Masa-masa kritis Naruto telah lewat beberapa jam lalu. Kondisinya saat ini masih belum bisa dikatakan baik pasca melewati operasi yang berlansung lebih dari lima jam. Dokter yang memimpin penanganan Naruto mengatakan operasi berjalan lancar. Pekembangan selanjutnya dapat dipantau lebih mendetail saat perawatan intensif yang dilakukan petugas medis di Rumah Sakit Konoha.
Seperti halnya semua pasien yang baru menjalani operasi, Naruto keluar dari meja operasi dengan mata tertutup. Bed yang dipakai Naruto berbaring dibawa dengan cara didorong menuju ruang perawatan intensif. Petugas medis menyiapkan segala sesuatu dalam ruangan yang akan ditempati Naruto tidak lama lagi. Memastikan seluruh alat medis penunjang kehidupan Naruto berkerja baik dan tersusun rapi adalah tugas perawat disana. Kesempurnaan kondisi bed, linen, ventilasi, dan sirkulasi udara menjadi bagian yang memdapat perhatian khusus lainnya yang dikerjakan oleh perawat. Sampailah Naruto dalam ruang perawatannya. Petugas medis lalu memindahkan tubuh Naruto ke atas bed yang tersedia di ruang rawat intensif. Setelah semua alat medis penunjang kehidupan Naruto dipastikan telah terpasang secara tepat dan kembali memantau tanda-tanda vital, seluruh petugas medis meninggalkan Naruto di ruang ber-AC tersebut. Tidak ada penghuni lain dalam ruang tersebut kecuali Namikaze Naruto yang terbaring tidak berdaya.
Namikaze sekeluarga hanya dapat melihat kondisi pemuda berambut blonde yang terbaring lemah dari kaca ruang intensive care. Kushina tetap mengeluarkan air mata ketika melihat sosok anak sulungnya keluar dari ruang operasi dan sekarang sedang terbaring menutup matanya. Berbeda dengan beberapa jam lalu, meskipun aliran sungai tetap menghiasi wajah istri Minato tersebut , disana terlihat pula ekspresi syukur dan secercah harapan akan keadaan Naruto. Sang suami tidak kalah bersyukur seperti Kushina ketika mendengar kelancaran jalannya operasi dari dokter. Sedangkan sang Namikaze bungsu tampak seperti orang linglung, tatapan matanya tidak lagi tajam seperti biasanya kali ini hanya tatapan kosong yang ditampilkan dari wajah bersihnya.
Waktu terus berputar ditengah malam musim semi di kota Kohonagakure. Sebagian besar orang-orang sedang menikmati berada di alam tidur setelah lelah menyapannya ketika melewati aktivitas keseharian mereka. Membawa mimpi dan harapan baru bagi jiwa-jiwa makhluk paling sempurna di muka bumi – manusia untuk meyambut mentari yang bersinar dihari esok. Berharap hari esok akan lebih baik dari hari ini. Itulah salah satu harapan umum yang ada pada benak setiap manusia, tidak terkecuali pada keluarga Namikaze. Kondisi Naruto yang belum bisa dikatakan stabil – meskipun operasi berjalan lancar - setelah operasi panjang yang ia lewati, melantunkan doa-doa yang tidak pernah putus dari seluruh hati, pikiran, dan lisan keluarganya atas kesembuhan Naruto. Doa. Melalui doa, ketidakpastian dalam hidup akan menjadi berarti dan berharga melalui kepercayaan makhluk atas mukjizat dan kuasa Sang Pencipta – Tuhan. Umur manusia tidak dapat ditentukan oleh kemajuan dunia medis sekalipun. Hidup mati seseorang akan tetap menjadi misteri abadi dari elegi ketidakpastian kehidupan.
My Sweety Come Back
Disclamer : Mashashi Kishimoto
Rate : T
Pair : SasuNaru
By : MargritFlow
Warn : Newbie, Typos, OOC, YAOI, dan lain lain
''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''
Chapter 3 : Bitter and Sweet
''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''
Ting tong
Suara bel terdengar dari dalam apartemen mewah milik Uchiha Sasuke.
Ting tong
Suara bel kembali terdengar setelah beberapa saat. Sasuke yang saat itu baru menyelesaikan mandi paginya baru menyadari ada orang yang bertamu. Tidak membutuhkan waktu lama untuk berpakaian, setelah itu langsung menuju ruang depan apartemennya untuk segera membuka menyambut tamu yang mengganggu pagi tenangnya.
Clek !
Suara pintu apartemen terbuka.
"Hai, Otouto ! Pagi", sapa orang dibalik pintu apartemen Sasuke yang tidak lain adalah Uchiha Itachi.
"Mau apa kau baka aniki ?", jawab ketus dari bibir pemuda pemilik kulit alabaster ketika mengetahui tamu istimewa yang mengganggu pagi harinya.
"Wah, wah, wah dingin sekali kau Otouto", Itachi tidak ambil pusing dengan tingkah dingin adik semata wayangnya. Toh dirinya sudah terbiasa dan sudah memiliki imun sendiri sebagai seorang Uchiha. "Paling tidak ajaklah masuk anikimu. Tidak sopan bukan membiarkan tamu di luar", ujarnya agar Sasuke mengizinkannya masuk ke apartemen.
"Hn", ucap Sasuke singkat. Setelah mengucapkan trendmark kepunyaannya, pemuda yang saat itu menggunakan t-shirt berwarna hitam menggeser tubuhnya sedikit untuk memberi ruang aniki-nya masuk.
"Tidak kusangka seleramu bagus juga Otouto, apartemenmu terlihat berkelas", ujar Itachi kagum sambil membentangkan kedua tangannya setelah masuk dan melihat apartemen sang adik tercinta yang beberapa tahun ini hidup terpisah dengannya. Tidak sepenuhnya kagum juga dalam benak Itachi, karena sudah ia duga adiknya akan sukses menjadi seorang chef.
"Hn. Sudahlah kau terlihat semakin baka dengan sikapmu itu", lagi-lagi jawaban super dingin yang diterima Itachi.
Sikap Itachi yang berkesan masa bodo dengan kelakuan adiknya bukanlah tanpa alasan. Selama hidupnya dimana ia melihat pertumbuhan Sasuke dari kecil hingga sekarang sudah cukup untuk dirinya menilai Otouto tercintanya. Sikap dingin yang selalu ditampilkan oleh adiknya kepada orang-orang tidak terkecuali kepada keluarga sudah ia miliki sejak dulu. Di balik tempramen dinginnya itu, Itachi melihat ada ketulusan dan kasih sayang dalam sorot matanya yang tajam. Kurang dapat bergaul. Ya, mungkin itu alasan yang paling logis untuk menggambarkan pribadi Sasuke. Hidup mandiri sebagai seorang Uchiha telah dialami Sasuke bersama Itachi sejak lama, kesibukan ayah mengelola Uchiha Corp dan kesetiaan ibunya mendampingi Sang Ayah pulang pergi keluar kota dan keluar negeri membentuk pribadi Uchiha brother menjadi sosok mandiri yang dingin. Dingin akan kasih sayang. Limpahan harta yang dimiliki keluarganya tidak menyulitkan mereka tumbuh sempurna bak pangeran dari negeri dongeng.
"Otouto, aku lapar. Belum sarapan", hanya dihadapan sang adik – dan juga satu sosok lain – Itachi mampu menampilkan wajah memelas seperti seorang pengemis. "Ada makanan tidak di dapur ?", melihat tingkah aneh anikinya, Sasuke hanya mampu memutar kedua onyx miliknya jengah.
"Memang apa yang kau lakukan di rumah ?"
"Aku ingin segera datang ke apartemenmu setelah bangun tidur. Tidak ada waktu sarapan. Lagi pula adikku kan seorang chef ternama, jadi aku ingin mencoba masakanmu itu. Ya ya ya. Please Sasuke ! ", terang Itachi panjang lebar sambil menatap Sasuke penuh harap seperti mata seorang kucing hitam yang kelaparan. Blink ! Blink ! Blink ! Tidak mau setengah-setangah, tingkah konyol Itachi bertambah dengan penampilan sinar kemilau dari gigi putihnya ketika tersenyum lebar.
"Ck. Merepotkan ! Aku buatkan dulu sarapannya. Kau tunggulah sebentar, baka aniki", entah karena muak melihat ke-OOC-an kakaknya atau hati sedingin es-nya luluh begitu melihat Itachi akhirnya Sasuke meninggalkan Itachi menuju dapur. – Sepertinya alasan yang paling tepat itu karena Sasuke sendiri juga belum sarapan, Hehe –
Tujuan utama yang akan Sasuke masuki adalah ruang dapur pribadinya. Di tempat yang masih didominasi warna biru itu, Sasuke menampilkan kepiyawaiannya meracik makanan. Melihat tamu "istimewa" yang datang di apartemennya, Sasuke memutuskan akan membuat pancake. Kue sederhana yang berbahan dasar terpung terigu itu dirasa cocok Sasuke hidangkan bagi dirinya dan juga anikinya. Mudah dan Cepat. Menjadi alasan utama Sasuke menjatuhkan pilihan menu sarapannya adalah pancake. Sasuke membuka lemari persedian di dapurnya untuk mengambil bahan-bahan yang diperlukannya. Susu cair full cream, tepung terigu, margarine, gula, susu bubuk dan baking powder sudah ada di hadapan Sasuke. Tangan alabaster miliknya terlihat begitu cekatan meramu seluruh bahan menjadi adonan pancake. Hal yang selanjutnya dilakukan adalah memasak. Ya memasak pancake. Adonan pancake yang telah jadi, Sasuke masak di atas teflon. Semua adonan di masak satu persat hingga Sasuke terlihat begitu berkilau ketika serius menyalurkan minatnya dalam bidang kuliner. Tidak ada kesan "kemayu" ketika pemuda yang memiliki gaya rambut melawan gravitasi itu berkelut dengan semua "sahabatnya" di dapur. Sasuke memang memesona. Dan tara ! Pancake ala Sasuke telah matang.
Disisi lain, sang tamu "istimewa" sedang berada di ruang tengah. Itachi menyibukkan dirinya dengan membaca majalah yang ada disana. Majalah kuliner lebih mendominasi koleksi yang otoutonya miliki, selain beberapa majalah otomotif dan teknologi. Tentunya pilihan yang dipilih Itachi untuk menunggu sarapannya matang, adalah membaca majalah yang bertema tekhnologi. Selama beberapa lama dirinya merasa bosan dengan majalah yang ada di depannya karena sebagian besar ia telah mengetahui informasi yang ditampilkan dalam majalah. Secara gelas S2 IT, membuat Itachi gemar membaca semua info terbaru dunia teknologi selama ini. Setelah bergelut dengan majalah yang ia baca, Itachi melangkahkan kakinya menuju dapur, tempat Sasuke memasak. Duduklah ia di kursi yang tersedia disana, ternyata kedatangnya tepat karena sepertinya Sasuke baru saja menyelesaikan kegiatan masaknya.
Disinilah mereka berdua, duo Uchiha sedang menikmati sarapannya. Dengan menu utama pancake mereka sarapan dengan tenang. Terdapat beberapa perbedaan menu sarapan duo Uchiha. Perbedaan yang terjadi adalah menu sarapa Sasuke adalah pancake topping keju karena ia tidak menyukai manis dengan secangkir jus tomat dan sang aniki, Itachi memilih madu sebagai topping di atas pancakenya dan secangkir kopi hangat. Setelah acara sarapan selesai, Itachi mendapat tugas membersihkan sisa-sisa sarapan dengan cara mencucinya. Pembagian tugas yang cukup adil bukan ? Begitu semua telah selesai, Itachi menyusul Sasuke yang sedang duduk di balkon apartemen.
"Apa tujuanmu sebenernya datang kesini ? Hm. Tidak mungkinkan kau hanya numpang makan disini", Sasuke memulai percakapan ketika meyadari Itachi menghampirinya di balkon.
"Pemikiranmu memang tidak salah Otouto. Ada hal penting yang ingin aku tanyakan padamu", dengan tenang Itachi menjawab sapaan adiknya. Kedua telapak tangan Itachi yang berwarna sama seperti milik Sasuke memegang pagar balkon. Merasakan hembusan angin yang menyapa wajah tampannya, Itachi memejamkan mata, "Ini mengenai, Uzumaki".
"Hn"
"Apa sebenarnya rencanamu ?", tanya Itachi. Sebenarnya Itachi sudah merasakan hal yang tidak beres terjadi ketika dirinya bertemu Sasuke terakhir kali saat makan malam keluarga. "Kenapa kau harus membalas dendam pada Uzumaki ?", saat ini tujuan Itachi adalah menggali informasi dari mulut adiknya sendiri.
Mendengar pertanyaan Itachi, Sasuke tidak terlalu kaget karena dirinya sendirilah yang awalnya membuka celah kepada anikinya. "Uzumaki membuat masalah denganku", pertahanan pahatan ekspresi stoic melekat pada wajah Sasuke.
"Masalah apa yang diperbuatnya kepadamu ?", ujar Itachi melihat sedikit perubahan pada wajah stoic Sasuke.
"Masalah penting yang kau tidak perlu tahu, baka aniki", kali ini Sasuke mengucapkannya dengan nada intimidasi di dalamnya.
"Ck. Sikapmu ini membuatku muak. Berhentilah bicara kasar padaku", Itachi merasa jengah juga dengan sikap adiknya.
"Seperti aku peduli saja", tanggap Sasuke.
"Ya aku tentu peduli, karena kau adikku satu-satunya", ucap Itachi dengan pengontrolan emosi sempurna seorang aniki yang dengan nyata menyayangi otoutonya.
"Apa, kau bilang peduli padaku ? Lalu apa yang kau lakukan tiga tahun lalu itu. Jelas-jelas kau bertindak seolah-olah aku adalah masalah bagimu", kali ini Sasuke menampilkan emosi yang jarang ia tunjukan. Sorot matanya menajam dengan pandangan yang seakan-akan mampu mengoyak orang disampingnya. Emosi kemarahan.
Itachi tidak kaget ketika Sasuke menampilkan ekspresi marah karena ia tahu betapa bodohnya ia dulu. "Aku tahu sikapku dulu mengganggumu Sasuke", Itachi menyadari kesalahannya kepada Sasuke. "Pasti kau mengerti saat terjebak dalam kesempurnaan", lanjut Itachi. "Hidup kita berdua selalu dipenuhi kesempurnaan. Aku rasa kau tidak amnesia jika aku minta kau mengingat itu semua", tidak berlebihan ketika duo Uchiha menilai kehidupan mereka SEMPURNA. "Kehidupan sempurna yang dimiliki Uchiha menjebak kita dan itu hampir membuat kita buta akan warna kehidupan", nada bicara Itachi melirih ketika mengingat kehidupannya yang hampir "buta". "Mimpi. Mimpi adalah salah satu warna kehidupan. – selain cinta. Kau punya mimpi, begitupun juga aku", Itachi dengan perlahan menolehkan wajahnya ke sebelah kanan dimana Sasuke berdiri yang sebelumnya wajah Itachi tertunduk kebawah. Saat itu Itachi melihat mata Sasuke, mata yang meminta penjelasan lebih. "Waktu itu aku menyadari bahwa kita sama-sama telah mempunyai impian. Kau dengan chef dan aku dengan IT. Tapi lagi-lagi kesempuranaan menjebak kita berdua, kali ini ia menghalangi kita meraih mimpi.", ujar Itachi lirih. "Egoisanku membuat kita harus bertengkar. Maaf sebagai seorang aniki, aku telah gagal membuatmu bangga. Bahkan mungkin hanya kebencian yang kau rasa ketika mengingatku", kepala Itachi kembali tertunduk ketika menyelesaikan kalimatnya itu, seakan dirinya benar-benar malu untuk melihat adiknya.
Tidak ada yang memulai percakapan setelah ucapan panjang Itachi. Baik Sasuke dan Itachi sama-sama terdiam bisu seperti kehabisan kata-kata. Mereka berdua sibuk dengan pimikirannya masing-masing sepertinya warna langit yang biru lebih menarik menjadi teman pemikiran mereka.
Ucap Sasuke mengawali kebisuan yang terjadi, "Aku memang membencimu".
'Tapi aku lebih banyak mengagumimu, aniki', lanjut Sasuke dalam hati.
"Aku tidak akan memintamu untuk memaafkanku. Kesalahan yang aku buat tidak pantas dilakukan seorang aniki kepada otouto", suara Itachi kembali terdengar di balkon. 'Terlebih perbuatan bodohku yang hampir mencelakaimu. Maaf otouto aku tidak bisa memberitahumu', kali ini Itachi juga mempunyai rahasia seperti halnya Sasuke yang tidak ingin di ketahui. "Aku rela menerima kebencianmu lebih lama lagi", ucapnya pasrah seakan pintu maaf dari Sasuke sudah benar-benar tertutup.
"Sudahlah tidak perlu dibesar-besarkan. Lagi pula aku sudah tidak memikirkannya, Berhentilah berkata bodoh seperti itu", merasakan aura yang tidak bersahabat diantara mereka berdua Sasuke berusaha mencairkannya.
'Tidak Sasuke aku pantas di benci olehmu bahkan seumur hidup', jawab Itachi dalam hati. "Baiklah aku harap aku bisa menjadi aniki yang lebih baik setelah ini", kata bijak terucap dari bibir tipis sang Uchiha sulung.
"Hn", jawab singkat Sasuke.
"Oh ya, kemarin aku tidak sengaja bertemu Pain dan Nagato. Mereka bilang sedang bekerja denganmu. Benarkah itu ?", ucap Itachi lebih tenang. Itachi sedang berusaha menjalankan tujuan utamanya ke apartemen Sasuke yaitu memperoleh informasi. Sebenarnya beberapa waktu lalu Itachi melihat dua orang bawahan keluarga Uchiha tersebut di rumah sakit. Begitu ia menanyakannya langsung pada Pain dan Nagato meraka serempak menjawab bahwa Sasukelah yang meminta mereka menyelediki sesuatu. Tetapi mereka tidak menyebutkan secara rinci tugas yang diberikan Sasuke, maka disinilah Itachi sekarang di hadapan Sasuke untuk menanyakannya langsung.
"Hn. Mereka ku minta menyelidiki kasus kecelakaan yang dulu menimpaku", jawab Sasuke.
'Apa ?! Berarti kemungkinan besar saat ini Sasuke sudah mengetahuinya. Apa yang sudah kau ketahui Sasuke', iner Itachi terkejut mendengar jawaban dari Sasuke. "Lalu apa yang kau dapat ?", kembali ia menggali informasi dari mulut Sasuke setelah mengendalikan keterkejutannya.
"Uzumaki ! Uzumakilah yang ternyata mencelakaiku", suara Sasuke meninggi ketika mengucapkan kalimatnya. Terpendam aura kebencian ketika mendengar ucapan Sasuke.
Kali ini iner Itachi kembali terkejut mendengar jawababn dari Otoutonya, 'Uzumaki ? Dia sudah tahu ternyata. Berarti kejadian itu apa jangan-jangan…'
Seakan mampu mendengar iner yang ada pada Itachi, Sasuke menjawab, "Dan sekarang aku telah membalas dendamku pada Uzumaki".
'Gawat berarti dugaanku ternyata benar dan Sasuke adalah dalang yang berada dibalik itu semua. Ini salah. Ini salah. INI SALAH. Ini tidak boleh terus dilanjutkan', iner Itachi kembali kembali kembali panik."Lalu bagaimanaperasaanmu setelah berhasil membalas dendam ?", ujar Itachi dengan bijak dalam menghadapi situasi berusaha menutupi keterkejutannya.
"Tentu aku senang", tanpa berpikir panjang Sasuke menjawab pertanyaan Itachi. Sisi lain dirinya sepertinya memiliki jawab lain dari lisannya, 'Tapi perasaan apa ini, perasaan apa ini yang begitu menyesakkan. Tidak ! Apa yang terjadi padaku sebenarnya ?'.
"Ku harap apa yang telah kau lakukan sudah kau pikirkan dengan matang, Sasuke. Dirimu dimasa depan adalah apa yang kau lakukan sekarang. Jangan biarkan ada celah penyelasan menghampirimu, otouto", ucapan Itachi membuat sepersekian detik ekspresi wajah Sasuke menjadi kalut. 'Kau salah Sasuke, maaf.. Maafkan aku yang tidak jujur. Ku pastikan kelak kau akan mengetahui kebenaran sesungguhnya. Karena aku menyerah dimasa lalu, menjadi pecundanglah aku saat ini. Bodoh!', hati nurani Itachi berkata menyesal atas situasi yang dihadapi adik tercintanya.
-Beautiful White-
Kepergian Itachi membuat Sasuke berada dalam kesendirian. Mendengar semua perkataan Itachi membuat pemikirannya sedikit terbuka. Langkah kakinya mengantarkan dirinya kembali mendatangi tempat favoritnya. Tidak ada tempat yang paling cocok ia datangi selain tempat itu. Di tempat yang penuh akan kenangan kebersamaan dirinya dengan pemuda yang mampu meluluhkan dingin hatinya. Pemuda yang mengisi hari-harinya mejadi lebih cerah secerah warna rambut miliknya. Dilihatnya impian tidak terbatas ketika memandang sosoknya seperti manik biru saphire yang menghiasi wajah tampannya – manis. Semangat pantang menyerah dalam mengerjar mimpi menjadi sisi lain yang tidak mampu Sasuke lupakan dari sosok yang telah meninggalkannya tiga tahun lalu. Pemuda yang ia kenal dengan …
Uzumaki Naruto
"Apa yang aku rasakan ini ? Dimana letak rasa senang sesungguhnya ?", ucap Sasuke lirih di tepi Danau Kohoha memastikan perasaan yang ia rasakan setelah mencelakai sosok yang dicintainya. "Apa yang sebenarnya kau perbuat padaku Dobe ? Lagi-lagi kau membuatku merasakan ini", Sasuke mengalami fase denial. Tidak ketidakterimaannya terus berkecambuk keras memastikan rasa DOMINAN yang membalut diri Sasuke.
"Apakah ini yang dulu kau sebut bersahabat ?"
Flash back
"Teme kita pergi ke pasar yuk ! Ada menu baru yang ingin aku buat", ucap Naruto semangat.
Naruto adalah sahabat yang mengisi hari-hari Sasuke. Kesamaan mereka akan bidang kuliner membuka kesempatan mereka berteman baik. Sikap Naruto yang selalu ceria- dan berisik sedangkan Sasuke yang dingin dan mirip ekspresi tidak menghalagi jalinan yang terjadi diantara mereka. Kejadian konyol mengawali pertemuan mereka berdua. Mereka bertemu di tepi Danau Konoha ketika Sasuke bersantai menikmati buku bacaannya dan Naruto yang datang membawa sekotak bento dengan tidak saling mengenal tentunya. Cuaca yang bersahabat – tidak terlalu terik dan tidak terlalu dingin- dan suasana yang tenang membuat kedua pemuda tersebut betah berlama-lama di tepi danau. Haripun semakin siang ketika keduanya menikmati hari Minggunya itu, ketika tiba-tiba terdengar bunyi aneh. "Kruuk krukk – suara perut yang sedang kelaparan -" yang terdenger dari pemuda berambut raven, Sasuke. Naruto yang mendengar suara keras tersebut datang dari pemuda yang cukup jauh darinya itu dan kebetulan juga membawa makan siang, dengar PD dan semangatnya membujuk pemuda yang baru dilihatnya. Pantang menyerah. Setelah adegan "paksa menolak" diantara keduanya, akhirnya pemuda raven tersebut mengalah untuk memakan bento milik pemuda pemaksa disampinginya. Cita rasa bento yang luar biasa menarik Sasuke untuk mengetahui pembuat bento sebenarnya. Dengan bangganya saat itu Naruto mengatakan dirinyalah sang pembuat bento. Dan terjadilah ! Mereka dekat karena ketetarikan yang sama – kuliner. Setelah itu mereka menjadi semakin dekat karena ternyata mereka menimba ilmu di tempat yang sama. Adu kebolehan membuat resep baru adalah kegiatan yang mereka lakukan – selain berdebat "Teme Dobe" tentunya.
"Hn", kebiasaan Sasuke masih tetap sama bahkan di hadapan Naruto.
"Wah ikannya segar-segar ! Lihat lihat yang berwarna gelap itu. Teme itu mirip sekali denganmu. Ikan yang lain saja tidak berani dekat-dekat. Hahaha ! Mirip sekali denganmu kan Teme ?", keisengan Naruto kembali kumat untuk mengejek sahabatnya ketika memilih ikan di pasar.
"Kalau begitu, kau yang itu Dobe ! Lihatlah ikan itu", tunjuk Sasuke pada salah satu stand penjual ikan. Disana terdapat salah satu ikan yang akan dipotong oleh penjualnya. Hal yang mearik disana adalah ikan tersebut bergerak dengan saat aktif ketika akan dipotong. Ikan yang berwarna cerah itu mengelepar-gelepar tidak hentinya, hingga menjadi tontonan pengunjung pasar untuk melihat aksi sang ikan yang tidak bisa diam dan sang penjagal ikan yang mencak-mencak kesal. Setidaknya menurut Sasuke ikan tersebut seperti pemuda disampingnya. Meskipun Sasuke tidak menyukai tempat ramai seperti pasar ternyata dirinya menikmati kebersamaan dengan Naruto, buktinya Sasuke meladeni gurauan si Dobe-nya itu.
"Apa yang kau bilang. Dasar Teme !", Naruto meninggikan suaranya ketika tidak setuju dengan pendapat si Teme-nya. Bahkan dirinya tidak sadar bahwa baru saja dirinya menunjukan kesamaannya dengan hewan yang ditunjuk Sasuke – berisik.
Kebersamaan lain
Di tepi Danau Konoha
"Teme. Kenapa kau tertarik di bidang ini ? Bukankah keluargamu itu kaya raya, tidak perlu usaha kau sudah bisa hidup nyaman. Untuk apa kau capek-capek ikut kompetisi itu ?", pembicaraan serius sepertinya sedang terjadi diantara mereka berdua.
"Kau itu memang Dobe ya ? Tentu saja aku melakukannya karena aku Uchiha", jawaban Sasuke berhasil membuat Naruto merubah mimik wajah, kebingungan.
"Karena kau Uchiha ? Apa maksudnya ?", lontaran pertanyaan yang menggambarkan ke Dobe-an Naruto. Sambil mempout-kan bibir dan menggaruk-garuk pelipisnya sendiri, Naruto menampilkan ekspresi yang akan selalu Sasuke ingat dari Naruto– manis.
Tidak ingin terbuai lama oleh wajah Naruto Sasuke menjawab pertanyaan dari Naruto, "Ya karena aku Uchiha maka tidak ada yang tidak bisa aku raih. Ini adalah duniaku sekarang". Sasuke memandang langit biru di atasnya dengan pandangan datar. "Akan aku buktikan bahwa aku bisa melakukannya dengan sempurna. Termasuk kompetisi itu", datar wajah Sasuke berganti menjadi tatapan penuh ambisi ketika mengucapkan kalimatnya.
"Uh Teme, bicara apa si? Aku tidak mengerti", ke-Dobe-an Naruto berlanjut.
"Baiklah karena kau Dobe maka akan aku jelaskan. Sejak kecil aku sudah tertarik di bidang kuliner. Menjadi seorang chef professional, baru aku rasakan dua tahun ini. Mulai saat itu aku sadar aku telah bermimpi, bermimpi menjadi seorang chef", jelas Sasuke panjang lebar. Mungkin ini kalimat terpanjang yang pernah ia ucapkan.
"Lalu ?",penjelasan Sasuke yang panjang lebar itu sepertinya masih membutuhkan bantuan agar otak Naruto yang berkadar seadanya mengerti.
Dengan sabar Sasuke kembali menjelaskan alasan dibalik sikapnya," Sebuah 'mimpi yang bahkan sejak lahir tidak pernah sekalipun aku merasakannya". Kepercayaan Sasuke kepada Naruto tidak membuatnya berpikir dua kali berbicara pribadi, bahkan Sasuke merasa lebih lega karena bisa membagi rasa yang selama ini ada di kehidupannya. "Hidup dalam kesempurnaan membuatku tidak mengenal mimpi. Saat mimpi itu datang aku bertekad tidak akan melepaskannya. Uchiha sekalipun ku pastikan tidak dapat menghalangiku", jelas Sasuke sambil memejamkan matanya.
"Hu wo wo wo ! Kau keren sekali Teme tidak ku sangka kau seperti itu. Hehehe", keceriaan Naruto terlihat setelah mendengar penjelasan Sasuke. 'Jadi selama ini Sasuke selalu dibayang-bayangi kesempurnaan keluarganya. Dan impian terbesar Teme adalah menjadi chef professional. Baiklah', kesimpulan Naruto tarik dalam hati dari perkataan Sasuke dan sejak saat itu ia mempunyai mimpi yang lebih besar. "Kau hebat Teme !"
"Hn. Lalu kau Dobe ,kenapa kau ingin mengikuti kompetisi itu ?", tanya Sasuke. Sepertinya Sasuke juga tertarik mengetahui tentang Naruto juga.
"Tentu saja karena aku menikmatinya tidak ada alasan khusus", jawaban santai keluar dari bibir Naruto. 'Alasan terbesarku karena aku ingin selalu bersamamu, Sasuke', lanjut Naruto di dalam hati. "Jangan harap nanti kau akan menang mudah Teme. Akan aku buktikan aku lebih jago darimu Teme. Hehehe", mata Naruto terlihat bercahaya penuh kobar semangat.
"Hn", jawab singkat Sasuke
"Mari kita berjanji akan bertanding secara sportif", kedua jari kelingking saling bertautan diantara Sasuke dan Naruto sebagai tanda sebuah janji telah terikrar diantara mereka berdua. Jernihnya air Danau Konoha, pohon Sakura di sisi kanan dan kiri, beberapa burung gereja, dan hembusan angin musim semi menjadi saksi ikrar yang terjalin.
"Naruto, aku mencintaimu", ucap Sasuke penuh kejujuran kepada Naruto.
Flash Back End
-Beautiful White-
International Suna University
Di salah satu sudut universitas ternama di Jepang tersebut sedang terjadi keributan. Keribuatan yang terjadi oleh ulah orang orang berrambut beda telah menarik perhatian beberapa orang yang melintasi area tersebut. Salah satu sosok yang gigih mendekat adalah pria tampan dengan rambut hitam panjang yang diikat serperti ikatan kuda. Pria yang dua tahun lagi menginjak usia kepala tiga tersebut bersikeras menemui pemuda yang lebih muda. Pemuda berambut merah panjang dengan iris berawarna crimson terlihat begitu jengah dengan kehadiran pria yang mengganggu siangnya itu. Uchiha Itachi bertemu Namikaze Kyuubi.
"Mau apa kau keriput !", bentak sinis dari pemuda berambut merah. "Jangan ikuti aku terus amuba", kesal Kyuubi karena sejak sepuluh minit lalu pria yang di panggil keriput dan amuba tersebut terus mengganggunya.
"Bisakah kita bicara sebentar Kyuu", desak pemuda bermata onyx.
"Tidak ! Aku sibuk, pergi sana", penolakan kembali terucap dari bibir sexy milik Kyuubi. "Berhenti disitu atau ku hajar kau", sifat tsundere milik Kyuubi terlihat mengghadapi kekeras kepalaan Itachi.
"Kau terlihat manis seperti biasanya Kyuu", Itachi mulai menggombal. Bola mata Kyuubi berputar tidak elitnya mendengar gombalan pria didepannya. "Apa kau bilang keriput ?! Manis kau bilang ? Kurang ajar, sudah ku bilang aku ini laki-laki. Mau kau tendang saat ini juga ? HAH", dengan kuda-kuda siap bertarung Kyuubi berpose. Dirinya sudah rindu berkelahi dengan Itachi lagi sepertinya. Kyuubi Kyuubi !
"Berhentilah berteriak. Apa kau tidak capek teriak-teriak seperti itu ?", Itachi meladeni santai respon dari rubah manis kesayangannya.
"Siapa yang membuatku berteriak memangnya ? Kau keriput !", suara Kyuubi naik lima oktaf ketika mengucapkan makiannya barusan. "Jadi lebih baik kau jauh-jauh dari ku"
"Tidak mau !", Itachi yang keras kepala menolak perkataan Kyuubi.
"Kau ini. Keriput gila dasar !", Kyuubi makin jengah dengan pemuda di depannya.
"Kau kurang tidur Kyuu ? Matamu merah", tidak ambil pusing dengan "celoehan" Kyuubi yang memekakan telinga. Itachi menunjukan perhatiannya ketika melihat ketidakb beresan pada diri Kyuubi. Meskipun Kyuubi terus-terusan berbicara kasar padanya, mata Kyuubi tidak bisa membohongi oniyx milik Itachi terlihat disana sorot kelelahan yang tidak biasa.
"Kau meledekku ya ?Jelas-jelas dari dulu mataku sudah merah. Ternyata kau menderita amnesia setelah pulang dari Amerika. Dasar ! Menjauh dariku", Kyuubi merasa diejek oleh perkataan Itachi barusan. Dirinya merasa kecewa di saat itu juga. Seakan ada bongkahan batu besar yang tiba-tiba terjauh tepat di hatinya. Tidak disangkanya kepergiannya ke Amerika membuat Itachi melupakan dirinya.
'Tidak Kyuu ! Aku bahkan tidak bisa melupakan dirimu sedikitpun ketika disana begitupun sekarang. Aku mengingatmu dengan JELAS. Sorot matamu saat ini berbeda tidak lagi setajam dan bekilau, kulihat kau begitu lelah Kyuu.', jawab Itachi dalam hati. Betapa Itachi mencintai sosok di depannya. Kepergianya sungguh tidak dapat menghilangkan rasa yang telah tumbuh kepada Kyuubi sejak lama."Apa yang kau pikirkan belakangan ini ?", pertanyaan ini yang nyata keluar dari bibir Itachi.
"Apa pedulimu keriput ! Ini tidak ada hubungannya denganmu", kekecewaan mendominasi jiwa Kyuubi.
"Jelas ini ada hubungannya", Itachi menjawab dengan kepastian penuh atas lontaran yang diucapkan Kyuubi.
"Sudahlah aku muak melihat muka keriputmu itu. Lebih baik kau pergi lagi sana dan jangan pernah menemuiku", pedebatan terus berlanjut diantara keduanya dan Kyuubilah yang kembali berteriak keras. "Awas aku mau lewat", kali ini sepertinya pemuda berambut merah telah lelah dan menyerah menghadapi sosok pengganggu dihadapannya. Dengan berjalan lurus cepat, menggerakan tanggan kanannya ke atas dan sengaja menabarak bahu Itachi, Kyuubi meninggalkan tempat tersebut.
'Sebenarnya masalah apa yang sedang kau pikirkan ? Hmm. Bahkan kau tidak sadar menggunakan kaos kaki berbeda. Ckckck dasar rubah manisku', iner Itachi bergumam ketika melihat pundak Kyuubi yang semakin menjauhinya.
-Beautiful White-
"Hik. Hei. Beri a..hik …ku satu ge… hik… las vodka lagi. Hik"
Suara seorag pria terdengar tidak jelas di tengah-tengah kebisingan yang biasa tercipta di sebuah bar ternama di kota Konohagakure. Suara dentuman musik, aktivitas tarian penikmat alunan music, kemerlap lampu disko, kepulan asap rokok membaur satu mengiringi kesendirian sang pemuda. Sudah dua jam kebelakang pemuda tersebut duduk manis di depan meja bartender yang ada dalam diskotik. Sepertinya pemuda tersebut sedang mengalami masa-masa sulit sehingga dirinya melampiaskan emosi dengan mengkonsumsi minuman berkadar alkhohol tinggi itu. Sudah bergelas-gelas ia habiskan dalam upaya meredamkan kegalauan hatinya. Tidak peduli tatapan dari orang-orang yang sedari tadi memelototinya, tidak peduli pula bujukan sang bartender agar dirinya menghentikan kegiatan minumnya. Sang pemuda dua puluh tahunan tersebut terus meminum teman gegalauannya malam itu – vodka. Entah sudah berapa gelas yang berhasil memenuhi lambung miliknya ia tetap saja setia menenggak kembali vodka hingga dirinya benar-benar puas menghilangkan kegundahan hatinya.
"Kau sudah sangat mabuk tuan. Berhentilah minum", melihat pemuda dihadapannya yang sudah sangat mengkhawatirkan, sang bartender membujuknya agar berhenti. Memang sebagai bartender ia sudah sangat terbiasa berada pada posisi ini secara tidak langsung berkat orang-orang macam pemuda dihadapannya inilah pemilik bar meraup keuntungan besar namun bagaimanapun juga sebagai seorang manusia yang berperasaan dirinya tidak tega membiarkan pelanggannya mabuk berat yang berakibat fatal bagi keselamatannya – keselamatan berkendara.
"Jangan ba.. hik… nyak bicara kau. Hik. Ce.. hik… cepat beri aku minum. Hik", pemuda tersebut memaksa bartender memenuhi keinginannya.
"Ini", melihat pemuda yang sudah sanga mabuk sang bartender berniat mengerjainya dengan cara….
"Silaan ! Hiks. Aku bilang vodka bo.. hiks… doh. Bukan air hik putih. Brengsek kau..Cepat ! Hik", ternyata rencananya gagal total karena pemuda itu segera menyadari minuman yang ia beri. Sebenarnya siapa disini yang bodoh pemuda mabuk atau sang bartender ? #lupakan
"Ini tuan", sang bartender terpaksa memberi pesanan yang pemuda inginkan – segelas vodka.
Flash Back
Jika ingin mengetahui kedekatan seorang adik dan kakak nampaknya kita dapat melihatnya pada jalinan yang terjadi antara Naruto sang kakak dan Kyuubi sebagai adik. Selisih usia tiga tahun nampaknya tidak menghalangi kasih sayang yang terjadi diantara mereka. Kyuubi yang selama hidupnya selalu bersama kakak dan kasannya, Kushina mengeratkan hubungan dalam keluarga kecinya. Kau bertanya tentang ayah ? Jika iya, maka akan ku jelaskan. Semenjak usia Kyuubi tiga tahun, ia tidak pernah lagi melihat sosok ayah dalam kehidupannya. Lalu kemana sang tousan ? Meninggalkah ? Jawabannya tidak, setelah usia Kyuubi delapan tahun dirinya baru mengetahui bahwa tousan dan kasan berpisah – bercerai- karena orang tua tousan tidak merestui hubungan diantara keduanya. Namikaze Minato adalah ayah kandung Kyuubi dan Naruto. Sejak perceraian itu nama keduanya berubah menjadi Uzumaki Naruto dan Uzumaki Kyuubi, mengikuti marga Kushina karena dari hasil sidang hak asuh kedua anak jatuh padanya.
Kehilangan sosok ayah tidak membuat sosok Kyuubi merana, karena kebersamaannya bersama sang kakak banyak mengajarkannya arti kehidupan. Naruto selalu ada ketika Kyuubi membutuhkan tempat berbagi. Sifat Kyuubi yang arogan, pemarah, liar, dan keras kepala dapat dengan mudahnya ditangani oleh Naruto. Kakaknya selalu mempercayai alasan Kyuubi yang bertindak "amoral" yang kebanyakan orang menghujat karena ketidak tahuan. Naruto pasti berada diposisi terdepan untuk melindunginya ketika seluruh orang menghujat kelakuan Kyuubi tidak juga sang kasan yang lebih banyak menangis ketika menghadapi kenakalan Kyuubi. Melalui sang kakaklah dirinya belajar mengusai emosi agar mampu menghadapi dunia. Ilmu bela diri adalah pilihan tepat yang Naruto berikan bagi sang adik menyalurkan potensinya. Atas bimbingan Paman Jiraiya, Kyuubi berhasil mengendalikan kearogananya, walau terkadang sifat asli Kyuubi yang "ekspresif" kembali terlihat. Bimbingan yang diberikan Paman Jiraiya semakin membuat Kyuubi dan Naruto menjadi sosok pemuda yang pemberani dan "dewasa". Dan mereka berdua bersyukur akan hal itu.
Kebersamaan Kyuubi dengan sang kakak mulai terganggu sejak kedatangan Sasuke dalam kehidupan Naruto. Naruto selalu sibuk dengan kesibukannya menjadi seorang chef. Tidak ada waktu lapang lagi antara mereka berdua berbicara sebagai seorang kakak dan adik, bahkan dirumah sekalipun. Saat itu Kyuubi berpikiran positif bahwa kakaknya sedang merajut mimpinya yang terpendam sejak lama. Ya, Kyuubi menyadari bahwa sang kakak selama ini sangat tertarik di bidang kuliner untuk menjadi seorang chef. Terhindar dari kedekatan kakaknya dengan Sasuke, Kyuubi menanamkan pikiran tersebut saat dirinya sedang membutuhkan sosok seorang kakak. Semua berjalan baik dan dapat Kyuubi atasi sampai saat itu.
Kabar baik berhembus di tengah keluarga Uzumaki. Rasa cinta dan tekad yang masih dimiliki oleh kedua orang tuanya membuka jalan untuk kembali bersatunya keluarga yang sempat berpisah belasan tahun. Mengikuti sang kepala kelurga, Minato keluarga kecil yang dulu bermarga Uzumaki berencana ke luar negeri – Jerman. Tidak ada yang menolak rencana tersebut, baik Naruto dan Kyuubi terlebih Kushina. Menjadi keluarga lengkap yang bahagia adalah harapan terbesar yang sempat tertunda disana, dua pemuda dalam keluarga tersebut menyadarinya dan tidak mungkin melepas kesempatan itu. Meskipun mereka – Kyuubi dan Naruto- harus rela memendam rajutan asa yang sempat terangkai di dalam kota penuh kenangan ,Konohagakure. Kyuubi yang saat itu sedang berada pada di kelas XII, membuatnya baru akan menyusul ke Jerman setelah ujiannya selesai.
Di mata Kyuubi semuanya terlihat baik-baik saja, ketika akhirnya pada suatu malam dirinya mendapati kakaknya, Naruto menangis tergugu di dalam kamarnya yang gelap. Tidak satu atau dua kali dirinya mendengar tangisan itu, melainkan seminggu sebelum keberangkatan mereka ke Jerman. Satu nama yang terus terucap dari bibir kakaknya ketika menagis, yaitu…
Sasuke
'Apa yang telah Sasuke lakukan padamu hingga kau terus menangis ?', tanya Kyuubi entah pada siapa. Sejak saat itu Kyuubi membenci Sasuke karena telah menyakiti hati kakak tercintanya. Kebencian menyelimuti hati Kyuubi hingga dirinya berencana membalas sakit hati yang dirasakan kakaknya pada Sasuke. Kesempatan Kyuubi membalas dendam terbatas hanya sampai ujian sekolahnya selesai. Keterbatasan waktu yang dimilikinya mengakibatkannya tidak sempat mencari informasi lebih jauh mengenai Sasuke. Letupan emosi khas masa remaja dialami Kyuubi, membuatnya gelap mata untuk segera membalaskan air mata kakaknya. Dengan mengendarai motor orange – Jinchuriki milik kakaknya, Kyuubi berharap mendapat kekuatan dari kakaknya yang berada dari tempatnya saat ini. Kyuubi berencana akan mencelakai Sasuke menggunakan Jinchuriki. 'Tau rasa kau Sasuke. Kan ku balasa air mata yang keluar dari mata kakaku', itulah tekad yang dimiliki sebelum tragedi kisah ini dimulai.
CKIIIIIT BAAM DUAR !
Lantunan detik-detik tragedy masih teringat jelas dalam mimpi bawah sadar Kyuubi. Mobil yang dikendarai Sasuke menabrak pembatas jalan dan setelah itu terdengar bunyi ledakan. Bunyi ledakan mobil Sasuke juga masih Kyuubi ingat. Kekalutan tiba-tiba menyerang jiwa Kyuubi ketika mendengar bunyi dentuman besar di belakangnya. Tepat ketika diirnya masih mengendarai motor, kekalutan mendominasi pikiran Kyuubi. Sebelumnya Kyuubi tidak berpikir jauh mengenai ada kemungkinan fatal yang mungkin terjadi, yatitu Sasuke akan mati akibat ulahnya. Tidak ! Tidak ada niatan Kyuubi hingga sampai menghilangkan nyawa Sasuke. Menyesal. Kyuubi merasa menyesal diwaktu bersamaan. Dirinya tidak lagi fokus mengendarai Jinchuriki. Laju motor semakin semakin dan semakin cepat , menembus dinginnya udara malam yang menyelimuti Konohagakure. Tepat di tikungan ….
"Apa ini ?"
"TIDAK !"
DUAR*
Dan di malam yang sama tragedi kembali terulang, kali ini terjadi pada Kyuubi .
Flash Back End
Kecelakaan yang baru saja dialami oleh Naruto, membuka luka lama milik Kyuubi. Lubang luka yang mengkronis diderita Kyuubi sejak malam tragedi. Saat ini Kyuubi kembali merasa bersalah dan penuh dosa. Penyesalan menyelimuti Kyuubi dan disaat yang bersamaan dirinya merasa menjadi bocah pecundang yang tidak pantas menatap dunia dengan iris crimson miliknya.
Pemuda yang sejak tadi siang mengikuti Kyuubi terus mengamati dari jauh tempat Kyuubi duduk di bar. Ketika kesadaran Kyuubi yang sudah semakin menipis, dirinya semakin mendekati tempat Kyuubi berada. Dari tempat sang pemuda misterius mengamati Kyuubi masih dapat terdengar seluruh kicauan yang keluar dari bibir Kyuubi. Kyuubi yang mabuk berat terus mengigau dan melontarkan kegundahan hatinya secara tidak sadar. Kristal bening juga turut terlihat dari mata indah beriris crimson mengiringi derasnya igauan Kyuubi. Isak tangis Kyuubipun tidak luput dari pandangan pemuda misterius. Setelah Kyuubi sudah berada dipuncak ambang kesadaraan, sosok misterius itu berada tepat di samping Kyuubi. Di batas kesadarannya Kyuubi menyadari kehadiran seseorang disampingnya lalu menggerakan kepalanya ke arah kiri.
"Kau !", ucap singkat Kyuubi sebelum tumbang – pingsan di meja bartender.
-Beautiful White-
Di tepi Danau Konoha
Sosok pemuda tampan sejak dua jam yang lalu terhanyut menyelami setiap kata dalam buku yang ada dihadapannya. Pemuda yang dikenal dengan nama Uchiha Sasuke sedang menikmati suasana damai yang tercipta di tempat penuh kenangan ini. Sudah hal yang biasa dilakukan Sasuke ketika waktu luang menyapa, ia akan berkunjung ke Danau Konoha. Matahari bersinar dengan begitu gagahnya di atas sana. Langit biru juga menunjukan keindahan warnanya pada makhluk penghuni bumi. Suasana musim panas seperti ini mengingatkannya pada pesona pemuda pemilik hatinya. Pemuda yang mampu membuat hati Sasuke tidak menentu, pemuda yang dengan bodohnya datang ke kehidupannya, dan pemuda yang mengajarinya mengerti akan impian. Pemuda itu adalah …
"T..teme apa yang kau lakukan disini ?", suara tidak asing datang tiba-tiba menyapanya. Narutolah yang menyapa Sasuke saat itu. Pertanyaan yang dikeluarkan sukses membuat jantung Sasuke berdegub dengan cepat dan keras. Apakah Naruto dapat mendengarnya ? Tidak disangkanya dapat bertemu dengan pemuda yang baru saja melintas dipikirannya. Kaget adalah emosi pertama yang Sasuke rasakan. Mata sapphire kembali terlihat oleh manic onyx miliknya. Bahagia adalah emosi kedua yang Sasuke rasakan. Kembali teringat ketika dirinya telah melukai Naruto. Gusar adalah emosi ketiga yang Sasuke rasakan. Ketiga emosi yang baru saja dirasakannya membuat wajah stoicnya berubah selama sepersekian detik. Pengendalian diri khas klan Uchiha yang sempurna mampu menutupi emosi yang Sasuke rasakan.
"Tidak ada", jawab Sasuke singkat dengan nada datar. Sasuke langsung berdiri dari tempatnya duduk. Menutup buku yang sempat dibacanya. Melihat Naruto sepintas sebelum pergi begitu saja dari hadapan Naruto. Sasuke masih merasakan belum siap bertemu dengan Naruto. Dia tidak ingin berada di dekat orang yang membuat perasaannya tidak menentu. Tanpa pamit Sasuke langsung menjauh dari tempat Naruto berdiri.
"Eh, Teme… Kenapa kau pergi ?", melihat tingkah aneh sahabatnya Naruto berusaha bertanya. "Teme.. teme…teme ! TEMEEEEE !", Naruto terus terus dan terus memanggil sambil berlari mengejar Sasuke. Ia yakin suaranya mampu didengar oleh Sasuke. Namun Sasuke sama sekali tidak bergeming, ia mendekati mobilnya kemudian mengendarainya menjauh dar Naruto.
-Beautiful White-
Disiang hari yang cerah, terdapat tiga pemuda tampan yang berkumpul. Di sudut kota kota yang terkenal asri menjadi pilihan ketiga pemuda bertemu. Pepohonan mengelilingi lokasi pertemuan mereka. Udara yang sejuk, suasana bising kota yang minim, semilir angin yang menenangkan dan rindangnya pepohanan adalah beberapa hal yang membuat lokasi tersebut istimewa. Tidak berbeda halnya dengan suasana dalam kafe tempat mereka saat ini duduk. Di dalam kafe bernuansa modern minimalis dengan interior utama berwarna coklat yang tidak terlalu ramai pengunjung ketiga pemuda memilih ruang di sudut kanan belakang kafe dekat dengan kaca sebagai pilihan mereka bertiga berbincang. Ketiga pemuda itu terlihat tampan seperti biasa. Pesona mereka sempat menjadi pusat perhatian kaum hawa dalam kafe ketika melihat mereka masuk ke dalam kafe beberapa saat yang lalu. Dan disinilah mereka saat ini.
"Otouto perkenalkan ini Namikaze Kyuubi",pemuda bermata onyx membuka perbincangan siang hari itu. Itachi memperkenalkan pemuda berambut merah orange disampingnya kepada adik tercinta, Sasuke yang saat ini berada di hadapannya.
"Namikaze Kyuubi", mendengar Itachi memperkenalkannya, Kyuubi memulai pertemuan ini dengan memperkenalkan diri. Bukan hal yang mudah bagi pemuda beriris crimson ini untuk mengikuti pertmuan hari itu. Baginya pertemuan ini adalah saat-saat yang mendebarkan karena ia harus menceritakan kegagalannya dimasa lalu. Kegagalannya ketika dirinya remaja yang berakhir pada penyesalan tak berujung sampai saat ini. Kegagalan yang disadari Itachi telah membuat dirinya tenggelam. Berkat bujukan Itachi beberapa hari yang lalu akhirnya dirinya dapat mengambil langkah ekstrem ini. Bertemu dengan Sasuke.
"Uchiha Sasuke", tidak ada acara jabat tangan Sasuke memperkenalkan dirinya pada Kyuubi. Raut tanpa ekspresi milik Sasuke terlihat pada saat itu. Sebenarnya Sasuke enggan harus pergi keluar rumah, apalagi harus bertemu dengan anikinya. Walau dendam yang dulu sudah perlahan menipis tapi tidak dipungkiri bahwa dirinya masih memendam demdam pada Itachi. Memilih menjauhinya adalah keputusan yang Sasuke ambil selama ini. Namun dirinya merasa jengah juga beberapa hari lalu Itachi terus menghubunginya tanpa henti mengajaknya bertemu. "Hal penting apa yang ingin kau bicarakan ,aniki ?", ucap Sasuke langsung pada intinya.
"Sebenarnya Kyuubi yang ingin bicara banyak padamu. Kyuubi, adik Naruto ", jawab Itachi cepat. Itachi dapat membaca gesture yang dikeluarkan Sasuke saat itu. Ia melihat adiknya datang dengan terpaksa dan tidak menginginkan pertemuan yang bertele-tele peuh basa-basi. Memang hal ini sudah dapat diterka sebelumnya oleh Itachi sehingga ia tidak terlalu kaget dengan sikap arogan sang adik. Dan jawabannya barusan adalah gerbang sesungguhnya yang ia ciptakan dalam pertemuan besar ini.
Mendengar perkataan Itachi, Sasuke tampak terdiam selama sepersekian detik. Terlihat perubahan ekspresi pada wajah Sasuke, tidak signifikan memang, dapat dipastikan apabila orang yang baru bertemu dengan Sasuke tidak akan meilhat celah itu. "Adik Naruto ?", lirih Sasuke ketika mendengar perkataan Itachi yang benar-benar diluar perkiraannya. "Namikaze, apa maksudnya ?", sorot mata Sasuke langsung menusuk tajam mata onyx milik Itachi. Sorot mata yang membawa banyak pesan akan intimidasi meminta pejelasan lebih pada orang dihadapannya. Jawaban akan ketidaktahuannya akan sosok pemuda yang telah menghancurkan perasaannya, sosok yang membuatnya benar-benar berubah dalam dua kesempatan yang berbeda.
Melihat ketidaknyamanan ini Kyuubi mengambil alih keadaan. Sorot mata Sasuke kepada Itachi mendorong dirinya menjawab pertanyaan yang dikeluarkan oleh Uchiha bungsung. Kyuubi menyadari inilah saat yang tepat menjelaskan semua pada Sasuke. Karena alasan ini juga dirinya berhasil dibujuk Itachi untuk datang, dirinya harus menjelaskan hal yang selama ini ia tutupi kepada pemuda berambut emo dihadapannya. Kakaknya tidak pantas mendapat kebencian dari Sasuke. Sasuke harus menyadari kesalahan yang telah ia perbuat kepada kakaknya beberapa hari yang lalu. Dimulailah penjelasan dari mulut Kyuubi. Diantara ketiga pemuda itu hanya Kyuubi yang pemimpin pembicaraan. Baik Sasuke dan Itachi semua terdiam mendengar semua ucapan sang Namikaze bungsu. Itachi tampak tenang mendengarkan perkataan Kyuubi karena dirinya telah mengetahui kebenaran ini sebelumnya. Berbeda dengan sang adik, Sasuke tampak serius mendengar dan memperhatikan apapun yang keluar dari bibir Kyuubi. Semua ekspresi tertangkap jelas oleh onyx miliknya. Kabar yang disampaikan oleh Kyuubi adalah berita besar yang menenggelamkan eksistensinya sebagai Mr. Perfect. Betapa bodohnya ia selama ini, bertapa dirinya tidak mengenal dan buta akan pemuda beriris shapire. Dibalik meja, tangan yang dibalut kulit berwarna alabaster milik Sasuke terkepal kuat hingga buku-buku kukunya memutih. Sebagai luapan emosinya Sasuke terus menggenggam tangannya selama mendengar penjelasan Kyuubi. Dan berakhirlah kalimat penjelasan panjang Kyuubi.
"Jadi yang sebenarnya sengaja mencelakaiku dua tahun lalu adalah kau ?", ucap Sasuke dengan sorot mata nanar."Bukan Naruto ? Dan kau menggunakan motor miliknya ketika itu ?, Sasuke berkata seolah memastikan kembali apa yang baru saja ia dengar. Terjadi pergolakan besar dalam dirinya saat mendengar penjelasan Kyuubi. Akal superiornya menolak mempercayai apa yang baru saja ia dengar, namun hatinya berkata lain."Sialan kau ?! Brengsek", emosi Sasuke meledak. Sasuke ingin melampiaskan kekecewaanya pada pemuda berambut merah dihadapnnya. Bahkan ucapkan sakartis yang tidak biasa terdengar dari bibirnya, terdengar jelas siang itu. "Ku hajar kau sekarang juga !", tidak hanya lisan Sasuke hendak menyalurkan emosinya dengan adu fisik. Tangannya yang sejak tadi terkepal kuat dibalik meja terlihat didekat kepalanya ketika dirinya berdiri. Begitu juga dengan onyx miliknya yang sukses membuat Kyuubi bergidik takut sesaat.
"Sudahlah Sasuke sudah, dia sudah mengakui perbuatannya", melihat emosi yang dipancarkan oleh Sasuke dengan cepat Itachi mengendalikan keadaan. Disaat emosi begitu menguasai diri Sasuke, Itachi berusaha berpikir jernih dan tidak terbawa emosi. Melihat pemuda disampingnya, Itachi bertekad akan melindungi dirinya apapun yang terjadi. Karena bagaimanapun dirinya jugalah yang memaksa pemuda tersebut untuk datang hari ini.
"Apa kau bilang baka aniki ?", ujar Sasuke sakartis masih penuh emosi.
"Aku bilang sudah Sasuke", ucap Itachi tenang sambil menutup onyxnya sesaat setelah sebelumnya menghembuskan napas dalam. "Kesalahan tidak sepenuhnya terjadi karena Kyuubi, tetapi aku juga terlibat", kali ini Itachi menyorot mata Sasuke. Memastikan adiknya mendengar ucapannya.
"Kau terlibat ? Jadi kau juga mencoba membunuhku begitu ?, kembali Sasuke terpukul dengan apa yang baru saja ia dengarkan. Dirinya tidak percaya anikinya juga terlibat dengan semua ini.
"Bukan itu maksudku", kesimpulan yang keliru dari Sasuke membuat Itachi merasa bersalah. Disisi lain dirinya menganggap Sasuke masih memendam rasa benci kepada dirinya sehingga kesimpulan keji sesaat itu begitu mudah terangkum dalam benak Sasuke.
"Jelaskan !", nada Sasuke meninggi menuntut penjelasan segera.
Kembali ketenangan dapat dikuasai Itachi, sebagai orang yang paling tua diantara mereka sudah seharusnya ia bersikap dengan kepala dingin. "Aku mengetahui Kyuubilah yang mencelakaimu sejak dua tahun lalu. Aku melindunginya dan merahasiakan kejadian sebenarnya selama ini padamu", ucap Itachi. "Saat kejadian itu adalah tepat satu tahun kepergiannku ke Amerika. Keinginanku pulang ke Konoha sangat besar. Aku rindu bertemu dirinya dan juga kau, Sasuke. Awalnya aku ingin memberi kejutan bagi kalian berdua tapi ternyata diiriku sendiri yang terkejut atas kecelakaan yang kalian alami", jelas Itachi panjang lebar berusaha adiknya mengerti apa yang ia ucapkan. "Pada saat itu aku menjenguk kalian berdua secara rutin. Kalian ingat ?", Itachi melemparkan pertanyaan sederhana kepada dua pemuda didekatnya, memastikan mereka mengingatnya atau sudah melupakannya dan kemudian melihat dua pemuda tersebut menganggukan kepala tanda bahwa mereka mengingatnya. "Potongan puzzle mulai tersusun rapi melalui analisis pribadiku, tragedi kecelakaan kalian berdua ternyata saling berhubungan. Sejak saat itu aku mencoba menutupi kenyataan ini dari kalian berdua", jelas Itachi sambil memainkan bibir cangkir dihadapannya.
"Menutupi dari kami berdua ?", tanggap Sasuke kemudian. Penjelasan dari Itachi sepertinya adalah kabar baru yang diketahui baik Sasuke maupun Kyuubi. Namun diantara keduanya, Sasuke yang lebih mampu menanggapi penjelasan Itachi.
"Ya ! Baik kau dan Kyuubi sendiri tidak tahu hal yang sebenarnya", jari tangan Itachi berhenti memainkan bibir cangkir dihadapannya.
"Maksudnya ?", kembali Sasuke angkat bicara.
"Bahwa saat itu kita tidak saling kenal. Kyuubi yang tidak mengenalmu sebagai otoutoku dan kau, Sasuke tidak pernah benar-benar mengenal Naruto, termasuk mengenai adiknya, Kyuubi", jelas Itachi sambil menggenggam tangan Kyuubi dibawah meja. Itachi dapat melihat pemuda disampingnya sedang gelisah dan Kyuubi membalas genggaman tangan Itachi. "Diantara kita bertiga sebenarnya bersalah atas kecelakaan yang menimpa Naruto. Aku, Kyuubi dan kau menjadi peran antagonis saat itu", Itachi menangkap keterkejutan dari mata Sasuke saat dirinya berbicara. "Aku yang tidak jujur kepada kalian berdua atas kecelakaan dua tahun lalu, Kyuubi yang salah mengartikan dan menyimpulkan kesedihan yang dialami Naruto terjadi karena kesalahanmu dan dirimu Sasuke yang bertindak gegabah ", Itachi mengutarakan pendapat pribadinya agar situasi tidak bertambah rumit. "Peran nyata inilah yang saat ini kita mainkan. Tidak ada peran yang seratus persen antagonis maupun protagonis dalam diri manusia, manusia diciptakan memiliki kedua karakter tersebut diwaktu yang sama", kata Itachi. "Sebagai seorang aniki aku memiliki pesan padamu…..", lanjut Itachi menggantung. "Berhentilah menganggap Naruto sebagai seorang pendosa yang harus bertangungjawab penuh atas semua penderitaanmu. Penyesalan akan datang diakhir. Ku harap diantara kalian berdua tidak ada yang menyesal ketika waktu mempertemukan kalian", penjelasan Itachi diakhri oleh tepukan pelan pada pundak Sasuke. Komunikasi non verbal dari Itachi yang mengungkapkan "lakukanlah yang terbaik".
Selama beberapa saat tidak ada percakapan diantara mereka bertiga. Semua terdiam dengan pemikirannya masing-masing. Menyelelami kebodohan dan takdir yang mempermainkannya selama ini. Menelusuri peran yang telah mereka lakoni akan situasi menyesakan belakangan ini. Memahami setiap kebenaran yang beberapa tahun tertutup rapat. Kesalahan yang beberapa tahun melingkupi setiap jejak kehidupan dan mengubur kebenaran yang seharusnya diketahui.
"Ini !", ucap Kyuubi sambil menyerahkan kotak persegi yang sejak tadi dibawanya. Kotak berwarna biru dengan hiasan pita berwarna silver. Kyuubi letakkan di atas meja. Tangan Kyuubi menggeser kotak tersebut mendekat ke sisi Sasuke.
"Apa ini ?", Sasuke terlihat kaget ketika melihat sebuah kotak yang dikeluarkan Kyuubi.
"Ini adalah kado yang aniki ingin berikan sebelum pergi ke Jerman", jawab Kyuubi. "Maaf aku baru bisa memberikanmu sekarang. Sebenarnya kado ini tidak sengaja aku temukan di kamar kakak. Awalnya aku tidak terlalu peduli. Lalu suatu hari aku tidak sengaja aku menjatuhkannya. Setelah terbuka ternyata di dalamnya tertulis namamu. Maaf karena kecelakaan itu aku tak berani menemuimu, jadi selama ini kado itu ku simpan", lanjut Kyuubi.
-Beautiful White-
Tujuan Sasuke kembali kepada Danau Taman Konoha. Tepat ketika matahari sudah mulai memudar cahayanya Sasuke duduk di tepi danau. Bias sinar matahari menembus jernihnya air danau, memantulkan perpaduan warna indah diatas permukaan air. Warna yang mampu menenangkan kegundahan yang melanda dirinya, dipadukan oleh semilir angin yang menyejukan gersangnya gurun dihatinya. Tidak ada yang mampu menemani kesenderiannya saat ini selain alam di tepi danau. Setelah pertemuan besar yang dillaluinya siang tadi, Sasuke tidak kembali ke apartemen mewahnya. Kesunyian di apartemennya akan menambah sunyinya gurun dihatinya.
Dibukanya sebuah bungkusan di tangannya, sebuah kotak berbentuk balok berwarna biru dan berpita warna silver. Perlahan ia membuka tutup kotak tersebut. Terlihat sebuah hadiah pemberian Naruto di dalamnya. Sebuah kado terindah yang pernah diterima Sasuke selama hidupnya, terlebih hadiah ini datang dari pemuda yang mengisi hatinya. Didalam kotak itu berisi sumpit berwarna biru dongker kualitas terbaik dengan ukiran naga berwarna silver disisi atasnya. Sumpit itu begitu indah, menawan, kokoh, dan dingin disaat yang bersamaan seperti replika sosok Sasuke yang penuh misteri. Ukiran naga menambah kesan perkasa dalam sumpit tersebut. Detail yang disugukan pada sosok naga menggambarkan kesempurnaan yang dimiliki Sasuke selama ini. Jari Sasuke menelusuri secara perlahan pahatan naga pada sumpit didepannya. Sebagai seorang chef dari Jepang tentu kehadiran sumpit begitu berarti dalam penyajian makanan. Pesan tersirat tertangkap oleh Sasuke akan kehadiran sumpit berukir naga tersebut. Pesan tersirat tersebut diperkuat oleh lembaran yang saat ini berada ditangannya. Surat yang berisi jawaban dari ungkapan yang sempat terucap tiga tahun lalu.
"Naruto, sebenarnya siapa yang paling cocok dengan sebutan Dobe diantara kita ? Apa yang harus aku lakukan setelah ini", lirih Sasuke
-Beautiful White-
Sudah sebulan berlalu sejak pertemuan yang dilakukan tiga pemuda di kafe di sudut kota Konoha. Banyak peristiwa yang terjadi selama sebulan itu. Waktu yang bergulir menjadi saksi bisu akan banyaknya peristiwa yang dilalui setiap manusia. Namun hal ini tidak banyak terjadi dengan perkembangan hubungan antara Sasuke dan Naruto. Hubungan mereka seakan jalan ditempat karena tidak ada diantara mereka yang memulai memperbaikinya secara langsung. Mereka berdua sibuk dengan urusannya masing-masing sehingga tidak bercelah untuk memulai sebuah peretemuan. Atau memang diantara keduanya terutama Sasuke yang menutup pintu itu sendiri, entahlah hanya dirinya sendiri yang tahu. Meskipun seperti jalan ditempat, sebenarnya tela terjadi perubahan besar diantara keduanya yang tidak ketahui pula oleh keduanya.
Disebuah gedung perkantoran besar sedang sibuk dengan pertemuan yang sebentar lagi akan berlangsung oleh dua perusahaan besar. Masing-masing perusahaan mengirimkan orang kepercayaannya untuk memimpin pertemuan bersejarah kedua perusahaan pemilik pangsa pasar terbesar di Asia. Kerjasama yang akan terjalin apabila pertemuan ini berjalan lancar akan menjadi peluang besar melebarkan kepak sayapp masing-masing perusahaan. Tidak boleh ada kesalahan yang terjadi selama rapat berlangsung, masing-masing vendor harus mampu menunjukan potensi yang dimilikinya agar kerjasama terjalin secepatnya. Ruang rapat adalah lokasi yang paling beraura tegang dan mencekam diantara semua ruangan di gedung perkantoran itu.
"Kau !", orang kepercayaan Uchiha menunjukan keterkejutan sesaat setelah melihat orang dihadapannya.
"T…teme", ekspresi penuh keterkejutan lebih tampak pada pemuda berambut kuning. Naruto tidak mempercayai apa yang dilihatnya saat ini, yang ia tahu Sasuke adalah seorang chef bukan pekerja kantoran, apalagi sebagai pimpinan Uchiha Corp yang memimpin pertemuan kali ini.
Keterkejutan yang ditampilkan oleh keduanya sebenarnya bukan hal yang mengagetkan karena mereka berdua telah putus kontak lama. Sasuke tidak menjadi chef lagi di Konoha Residence, tiga minggu yang lalu sejak kontrak kerjanya berakhir. Semenjak dirinya diterima sebagai chef disana dirinya telah menandatangani kontrak dengan Kakashi bahwa dirinya hanya bekerja selama tiga tahun disana. Hal ini terjadi berhubungan dengan perjanjiannya kepada Fugaku, ayahnya beberapa tahun silam bahwa dirinya akan meneruskan Uchiha Corp bersama anikinya. Begitu juga terjadi pada Naruto, dirinya sudah tidak lagi bekerja di kedai ramen sejak kecelakaan yang menimpanya. Kecelakaan yang memimpanya membuat keluarga terutama yang ibu, Kushina khawatir pada Naruto jika hidup mandiri diluar. Selain itu juga, setelah dirinya dikatakan telah pulih seutuhnya dan tubuhnya sudah sehat kembali maka dirinya harus memenuhi kesepakatan yang tiga tahun lalu, yaitu menjadi penerus Namikaze Corp. Dan sekarang disinilah mereka berdua, Sasuke dan Naruto dipertemukan oleh takdir.
Pertemuan telah usai tiga puluh menit lalu.
"S..sa.. suke, tunggu !", Naruto memanggil Sasuke sambil berlari. Suasana tampak sepi saat itu, karena sudah masuk jam makan siang yang berarti sebagian besar keryawan tengah menikmati makan siang.
"Ada apa ?", jawab dingin Sasuke ketika tahu yang memanggil dirinya adalah Naruto.
"Berhentilah terus menghindariku, Teme", setelah mengatur napas yang tidak beraturan sehabis berlari Naruto berbicara. Tangannya memegang kedua lututnya, padangannya masih terpaku pada lantai keramik dibawahnya dan badannya agak membukuk karena itu. Sepertinya Naruto benar-benar letih karena berlari.
"Tidak ada yang menghindarimu", mendengar jawaban Sasuke segera Naruto melihat Sasuke didepannya.
"Lalu apa yang kau lakukan barusan dan kemarin ? Jelas-jelas kau menghindariku", ujar Naruto tidak terima dengan jawaban yang ditarakan Sasuke.
"Aku ada urusan Dobe", dusta Sasuke seketika. Dirinya memang sedang menghindari Naruto selama sebulan kebelakang ini. Tidak lagi diam-diam datang ke kedai ramen setiap malam seperti yang selama ini ia lakukan sebelum kecelakaan itu terjadi. Tidak lagi meminta bawahannya mengganggu Naruto. Tidak lagi datang ke Danau Taman Konoha. Perasaannya masih abu-abu terhadap Naruto.
"Jangan bohong !", sorot mata Naruto menajam mendengar kebohongan Sasuke. "Tadi saat aku bertanya pada Jugoo, sekretarismu kau tidak punya jadwal setelah pertemuan ini", jelas Naruto yang membuat sorot mata Sasuke berubah kaget beberapa saat sebelum dirinya menguasai emosinya kembali.
'Sialan si Jugoo itu. Kan ku beri perhitungan nanti', rutuk Sasuke dalam hati. "Tidak semua urusanku Jugoo tahu", sikap stoic miliknya terlihat dimata Naruto.
"Bisakah kita berteman seperti dulu ?", Naruto meluluh melihat Sasuke menampilkan sikap dingin dihadapannya. Dirinya tidak ingin memperkeruh keadaan yang telah terjadi, dirinya hanya ingin bicara dengan baik-baik dengan Sasuke
'Iya aku ingin, bahkan lebih dari itu', jawab Sasuke dalam hati. "Apa yang ingin kau bicarakan sebenarnya ? Jika tidak ada yang penting lebih baik aku pergi", Sasuke masih tidak ingin bertemu Naruto saat ini.
"Tu.. tunggu-tunggu ! Kita bicara di danau bagaimana ?", desak Naruto, berharap Sasuke mau mengabulkan permohannya kali ini.
Di tepi Danau Taman Konoha
"Kau ternyata sudah berhenti menjadi chef ya, Teme", ucap Naruto ketika mereka berdua telah duduk di tepi danau.
"Hn. Dan kau ?", jawab singkat Sasuke kemudian.
"Iya aku juga sudah berhenti bekerja di kedai Paman Teuchi. Hehe. Sekarang aku mengurus perusahaan ayahku Namikaze Corp", Naruto berusaha menjadi dirinya kembali menjadi pribadi yang ceria dan penuh warna dihadapan Sasuke. "Aku sudah dengar tentang kecelakaan itu dari adikku, Kyuubi. Maaf Sasuke dua tahun lalu adikku sempat hampir membunuhmu", jelas Naruto memulai inti dari pertemuan hari itu.
'Kenapa kau yang minta maaf Dobe ? Aku yang hampir membunuhmu', sesal Sasuke dalam hati. "Tidak ! Aku juga salah", Sasuke mengutarakan pemikirannya. "Apa Kyuubi juga menceritakan tentang kecelakaan yang menimpamu ?", tanya Sasuke. Dirinya ingin tahu sejauh mana Kyuubi bercerita dengan Naruto.
"Iya. Kyuubi menceritakannya", Naruto berkata sambil tersenyum menghadap Sasuke. Seakan tidak ada masalah dengan dengan itu. Sasuke menangkap ketulusan dalam senyum yang sejak lama tidak ia lihat beberapa tahun ini. Senyum yang menyejukan, senyum yang ia rindukan. "Lalu kenapa kau tidak marah padaku ?", Sasuke tidak percaya Naruto dapat tersenyum mendengar fakta dari Kyuubi akan dirinya.
"Karena kita berdua merasakan sakit yang sama. Itu sudah cukup bagiku", jawab Naruto. Naruto memandang kedepan, melihat jernihnya air danau dan bertapa tenangnya air tersebut.
"Bodoh ! Alasan macam apa itu ?", Sasuke kesal bukan ini yang ia harapkan ketika bertemu ia akan berpikir Naruto akan balas dendam sama seperti dirinya. "Jangan berpikir seolah-olah kau tahu tentangku. Dengar ya Dobe, alasan utamaku mencelakaimu bukan karena kecelakaan dua lalu. Kau tahu ?", cecar Sasuke. "Kau telah terlalu jauh menyakitiku sebelum itu !", ungkap Sasuke. Hal ini membuat mata Naruto terbelalak hebat. Naruto tidak menyangka dirinya mempunyai kesalahan sebelum itu.
"Pertama saat kau mengacuhkan perasaanku", ujar Sasuke dingin. Dendam yang dirasakan Sasuke dimulai ketika dirinya mengungkapkan perasaannya kepada Naruto. Bukan hal yang mudah bagi Sasuke mengungkapkan itu, perlu pemikiran yang panjang dalam memastikan perasaan yang bermekaran dalam hatinya. Segala bentuk penolakan terjadi dalam dirinya sendiri, ada kalanya ia menyangkal perasaan yang mulai berkembang dan ada kalanya ia percaya akan perasaannya. Menbuat benteng tinggi dalam menolak pesona Naruto telah ia lakukan guna menetapkan perasaannya. Benteng kokoh yang susah payah ia bangun runtuh seketika ketika dirinya lengah sesaat kemudian pesona Naruto masuk terlalu dalam mengisi setiap sudut benteng dingin miliknya. Lalu apa yang ia dapat ketika dirinya berani mengutarakannya pada Naruto ? Tak ada.
"Kedua kau yang membohongiku", Sasuke menatap tajam danau dihadapannya. "Tepat di tempat ini kau berjanji padaku, kau akan suportif berkompetisi", lanjut Sasuke. Sasuke kembali mendapat tamparan keras di hatinya ketika Naruto melanggar janji yang ia ucapkan sendiri di tepi danau. Kebohongan Naruto terjadi ketika dirinya mengetahui bahwa kompetisi chef yang pernah ia ikuti bersama Naruto telah disabotase oleh Naruto sendiri. Pada saat itu Naruto berjanji akan bertanding jujur, tapi apa kenyataan yang ia dapatkan dari orang bawahannya tepat ketika dirinya bertemu dengan Naruto di kedai ramen pada malam hari bersalju. Dirinya dihadapkan kenyataann bahwa Naruto bertindak diluar jalur, dirinya mengganti bahan masakan Sasuke tanpa sepengatahuan Sasuke. Pergantian bahan yang dilakukan Naruto membuat dirinya secara tidak langsung memenangkan kompetisi tersebut karena bahan yang Naruto gunakan menjadi berkurang. Sasuke merasa harga dirinya diinjak-injak ketika itu. Bagaimanapun dirinya dapat berdiri diatas kakinya sendiri bukan diatas kaki orang lain, meskipun itu Naruto. Dirinya tidak terima kebohongan yang dilakukan Naruto atas kompetisi tiga tahun lalu. Apapun yang terjadi , Sasuke percaya dapat mengatasinya sendiri meskipun bahan resep buatannya tidaklah sempurna. Tidak perlu campur tangan orang lain untuk membantunya. Sebagai seorang laki-laki apalagi seorang Uchiha, kejadian itu telah merusak harga dirinya dengan telak. Karena tindakan bodoh Naruto, dirinya lantas menang diatas penderitaan orang lain dan ia baru mengetahui itu tiga tahun kemudian.
"Ketiga kau pergi", Sasuke mengucapkan itu dengan nada lirih. Kembali dirinya membayangkan saat-saat ketika dirinya ditinggal oleh Naruto tidak lama sejak kemenangan yang ia terima. Tidak ada penjelasan berarti akan kepergian Naruto ketika itu. Yang Sasuke tahu dari mulut Naruto langsung adalah dirinya akan ke Jerman untuk meneruskan cita-citanya. Tidak ada kabar selanjutnya dari Naruto akan jawaban perasaannya. Naruto seakan tidak pernah mendengar itu dan menganggap ungkapan itu sebagai angin lalu. Sakit hati Sasuke menerima kenyataan pahit itu, bergulatan pemikiran yang terjadi selama ini seakan menjadi sebuah lelucon lucu oleh Naruto. Kembali harga diri tidak mengijinkan dirinya kembali mengungkapkan perasaan dan menanyakan jawaban dari Naruto.
Mendengar kesalahannya yang menyakiti hati Sasuke, Naruto tidak tahan untuk menjelasakan semuanya saat itu juga. Melihat Sasuke yang berusaha meredam emosinya, hati Naruto terenyuh begitu saja. Tidak pernah terlintas dalam benak Naruto akan menyakiti pemuda disampingnya ini. Pemuda yang mampu menarik hati begitu dalam. Pemuda yang ia terima semua pesonanya. Pemuda yang ia sadari dicintainya. "Pertama, saat itu aku belum yakin akan perasaanku Sasuke. Kau mengungkapkannya tepat setelah aku tau aku akan pergi jauh bersama keluarga", jawab Nauto yang membuat Sasuke berpaling menghadap wajah Naruto segera.
Kenyataan yang tidak disadari Sasuke adalah pada saat dirinya mengungkapkan perasaan, pada saat itu Naruto masih berjuang dalam pergulatan batinnya. Naruto tidak menjawab karena dirinya tidak yakin akan perasaannya sendiri. Pada saat yang sama, Naruto dihadapkan kenyataan bahwa keluarga kecilnya akan menjadi keluarga lengkap. Melihat ibunya tersenyum bahagia adalah kebahagiannya pada saat itu. Keluarga kecilnya akan berpindah ke Jerman untuk bertemu dan tinggal bersama ayah kandungnya, Minato. Pergulatan batin yang dialami Naruto terus berlanjut semenjak ucapan Sasuke, dirinya tidak jarang harus menangis di malam hari ketika pergulatan itu terjadi. Apa yang harus ia perjuangkan perasaannya yang masih abu-abu atau kebahagiaan keluarga di depan mata ? Pilihan berat Naruto ambil ketika itu. Kebahagiaan keluarga.
"Kedua, aku berusaha membantumu mencapai impianmu. Impian terbesarmu menjadi seorang chef", jelas Naruto. "Impianmu menjadi seorang chef begitu besar dibandingkan diriku sendiri. Setelah pernyataanmu saat itu, banyak hal yang aku pikirkan tentang hubungan kita Sasuke", Naruto mengadahkan kepalanya keatas memandang cerahnya langit biru yang dihiasi awan putih macam-macam bentuk, bergerak lambat seakan mempermainkan detak jantungnya yang berdetak kencang. Naruto menyadari bahwa ia telah berjanji pada Sasuke akan berkompetisi secara suportif kala itu. Namun keadaan mendesaknya melakukan kebohongan. Dirinya melihat dengan mata kepala sendiri, Itachi melakukan kecurangan ketika kompetisi berlangsung. Naruto tidak buta akan kesenjangan yang terjadi pada duo Uchiha pada saat itu. Naruto mendengar kabar Itachi dan Sasuke bertengkar hebat, memperjuangkan impian masing-masing. Naruto tidak menyalahkan Itachi saat itu, dirinya bahkan tidak ragu untuk menbujuk Itachi menggagalkan rencananya. Naruto meyadari impian Sasuke sangatlah besar untuk menjadi seorang chef. Dirinya tidak menyangka Sasuke yang ia kenal sebagai pemuda dingin mempunyai impian yang begitu besar. Jangan sampai impian itu sirna sekejap karena pertengkaran antar saudara. Membuka jalan bagi orang yang begitu begitu berarti dalam hidupnya dalam meraih impian adalah keharusan. Karena, "Aku menyadari impian terbesarku adalah …", Naruto diam beberapa saat, menggantungkan kalimatnya. "Melihatmu bahagia", senyum Naruto menghiasi ungkapan kejujuran hatinya. "Karena aku mencintaimu, Sasuke", hati Sasuke berdesir hangat ketika mendengar ungkapan cinta Naruto. Kupu-kupu seakan menggelitik perutnya ketika beterbangan mengisi rongga perutnya. "Sebelum kepegianku, aku ingin memberikan kado terindah untukmu dengan membuka jalan kau meraih impian", tetap dengan senyum di bibir tipisnya, Naruto melanjutkan kata-katanya. "Maaf karena keegoisanku aku malah mengingkari janjiku sendiri", ujar Naruto lirih.
"Lalu apa maksudnya perkataanmu dengan Itachi sebelum kompetisi ?", meskipun perasaan bahagia begitu merasuk pada diri Sasuke, dirinya masih belum puas akan semua yang diungkapkan Naruto. Dirinya butuh kejelasan lagi, fakta apa yang sebenarnya terjadi yang dirinya buta mengetahuinya.
Flash back
"A..aku mohon… aku mohon… Itachi-ni terimalah permintaanku. Waktuku tidak lama lagi", terlihat Naruto berlutut dihadapan Itachi sebelum kompetisi dimulai. Naruto terlihat begitu memelas meminta kepada Itachi yang berdiri kokoh dihadapannya. Linangan air mata menghiasi mata jernih Naruto. Sudah sejak sepuluh menit yang lalu Naruto memohon pada Itachi, namun Itachi tetap tak bergeming akan rencana yang telah ia susun matang-matang. Dengan menggagalkan impian Sasuke maka akan terbuka lebar Itachi meraih mimpinya karena Sasukelah yang akan menjadi penerus Uchiha Corp. Tidak jauh dari tempat Naruto memohon, sepasang mata onyx milik Sasuke mengintip dibalik tembok. Belum lama dirinya berada disana, yang pati Sasuke mendengar dengan jelas tangisan Naruto dan dirinya telah mengambil kesimpulan, Itachi adalah musuh terbesarnya mendapatkan cinta Naruto.
Flash back end
"Aku melihat kau berlutut di hadapannya", ungkap Sasuke singkat.
"Kau melihatnya ? Lalu apa yang kau dengar ?", mendengar jawaban Sasuke membuat degup jantung Naruto semakin hebat. Dia tidak ingin hubungan antara Sasuke dan Itachi semakin memburuk. Tidak !
"Kau menangis, memohon untuk mendapat penerimaannya", ucap Sasuke datar. Mengungkapkan apa yang saat itu dirinya benar-benar lihat dibalik tembok.
"Ya benar saat itu aku memohon pada Itachi. Memohon untuk merestuimu meraih impian menjadi seorang chef", Naruto menjelaskan jujur pada Sasuke. "Terdengar konyol memang, aku tidak sengaja dengar kalau kau sedang ada masalah besar dengan keluargamu. Terutama dengan Itachi", ungkap Naruto lagi. Naruto berusaha menjelaskan kebenaran yang terjadi pada saat itu. Memang benar dirinya berlutut pada Itachi karena ia begitu ingin melihat Sasuke bahagia meraih impian terbesarnya, menjadi seorang chef. Dirinya bukan mengemis pada Itachi, apalagi mengemis cinta. Dirinya hanya menjaga impian Sasuke dengan caranya sendiri. Cukup kebenaran itu yang harus diketahui Sasuke saat ini. Naruto tidak mungkin menjelaskan kecurangan Itachi untuk menggagalkan Sasuke menjadi pemenang kompetisi. Tidak sampai hati, Naruto memperkeruh hubungan duo Uchiha. Saat ini cukup dirinya dan Itachi yang mengetahui kebenaran ini. Pada saat yang tepat, kelak dari mulutnya pula Sasuke akan mendengar kebenaran ini. Hanya dari dirinya Sasuke akan menerima kebenaran ini, bukan orang lain.
'Betapa bodohnya aku, sederhana sekali pemikiranku selama ini. Inikah orang selama ini aku benci dengan segenap hati sekaligus aku cintai ? Masih pantaskah aku mencintainya disaat diriku hampir membunuhnya?', Sasuke hanya mampu terdiam bisu mendengar perkataan Naruto. Kebodohan dirinya satu persatu terungkap. Dirinya merasa bodoh, dan begitu buta akan Naruto. Banyak hal yang selama ini, telah salah ia percayai. Keraguan merasuk cepat pada dirinya ketika mendengar penjelasan terakhir Naruto. Keraguan akan kesungguhan ia mengenal Naruto. Keraguan akan obsesinya memiliki Naruto. Keraguan akan kesempurnaan yang melekat pada dirinya. Keraguan akan kebencian dan dendam yang selama ini bersemayam. Keraguan akan kesungguhan cintanya. Tidak Sasuke meyakini sepenuh hati dengan kesungguhan penuh bahwa dirinya mencintai Naruto, tidak ada keraguan.
KRING KRING KRING !
Suara bel sepeda tiba-tiba terdengar.
AWAAAAAAAS !
BRUAK !
Kiss
"Sweet", mata Sasuke terbelalak menerima situasi kilat barusan. Kehangatan terasa nyata menyapa bibir tipisnya. Kehangatan yang dengan cepat menjalar keseluruh tubuhnya, mengisi dinginnya ruang didalamnya. Kehangatan yang tidak mampu diberikan oleh alat secanggih apapun dimuka bumi. Sasuke terlalu syok menerima kehangatan tersebut sehingga dirinya sampai melupakan cara bernapas dengan benar. Waktu terasa berhenti seketika saat kehangatan merajai diri Sasuke. Kehangatan yang begitu memabukan raga dan sukma Sasuke. Kehangatana yang bertambah lengkap dengan kehadiran rasa yang telah hilang sejak tiga tahun lalu. Kemustahilan menjadi suatu kenyataan indah di depan Sasuke, ketika bibir ranum milik pemuda berkulit tan menyapa bibir tipis miliknya.
My Sweety Come Back
END
Kya kya kya... Senangnya hatiku dapat menamatkan cerita pertamaku ini. Gomen aku telat update. Semoga tidak mengecewakan yaa…
Bersedia review ? Suka, tidak suka, atau biasa aja silakan review :D
Buat semua pembaca, terima kasih banyak yaa..
Terutama yang sudah menyempatkan diri meriview, memfav, atau follow cerita ini.. hiks hiks #terharu
Kalian adalah semangatku !
