Halo Choco kembali lagi xD lagi-lagi makasih banget buat udah yang mau ngasih review ^^ Choco jadi semangat ngelanjuti FF ini, kkk~ maaf kalau masih slow updatenya, soalnya pengen FF ini beneran ada feelnya jadi ga ngecewain readers-nim kkk~ okay deh.. selamat membaca

Warning! Only 18 +

Bahasa Frontal, Sex Activity, Yaoi

Mata Jongin makin membulat ketika pria itu mendekat ke arah Jongin dan menarik tangannya. "Ayo pulang Jongin.." ucap Sehun datar. "Ya! Apa-apaan kau ini.. Baekhyun.. Suruh dia pergi.." rajuk Jongin sembari menarik-narik lengan piyama Baekhyun.

Baekhyun menggelengkan kepalanya. "Aku tidak ikut-ikutan dalam urusan rumah tangga orang, Jongin." Ucap Baekhyun kemudian terkikik dan meninggalkan Jongin di depan pintu bersama Sehun. "Ya! Baekhyun.. Baekhyun-ah!" rajuk Jongin manja sembari menghentak-hentakkan kakinya. Bibirnya maju kedepan dengan pipi yang mengembung. "Teman macam apa kau, Baekhyun!" seru Jongin kesal dengan tangan yang masih di genggam Sehun tanpa Jongin sadari.

"Baiklah ayo pulang tuan putri, atau kau mau aku seret keluar apartement ini." Sehun menaikkah sebelah alisnya. "Sialan, aku laki-laki bocah.. Pulanglah, untuk apa jam segini masih keluyuran." Seru Jongin kesal. Sehun tersenyum miring. "Orang tuamu menitipkanmu padaku, itu tandanya kau adalah tanggung jawabku." Jawab Sehun tegas yang membuat pipi Jongin terasa memanas. Ada sesuatu yang bergetar di dalam hati Jongin yang membuat ia seperti ini. Ia, ia.. merasa di lindungi.

Dengan cepat Jongin mengalihkan wajahnya dari Sehun, ia tak ingin membuat Sehun melihat pipinya yang merona. Dan sialnya, ternyata diam-diam Sehun menyadari itu. Sehun menyeringai tipis, "Baiklah ayo kita pulang." Lirih Sehun lantas menarik tangan Jongin. Jongin yang terkejut di tarik berusaha menahan tangan Sehun balik. "Hei, aku masih pakai piyama.. tunggu sebentar, izinkan aku ganti baju." Jongin mendongakkan kepalanya. Sial, bocah ini sangat tinggi. Bagaimana bisa bocah berusia 17 tahun setinggi ini, Jongin merasa benar-benar mungil jika seperti ini.

"Tidak, ini sudah malam.." ucap Sehun cepat dan langsung menarik tangan Jongin. "Baekhyun! Selamatkan aku!" pekik Jongin kemudian. Membuat Baekhyun yang melihat Jongin & Sehun hanya tertawa geli.

Jongin duduk dengan kesal di dalam mobil Sehun setelah ia di tarik paksa dari apartement Baekhyun. Di tambah ia masih memaki piyama. Ia bahkan tak sempat mengambil dompetnya di kamar Baekhyun, Jongin hanya sempat membawa ponselnya.

Matanya sesekali melirik Sehun yang fokus menyetir. Beberapa pikiran berputar-putar di otaknya. Salah satunya bagaimana Sehun bisa menemukannya, "Eumm…" gumam Jongin mulai memecah keheningan. "Hei.. Oh Sehun.." lirih Jongin. Sehun meliriknya sebentar, "Kenapa?" jawab Sehun singkat membuat Jongin benar-benar ingin menonjok wajah sok cool Oh Sehun.

"Eumm.. Bagaimana kau bisa menemukanku? Apa kau seorang peramal? Apa kau memiliki indra keenam? Apa kau bocah indigo?" tanya Jongin penasaran sembari menatap Sehun penasaran. Sehun yang mendengar itu hanya tertawa dalam hati, bagaimana bisa laki-laki yang umurnya 5 tahun lebih tua darinya ini masih bisa berfikiran seperti anak kecil. Benar-benar polos, Kim Jongin cukup menarik di mata Oh Sehun.

Sehun melirik Jongin, menatap iris kecoklatan Jongin yang menatapnya dengan sorot mata polos dan penasaran. "Hei.. Kim Jongin, sepertiya otakmu itu memang hiasan saja. Apa kau tidak sadar tau apa gunanya GPS, huh.." ucap Oh Sehun membuat Jongin benar-benar ingin menonjok wajah bocah itu sekarang.

"Damn.. tapi kan aku…" belum sempat Jongin memberikan sanggahannya Sehun sudah mendekatkan tubuhnya pada Jongin, membuat wajah Sehun dan Jongin sangat dekat. Jongin bahkan tak mampu melanjutkan ucapannya, mendadak bibirnya terkunci. Jongin bisa merasakan hembusan nafas Sehun yang menerpa wajahnya.

Pipi Jongin memerah saat menyadari mereka sangat dekat, tubuh Jongin menegang.

"Lain kali, jika kau ingin kabur. Matikan dulu GPS di ponselmu sehingga orang lain tidak harus susah-susah untuk mencarimu.." bisik Sehun kemudian menyentil kening Jongin dengan kurang ajarnya. Sehun tertawa keras melihat wajah Jongin yang memerah. "AHAHAHA.. Lihatlah wajahmu, kau berharap aku melakukan apa…" gelak tawa Sehun pun memenuhi seisi mobil, sesaat kemudian Jongin mengerjapkan matanya seperti orang idiot (padahal memang sebenarnya Jongin idiot).

"Dasar maniak gila!" umpat Jongin kemudian.. " Kyaa! aku akan membunuhmu…" dan saat itu juga juga Jongin langsung menjambak rambut Oh Sehun dengan brutal sembari memukuli bahu Sehun. "Yaa! Kim Jongin.. Ya! Sakit.. Rambutku rontok! Jongin aku bisa botak!" teriak Sehun kemudian.

Dan suasana di mobil itu pun kembali ricuh karena tingkah seorang Kim Jongin.

Sehun turun dari mobilnya dengan wajah yang lusuh, rambut hitamnya terlihat berantakan karena ulah seorang Kim Jongin. Sehun melirik Jongin sebal, Sehun merasa Jongin membotaki dirinya secara paksa tadi.

Sedangkan orang yang di lirik Sehun kini malah melangkah dengan riang memasuki sebuah restoran siap saji, mata Jongin berbinar-binar setelah menjambaki Sehun tadi dan merengek kelaparan di dalam mobil. Membuat Sehun ingin menyumpal mulut Kim Jongin dengan bibirnya, eh? Baiklah.. Oh Sehun, sepertinya kau mulai menyadari Kim Jongin benar-benar menggairahkan. Kkk~

Sehun mengikuti langkah Jongin yang seperti anak kecil dengan cukup malu sebenarnya, bagaimana bisa pria berusia 22 tahun dengan sangat percaya diri memasuki sebuah restoran siap saji hanya dengan memakai piyama dan sandal jepit? Melihat Jongin saja sudah membuat Sehun menggeleng-gelengkan kepalanya. Menjaga Jongin ternyata hampir mirip rasanya seperti bocah berusia 10 tahun.

Sehun kemudian menghampiri Jongin yang berdiri baris antrian. Sesaat kemudian Jongin berbalik sembari membawa nampan berisi pesanannya. Sehun sediki heran menatap Jongin yang memandangnya dengan puppy eyes. Itu menggelikan, pikir Sehun.

"Sehun…" Jongin memanggil Sehun dengan nada manja yang terdengar menggelikan di telinga Sehun, mati-matian Sehun menahan gelak tawanya. "Bisakah kaubayar ini semua untukku?" ucap Jongin sembari cengengesan membuat Oh Sehun melongo. Sebenarnya mahluk macam apa di depannya ini? Setelah mengatan hal yang membuat rahang tampan seorang Oh Sehun nyaris melorot, Jongin dengan sangat riang berjalan ke sebuah meja kosong yang terdapat di dekat jendela restaurant itu tapi dengan cepat sehun mencekal lengan Jongin.

"Ya, Jongin! Kemana uangmu?" ucap Oh Sehun setengah berbisik. Jongin kemudian megerucutkan bibirnya. "Bodoh! Kau lupa, kau menarik ku pergi sebelum aku sempat mengambil uang dan dompetku.." oceh Jongin. Sehun kembali melongo. Jadi sebenarnya di sini siapa yang bodoh, pikir Sehun. "Ya sudah sana bayar…" ucap Jongin. Dengan berat hati Sehun melepaskan genggaman tangannya pada tangan Jongin kemudian menghampiri kasir. Sehun kemudian membayar semua total harga makanan yang di pesan Jongin. Sial, Kim Jongin memeras isi dompetnya. Pikir Sehun melihat banyak makanan yang di pesan Jongin.

"Kekasihmu sangat manis." Ucap pegawai kasir tersebut saat Sehun tengah menunggu kembaliannya, Sehun hanya tersenyum getir. "Yang benar saja, kekasih? Aku yakin kewarasanku sudah hilang jika aku sampai jadi kekasih manusia seperti Jongin.." batin Sehun. Sehun kemudian menyesap minuman bersodanya. Setidaknya ia butuh energy lebih untuk menghadapai manusia se-unik Jongin.

"Apa kau tidak pernah pergi ke restaurant siap saji, Jongin?" ucap Sehun saat melihat Jongin tengah melahap makanannya dengan sangat semangat. Jongin melirik Sehun sebentar, bocah itu kini duduk di depanya. "Hey, seharusnya kau sadar kau yang membuatku seperti ini.." tunjuk Jongin pada Sehun dengan menggunakan garpunya.

"Salahku?" ucap Sehun sembari menaikkan sebelah alisnya dan meletakkan minuman miliknya di meja. "Ya, salahmu.. Kau ada di rumahku seharian dan itu membuatku malas keluar dari kamar dan aku tidak tidak makan seharian." Oceh Jongin dengan mulut yang masih penuh. Membuat Sehun merasa kenyang sendiri melihat Jongin makan.

"Itu salahmu sendiri, dasar rakus." Ucap Sehun membuat Jongin mendongakkan kepalanya. "Ya! Rakus dan kelaparan berbeda, bocah!" seru Jongin yang malah di hadiahi senyuman dari Sehun. Jongin menatap Sehun heran, "Kenapa kau tersenyum?" ucap Jongin polos.

"Kau yang bocah, Jongin. Makan saja masih belepotan. Ada sisa saus di bibirmu…" Sehun kemudian tertawa terbahak-bahak melihat wajah Jongin yang seperti anak kecil. Pipi Jongin memerah, sial. Bocah ini terlihat tampan saat tertawa, pikir Jongin.

"Diamlah!" ucap Jongin cepat. Jongin kemudain menjilat sisa saus di bibirnya, lidah Jongin dengan sensual (entah itu di sengaja maupun tidak) menjilat bibir merahnya. Mata Sehun membulat, ia tak tau kenapa tapi ia merasa ada yang menyengat saat melihat Jongin melakukan itu di depannya. Sial, apa Jongin berusaha menggodanya.

Uhh.. Sehun benci mengakui ini. Tapi tadi Jongin benar-benar terlihat menggoda. Melihat bagaimana lidah itu membasahi bibir yang ehem terlihat seksi dan dan minta dilumat seperti milik Jongin sepertinya membuat tubuh Sehun memanas, entah bagaimana ceritanya tiba-tiba saja otak Sehun membayangkan kalau lidah dan bibir Jongin membasahi penis besarnya. Membayangkan bagaimana lidah itu membalurkan saliva milik Jongin dan membuat penis-nya basah, lalu bibir seksi Jongin menghisap penis tegangnya sampai…

"Ya.. Oh Sehun, ayo pulang aku sudah kenyang." Oh, sial! Suara Jongin langsung mengahcurkan fantasi seorang Oh Sehun. Tapi tunggu, bukankah tadi dia baru saja membayangkan Jongin? Oh Tuhan, apa yang ku lakukan? Batin Sehun. Ia merutuki dirinya sendiri, tentang bagaimana otaknya yang tiba-tiba saja membayangkan seorang seperti Kim Jongin? Jangan sampai.. Jangan sampai ini terjadi lagi. Pikir Sehun.

Tapi tunggu, ia merasa sesuatu yang aneh pada tubuhnya. Sehun melirik kearah selangkangannya, dan benar saja dugaannya. Sehun menggigit bibir bawahnya. Sial, hanya karena bibir seorang Kim Jongin sekarang penis-nya benar-benar menegang. Sehun, salahkan juga otakmu yang terlalu mesum itu.. Kkk~

"Sehun…" Jongin menatap bocah itu heran, Sehun tak merespon panggilannya dan masih masih menundukkan kepalannya, "Sehun.. Ayo pulang." Rajuk Jongin lagi kemudian menghentakkan kedua kakinya. Sehun menahan nafasnya, ia berusaha menahan ereksinya. Bahkan suara Jongin kini terdengar menggoda.

Merasa tak direspon Jongin menyentuh pelan bahu Sehun, "Sehun…" panggil Jongin lagi, sebenarnya ada apa dengan bocah ini? Pikir Jongin. "Iya.. iya, berisik sekali." Oceh Sehun kemudian langsung berjalan mendahului Jongin. Jongin melongo, ada apa dengannya? Kenapa dia tiba-tiba mengomel seperti itu? Apa salahnya? Batin Jongin.

"Hei, Oh Sehun? Kau kenapa?" tanya Jongin saat mereka berdua telah duduk di dalam mobil Sehun. Sehun melirik Jongin sebentar. "Tidak apa-apa.." ucap Sehun cepat. Satu tangan Sehun memegangi jaket miliknya untuk menutupi selangkangannya yang menggembung, mau jadi apa dia jika Jongin melihat ereksinya.

"Dasar aneh.." gumam Jongin, tanpa sengaja mata Jongin mengarah ke selangkangan Sehun. Dia baru saja menyadari sesuatu. "Hei bocah, kenapa kau menutupi selangkangan mu seperti itu?" ucap Jongin sembari memasang wajah penasarannya, deg.. Sial, bagaimana Jongin bisa mengetahuinya? Apa yang harus di katakannya sekarang? Tidak mungkin kan ia mengatakan pada Jongin seperti ini.

"Ini semua gara-gara kau Jongin, aku melihatmu menjilat bibir mu lalu aku membayangkan bibir mu itu mengulum penis-ku. Jadi cepat kulum penis-ku sekarang dan puaskan aku…" bayangkan saja Jika ia mengatakan hal itu pada Jongin.

Bukannya memuaskan penis Sehun mungkin Jongin malah memotong penis itu menjadi beberapa bagian dengan sadisnya. Oh tidak, ia masih menyayangi benda ini.

Sehun menggelengkan kepalanya cepat. "Tidak ada. Berhentilah bertanya Jongin, kau ini cerewet sekali.." jawab Sehun, Jongin mengerucutkan bibirnya dan Pukk "Akkhh..". Sebuah pukulan mendarat manis di kepala Sehun, "Hei bocah, berapa kali ku katakan padamu untuk lebih sopan padaku. Aku lima tahun lebih tua darimu…" kini gantian Jongin yang mengomel, sedangkan Sehun mengusap-usap kepalanya. Iya yakin jika berdekatan dengan Jongin lebih lama lagi dapat membuat otak jeniusnya hilang.

"Ya! Bisakah kau tidak menjitak kepalaku terus, aku tak mau ketampanan ku hilang hanya karena menjadi baby-sitter mu…" seru Sehun sembari menghentikan mobilnya di halaman rumah Jongin. Jongin mengerucutkan bibirnya. Oh Shit, Jongin tak tau kan menahan penis yang ereksi itu menyakitkan. "Kalau begitu besok jangan datang ke rumahku lagi…" ucap Jongin final lantas langsung keluar dari mobil Sehun dan membanting pintunya. Bagus, sekarang mereka terlihat seperti sepasang kekasih yang bertengkar.

"Heyy, Jongin!" seru Sehun saat Jongin melangkahkan kakinya dengan kesal ke dalam rumah. Bahkan sesekali ia menghentakkan kakinya, bibir Jongin pun tak berhenti mengumpati bocah-albino-mesum itu. Sedangkan Sehun, ia sesaat tertegun di dalam mobilnya sembari memandangi bokong Jongin yang ia akui lagi terlihat kenyal dan pas dalam genggamannya, melihat bagaimana bokong Jongin yang terhentak naik turun…

Oh Sial, sepertinya Sehun akan bermain solo malam ini di kamar mandinya nanti. Dan yang lebih parah, ia akan membayangkan Kim Jongin sebagai objek fantasi-nya.

TBC/END

Kyaa.. Maaf baru sempet update, aku nge-stuck banget waktu mau bikin lanjut FF ini akhirnya sekarang bisa update juga xD. Oh ya buat next chapter aku bakal usahain ngelanjut secepatnya. Soalnya aku juga udah ga tahan pengen liat HunKai NC-an xD. Okay, aku juga minta maaf kalau FF nya masih anu – tapi semoga readers-nim menyukainya ^^. Review juseyo~

Karena satu review buat FF ini bisa jadi semangat buat aku ^^