Author : Hunhun

Title : Tainted Love

Genre : Hurt, Comfort, Friendship

Length : Chapter

Main Cast : NamJin

Support Cast : All member BTS / Bangtan boys

.

.

NB : This story is mine and all cast belongs

to their parents & the company

.

.

Namjoon's POV

Aku mengejar Suga hyung yang sudah berjalan jauh, "Suga hyung." Panggilku ketika berhasil menahan pundaknya untuk berhenti. Suga hyung pun membalikkan tubuhnya dan menatapku, "Loh Namjoon, kau mengejarku?" Tanyanya. Kuatur nafasku yang tersenggal-senggal sehabis mengejarnya, "Eoh." Balasku singkat. "Hyung, kau sekarang mau ke tempatmu praktek bukan?" Tanyaku tanpa basa-basi. Ia menganggukkan kepalanya, "Ada apa?" Tanyanya balik.

"Aku antar hyung sampai sana." Ucapku. Ia menatapku heran, "Hah? Tumben sekali, kamu tidak sedang ada maunya bukan?" Tanyanya yang tak percaya dengan ucapanku. Sejujurnya sih ada, tapi bukan dengannya. Kutepuk pundaknya sekali, "Tenang hyung tak ada embel-embel dibelakang kok." Jelasku.

"Oh, terserah kau saja. Asal kamu mengantarkanku sampai disana dengan selamat."

"Tidak usah khawatir, hyung-kan punya sembilan nyawa. Jika hilang satu tinggal delapan, ayo hyung." Candaku yang langsung berjalan duluan sebelum kepalaku dijitak olehnya. "Yak, neo! Sembarangan kau bicara." Serunya lalu mengejar langkahku, hingga kami sampai dipakiran dimana motorku berada. Setelahnya, aku pun menyalakan mesin lalu melajukan motorku ketempatnya bekerja. Tujuanku yang sesungguhnya adalah ingin mencarinya kembali, bila kali ini aku tidak menemukannya diriku akan menyerah.

"Namjoon."

"Hem.."

"Apa tujuanmu ketempatku bekerja?"

"Tidak ada, hanya ingin kesana saja."

"Iya kah hanya itu? Bukankah kau paling anti masuk kedalam rumah sakit." Ucapan Suga hyung tepat sasaran. Iya sih, aku memang paling anti masuk kesana. Tapi entah dorongan apa hingga aku ingin kesana. Ini pasti karena namja itu, aku bisa gila lama-lama. "Eh? Oh hyung, kita sudah sampai." Ucapku yang berusaha mengahlikan topic pembicaraan, please untuk saat ini jangan bertanya apapun dulu hyung.

"Ck, sesuka hatimu saja." Ucapnya, Aku bernafas lega. Ia pun turun dari atas jog motorku, begitu juga denganku. "Namjoon-ah, kuberitahu satu hal. Jangan membuat keributan apapun disini, ingat itu." Ucapnya dengan nada datarnya. Kuputar mataku dengan malas, "Siap hyung. Ish, aku juga bukan tidak ada kerjaan." Seruku. Ia berdehem panjang lalu melangkahkan kakinya lebih dulu, "Hyung." Panggilku.

Ia pun berhenti sesaat namun tanpa melihat kearahku, "Wae?" balasnya.

"Benarkah ini tujuan hidupmu? Apa hyung yakin dengan langkahmu? Bukankah kita membenci hal yang sama."

Ia terdiam cukup lama, "Liat saja nanti kedepannya. Aku tidak tahu." Kalimat terakhir yang diucapkannya sebelum akhirnya meninggalku disini. Aku mengehelakan nafasku panjang dan mulai menjalankan maksud tujuanku kesini. Kulangkahkan kakiku dengan santai, agar tidak terlalu terlihat bila aku sedang mencari seseorang disini. Dari ujung ke ujung, sudut ke sudut, bahkan setiap tempat yang dapat kumasuki pun tak menemukannya. Langkah kakiku berhenti ditempat terakhir dari gedung ini, sebuah taman yang tidak terlalu luas. Aku pun memutuskan untuk duduk dibangku taman ini. Kuhelakan nafasku, bingung harus mencarinya kemana lagi? Sebenarnya aku tidak mengerti denganku sendiri. Kenapa aku begitu ingin bertemu dengannya lagi? Seberapa pentingnya dia? Apa aku pernah mengenalnya? Yang benar saja, itu tidak mungkin. Jika aku mengenalnya, sudah pasti kutemui dia dari dulu. Kau bodoh, "Arrghhh…. I'm going crazy." Erangku frustasi sambil mengacak-ngacak rambutku hingga berantakkan.

Disaat kefrustasianku memuncak, sudut mataku menangkap sebuah objek yang tak asing. Kuhentikan aksiku mengacak rambutku dan mulai mempertajam penglihatanku. Aku melihat seseorang berjalan santai di ujung jalan sana, diriku yakin jika orang tersebut adalah dirinya. Aku pun beranjak dari tempatku duduk, lalu mengejar langkahnya. Tepat beberapa puluh centi dibelakannya, kupelankan langkahku. Aku tidak langsung menghentikannya, diriku masih berpikir bagaimana cara memanggilnya. Jelas aku saja tidak mengenalnya, dan apa ia masih mengingat diriku? Ck. Diriku terus memikirkan caranya dengan kakiku yang masih melangkah. "Auu.." seruku yang tanpa sadar menabrak sesuatu didepanku. Kuangkatkan kepalaku yang sedari tadi melihat kebawah. "Ck, pohon sialan." Seruku sembari mengusap-ngusap kepalaku yang terbentur batang pohon tadi.

"Hahaha… itu salahmu sendiri, siapa suruh tidak memperhatikan jalan dengan benar." Tiba-tiba saja kudengar suaranya. Kupalingkan wajahku kesamping, dan yang kudapati dirinya tengah menertawakanku sembari menyederkan tubuhnya di batang pohon lain. Kutatap wajahnya dengan kesal, "Aku juga tidak tahu bila ada pohon didepanku." Belaku. Ia mendekatiku hingga tepat di depanku. "Kamu itu sungguh tidak pandai menguntit orang." Ucapnya, "Bahkan aku saja tahu tanpa perlu melihatmu." Ucapnya lagi.

Keningku berkerut, "Mwo? Bagaimana kau tahu aku mengikutimu dari belakang?" Tanyaku yang tanpa sadar keluar begitu saja. "Eh, bukan itu maksudku.. hemm.. itu itu ahh.." Ucapku yang sudah tidak tahu harus melanjutkan kalimat seperti apa lagi. Dirinya lagi-lagi menertawakan tingkahku yang pasti terlihat bodoh. "Heishh… terus saja kau tertawa sampai puas." Seruku sambil memiringkan bibirku dengan kesal.

Ia mencoba menahan tawanya yang kutahu tidak semudah itu. Lihat saja, ia bahkan sampai mengeluarkan air mata saat tertawa. Bila dilihat-lihat, dirinya manis juga. Mwo-ya? Kau barusan berkata apa hah? Manis? Ya ampun Kim Namjoon, dirimu pasti sudah gila. Kupukul kepalaku yang beberapa menit lalu telah terbentur hingga aku merintih kesakitan.

"Hei, untuk apa kau memukul kepalamu?" Tanyanya padaku yang jemari tangannya sudah menyentuh kepalaku. Dielusnya lembut sampai aku tidak bisa berkata apa-apa, diriku terdiam. "Pasti sakit tadi." Ucapnya lagi. Jemari tangannya sungguh lembut ketika menerpa kulit kepalaku. Ada apa ini? Aku belum pernah merasa senyaman ini. Terakhir kali aku merasakan hal ini semasa kukecil dulu, ketika ibuku mengelus kepalaku dengan sayang. Kudengar ia terkekeh, "Cepat sembuh." Serunya yang menghentikan jemari tangannya. Kukerjap mataku kemudian menatap wajahnya, Dirinya melihatku sembari tersenyum tipis.

"Apa kau masih lama disini?" Tanyanya.

"Sepertinya begitu."

"Jadi, apa kau mau menemaniku berjalan disekitar tempat ini sebentar saja?" Pintanya, aku hanya menganggukkan kepalaku tanda setuju. Kami pun berjalan bersebelahan menyusuri taman ini. Sudah beberapa menit berlalu, kami berdua tidak berbicara lagi. Aku bingung mau memulai dari mana, padahal diriku bukan typical namja pendiam. Diriku cukup easy going, tapi saat berhadapan dengannya aku jadi tidak bisa berkata apa-apa. Sampai akhirnya ia memutuskan untuk duduk dibangku taman yang sebelumnya telah kududuki.

Kuperhatikan wajahnya yang terlihat lelah dan sedikit pucat, apa ia sedang sakit? Sepertinya. "Kau baik-baik saja?" Tanyaku, "Apa perlu kubelikan air mineral untukmu? Aku akan membelikannya untukmu." Tawarku. Ia menahan tanganku saat aku bangkit berdiri, "Tidak perlu. Aku baik-baik saja, hanya sedikit lelah." Tolaknya halus.

"Benar kau baik-baik saja?"

"Hem.. sungguh."

"Oh, baiklah jika seperti itu." Ucapku yang kembali ke posisi duduk disebelahnya. Kulihat ia masih memegang tanganku, dan telapak tangannya terasa dingin. Benarkah dirinya baik-baik saja? Aku memegang tangannya yang mencoba memberikan sedikit kehangatan padanya. Untung saja ia tak menolaknya. "Sudah lebih baik?" Tanyaku, dirinya tersenyum tipis sembari melepas pelan genggaman tanganku. "Lebih baik." Ucapnya singkat.

"Syukurlah."

"Terima kasih."

"Untuk apa?" tanyaku. Ia memiringkan wajahnya, "Terima kasih karena kamu mau menemaniku tadi dan juga sudah peduli denganku. Thanks." Ucapnya. Diriku tersenyum, "Thanks juga karena telah berhasil menyadarkanku dari penipuan diri." Balasku. Senyumannya mengembang hingga terlihat sangat manis, sungguh aku tidak paham lagi.

"Oh ya, sudah waktunya aku kembali." Ucapnya yang langsung bangkit berdiri.

Aku tanpa sadar menahan langkahnya. "Tunggu." Seruku, ia pun berbalik menatapku. Aku segera bangkit berdiri kesampingnya, "Kita tidak saling kenal sebelumnya. You can call me Namjoon." Ucapku sembari memperkenalkan diri. "Boleh aku tahu namamu?" Tanyaku, Dia melepaskan genggaman tanganku. "Seokjin, Annyeong." Pamitnya yang pergi begitu saja tanpa sempat diriku membalas ucapannya. "Bisakah kita bertemu lagi? Jika iya, aku tunggu besok jam 2 siang ditaman kota dekat jalan Y. Aku menunggunya." Seruku. Entah ia mendengarnya atau tidak, kuharap dirinya dengar ucapanku.

.

.

To Be Continued

Don't forget to comment and review :)