Yoo Minna! Saya sengaja nambah fic baru nih. wkwkwkwwk habisnya saya bosen banget ngeliat fic saya sendiri. Jadi saya pengen tambah aja biar laen kali bisa nambah inspirasi.

Semoga gak ngebosenin ya... hehehe

Cerita ini baru aja kepikiran setelah saya sembuh dari sakit kemarin. Hehehehe... kayaknya saya pengen aja bikin cerita tentang dokter gitu.

DISCLAIMER : TITE KUBO

RATE : T

WARNING : OOC, AU, GAJE, MISSTYPO, Cerita pasaran dan mudah ketebak. Segala sesuatu yang ada dalam fic ini sama sekali tidak ada yang benar. semuanya hanya fiksi belaka dengan imajinasi indah saya.

ATTENTION : Fic ini adalah fiksi belaka. apabila ada kesamaan atau kemiripan di dalam fic atau cerita lain dalam bentuk apapun itu adalah tidak disengaja sama sekali.

.

.

.

"Uhm... Minggu besok kau ada acara?" tanya Rukia.

"Tidak ada," jawabnya malas sambil membuka komik tersebut.

"Kau mau pergi?" tawar Rukia.

"Hm? Kemana?" masih dengan nada malas.

"Seriuslah Ichigo!"

"Aku serius Rukia..."

"Kau terdengar tidak serius!"

"Itu karena aku masih lelah. Kau tidak tahu seberapa lelah hari ini?"

Sejak tiba pukul tujuh malam tadi, kerja Ichigo hanya berguling di sebelah futon Rukia sambil sesekali membaca komik yang sengaja Rukia beli waktu masih SMA dulu.

Seminggu setelah pembicaraannya dengan Orihime itu, Rukia jadi benar-benar ingin membantunya. Gadis itu nampak begitu tulus menyukai Ichigo. Sayangnya pria ini malah tidak menyadari itu. Rukia ingin sekali menyadarkannya. Tapi Ichigo terlalu bodoh. Dia hanyalah dokter bodoh yang tidak mengerti penyakit cinta! Makanya sampai sekarang masih menjomblo. Padahal sebentar lagi dia akan kepala tiga!

Orihime bilang dia sanggup menunggu Ichigo kapanpun. Tapi Rukia tak tega membiarkan gadis itu menunggu terlalu lama. Setidaknya Ichigo harus memberikan kepastian padanya. Apalagi untuk saat sekarang Ichigo tak pernah terdengar tengah dekat dengan gadis manapun. Padahal di rumah sakit Karakura, pasti banyak perawat dan dokter wanita yang cantik dan seksi―yang tentunya masih lajang. Rukia sampai sekarang masih bingung, tipe seperti apa yang diinginkan oleh Ichigo ini.

"Kalau kau lelah kenapa kau tidak pulang?" sindir Rukia.

"Kalau aku menyetir dalam keadaan lelah begini, kau mau bertanggungjawab kalau aku nanti menabrak sesuatu? Lagipula rumahmu dekat dengan rumah sakit-ku. Jadi berhentilah berisik. Aku benar-benar lelah!"

"Kau ini kenapa sih dari tadi marah-marah terus? Aku bukan tempat pelampiasanmu untuk marah-marah! Lagipula kau ini―"

Suara dengkuran halus terdengar di sebelah futonnya. Pria itu sudah tertelungkup di sisinya dengan komik Rukia yang dia jadikan bantal.

Ini pertama kalinya Rukia melihat Ichigo yang begini kelelahan. Kalau sampai dia tertidur sembarangan begini, sudah jelas dia memang lelah. Pekerjaan dokter tentu saja tidaklah mudah. Dia harus menyelamatkan nyawa puluhan bahkan ratusan pasien dalam satu minggu. Belum lagi berbagai operasi yang harus dia jalani. Dan dalam satu kali operasi bukan satu atau dua jam. Tapi berjam-jam. Rukia harus secepat mungkin menyatukan Ichigo dan Orihime. Agar Ichigo punya seseorang yang bisa dia jadikan sandaran dan tempat mengeluh. Dan Rukia harus belajar mulai sekarang untuk tidak bergantung pada Ichigo lagi. Kalau Rukia seperti ini terus, Ichigo tak akan bisa hidup dengan normal.

"Maaf Ichigo... kalau aku menyulitkanmu."

.

.

*KIN*

.

.

Sinar mentari terasa begitu menusuk mata Ichigo. Dasar. Kenapa ketika lelah, rasanya waktu berputar begitu cepat. Entah kenapa tidurnya hari ini lelap sekali. Padahal Ichigo tak biasanya tidur sampai matahari begini menyilaukan matanya. Apalagi mengingat profesinya sebagai seorang dokter yang harus datang pagi.

Begitu membuka matanya, Ichigo terkesiap kaget. Ini bukan kamarnya. Ini kamar Rukia. Wangi lavender miliknya ada dimana-mana. Dan yang mengejutkan lagi, Ichigo sudah diselimuti dan memakai bantal milik Rukia. Lalu kemana orang itu? Tumben sekali Rukia tidak jahil mengganggu tidurnya. Biasanya gadis itu akan berbuat onar untuk mengganggu Ichigo. Setelah menguap lebar, dan bangun dari tidurnya, ada meja kecil di dekat tempatnya tidur tadi. Sebuah sarapan. Juga note kecil.

Aku tak mau tahu kau selelah apa, tapi datanglah nanti siang ke Disneyland Tokyo.

Kalau gadis itu sudah memerintah seperti ini mau tak mau Ichigo harus menurutinya. Kalau dia tidak menurutinya pasti Rukia akan mengamuk dan merajuk padanya berminggu-minggu. Dan Ichigo sebal kalau harus menghadapi Rukia yang seperti itu.

"Baiklah Pendek! Sesuai maumu!" keluh Ichigo sambil menyambar roti panggang yang masih terasa hangat itu.

.

.

*KIN*

.

.

Setelah yakin Ichigo keluar dari kamarnya, Rukia baru menampakkan diri lagi. Dia bersembunyi semalaman di kamar Nii-sama-nya. Ichigo tak boleh melihatnya di sini. Kalau tidak begini bagaimana mereka bisa dekat? Seharusnya Orihime sudah bersiap. Rukia berharap rencananya kali ini sukses. Tapi yah... lagi-lagi tergantung nasib. Ichigo bukan tipe orang yang mengerti situasi. Walau dia dokter.

.

.

*KIN*

.

.

Ichigo melirik jam tangannya dengan gelisah. Dia sudah ada di Disneyland Tokyo ini selama setengah jam. Tapi gadis pendek itu belum menampakkan tubuh mungilnya yang kalau ditiup angin pasti akan segera melayang. Setelah sarapan tadi, dia tak menemukan dimana gadis itu tidur semalam. Tapi menurut salah satu pelayannya, nona bangsawan itu masih tidur dan belum bangun dari tadi. Ichigo juga tak ingin mengganggu tidurnya. Rukia selalu berubah menyebalkan kalau tidurnya terganggu. Mood-nya pasti akan berubah drastis dan selalu berwajah marah setiap kali disapa. Itu kalau tidurnya terganggu. Makanya Ichigo sangat hati-hati kalau gadis pendek itu masih tidur.

Tidak biasanya Rukia membuatnya menunggu selama ini. Pasti ada sesuatu. Apa... terjadi sesuatu dengannya? Apa penyakitnya kumat?

Ichigo jadi gelisah setiap kali memikirkan kalau-kalau gadis itu kumat di saat dia tidak ada. Rukia sulit dikendalikan saat dia tak sadarkan diri. Bahkan pernah, ketika Ichigo terlambat menolongnya, gadis itu nyaris membunuh dirinya sendiri dengan mengiris pergelangan tangannya. Ichigo tak bisa bayangkan kalau hal itu sampai terjadi. Keadaan Rukia memang sangat mengkhawatirkan kalau dalam kondisi kumatnya. Maka dari itu, Ichigo sebisa mungkin mengecek keadaan gadis itu setiap hari. Apalagi kenyataan kalau dia ditinggal sendiri dan hanya ditemani pelayan yang sesekali melihatnya. Itu karena Rukia jarang keluar dari kamarnya dan selalu menyendiri. Tapi entah kenapa akhir-akhir ini, Orihime jadi sering mengunjunginya setelah kejadian waktu itu.

Ichigo cukup lega kalau Rukia mau menerima Orihime. Setidaknya dia punya teman sesama perempuan yang bisa mengerti dirinya. Rukia juga butuh seorang teman perempuan yang untuk membicarakan hal-hal yang tak bisa dibicarakan dengan Ichigo. Walau sebenarnya hampir seluruh rahasia Rukia, Ichigo tahu. Setidaknya, selain dirinya, Rukia punya teman lagi yang bisa dia andalkan. Apalagi hubungan Orihime dan Rukia sewaktu SMA dulu juga terjalin baik. Bagus juga kalau mereka setiap hari begitu.

Oh baiklah! Ichigo mulai kesal.

Gadis pendek itu serius tidak untuk menyuruhnya kemari? Sebenarnya apa yang dilakukannya?

"Kurosaki-kun!"

Ichigo menoleh ke sumber suara itu. Seorang gadis berambut orange panjang bergelombang itu berlarian ke arahnya. Hah?

Itu bukannya Inoue Orihime?

"Inoue? Sedang apa kau di sini?" tanya Ichigo bingung. Apa ini kebetulan atau bagaimana?

"Ehh? Sebenarnya Kuchiki-san menyuruhku datang kemari. Aku sudah menunggunya selama satu jam. Tapi dia tak kunjung muncul. Jadi aku keliling sebentar dan bertemu kau di sini. Apa yang kau lakukan?" tanya Orihime setelah penjelasan panjangnya itu.

"Kau bilang... Rukia yang menyuruhmu kemari?" ulang Ichigo.

"Ya. Kuchiki-san bilang begitu. Ada apa?"

Drrttt... drrtt...

Ichigo mengeluarkan ponselnya yang bergetar di saku jeans-nya.

Kuchiki 'Pendek' Rukia calling...

Setelah mendengus kesal Ichigo menekan tombol jawab bersiap memaki gadis itu.

"Heh! Kau dimana Pendek! Kau mengerjaiku ya?" sambar Ichigo yang tentu membuat Orihime terkejut. Walaupun sebenarnya ini bukan pertama kalinya Orihime melihat Ichigo membentak Rukia. Sudah pasti gadis bangsawan itu juga akan balik membentak Ichigo. Bahkan lebih parah. Atau ditambah dengan hukuman, tentu saja.

"Aku tidak mengerjaimu. Tiba-tiba saja badanku tidak enak. Jadi... maaf aku batalkan saja. Hehehe..." suara Rukia di ujung sana terdengar baik-baik saja.

"Kau... tidak enak badan? Kau sudah minum obat?" malah itu yang ditanyakan oleh Ichigo. Kata makian yang hendak dikeluarkannya tadi mendadak terlupakan ketika mendengar gadis ini bilang kalau dia kurang enak badan.

"Sudah kuminum. Tenang saja. Sebaiknya kau main-main saja di sana. Katamu kau lelah kan? Jadi kau butuh refreshing sejenak. Sudah ya, aku mau tidur dulu," tutup Rukia.

"Hei apa maksud―"

Tuutt... tuutt...

Selalu seenaknya sendiri. Memangnya dia pikir dia siapa?

Ohh... dia adalah bangsawan ternama Kuchiki yang selalu seenaknya. Ichigo lupa itu.

"Kuchiki-san... bilang apa?" tanya Orihime setelah melihat Ichigo memaki ponselnya sendiri lalu memasukkannya kembali ke dalam saku jeans-nya dengan kasar.

"Tidak ada. Sepertinya dia mengerjai kita. Kau masih ada waktu?" tanya Ichigo.

"Ehh? Oh, sebenarnya ada sih."

"Kalau kau tidak keberatan, bisa temani aku bermain sebentar di sini? Lagipula... aku sudah lama tidak kemari. Bagaimana?"

Ichigo tak akan tahu, bagaimana perasaan Orihime sekarang. Mungkin saking bahagianya, Orihime bisa saja langsung terjun bebas dari menara Tokyo. Atau berenang ke Samudra Pasifik.

.

.

*KIN*

.

.

Rukia bernafas lega. Setidaknya dua orang itu pasti akan menghabiskan waktu bersama. Tentu saja. Kalau Rukia tidak lakukan ini, sampai kapan mereka bisa punya waktu berdua selain di rumah sakit.

Tapi... sebenarnya Rukia bohong soal obat itu.

Obatnya sudah habis sejak dua hari yang lalu. Sebenarnya dia ingin membelinya hari ini. tapi yang biasa membeli obat itu kalau bukan Ichigo, pasti Orihime. Tapi dua orang itu sedang tidak ada sekarang. Rukia pikir sampai tiga hari ke depan dia bisa sanggup bertahan tanpa obat-obatan itu. Rupanya dia sudah ketergantungan dan tidak bisa lepas dari obat itu lebih dari dua hari. Perasaan gelisah tiba-tiba menghantuinya.

Rukia hanya berharap penyakitnya tidak kumat untuk saat seperti ini. seharusnya tidak akan kumat jika tidak ada pemicunya. Lagipula... ditinggalkan tidur juga pasti akan segera hilang. Rukia tidak boleh mengacaukan hari ini. Tidak boleh.

.

.

*KIN*

.

.

Setelah bermain beberapa kali, akhirnya Ichigo dan Orihime makan siang bersama. Mereka banyak membicarakan berbagai hal. Tapi sayangnya yang mereka bicarakan tak jauh dari masalah pasien dan rumah sakit. Sebenarnya Orihime ingin membicarakan hal lain. Tapi dia bingung, apa sebaiknya yang dia bicarakan. Lagipula selama ini bersama Ichigo, yang mereka bicarakan hanyalah soal pasien dan penyakit. Sama sekali tidak pernah ada topik lain. Kalaupun ada topik lain, yang mereka bicarakan adalah teman SMA mereka. Orihime tak banyak tahu tentang Ichigo walau selama ini dia menyukainya. Setiap kali Orihime menanyakan apa yang disukai Ichigo, dia akan menjawab semuanya, atau yang mana saja sama saja, atau... aku suka keduanya. Hanya itu saja. Tidak benar-benar mengatakan hal yang spesifik.

Padahal, Orihime banyak menceritakan soal dirinya dengan Ichigo. Tapi tampaknya Ichigo hanya mendengarkan saja. Tidak bermaksud untuk tahu lebih dalam.

Setelah makan siang itu, Ichigo pamit untuk membeli boneka salah satu tokoh kartun Disneyland itu untuk adik kembarnya. Orihime bermaksud menemani. Tapi Ichigo bilang Orihime pasti lelah ke sana kemari dan tempatnya dekat dengan restoran tempat mereka makan. Jadinya Orihime hanya menurut dan menunggunya di restoran itu karena Ichigo akan segera kembali.

Seandainya saja Orihime punya sifat pemberani seperti Rukia. Seandainya...

Drrtt... drrttt...

Orihime membuka ponsel yang bergetar di tas tangannya.

Kuchiki Rukia calling...

Ada apa tiba-tiba Rukia menelponnya?

"Halo? Kuchiki-san?"

Bukan jawaban, tapi Orihime mendengar suara tersengal yang berasal dari ponsel itu.

"Kuchiki-san?" kali ini Orihime berubah panik.

"Maaf... aku baik-baik saja. Inouehh... boleh aku... minta nomor ponselnya... Ishida?" tanya Rukia susah payah sambil mengendalikan nafasnya yang tersengal.

"Ishida-kun? I-iya boleh. Nanti aku kirimkan. Tapi... buat apa?"

"Tidak adaahh... apa-apaah. Terima kasih. Oh ya, jangan bilang pada Ichigo kalau aku menelponmu. Yah? Jangan katakan apapun soal telepon ini pada... Ichigo."

"Tapi kenapa? Kenapa Kurosaki-kun tidak boleh tahu?"

"Karena... Ichigo akan kerepotan. Dia... pasti sudah lelah. Jadi aku... tidak mau merepotkannya lagi. Yah... Inoue... tolong aku..." mohon Rukia.

Orihime mengangguk ragu.

"Hmm. Baiklah. Aku tidak akan bilang."

Teleponpun putus. Orihime yakin ada yang aneh dengan Rukia. Tapi jika gadis itu bilang tidak apa-apa pasti dia tidak mau diganggu. Orihime tahu watak gadis itu keras sekali. Tidak mau dibantah.

Akhirnya Orihime pun segera mengirimkan nomor ponsel Ishida pada Rukia. Ada apa Rukia sampai ingin menghubungi Ishida? Apa ada sesuatu? Kenapa harus Ishida? Atau jangan-jangan... Rukia...

"Kau menghubungi siapa?"

Orihime terkesiap kaget saat Ichigo tiba-tiba muncul dengan sekantung plastik berisi dua boneka di tangannya. Ichigo juga melihat Orihime yang masih memegangi ponselnya.

"Apa... Rukia menghubungimu?"

Bahkan tebakan Ichigo saja sangat tepat. Orihime ingin bicara jujur, tapi...

"Oh... bukan. Bukan dari Kuchiki-san. Tadi Tatsuki-chan menghubungiku."

"Tatsuki? Apa dia masih jadi guru doujo pamannya itu?"

Seketika Orihime merasa bersalah sudah berbohong pada Ichigo. Tapi dia juga tak punya pilihan kalau Rukia-lah yang memintanya melakukan ini.

.

.

*KIN*

.

.

Jantung Rukia berdetak cepat sekali.

Setelah mendapatkan nomor ponsel Ishida, Rukia sesegera mungkin meminta dokter itu untuk membelikan obatnya dan sudah mengirimkan via pesan resep obatnya. Resepnya tidak ditulis dengan tulisan Ichigo, dan obat Rukia tidak bisa dibeli oleh orang sembarangan tanpa resep khusus dari dokter. Jadi, Rukia meminta tolong Ishida yang sebagai dokter untuk membelikan resepnya. Rukia ingat obat apa saja yang biasa dia minum. Dan untungnya Ishida sedang dalam waktu senggangnya.

Perasaan gelisah terus menggerogotinya. Rasanya sesak sekali. Nafas Rukia jadi tidak teratur seperti ini. padahal sebelumnya dia tak pernah kumat lagi. Kenapa harus datang di saat seperti ini?

BRAAK!

Rukia terkejut mendengar suara bantingan pintu yang begitu keras yang berasal dari luar ruangannya. Ada beberapa teriakan dari pelayannya. Seharusnya ada penjaga di pintu depan. Walaupun Rukia sudah mengijinkan Ichigo berkunjung seperti biasa, tapi Rukia tetap menyuruh penjaga itu menjaga pintu utama. Akhir-akhir ini ada yang tidak beres dengan rumahnya. Setiap tengah malam, ada saja yang melempar batu ke dalam kediamannya. Dan itu membuat Rukia takut. Untungnya setelah ada penjaga perbuatan iseng itu tak berlangsung lagi. Tapi hal ini juga belum Rukia ceritakan pada Ichigo dan pada siapapun. Rukia pikir masalah ini bukan masalah besar.

Walau sebenarnya... dia memang punya masalah besar.

PRAANG! BRAAK!

Rukia semakin takut dengan bunyi-bunyi mengerikan itu. Bunyi apa yang itu? Ada apa di luar sana sebenarnya? Ini masih sore hari.

"Siapa? Apa yang terjadi di luar?" pekik Rukia dari dalam kamarnya.

Astaga! Di saat seperti ini malah banyak sekali gangguan. Ada apa sebenarnya sih?

Rukia mencoba bangkit dari futonnya untuk melihat keadaan di luar. Tidak biasanya pelayannya tidak ada yang menjawab panggilannya.

"Siapa di―"

SREEK!

Tiba-tiba dua orang pria besar dan pria kurus menerobos masuk ke dalam kamarnya. Rukia membulatkan mata besarnya. Tubuhnya langsung menggigil dan gemetar.

Pria besar itu membawa sebuah pedang panjang yang berlumuran darah.

Lagi-lagi nafas Rukia langsung tercekat dan seakan kehabisan oksigen.

"Ternyata di sini Nona kecil ini. apa kau masih ingat dengan kami?" ujar pria tinggi kurus itu.

Rukia jatuh terduduk dengan pandangan liar dan tubuhnya yang gemetar ketakutan. Rukia bukan fokus kepada pria besar itu. Matanya ketakutan menatap pedang yang berlumuran darah itu.

Darah.

Benda tajam.

Darah...

"ARGGHH!" jerit Rukia sambil menutupi kepalanya dengan kedua tangannya.

"Hei... kami belum melakukan apapun padamu kan?"

"Kaien... dono... Kaien... Kaien..." isak Rukia menjadi sambil ketakutan.

"Wah... kau benar masih ingat pada kami ya? Itu bagus. Karena kami... diminta untuk langsung membunuhmu. Tenang saja... kau bisa bertemu dengan orang yang kau rindui itu Nona Kecil!"

Pria besar berambut cepak itu mulai menyeringai lebar melihat Rukia yang terduduk di tatami itu yang masih menangis ketakutan dan gemetaran.

Rukia menjambak rambut hitamnya sendiri. Bayangan itu kembali muncul. Tubuh pria itu tiba-tiba jatuh di depan matanya dengan darah mengalir dari seluruh tubuhnya. Bahkan masih begitu jelas, bagaimana orang-orang itu mencabik-cabik tubuhnya yang sedemikian kasarnya.

"ARRRGGGHHHHHHH! ARGGGGGGGGGGHH! Hhh... hhh...!" jerit Rukia frustasi.

"Kita langsung bereskan saja! Dia benar-benar mengganggu dengan teriakannya itu," sahut pria kurus yang berdiri di belakang pria besar yang hendak mengacungkan pedang itu pada Rukia.

Mata Rukia berubah menjadi merah dan mulai bertingkah di luar kendalinya. Rukia bergerak liar dan mulai melempar apa saja yang ada di dekatnya sambil terus berteriak histeris dan ketakutan. Pria besar itu mulai menghindari segala macam benda yang dilempar Rukia tanpa henti itu.

Akhirnya karena kesal dengan tindakan brutal gadis itu, pria kurus itu mencoba menangkapnya dan hendak menghabisinya langsung. Rukia langsung memberontak sekuat tenaga. Memukul, menendang bahkan menggigit dan mencakar pria-pria besar itu yang hendak menghabisinya. Karena Rukia dilawan oleh dua orang pria, Rukia jadi tidak bisa banyak bergerak. Salah satu dari mereka berhasil menggores pedang itu di pipi dan leher Rukia. Baju Rukia juga berantakan karena saling tarik menarik. Rukia masih bertingkah di luar kendalinya. Karena itu dia bisa melukai pria-pria misterius itu.

Ketika pria kurus itu berhasil mencengkeram kedua tangan Rukia, kini tinggal si pria besar yang menyeringai lebar untuk membalas dendam karena Rukia sudah berhasil melempar vas bunga dan mengenai kepalanya hingga berdarah.

.

.

*KIN*

.

.

Ishida selesai dengan tugasnya. Kini dia sudah berada di mobil dan bersiap membawa obat-obat yang diminta oleh Rukia untuk diantarkan ke rumahnya.

Rukia bilang, biasanya obat itu dibelikan oleh Ichigo atau Orihime. Tapi kedua orang itu sama sekali tidak ada. Makanya Rukia meminta tolong Ishida kalau dia senggang. Tentu saja Ishida tak sampai hati menolaknya.

Tapi alangkah kagetnya Ishida ketika menemukan rumah bangsawan itu pintu utamanya seperti dirusak. Sialnya jalanan di komplek elit ini memang sepi.

Buru-buru Ishida keluar dari mobil dan langsung terbelalak kaget melihat penjaga pintu utama itu terkapar berlumuran darah dan suasana rumah yang tiba-tiba jadi porak poranda seperti habis kena angin topan itu.

Ada apa sebenarnya dengan rumah ini?

"ARRRGGGHHHHHHH! ARGGGGGGGGGGHH!"

Mata Ishida terbelalak mendengar jeritan itu. Jelas itu jeritan seorang perempuan. Dan Ishida mengenali suara itu. Tanpa banyak berpikir Ishida menelpon polisi dan ambulans sesegera mungkin untuk menangani tempat ini. untungnya ambulans pasti cepat tiba karena rumah sakit tempatnya bekerja ada di dekat sini. Tapi kalau polisi butuh waktu hingga setengah jam untuk tiba di sini. Tapi Ishida hanya berharap polisi akan segera tiba.

Ishida berlari menuju rumah bergaya Jepang kuno ini. terlalu banyak gedung dan Ishida tak tahu ada di gedung mana gadis mungil itu. Keadaannya sungguh tidak terkendali.

Tapi beruntungnya mata Ishida begitu awas hingga dia melihat sebuah pintu yang tidak dirusak tapi terbuka begitu lebar. Begitu menerobos masuk ke dalam ruangan itu, ternyata di sana, Rukia nyaris akan dibunuh oleh pedang oleh pria tak dikenal.

"KUCHIKI-SAN!" pekik Ishida.

Pria besar itu langsung terkesiap dan menghentikan aksinya. Ishida tak bisa bicara banyak melihat kondisi Rukia yang mengerikan itu. Apalagi sepertinya Rukia bertingkah aneh karena terus menjerit dan meronta saat seorang pria kurus menahannya di lantai.

"Kurang ajar! Malah ada pengganggu! Kuhabisi kau sekarang!"

Pria besar itu maju dan hendak menyerang Ishida. Tentu saja, gerak reflek dari Ishida lumayan bagus. Tidak sia-sia dia nyaris sering ikut berkelahi dengan Chad dan Ichigo. Astaga! Seharusnya Ichigo ada di sini! Kemana kepala orange itu sekarang!

Pria besar dan Ishida terlibat perkelahian yang cukup serius di dalam ruangan Rukia. Kamar Rukia jadi super berantakan seperti lebih dari kapal pecah saat ini. Ishida masih bisa menangani pria besar ini yang sepertinya tidak dirancang untuk berkelahi.

Pria kurus yang sedari tadi menahan Rukia itu akhirnya ikut membantu menangani Ishida. Seharusnya Ishida memancing orang ini keluar dulu. Bahaya kalau sampai mereka mengenai Rukia.

Tapi untungnya perkelahian itu tak berlangsung lama. Walau Ishida nyaris membuat dua pria aneh itu babak belur. Karena sirine ambulans tiba.

Mereka langsung kabur begitu saja.

Ishida bermaksud mengejar tapi akhirnya tidak jadi melihat kondisi Rukia yang aneh itu.

"Kuchiki-san!" panggil Ishida.

Tapi Rukia yang sekarang tampak bukan Rukia. Dia bertingkah aneh dan tidak bisa mengendalikan dirinya. Bahkan Ishida yakin sekarang ini Rukia tak mengenali dirinya. Rukia berkali-kali histeris melihat darah yang menempel di tangannya. Apalagi darah di pipi dan lehernya mengalir begitu saja.

"Kuchiki-san! Tenang! Kau bisa dengar aku?"

Percuma. Rukia tak berada dalam kondisi normalnya. Dia malah mengira Ishida adalah salah satu dari orang yang menyerangnya. Karena itu Rukia mendorong Ishida kencang dan memukulinya dengan sadis. Rukia juga mencakar Ishida secara membabi buta. Ishida berusaha melawannya, tapi tidak mungkin dia lakukan itu. Kini dia akhirnya mengerti kenapa Ichigo selalu ada di dekat gadis ini.

Tak lama kemudian, beberapa petugas rumah sakit membantu Ishida melepaskan Rukia yang masih mencengkeram Ishida untuk memukulinya dan mencakarnya sekuat tenaga. Rukia menjerit histeris dan memberontak sekuat tenaga. Bahkan tiga orang petugas runah sakit itu jadi kewalahan menghadapi Rukia.

Untungnya, setelah disuntik paksa dengan obat penenang, Rukia berhenti merontak dan berteriak lagi.

Setelah Rukia dibawa dengan ambulans dan diberi pertolongan pertama, polisi baru tiba di tempat dan menyelidiki siapa penyerang yang nyaris membunuh Rukia tadi.

Ishida sekarang juga ikut terluka. Bukan karena perkelahian tadi. Tapi karena cakaran Rukia di lengan dan wajahnya. Juga pukulannya yang begitu kuat di dada Ishida. Gadis itu benar-benar di luar kendali.

.

.

*KIN*

.

.

"Kau mau langsung pulang Inoue?"

Setelah pukul tujuh malam, mereka akhirnya selesai jalan-jalan. Sebenarnya mereka keluar dari Disneyland itu jam lima sore, tapi karena bertemu Keigo tak sengaja di jalan, mereka jadi minum sake dulu sebentar. Lalu, Keigo mendapat telepon dari kakaknya dan terpaksa mengakhiri nostalgia mereka.

"Mm... Kurosaki-kun sudah mau pulang juga?" tanya Orihime balik. Entah kenapa setelah hari ini rasanya mereka berdua makin terasa dekat. Setidaknya itulah yang Orihime rasakan sekarang.

"Tidak. Aku mau mampir dulu ke rumah Rukia. Kau mau ikut?"

Rumah Rukia...

Ternyata Ichigo tetap ingin bertemu gadis itu.

"Apa aku boleh ikut?"

"Tentu saja boleh. Rukia pasti senang kau berkunjung. Lagipula ini kan belum terlalu malam. Dia pasti masih menonton film Chappy-nya yang aneh itu. Kita juga bisa memarahinya karena menjebak kita hari ini."

"Begitu? Tapi... aku senang hari ini. Karena Kuchiki-san sudah menjebak kita."

Ichigo nyarisa saja menghentikan mobilnya dengan mendadak ketika sekilas melihat wajah Orihime yang menunduk malu itu. Apa yang dipikirkannya? Apa pula yang dipikirkan oleh Ichigo?

Mereka tiba di komplek elit itu.

Tapi ada yang aneh di sana. Ada beberapa warga yang melintas di depan rumah Rukia. Dan anehnya, ada sebuah garis kuning yang berderet di sana. Panik, Ichigo tanpa mematikan mesin mobilnya langsung keluar secepat kilat, mengabaikan Orihime yang bertanya panik ke arahnya pula.

Pintu utama mansion ini dirusak begitu parah. Ichigo ingin berlari masuk ke dalam, tapi ternyata masih ada polisi di sana yang sedang melakukan pemeriksaan tempat.

"Maaf. Anda dilarang masuk wilayah TKP," cegah seorang polisi ketika Ichigo akan memasuki mansion itu.

"Apa... apa yang terjadi di sini? Dimana... dimana Rukia? Apa yang terjadi?" tanya Ichigo panik sekaligus cemas. Ini terlalu mendadak.

"Maksud anda pemilik rumah ini? Nona itu sudah dibawa oleh ambulans ke rumah sakit terdekat."

Ichigo tak bisa berpikir jernih. Kenapa sampai ada di rumah sakit? Apa yang terjadi? Apa Rukia kumat kembali? Kalau dia kumat kenapa sampai ada polisi yang datang?

Tidak mungkin Rukia yang kumat sampai keluar dari rumahnya dan mencelakai orang kan?

Panik, cemas, gelisah, takut... semua perasaan itu berkumpul jadi satu dalam kepala Ichigo.

Sambil memukul setir mobilnya dengan kencang Ichigo jadi kesal sendiri. Kenapa dia tidak ada di saat seperti itu! Apa yang bisa dia lakukan sekarang ini? dia bahkan gagal menjadi dokter sekaligus menjadi teman di saat Rukia sangat membutuhkannya!

Dan Orihime masih bingung dan tidak berani bertanya lebih banyak ada apa ini sebenarnya setelah melihat ekspresi Ichigo yang begitu menakutkan.

.

.

*KIN*

.

.

Ichigo berlari menyusuri rumah sakit itu. Rumah sakit terdekat yang berada di dekat rumah Rukia hanyalah rumah sakit Karakura tempatnya bekerja ini.

Ichigo terus berlari panik mencari dimana kamar rawat Rukia. Pasti saat ini gadis itu sedang tak terkendali dan butuh dirinya! Apa yang dilakukannya hari ini malah main-main seenaknya tanpa memikirkan Rukia!

"Ishida!"

Beruntungnya Ishida baru saja keluar dari sebuah ruangan. Ketika Ichigo mendekat, wajah pria itu tampak aneh. Tapi Ichigo tak peduli itu.

"Kau tahu dimana Rukia? Apa kau yang merawat Rukia? Dimana dia? Dimana Rukia sekarang?" tanya Ichigo tak sabar.

"Apa yang kau lakukan dari tadi hah! Kau bahkan tidak tahu kalau Kuchiki-san hampir mati dibunuh orang!"

Di... bunuh... orang?

"Ap-apa maksudmu? K-kenapa Rukia... dibunuh? Jelaskan padaku Ishida!"

Wajah Ishida tampak mengeras dan menahan diri untuk tidak langsung menghajar orang ini karena tidak ada di tempat saat temannya benar-benar membutuhkannya.

"Selama ini percuma saja kalau setiap hari kau ada di dekatnya tapi sama sekali tidak tahu kondisi dan keadaannya! Di saat genting seperti tadi saja kau tidak ada untuk menolongnya! Kalau aku tidak datang, Kuchiki-san benar-benar akan mati kau tahu!"

"KATAKAN YANG JELAS ISHIDA! JANGAN BERBELIT BEGINI! ADA APA DENGAN RUKIA?" teriak Ichigo sambil mencengkeram kerah kemeja dokter berambut biru itu.

Tatapan kesal Ichigo beradu dengan tatapan sinis dari Ishida. Merasa tindakan Ichigo tadi begitu konyol karena Ishida malah diam sambil memandang sinis padanya, Ichigo melepaskan cengkeraman kemeja Ishida.

"Kumohon... katakan sesuatu. Aku hampir mati karena panik kau tahu. Katakan saja ada apa dengan Rukia? Bagaimana keadaannya sekarang?" pinta Ichigo memohon.

Akhirnya Ishida mengalah setelah melihat dokter berambut orange ini nyaris frustasi.

"Aku tidak tahu detilnya. Tapi hari ini aku hanya diminta Kuchiki-san untuk mengantarkan obat yang dimintanya. Katanya obatnya habis dan tidak ada yang bisa diminta tolong. Katanya lagi kau dan Inoue-san sibuk. Makanya setelah membeli obat aku langsung ke rumahnya. Tapi tidak tahunya, Kuchiki-san hampir dibunuh orang aneh yang tidak jelas. Saat ini polisi sedang menyelidikinya. Penjaga yang seharusnya menjaga pintu mansion itu juga dibunuh," jelas Ishida.

Ichigo lagi-lagi terdiam. Dia tak tahu kenapa ini bisa terjadi. Apakah ini... ada keterkaitan soal kasus beberapa waktu lalu? Yang jadi penyebab mengapa Rukia seperti ini?

"Apa... apa Rukia baik-baik saja?" tanya Ichigo ragu. Mana mungkin Rukia bisa baik-baik saja.

"Tidak. Saat dua pria tak dikenal itu mendengar bunyi ambulans, mereka langsung kabur. Kupikir, ekspresi ketakutan yang ditunjukkan oleh Kuchiki-san karena dia takut saat hampir dibunuh. Tapi ternyata bukan itu. Dia terus bertingkah seperti orang gila dan menyerang siapa saja yang ada di dekatnya. Dan ketika aku memeriksanya tadi, Kuchiki-san sedang sakit jiwa."

"Tidak! Rukia tidak sakit jiwa Ishida! Dia hanya... dia hanya sakit..."

"Kau adalah seorang dokter Kurosaki. Kondisi Kuchiki-san itu sudah tidak tertolong lagi! Setiap kali dia kumat maka dia akan bertindak di luar batas! Kau sudah tahu ini akan terjadi bukan? Kenapa kau tidak membawanya ke rumah sakit untuk direhabilitasi tapi malah membiarkannya di rumah saja!" bentak Ishida.

Ichigo memang tahu kondisi Rukia. Tapi dia hanya berpikir kalau Ichigo bisa menangani. Selama Rukia tidak diingatkan oleh kondisi yang bisa memicu kumatnya, Rukia akan baik-baik saja. Ichigo hanya berpikir seperti itu.

"Kalau kau tetap membiarkannya seperti ini, Kuchiki-san bisa benar-benar gila kau tahu? Cepat atau lambat, dia harus segera mendapatkan rehabilitasi. Tenang saja. Kau masih bisa merawatnya. Hanya kali ini dengarkan aku. Biarkan Kuchiki-san masuk rumah sakit untuk rehabilitasi itu. Kau ingin dia sembuh kan? Kau ingin dia normal kembali kan?"

Ichigo merasa bersalah karena kali ini dia tidak bisa melakukan sesuatu untuk gadis itu. Bahkan Ichigo tidak tahu kalau Rukia nyaris dibunuh.

"Kupikir setelah dia sadar nanti, dia akan segera membaik. Tapi... untuk berjaga-jaga akan kondisinya, beberapa perawat tadi mengikatnya. Hanya untuk memastikan dia tidak akan kumat. Jika dia sudah bisa mengendalikan dirinya, ikatan itu akan segera dilepas. Sebaiknya kau bicarakan hal ini dengannya. Aku juga akan membantumu. Percayalah."

Ishida menepuk pundak Ichigo dan meninggalkan Ichigo setelah menunjuk kamar rawat Rukia. Rasanya Ichigo tak punya muka lagi untuk menemui gadis itu. Alasan apa yang bisa membuat Rukia memaafkannya karena tidak ada di saat penting seperti itu?

Pelan-pelan, Ichigo membuka pintunya dan mendapati gadis itu tengah tertidur lelap dengan kedua tangannya yang diikat di sisi ranjang. Bagaimana hati Ichigo tidak terenyuh melihat kondisi gadis mungil itu? Ini benar-benar salahnya.

Ichigo tidak tega. Karena itu, dengan nekat Ichigo melepaskan ikatan tangan Rukia di sisi ranjangnya. Kemudian menggenggam salah satu tangan kecil itu dengan kedua tangannya. Jika yang Ishida takutkan saat Rukia bangun nanti dia masih kumat, Ichigo akan siap menerimanya. Dia tak peduli jika nanti Rukia akan membunuhnya kalau sampai dia masih tidak bisa mengendalikan dirinya.

Hati Ichigo kembali terasa diiris ketika melihat luka di wajah cantik Rukia dan perban yang melilit di lehernya. Apa yang sudah terjadi sebenarnya?

"Maafkan aku Rukia... kumohon maafkan aku," lirih Ichigo sambil tetap membelai lembut wajah cantik Rukia yang tertidur itu.

.

.

*KIN*

.

.

Orihime memang menyaksikan pertengkaran Ishida dan Ichigo tadi. Dia juga tak punya keberanian untuk memisahkan mereka. Apalagi dengan kondisi Ichigo yang tampak begitu marah dan frustasi.

Setelah Ishida meninggalkan Ichigo, pria itu masuk ke dalam sebuah ruangan.

Dari celah pintu itu, Orihime bisa melihat seperti apa sikap pria itu pada Rukia.

Sejak awal memang tidak ada celah untuk Orihime. Apa yang dia pikirkan seharian ini? kenapa dia begitu jahat? Seharusnya ketika Rukia melarangnya memberitahu Ichigo, harusnya Orihime memberitahu Ichigo saja agar kejadian ini tidak pernah terjadi. Entah kenapa beberapa saat waktu itu, Orihime terlalu egois.

Ternyata Rukia lebih membutuhkan Ichigo dibanding dirinya.

.

.

*KIN*

.

.

TBC

.

.

Hmm... Hola?

apa masih ingat sama fic ini? heheheh... mendadak jadi pengen update. hmm... sebenernya fic ini udah lama pengen saya update. tapi belum dapet ide. well, kalo ceritanya jadi membosankan maaf ya, karena emang ini alur yang mesti saya buat. dan kalo rada gak enak liat adegan Ichihime yaa... ya sebenernya itu juga tuntutan skenario. tapi tenang ada, mulai chap depan cuma bakal ada Ichiruki kok. hehhe

balas review dulu...

ChappyBerry Lover : makasih udah review senpai... heheh ya udah saya update.. maaf kalo malah lama. hoho

Diarza : makasih udah review senpai... jangan panggil saya senpai. Kin gak papa kok. heheh iya nih masa lalu Ruki bakal dibahas chap mendatang heheheh

Ray Kousen7 : makasih udah review Ray... makasih heheheh, gak segitu juga kok, ehmm kayaknya mulai chap ini jadi OOC tingkat akut deh... heheeh nih udah update hehehe

c-nyo nyo : makasih udah review senpai... heheh gak papa kok... nih udah update... hehehe

Himetarou Ai : makasih udah review senpai... hehehe nih udah update... LastRose masih proses... tungguin yaa

Nyia : makasih udah review senpai... heheh nih udah update...

lola-chan : makasih udah review senpai... heheh yah emang skenarionya begitu sih, iya dong bakal Ichiruki. hmm... kayaknya mulai chap ini udah jadi OOc tuh, buktinya Ichi pegang tangannya Ruki tadi... hehehe

yosh. makasih yang udah berpartisipasi ama fic ini. sekali lagi saya ucapkan terima kasih banyak-banyak. hehehe

Oh ya, kalo fic ini masih ingin dilanjutkan, mohon reviewnya yaa.. apa masih layak lanjut ato nggak. karena sekali lagi, belakangan ini saya ingin men-discontinue kan beberapa fic saya. bisa jadi saya hapus atau hanya saya labeli discontinue. heheh jadi saya butuh saran semua senpai, apakah fic ini termasuk yang mesti saya dicontinue? hehehe

ok deh, review sangat ditunggu.

Jaa Nee!