Halo~ Masih pada hidup? #YHA

Pertama, saya mohon maaf yang sebesar-besarnya, karena saya tidak update selama... Berapa bulan ya? Hahaha! Maaf ya, banyak tugas dan kegiatan yang harus saya lakukan di kampus. Ini juga sebenarnya pas libur setelah ujian akhir semester 3 sih, jadi ada kesempatan lanjut HAHAHHAHA. TAPI LIBURKU CUMA 2 MINGGU #TERUSNANGIS

Anyway, mungkin ada yang jadi maba yang baca fanfic ini?

Untuk maba-maba yang sedang membaca fanfic ini, selamat datang di dunia perkuliahan dan jangan kaget kalau... Yha. Gitu. #APAAN

Oke, saatnya balas review yang sudah kena sarang laba-laba~

Yukimura-kun

Zhao Yun: habis, rambutnya gitu...

Lei Bin: YHA AJA. SALAHKAN YANG BIKIN GUE JADI BEGINI.

terima kasih supportnya dan maaf kalau updatenya sangat sangat terlambat ya wwww

Rizki Slalu SayMawla749 wah makasih sudah baca fanfic ini~ XD cewek itu bakalan dibahas disini lebih detail (nggak detail-detail banget, sih tapi) dan... Mengingat Wen Yang yang tingginya kebangetan dan Xiahou Ba yang paling pendek, jadi... Gitu wwww~

Zhao Yun: hidupku aneh :(

Nga Zhao Yun, nga.

Btw thanks udah review~

Wwwww huwahahaha maafkan menunggu lama sekali ya~ sibuk soalnya e_e #yha dan setelah menulis Lei Bin yang begitu, aku juga jadi ngerasa kalau Lei Bin itu emang beneran gantiin posisinya Zhu Ran yang lagi jadi landak Eropa cabang Jerman #ditembakLeiBin #dipanahZhuRan Yaassh~ Lixia datang ugha~ Terima kasih sudah review dan jangan lupakan aqoe~ #peluk #ey #jijique

BlueskyFall jengjengjeng~ maaf menunggu lama ya wwww~ Lalu... LEI BINTI SYAIFUDIN?!

Lei Bin: Demi Dewa... :( *elus dada*

Xiahou Ba: TOLONG YA, TINGGINYA PADA KELAINAN SEMUA EMANG.

Huwaa~ makasih supportnya~ maafkan kalau updatenya telat banget huhu :") terima kasih sudah review dan support yaa~

Scarlet 'n Blossom THEN, SELAMAT DATANG DI HERE WE ARE~ Terima kasih sudah sempat mampir dan baca XD terimakaciw atas supportnya juga~ Here We Are emang cocok buat garukin perut kok, bahkan bisa bikin pinggang hilang~ Nggak nyesel deh baca ini XD #PROMOSIYHA

BlueAhoge yuhuu~

Zhao Yun: emang, cewek kayak Jiaoju itu ngeselin.

Xingcai: setuju.

Bai Jiaoju: YAELAH JAHAT SEMUA PADA HUEEH- *mengadu pada Jiang Wei yang cuma bisa diem*

anyway thanks for ripiww~ dan cewek misterius itu akan muncul disini~

DAN. Beberapa review sudah dijawab via PM ya wwww~

Oke, langsung saja ceritanya~


"Selamat sore juga, nona. Ada perlu apa dengan kami?"

"Boleh minta waktunya sebentar?"

Aku terus memperhatikan gadis aneh itu dengan mata menyipit, mewaspadai.

Apa yang diinginkan gadis ini?

Dari penampilannya, dia terlihat mencurigakan sekali…

Dan apa-apaan model rambutnya yang aneh itu?!

"Anu… Apakah kakak-kakak ini melihat…"

Melihat?

"Melihat anjing kecil putih lewat sini?"

"Huh? Anjing? Aku tidak melihatnya, tuh. Memangnya ada apa? Anjingmu hilang?" tanya Lei Bin dengan jelas.

Gadis itu hanya mengangguk sambil menggaruk kepalanya dan tertawa paksa.

Hari ini kenapa, sih…?

"Ohh, kalau begitu kami akan membantu mencari anjing itu untukmu, gimana? Mumpung kakak-kakak ini juga lagi nggak ada kerjaan~"

"EH?! LEI BIN, AKU ADA TUGA—"

"Nanti saja bisa, 'kan?" Lei Bin separuh berbisik kepadaku.

Aku hanya bisa menghela nafas dan meladeni apa yang Lei Bin mau untuk gadis rambut merah muda itu.

"Benarkah?! Kakak-kakak ini akan mencarikannya untukku?! Waah~ Terima kasih banyak! Oh, kalau boleh tahu, siapa nama kakak?"

"Aduh, jangan panggil kakak dong, haha. Berasa tua. Namaku Lei Bin, dia Zhao Yun. Kami teman satu universitas sekaligus teman kecil yang baru saja reunian."

"Ah, begitu rupanya. Kak Lei Bin dan Kak Zhao Yun, ya? Kalau begitu mohon bantuannya, kak!"

Pada akhirnya kami bertiga mencari anjing kecil berwarna putih yang sedang dicari oleh gadis merah muda itu. Kami mencarinya sepanjang jalan yang sudah kami lalui. Di dalam toko tidak ada, di sela-sela bangunan pun tidak ada, apalagi di tong sampah. Apa mungkin anjing itu sudah diambil orang juga kurang tau, karena orang-orang yang kami tanyai tidak mengetahui anjing yang kami cari. Apakah saking kecilnya dia sampai tidak ter-notice?

"Hei, nama anjingmu siapa? Mungkin dengan memanggil namanya, dia akan datang?"

"Uhh… R-Reika."

"Wah, nama yang bagus. Baiklah! Reika~ keluarlah~"

Lei Bin terhitung orang yang baik dengan orang-orang disekitarnya. Itu sudah terjadi sejak dulu, sih. Orang yang ramah, sopan, mudah bergaul, suka menolong, dan mungkin saja rajin menabung.

"Reeikaaa~" aku membantu Lei Bin berteriak memanggil nama anjing kecil itu.

"Reikaa! Dimana kamuu?"

Hari semakin gelap dan Reika belum juga ketemu.

Akhirnya kami memutuskan untuk beristirahat sejenak di sebuah café.

"Setelah ini kita akan mencarinya lagi, ya." ucap Lei Bin sambil menggigit perlahan kentang goreng yang ia pesan.

"Semoga saja ketemu, ya… Dia satu-satunya yang bisa kuajak main…"

"Lho? Memangnya kamu nggak main sama teman-temanmu? Sekolah atau kuliah, nih?"

Gadis itu hanya menjawab pertanyaan terakhir Lei Bin, "SMA."

"Wah, masa-masa menyenangkan lho! Jangan dibuang gitu aja, nanti nyesel pas udah kuliah, haha!"

Gadis itu hanya mengangguk perlahan.

"Hei," panggilku, "siapa namamu?"

Gadis itu menatapku dan tersenyum kecil, "namaku—"

"Ah, hei! Apakah itu anjing kecil putih yang kau maksud?!" Lei Bin tiba-tiba berteriak dan menunjuk ke luar.

Memang benar, seekor anjing berbulu lebat, kecil, dan berwarna putih itu sedang berjalan pelan sambil melihat kanan kirinya.

"R-REIKA!" gadis itu langsung berdiri dan berlari untuk mengejar anjing itu.

"H-Huwa! Tunggu! Siapa yang akan membayar ini semua?!"

"Lei Bin, kuserahkan padamu!" aku ikut mengejar gadis itu.

"EH?! APAAAA?!"

###

Memang benar, orang-orang sekeliling anjing itu tidak memperhatikan kehadiran anjing kecil itu. Kalau orang-orang memperhatikannya, mungkin saja anjing itu sudah dibawa oleh mereka-mereka yang sadar akan keberadaannya. Aku dan gadis itu terus berlari mengejar anjing yang tiba-tiba saja berlari kencang setelah melihat kami mengejarnya.

"Reikaa! Reika jangan lari!"

Kami mengejarnya sampai pada pinggir sungai. Lelah memang, tapi apa boleh buat, kami harus terus mengejar anjing itu dan segera mendapatkannya. Kalau tidak, mungkin…

Gadis itu akan sendirian.

"Ah, eh? Zhao Yun?"

"H-HA? LU XUN! TANGKAP ANJING ITU!"

Lu Xun, kebetulan muncul beberapa meter dari kami dan posisinya dekat dengan anjing itu. Mendengar teriakanku, Lu Xun langsung mencari keberadaan anjing itu. Tapi karena kecepatan anjing itu lebih cepat dari kemampuannya mencari keberadaannya, maka anjing itu lolos dari hadapan Lu Xun.

"KUBILANG TANGKAP—"

"A-A—B-BAIK!"

Gara-gara perkataanku, Lu Xun ikut mengejar anjing tadi. Setidaknya kecepatannya lebih cepat dariku. Kalau ada Zhu Ran sih, Zhu Ran pasti bisa cepat menangkap anjing itu.

Anjing itu berlari ke arah sungai. Kami benar-benar berlari di tepi sungai. Jarak sungai dengan kami hanya sekitar satu langkah.

"Lu Xun! Tangkap!"

"Huwawawa dapaaat!"

GRUSAK!

"Kaing!"

Pengejaran kami berakhir di tepi sungai ini.

Lu Xun berhasil mendapatkannya dan segera memeluknya agar tidak kabur lagi.

"Huft… Untung saja…"

"A-Apa-apaan Zhao Yun, kau berteriak tiba-tiba dan aku jadi bingung sekarang. Ada apa dengan anjing ini?"

"Reikaaa!"

Anjing itu melompat dari pelukan Lu Xun dan berlari senang ke arah gadis merah muda itu. Gadis itu mendekap anjingnya dengan erat. Bahkan sampai menitikkan air mata.

"Yah… Kami sedang banyak kejadian…"

"Eh? Huh?" Lu Xun masih tampak bingung.

"Oh iya, kamu ngapain ke Shu malam-malam begini?"

"O-Ohh… Aku habis beli perlengkapan kuliahku, kata temanku disini yang paling murah, jadi ya sudah… Mengingat keadaan dompet sedang kritis."

"Haha. Dasar…"

"A-A-Anu! Terima kasih, kak Zhao Yun dan… Umm…"

"Lu Xun."

"Ah! Terima kasih juga Kak Lu Xun! Aku senang Reika kembali!" gadis itu tersenyum puas.

"Lain kali awasi anjingmu, jangan sampai kabur lagi, oke?"

"Tentu saja! Ah… Kak Lei Bin gimana, ya…?"

Benar juga.

Kami meninggalkan Lei Bin di café.

"Yah… Itu—"

"OOOOYY! SUDAH KETEMUUU?" Lei Bin melambaikan tangannya sambil berlari mendekati kami.

"Sudah! Terima kasih banyak, Kak Lei Bin!"

"Waah~ Kalian cepat sekali larinya, aku sampai ketinggalan~ Huft… Lelah juga… Oh!"

"Baiklah, bolehkah kami pamit duluan? Aku ada tu—"

"Tunggu, Zhao Yun! Pemandangan di sungai ini bagus! Bagaimana kalau kita duduk-duduk dulu disini?"

"LEI BIN, KUMOHON, AKU ADA TU—"

"Dikerjakan nanti saja bisa, 'kan?"

Lei Bin mengajarkanku aliran sesatnya.

Tapi, dikarenakan deadline tugas masih lama sekali, jadi tidak ada salahnya bersantai satu hari ini.

Pada akhirnya, kami berempat ditambah Reika si anjing putih pun duduk-duduk di tepi sungai. Angin malam memang dingin, tapi tidak begitu terasa karena kami sibuk berbincang. Gadis merah muda itu sibuk bermain dengan anjingnya, sedangkan kami bertiga hanya duduk melingkar melihat gadis itu dan anjingnya.

"Hei, Zhao Yun. Siapa pria cantik ini?"

"A-Aku manly!"

"Lei Bin, kau tidak ingat pria cantik komplotan kita waktu kecil?"

Lei Bin terdiam, kemudian menatap Lu Xun bingung.

"Ahh… Aku malah ingat kamu, Lei Bin. Lama tidak jumpa. Mungkin sudah lebih lama dari terakhir kalian berdua bertemu…"

"H-HAH. JADI. ITU. KAMU."

Lu Xun tersenyum kecil dan mengangguk.

"MAAF, AKU INGATNYA KAMU SEBAGAI CEWEK."

"HUE—"

"Kejam sekali kau, Lei Bin. Lihat, dia nangis, tuh!"

"EEHH—MAAF, SERIUSAN!"

Aku tertawa melihat tingkat mereka berdua.

Takdir memang membawaku untuk bertemu kembali dengan teman-teman lamaku.

"Huaah~ Anginnya sejuk, ya!" Lei Bin berbaring di rerumputan.

"E? Ini bukan sejuk lagi, ini dingin!" ucapku yang mulai kedinginan.

"Oh, iya! Hei, gadis rambut merah muda, siapa namamu?"

Gadis itu menengok sambil membelai anjingnya, "Panggil saja Lixia."

###

Aku menghela nafas sambil menata kembali buku-bukuku yang berserakan di meja perpustakaan kampus. Gara-gara kejadian kemarin, aku mendadak sedikit kena flu.

"H-HUASYIM! Ugh, pokoknya ini semua salah Lei Bin…" kataku pelan.

Setelah menata buku-bukuku dan mengembalikan buku yang semula kupinjam, aku keluar dari perpustakaan dan melihat sesosok yang baru saja kemarin kutemui.

Lixia.

"Selamat siang, Zhao Yun."

"Siang, tumben nggak pakai embel-embel kak?"

"Lei Bin bilang panggilnya tanpa embel-embel lebih baik, benar begitu?"

"Sejujurnya itu kurang sopan, tapi karena aku tidak terlalu memikirkan siapa yang lebih tua jadi tidak masalah. Ada apa datang ke Universitas Shu?"

"Aku hanya ingin menemuimu dan mengucapkan terima kasih karena telah menolongku. Sebagai ucapan terima kasihku, aku akan membantumu dalam hal apapun."

"He? Sebenarnya tidak perlu sampai segitunya, Lixia."

"Tapi kata Lei Bin, akan lebih baik kalau melakukan balas budi."

Selamat, kamu kena aliran sesat Lei Bin.

"Jangan dengarkan Lei Bin. Jadi, apa yang akan kamu lakukan?"

"Membalas budi."

"Nggak perlu. Aku ikhlas kemarin."

Lixia terus menatapku dengan tatapan polosnya.

"HUASYIM!"

"Oh? Zhao Yun sedang flu, aku harus membeli obat—"

"T-Tunggu dulu! Kau bukan ibuku—HUASYIM!"

"Ini pasti salahku. Ayo ikut denganku!" Lixia langsung menarik lenganku.

Ini pasti gara-gara aliran sesatnya Lei Bin.

Poof!

Benar-benar dibelikan obat flu dalam jumlah yang lumayan banyak, atau bisa dibilang kebanyakan.

"Err… Banyak banget tapi… Makasih."

"Sama-sama, Zhao Yun. Kalau kau membutuhkan sesuatu, aku akan menolongmu."

"S-Sudah cukup balas budinya ini saja—"

"Tapi, kata Lei Bi—"

"SUDAH KUBILANG JANGAN DENGARKAN LEI BI—HUASYIM!"

"Halo, halo! Kalian sedang apa di toko obat?"

Orangnya datang…

"Ah, selamat siang, Lei Bin."

"Oh! Ada Lixia rupanya! Hei, Zhao Yun. Ada apa kamu bersin-bersin begitu?"

"Ini semua karena aliran sesatmu—HUASYIM!"

Bersin tidak lazim, biasanya aku akan bersin dengan bunyi 'AHCHOO', kenapa jadi 'HUASYIM'…?

"Ahahaha! Oh iya, Lixia nggak sekolah?"

"Sedang libur karena guru ada acara. Oh, sudah saatnya aku memberi makan Reika. Kalau begitu, sampai jumpa!"

Lixia berlari kecil meninggalkan kedua lelaki Shu itu.

"Wah, wah… Lixia polos juga, ya…"

"Lei Bin, hentikan ajaran sesatmu…"

"Eeh? Aku hanya sedang mengamati manusia, kok."

"Apa-apaan hobimu itu—HUASYIM!"

"Sudahlah, Zhao Yun. Kita harus cari tempat yang bisa membuatmu nyaman."

"Kalau begitu, temani aku berkunjung ke suatu tempat. Itu bisa membuatku nyaman."

Akhirnya kami memutuskan untuk pergi ke…

Café Sun.

"Selamat datang~ OH! ZHAO YUN! LAMA TAK JUMPA!" seperti biasa, Sun Ce terlihat girang.

"Ah, iya. Aku pesan seperti biasanya, ya."

"Siap! Hmm? Sepertinya kau sedang tak sehat?"

"Err… Yah, ini karena ajaran sesat."

"Eh?"

"Sudahlah, lupakan itu, Sun Ce."

"Ah, kalau begitu, pilihlah tempat yang paling nyaman bagimu dan temanmu itu~ Salam kenal, aku Sun Ce, pemilik café ini~"

"Oh, senang bisa mengenal Anda. Saya Lei Bin, teman satu universitasnya Zhao Yun."

"Ooo~ Anak Univ Shu ternyata! Kalau begitu, duduklah dahulu, nanti biar aku antar pesanan kalian~"

Kami berdua memutuskan untuk duduk di tempat biasa dimana aku, Zhu Ran, Lu Xun, dan Xingcai sering nongkrong.

Ah… Aku rindu masa-masa itu…

"Hei, Zhao Yun. Bagaimana kamu bisa mengenal orang-orang Wu ini?"

"Hmm? Tentu saja dari Lu Xun."

"Oh, begitu. Kurasa kau mendapat banyak teman, ya! Aku jadi iri~"

"Kenapa harus iri…? Hal itu terjadi begitu saja, mungkin karena teman mainku Lu Xun dan Zhu Ran yang dari Wu."

"Eh? Ada satu lagi?"

"Iya, dia di Jerman sekarang."

"Waah… Teman-temanmu luar biasa, Zhao Yun!"

"Ya. Mereka sangat baik dan luar biasa…"

Lei Bin menatapku, kemudian menepuk pundakku, "Hei, jangan murung begitu, dong! Toh kamu masih bisa bertemu dengan Lu Xun dan sekarang kau bisa bertemu denganku!"

"Ogah sama maniak sejarah, kerjaannya bikin orang sesat."

"Eeeh?! Apa salahku?!"

Kami berdua tertawa, suasana normal kembali.

"Pesanan datang!"

"Huh? Sun Quan? Kukira Sun Ce yang akan mengantarkannya."

"Haah… Kakak terlalu sibuk. Jadi, kamu sedang tidak sibuk hari ini?"

"Ya, begitulah. Kamu sendiri?"

"Sama denganmu kalau begitu. Kalau ada apa-apa, panggil saja ya, aku akan melayani yang lainnya dulu. Oh, salam kenal, namaku Sun Quan, adik dari Sun Ce."

"S-Salam kenal juga, saya Lei Bin teman kecil Zhao Yun."

"Seharusnya kau menambahkan nama Lu Xun juga. Mereka semua mengenal Lu Xun dengan sangat baik, karena Lu Xun bekerja di café ini."

"EEH?! GITU?!"

"Haha."

Kami mengobrol cukup lama di café. Menceritakan lebih detail bagaimana kehidupan SMA dan bagaimana kehidupan perkuliahanku. Aku menceritakan bagaimana kepala sekolah SMA Shu, Tuan Liu Bei yang sangat dipercayai oleh murid-muridnya, begitu juga degan Tuan Zhuge Liang. Bahkan aku menceritakan kegiatan outbond yang dulu kami lakukan sebelum pengumuman kelulusan.

"Menarik sekali! Aku tidak punya pengalaman semenyenangkan itu, sih! Kau sangat beruntung, Zhao Yun!"

"Ya, tapi itu membuatku sedih sekarang…"

"Tenang saja, kamu masih bisa melakukan kontak dengan mereka, bukan? Kapan-kapan kenalkan aku kepada Tuan Liu Bei, dong!"

"Hahaha, iya deh. Ngomong-ngomong, bagaimana kehidupan SMA-mu?"

Mendengar pertanyaanku, Lei Bin terdiam, tersenyum tipis.

"Tidak semenarik ceritamu. Aku justru tidak punya teman di SMA."

Bagaimana mungkin?

Lei Bin yang selalu bersemangat dan ramah kepada siapa saja tidak punya teman?

"Yah, mungkin karena keanehanku yang tertarik pada hal-hal yang berbau sejarah kuno… Mereka menganggapku orang yang aneh. Selalu tertarik pada buku-buku sejarah. Untuk ukuran anak SMA, itu agak aneh, 'kan?"

"Tidak juga. Masih mending kamu suka sejarah, daripada suka sama api."

"He?"

"Tidak apa-apa, lanjutkan, aku akan mendengarkannya."

"Yah… Pokoknya kehidupan SMA-ku benar-benar hitam putih. Tapi tenang saja, sejak bertemu denganmu, aku jadi lebih bersemangat dari biasanya!"

"Iya, sampai-sampai aliran sesatmu juga menyebar."

"I-Itu nggak sesat, Yun!"

"Terserah apa katamu."

Drrrt! Drrrt!

Lei Bin mengambil handphone-nya yang bergetar.

Sepertinya ada yang menelepon.

"Halo? Lei Bin disini. Oh, pak dosen. Maaf, ada apa ya?"

Wow, dari dosennya.

"Hmm… Hanya saya sendiri, pak? Boleh tidak saya mengajak teman?"

Firasatku buruk.

"Ah, terima kasih pak."

PIP

"Hei, Zhao Yun—"

"Tidak terima kasih, aku sibuk."

"TUNGGU DULU, ZHAO YUN! KUMOHON BANTU AKU—Aku disuruh melakukan kunjungan ke museum dan aku tidak punya teman—"

"Bodo amat, sana lakukan sendiri."

"EEEH?! Ayolah Zhao Yun—Temani aku—Nanti aku akan balas budi"

"Nggak butuh."

"EEEH?! Zhao Yun—"

"Bye. Aku sibuk." Aku beranjak dari kursiku.

"E? EEEH?! Kau mau meninggalkanku di Wu?! Aku nggak tahu apa-apa soal Wu! Tunggu aku! Hei, Zhao Yun!"


BHAAAK~ Jujur aja, pas awal belum keluar gamenya, saya sempat bingung Lei Bin itu orang yang kayak gimana, untungnya nggak OOC setelah liat cutscene yang udah sempat beredar di Utub (walaupun dalam bahasa jepang, setidaknya saya ngerti dikit-dikit hehe) dan si Mz Ibin ternyata keren juga wwwww~

Lei Bin: SIAPA MZ IBIN?!

Oke, next chapter? Ditunggu aja ya~ Tidak bisa tebar janji hohoho~ Dalam liburan 2 minggu ini saya bisa ngetik berapa saya pun tak tahu~ (karena pekerjaan rumah lainnya harus dikerjakan juga, dan tentu saja... hangout tjoey~) #PLAK oh, yang anak jogja bisa lho ketemuan HAHAHAHA #digebukin

Sip, sampai jumpa di chapter depan~ review kalian akan sangat mendukung Author~ ;3