Disclaimer : Detektif Conan milik Gosho Aoyama.
Hanya Dirimu
By Enji86
Cerita Tiga
Keesokan paginya Shiho mengetuk pintu kamar orang tua angkatnya.
"Paman, Bibi, apa aku boleh masuk?" tanya Shiho setelah mengetuk pintu.
"Masuklah, Shiho-chan." jawab Yukiko.
Shiho masuk ke dalam dan menutup pintu di belakangnya. Dia menarik nafas panjang sebelum membuka mulutnya.
"Aku bersedia menjadi ibu Tama-chan dan Taka-chan." ucap Shiho.
Yusaku dan Yukiko langsung tersenyum lembut pada Shiho dan menatapnya dengan tatapan terima kasih.
XXX
Lima tahun kemudian...
Sore itu Shiho sedang sibuk membantu Tamaki dan Takami memakai baju mereka untuk ekstrakurikuler yang mereka ikuti. Tamaki masuk SSB alias Sekolah Sepak Bola sedangkan Takami berguru karate di sebuah dojo.
"Ibu, kemarin aku melihat temanku bermain tangkap bola dengan ayahnya. Mereka kelihatan gembira sekali." ucap Takami tiba-tiba.
"Benarkah?" komentar Shiho.
"Ayah Akuno-kun juga selalu menonton jika kami bertanding dengan SSB lain." Tamaki ikut bicara.
"Jadi?" tanya Shiho.
Tamaki dan Takami hanya menatap Shiho dengan ekspresi bingung sehingga Shiho tersenyum.
"Kenapa kalian menceritakan tentang ayah-ayah teman kalian pada Ibu?" tanya Shiho.
"Tidak ada apa-apa kok." jawab Tamaki.
"Aku cuma ingin cerita. Itu saja." jawab Takami.
Shiho menarik kedua anak itu ke dalam pelukannya.
"Kalau kau mau main tangkap bola, kau kan bisa main dengan Tama-chan, ya kan Taka-chan? Ibu juga selalu menonton pertandinganmu, jarang lho ada ibu yang nonton pertandingan sepakbola, ya kan Tama-chan?" ucap Shiho.
Kedua anak itu mengangguk-anggukkan kepalanya.
"Tapi kami bahkan tidak pernah bicara dengan Ayah karena Ayah berangkat sebelum kami bangun dan pulang setelah kami tidur." ucap Takami.
Shiho melepaskan pelukannya kemudian menatap wajah anak-anaknya itu.
"Bukankah Ibu sudah bilang, Ayah sibuk menyelamatkan orang-orang, sama seperti superman yang kalian idolakan itu. Banyak orang membutuhkannya jadi kalian tidak boleh egois." ucap Shiho.
"Tapi tak bisakah sekali saja, Ayah..." Tamaki tidak melanjutkan perkataannya.
"Ya sudah. Nanti Ibu akan mencoba membujuk Ayah agar dia mengambil cuti saat liburan musim panas ini dan menghabiskan waktu dengan kalian, bagaimana?" ucap Shiho.
"Benarkah?" seru Tamaki dan Takami serempak dengan wajah ceria.
"Ya, nanti Ibu akan bicara dengan Ayah. Sekarang, kalian harus berangkat supaya tidak terlambat." ucap Shiho.
Shiho mengantar kedua anak itu ke tempat ekstrakurikulernya masing-masing kemudian pulang ke rumah untuk menyiapkan makan malam. Dia mengambil bahan-bahan dari lemari es dan meletakkannya di meja makan. Setelah itu dia duduk di kursi tapi tidak memulai pekerjaannya dan hanya merenung. Sekali lagi dia membuat janji yang tidak akan bisa ditepatinya kepada kedua anaknya. Jangankan membujuk, Shinichi bahkan selalu berpura-pura tidak dengar ketika Shiho menceritakan tentang anak-anaknya saat Shiho menemaninya makan malam walaupun akhir-akhir ini usahanya sedikit menunjukkan hasil karena Shinichi beberapa kali tanpa sengaja menanyakan kabar anak-anaknya sebelum Shiho mulai bercerita.
Begitulah rumah tangga mereka berjalan. Shinichi selalu berangkat pagi-pagi dan pulang larut malam. Walaupun sudah menikah, mereka berdua tidak tidur satu kamar dan tidak pernah melakukan yang seharusnya dilakukan suami-istri. Setiap hari Shiho akan menunggu Shinichi pulang dan menemaninya makan malam karena hanya pada saat itu dia bisa bicara dengan Shinichi dan menceritakan tentang Tamaki dan Takami sehingga Shinichi mengenal anak-anaknya dan bisa menyayangi mereka seperti yang seharusnya.
Setelah makan malam, Shinichi akan masuk ke kamarnya dan duduk di kursi goyang sambil memandangi foto Ran yang sedang tersenyum yang dipajangnya di dinding kamarnya setelah Ran meninggal. Ukuran foto itu sangat besar. Shinichi juga memajang beberapa foto Ran di meja kerjanya di kamar itu dan di meja di samping tempat tidurnya. Kemudian ada satu lagi foto Ran yang khusus untuk dipeluknya saat dia tidur. Baju-baju dan barang-barang Ran yang lain juga masih tersimpan di lemari di kamarnya itu yang dulunya memang kamar mereka berdua.
Setelah merenung cukup lama, akhirnya Shiho menghela nafas dan memulai pekerjaannya.
XXX
Sore itu Shiho pulang ke rumah setelah berbelanja kebutuhan sehari-hari dan mendapati kedua anaknya menangis di salah satu sudut rumahnya. Mereka berdua segera berlari menuju Shiho ketika Shiho menghampiri mereka.
"Lho, udah besar kok masih nangis. Ada apa?" tanya Shiho pada kedua anaknya.
"Tadi ayah pulang." ucap Tamaki yang tangisnya sudah mulai berhenti setelah Shiho datang.
"Lalu kami mencoba mengajaknya bermain dengan kami." tambah Takami.
"Lalu?" tanya Shiho sambil mengerutkan keningnya.
"Ayah marah." ucap Tamaki.
"Kami dibentak-bentak kemudian Ayah pergi lagi." ucap Takami.
"Ibu, Ayah jahat, aku takut." ucap Tamaki mulai menangis lagi.
"Aku juga takut." ucap Takami yang juga mulai menangis lagi.
Shiho memeluk kedua anaknya, mencoba menenangkan mereka. Dalam hatinya amarah mulai berkobar. Dia menganggap kali ini Shinichi sudah keterlaluan. Selama ini dia masih bisa bersabar walaupun Shinichi tidak menghiraukan mereka tapi kalau Shinichi menyakiti anak-anaknya, maka dia sudah tidak bisa bersabar lagi.
XXX
Malam itu, Shinichi pulang lebih awal karena besok pagi dia harus pergi ke Hokkaido untuk menelusuri jejak mafia yang sedang diburunya. Dia langsung masuk ke kamarnya walaupun dia masih sempat memandangi sofa di ruang tamu tempat Ran biasa tertidur jika menunggunya pulang secara sekilas. Dia harus segera membaca ulang file kasus mafia yang sedang ditanganinya karena dia baru saja mendapatkan petunjuk baru.
Shinichi mencari file tersebut di meja kerjanya tapi dia tidak bisa menemukannya. Lalu dia ingat kalau Shiho yang biasanya membereskan meja kerjanya itu jadi dia segera pergi ke ruang makan tapi Shiho tidak ada di sana. Kemudian dia mengetuk kamar Shiho tapi tidak ada jawaban. Shinichi langsung teringat kamar anak-anaknya tapi dia tidak mau pergi ke sana. Akhirnya dia memutuskan mencari di ruangan lain sebelum mencari ke kamar anak-anaknya.
Shinichi menemukan Shiho di ruang keluarga. Shiho sedang berjongkok di depan perapian sambil melemparkan kertas-kertas ke api yang menyala di perapian. Dia segera menghampiri Shiho.
"Shiho, apa kau melihat..." Shinichi tidak meneruskan kata-katanya ketika dia melihat kertas terakhir yang dilempar Shiho ke perapian adalah cover file kasus mafia yang dari tadi dicarinya.
"Apa yang kaulakukan?" teriak Shinichi.
Shiho bangkit berdiri dan berbalik untuk menatap Shinichi.
"Kau lihat sendiri kan, aku baru saja melemparkan setumpuk kertas ke dalam perapian agar kertas-kertas itu terbakar dan jadi abu." ucap Shiho dingin.
"Kenapa kau membakar file kasusku?" seru Shinichi marah.
"Anggap saja ini sebagai hukuman karena kau membentak anak-anak." jawab Shiho dingin.
"Hanya gara-gara mereka, kau membakar file kasusku yang penting?" seru Shinichi.
"Kau membuat mereka menangis." ucap Shiho dingin.
"Kau... Kenapa kau seperti ini? Kenapa kau melakukan semua ini? Kau tahu, Ran tidak akan pernah melakukan hal ini padaku." seru Shinichi.
"Itu karena aku bukan wanita menyedihkan seperti dia." ucap Shiho dingin.
"Apa kau bilang?" teriak Shinichi kemudian dia menampar Shiho dengan keras sampai tangannya sendiri juga merasa sakit.
Shiho memandangnya dengan marah sebelum bergegas keluar dari ruang keluarga sambil memegang pipinya yang bengkak dan berwarna merah sementara Shinichi terhenyak di sofa, baru sadar pada apa yang sudah dilakukannya. Dan dia menyesal.
Tak lama kemudian, Shiho kembali ke ruang keluarga sambil membawa tumpukan kertas.
"Apa kau tahu kenapa aku bilang Ran-san adalah wanita yang menyedihkan? Karena dia punya suami yang menyedihkan sepertimu. Suami yang baru memperhatikannya dan memujanya setelah dia meninggal. Mungkin kalau aku dan anak-anak sudah meninggal, kau baru akan memperhatikan kami." ucap Shiho kemudian melemparkan kertas-kertas yang dibawanya, yaitu kertas-kertas file kasus mafia yang dicari Shinichi, ke Shinichi sehingga kertas-kertas itu jatuh berserakan di sekitarnya.
Setelah itu, Shiho bergegas keluar dari ruang keluarga dan pergi ke kamarnya.
Shinichi termenung selama beberapa saat sebelum memunguti kertas-kertas yang berserakan di sekitarnya kemudian pergi ke kamarnya. Dia meletakkan kertas-kertas itu di mejanya kemudian duduk di kursi goyangnya dan memandangi foto Ran yang tersenyum. Senyum pahit muncul menghiasi bibirnya.
"Ran, apakah kau wanita yang menyedihkan? Apakah aku yang membuatmu menjadi wanita yang menyedihkan? Apakah aku suami yang menyedihkan?" tanya Shinichi pelan. Tentu saja tidak ada yang menjawab pertanyaannya.
XXX
Keesokan harinya, Shiho mengantar Shinichi ke bandara seperti biasanya jika Shinichi pergi ke luar kota, seolah-olah tidak ada yang terjadi malam sebelumnya. Yang bisa membuktikan bahwa kejadian tadi malam benar-benar terjadi adalah pipi Shiho yang sedikit bengkak namun Shiho menutupinya dengan make-up sehingga orang lain tidak bisa melihatnya.
Shinichi memandangi Shiho sebelum masuk ke gerbang pemberangkatan penumpang. Dia berniat mencium keningnya tapi kemudian mengurungkan niatnya dan melangkah ke dalam gerbang pemberangkatan penumpang.
"Shiho, aku berjanji padamu, setelah kasus ini selesai, aku akan memperbaiki semuanya. Aku akan membuatmu dan anak-anak bahagia. Aku janji." ucap Shinichi dalam hati.
Setelah Shinichi menghilang dari pandangannya, Shiho berbalik dan melangkah menuju pintu keluar bandara ketika tiba-tiba tubuhnya merinding. Merasakan sensasi yang hanya dirasakannya ketika ada anggota organisasi hitam di dekatnya. Shiho mengedarkan pandangannya ke sekitarnya kemudian bergegas ke balik salah satu tiang penyangga bandara sambil menenangkan dirinya. Kemudian sensasi itu menghilang dan nafasnya kembali teratur.
Ketika Shiho akan berjalan kembali ke pintu keluar bandara, tiba-tiba seseorang berdiri di depannya.
"Rye?" ucap Shiho ketika dia mengenali orang yang berdiri di depannya.
"Kenapa kau bersembunyi di balik tiang ini? Apa kau takut padaku, Sherry?" tanya Shuichi sinis.
"Aku tidak..." ucapan Shiho dipotong oleh Shuichi yang melihat pipi Shiho yang sedikit bengkak. Meskipun Shiho berusaha menutupinya dengan make-up tapi Shuichi dengan mudah bisa menyadarinya.
"Ada apa dengan pipimu? Apa suamimu yang workaholic itu juga hobi memukul?" tanya Shuichi sinis.
"Aku harus pergi." ucap Shiho sambil berlalu dari hadapan Shuichi.
"Hei tunggu! Aku belum..." ucapan Shuichi terhenti karena tiba-tiba dadanya terasa sakit. Dia jatuh ke lantai dengan bunyi bruk sehingga Shiho menoleh kembali ke arahnya.
Shiho melihat Shuichi tergeletak di lantai bandara dalam kondisi tak sadarkan diri sehingga dia bergegas menghampiri Shuichi dan mengguncang-guncang badan Shuichi dengan panik. Dia tadi tidak menyadarinya karena perasaannya kacau setelah melihat Shuichi, tapi sekarang dia bisa melihat kalau tubuh Shuichi bertambah kurus, wajahnya pucat, bibirnya berwarna gelap dan ada lingkaran hitam di matanya.
XXX
"Dia harus segera dibawa ke rumah sakit karena sepertinya penyakitnya parah. Kami akan segera menghubungi ambulans." ucap dokter yang bertugas di klinik bandara setelah memeriksa Shuichi.
"Terima kasih, dokter." ucap Shiho kepada dokter itu kemudian mengalihkan pandangannya ke Shuichi yang belum sadar sementara dokter itu berlalu dari situ.
Tiba-tiba seorang wanita berambut pirang datang dan langsung berbicara kepada Shuichi yang belum sadar dengan nada khawatir dalam bahasa Inggris tanpa menyadari kalau Shiho ada di situ. Namun akhirnya pandangan wanita itu jatuh juga ke Shiho.
"Kau? Apa yang kaulakukan di sini?" tanya wanita itu.
Shiho mengangguk kecil pada wanita itu.
"Apa kabar?" tanya Shiho.
XXX
Shiho langsung berdiri dari tempat duduknya ketika Jodie keluar dari kamar perawatan Shuichi di rumah sakit.
"Lebih baik kita tidak bicara di sini." ucap Jodie kemudian mereka berdua pergi ke kafetaria rumah sakit.
"Kau ingin tahu ada apa dengan Shuu?" tanya Jodie.
Shiho mengangguk.
"Dia sakit kanker paru-paru." ucap Jodie.
Shiho hanya diam saja sehingga Jodie meneruskan ceritanya.
"Sejak pulang dari Timur Tengah lima tahun lalu, kecanduan rokoknya menjadi tambah parah. Awalnya aku tidak mengerti kenapa tapi akhirnya aku tahu setelah Shuu menceritakan semuanya ketika dia sedang mabuk. Wanita yang dicintainya meninggalkannya. Dan wanita itu... kau kan?" ucap Jodie.
Shiho tetap tidak menyahut dan hanya menundukkan kepalanya sehingga Jodie kembali membuka mulutnya.
"Dia tidak mau menerima perawatan makanya kondisinya semakin parah. Kalau tidak segera ditangani, dia bisa mati. Akhirnya dia bilang dia mau dirawat asal dia dirawat di Jepang sehingga James memintaku menemaninya ke Jepang. Tapi baru sampai bandara, dia sudah melarikan diri dariku. Aku rasa dia sama sekali tidak punya niat untuk sembuh." ucap Jodie.
"Kalau begitu, bolehkah aku membujuknya?" tanya Shiho sambil menatap Jodie.
"Tapi setahuku dia sangat membencimu." jawab Jodie.
"Aku tahu tapi aku juga tidak bisa diam saja melihatnya seperti itu." ucap Shiho dengan senyum sedih di wajahnya.
Jodie sebenarnya tidak suka tapi demi kesembuhan Shuichi akhirnya dia mengijinkan Shiho mencoba.
XXX
Shuichi menyelinap keluar dari kamarnya di rumah sakit namun baru beberapa langkah, sebuah suara membuat langkahnya berhenti.
"Kau pikir kemana kau akan pergi?" tanya Shiho.
Shuichi menoleh dan melihat Shiho berdiri sambil bersandar pada dinding yang tidak jauh dari pintu kamarnya.
"Memangnya apa urusanmu?" Shuichi balik bertanya.
"Aku sudah dengar semuanya dari Jodie-san." ucap Shiho mengabaikan pertanyaan Shuichi.
"Kalau begitu kau sudah tahu kan kalau semua ini salahmu. Kau mengkhianatiku dan menikah dengan laki-laki lain." ucap Shuichi.
Shiho hanya menunduk dan tidak menyahut sehingga Shuichi tersenyum mengejek padanya walaupun Shiho tidak bisa melihatnya.
"Aku membencimu jadi menjauhlah dariku." ucap Shuichi kemudian berbalik kembali dan mulai melangkah pergi namun lagi-lagi langkahnya terhenti karena Shiho memeluknya dari belakang.
"Aku akan merawatmu sampai sembuh. Aku janji." ucap Shiho.
Pikiran Shuichi segera berteriak-teriak menyuruh Shuichi melepaskan dirinya dari pelukan Shiho dan mendorongnya menjauh tapi tubuhnya sama sekali tidak mau menuruti pikirannya. Tubuhnya sangat merindukan kehangatan tubuh Shiho yang tidak pernah dirasakannya lagi selama lima tahun ini sehingga Shuichi hanya berdiri diam di tempatnya. Sebuah ide muncul di kepalanya.
"Aku tahu kau tidak bahagia dengan suamimu. Karena itu, aku akan merebutmu kembali, Sherry." ucap Shuichi dalam hati.
Jodie hanya melihat pemandangan di depannya dengan murung.
Catatan Penulis :
Salam hangat untuk kazumi sii ankatsu, Serena Akako Yuu, crystal69, Divinne Oxalyth, Nachie-chan, Airin Miyano, ShellyKudoo, edogawafirli, reno dan cheeky n' hyuu-su!
Nachie-chan : Soalnya kalau nggak ada anak, Shiho sepertinya nggak mau deh sama Shinichi.
Airin Miyano : Sudah terjawab kan semua pertanyaannya?
ShellyKudoo : Terima kasih, semoga nggak kecewa.
reno : Emang gila tu Shinichi, apalagi di chapter ini. He he he.
cheeky n' hyuu-su : yu kyung x ma jun itu emang pasangan romantis favoritku. Adegan romantis mereka banyak memberiku inspirasi.
Last, jangan lupa komen ya, guys!
