The Kim

Story By: Secii / Eunhacii

Cast: Kim Minseok (Xiumin), Kim Joonmyun (Suho), Kim Jongdae (Chen), Kim Jongin (Kai). Other Cast will appear.

Ide dan Cerita murni milik saya, maaf bila bertebaran typo

Happy Reading! ^^

-6 Tahun Kemudian-

"Jongin! Kau lama sekali!" suara teriakan membuat anak lelaki dengan usia yang menginjak 11 tahun itu berlari dengan cepat menuruni anak tangga

"Tunggu aku kak..!" dibawah sudah terlihat anak lelaki lain yang tengah berkacak pinggang dengan muka di tekuk sebal

"Lama sekali Jongin…harusnya kau bangun lebih awal" Jongin hanya menunjukan cengiran andalannya sambil menggaruk-garuk kepalanya yang sebenarnya sama sekali tidak gatal

"Ehehe maaf…alarm ku kehabisan baterai" anak lelaki itu berdecak sebal kemudian menyambar tas ransel miliknya

"Sudahlah, cepat ambil bungkusan sandwich mu dimeja, kak Joonmyun tadi membungkuskannya untukmu" dengan cepat Jongin berlari ke dapur dan mengambil paper bag yang berisi sandwich

"Kak Joonmyun sudah berangkat? Pagi betul dia berangkat" Jongin mengeluarkan isi paper bag nya dan mulai mengunyah sedangkan kakak laki-lakinya hanya menghembuskan nafas kesal

"Makanya lainkali bangun pagi Kim Jongin…" Jongin terkekeh kecil

"Iya kak Jongdae, maafkan aku" kini mereka berdua berdiri di halte bus yang akan membawa mereka ke akademi, Jongin sibuk memerhatikan sekelilingnya dengan sandwich yang sedaritadi ia makan. sampai tiba-tiba ia teringat tes penyeleksian murid berbakat.

"Kak, hari ini hari penyeleksian murid berbakat kan? Apa kakak akan mengikutinya?" Jongin membuka suara di tengah keheningan menunggu bus, tangannya sibuk mengusap remah roti yang mengotori mulut dan bajunya

"Iya, kakak akan mengikutinya…tapi jangan bilang kak Joonmyun, paham kan?" Jongin mengangguk paham, impian Jongdae sedari kecil adalah menyusul kakak laki-laki mereka yang tertua, Minseok. Dengan mengikuti tes penyeleksian murid berbakat jalan menuju Minseok dan medan pertempuran akan lebih mudah

"Apa tidak terlalu cepat? Maksud ku…umur kakak kan masih terbilang kecil, guruku bilang hanya anak golongan Byrrus yang tengah menuju Canens dan Canens sendiri yang boleh ikut tes bakat itu"

"Makanya itu jangan bilang-bilang ke kak Joonmyun" Jongin memutarkan bola matanya, kakaknya yang satu ini memang sangat terobsesi untuk menyusul sang kakak tertua Minseok ke jalur peperangan

"Iya-iya..tapi kalau kakak terpilih traktir aku ya?" cengiran kecil khas Jongin terukir dari bibir kecilnya, Jongdae hanya mendengus malas. Hening seketika menyelubungi mereka,mimik muka Jongin terlihat sibuk berpikir

"Apa yang kau pikirkan bodoh?" Jongin mengedipkan matanya beberapa kali kemudian dia menatap Chen

"Apa nanti kalau kau terpilih kau akan masuk kelas khusus? Sebagai Caerulus kau tidak mungkin masuk ke akademi khusus kan?" Jongdae menggidikan bahunya

"Aku akan langsung bekerja pada pemerintah mungkin…masuk akademi hanya buang-buang waktu" Jongin tergelak, bekerja pada pemerintah hanya dilakukan oleh Canens dan Aurum, itupun juga Canens yang terpilih, yaitu Canens yang telah lulus dari kelas khusus sedangkan Byrrus, Caerulus dan Viridis masih harus belajar di akademi sampai mereka dinyatakan siap untuk menuju medan pertempuran.

"Bagaimana dengan kelasmu? Kelas Viridis yang berisi bocah-bocah ingusan sepertimu? Apa sudah menemukan bakat?" Jongin menatap tajam kakaknya, mulut Jongdae memang menyebalkan kalau sudah membicarakan akademi

"Belum. Tapi guruku bilang bakat ku berbeda dengan yang lainnya" selesai berbicara bus bewarna silver yang sudah penuh isinya berhenti di depan mereka, Jongin dan Jongdae berdiri dan menunggu hingga pintu terbuka

"Ingat, jangan memanggil dengan nama asli Kai" Jongdae berbisik kepada Jongin

"Iya aku ingat itu Chen" pintu terbuka dan keduanya masuk kedalam bus

"Pagi anak-anak" Tuan Cross, supir bus yang sudah akrab dengan kedua bocah ini menyapa keduanya

"Pagi tuan~ apa ada bangku kosong dibelakang?" Chen menunjukan senyuman manisnya

"Sepertinya ada, tadi pagi aku bertemu dengan senior kalian. Dia sepertinya selalu berangkat lebih awal dari kalian"

"Suho? Ah ya dia memang selalu berangkat lebih awal dari kami" Chen dan Kai segera berjalan kebelakang dan memanggil duduk di belakang.

Semenjak peperangan yang melanda Confundo, tiap penduduk disana tidak saling memanggil dengan nama asli maupun nama keluarga dengan alasan menghindari pemfitnahan maupun pengkhianatan antar penduduk, mereka saling memanggil satu sama lain dengan nama panggilan yang dikeluarkan oleh para dewan di Confundo. Seperti Joonmyun yang dipanggil Suho, Jongdae dengan Chen dan Jongin dengan Kai.

Sesampai di akademi keduanya turun dan masuk kekelas masing-masing, Kai menuju kelas Viridis yang telah ramai dengann teman-temannya yang memakai pita hijau untuk dasi mereka

"Kai! Kau hampir telat lagi" teman sekelasnya, Ventus menghampirinya bersama dengan seorang murid lain dengan mata yang hitam dibagian bawahnya yang biasa dia panggil A.B

"Maaf…aku kesiangan lagi"

"Chen tidak marah?" A.B menyahut dari belakang Ventus

"Tentu saja dia mengomel. Apa Doctor Hans sudah datang?" Ventus dan A.B menggeleng bersamaan membuat helaan nafas lega keluar dari mulut Kai

"Aku dengar tes penyeleksian bakat akan segera berlangsung" tiba-tiba Ventus membuka topik setelah ketiganya duduk di meja mereka masing-masing yang saling berdekatan. Tes penyeleksian bakat merupakan tes yang diselenggarakan bagi para murid Viridis, yang sengaja dilakukan dengan maksud menilai dan membangkitkan bakat para Chrome junior agar nanti dapat berkerja bersama pemerintah

"Haaah…kenapa pula harus diseleksi? Aku belum mahir mengendalikan waktu" A.B memajukan bibirnya, memikirkan bakat yang akan diseleksi lebih menegangkan daripada ujian ketahanan fisik

"Tentu saja agar para komandan tahu siapa yang layak maju ke garis merah" Ventus menjitak kepala A.B

"Ventus, bagaimana denganmu? Sudah mampu memporak-porandakan kota? Hahaha" Kai menatap Ventus dengan tatapan iseng, Ventus hanya mendelik kearahnya

"Jangan menggoda ku Kai! Kau tahu aku baru mampu menerbangkan beberapa lembar kertas" A.B dan Kai tergelak melihat Ventus yang merajuk karena kepayahan bakatnya yang tak ingin dibahas

"Mau berlatih sore ini? Aku yakin Suho tidak keberatan mengawasi kita berlatih" A.B dan Ventus saling bertukar pandangan kemudian mengangguk setuju

"Anak-anak! Ayo duduk karena kita akan memulai pelajaran!" tiba-tiba suara lantang terdengar dari arah depan kelas membuat Kai dan kedua temannya bersiap

-Caerulus Class-

"Fornax! Matikan cahaya yang kau buat!" Chen menatap sebal kearah teman sebangkunya yang sedaritadi memainkan cahaya dan mengarahkan cahaya yang dia buat ke wajah Chen

"Minta lah dengan cara yang baik Chen~" Fornax masih mengarahkan cahayanya untuk mengganggu Chen

"Mau kusambar dengan petir ku?" Chen menatap tajam Fornax yang kini mematikan cahaya yang ia buat dan menatap Chen sebal

"Bersenang-senang sedikitlah Chen~ ujian menuju Byrrus masih lama…tapi kau sudah menjadi kutu buku seperti ini"

"Kalau kau cukup cerdas Fornax…ujiannya minggu depan. Dan hari ini adalah hari dimana tes penyeleksian bakat"

Fornax menatap Chen dengan tatapan jangan-menipuku-soal-ujian tapi Chen hanya menampakan wajah tak peduli

"Eh?! Kau jahat tidak memberitahuku! Arrgghh…! Aku belum mahir dalam mengontrol cahaya ku…." Fornax mengacak rambutnya frustasi membuat Chen terkekeh kecil

"Kau sudah cukup mahir kalau kulihat, yang perlu kau tingkatkan adalah kecerdasan mu dalam menyusun strategi…paham?" Fornax menatap sinis kearah Chen, dia tahu betul nilainya dalam menyusun strategi bukanlah nilai yang dapat dibanggakan dan Chen tahu caranya menyinggung masalah itu

"Domhan~! Chen jahat~!" Fornax berlari kearah anak laki-laki yang sibuk mematuti buku yang tengah ia pegang, anak laki-laki itu tetap fokus dengan bukunya tanpa mempedulikan rengakan Fornax

"Domhan~! Kenapa diam saja eh?" anak laki-laki itu melirik sekilas kearah Fornax

"Berhenti main-main Fornax, sebentar lagi kita ujian. Kalau masih ribut kubuat kau kutelan kedalam bumi" Fornax bergidik ngeri dan meninggalkan Domhan dengan bukunya kembali menuju mejanya yang tepat dibelakang Domhan tapi sialnya didepannya ada Chen

"Bagaimana? Mendapat dukungan yang pasti?"

"Kubuat kau buta dengan cahaya!" dengan itu Fornax memunggungi Chen dan mulai sibuk membaca.

-Canens Classes-

Suho sibuk memainkan air yang mengalir dari keran sambil sesekali membiarkan air itu membasahinya, tes ketahanan fisik memang menyiksa dan membuat siapapun langsung bermandikan keringat

"Suho! Lemparkan air itu kepada kami!" Suho menoleh dan menemukan kedua sahabatnya yang terkapar bagaikan ikan yang keluar dari kolamnya

"Jalan kearah keran ini pemalas!"

"Cepatlah! Atau api Felix akan membakar semuanya! Dia sudah cukup kepanasan" dengan membayangkan gedung akademi yang terbakar cepat-cepat Suho melemparkan sebola air kearah dua sobatnya yang kini bernapas lega

"Doctor Grint memang kejam….sprint 500 meter dan pull up 200 kali!" Suho terkekeh kecil menanggapi perkataan Felix yang sudah menyerupai mayat hidup

"Tapi kau bisakan Fel? Setidaknya tidak ada yang mengulang diantara kita"

"Oh ya…kalian sudah dengar? Ada tes penyeleksian murid berbakat sore ini. Kau ikut Suho?" kali ini temannya Kris angkat bicara, Suho mengangguk yang menandakan dia akan mengikutinya

"Wow! Bisa-bisa kau akan ke medan perang….lantas bagaimana dengan Kai dan Chen? Aku saja masih berfikir dua kali mengingat Ventus sangat susah diatur….kau Fel? Ikut juga?"

"Entahlah….Fornax sangat tidak akan mau mematuhi perkataan Pembina yang lain. Kupikir dia masih bergantung padaku" Felix sibuk mengistirahatkan badannya sambil memainkan api kecil di tangannya

"Kris, kau ikut saja… kekuatan mu masuk dalam daftar eximius, aku yakin akan mudah diterima" Suho memukul lengan sobatnya, Kris meringis kecil

"Kau bisa menanggung Ventus bila mengamuk? Aku saja susah kabur darinya, karena dia mengendalikan anginnya" Kris menatap sinis kearah Suho. Kadang dia merasa iri karena kedua anak didik Suho, Chen dan Kai adalah anak-anak yang dewasa berbeda terbalik dengan anak didiknya, andai saja Cerva masih disini…bukannya di medan perang

"Hanya kak Cerva yang bisa menenangkannya bukan?" Kris mengangguk tanpa minat. Cerva. Senior tertua bagi Kris dan Ventus yang kini tengah di medan perang bersama dengan Xiumin

"Sudahlah…memang kau saja yang berpotensi mengikuti tes itu" Felix melemparkan handuk bekas ia menyeka keringat kearah muka Suho yang sukses mendarat di muka Suho

"Shit! Kau jorok Fel!" Kris dan Felix tertawa bersamaan melihat ekspersi yang dibuat Suho.