Bagian III: Biru Abu
Berita pagi menginformasikan tentang badai yang akan terjadi saat malam nanti. Seoul berada pada suhu 7°C ketika salju pertama turun hari itu.
Chanyeol telah bersiap ke kantor bersamaan dengan Baekhyun yang mengeluh sakit dan mencengkram perutnya dengan erat.
"Sepertinya aku akan melahirkan sekarang." Baekhyun berbisik nyaris tanpa suara dan Chanyeol seketika melupakan seluruh pekerjaannya.
Tas berisi perlengkapan bersalin Baekhyun, pria tinggi itu tenteng dan dengan hati-hati memapah Baekhyun menuruni tangga.
"Ayo Jack." Chanyeol berkata pada anak pertamanya untuk ikut. Jackson menurut dan melompat menuruni tangga lalu menempatkan dirinya duduk pada jok belakang mobil.
Ringisan Baekhyun menarik perhatian bocah berusia 3 tahun itu dan bertanya apa yang terjadi pada Papanya.
Baekhyun tak mampu menjawab, menggigit bibirnya kuat sampai lunak bibirnya nyaris sobek oleh giginya sendiri.
"Papa Papa..." Jackson memanggilnya berulang.
"Papa baik-baik saja," Chanyeol menjawab setelah menutup pintu kemudi dan memasang sabuk pengaman. Ia mengenggam tangan Baekhyun erat dan menoleh pada anak pertamanya. "Papa akan melahirkan adik bayi, tetap tenang dan jangan menangis, oke?"
"Adik bayi akan lahir?" Tanya Jackson. Wajahnya diliputi biru tiba-tiba.
"Ya sayang," jawab Chanyeol. Ia tak menyisakan detik lebih jauh, segera menginjak gas dan berbaur dengan jalanan.
Salju turun mengotori bumi dan menumpuk pada jalanan. Udara dingin berhembus, menciptakan embun pada kaca mobil. Chanyeol melirik Baekhyun berulang sedang tangan semakin erat menggenggam punggung tangan suaminya itu.
Baekhyun menahan tangis sepanjang perjalanan ke rumah sakit. Bibirnya berdarah, ia gigit terlampau kuat namun tak juga mengurangi rasa sakit oleh kontraksi yang ia rasakan.
"Sakit sekali Chan..." tangis Baekhyun pecah akhirnya. Ia tak berbohong mengatakan sekedar untuk menarik perhatian Chanyeol. Baekhyun merasakan perutnya seolah tengah di koyak dari dalam, sakitnya menumpuk pada pinggul dan menjalar pada seluruh tubuhnya yang lain. Kakinya kesemutan dan Baekhyun bahkan tak mampu merasakan tungkainya sama sekali. Air mata telah membasahi wajahnya dengan banyak dan Chanyeol memaki dirinya sendiri tanpa tau apa yang bisa ia lakukan.
Kontraksi yang Baekhyun alaminya kali ini bahkan lebih parah daripada saat hendak melahirkan Jackson dulu.
Baekhyun tak merasakan sakit apapun sejak malam kecuali ketika pagi menjelang dan seluruh tubuhnya seolah ditusuk oleh ribuan tombak berkarat. Kesadarannya seolah tertiup dan matanya terpejam dengan setitik air mata pada sudut pelupuk.
"Kumohon bertahanlah untukku Baek." Chanyeol berbisik berulang. "Kumohon kuatlah untukku dan anak-anak kita." Ucapnya gusar.
Baekhyun tak mampu memberikan sahutan apapun. Pandangannya berkunang, detik kemudian mengabur lalu hitam menyambut penglihatannya.
Baekhyun tak sadarkan diri ketika ia sampai ke rumah sakit. Dokter membawa Baekhyun ke ruang operasi dan mengatakan jika ketuban Baekhyun sudah pecah. Baekhyun akan melahirkan sekarang, tidak secara normal seperti saat ia melahirkan Jackson dulu, namun cesar dan Chanyeol tak memiliki pilihan selain menyetujui hal itu.
Chanyeol menunggu resah di depan ruang operasi. Tubuhnya bergetar dalam risau dan tegang raut wajahnya menakuti Jackson. Bayi itu tiba-tiba saja menangis dan memanggil Baekhyun ditengah isakannya.
"Sssttt sayang... tenanglah..." pinta Chanyeol. Tangan besarnya mengusap lembut punggung Jackson sambil sesekali menepuk pantatnya menenangkan.
"Njek mau Papa..." bisik bayi itu di atas pundak Chanyeol.
"Papa sedang melahirkan adik bayi," jelas Chanyeol. "Sebentar lagi Njek akan menjadi hyung, Njek senang bukan?"
Pelan, Jackson mengangguk.
"Untuk itu jangan menangis lagi, oke? Jagoan tidak boleh menangis." Kata Chanyeol. Isakan Jackson menghilang perlahan diikuti deru nafas tenang menyapu batang lehernya.
Jackson tertidur di atas pundak Chanyeol dan wajah lelap itu taunya benar menenangkan risau pria itu.
Menunggu masih bukanlah bagian kesukaan Chanyeol. Ruang operasi masih tertutup rapat dan Chanyeol menghabiskan waktunya dengan menatap wajah lelap Jackson yang berada di pangkuan.
Chanyeol teringat jika ia belum menghubungi orangtuanya juga Sehun, saudara laki-laki Baekhyun. Ponsel Sehun diterima oleh managernya; mengatakan jika aktor itu tengah syuting. Chanyeol hanya meninggalkan pesan lalu beralih kepada Sooyoung dan pekikan antusias adalah apa yang menyambut Chanyeol kemudian.
Sooyoung datang bersamaan dengan pintu operasi terbuka. Chanyeol cepat bangkit dan menyongsong perawat yang berdiri di depan pintu dan menyerahkan Jackson pada ibunya.
Chanyeol masuk dengan perasaan tak karuan. Jantungnya berdegup kencang pun ketika senyum dokter yang membantu Baekhyun melahirkan bayi mereka merekah menyambut kedatangan Chanyeol.
"Selamat Tuan Park, bayi kedua Anda laki-laki."
Chanyeol segera tumpah dalam air mata dan dengan hati-hati menerima bayi merah itu dalam dekapan. Bayi itu menangis keras dengan mata terpejam dan tangan menggapai udara. Chanyeol seolah tertimpa bungkusan bahagia di atas kepalanya, darahnya berdesir hebat dan dengan hati-hati ia kecup wajah bayi itu.
"Selamat datang ke dunia ini sayang, Dadda mencintaimu." Chanyeol berbisik. Pandangannya lalu teralih pada Baekhyun yang terbaring dan menuju suaminya.
"Lihat Baek, bayi kita sudah lahir." Chanyeol memberitau seolah Baekhyun tak sedang berada dalam pengaruh anestesi. Kedua mata Baekhyun terpejam dengan sebagian wajahnya ditutupi oleh alat bantu pernafasan.
"Dia laki-laki." Sambung Chanyeol lagi. Dokter dan seluruh perawat di dalam ruang operasi itu menatap Chanyeol seribu arti.
Salah satu perawat mengambil bayi merah itu kembali dan mulai membersihkannya serta mengukur tinggi juga berat badannya. Chanyeol menunduk pada wajah Baekhyun dan mengecup pelipisnya berulang.
"Aku tau kau bisa melakukannya Baekhyun. Kau adalah Papa terhebat." Chanyeol tersenyum lebar dengan selimut kebahagian.
"Tuan Park," dokter mendekati Chanyeol. Pria tinggi itu menoleh dan menegakkan tubuhnya kembali. Buraian air matanya ia seka dan menatap dokter itu.
"Ya?"
"Saya harus memberitau Anda bahwa, Tuan Park mengalami hipertensi saat operasi berlangsung,"
Senyum Chanyeol menyusut hilang diikuti dentuman menyentak rongga dadanya kembali.
"Kondisi Tuan Park telah stabil, namun kami masih harus memantau selama 24 jam dan memastikan keadaannya baik-baik saja."
Chanyeol tak bertanya apapun. Sebenarnya ia tak memiliki keberanian untuk melakukan hal itu. Baekhyun dibawa ke ruang inap dan Chanyeol menungguinya dengan mulut bungkam seribu bahasa.
Sooyoung menghampiri Chanyeol ketika pria itu keluar dari ruang operasi dan bertanya dengan antusias.
"Apa jenis kelaminnya?"
Chanyeol menatap orangtuanya itu tanpa cahaya lalu beralih pada Jackson yang masih terlelap.
"Laki-laki." Jawab Chanyeol pelan. Ia meraih Jackson untuk ia gendong lalu melenggang pergi.
Senyum Sooyoung menghilang, tau betul adanya sesuatu yang tidak beres dari anaknya itu.
Chanyeol masuk ke dalam ruang inap Baekhyun dan masih menemukan suaminya itu dalam posisi yang sama. Baekhyun seperti tengah tertidur, damai sekali walaupun bibir tipisnya nyaris putih seolah tak di aliri darah.
"Sekali lagi, bisakah kau bertahan untukku Baek?" Chanyeol bertanya dalam bisikan. "Kumohon bertahanlah untukku dan anak-anak kita."
Dokter bilang, akan lebih baik jika Jackson tak berada di rumah sakit terlalu lama. Jackson lantas pulang bersama Sooyoung sedang Chanyeol menginap di rumah sakit hari itu.
Salju masih turun dan langit menjadi lebih abu. Uap beku menempel pada kaca jendela dan itu tak benar menarik perhatian Chanyeol. Malam beranjak dan koridor rumah sakit melenggang dalam sunyi.
Chanyeol duduk di samping tempat tidur Baekhyun dan menautkan tangan mereka disana. Tangan Chanyeol terlihat begitu besar berbanding terbalik dengan jemari-jemari ramping nan lentik milik Baekhyun. Logam putih serupa pada masing-masing jemari beradu, menciptakan dentingan halus dan Chanyeol mengusapnya dengan sayang.
"Kau harus segera bangun dan melihat sendiri bayi kita." Chanyeol berucap disana. "Aku melihatnya lagi tadi dan matanya mirip denganku."
Chanyeol ingat bagaimana Baekhyun merengut menyadari jika Jackson seperti duplikat mini Chanyeol. Bayi pertama mereka itu 90% adalah Chanyeol dan Baekhyun membuat suaminya itu berjanji jika bayi kedua nanti haruslah mirip dengannya.
Mengingat hal itu menciptakan senyum bagi Chanyeol. Ia membawa punggung tangan Baekhyun untuk ia kecup lalu mengusapkannya pada belah pipi miliknya.
Suara lengkingan EKG yang berasal dari tempat tidur Baekhyun melengking tiba-tiba; menyentak Chanyeol segera dalam kesadaran. Bola mata Chanyeol melebar dalam panik dan berulang memanggili nama Baekhyun.
Dokter berlari masuk ke dalam ruangan.
Chanyeol tak dapat berpikir jernih. Tubuh Baekhyun tersentak keras saat dokter melakukan kejut jantung pun dengan suara EKG yang semakin keras memenuhi ruangan itu.
Seluruh tubuh Chanyeol bergetar hebat. Chanyeol pikir ia pingsan atau mungkin nyawanya telah melayang entah kemana dan ilusi mendominasi kesadarannya ketika dokter selesai memeriksa Baekhyun.
"Tuan Park berada dalam keadaan koma."
Koma.
Chanyeol pikir nyawa benar telah menghilang dalam jasmaninya. Paru-parunya kosong sedang tungkai menjelly-tak mampu menahan bobot tubuhnya lebih lama lagi.
Koma. Koma. Baekhyun koma-itu tidak mungkin, 'kan?
Chanyeol menggeleng dan ia terlihat menyedihkan karena hal itu. Dokter hanya menatap nanar kepergian Chanyeol bersama pundak bergetar menuntun tangis.
Chanyeol melangkah tanpa arah. Koridor lenggang ia lewati tanpa suara apapun tertangkap oleh inderanya. Penjelasan dokter berdengung keras, memutari seisi kepala.
"Chanyeol hyung!" Seruan itu pun Chanyeol abaikan seolah sosok Sehun yang berpas-pasan dengannya transparan terlihat.
"Keponakanku sudah lahir? Apa jenis kelaminnya?" Sehun bertanya antusias. Topi yang menutupi nyaris setengah wajahnya tak mampu menghalangi pancaran antusias kebahagiannya.
Chanyeol mengindahi. Langkahnya tertarik kembali menelusuri koridor tanpa menjawab pertanyaan dari adik iparnya itu.
"Chanyeol hyung kau mau kemana?" Sehun mengejar dan menarik pundak Chanyeol agar berhenti.
"Baekhyun-" Chanyeol menatap Sehun hancur dan pria itu tertegun melihatnya. "Baekhyun koma."
Senyum pada wajah Sehun menghilang seketika. "Apa?"
Bibir Chanyeol bergetar dengan tangis yang mati-matian ia tahan. Lututnya semakin bergetar namun kembali ia paksa melangkah lagi dan meninggalkan Sehun yang terpaku pada tempatnya.
Chanyeol hanya membutuhan waktu bersama dengan dirinya sendiri.
Chanyeol mendapati dirinya tertidur pada tangga darurat dan terbangun ketika pagi telah menyambut kembali. Seluruh ingatannya segera merasuk cepat, bersama dengan perasaan resah yang sama seperti malam kemarin.
Chanyeol bangkit segera dan menuju kamar inap Baekhyun. Sehun berada disana, duduk pada pinggiran tempat tidur dan menatap lama saudaranya itu.
"Oh, Chanyeol hyung?" Sehun menyapa. Wajah lelahnya terpantri beradu dengan ekspresi yang sama seperti Chanyeol.
"Kau masih disini?" Chanyeol balik bertanya. Matanya terarah pada Baekhyun dan berjalan mendekati suaminya itu.
"Ya," jawab Sehun singkat. "Tadi dokter datang dan memintamu untuk ke ruang parinatologi."
Ruang parinatologi dimana bayinya berada.
"Apa yang dokter katakan tentang Baekhyun?" Chanyeol balik melempar tanya.
Sehun tak segera menjawab. Retinanya memperhatikan bagaimana Chanyeol mengusap dan mengecupi wajah saudaranya itu. Pancaran cinta menguar dari tatapan pria yang menjadi iparnya itu dan taunya menyusupi Sehun dalam rasa tenang di dada.
"Katanya kita harus menunggu,"
Sebelumnya dokter masuk dan memeriksa keadaan Baekhyun. Katanya, Baekhyun mengalami hipertensi saat operasi. Itu melegakan karena kondisi bayi berada dalam keadaan sehat tanpa satupun yang kurang. Namun diluar itu, keadaan Baekhyun sendiri menjadi taruhan.
Baekhyun tidak mengalami pendarahan otak juga kerusakan pada jaringan inti. Itulah mengapa dokter bisa menjamin Baekhyun akan segera bangun. Namun semua kembali pada diri Baekhyun sendiri, pada kemauannya sendiri.
Chanyeol mendengarkan tanpa respon jawaban apapun. Ia menunduk, menggapai ciuman pada mulut Baekhyun yang setengah terbuka akibat selang ET pada mulutnya yang menghubungkan langsung pada tenggorokan menuju paru-paru. Ujung selang ET bagian luar terhubung dengan ventilator; alat bantu pernafasan yang membantu Baekhyun memasok oksigen ke dalam paru-parunya.
Chanyeol mencium ujung bibir Baekhyun lama sembari memijiti lembut lengan suaminya itu.
"Bisakah kau jaga Baekhyun untukku? Aku harus ke ruang parinatologi sekarang." Chanyeol berkata pada Sehun.
Pria yang berprofesi sebagai aktor itu mengangguk cepat. "Tentu hyung," pandangannya mengantar kepergian Chanyeol yang menghilang di balik pintu lalu beralih pada Baekhyun kembali.
"Ini bahkan belum sehari tapi lihat Chanyeol hyung," Sehun berguman sedih menatap saudaranya itu. "Kumohon bangunlah hyung."
Diantara kalut juga sedih perasaannya namun Chanyeol tak mampu mencegah senyum menghiasi sudut bibir. Bayi merah itu menggeliat pelan dalam balutan selimut hangat berwarna kuning itu.
Chanyeol menerimanya dalam dekapan dan mencium puncak kepala bayi itu dengan sayang.
"Hai Jagoan, kita bertemu lagi."
Kelopak mata terpejam itu mengerjab beberapa lagi sebelum terbuka sepenuhnya dan segera beradu pandang dengan Chanyeol. Pria itu terkesiap sedang jantungnya berdentum kencang dengan darah berdesir terasa hangat menyapa seluruh tubuhnya.
Chanyeol seperti deja vu, kembali terhempas ketika Jackson lahir dulu. Semuanya terasa sama kecuali tanpa kehadiran Baekhyun kini yang menemani dirinya.
Chanyeol memaksa senyum pahit dan kembali menciumi wajah bayinya itu.
Papa akan segera sadar dan segera bertemu denganmu, maukah kau bersabar dengan Dadda? Bisik Chanyeol.
"Apakah Anda sudah memikirkan sebuah nama?" Perawat menarik Chanyeol dalam lamunannya tiba-tiba.
Ah, benar. Nama. Chanyeol belum memikirkannya karena ia menyerahkan hal itu pada Baekhyun. Suaminya itu pandai mencari nama dan Chanyeol pikir Baekhyun telah memiliki satu untuk bayi kedua mereka pula.
"Belum," Chanyeol menggeleng. "Kami masih memikirkannya."
Perawat itu tak bertanya jauh hanya menganggukkan kepalanya.
"Bisakah aku membawanya ke ruang inap Papanya?" Chanyeoo bertanya.
"Ya tentu saja, Tuan."
Perawat itu mempersilahkan Chanyeol pergi membawa si bayi merah dalam pelukan masuk ke dalam kamar Baekhyun.
Ia membaringkannya hati-hati di sebelah Baekhyun, membawa tangan Baekhyun yang bebas dari infus untuk menyapa kulit halus itu beradu dengan arinya.
"Cepatlah sadar dan sapa bayi kita Baekhyun."
Chanyeol takkan bisa melewati semua ini jika ia tak memiliki Jackson juga bayi keduanya itu.
Chanyeol mungkin takkan bisa bernafas sekedar menyapa pagi tanpa adanya lantunan merdu dari Baekhyun. Chanyeol pikir ia akan mendapati dirinya mati keesokan harinya, namun tidak ketika bayi merah berumur 3 hari itu meraung membangunkan Chanyeol dalam realita jika ia masih memiliki tanggungjawab juga alasan mengapa ia harus tetap bertahan juga mengapa ia harus tetap kuat menjalani harinya.
Anak-anaknya adalah sumber semangat mengisi tiap hembusan nafasnya.
Semuanya memang sulit. Chanyeol bahkan harus menekan hatinya tiap kali bersitatap dengan wajah lelap Baekhyun. Si mungil yang menjadi suaminya itu masih dalam damai yang sama. 3 hari telah berlalu tanpa adanya pergerakan apapun.
Baekhyun masih berada dalam status koma dan Chanyeol pun masih berada disana mendampinginya.
Kehidupannya berjalan dalam ruang inap itu. Chanyeol cuti bekerja untuk menemani Baekhyun juga merawat bayi mereka. Jackson tinggal bersama Sooyoung, disaat tertentu datang ke rumah sakit dengan masker motif kucing yang menutupi hidung juga mulutnya.
Sehun datang setelah jadwalnya selesai dan memaksa Chanyeol untuk pulang sedang ia yang berganti menjaga Baekhyun. Namun Chanyeol menolak dan lagi menjadikan sofa sebagai alasnya tidur.
"Apa Papa sudah bangun?" Itu adalah pertanyaan pertama yang selalu Jackson tanyakan saat ia datang. Mata bulatnya menatap Chanyeol tanpa dosa dengan kerjapan penuh harap pada orangtuanya itu.
Chanyeol menggendongnya lalu melangkah pada tempat tidur Baekhyun dan membiarkan Jackson melihat leluasa lelaki yang ia panggil Papa itu.
"Papa masih bermimpi indah." Dan lagi jawaban itu yang Chanyeol berikan.
"Sangat indah?" Tanya Jackson lagi.
"Yups," sambut Chanyeol. Ia mencium pipi Jackson sayang lalu mengusak rambutnya pelan.
"Mata Papa terbuka." Kata Jackson. Satu telunjuknya ikut mengarah pada Baekhyun, "lihat Dda."
Ada dentuman keras yang mengawali gerakan Chanyeol sebelum mengindahi apa yang Jackson katakan. Ia membawa pandangannya pada Baekhyun dan merasa bola matanya akan meloncat keluar dengan apa yang ia lihat.
Baekhyun membuka kelopak matanya perlahan, sipitnya membuka celah membiarkan manik jernihnya bersinggungan dengan Chanyeol di udara. Ia mengerjab beberapa kali namun tak bisa mengatakan apapun dengan selang di dalam mulutnya.
"Bae-Baekhyun-" pun dengan Chanyeol yang tak mampu menciptakan satu katapun dari lidahnya.
Ini bukan mimpi, 'kan?
"PAPA!" Seruan Jackson menyadarkan Chanyeol jika dunia nyata memang tengah ia pijaki. Chanyeol menyongsongnya secepat angin, menempatkan Jackson duduk pada pinggiran tempat tidur dan membiarkan si sulung menyapa dalam antusias.
"Kau bangun..." bisik Chanyeol. Pelupuknya tumpah ruah dalam tangis seketika dan tetesannya mengenai wajah Baekhyun.
Chanyeol bergetar menekan tombol darurat pada tempat tidur Baekhyun dan dokter datang pada menit berikutnya.
Chanyeol nyaris berteriak bahagia. Matanya basah lagi dengan seribu ungkapan terima kasih karena Baekhyun telah bangun namun nampaknya Tuhan tidak sebaik itu berpihak padanya. Semenit berselang ketika selang ET nya dokter lepaskan, patahan kalimat gagap itu menguar dan Chanyeol seperti mendapatkan bom meledak dalam kepalanya.
"Chanyeol aku tak bisa menggerakkan tubuhku."
Baekhyun terserang panik merasakan tubuhnya kaku tak bisa digerakkan. Baekhyun koma selama 3 hari namun itu bukan waktu yang cukup lama untuk membuat persendiannya berubah menjadi karat.
Jarinya bahkan tak bisa Baekhyun gerakkan seincipun. Tulang rahangnya pun sama itulah mengapa gagap suaranya terdengar buruk hanya dalam patahan.
Dokter bilang Baekhyun mengalami Guillain-Barré Syndrome. Sebuah penyakit autoimun langka yang menyerang sistem saraf perifer yang bertanggung jawab mengendalikan pergerakan tubuh. Penyakit itu membuat Baekhyun tak mampu menggerakkan motoriknya; tangan juga kaki. Baekhyun bahkan tak bisa bernafas tanpa alat bantu sejak hari itu.
Itu adalah awal dari segalanya. Sebuah awal yang baru, lembaran yang baru juga kehidupan mereka yang baru.
Tak ada yang tau bagaimana Baekhyun merasakan hidupnya seperti di neraka. Terkurung dalam pasif tubuhnya sendiri tanpa bisa memindahkan jarinya seinci pun.
Chanyeol adalah orang yang melihat itu semua. Ia hanya duduk tanpa suara di kamar yang sama dan memperhatikan bagaimana Baekhyun berjuang melawan kaku tubuhnya.
Baekhyun berakhir dalam tangis keputus-asaan dan Chanyeol selalu berarti memberikan bahunya untuk menampung semua rintikkan bening itu.
Chanyeol hancur. Bukan kenyataan Baekhyun yang harus menghabiskan waktunya sepanjang hari di atas tempat tidur, namun melihat bagaimana suaminya itu harus menderita karena penyakitnya.
Tapi apa yang tidak Chanyeol ketahui adalah bagaimana Baekhyun melihatnya sebagai si tidak berguna dan hanya menyusahkan Chanyeol. Chanyeol seolah bertingkah semuanya masihlah baik-baik saja. Baekhyun masihlah Baekhyun yang dulu, suaminya, Papa dari anak-anaknya.
Dua minggu berlalu lama ketika Baekhyun mampu menggerakkan rahangnya kembali. Gagapnya masih terdengar mengerikan, kadang suaranya tak terdengar dan melontar ejaan terlampau lama untuk sebuah kalimat.
"Jesper..." adalah kata pertama yang Chanyeol tangkap.
"Aku ingin melihatnya." Lalu patahan kedua tanpa suara. Sipit itu memancarkan cahaya menatap Chanyeol seolah tanpa luka.
Chanyeol tak menyisakan detik, mengambil bayi mereka dalam keranjang hangatnya lalu meletakkannya di atas Baekhyun. Chanyeol menyangga tubuhnya-membuat Baekhyun dapat melihat bayinya dengan leluasa.
Baekhyun menangis lagi. Perasaannya campur aduk, bahagia namun Baekhyun tak mampu memungkiri jika ia merasa sedih pula.
"Aku ingin menyentuhnya." Baekhyun bergetar mengujarkan kalimatnya kembali. Ia berusaha keras menggerakkan tangan namun yang ia dapati adalah lengannya teronggok tak berdaya tanpa seinci pun berpindah tempat.
Chanyeol meraih tangan Baekhyun dan menuntunnya di atas kepala bayi itu. Halus kepala botak mungil itu menyapa ari Baekhyun dan air mata semakin banyak membasahi parasnya.
Chanyeol tersenyum, ia bahagia namun bening ikut membasahi wajahnya pula.
"Jadi namanya Jesper, hm?" Tanya Chanyeol.
Baekhyun mengangguk segera dengan senyum semakin lebar. Sipitnya tenggelam dalam kelopak bengkak akibat terlalu banyak menangis, Chanyeol seka dengan lembut.
"Jangan menangis lagi," pinta Chanyeol. "Matamu sudah sipit, kalau terlalu banyak menangis matamu menjadi bengkak dan hilang."
Itu gurauan garing namun Baekhyun malah tertawa. Ia kembali menggeleng dan berbisik, "Kau juga tidak boleh menangis. Aku baik-baik saja."
"Aku tau kau kuat sayang," Chanyeol menjemput Baekhyun dalam ciuman di akhir kalimatnya.
Namun ada saat di mana Baekhyun merasa putus asa. Ia menyesali keadaannya yang sekarang dan memaki dirinya yang payah.
"Maafkan aku..." wajahnya telah basah dengan air mata dan Chanyeol dengan cepat menyeka air mata itu.
"Ini bukan kesalahanmu Baekhyun... jangan menangis." Chanyeol meminta namun nyatanya ia ikut menangis disana.
"Apa yang harus aku lakukan?"
Baekhyun merasa tak berguna. Apa yang bisa ia lakukan dengan keadaan yang sekarang, Baekhyun lumpuh hidupnya akan berjalan di atas tempat tidur sepanjang waktu.
Bayinya bahkan baru lahir dan Baekhyun tak bisa merawatnya dengan baik. Ia akan menjadi orangtua yang paling buruk dan suami tak berguna.
Baekhyun ingin menyerah namun Chanyeol selalu berada di sampingnya dan memberikan semua semangat yang Baekhyun butuhkan.
Chanyeol memeluk Baekhyun erat dan membisikkan seribu kalimat penenang yang Baekhyun butuhkan.
"Kau tidak sendiri, kau memiliki aku Baekhyun." Chanyeol tak bosan mengingatkan. "Kita baru saja memiliki Jesper, Jackson telah memiliki adik sekarang."
Tangis Baekhyun semakin pecah dan mereka berbagi tangis disana.
Chanyeol tak sekedar berucap untuk menenangkan Baekhyun saja. Pria itu melakukannya.
Chanyeol menjadi pendonor immunoglobulin Baekhyun yang pertama dan selalu mendampinginya menjalani pengobatan. Baekhyun mengikuti terapi rutin untuk membantu menggerakkan sarafnya yang mati rasa dan Chanyeol lagi-lagi berada disana untuk melewati semua itu.
Chanyeol tak masuk ke kantor sejak Baekhyun masuk rumah sakit untuk melahirkan dulu. Seluruh pekerjaannya ia limpahkan pada sekretarisnya dan hanya mengontrol pekerjaan karyawan melalui online.
Terkadang Jongdae, sekretaris Chanyeol datang ke rumah sakit dan berbicara mengenai pekerjaan.
Jongdae menjelaskan tentang skema pendapatan perusahaan juga beberapa kerja sama yang batal karena tak adanya keberadaan Chanyeol dalam rapat negosiasi.
"Perusahaan membutuhkanmu Pak."
Chanyeol sadar dengan apa yang bawahannya itu katakan. Tapi Chanyeol lebih memilih tinggal di rumah sakit lagi seolah grafik rendah perusahaan bukanlah sesuatu yang besar.
Baekhyun jelas tau. Ia melihat semua itu dan lagi-lagi malah menyalahkan dirinya sendiri telah menahan Chanyeol terlalu lama bersamanya. Baekhyun nyaris jatuh dalam lubang keterpurukan serupa ketika tawa Jackson menutupi semua itu. Keterpurukannya terkikis digantikan semangat luar biasa. Itu mendorong keinginan Baekhyun untuk sembuh lebih cepat.
Baekhyun perlahan-lahan mampu menggerakkan tangannya kembali dua bulan sejak terapi pertamanya di mulai. Fungsi tangannya kembali seolah ia tak pernah mengalami kelumpuhan disana.
Kalimatnya tak lagi terpatah dan Baekhyun mampu berbicara lancar seperti sedia kala. Alat bantu pernafasan yang selama ini mengunjang oksigen telah dilepaskan pula.
Hanya saja, keadaan paska operasi cesar yang Baekhyun jalani tak mampu membuatnya dapat bergerak dengan leluasa. Bagian bawah tubuhnya tak dapat dikembalikan fungsinya, namun kata dokter Baekhyun dapat menjalani terapi rutin untuk dapat berjalan lagi.
Baekhyun tak ingin serakah. Ia sudah sangat bersyukur, terlepas dari apa yang ia alami dan kini Baekhyun dapat menggendong bayinya. Ia bisa memeluk bayinya walau hanya di atas tempat tidur, menciumnya juga merasakan bagaimana halus tubuh itu beradu dengan kulitnya.
6 bulan Baekhyun menghabiskan waktunya di rumah sakit dan dinyatakan bisa meninggalkan perawatan intensif. Baekhyun pulang bersama kursi roda yang menjadi teman hidupnya kini. Chanyeol bahkan membeli rumah yang baru dengan satu lantai agar Baekhyun bisa melakukan rutinitasnya dengan leluasa.
Itu menjadi lembaran yang baru, buku kehidupan yang baru yang sampai kini masih Baekhyun isi bahkan setelah bayi kedua mereka yang ia beri nama Jesper Park telah beranjak umur 4 tahun.
bersambung
Tentang penyakit Baekhyun di ff ini, aku hanya bermodalkan searching di internet. Maaf jika salah dan terkesan ngaco ^^v maaf juga untuk semua typo.
Terima kasih sudah baca juga memberikan review, sampai ketemu di chap 4 :D
