T.H.T.P
(Time Heals The Pain)
Cast: Baekhyun, Chanyeol, Kris, Sehun, Jongin, Kyungsoo, Luhan
Pairing: Chanbaek [main]
Length: Chaptered
Genre: BL, romance, drama
.
.
.
.
Chapter 3
.
.
.
.
Namja kecil itu terlihat linglung dan sesekali meremas ujung bajunya. Hari ini seseorang mengajaknya makan malam disebuah restoran mewah namun orang itu belum juga datang. Sementara ia sudah didatangi oleh pelayan restoran barangkali ingin memesan makanan, namun pemuda kecil itu terus saja menggeleng sambil tersenyum kemudian berkata, "nanti saja," mata sipit itu tersenyum canggung, ini sudah hampir satu jam Baekhyun menunggu namun ia masih belum menemukan tanda – tanda seseorang yang ia kenal memasuki restoran.
Ia lantas membuka ponselnya, mencoba menemukan titik terang disana, siapa tau orang itu mnegiriminya pesan, namun lagi – lagi Baekhyun mendesah pelan, nihil, tidak ada satupun pesan atau-pun panggilan kecuali- HEY kapan Chanyeol mengiriminya pesan di akun kakaonya? Buru – buru Baekhyun memencet icon kakaotalk di notification barnya, matanya menyipit lucu akibat dari melengkungnya bibir tipis itu keatas, ia kemudian terkikik geli sambil memikirkan apa yang harus ia ketik sebagai balasan,
'ya! Kau dimana?'
'Byun Baekhyun'
'kau menyebalkan'
'ya Byun Baekhyun'
'kau masih bernafas kan?'
'ya!'
Baekhyun hanya memandangi layar ponselnya karena ia masih bingung harus menjawab apa. Apakah ia harus jujur kepada Chanyeol jika ia sedang pergi makan malam dengan seseorang? Ah Chanyeol pasti akan marah karena ia tak mengajaknya, lalu apa? Berbohong jika sedang ada dirumah Kyungsoo? Jangan coba – coba, namja tiang itu bisa saja menelfon Kyungsoo atau jika ia sedang dalam mode nekat, ia bisa saja menyusul Baekhyun kesana. Keningnya merengut sebentar, memikirkan jawaban apa yang harus ia berikan. Ayolah Baekhyun ini hanya pertanyaan sederhana kenapa kau memikirkannya seolah – olah Chanyeol tengah memintamu menjadi kekasihnya. Ia menggigit bibirnya sebentar kemudian mengetik beberapa susunan kata dichat room mereka,
'wae? Aku masih bernafas terimakasih telah mengkhawatirkan aku tuan Park.'
Baekhyun tersenyum ketika tidak sampai lima menit ponselnya kembali bergetar, menandakan sebuah pesan dari akun kakaonya, buru – buru ia buka dan lagi – lagi ia terkikik,
'KU TANYA KAU DIMANA NONA BYUN'
'INI PUKUL 8 MALAM DAN KAU BELUM PULANG DEMI TUHAN BAEKHYUN KAU MASIH INGAT KAN RUMAHMU DIMANA'
Aigoo Chanyeol begitu menggemaskan jika sedang mencemaskannya seperti ini Baekhyun bisa membayangkan ekspresi Chanyeol saat ini, namja itu pasti tengah merengut sambil mengerucutkan bibir tebalnya kkk~ kyeopta, pikirnya. Tapi tunggu, nona Byun? Baekhyun mengerucutkan bibirnya imut ketika membaca ulang panggilan Chanyeol kepadanya.
'AKU BUKAN NONA NONA TUAN PARK'
'aku ingat, kalo tidak salah rumahku berada disamping rumahmu bukan? kkkk~'
Meskipun ia meletakkan emoticon tertawa namun bibirnya masih bertahan dalam posisi sebelumnya, bahkan mengerucut lebih parah membuat beberapa namja disana melirik Baekhyun dengan antusias.
"jangan mengerucutkan bibirmu, kau tak sadar sedang ditatap oleh puluhan pasang mata lelaki hidung belang?"
"Hyung!" Baekhyun berbinar seketika melihat Kris sudah berada dihadapannya. Akhirnya namja ini datang juga, pikirnya.
"kau sudah pesan? Ah mian aku terlambat, ada sedikit masalah dikantor.." Kris melepas jas kerjanya dan menyisakan kemeja hitam yang lengannya sudah ia lipat sebatas siku
"tak apa, aku juga tidak terlalu bosan, kan ada ini!" Baekhyun menggoyangkan ponselnya didepan muka Kris, membuat namja tinggi itu terkekeh pelan dengan tingkah laku Baekhyun.
"memang apa yang kau lakukan?" alisnya sedikit terangkat
"chatting dengan Chanyeol hahaha dia sangat menggemaskan Hyung aigoo adikmu jinjja" Baekhyun kembali sibuk dengan kakaonya, mengabaikan Kris yang menggeleng heran. Namja yang berparas sedikit kebule-an itu memanggil pelayan untuk mendekat, ia membolak – balikkan menu dan kemudian matanya tertuju pada sebuah hidangan yang terlihat lezat,
"beef grilled with paprica please," katanya menatap pelayan itu dengan sopan yang kemudian langsung dicatat dalam list pesanan,
"minumnya?" pelayan itu tersenyum sambil menelengkan kepalanya menatap Kris lebih intens, mungkin terpesona dengan pemuda tampan itu
"umm, i'll have black soda drink," jawabnya sambil mendongak, kemudian menatap Baekhyun yang masih cekikikan dengan ponselnya,
"Baek kita kesini untuk makan bukan? pesanlah sesuatu," katanya lembut, membuat Baekhyun tersenyum canggung dan menyimpan ponselnya kedalam saku celana.
"ummm aku ingin cheese takoyaki dengan isi gurita, lalu minumnya...sama dengan Kris Hyung," ujarnya sumringah, pelayan itu lagi – lagi mencatat pesanan Baekhyun dan kemudian membungkuk sopan meninggalkan dua namja itu untuk menyiapkan pesanan.
"Hyung tumben sekali mengajakku makan, ada apa?" tanya Baekhyun basa – basi pasalnya dari tadi Kris hanya memandangnya tanpa mengeluarkan sepatah katapun, membuat Baekhyun sedikit bosan
"tidak ada, hanya ingin saja. Aku bosan makan berdua dengan Chanyeol," namja itu tersenyum melihat Baekhyun terkekeh pelan,
"Chanyeol memang menyebalkan," katanya disela kekehannya yang semakin menyipitkan matanya, benar – benar terlihat cantik.
"bagaimana dengan beasiswamu Baek?"
"kau mengetahuinya Hyung?" mata sipit itu membola
"um, Chanyeol bercerita kepadaku, dia bilang kalian ber-empat mendaftarkan beasiswa kejepang, bukankah begitu?" Kris berkata santai sambil menyandarkan tubuh lelahnya, melonggarkan dasi yang sedari tadi cukup mencekik lehernya.
"umm ne, pengumumannya lusa, dan jika berhasil maka minggu depan kami semua akan berangkat, yah meskipun tidak memilih fakutlas yang sama keutdae gwenchana..kudengar Hyung juga akan menetap dijepang beberapa waktu?"
"kalian memilih jurusan berbeda? Ah geurae, kuharap kalian semua lolos. Ne, perusahaan sedang mengadakan pelebaran wilayah industri, aku memilih singapura, jepang dan china sebagai target. Untuk beberapa bulan kedepan perusahaan akan mulai menjalankan cabang dijepang, jadi aku harus memantaunya," jelasnya panjang lebar, sementara Baekhyun hanya manggut – manggut dengan ekspresi kagum yang sedikit berlebihan.
"Baek, setelah ini Hyung masih harus kembali kekantor, kau tak apa pulang sendiri?"
"gwenchana Hyung, aku bisa naik bus setelah ini,"
"kau hati – hatilah ketika pulang, sedang banyak kasus, apalagi kau sendirian dirumah, Sehun, ahjussi dan ahjumma belum pulang kan?"
"belum Hyung, pertunangan Sehun dengan kekasihnya itu baru akan dilaksanakan besok, jadi mungkin mereka baru akan kembali dari China lusa,"
Setelah menjawab pertanyaan Kris akhirnya dua orang pelayan datang membawakan pesanan mereka dan mulai menghidangkannya, Baekhyun yang memang sangat lapar menatapnya dengan berbinar dan langsung menyambar garpu dan sendoknya ketika pelayan itu hendak meletakkannya disamping piringnya. Mereka berdua makan dalam diam, Kris dengan pikirannya tentang kantor sementara Baekhyun masih memutar otaknya bagaimana ia akan selamat sampai dirumah, ia paham betul jika akhir – akhir ini seoul kebanjiran tindak kejahatan yang dilakukan dimalam hari, apalagi rumah Baekhyun berada dikawasan elite yang cukup sepi, namja kecil itu ter berfikir dan berharap sesuatu yang buruk tidak akan menimpanya.
.
.
.
.
Setelah turun dihalte terakhir, Baekhyun hanya perlu berjalan kaki barang 10 menit untuk sampai dirumahnya. Ia menarik nafas dalam dan kemudian meyakinkan hatinya sekali lagi,
"everything's gonna be fine, Baekhyun himnaeyo!" ucapnya menyemangati dirinya sendiri. Kemudian ia mulai melangkahkan kakinya dengan hati – hati. Ini kawasan sepi, ia bahkan tak menemukan anak muda yang bermain kartu atau ahjussi yang berjaga diperumahannya, Baekhyun mengeratkan pegangannya pada ranselnya, kemudian berdoa dalam hati. Langkahnya pendek – pendek, sesekali kepalanya menengok kebelakang barangkali ada yang mengikutinya, namun ia selalu bernafas lega karena ia tidak menemukan kecigaan sejauh ini, aman, pikirnya. Namja kecil itu mulai berjalan dengan langkah normal dan bersiul riang untuk mengalihkan rasa takutnya, sesaat ia mendengar langkah seseorang keluar dari salah satu yang, kakinya terhenti dan matanya memicing, dengan tiba – tiba ia menolehkan kepalanya kebelakang namun ia tak menemukan seseorang disana, namja kecil itu akhirnya memutuskan untuk menganggap itu sebagai halusinasinya karena terlalu takut, kemudian kakinya terayun lagi. Setelah tepat 4 langkah ia berjalan, lagi – lagi ia mendengar langkah seseorang dibelakangnya, ia mengangkat ponselnya tinggi – tinggi untuk melihat siapa yang ada dibelakangnya, matanya sedikit membola melihat seseorang dengan jaket kulit berwarna coklat dan berkaca mata hitam tengah berjalan menunduk dibelakangnya, pria itu sangat mencurigakan. Pelan – pelan ia mulai mengetikkan sebuah pesan kepada seseorang namun menghapusnya kembali dengan tangan yang sedikit bergetar, ia memutuskan untuk menelfon orang tersebut.
Sementara dikediaman Park, seorang namja tengan mondar – mandir sambil memegangi ponselnya. Ia sangat kesal karena Baekhyun belum membalas pesannya sejak setengah jam yang lalu ketika namja kecil itu berkata bahwa ia akan segera pulang. Chanyeol sesekali mengacak rambutnya karena tak kunjung ada balasan, ia memutuskan untuk menelfon Baekhyun saja supaya lebih jelas keadaannya, dengan cepat ia mendial nomor yang sudah ia hafal diluar kepala, sibuk, ponsel Baekhyun sibuk! Demi Tuhan Chanyeol benci keadaan seperti ini,
"ya Byun Baekhyun apa yang sedang kau lakukan!" umpatnya pada ponsel putih miliknya, ia benar – benar frustasi karena berkali kali ponsel Baekhyun masih dalam keadaan sibuk. Chanyeol hampir saja merosot dari sandarannya dipintu ketika telfon rumahnya berbunyi, tanpa pikir panjang ia berlari dan meraih telfon itu dengan gugup,
"y-yeoboseyo?"
"Chanyeol-a mengapa ponselmu sibuk, aku berusaha menghubungimu sedari tadi.." Chanyeol paham itu suara siapa, namun keningnya mengernyit mendengar nada ketakutan dan bergetar milik Baekhyun
"B-baek gwenchana?" tanyanya khawatir
"seseorang mengikutiku sedari tadi Chanyeol-a" nada namja mungil itu hampir seperti merintih, ia begitu ketakutan, takut jika orang asing itu akan melakukan sesuatu yang buruk padanya.
"e-eodiya?" Chanyeol bertanya dengan tidak sabaran,
"dua blok sebelum perumahan kita, palliwa,"
"ne aku kesana sekarang Baek, aku kesana,"
Tanpa pikir panjang namja jangkung itu langsung berlari keluar rumah. Saking paniknya bahkan ia lupa untuk mengendarai motornya dan justru berlari dengan sangat kencang. Pikirannya benar – benar kalut, entah keberapa ratus kalinya Baekhyun membuatnya kelimpangan karena khawatir seperti ini, namun Chanyeol tidak peduli, otaknya hanya mampu memproses satu hal, cepat menemukan Baekhyun. Diujung gang tepat satu blok sebelum jalan dimana Baekhyun berada, seseorang menabrak Chanyeol dengan sepeda gunungnya, namja itu terjatuh dan mendapatkan sakit disiku tangannya, namun lagi – lagi ia tidak peduli dan langsung berlari kembali tanpa menghiraukan pak tua yang memanggilnya dan meminta maaf. Nafasnya mulai pendek dan tersengal, ia terus memaksa tubuh terutama kakinya untuk tetap melaju kencang, kakinya mulai berat namun Chanyeol masih berusaha berlari sekuat yang ia bisa. Ia benar – benar tidak boleh menyia-nyiakan barang sedetik karena jika ia terlambat sesuatu bisa saja terjadi pada Baekhyun.
Setelah ia rasa ia hampir kehilangan nafasnya, akhirnya ia bisa melihat seorang pemuda dengan seragam sekolah dan ransel berwarna merah sedang berjalan ketakutan dengan seorang pemuda asing berjalan dibelakangnya, ia langsung berteriak,
"Ya Byun Baekhyun!" katanya masih dengan berlari kemudian langsung menerjang tubuh Baekhyun begitu sampai didepannya. Namja kecil itu tidak bergeming, tubuhnya masih bergetar hebat. Sementara pemuda asing itu menghentikan langkahnya dan tiba – tiba berbelok kearah lain. Chanyeol masih mengatur nafasnya sambil memeluk Baekhyun dengan posesif, ia mengelus kepala si mungil dengan gerakan pelan, mencoba menenangkannya yang masih terlihat ketakutan. Setelah dirasa tubuh itu tidak bergetar lagi, Chanyeol memapah Baekhyun untuk berjalan dengan hati – hati, Baekhyun masih dengan tatapan yang sedikit kosong dan Chanyeol yang masih tersengal. Mereka berjalan dalam diam sampai akhirnya salah satu dari mereka memecah keheningan,
"kapan kau akan berhenti membuatku khawatir eoh," Chanyeol tidak menatap Baekhyun, matanya masih fokus dengan jalanan sementara rangkulannya mengerat dipundak sempit itu. Namja disampingnya sedikit mendongakkan kepala, memperhatikan Chanyeol dari samping, matanya memancarkan rasa bersalah yang teramat dalam. Baru beberapa jam yang lalu ia mengejek Chanyeol yang mengkhawatirkannya dan sekarang ia benar – benar membuat Chanyeol terlihat buruk.
"mian," sesalnya kemudian menunduk dalam, ia benar – benar ingin menangis saat ini. Bukan karena ketakutan, tapi ia masih merasa bersalah kepada Chanyeol. ia semakin menundukkan kepalanya ketika dirasa Chanyeol hanya menoleh kepadanya sekilas tanpa mebjawab permintaan maafnya, apa Chanyeol marah padanya? Baekhyun benar – benar tidak bisa membayangkan jika Chanyeol marah padanya.
Setelah itu mereka benar – benar berjalan dalam diam, Baekhyun masih terlalu takut untuk mengucapkan kata – kata lagi, ia takut Chanyeol akan semakin marah padanya. Sedangkan Chanyeol, ia masih sibuk dengan pikirannya sendiri yang entah apa. Dalam beberapa menit mereka akhirnya sampai dirumah Baekhyun, berdiri tepat didepan pintu besar keluarga Byun.
"masuklah," kata Chanyeol lembut, ia sudah berdiri berhadapan dengan Baekhyun kali ini. Sementara namja kecil itu masih menunduk, memperhatikan sesuatu yang mengganjal matanya, apa Chanyeol salah berpakaian kali ini?
"masuklah Baekhyun, kau butuh istirahat," kali ini namja kecil itu mendongak ketika ia merasa pundaknya disentuh, namun ekspresinya kali ini tak terbaca, membuat Chanyeol sedikit bingung dengan apa yang terjadi pada Baekhyun.
"Baek kau kena-"
"tanganmu berdarah." Potong Baekhyun dengan raut wajah pucat, namja tinggi itu langsung mengalihkan pandangannya kepada sikunya, benar saja darah mengalir dari sana, dengan gerakan asal ia mengusap dan mencoba mengalihkan pandangan Baekhyun dengan tersenyum kearahnya,
"gwenchana, ini hanya luka biasa, kau masuk lah, atau kau ingin aku temani?" bukannya menjawab Baekhyun justru memasukkan kunci dan membuka pintu, setelah itu ia berbalik menghadap Chanyeol dan menyeretnya untuk memasuki rumah tanpa suara. Merasa tidak mendapat penolakan ia segera mendorong Chanyeol untuk duduk disofa dan segera berjalan untuk mengambil kotak obat. Chanyeol cukup terharu dengan tindakan Baekhyun, ia merasa Baekhyun benar – benar khawatir dengannya kali ini sampai – sampai ekspresinya seperti itu, sesaat ia tersenyum kearah Baekhyun yang tengah berjalan kearahnya, meletakkan kotak obat itu dimeja dan duduk tepat disamping kiri Chanyeol. dengan pelan ia mengeluarkan obat merah, kapan dan perban. Tangannya yang sudah memegang kapas terulur untuk membersihkan darah yang masih mengalir walaupun tidak sederas tadi,
"mengapa menyakiti dirimu sendiri hanya karena mengkhawatirkanku," Chanyeol tertegun. Baekhyun masih sibuk dengan pekerjaannya sementara Chanyeol memandangnya dengan cukup dalam tapi namja kecil itu tidak sama sekali menoleh, seperti sengaja menghindari kontak mata dengan Chanyeol.
"itu hanya kecelakaan, seorang ahjussi tua menabrakku," mata Baekhyun sontak melotot memandang Chanyeol tapi pemuda berbibir tebal itu justru terkekeh
"hanya menabrak dengan sepeda Baek, aku tak apa, jangan melotot begitu," ucapnya geli sambil menahan tawanya
"kau tau Chanyeol, melihatmu dengan luka sekecil ini-pun adalah sesuatu yang sangat tidak ingin aku rasakan, entahlah, aku tidak ingin kau terluka barang sedikit, apalagi karena aku," namja kecil itu menghela nafas sementara Chanyeol menahan nafasnya dan lagi – lagi tertegun untuk yang kedua kalinya, ia sangat gugup, sungguh! Ia hanya berharap Baekhyun tidak melihat rona merah yang tergambar dikedua pipinya.
"jangan begini lagi," kata Baekhyun sambil memplester kapas yang sudah ia tetesi dengan obat merah itu. Ia kemudian menatap Chanyeol dan tersenyum,
"sengaja atau tidak, jangan sakiti dirimu lagi," Chanyeol balas tersenyum kemudian mengangguk, ia mengusak rambut Baekhyun dengan gemas
"kau juga, jangan membuatku khawatir lagi, berhati – hatilah dengan dirimu, jaga dirimu, karena itu berarti kau sedang menjaga duniaku." Ucapnya pelan membuat Baekhyun menegang. Ia meruntuki otak lambannya yang sulit mencerna apa yang baru saja Chanyeol katakan,
"eum?" bodohnya justru tidak ada yang terucap dari bibir Baekhyun, ia hanya ber-eum ria tanpa mengatakan apapun, namun lagi – lagi Chanyeol tersenyum
"aniya, kajja tidur, besok kita masuk pagi bukan?" Chanyeol bangkit dari duduknya dan menyeret tubuh Baekhyun kekamarnya tidak peduli dengan Baekhyun yang masih memproses kata – kata Chanyeol tadi.
Setelah sampai dikamar Baekhyun Chanyeol langsung merebahkan dirinya, sementara si namja manis, ia pergi kekamar mandi untuk mengganti bajunya dengan piyama tentu saja setelah menyelesaikan mandi kilatnya.
Baekhyun mengusak rambutnya sendiri dengan handuk dan duduk didepan cermin, ia melirik sekilas Chanyeol yang nampaknya sedang bermain game, lihatnya wajahnya sangat serius. Setelah ia rasa rambutnya cukup kering, Baekhyun-pun berjalan menuju ranjangnya, menghempaskan dirinya tepat disamping Chanyeol, membuat namja itu menoleh dan tersenyum,
"kau sudah selesai?"
"eum. Game apa itu?"
"biasa hehe. Guerae kajja tidur,"
"Chanyeol?" panggil Baekhyun dengan lirih namun masih bisa tertangkap oleh indra pendengaran Chanyeol
"ne?" namja tiang itu memiringkan badannya sehingga menghadap kepada Baekhyun
"bolehkah aku tidur sambil memelukmu? A-aku.."
"kau masih takut? Kemarilah," Chanyeol meraih tubuh Baekhyun dan membawanya kedalam dekapannya. Tangannya sibuk mengusap punggung si kecil dengan gerakan teratur, sementara Baekhyun mulai memejamkan matanya, menikmati pijatan ringan dipunggungnya.
"Baek apa kau sudah tidur?" Chanyeol masih betah meletakkan dagunya diatas kepala Baekhyun ketika melemparkan pertanyaan itu, merasa tidak ada jawaban akhirnya ia menengok kebawah dan tersenyum melihat Baekhyun sudah dengan mata terpejam erat.
"selamat tidur Baekhyun," Chanyeol mencium kening Baekhyun dengan sangat lembut dan lama, setelah itu mata bulatnya ikut terpejam dan tidak butuh waktu lama ia sudah sampai dialam mimpinya.
Sementara namja kecil dalam kungkungannya itu tiba – tiba membuka matanya, sebenarnya ia tidak benar – benar terpejam sedari tadi, selain ia masih memikirkan perkataan Chanyeol tadi, ia juga masih memikirkan tingkah aneh sahabatnya ini,
"ada apa denganmu, Chanyeol," lirihnya
.
.
.
.
.
Pagi itu Baekhyun terbangun dengan malas, ia membuka matanya dan terdiam sesaat merasakan seseorang sudah tidak ada disampingnya. Apakah Chanyeol sudah pulang? Ia segera meraih ponselnya yang berada dinakas untuk melihat jam berapa saat ini. Jari lentik itu bergerak mengucek matanya sementara tangan kanannya menggeser slide untuk membuka ponselnya, pukul 8 pagi. Pantas saja, Chanyeol biasa terbangun pukul 7, itu berarti namja tinggi itu sudah pulang dari satu jam yang lalu. Mata Baekhyun kembali menyipit ketika melihat satu pesan di inboxnya dan dua pesan dikakaotalknya. Entah reflek atau apa tapi ia langsung membuka akun kakaonya, sedikit mengabaikan pesan yang ada diinboxnya.
'Baek, maaf aku pulang tidak pamit denganmu, kau tadi masih tertidur dan aku tidak tega membangunkanmu. Dan maaf juga, hari ini aku kekampus menggunakan motor karena mobilku masih berada dibengkel dan sialnya sibrengsek Kim Jongin memelas untuk meminta tumpangan, maafkan aku Baek tidak bisa berangkat bersama, kau sarapan-lah dan pergi mandi, aku yakin kau akan bangun diatas jam 8 pagi ck dasar malas.'
"aku bangun tepat pukul 8 pabo" ucap Baekhyun dan tersenyum , entah mengapa ia senang pagi hari seperti ini sudah disambut dengan pesan seperti itu. Lalu pesan ke dua berasal dari Kyungsoo,
'Baek, hari ini aku resmi berangkat menggunakan mobil baruku, kau ingin mencobanya tidak? Kkk~'
"aih beruntung sekali hari ini kau Byun Baekhyun, disaat malas untuk menyetir sendiri seseorang menawarimu tumpangan, asa!" ia terlihat girang sendiri, kemudian tangan terampilnya segera membalas pesan dari Kyungsoo dan Chanyeol. setelah itu ia bergegas kekamar mandi, mengabaikan atau lebih tepatnya lupa dengan pesan yang berada diinboxnya,
.
.
.
"Kau serius menyukainya Hyung?" Chanyeol memotong rotinya dengan kasar, hari ini ia sarapan dengan roti bakar buatan Hyungnya
"eum, aku sudah mengiriminya pesan, aku bilang bahwa aku menyukainya, namun ia belum membalas," ucap Kris sedikit menerawang
"kapan kau mengirimkan pesan kepadanya?"
"sekitar sejam yang lalu," jawabnya singkat
'bukankah Baekhyun baru membalas pesanku lima belas menit yang lalu? Seharusnya Kris Hyung juga sudah mendapatkan jawaban bukan?' Chanyeol bermonolog ria dalam hatinya.
"bagaimana?" Suara penuh wibawa Hyungnya membuyarkan lamunan Chanyeol, ia sedikit tergagap dan menatap Hyungnya dengan gusar
"a-apanya Hyung?" Chanyeol tersenyum kikuk melihat Kris mendengus keras
"Baekhyun, apa menurutmu dia menyukaiku?" ini adalah hal yang paling Chanyeol benci dalam hidupnya, ia ingin sekali berteriak 'aku tidak peduli dia menyukaimu atau tidak tapi yang jelas aku begitu mencintainya hyung!' namun yeah, dia tau ia tidak bisa, bagaimanapun Kris adalah Hyungnya, pengganti orang tuanya yang telah tiada
"molla, tapi dia pernah bilang jika ia mengagumimu," jawabnya sedikit lemah
"jinjja?" Kris nampak berbinar, matanya mengerjab dengan lucu
"aku sudah menyiapkan hadiah jika Baekhyun menerimaku." Lagi – lagi Chanyeol seperti terantuk pintu yang begitu besar tepat dikepalanya, kenapa nasib baik tidak pernah berpihak kepadanya-_-
Kedua namja tiang itupun akhirnya melanjutkan sarapannya, mereka sama – sama diam, sibuk dengan pikiran masing – masing namun tanpa disadari topik mereka sama, Baekhyun. Satu namja masih memikirkan jawaban Baekhyun namun namja yang lain diam – diam berharap Baekhyun tidak pernah membalas pesan konyol milik Hyungnya itu. Kadang Chanyeol berfikir ia ingin sedikit egois dengan berkata jujur kepada Kris bahwa ia mencintai Baekhyun, namun fakta yang menyebutkan bahwa Kris baru saja putus cinta dan seperti sangat membutuhkan Baekhyun begitu menahan Chanyeol, apalagi Kris adalah Hyungnya, memang sepantasnya Kris yang mengalah, namun Chanyeol merasa Kris adalah orang yang ia hormati, satu – satunya saudara sedarah yang ia punya, ia tak mungkin menghancurkan Hyungnya begitu saja. Lagi pula ia juga tidak tau bagaimana perasaan Baekhyun, namja kecil itu begitu polos dan pintar menyembunyikan perasaannya, bahkan Kyungsoo, sahabatnya sendiri tidak bisa menebak, siapa yang sebenarnya Baekhyun sukai. Pandangan mata Chanyeol semakin sendu, Baekhyun bisa saja sudah membalas pesan Kris dan ketika ia bertemu namja kecil itu dikampus nanti, ia sudah sepenuhnya milik Kris namun ada keyakinan dalam dirinya bahwa itu tidak akan terjadi. Chanyeol benar – benar sedang dipermainkan dengan perasaannya sendiri. Tanpa sadar ia mengacak rambutnya dengan kasar, membuat Kris menoleh dengan kaget,
"kau kenapa?" tanyanya heran
"eung-" belum sempat Chanyeol menemukan jawaban, tiba – tiba ponselnya berdering dan menampilkan nama 'Kim Jongin' disana, tanpa menunggu lama ia langsung meraih ponselnya, itung – itung mengalihkan perhatian kakaknya, pikirnya.
"yeoboseyo?"
"..."
"MWO? Ne aku kerumahmu sekarang!" Chanyeol langsung meraih jaket dan tas punggungnya, ia hampir saja berlari kearah garasi kalau saja Kris tidak mencekal tangannya
"ada apa?"
"Hyung pengumuman beasiswa telah dimajukan dan kami berempat lulus, hari ini aku akan mengurusnya, aku buru – buru, aku berangkat ne" katanya tanpa bersedia mendengarkan Kris yang seakan ingin mengucapkan sesuatu, namja bernama asli Park Wufan itu hanya tersenyum dan menggeleng melihat tingkah adiknya yang sangat ajaib.
.
.
.
.
Mereka berempat – (Jongin, Chanyeol, Baekhyun, Kyungsoo) sedang berada dikantin kampusnya, membicarakan soal beasiswa mereka. Setelah sama – sama tau tentang pengumuman, keempat namja itu sepakat untuk menggelar pesta kecil – kecilan disebuah cafe dan saling bertukar kado, konyol memang, namun itulah mereka selalu melakukan hal – hal aneh diluar batas kewajaran.
"ya! Jangan lupa kadonya harus yang berarti! Kuharap seseorang mengingat permintaanku walaupun aku baru saja berulang tahun," Baekhyun menaikkan nada bicaranya, melirik Chanyeol sekilas yang tengah mendengus keras
"siapa? Kris Hyung?" tanya Kyungsoo polos, membuat Chanyeol menajamkan telinganya meskipun ia berusaha cuek dan fokus dengan makanannya
"kau belum menjawab Kris Hyung?" tanya Kyungsoo lagi, Chanyeol yang mengerti pun mulai bertanya – tanya dalam hati, pertanyaan Kyungsoo barusan seperti menandakan bahwa baekhyun sudah membaca pesan dari Hyungnya
"memang apa yang harus aku jawab? Kris Hyung hanya bilang bahwa ia menyukaiku! Ia tidak memintaku menjadi kekasihnya," katanya polos sementara Kyungsoo menepuk keningnya sendiri dengan gerakan pelan
"Baek, itu artinya ia memintamu menjadi kekasihnya kau ini polos sekali. Sekarang kutanya, apa kau menyukainya?"
"siapa yang tidak menyukai pria tampan sudah mapan tinggi baik hati dan perfect seperti Kris Hyung hah?" Chanyeol diam – diam meremas sumpitnya, entah mengapa dadanya sakit sekali melihat Baekhyun menjawab pertanyaan Kyungsoo tanpa beban seperti itu
"geurae..kau akan menerimanya?" Kyungsoo bertanya dengan hati – hati, sedangkan Jongin? Jangan tanyakan lagi, namja tampan yang santu itu tengah asik bergelung dengan alam mimpinya disamping Kyungsoo.
"lihat saja nanti, Kris Hyung baru memgirimkan pesan jika ia akan meminta jawabanku setelah kita merayakan beasiswa ini," lalu semuanya terdiam, tidak tau apa yang harus masing – masing dari mereka katakan. terutama Chanyeol, namja itu bahkan sudah kehilangan selera makannya sedari tadi, meskipun ia sadar Kyungsoo tengah menatapnya iba, namun ia pura – pura tidak tau, pikirannya sedang kacau saat ini. Ia takut untuk menghadapi lusa, dimana mereka akan melaksanakan pesta kecil mereka dan setelah itu Baekhyun akan menjawab pertanyaan Hyungnya. Ia takut ia akan kehilangan Baekhyun-nya, ia takut Hyungnya akan membatasi ruang gerak Chanyeol bersama Baekhyun karena ia paham betul jika Hyungnya adalah tipe pria yang sangat posesif terhadap kekasihnya, namun diluar itu semua ia sangat berharap Baekhyun akan memberikan jawaban yang menyelamatkannya dan nasib berpihak pada hatinya. Baekhyun dan Kris adalah dua orang yang begitu berharga baginya, ia sungguh tidak bisa memilih satu diantara mereka berdua, maka dari itu situasi ini benar – benar seperti membunuhnya secara perlahan. Chanyeol menghela nafasnya dengan berat, kepalanya terasa berdenyut hebat, satu hal yang selalu ia ulang dalam hatinya ketika memikirkan Baekhyun, kuharap kau tak menghancurkanku lagi Byun Baekhyun.
.
.
.
.
To be continued...
.
.
.
.
HAAAAAAAAAAAAAAAI hehehehe chapter 3 udah update yeay! Seneng banget akhirnya bisa update dengan ga terlalu ngaret. Cukup cepet kan? Bilang iya please lol ga ngerti sih ini ff mau sampe chapter berapa yang jelas ga ampe puluhan karena gue juga males kali ngetik ampe segitu banyak wakakak well semoga kalian suka sama jalan ceritanya ya guys, semoga ga bosen juga, gue selalu berusaha nyelipin Chanbaek moment biar kata mereka belum dizona fluffy karena hubungannya masih gajelas. Hehe dan THANKS A LOT, IM TRULY MADLY DESPERATELY THANKING YOU GUYS gila gue baca review kalian itu udah keak orang gila, senyum2 sendiri, beneran review kalian itu ngemotivasi gue buat tambah semangat nerusin ff ini, apalagi ada yang ngefav dan ngefollow ya Tuhan limpahkan berjuta – juta pahala kepada mereka yang udah bersedia ngehargai ff abal gue333333333 oiya anyway kalo kalian ada yang bingung mau manggil gue apa, kalian bisa panggil ver, atau vero naneun vero imnida^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^lol insyaallah chapter depan update kilat lagi ya, doain aja semoga gue ga kena writerblock ahehehe oiya yang request atau mau saran boleh kok, nanti gue pertimbangkan siapa buat gimana munculin momentnya, entah jadi adek kakak atau apalah. Buat yang kemaren request kaitaem, bisa sih tapi kayaknya gajadi lover ya? Soalnya Jongin disini udah dipatenin buat Kyungsoo /gak mungkin jadi kakaknya aja? Kan mirip hehehehehehehe dan TO BE NOTICED, gue menerima segala macam saran tapi please jangan ngebash, kalo kalian gasuka ya gausah baca, dari pada maksa baca tapi ujung – ujungnya ngebash doang:-) hehe
Special smooch for:
Yeppeunnuna, nnukeybum, NAJIKA ALAMANDA, Hyemi Kim, Park Chan Gyu, TouchMyBody, ChanBaekLuv, Kim Eun Seob, chanbaekshipp, ShinJiWoo920202, rillakuchan, nur991fah, kireiasia95, Haiiro-sora, Vita Williona Venus, , guest, Astia morichan, , simbarella, Parkbaekyoda, chanbaekssi, chanbaekyu, 90rahmayani, Majey Jannah 97, Park Chan Gyu, CussonsBaekBy, Nenehcabill, devrina, YOONA, chanbaek'sbaby, Manusia kecoa, chanuchie, Bubbleepororo, lee. .
Yeah thank you guys hehe and last one, review please? XD
