinya yang sekarang, sangat hebat bukan? Ingin rasanya ia membuktikan kemenangan mutlak ini tepat di hadapan si brengsek—yang ternyata juga gay—itu, dengan senyum puas di bibir.
.
"Bagaimana sekolahmu?"
Sasuke menoleh saat Itachi yang baru saja duduk di atas sofanya malam itu, memulai topik pembicaraan setelah 6 bulan lamanya mereka tidak bertemu.
"Pertanyaan basa-basi seperti biasa," batin Sasuke. "Sama seperti biasa. Bagaimana denganmu di kantor?" balasnya berbasa-basi, tidak mau kalah.
"Hn."
Saat Itachi hanya menyahut dengan bergumam malas dan memilih untuk melihat notifikasi ponselnya, detik itu juga Sasuke merasa hari ini, dan tujuh hari berikutnya akan menjadi sangat buruk.
"Apa ayah dan ibu selalu memintamu untuk mengawasiku? Ini sudah tahun ketiga. Aku tahu mereka khawatir, tetapi kau datang setahun dua kali itu sangat berlebihan. Aku juga punya privasi di sini." Sasuke menyuarakan seluruh isi hatinya, menunjukkan pada Itachi jika sebenarnya juga tidak suka dengan kondisi seperti ini.
"Privasi? Apa itu kalimat yang diajarkan para gadis?" sahut Itachi memperhatikan wajah adiknya. "Katakan itu pada ayah dan ibu, jangan padaku. Apa kau lupa jika aku mendukung keputusanmu waktu itu? Mereka ikut membebaniku dengan tugas ini, meskipun merepotkan aku harus bertanggung jawab dengan apa yang kukatakan."
"Para gadis apa maksudmu?" Sasuke mengelak, memalingkan wajahnya ke arah televisi. Meskipun tahu ke mana arah kalimat yang diucap Itachi saat itu.
"Jika memang hobimu mengoleksi toiletries berwarna pink beraroma floral ..., aku bisa memakluminya."
Sasuke tidak lagi bisa menyembunyikan wajahnya yang merah bagaikan kepiting rebus. Kalimat Itachi menikamnya sangat tajam hingga ia tidak mampu lagi mengelak. Dalam hatinya ia merutuk karena lupa menyingkirkan seluruh benda asing—dengan warna, dan aroma yang menurutnya norak—itu dari dalam kamar mandi.
"Jangan mendengarkan pendapat para gadis terlalu sering, atau mereka akan membawamu ke tempat yang tidak seharusnya," ujar Itachi, bersandar pada punggung sofa sambil menghisap kuat batang rokok yang terselip di jari.
"Dia bukan kekasihku," sahut Sasuke cepat, "hanya karena dia meninggalkan benda miliknya di sini, bukan berarti dia kekasihku."
Hening. Untuk beberapa saat Itachi hanya diam, menatap datar ke arah adiknya yang menurutnya telah berubah hampir seratus delapan puluh derajat.
"Kau masih terlalu muda untuk itu," balas Itachi, menaikkan sebelah alis.
"Semua temanku melakukannya," sahut Sasuke tidak mau kalah.
"Jika tidak melakukannya maka kau akan dianggap tidak keren? Omong kosong, apa menurutmu itu menyenangkan? Kau merasa keren dengan cara seperti itu?"
"Jangan mengkritik hanya karena kau lebih tua dariku!" bentak Sasuke, "aku bosan selalu mendengarkan apa yang ayah dan ibu katakan! Sudah cukup aku tidak mau melakukannya lagi!"
"Aku paham hal seperti ini cepat atau lambat pasti menyerang remaja seusiamu, tetapi apa kau lupa apartemen ini milikku? Kau di sini karena aku tidak ingin kau tinggal di asrama, jika kau ingin melakukannya dengan gadis-gadis itu, lakukan saja di luar. Bahkan jika perlu, aku akan memberikanmu uang saku lebih banyak untuk uang hotel."
Mereka saling menatap untuk beberapa detik, lalu Sasuke kembali memalingkan wajahnya saat Itachi bangkit dari atas sofa.
"Ayo."
"Huh?" gumam Sasuke bingung saat Itachi berdiri tepat di hadapanya.
"Makan malam. Kau pasti lapar setelah mendengarkan celotehanku, bukan?" sahut Itachi balik bertanya.
Sasuke menundukkan wajahnya, malu. Tidak lagi merespon, dan menurut saat ditarik ke arah pintu. Itachi sangat rumit menurutnya, ia tidak pernah bisa membaca apa yang sebenarnya ada di dalam isi kepala kakaknya itu.
.
Para pelayan datang lagi, entah sudah keberapa kali mereka kembali dengan membawa beragam hidangan pesanan Itachi, dan Sasuke merasa ingin muntah.
Perutnya sudah terisi penuh, tidak ada lagi tempat kosong sekedar untuk makanan penutup, meskipun tomat segar dipotong dadu sebagai hiasan sorbet di hadapannya terlihat sangat menggiurkan.
"Kau mau ke mana?"
"Toilet," sahut Sasuke.
Wajahnya terlihat sedikit pucat saat ia membasuh tangan di wastafel. Makan adalah hal yang menyenangkan menurutnya, tetapi mengingat bagaimana Itachi memaksanya untuk terus makan dan makan, ia tidak lagi bisa membedakan jika itu bentuk 'perhatian' ataupun hukuman.
"Sial," batinnya.
Di dalam benaknya ia bertanya-tanya, 'apakah hari ini bisa menjadi lebih buruk lagi?' saat melangkah kembali ke meja di mana Itachi menunggu, lalu di detik berikutnya pertanyaan itu terjawab saat kedua sosok yang baru saja masuk melalui pintu utama, berpapasan dengannya.
"Sasuke?"
Sosok yang membuatnya uring-uringan setengah mati beberapa tahun yang lalu, kini berada tepat di hadapannya. Tidak ada yang berubah dari sosok itu, semuanya masih terlihat sama, karena itu ia bisa mengenalinya dengan mudah. Apa yang mereka lakukan di sini, jujur saja ia tidak tahu. Meskipun tidak menyangka hari ini tiba lebih cepat, ia siap untuk itu.
"Kalian rupanya? Lama tidak bertemu." Sasuke menatap balik, ke arah si pirang yang kini menatapnya bingung. Tidak ada emosi terlihat di wajahnya, dan ia bangga bisa melakukan hal itu.
Sai di sebelah Naruto hanya diam menyimak. Raut wajahnya tampak tidak senang saat Naruto menatap Sasuke begitu lekat.
"Kau ..., kau masih terlihat sama seperti dulu, Sasuke," ucap Naruto.
Sasuke tidak tahu mengapa Naruto terlihat seperti ingin menangis setelah mengucap kalimat yang menurutnya tidak penting, tetapi itu membuatnya senang karena faktanya si pirang tidak melupakannya sedikit pun. Ia memang seharusnya tidak dilupakan semudah itu, ia ingin menjadi memori terburuk yang pernah si pirang miliki agar bayang wajahnya tidak enyah secepat itu.
"Apa yang kau lakukan di sini?" Tersenyum tipis sambil berbasa-basi. Semua orang dewasa melakukannya, dan itu membuat mereka terlihat keren dalam menghadapi situasi apa pun. Ia beruntung meskipun terkadang Itachi menyebalkan, kakaknya yang satu itu selalu memberinya pelajaran berharga.
"Ini tahun ketiga, kami harus mencari di mana universitas terbaik." Sai menyela dari sebelah Naruto. Melangkahkan kakinya sedikit maju ke depan, terlihat seolah-olah itu hal 'natural' untuknya mengambil alih dan menjawab pertanyaan yang ditujukan untuk si pirang, seakan membuktikan secara tidak langsung jika mereka adalah satu.
Jika boleh jujur, Sasuke tidak menyukai hal itu.
"Sai benar," sahut Naruto, "aku di sini untuk melihat-lihat universitas terbaik, lalu ..., bagaimana denganmu?"
Sasuke tahu ini untuk kali pertama mereka bisa berbicara secara normal tanpa pukulan, cibiran, ataupun sindiran tentang masa lalu, karena itu lagi-lagi ia tertawa puas dalam hati melihat antusias yang diberikan Naruto untuknya.
"Aku memang di sini sejak beberapa tahun yang lalu," jelasnya menyombong, "tidak terasa waktu berjalan sangat cepat, huh? Tidak seperti kalian, aku masih harus menunggu satu tahun untuk mempersiapkan ujian kelulusan."
Naruto kembali memamerkan senyumnya yang lebar. Masih terlihat ingin berbicara lebih banyak, tetapi Sasuke lebih dulu memotongnya dengan paksa.
"Aku harus kembali. Senang bertemu lagi dengan kalian."
Pergi begitu saja tanpa menoleh. Sasuke senang bisa menghadapi semuanya dengan tenang, tetapi siapa yang menyangka jika baru saja beberapa kali melangkah, lengan kirinya ditarik dari arah belakang.
"Ah ..., aku," gumam Naruto, menatap ragu ke arah Sasuke yang kini balik menatapnya.
"Apa kau membutuhkan sesuatu?" Sasuke masih bertanya dengan nada sopan, meskipun tidak berhenti mencoba untuk membebaskan lengannya. Genggaman Naruto sangat erat dan itu mulai membuatnya gelisah.
Sai di belakang, lagi-lagi hanya diam. Mengamati dengan sorot matanya yang tajam setiap gerak-gerik yang mereka lakukan.
"Aku hanya ingin berbicara lebih banyak denganmu," sahut Naruto.
"Begitu rupanya, tetapi aku harus pergi. Seseorang menungguku di sana," ujar Sasuke, menolak. Lengan yang digenggam Naruto terasa panas, ia benci disentuh karena itu membuat jantungnya mulai berdetak lebih cepat, dan keringat dingin terasa memenuhi dahi serta pelipisnya.
"Sebentar saja?" Naruto memohon tampak putus asa, sama sekali tidak berniat untuk berpaling dari iris hitam itu.
Sasuke diam. Merasa ia tidak lagi bisa merespon, karena tahu akan kehilangan kontrol tubuhnya jika mengucap lebih banyak kata.
Cukup lama mereka saling menatap canggung, atmosfer di sekitar juga tidak mendukung. Bahkan keduanya tidak sadar saat sosok lainnya datang menghampiri dari arah belakang untuk memisahkan mereka.
"Maaf, tetapi adikku ini tidak suka dipaksa."
Itachi berdiri di sana. Selama beberapa detik saling bertukar tatapan sinis dengan Naruto dan Sai, lalu pergi begitu saja ke arah pintu.
Sasuke yang ditarik paksa tidak punya pilihan selain menurut. Ia senang karena terbebas dari si pirang. Meskipun begitu entah mengapa ia merasa ada yang kurang. Bahkan ia tidak lagi bisa menahan hasratnya untuk menoleh ke belakang.
"Kau kenal mereka?"
"Tidak," sahut Sasuke, tetapi apa yang ia ucapkan tidak sesuai dengan kalimat di dalam kepalanya.
"Anak-anak seperti mereka hanya bisa mencari keributan," ujar Itachi, "aku bukannya menganggapmu lemah, aku tahu kau lebih baik dari mereka, tetapi berkelahi di tempat seperti ini hanya akan menimbulkan masalah."
Sasuke hanya bergumam tidak jelas, entah setuju atau tidak atas pernyataan Itachi.
Semenjak bertemu dengan Naruto isi kepalanya menjadi aneh, semua hal yang dilakukannya bertentangan dengan apa yang sebenarnya ia inginkan. Ia sudah melakukan hal yang menurutnya sempurna tadi, lalu mengapa?
Mengapa ia ingin kembali ke tempat itu? Mengapa ia masih ingin melihat Naruto? Mengapa ia belum puas?!
Semua pertanyaan itu, Sasuke tidak tahu jawabannya.
.
Langit berawan terlihat mendung, hampir hujan. Tidak ada matahari pagi itu, tetapi tidak menghalangi Sasuke untuk meninggalkan apartemennya tepat pada pukul 6 pagi, dan Itachi tidak tahu ke mana sebenarnya adiknya pergi, karena terlalu mengantuk untuk peduli.
"Espresso."
Sasuke hanya tersenyum tipis saat pelayan itu datang menghampiri, menutupi rasa malu luar biasa karena semalam ia baru saja dari tempat ini.
Bukan karena makanan atau minumannya yang lezat, tetapi karena laki-laki bersurai pirang itu. Kenyataan memang terasa pahit, dan ia benci untuk mengakui ingin melihat Naruto sekali lagi. Entah untuk apa, tidak ada alasan. Karena itu ia menyusun daftar buatan 'alasan untuk bertemu Naruto' di dalam kepalanya sehingga tidak perlu merasa terlalu buruk. Seperti; hal menyakitkan yang harus diucapkannya pada Naruto, memamerkan keberhasilannya pada Naruto, mungkin beberapa pukulan akan membuatnya senang, dan mempermalukan mereka—Sai termasuk—dengan cemoohan bertema gay.
Sempurna.
Menunggu pun tidak akan terasa bosan, karena ia sudah memiliki rencana yang hebat. Hanya saja, saat pelayan menghampirinya lagi untuk cangkir kopi, dan potongan pie tomat ketujuh belas. Sasuke tersadar, selama apa pun menunggu, Naruto tidak akan datang ke tempat itu.
Kembali ke apartemen dengan perasaan campur aduk. Bahkan Itachi yang melihatnya datang dari balik pintu tidak lagi berusaha untuk menyambut karena tahu jika itu sia-sia.
Besoknya Sasuke kembali lagi, karena tidak puas. Menunggu di tempat yang sama, memesan makanan dan minuman yang sama, menantikan sosok yang sama, dan hasilnya pun sama. Selama apa pun menunggu, Naruto tidak datang juga.
Besoknya, dan besoknya lagi. Masih mengulangi kegiatan yang sama, melakukannya berulang kali.
"Kau tidak akan kembali ke sana, Sasuke."
Di hari kelima, Itachi merasa adiknya mungkin sudah gila.
"Itu bukan urusanmu," sahut Sasuke, mencoba melangkah ke arah pintu. Namun dihalangi.
"Sebenarnya kau ini kenapa? Jika kau pergi untuk menemui para gadis itu, aku bisa mengerti, tetapi kau hanya diam di sana, makan dan minum, dari pagi hingga malam, itu sangat aneh. Kau pikir aku tidak tahu?" ujar Itachi. Matanya menatap Sasuke meminta jawaban pasti.
"Aku menunggu seseorang," sahut Sasuke.
"Oh, ya? Siapa? Anak berandalan itu? Kau mau balas dendam? Kau bahkan tidak mengenal mereka."
"Kau tidak akan mengerti."
"Karena itu jelaskan padaku, jangan hanya melakukan hal yang kau inginkan setiap saat."
"Terakhir," ujar Sasuke pelan, "ini ..., yang terakhir."
Saat Sasuke mulai memohon, Itachi tahu tidak punya pilihan selain menepi dari pintu.
.
Julukan pelanggan tetap yang diberikan para pelayan tidak membuat Sasuke senang, hari ini sudah 13 cangkir kopi yang ditenggaknya. Bahkan matahari sudah malas untuk tetap berada di atas.
Sang dewi fortuna pun merasa iba.
Tepat 5 detik sebelum Sasuke memutuskan untuk kembali, sosok bersurai pirang itu melangkah santai dari arah pintu. Penantiannya selama ini, sudah selesai.
"Cliché," batin Sasuke. Entah di mana ia pernah melihat kejadian yang sama seperti ini, meskipun tidak bisa menutupi rasa senang di hatinya saat Naruto menoleh ke arahnya, dan melihatnya berada di sana.
"Huh?" Bibir Naruto lagi-lagi memamerkan cengiran lebar.
Menurut Sasuke, bergumam sambil memperlihatkan sikap tidak peduli saat Naruto berlari menghampirinya untuk bergabung, adalah respon yang sangat keren.
"Aku tidak menyangka akan bertemu denganmu lagi!" ujar Naruto. Tertawa lebar, terlihat sangat bahagia.
Melihat reaksi si pirang, Sasuke mengumpat dalam hatinya karena ia benci orang yang jujur.
"Jika aku tidak pergi ke sini ..., mungkin aku tidak akan melihatmu lagi." Naruto tertawa meksipun dipaksa.
"Oh," sahut Sasuke cepat, "apa ini hari terakhirmu di sini?"
Naruto mengiyakan.
"Memangnya kenapa?" Pertanyaan itu terlontar dari bibir pucatnya. Lima detik kemudian ia menyesal karena telah memberikan kesan 'peduli' pada si pirang.
"Itu," sahut Naruto pelan. Terlihat enggan menjawab saat pupil matanya bergerak gusar. "Itu karena ada beberapa hal yang membuatku ..., sudahlah, lagipula ini bukan hal yang terlalu penting untuk dibahas."
Sasuke diam mengamati. Cara Naruto menatapnya masih sama seperti dahulu, tetapi memastikan jika si pirang masih mencintainya atau tidak adalah hal yang sulit, dan entah mengapa ia ingin tahu jawabannya.
"Kau tidak bersamanya hari ini?" tanya Sasuke.
"Siapa?" sahut Naruto balik bertanya.
"Sai."
"Ah," sahut Naruto cepat. Mulutnya sedikit terbuka seakan terlihat ingin mengatakan kalimat selanjutnya. Namun di detik berikutnya ia mengurungkan niatnya.
"Bukankah kalian selalu bersama? Aku ingat Sai pernah mengatakannya padaku, jika kalian ini sahabat ..., bahkan lebih dari itu," ucap Sasuke, penuh penekanan di akhir kalimat. Perlahan, tetapi pasti ia membuat 'alasan untuk bertemu Naruto' yang semula hanya daftar di kepalanya, menjadi kenyataan.
"Lebih dari itu," ulang Naruto datar, tidak mengelak, ataupun mengiyakan.
"Jadi kalian ini, huh? Seperti ..., semacam sepasang kekasih atau?" tanya Sasuke lagi, menyelidik.
"Itu gila," sahut Naruto cepat. Kedua irisnya yang biru menatap Sasuke seolah tidak percaya.
"Memangnya apa yang salah dengan itu? Kau pernah menyukaiku dulu, untuk menyukai pria lainnya tidak sesulit itu, bukan?"
Saat Naruto tidak lagi menyahut, Sasuke merasa saat ini ia sedang berjalan di atas awan.
"Kenapa? Apa kau pikir aku akan terganggu dengan fakta itu? Tidak perlu tekejut, aku terbiasa dengan hal semacam itu, apa kau lupa? Sejak duduk di bangku sekolah dasar, kau dan leluconmu itu mengajariku banyak hal te—"
"Jadi kau masih mengingatnya?" Naruto memotong. "Dan apa maksudmu dengan pernah? Sampai saat ini ..., aku masih."
Keduanya saling menatap, menunggu satu sama lain untuk melanjutkan kalimatnya.
"Sampai saat ini pun, aku masih ..., aku masih mencintaimu Sa—"
"Tentu ..., kau masih mencintaiku. Tidak perlu mengatakannya berulang kali, aku sudah tahu. Karena itu adalah memori terburuk yang pernah kumiliki," sahut Sasuke datar, balik memotong. Tidak ingin mendengar lebih banyak, karena itu membuat jantungnya berdegup dua kali lebih cepat.
Keduanya diam, saling menatap cukup lama, dan Sasuke menang, saat Naruto terlebih dahulu memalingkan wajahnya untuk menunduk sambil tersenyum getir.
"Sekarang aku paham apa yang dikatakan Sai, 'Mengapa orang selalu membuat kesalahan yang sama? Itu karena mereka bodoh'," ujar Naruto pelan. "Apa kau berharap seharusnya aku menyerah lebih cepat? Hal yang kulakukan hanya membuatmu menderita. Bukankah ini tidak adil? Aku merasa bahagia karena mencintaimu meskipun itu membuatmu terluka," ada jeda sesaat, "maaf Sasuke, orang bodoh sepertiku, ternyata sangat egois."
Sasuke hanya bisa diam menyaksikan dengan raut datarnya seperti patung, saat Naruto pergi meninggalkannya.
Seharusnya ia senang, seharusnya ia puas, seharusnya ia bahagia. Lalu rasa aneh apa ini?
Sesak, membuatnya sulit bernapas. Berat, seakan ada batu yang mengganjal. Sakit, seakan ada ribuan jarum yang menghunjam. Panas, membuat matanya memerah, bahkan cairan itu hampir meluap.
Hati dan pikirannya tidak selaras, dan itu membuatnya gila. Selama ini berbohong, menipu dirinya sendiri, menganggap itu akan membuatnya bahagia, meskipun sebenarnya tidak. Jujur pada dirinya sendiri, ternyata bukan hal yang mudah.
Sore itu Naruto pergi, dan Sasuke tahu, jika sosok itu tidak akan pernah kembali. Keduanya terluka, menyesal pun tidak ada gunanya.
.
End
