.

BaekhyunSamaa Present

Moment

.

.

.

-Brand-

"Terimakasih telah datang keacara pentas mahasiswa"

Xiumin tersenyum, sambil menyodorkan kertas tiket dan kembalian pada salah satu dari dua gadis didepannya.

Yah, disinilah ia, Kim Minseok yang kerap dipanggil Xiumin berada. Ia diloket tiket masuk untuk menjual, menghadapi complain dan pergantian seat, atau pembatalan tiket yang bahkan ia sendiri tak bisa menonton isi acaranya. Membosankan.

"Tribun atau Standing?"

Xiumin menanyakan pertanyaan –yang sama sejak tadi- pada pria didepannya sambil mencatat. Pria itu terdengar berdeham, lalu menunjuk tiket tribun.

"Tiket tribun 200 won harganya. Kau duduk diseat 125. Jika sudah diisi, kau bisa pindah ke seat 268, 190, atau 567. Tapi setelahnya mohon kau bicarakan dulu dengan petugas."
Xiumin menyodorkan tiket pada pria didepannya. Ia tersentak kaget saat pria itu menahan tangannya.

"Aku tak bawa uang. Bagaimana kalau aku bayar dengan ciuman?"

Gila!

Ia mendongak dan mendapati Kim Jongdae, juniornya diUKM tersenyum konyol. Sudah ia duga.

"Lepaskan tanganku dan cepat pergi dari sini"

Xiumin berkata tanpa ekspresi. Ia kemudian menarik tangannya dari genggaman Chen dan melanjutkan menulis pekerjaannya.

"Hyung-ah, kau dingin sekali padaku? Aku kan cuma menghiburmu agar tidak tegang"

Chen menampilkan ekspresi merajuknya, namun Xiumin-nya tidak peduli. Poor Chen.

"Hyung, kau mendengarku?"

Chen menyentuh pundak Hyung kesayangannya itu.

Set

Xiumin melepaskan tangan Chen kasar, lalu memandang sinis kearahnya.

"Kim Jongdae-ssi, berhentilah menggangguku! Kau pikir hanya dengan seperti ini aku akan membalas perasaanmu? Aku sudah punya Siwon-hyung asal kau tahu. Tak mungkin kan, aku yang terbiasa menggunakan sepatu Prada ini harus beralih ke sandal jepit sepertimu?"

Oh iya Xiumin sudah punya Siwon, Prada mahal miliknya

Yah memang, Prada yang elegan dan tak akan bisa dibandingkan dengan sandal jepit sepertinya.

Chen terdiam mendengar perkataan Hyung-nya ini. Sedetik kemudian ia tersenyum miris.

Tapi, apakah sandal jepit selalu lebih buruk dari Prada?

Chen membungkukkan badannya, mensejajarkan dirinya dengan posisi duduk Xiumin. Ia lalu mengacak rambutnya.

"Tidak ada salahnya mencoba sandal jepit, Hyung. Setidaknya ia mungkin lebih nyaman dari sepatu Prada milikmu"

Chen tersenyum tulus, lalu berbalik meninggalkan Xiumin diloketnya.

Xiumin terdiam, menyadari ada sesuatu yang aneh dalam dirinya.

Ia tak terpengaruh dengan sandal jepit ini bukan?

.

.

.

-Night Time-

Lay berlari menembus dinginnya malam di Seoul National University. Ia kini sedang berlari menuju asramanya, yang berjarak cukup jauh dari gedung pertunjukan pentas asrama.

Hah Hah Hah

Lay terengah-engah sambil memegangi pintu gerbang asrama.

"21.25-

Kau terlambat 25 menit Zhang Yixing"

Kim Suho menyingkirkan tangan Lay dan menutup gerbang asrama dengan santainya.

"Hei, kenapa sudah ditutup gerbangnya? Aku kan baru terlambat 25 menit"

Lay melontarkan demonya.

Suho memiringkan kepalanya, lalu mengangkat ujung bibirnya.

"Tuan Zhang, 25 menit itu sangat berarti"

Ia mendekat kearah gerbang, membuat tubuhnya hampir bersentuhan dengan Lay jika tidak ada jeruji besi yang menghalangi.

"25 menit seseorang terlambat diberikan pertolongan pertama saat kecelakaan, nyawanya bisa hilang"

Lay tergugup menyadari posisi sang ketua asrama –yang selalu menilangnya karena jam malam- ini. Ia terdiam sesaat sampai akhirnya merespon melawan.

"Ta-tapi ini kan hanya jam malam. Lagi pula bukankah biasanya Hyung mengijinkanku masuk? Aku bahkan pernah telat 30 menit sebelumnya"

Suho berbalik, lalu mengambil selimut beserta bantal dan melemparkannya kearah Lay.

"Tidak ada tapi-tapian. Kau sudah telat berulang kali. Tidurlah diluar. Aku akan mengawasimu dari sini."

Ia melangkah duduk ke bangku rotan disebelah pagar –diluar dan didalam pagar memang ada bangku rotan untuk berjaga-. Suho lalu memasang bantal, berbaring disana. Ia memejamkan matanya, sambil meneruskan perkataannya.

"Lagi pula aku mengijinkanmu masuk, karena alasanmu tak salah dulu"

Lay terdiam, bingung dengan perkataan Suho yang terakhir. Alasannya tak salah? Memang sekarang salah? Ia hanya tampil diacara pentas mahasiswa tadi, apa salahnya?

"Aku kan hanya tampil-"

"Kau tampil dipentas mahasiswa pada jam 20.45, dan berakhir jam 20.55. Jika langsung pulang keasrama, kau harusnya sampai jam 21.05. Tapi kau sampai disini jam 21.25. Kau pikir aku tak tahu kau menonton siapa? Kau menonton Chanyeol-mu bukan? Itu sesuatu yang salah!"

Lay membalikkan badan dan mendekat kearah pagar, menatap Suho yang berbaring sambil mengomel disana.

"Salah?"

Lay mengedip-ngedipkan kedua matanya, bingung.

Suho memiringkan posisi tidurnya, menghindari tatapan Lay yang seolah meminta jawaban.

Kenapa Suho bisa hafal waktu tampilnya?

Kenapa Suho bisa tahu kecepatan jalannya?

Kenapa juga Suho bisa tahu ia menonton Chanyeol yang notabene disukainya?

Kenapa juga ia salah hanya karena menonton Chanyeol?

Terlalu banyak yang ia ingin tanyakan.

Suho lalu mengangkat selimut hingga menutupi wajahnya yang memerah. "Cepatlah tidur. Aku tak mau penghuni asramaku sakit" ucapnya mengalihkan perhatian Lay.

TBC

Special Thanks for DwitaDwita, Peachzt, Brigitta Bukan Brigittiw, opikyung0113, kyeoptafadila, Reezuu Kim

terimakasih atas reviewnya, semoga kalian semua masih mau menunggu kelanjutannya.

Chapter 2 dan 3 saya posting berurutan, karena saya takut berhalangan (?) mempostingnya...

Chapter 1-3 penjabaran masalah... mungkin Chap 4nya baru bertemu bersama...

Sampai jumpa *bow*