"Ohayou, Hina-chan." Sapa Naruto melangkah menuju meja makan sambil menguap.

"O-ohayou, Naruto-kun." Balas Hinata dan ia segera menoleh kearah suaminya. Dan ia benar – benar mengeluarkan keringat dinginnya ketika ia melihat Naruto yang tengah duduk sambil menutup wajahnya dengan lengannya. Dan Hinata tahu, Naruto sudah kembali tidur.

Tapi bukan itu yang membuat Hinata seperti itu. Tapi anak sulungnya. Hiroto yang sudah dibangunkan oleh Yui, dan ke meja makan – tanpa diketahui oleh Hinata. Ikut tertidur dengan posisi yang sama dengan ayahnya.

Ayah dan anak sama saja. Hinata menghela nafas. Untunglah Yui tidak menuruni sifat ayahnya. Dan semoga saja Kaito dapat mengikuti jejak (?) Yui dan Hinata.

"Naruto-kun, jangan tidur di meja makan. Bangun, Naruto-kun." Panggil Hinata sambil menggoyangkan bahu Naruto.

"5 mangkuk Ramen Miso, paman Takeuchi." Gumam Naruto.

Hinata lesu. Suaminya memimpikan ramen miso(?), bukan dirinya?

Hinata tak menyerah. Kini ia menghampiri anak sulungnya. "Hiro-kun. Bangun sayang. Jangan tidur di meja makan." Panggil Hinata.

"Otou-san, jangan merebut ramen miso spesial-ku!" Hiroto bergumam.

Hinata kembali lesu. Kenapa anak sulungnya ini seperti duplikat suaminya. Dimulai dari fisik hingga kebiasaan secara tidak sadar. Mungkin hanya masa kecil saja yang membuat mereka berbeda. Hiroto yang lengkap dengan orang tuanya sedangkan Naruto tidak.

Hinata tersenyum mengingat hal itu. Namun, ia jadi teringat suatu hal. Hinata segera masuk kedalam kamar si bungsu dan menemukan Kaito yang saat ini sudah terbangun dengan posisi terduduk dan terlihat masih belum sadar sepenuhnya.

Hinata menggedong Kaito untuk sampai di meja makan dan segera melaksanakan rencananya. "Kai-kun. Lihat, otou-san tidak ingin bermain dengan Kai-kun."

Kaito yang entah bagaimana mengerti ucapan tersebut. Atau mungkin karena kebiasaan, Hinata untuk menggoda Kaito. Kaito yang tadinya masih setengah sadar langsung duduk tegak digendongan Hinata.

Dengan seringai imutnya. Kaito menarik telinga ayahnya dengan kencang dan bantuan Hinata. "Otou-chan, Otou-chan!" Kaito merengek pada ayahnya yang mulai tak nyaman.

Dan benar saja, Naruto langsung duduk tegak mendapat perlakukan menyebalkan tersebut. Ia yang saat itu tengah tertidur kini harus bangun gara – gara anak bungsunya yang kelewat semangat – seperti dirinya, bukan? – itu menjahilinya.

Naruto bangun dan segera beranjak. "Baik – baik aku akan mandi dulu." Gerutuan tak jelas itu tak sampai pada Hinata yang saat ini tengah mencari cara agar bisa membangunkan putra sulungnya.

Perlahan, Hinata menurunkan gendongan Kaito dan membiarkan si bungsu untuk duduk. Hinata mendekati Hiroto yang masih nyaman dengan posisinya.

"Hiro-kun. Sarapan sudah siap. Kali ini ramen miso, lho." Bujuk Hinata dengan suara yang pelan.

Tentu saja. Hal itu langsung membuat si sulung bangun dari tidurnya. Dan duduk dengan tegap. Dengan lugunya, si anak menengok ke kanan dan ke kiri mencari sesuatu.

"Mandi dulu, Hiro-kun. Ramen miso-nya akan segera matang." Ujar Hinata yang sukses membuyarkan bayangan ramen dari anak itu.

Hiroto hanya diam. Dengan gerakan menggosok leher belakangnya, dapat dipastikan anak itu tengah gugup karena ketahuan tidur di meja makan. "Baik, okaa-san." Dengan itu, Hiroto segera melenggang menuju kamar mandi.

Ketika Hiroto pergi, Hinata seakan ingat sesuatu. Namun, ia berusaha untuk tidak terlalu memikirkannya. "Nah, Kai-kun. Sekarang giliranmu mandi." Dan sama seperti anak yang lainnya. Mendengar kata mandi entah kenapa, Kaito panik sendiri. Ia sempat memberontak tidak ingin mandi, namun akhirnya ia mengaku kalah dan hanya memasang wajah cemberut anak – anak yang membuatnya semakin menggemaskan.

"Gyaa... Tou-san/Hiroto!" Suara teriakan dari dua suara yang berbeda itu membuat Hinata mengingat kembali apa yang sebenarnya ia lupakan. Hinata menahan tawanya mendengar seruan hal tersebut.

~oOo~

Disclaimer : Masashi Kishimoto

Genre : Adventure, Fantasy

Rate : T

Warning : OOC, Semi-AU, Beberapa hal tidak ada dalam Canon, Don't Like Don't Read, Peringatan tentang umur pemain :

Naruto N : 27 Tahun

Sasuke U : 27 Tahun

Naruto Uzumaki (Flashback) : 12-13 Tahun

Sasuke Uchiha (Flashback) : 12-13 Tahun

Hinata N : 27 Tahun

The Hope © Ru Unni Nisa

Present...

~oOo~

"Gah, menyebalkan." Gerutu Naruto ditengah perjalanannya menuju kantor hokage. Ia masih kesal karena kejadian di kamar mandi. Rupanya, Hiroto salah masuk kamar mandi. Di rumahnya, Naruto mempunyai 2 kamar mandi. Yang pertama untuk dirinya dan Hinata di dalam kamar. Kemudian, kamar mandi sisanya untuk anak – anak atau tamu.

Seharusnya tak masalah karena Hiroto adalah anak – anak dan lagi anaknya. Hanya saja, mendengar Hiroto berteriak seperti itu, benar – benar membuatnya terkejut. Ditambah karena ia sedang kaget dan tengah membawa sabun. Tanpa sengaja, sabun itu terjatuh dan membuatnya terpeleset. Dan kembali terdengar teriakan yang menyayat hati.

Sementara itu, sarapan pagi benar – benar cukup berantakan. Yui yang terus mengejek Hiroto dengan gumaman 'Mesum' itu membuatnya panas, karena ia juga merasa 'mesum' seperti yang dikatakan anaknya.

Kaito yang terus menangis yang membuat Naruto mengerutkan alisnya, bingung. Sebelumnya, Kaito tidak akan menangis tanpa sebab yang jelas. Dan yang semakin membuatnya bertambah bingung adalah Kaito yang terus merengek untuk bermain dengannya. Padahal, Kaito sudah terbiasa untuk bermain dengannya sepulang dari bekerja.

Dan Hinata yang sedari tadi menahan tawa. Ugh, pagi hari yang aneh bagi Naruto.

"Ohayou Gozaimasu, Hokage-sama." Sapa sopan beberapa warga yang tidak sengaja berpapasan dengannya. Naruto hanya tersenyum menanggapi sapaan itu, tanpa membalas salam dari beberapa warganya. Entah bagaimana, Naruto merasa aneh.

Namun Naruto tahu, bukan hal itu yang membuatnya menjadi 'sedikit' dingin terhadap beberapa warga. Naruto menghela nafasnya. Kadang ia sempat mendengar warga berbicara tentang-

"Seharusnya anda tidak membuang kebahagian anda dipagi hari, Rokudaime-sama."

Teguran sekaligus sapaan itu terdengar oleh Naruto dari belakang. Dahi Naruto merengut mendengar nada mengejek itu. Tanpa melihat apalagi menoleh, ia sudah tahu siapa yang 'menyapa'nya pagi itu.

"Terima kasih sudah mengingatkan, Ketua Anbu-sama." Balas Naruto sarkatik. Naruto mendelik, menatap tajam orang yang ia panggil sebagai 'Ketua Anbu-sama' itu.

Naruto mendengar pelaku itu terkekeh pelan. Naruto terpaku, meskipun ia sudah beberapa kali melihat pelaku ini menunjukan ekspresi lain. Namun tetap saja, ia belum terbiasa. Naruto segera menghilangkan pemikiran tak berguna itu dan melanjutkan perjalanannya. Diikuti oleh 'Ketua Anbu-sama'.

Beberapa kali, Naruto disapa oleh warga yang berpapasan dengannya. Dan, lagi – lagi Naruto membalasnya dengan senyuman.

"Menunjukan senyum bodoh itu lagi, Rokudaime-sama?" Lagi, Naruto mendengar nada mengejek dipertanyaan itu.

"Hn." Balas Naruto malas. Sudah cukup pagi harinya dipusingkan oleh anak – anaknya. Sekarang ia malas untuk adu argumentasi dengan 'teman' satu team-nya dulu saat Genin itu.

"Ck." Akhirnya pelaku itu kesal sendiri dengan orang yang ia panggil 'Rokudaime-sama' itu.

"Aku akan menunggu laporan misimu sebelum waktu makan siang." Ujar Naruto pada akhirnya dan tidak lagi mengacuhkan pelaku itu. Naruto dapat merasakan pelaku itu mengerutkan keningnya meskipun berada dalam wajah datar.

Akhirnya Naruto membalikkan badannya. Dan menemukan seorang pemuda dewasa seumuran dengannya tengah ada dihadapannya. Seorang Uchiha Sasuke yang sudah berdiri gagah dengan pakaian Anbunya.

"Uhm... Memangnya kau tidak kangen dengan Sakura?" Tanya Naruto mencoba menggoda orang yang selalu membuatnya naik pitam. Naruto menyeringai mendapati orang itu mulai salah tingkah dihadapannya. Meskipun sudah berusaha ditutupi dengan wajah datarnya.

"Urusai!" Jawab Sasuke kesal. Ia tidak peduli lagi dengan sikap sopannya. Ia dan Naruto sudah biasa bertengkar seperti itu kalau mereka tidak berada di kantor ataupun di pertemuan resmi.

"Hn. Hn. Aku mengerti, pergilah. Aku yakin, Sakura dengan anakmu, Rei tengah merindukanmu." Betapa senangnya Naruto menggoda orang yang selalu memasang wajah datar itu. Mungkin seharusnya ia mencobanya pada Gaara, setiap kali ada istirahat pada setiap pertemuan. Terdengar menyenangkan.

"Ck. Baiklah, Rokudaime-sama. Saya pergi dulu. Saya akan melaporkan misi sebelum waktu makan siang." Dengan itu Sasuke dengan cepat melesat menjauhi Naruto. Meninggalkan Naruto yang masih memikirkan cara lain untuk menggoda orang – orang yang dingin. Entah itu Gaara, Shikamaru, Shino – Ok, ia harus menghilangkan Shino dari daftar orang – orang kerjaannya jika ia tidak ingin bergulat dengan serangga kecil itu.

...

Naruto menguap lebar. Ia malas untuk mengerjakan tugas yang benar – benar seperti anak sekolah ini. Naruto benar – benar merasa bosan. Kalau ia pulang, mungkin Kaito tidak akan membiarkannya kembali ke kantor. Lagipula, Moegi – asistennya – akan menariknya, menyeretnya dengan senang hati untuk kembali ke kantor.

Tok...Tok...Tok...

"Masuk." Tanpa pikir panjang Naruto langsung memerintah. Ia benar – benar sedang malas sekarang. Dan begitu pintu dibuka dengan hati – hati ia dapat melihat Hinata yang sedang berdiri sambil membawa bungkusan. Dan jangan lupakan Kaito digendongan Hinata.

Naruto mengerutkan alisnya. Ia melihat kearah jam dan langsung menyadarinya. Makan siang. Tanpi entah kenapa ia teringat seseuatu yang ia lupakan. Dengan cekatan, Naruto menarik tangan Hinata dan mendudukannya di sofa tamu.

"Apa kau bawakan Hina-chan?" Tanya Naruto.

"A-aku membawakan makan siang untukmu Naruto-kun." Gugup seperti biasa.

Naruto mengalihkan perhatiannya pada putra bungsunya yang terlihat ingin sekali bersamanya. "Sepertinya kau membawa sesuatu yang lain, Hina-chan."

Hinata baru tersadar. "A-ah iya. Kaito menangis ingin sekali bertemu denganmu. Apa tidak apa – apa, Naruto-kun?"

Naruto tersenyum dan membawa Kaito kepangkuannya. "Kenapa Kaito ingin sekali bermain dengan Tou-san?" Tanya Naruto kemudian ia mengangkat Kaito dan memperagakan Kaito adalah pesawat yang terbang.

"Ha-hati – hati, Naruto-kun." Pinta Hinata khawatir. Namun melihat Naruto dan Kaito yang sedang enak sendiri. Hinata segera meletakan makan siang yang ia bawa untuk suaminya. "A-ayo dimakan, Naruto-kun."

"A-ah, iya." Jawab Naruto sambil menurunkan Kaito dan duduk dipangkuannya. Ia segera memakan makan siangnya dan sesekali menyuapi Kaito yang terlihat lapar.

"Kau tahu, Hinata. Kau membuatku teringat ketika aku masih Genin." Ujar Naruto tiba – tiba ketika Hinata tengah membereskan alat makan. Hinata segera mengalihkan perhatiannya pada Naruto yang saat itu tengah menatap Kaito yang tertidur.

Hinata terdiam, menunggu suaminya melanjutkan. Hinata dapat melihat suaminya itu tengah terkekeh pelan, seolah mengingat sesuatu yang lucu. Naruto menerawang, membayangkan masa Genin-nya dulu.

FLASHBACK : ON

"Oi, Sasuke." Panggil Naruto ketika ia dan Sasuke berjalan beriringan menuju rumah masing – masing setelah menjalankan misi bersama tim 7.

"Hn?"

"Uhm... Ba-bagaimana caranya mendapatkan bento?" Tanya Naruto pelan. Ia benar – benar malu, bagaimana bisa menanyakan sesuatu yang tidak masuk akal itu terhadap seorang anak laki – laki, apalagi Sasuke adalah musuhnya.

Malas berfikir dan tidak ingin melanjutkan perbincangan tak masuk akal ini. Sasuke menjawab sambil mendengus. " Buat saja bento sendiri." Singkat, padat dan jelas.

Naruto menghela nafasnya lelah. Ia menyerah. Untuk apa ia menanyakan hal itu pada Sasuke yang kelewat dingin itu. Ia serius. Ia merasa iri dengan Sasuke yang selalu mendapat bento dari anak perempuan. Entah itu Sakura, Ino ataupun anak perempuan lainnya. Untuk itulah, ia meminta arahan dari Sasuke.

"Mau taruhan?" Pertanyaan Sasuke sukses membuatnya membuatnya terkejut.

"Taruhan?"

"Ck. Kita taruhan. Siapa yang mendapatkan bento paling enak dari anak perempuan, itulah yang menang." Jawab Sasuke cepat. Ia terdengar malas untuk menjelaskan.

"Memangnya apa yang kita taruhkan?" Entah bagaimana Naruto merasa firasatburuk atau mungkin baik (?).

"Yang kalah harus mau menjadi pelayan yang menang selama satu minggu penuh." Tungkas Sasuke cepat.

Naruto berfikir. Kalau seperti itu, dirinyalah yang kalah, mengingat Sasuke memiliki fansgirl yang sangat banyak. Ini merugikan dirinya.

"Kau takut, Naruto?" Sasuke mencoba memanas – manasinya.

Naruto yang mendengarnya langsung panik. secara tidak langsung, Sasuke mengejeknya pengecut. Dan tersulutlah emosi Naruto.

"Siapa yang takut? Aku pasti menang." Ujar Naruto semangat. Namun dalam dirinya sendiri, entah kenapa ia benar – benar merasa ragu.

Sasuke membalas dengan seringai khasnya. "Baik. Kita akan tunggu 1 minggu lagi." Dan dengan begitu Sasuke segera melenggang menuju rumahnya sendiri menunggalkan Naruto yang sedang merutuki dirnya sendiri.

Naruto menepuk keningnya. Kenapa ia mudah dipancing seperti itu. Sekarang ia harus mencari cara agar ada anak perempuan yang memberinya bento. Atau tamatlah dirinya untuk menjadi pelayan Uchiha bungsu menyebalkan itu.

...

Satu minggu sudah Naruto meminta pada Sakura, Ino, Tenten dan Hinata untuk membuatkannya bento pada hari yang merupakan hari pertaruhan. Dan kita lihat apa yang didapat Naruto.

Hari pertama setelah taruhan. Ia meminta pada Sakura yang langsung menolak dan mengatakan kalau bento buatannya hanyalah untuk Sasuke. Dan mendapat teriakan 'Shanaro' milik Sakura plus benjolan yang ia terima di kepalanya.

Sakura, misi failed.

Hari kedua, Naruto meminta pada Ino. Dan benar saja, reaksinya hampir sama seperti Sakura. Namun kali ini penuh dengan bahasa – bahasa bunga yang tidak dimengerti Naruto. Mungkin bermaksud agar Naruto menyerah. Yah, itu hanya kemungkinan.

Ino, misi failed.

Misi selanjutnya adalah Tenten. Namun,sepertinya Naruto sudah memperhitungkan hal itu. Dengan mudahnya Naruto membayangkan bagaimana bento buatan Tenten pasti penuh dengan senjata. Oh, my. Itu benar – benar imanjinasi liar. Naruto mengurungkan niatnya.

Tenten, misi failed.

Ini adalah harapan terakhir Naruto. Anak perempuan yang Naruto kenal dan sebaya dengannya adalah Hinata dan ketiga temannya diatas. Hari keempat, Naruto meminta tolong pada Hinata dan langsung melihat Hinata yang pingsan. Ada dengan Hinata? Kenapa bisa pingsan hanya karena Naruto ingin Hinata membuatkannya bento?

Dapat dipastikan. Hinata, misi failed.

Ugh. Naruto benar – benar ingin bersembunyi. Ia terus mengutuki kebodohannya karena menyanggupi tawaran taruhan Sasuke. Ia menyesal sekarang. Dan teringat nasihat Iruka-sensei yang mengatakan taruhan itu tidak boleh.

Ya, sudahlah. Lagipula ia hanya menjadi pelayan Sasuke selama satu minggu jika ia kalah. Ya, tidak salah lagi. Naruto akan kalah.

Naruto melihat Sasuke telah menunggunya di tempat mereka melakukan taruhan. Naruto merasa ingin kabur. Namun ia tidak boleh seperti itu, bisa – bisa Sasuke akan terus mengejeknya dengan menyebutnya pengecut.

Bagitu ia sudah berada di dekat Sasuke. Naruto dapat melihat dengan jelas seringai mengejek Sasuke. Naruto bersumpah, ingin sekali merobek mulut Sasuke yang menyebalkan itu jika saja ia tidak melihat Sakura berlari kearah mereka.

Tidak, tapi kearah Sasuke. Naruto menghela nafas. Sasuke sudah menang 1-0 dengannya. Ia melihat Sakura dengan senang dan berseri – seri memberikan bento buatannya kepada Sasuke yang menerimanya dengan cuek tanpa terima kasih. Dan itu berhasil membuat Naruto kesal sendiri.

2-0. Naruto merasa kalah. Sasuke kembali menerima bento. Sekarang berasal dari Ino. Ino terlihat sama seperti Sakura yang kini bertengkar mengenai siapa bento yang paling enak.

Naruto risih sendiri mendengar dua anak perempuan ini terus bertengkar. Namun kini Naruto hanya terbengong melihat Tenten yang menyerahkan sebuah bento pada Sasuke. Kapan Sasuke memintanya? Dimaklumi apabila itu adalah Sakura dan Ino atau fansgirl lain. Tapi ini, Tenten?

Ugh, otak Naruto benar – benar pusing belum lagi ia harus menerima kenyataan kalau ia harus kalah dari Sasuke dan menjadi pelayannya.

"Na-Naruto-kun." Panggilan itu membuat Naruto melihat siapa yang telah memanggilnya. Naruto dapat melihat Hinata berada disampingnya sambil membawa bento. Apalagi ini? Apakah Hinata akan memberikan bento pada Sasuke? Oh, ya. Naruto benar – benar kalah.

Namun, pemikiran Naruto langsung buyar ketika melihat Hinata tengah memberikan bungkusan itu padanya. "A-aku membuatkan be-bento untuk Na-Naruto-kun. B-bukankah Na-Naruto-kun menginginkanya?" Tawar Hinata tergagap dan terlihat wajahnya yang sudah merah itu berusaha menahan diri untuk tidak pingsan.

Naruto langsung menjadi cerah. "Benarkah, Hinata-chan?" Tanya Naruto berteriak senang. Dengan kaku Hinata mengangguk. Naruto menerimanya dengan senang hati. " Arigatou, Hinata-chan." Naruto tersenyum manis pada Hinata.

Hinata yang melihatnya hampir saja pingsan, jika ia tidak meyakinkan diri sendiri untuk tidak pingsan dan mendengar bagaimana pendapat Naruto mengenai bento buatannya.

"Oi, Sasuke. Ayo, kita buktikan." Dengan seringai di wajahnya, Naruto segera duduk berhadapan dengan Hinata. Sementara Sasuke bersebelahan dengan Naruto. Tenten, Ino dan Sakura duduk beriringan dengan Hinata.

Naruto dan Sasuke membuka bento mereka bersamaan. Naruto yang pertama beraksi. Ia segera mengambil dadar gulung buatan Hinata dan menyantapnya. Dengan berseri – seri, Naruto langsung menjawab. "Enak!"

Hinata nyaris pingsan mendengar satu kata itu.

Mendengar hal itu membuat Sasuke merasa panas. Ia segera memperhatikan bento buatan Tenten. Sungguh. Benar – benar seperti dugaan Naruto. Penuh akan benda tajam. Tanpa sadar Sasuke menelan ludahnya. Keputusan buruk meminta bento buatan Tenten.

"Ini bisa membuatmu bertambah kuat, Sasuke-kun. Dengan makan paku kecil ini kemudian serbuk ka-" Belum sempat Tenten menyelesaikan. Sasuke sudah memotongnya.

"Cukup. Err... Kenapa kau tidak menawarkannya pada Naruto?" Sasuke berusaha menghindar dengan menggunakan Naruto sebagai umpan.

Tenten-pun hanya mengangguk setuju. Ia segera mengambil bentonya dan mendekati Naruto yang dengan tenang menyantap bento buatan Hinata.

Tak ingin mengetahui lebih jauh lagi. Sasuke segera membuka bento buatan Sakura. Wajahnya langsung pucat pasi. Bento ini memang lebih baik dari milik Tenten. Hanya saja, Sasuke merasa ada yang aneh. Bento ini mengerikan.

"Ayo dimakan, Sasuke-kun." Bujuk Sakura dengan manjanya.

Dengan dramatis, Sasuke mengambil sebuah tempura yang terlihat – mungkin paling – normal. Kemudian memakan dan mengunyahnya. Kembali, wajah Sasuke langsung pucat seperti mayat. Sasuke dapat merasakan rasa aneh dalam tempura ini. Gosong, belum matang dan mentah

"Cukup." Sasuke langsung mendorong pelan bento menuju pemiliknya. Sasuke dapat melihat Sakura yang terlihat ingin menangis, namun ia tidak memperdulikannya. Sekarang, Sasuke sangat berharap bento terakhir ini membuatnya menang.

Sasuke kembali menelan ludahnya ketika melihat isi bento buatan Ino. Penuh dengan bunga. Dadar gulung yang terlihat enak namun siapa sangka, didalamnya terdapat potongan kelopak bunga mawar merah. Oh, ya. Sasuke dapat melihatnya.

Tempura yang berwarna – warni karena potongan kelopak bunga. Lagi – lagi Sasuke sepertinya mengutuk kesalahannya untuk meminta dibuatkan bento. Ia melirik kearah Naruto yang saat itu dengan senangnya menyantap bento buatan Hinata bersama dengan Tenten yang terus bertanya bagaimana membuat bento.

Sasuke menghela nafasnya. Sepertinya, Sasuke akan kalah. Ia harus menjadi pelayan Naruto. Tunggu, itu tidak bisa. Harga dirinya terlalu tinggi untuk menjadi seorang pelayan. Tidak akan mungkin. Dengan pikiran yang kalut, takut akan kalah. Sasuke berbuat nekat.

Ia mengambil dadar gulung buatan Ino. Dan ia dapat melihat dengan jelas mata Ino bersinar menunggu Sasuke memuji makanannya. Baru saja ia mengunyah dadar gulung itu. Wajahnya berubah warna menjadi hijau. Dan langsung pingsan.

Meninggalkan Naruto yang sedang menikmati bento. Sementara itu, Sakura dan Ino sama sekali tidak memperdulikan Sasuke. Mereka terus saja mendengarkan bagaimana Hinata memberi mereka arahan cara membuat bento.

"Yare – Yare ~ ." Gumaman itu terdengar di salah satu atas pohon. Dan terlihat Kakashi yang sedang jongkok sambil membaca buku kesayangannya. "Kasihan sekali kau, Sasuke."

Sepertinya hanya Kakashi yang menyadari keadaan Sasuke. Namun, tak lama karena ia langsung konsentrasi dengan bacaannya.

FLASBACK : OFF

Hinata tertawa pelan mendengarnya. Ia tidak menyangka, Naruto masih mengingat kejadian itu. Saat itu, Hinata-lah yang pertama menyadari keadaan Sasuke. Sementara itu Ino dan Sakura langsung heboh melihat pengeran mereka keracunan.

Naruto tidak memperdulikan Sasuke. Ia lantas mengajak Hinata pulang. Dan Tenten ikut pulang, karena ia merasa tak bersalah. Ingat, Sasuke bahkan sama sekali belum menyentuh bento buatannya. Jadi biarkan saja.

"Ne, Hinata kau tahu apa permohonanku?"

Hinata mengerjapkan matanya. Kemudian ia menggeleng pelan.

Dengan senyum tipis, Naruto menyeringai. "Aku ingin terus memakan bento buatan Hinata-chan."

Hampir saja, Hinata pingsan. Ia tidak menyangka Naruto membuat permohonan seperti itu. Wajahnya memanas, ia merasa malu. Oh ayolah, kenapa dia harus malu pada suaminya sendiri, eh?

"Hina-chan akan mengabulkannya?" Goda Naruto.

Wajah Hinata semerah tomat. Dengan pelan, ia mengangguk. "A-aku akan berusaha mengabulkannya, Na-Naruto-kun." Ah, Hinata kembali gagap.

"Arigatou Hina-chan."

Dan momen itu ditunda oleh suara khas anak – anak. "Tou-chan, Kaa-chan. Chugoi!" Si bungsu Namikaze benar – benar heboh. Entah kenapa ia justru bertepuk tangan. Apa ia bertepuk tangan dengan momen itu, eh? Sepertinya Kaito telah bersekutu dengan Author untuk menghentikan hal itu. Hei, dihadapan mereka ada anak – anak, bukan?

Naruto mengerutkan alisnya, bukankah tadi Kaito sedang tertidur. Ah, apakah Naruto tidak tahu, Author-lah yang sudah membangunkan Kaito agar menjalankan perannya.

Tok...Tok...Tok...

"Masuk" Titah Naruto kembali terdengar.

Ketika pintu terbuka, menampilkan sosok Sasuke Uchiha yang terlihat mencari Hokage. Melihat Sasuke, entah kenapa Hinata ingin sekali tertawa. Berusaha untuk tidak terdengar, Hinata menutup mulutnya.

Melihat gelagat aneh dari istri Hokage, Sasuke mengerutkan dahinya. "Ada apa, Namikaze-san?"

"Ma-maaf, U-Uchiha-san. Sa-saya tidak bermaksud menertawakan anda." Ugh, interaksi dari keturunan bangsawan ini benar – benar membuat suasana menjadi kaku.

"Kau terlambat, Sasuke. Aku mengatakan menunggu sebelum jam makan siang. Tapi kenapa justru sebaliknya." Perkataan Naruto sukses membuat suasana menjadi cair.

"Hn. Maaf." Singkat. Sasuke berusaha untuk membiasakan diri meminta maaf. Kalau tidak, entah bagaimana nasibnya ditangan Sakura. "Lalu apa yang terjadi?" Tanya Sasuke ia masih penasaran dengan tingkah istri Hokage.

Mendengarnya Naruto menahan tawa. "Kau ingat taruhan bento, Sasuke? Ah, sudah lama sekali, bukan?" Naruto menyeringai.

Sasuke bersumpah, ia merutuki ambisiusnya. Seharusnya ia tidak perlu menanyakan hal itu jika tahu membahas hal memalukan ini. Wajahnya memerah, mengingat wajahnya yang terlihat bodoh ketika keracunan bento buatan Ino yang ternyata tidak sengaja terdapat racun dari salah satu bunga.

"Hokage-sama. Aku ingin menyerahkan surat cutiku." Panggilan itu sukses membuat Sasuke, Naruto dan Hinata menolehkan kepala mereka. "Sasuke-kun, sedang apa?"

Pertanyaan dari sang istri yang tengah mengandung anak keduanya itu sukses membuat Sasuke mengingat bagaimana rasa bento buatan sang istri. Wajah Sasuke langsung pucat. Secara tidak sadari ia menelan ludahnya.

"Kau kenapa Sasuke-kun? Sakit?" Rasa khawatir merayap dalam diri Sakura.

Sasuke kembali merutuki kebodohannya. Ia menghela nafasnya. Menghilangkan bayangan itu. "Tidak apa – apa, Sakura." Berusaha menenangkan istrinya. Sakura menyeritkan dahinya. Bingung.

Dan suara tawa seseorang yang familiar itu sukses membuat Sakura tersadar dimana mereka berada. Ia melihat Hokage mereka tengah tertawa dengan senang. Sementara Kaito ikut tertawa senang melihat ayahnya tertawa. Dan Hinata hanya tersenyum kecil.

"Wajahmu lucu sekali, Sasuke."

Sungguh, Sasuke tidak tahan untuk segera melayangkan Chidori pada Rokudaime-sama itu. Dan Sakura hanya terdiam kebingungan melihat keluarga Namikaze itu tertawa. "Memangnya apa yang lucu, Sasuke-kun?" Dan dapat Sakura lihat suaminya itu tengah mengeluarkan aura hitam yang sama sekali tidak enak.

"Urusai, Hokage-sama!"

THE END

AUTHOR NOTE:

Ok, tolong jangan bantai saya karena sudah membuat Sasuke sangat OOC. Tapi saya sudah memperingatkan diatas bahwa Fic ini penuh dengan OOC. Selain karena tuntutan cerita, lagipula usia mereka tidak lagi remaja, bukan?

Entah bagaimana, saya sedikit merasa risih dengan panggil 'Dobe' dan 'Teme'. Ingat mereka dewasa disini. Jadi saya berusaha agar mereka menjadi seorang 'bapak – bapak' keren.

Ok, saatnya membalas review. Bagi yang login, sudah saya balas dengan via PM. Sementara yang tidak login dan belum punya akun akan saya balas disini. Saya akan panggil teman untuk menemani saya.

Unni : Ayo, Raha-chan. Temani aku sebentar. (Tarik tangan seseorang)

Raha : ...

Unni : Raha-chan mau, ya membantuku membalas review readers dan senpai?

Raha : Iya, iya (pasrah)

Unni : (Mengeluarkan Grins khas) Yosh, ayo kita mulai.

Dari Nervous

Unni : Ok, akan saya usahakan agar terus update.

Dari Manguni

Unni : Arigatou Gozaimasu. J

Dari Fuuku

Unni : Gyaa... Raha-chan baca? Aku dipanggil 'senpai'.

Raha : Iya, iya. Suara kamu ini benar – benar membuat satu kelas pusing tahu.

Unni : Hehe...

Raha : Fuuku-san tahu, Unni hampir saja berteriak senang ketika membaca review anda. Bahkan beberapa guru juga kena imbasnya.

Unni : Hehe...Habis aku benar – benar merasa senang. Tapi kalau bisa jangan panggil aku 'senpai'. Aku masih newbie, lagipula aku belum genap satu bulan disini. Aku merasa belum pantas. Untuk itu panggil saja dengan nama, Ok!

Raha : Unni, bagaimana dengan pertanyaanya?

Unni : Oh iya, aku lupa. Soal tiap chapter membahas satu permohonan, ya? Mungkin, Bisa jadi. Hehe... Aku belum menentukannya.

Raha : Sabar saja, ya menghadapi Author menyebalkan ini.

Unni : Raha-chan jahat seperti Ian-chan. Menyebalkan.

Raha : Hei, Unni. Boleh aku request?

Unni :Eh, Request apa?

Raha : Request tentang permohonan Naruto, Ok! (Mulai membisikkan sesuatu pada Unni)

Unni : Ok, Unni usahain, ya. Oh, bagi para readers dan senpai juga boleh me-request permohonan Naruto. Tapi via PM, ya. Supaya bisa jadi kejutan.

Raha : Kalau yang belum punya akun kayak aku bagaimana?

Unni : Oh iya. Ya, udah lewat pesan facebook juga bisa. Akun facebook-ku ada di profil. Kalian bisa melihatnya sendiri, Ok!

Raha : Beres. Tinggal kirim pesan lewat Facebook.

Unni : Oh,ya. Sebelum itu. Ada salah satu readers yang menanyakan Unni tentang lanjutan dari Fic "Teman?". Sebelumnya Unni berterima kasih pada readers dan senpai yang sudah mau menunggu. Tapi mengingat Unni adalah Author newbie. Jadi masih belum macam – macam. Unni berencana akan melanjutkannya kalau fic ini sudah hampir tamat. Ya, semuanya kembali pada para readers. Kalau mau nunggu fic ini selesai, it's ok. Tapi kalau enggak, akan Unni usahain untuk publist.

Ok, Raha dan Unni mulai dari sini pamit. Sampai disini dulu, ya. Jangan lupa mengingatkan kesalahan Unni dan pertanyaan bisa diajukan melalui Review. Sementara untuk request bisa melalui PM atau pesan di akun facebook yang ada di profilku. Ingat, untuk request jangan di review. Arigatou Gozaimasu. (Membungkuk)

Jaa ne~~