Title: Black Honey

Summary: "Dan sebagai penutup malam ini, kami persembahkan satu-satunya Black Honey!" seru si pria berambut merah. Tirai terbuka lalu dari belakang panggung muncul seorang pria berkulit pucat dalam balutan baju serba hitam yang sebentar lagi akan dia tanggalkan. Dan napas Aster tercekat.

Pairing: Rotten Egg

Rate: T dan kayaknya bakal naik.

Disclaimer: Bukan yang saia~!

Bacotan: Kuliah itu sebenernya menyenangkan. Kalo ga ada orangtua yang maksain saia harus masuk mana, harus milih apa, apa aja yang ga boleh dipilih, dan nolak mentah-mentah jurusan yang saia pilih. Curse it. Maksudnya, iya, saia sayang orangtua saia, tapi kan bukan berarti saia harus buang jauh-jauh cita-cita saia cuman karena saia pengen bikin mereka bangga. Itu mah namanya ngorbanin diri.

Huff… maaf malah jadi curhat, tapi saia lagi sebel banget.

Mudah-mudahan aja suasana negatifnya ga ketumpahan ke chappie ini.

Enjoy~!


"Ada yang bisa kubantu?" tanya seorang wanita sambil melingkarkan lengannya yang langsing ke lehernya. Dia agak kelabakan ketika mencoba melepaskan dirinya dari wanita itu.

"Ah… ya, se-sepertinya… aku, ah… kunci mobilku jatuh…"

Wanita itu sedikit memanyunkan bibirnya. "Kau akan susah mencarinya disini~," balasnya dengan suara manja yang dibuat-buat.

"Tidak, kurasa aku menjatuhkannya di ruangan… uh… ruangan…"

"Oh, benar! Iya, aku tahu kau! Kau Ast—!"

"Shh!"

Wanita itu diam, lalu tersenyum. "Kalau begitu, kau bisa ambil ke loket disana," ujar wanita itu sambil menunjuk loket kecil di samping bar minuman. "Tinggal bilang saja barang yang hilangkan, biasanya mereka menaruhnya disitu setelah membersihkan ruangan."

"Uh, ya… terima kasih."

"Kau yakin tidak mau aku menemanimu?" wanita itu menggodanya lagi.

"Ti-tidak… aku harus pulang sekarang…"

"Sayang sekali…"


Dia mengangguk kecil pada penjaga pintu yang membukakan pintu untuknya. Udaranya dingin, pikirnya sambil merapatkan tubuhnya. Mantel hitamnya tidak bisa benar-benar menjaganya dari dingin, walaupun sudah dibantu sarung tangan dan juga syal. Dia ingin sekali sampai ke rumahya sekarang dan berglung dalam selimutnya yang tebal, atau duduk di dapur dengan segelas kopi hitam panas di tangannya sambil tetap bergelung dalam selimut.

Udara dingin menerpanya lagi.

Pulang selalu menjadi tantangan tersendiri baginya. Memang belum pernah—dan mudah-mudahan tidak akan—terjadi hal-hal aneh selama berapa tahun dia bekerja disini. Tapi lampu jalan yang agak remang dan gang-gang yang gelap selalu berhasil membuatnya nyaris melompat ketakutan. Tidak pernah ada yang tahu kapan bahaya mengintai, kan?

Dia berjalan lagi sambil berusaha untuk tidak melihat gang-gang sepi yang gelap di sampingnya. Apa sih susahnya memasang lampu disana? Bagaimana kalau ada pembunuh yang sembunyi? Kalau ada kriminal yang lari? Ada pemerkosa? Ada—

Ugh… dia benar harus berhenti berpikir yang seperti itu atau dia akan mati ketakutan hanya karena memikirkannya.

Srreett…

Terdengar bunyi sesuatu bergeser.

BRAK!

Suara itu berhasil membuatnya melompat kaget dan ketakutan.

"Meow…"

Oh, hanya seekor kucing…

Tiba-tiba ada bayangan hitam lewat di sampingnya dan dia langsung berpaling untuk melihat bahwa ada seekor kucing lagi yang lewat. Sejak kapan sih, dia paranoid begini?

Kedua kucing hitam itu bersandar pada kakinya, dan dia berjongkok untuk mengelus keduanya.

Sebuah angin dingin lagi.

Cukup dengan main kucing, putusnya, dia harus benar-benar pulang sebelum dia beku disini. Dia berdiri perlahan sambil sesekali menglus kepala kucing-kucin gyang masih meminta perhatiannya itu.

Tap tap tap…

Langkah orang.

Berjalan sekarang, perintahnya pada kakinya sendiri.

Tap… tap… tap…

Semakin pelan.

Tap… TAP…

Semakin dekat…

DRAP DRAP!

Dia dikejar!

Dua tangan menangkapnya dan membungkam mulutnya dengan kasar. Tidak.

Tidak.

Tidak!

TIDAK!

"Hai, Honey," sapa orang itu, diikuti oleh tawa.


Aster memandang kuncinya. Hebat. Kenapa dia bisa sampai tidak sadar ya? Suara kecil di belakang kepalanya mnyangkal itu karena penampilan pria pucat tadi.

Dan suara kecil lain lagi sangat membenarkan bahwa dia terpana oleh pria itu.

Penampilannya, maksudnya, bukan prianya, uh… baiklah, dia mulai menggila.

Dia melangkah perlahan sambil memperhatikan gang-gang gelap di sekitarnya. Gelap dan menakutkan. Bukan tidak mungkin kalau tiba-tiba saja ada seseorang yang keluar dari salah satu gang, memakai jas hitam panjang, muka tertutup syal, dengan topi, sambil memegang pisau yang berdarah.

Ugh, mungkin kalau dia diam lama-lama disini, dia bisa alih profesi menjadi penulis buku horror suspense. Gang-gang gelap itu benar-benar membangkitkan imajinasi terburuknya.

Ah, dia sampai di parkiran. Tidak terasa.


Tawa itu terus berlanjut, tangan dimulutnya menjauh.

"Reed!"

"Kau harus lihat wajahmu!" ujar Reed sambil masih terus tertawa. Dia lepaskan tangan si pria berambut hitam yang masih memandangnya dengan takut seakan-akan dia bukan Reed yang asli dan kapan saja bisa berubah bentuk menjadi alien atau semacam pembunuh berantai yang pintah megubah wajah.

"Aku nyaris jantungan…" akhirnya hanya itu yang bisa dia katakan.

"Haha… maaf, Honey, tapi kau memang cocok sekaili untuk kutakuti," jawab Reed sambil mengekor si penari erotis yang mulai berjalan lagi.

"Kau tidak menunggu Starla?" tanyanya sambil memandang ke arah pria berambut merah yang tampaknya masih berada di awang-awang karena baru saja berhasil menakuti orang yang, menurut mereka, paling tidak bisa ditakuti.

"Dia tidak akan mau melihat mukaku, percayalah."

"Oh ya?"

"M-hm. Terakhir kali aku mencoba bicara dengannya, dia melempar sebotol bir ke kepalaku. Ah… aku rasanya ingin jadi gay saja. Aku yakin aku akan lebih tenang kalau menikah dengan laki-laki."

Dia tertawa. "Kau tidak usah pura-pura mau jadi gay segala, Reed."

"Aku tidak pura-pura. Makanya aku mendekatimu."

Dia menggeleng. Tentu saja.

"Benar-benar tidak bisa, ya?"

"Yup."

Reed mengangkat alisnya. "Setidaknya aku sudah mencoba," ujarnya sambil memasukkan tangannya ke dalam kantong jaketnya.

"Kau baikan saja dengannya. Aku yakin dia pasti akan berhenti bekerja di klab kalau kau melakukan itu."

"Tidak, Honey. Aku yakin dia tidak akan mau. Maksudku… aku ini apaan, sih? Baru akhir-akhir ini saja aku mendapat penghasilan tetap yang cukup. Sebelumnya? Aku pengangguran. Lalu… kalau dibandingkan dengan pelanggan-pelanggannya, aku ini hanya seperti salad pembuka saja."

"Kurasa dia bukan mau uangmu."

"Hahah… aku selalu berharap seperti itu dulu ketika kami menikah. Lagipula, dia pantas mendapat orang yang lebih baik dariku."

"Dan para pelanggannya lebih baik darimu?"

Pria berambut merah itu terdiam. "Tidak?"

"Pokoknya, kau harus baikan dengannya dalam waktu dekat. Aku tidak tahu ini bisa meyakinkanmu atau tidak, tapi kurasa kau berhak tahu bahwa dia akhir-akhir ini selau memandangku cemburu karena kau sering dekat denganku."

Sebuah tawa lagi, kali ini terdengar lega. "Kau tahu? Kurasa tempatmu seharusnya bukan disini, Honey. Mungkin kau harus jadi guru atau apalah… psikiater mungkin?"

Dia tertawa kecil. "Yah… aku juga merasa begitu."

Untungnya Reed tidak melihat wajahnya yang langsung masam.


Apartemennya yang besar itu nyaris selalu kosong. Selalu dalam artian sebenarnya. Orang yang paling sering berada di apartemennya selain dirinya sendiri adalah Jack. Itu pun setelah pemuda satu itu merengek ingin masuk.

Dia lebih memilih untuk mengunjungi Jack daripada membiarkan temannya itu mengunjunginya. Kalau membuat pesta, dia lebih senang menyewa tempat lain. Untuk kumpul-kumpul, dia memilih restoran. Untuk janjian dengan pacar (yang sudah putus), produsernya, atau managernya, dia selalu memilih kafe. Jadi, apartemennya nyaris tidak pernah dikunjungi siapapun. Dan memang dia tidak berniat untuk membiarkan siapapun masuk (kecuali Jack, tentunya).

Tapi tampaknya tadi tukang pos mengunjunginya. Tiga surat mengisi kotak suratnya yang biasanya kosong karena surat fans dikirimkan ke agensi dan bukan ke rumahnya itu. Satu dari agensi, satu undangan pesta, satu lagi… oh, dari adiknya.

Dengan segera dia masuk ke dalam rumahnya dan duduk di atas sofanya yang empuk dan nyaman. Dia buka amplop berwarna merah muda itu, menguar wangi bunga primrose kesukaan adiknya. Ada selembar kertas dan sebuah bungkusan plastik kecil.

Dia buka kertas itu dan mulai membaca.

Isinya;

Asty! Kau sudah kangen padaku? Haha… sudah kan? Ayo, mengaku saja. :D

Aku hanya ingin memberi kabar sedikit dari Australia, langsung dari Melbourne. Daffodil yang tahun lalu kau tanam denganku tumbuh dengan baik loh! Mereka sudah mekar dan halaman kita seperti dilapisi salju (di Amerika sedang musim salju, ya? Irinya…). Ayo puji aku, aku adik yang baik kan? ;)

Oh, ya. Selamat ulang tahun, Aster~! Hadiah dariku… bibit bunga saja ya? Aku tidak tahu mau mengirimkanmu apa. Kanvas dan cat minyak bakalan buang-buang biaya pengiriman. :T

Tidak, aku main-main. Aku main-main! Jangan marah! Tidaaaaaakkk! QAQ

Love,
Kau tidak lupa pada nama adikmu sendiri, kan? :P

Hehe, main-main. Jangan cemberut. Jangan. Tidak! Jangan cemberut! QAQ

Love,
Toothy~

P.S.: Kami kangen padamu.

P.S. 2: Kapan kau kesini lagi?

P.S. 3: Aku akan kesana untuk kuliah! Pa dan Ma sudah mengijinkan~! XD

P.S. 4: Kau sebaiknya sediakan kamar terbaik untukku, ahaha~!

P.S. 5: Kau pasti sedang bertanya-tanya untuk apa begitu banyak PS, kan?

P.S. 6: Jawabannya; karena aku mau dan aku bisa~! :D Ugh, Baby Tooth ingin bertemu denganmu!

Dia tertawa melihat surat itu.

Adiknya… sudah lama sejak terakhir kali dia melihat adiknya. Terakhir kali dia menelponnya… itu juga sudah lama sekali, mengingat perbedaan waktu yang benar-benar bagaikan setan disini. Tooth akan datang? Itu benar-benar akan sangat menyenangkan. Dia benar-benar butuh penygar disini.


End of Chapter 3


Fuha~! Saia paling seneng sama bagian nulis surat dari Toothy~! XD

Dan, iya, saia tahu, Tooth itu harusnya orang India, tapi… ya, biarin aja, kali ya? Saia pengen dia jadi adeknya Aster karena jujur, saia ga tau siapa yang harus jadi adeknya (dan saia lagi ga mood bikin OC baru).

Hehe… ada yang bersedia ripiu? :D

Love and hyggeligt~!
Shirasaka Konoe