Annyeong ^^
Kembali bersama saya ~
Nah, chapter kali ini ceritanya flash back, krn di part 2 kesannya Jimin ngingat suatu kejadian kan ya ... (A! perlu diingat, Jimin dicrita ini ga berotot sama sekali hehe badannya tentu jd lebih mungil, trus tingginya aku bayangin jd beda 2 atau 3 centi gitu dr Suga ... )
Selamat Membaca ^^
.
.
Sesuatu tiba-tiba mencengkram lengan Jimin. Belum sempat ia bertanya-tanya dirinya tlah ditarik ke dalam dekapan seseorang yg sedikit lebih tinggi darinya.
Part. 3 Pertemuan pertama Min Yoongi dan Park Jimin, 22 November 2015
Jimin melongo. Siapa yg tiba-tiba memeluknya di tengah keramaian begini. Namun Jimin yg polos hanya bertanya-tanya dalam hati dan lebih memilih untuk menunggu orang asing ini menjelaskan sesuatu.
Lama mereka berpelukan, bahkan semakin erat.
"Tae Heeya, ke mana kau selama ini? Apa yang terjadi padamu? Apa kau tahu betapa oppa mengkhawatirkanmu?"bisik orang asing itu bergetar. Suaranya terdengar berat dan menyedihkan sekali, Jimin mulai merasa bingung dibuatnya. Meski ia belum sempat melihat jelas wajah pemuda ini, Jimin yakin suara pemuda ini terdengar asing baginya.
"Maaf, apa saya mengenal anda?"tanya Jimin hati-hati.
Orang asing itu langsung melepas pelukannya. Dengan tatapan khawatir ia menilik setiap sudut tubuh Jimin, "apa kau baik-baik saja? Kau tidak terluka kan?"tanyanya mengabaikan pertanyaan Jimin.
Jimin menatap lekat pemuda berkulit pucat yg kini meraba kepalanya, bahunya, punggungnya, kakinya bahkan mengarahkan Jimin untuk berputar memastikan sesuatu. Jimin semakin bingung, ia benar-benar tidak mengenal siapa pemuda ini.
"Maaf, apa saya mengenal anda?"ulang Jimin.
Pemuda itu hanya diam. Ia tersenyum sendu dan mengelus lembut pipi Jimin, "aku bersyukur kau baik-baik saja,"ujarnya memeluk kembali tubuh Jimin.
Lagi, Jimin hanya bisa menyatukan kedua alisnya. Jujur, ia sama sekali tidak mengenal siapa pemuda pucat ini. Jimin lalu berpikir keras, apa barangkali dirinya yang telah melupakan seseorang.
Dan kemudian mata Jimin terbelalak. Napasnya tercekat menyadari sesuatu.
Bbzzt bbztt
Pemuda itu melepas pelukannya dan segera merogoh saku jaket, "iya, iya. aku akan ke sana,"ujarnya mulai melangkah pergi seraya menarik tangan Jimin tanpa persetujuan, "maaf, Tae Heeya, kau ikut ke tempat parttimeku dulu ya,"lanjutnya setelah menutup panggilan.
Jimin terpaku, menghentikan langkah orang di depannya. Ia baru ingat sekarang.
Min Yoongi, pemuda di hadapannya adalah Min Yoongi. Seseorang yang sedang diawasi Hoseok. Pemuda yang diduga telah membunuh keluarganya sendiri.
"Tae Heeya?"tanya Yoongi tanpa melepas genggamannya.
Jimin menelan ludah. Kantung belanjaannya bahkan terjatuh. Kepalanya merunduk dengan tatapan ketakutan. Tubuhnya mulai gemetar. Ingin rasanya ia berlari sejauh mungkin namun kakinya terlanjur terlalu gamang untuk bergerak seinci pun.
Apa? Apa yg diinginkannya dariku? Batin Jimin cemas. Jangan-jangan dia tau Hoseok-hyung mengawasinya. Darimana dia tau kalau aku kenalan Hoseok-hyung?
"Tae Heeya, kau tidak apa-apa hm?"Yoongi melepas genggamannya, melihat heran apa yang dijatuhkan Jimin, "kau kenapa, Tae Heeya? Aku hampir terlambat, kita harus cepat sampai di sana,"ujarnya memungut kantong berisi tiga kotak susu yang tergeletak di samping Jimin itu.
Jimin masih tetap mematung. Ia menutup erat kedua matanya, Hoseok-hyung. Di mana Hoseok-hyung?
"Kau tidak apa-apa Tae Hee ya? Apa kau sedang sakit? Apa kita harus ke dok-"
Mata Jimin membulat. Seseorang menariknya paksa. Seseorang yang bukan Yoongi. Lelaki berhoodie hitam yang kemudian meliriknya sebentar lalu kembali fokus menerobos keramaian.
Jungkooksshi! pekik Jimin dalam hati sambil berusaha menyamai kecepatan larinya dengan Jungkook.
"Tae Hee!"teriak Yoongi langsung mengejar mereka berdua, "TAE HEE!"
Jungkook semakin cepat berlari sedang Jimin mulai terseok mengikutinya.
"Pardon me Jiminsshi."
"Eh? Waaa!"
Jimin merona malu, dia laki-laki dan umurnya sudah 19 tahun, kenapa kini ia harus digendong seperti ini oleh seseorang yang lebih muda darinya.
Masih sambil berlari, dengan sigap Jungkook mengangkat tubuh mungil Jimin dan menyanderkannya di bahu kiri. Merangkul erat pinggang ramping Jimin dengan kedua tangannya, Jungkook kini berlari semakin kencang, "akan semakin cepat jika seperti ini,"jelasnya untuk Jimin yang tadi sempat merasa malu kemudian beralih memperhatikan Yoongi yang masih berusaha keras mengejar mereka berdua.
"TAE HEE! HEI! Siapa kau brengsek?! Tae Hee! Sial! Tae Hee!"
Jimin menatap lekat sosok Yoongi yang semakin lama semakin tak terlihat. Kemudian benar-benar tak tampak lagi tergantikan keramaian yang satu per satu mulai memperhatikan mereka berdua. Seorang lelaki mengendong lelaki lainnya seperti membawa karung sambil berlari sekencang mungkin, tentu pemandangan yang cukup menarik perhatian bagi khalayak ramai.
Tetap dengan kecepatan yang sama dan Jimin dalam gendongannya, kemudian Jungkook berbelok ke sebuah gang kecil. Menelusuri gang-gang yang lebih sempit, lari Jungkook mulai melambat dan berubah menjadi langkah-langkah kecil. Seraya mengatur napas, akhirnya Jungkook menoleh ke arah belakang. Hanya ada ia dan Jimin sekarang.
Hati-hati Jungkook menurunkan Jimin, "kau tidak apa-apa?"tanyanya tanpa melihat Jimin, perhatiannya masih terfokus pada arah ia datang tadi.
Jimin mengangguk cepat, matanya memperhatikan keringat dan ekspresi letih Jungkook, "anda sendiri tidak apa-apa Jungkooksshi?"
Jungkook menjawab dengan isyarat tangan, mulutnya masih sibuk mengatur napas.
"Yang tadi Min Yoongi,kan?"tanya Jimin cemas.
Jungkook menghembuskan napas panjangnya yang terakhir, "ya, dia Min Yoongi,"jawabnya mulai melangkah dan mengarahkan Jimin mengikutinya, "kau pasti takut sekali tadi. Maaf, tidak cepat-cepat membawamu pergi, kami ingin memastikan sesuatu terlebih dahulu."
Wajah Jimin masih belum berubah, tetap dengan ekspresi yang benar-benar bingung akan apa yang sebenarnya terjadi, "apa, apa yang diinginkan Min Yoongi dariku?"lirihnya penuh khawatir, "dia memanggilku Tae Hee dan apa maksud anda ingin memastikan sesuatu?"
"Kita akan membicarakannya nanti,"balas Jungkook, "sepertinya kau baru saja terlibat dalam kasus kami kali ini, Jiminsshi."
"Eh?"
Sebentar Jungkook melirik Jimin,"tenang saja, tak ada yang perlu kau takutkan,"ujarnya menenangkan.
Jimin hanya mengangguk pelan. Kembali Jungkook melirik ke arah Jimin, entah mengapa ia merasa tak enak melihat pemuda manis di sampingnya memiliki ekspresi seperti itu.
"Jiminsshi."
"Ya?"
"Ngomong-ngomong, kau berat sekali ya."
"Eh?"
"Ya, kau berat sekali. Bahu kiriku seperti mau copot rasanya."
"Jeo, jeo, jeosonghamnida!"
.
.
"Hoseok-hyung, sekarang Jimin sudah aman bersamaku."
"Ya! Kau akan ke mana hah? Jangan bilang kau akan ke tempat Namjoon saat ini juga!?"
"Semakin cepat semakin baik, kan, Hyung?"
"Jeon Jungkook! Kau pikir aku mengizinkannya hah!"
"Hyung, aku akan menelpon lagi nanti."
"YA! HEI! Jeon Jungk-"
Jungkook menutup teleponnya, "hapemu mana?"tanyanya pada Jimin.
"Aku hanya membawa dompet."
"Oh, baguslah. Karna aku sudah memblokir panggilan dari Hoseok-hyung, pasti sekarang dia sibuk menelpon nomormu."
"Kita akan ke mana Jungkooksshi?"
"Kantor polisi."
"Eeh? Kenapa anda membawaku-"
"Aku akan langsung saja Jiminsshi,"potong Jungkook menatap Jimin disampingnya, kebetulan sekali saat ini traffic jam menyalakan lampu merah dan ucapan yang akan Jungkook katakan memang membutuhkan perhatian lebih untuk lawan bicaranya, "apa kau bersedia membantu kami, dengan menyamar sebagai adik Min Yoongi?"tanya Jungkook serius.
Jimin menautkan kedua alis dan terdiam cukup lama. Ia menatap lekat Jungkook yang sudah kembali fokus pada jalan raya, "anda ingin aku menyamar sebagai adik Min Yoongi?"tanya Jimin membeo, pertanda masih belum begitu mengerti akan permintaan Jungkook.
"Kasus ini dimulai sekitar sebulan yang lalu. Sedangkan penyelidikan kami baru berjalan selama dua minggu kurang. Dan kedatanganmu ke Seoul, tiga hari yang lalu kan,"jelas Jungkook.
Jimin mengangguk kecil lalu bersiap mendengarkan dengan pandangannya yang tak terlepas ke arah Jungkook.
"Kau tau, sebenarnya ide ini sudah muncul saat kedatangan pertamamu ke tempat kami,"lanjut Jungkook, "wajahmu memang sudah cukup familiar bagiku, Hoseok-hyung tak pernah bosan memamerkan foto-fotomu padaku, bahkan pada semua orang di kantor, tapi aku tak sedikitpun mengira bahwa kau ternyata memiliki wajah yang sangat mirip dengan Min Tae Hee, adik Min Yoongi. Baru ketika aku bertemu langsung denganmu, sebuah ide tiba-tiba muncul.
Fakta bahwa kalian memiliki wajah yang sangat mirip dan dirimu yang bisa saja menyamar sebagai Min Tae Hee membuatku memikirkan sebuah rencana yang mungkin saja dapat membantu penyelidikan kami. Tapi, saat itu aku hanya berandai-andai. Apalagi, yah, kuakui kau memang manis Jiminsshi, tapi kau laki-laki dan Min Tae Hee perempuan."
Jimin tetap menyimak secara serius.
"Dan boom!"ucap Jungkook berapi-api, "hari ini, secara luar biasa, dan tidak kami sengaja, kau yang baru saja keluar dari mini market bertemu dengan Min Yoongi yang sedang kami awasi tak jauh dari sana. Untung aku langsung mencegah Hoseok-hyung, kalau tidak dia akan merusak kesempatan langka ini."
Jungkook berhenti sejenak, untuk lebih fokus membelokkan strir dan mengemudikan mobil diperempatan jalan, "aku yang semulanya berandai-andai,"lanjutnya lagi, "kemudian yakin setelah melihat bagaimana Min Yoongi bersikap padamu. Well, sebenarnya aku masih penasaran perlakuan Min Yoongi selanjutnya. Tapi, itu saja sudah cukup, apalagi kau terlihat sangat ketakutan, Hoseok-hyung memukulku, dan aku ingin cepat-cepat membawamu ke tempat Namjoon. Nah, kita sudah sampai,"Jungkook membawa mobil memasuki gerbang kantor polisi, "aku ingin kau ikut denganku."
"Tunggu, Jungkooksshi,"akhirnya Jimin bersuara, membuat pegangan Jungkook pada pintu mobil terhenti.
"Ne?"
"Min Tae Hee sudah meninggal, kan? Kenapa sekarang malah."
"Ah! Kau hanya tau Hoseok-hyung sedang mengawasi seseorang bernama Min Yoongi ya. Seseorang yang diduga telah membunuh keluarganya sendiri. Kau tidak tidak tahu bagian mana yang membuat kami repot ya?"
Jimin mengangguk, "ne, hanya itu yang aku tahu."
"Well, Hoseok-hyung memang tak perlu menceritakan semua sih padamu."
"Ne."
"Yang jelas kita masuk dulu, di sana aku akan menjelaskan semuanya, Jiminsshi."
.
.
Jungkook menyodorkan segelas air putih untuk Jimin lalu menautkan erat sepuluh jarinya di atas meja, "aku akan menjelaskannya dengan caraku, Jiminsshi. Aku harap kau lebih mudah mengerti dari pada membaca berkas-berkas kepolisian."
Jimin memperbaiki posisi duduknya setelah minum beberapa tegukan. Ia menatap Jungkook di depannya, bersiap untuk mendengarkan.
"Seperti yang kau ketahui, aku dan Hoseok-hyung sedang mengawasi seorang pemuda bernama Min Yoongi,"mulai Jungkook, "dia seorang mahasiswa. Adik perempuan dan ayahnya dikabarkan telah menghilang sekitar sebulan yang lalu. Kami baru mendapat laporan dari pihak sekolah tiga minggu yang lalu, dan penyelidikan yang resmi baru dimulai sejak dua minggu lalu.
Kita akan mulai dengan Min Tae Hee, siswi kelas 2 SMA Herin High School. Sekolah Min Tae Hee adalah sekolah berasrama, sebulan lalu dia meminta izin pulang selama dua hari, dengan alasan masalah keluarga yang mendesak. Namun semenjak itu dia dikabarkan tidak kembali lagi hingga sekarang. Min Tae Hee adalah remaja ceria, manja dan dikenal baik oleh teman-teman dan gurunya. Sikap dan prilakunya hangat dan perhatian, tidak memiliki masalah di lingkungan sekolah maupun asramanya. Tapi teman-teman dekatnya cukup tahu, Min Tae Hee memiliki masalah keluarga yang cukup berat.
Min YonHwa, 40 tahun. Pegangguran, pemabuk dan penjudi. Istrinya meninggal 10 tahun yang lalu. Lelaki ini setiap harinya hanya mabuk dan menghabiskan uang untuk berjudi. Lingkungan sekitarnya tidak terlalu memperdulikannya, perumahan dengan tipikal terlalu sibuk dengan urusan masing-masing. Dia memang memiliki hutang disana sini, tapi tidak sampai pada rentenir dunia belakang ataupun gangster. Dia dikenal sangat kasar dan mudah main tangan pada anak-anaknya namun selalu lolos dari Lembaga Perlindungan Anak, karena anak sulungnya, Min Yoongi, merupakan seseorang dengan pribadi yang sangat tertutup dan mandiri serta tidak suka orang lain mencampuri dan mengasihani masalah keluarganya.
Min Yoongi, 21 tahun, mahasiswa tahun akhir Jurusan Filsafat Universitas S. Pribadinya sangat tertutup, tidak pernah terlihat bersama seorang temanpun. Tidak mengikuti kegiatan apapun di kampus. Nilainya cemerlang, siswa berprestasi saat SMP dan SMA. Kesehariannya sekarang adalah kuliah dan sibuk part time sana sini untuk membiayai kehidupannya dan Min Tae Hee serta melunasi hutang ayahnya. Tinggal di kosan murah, sejak rumahnya masih kami jadikan sebagai TKP.
Nah, sekarang aku akan menjelaskan bagian mana yang membuat kami sangat repot, Jiminsshi."
Jimin masih tetap menyimak dengan baik meski ekspresinya sekarang perlahan berubah menjadi sedikit tegang.
"Sejak Min Tae Hee absen, pihak sekolah langsung menghubungi keluarganya. Namun tak ada kabar dari ayah ataupun oppa-nya. Wali kelas dan ibu asramanya memutuskan untuk mengunjungi rumah Min Tae Hee. Di sana mereka hanya bertemu dengan Min Yoongi, yang mengaku bahwa Min Tae Hee tidak pernah pulang sejak libur terakhir. Min Yoongi berbohong, karna berdasarkan kesaksian petugas kebersihan, Min Tae Hee masih membuang sampah rumahnya dua hari berturut-turut. Min Tae Hee gadis supel, padahal bisa saja kita hanya menaruh sampah di depan rumah, tapi selama ini Min Tae Hee terkadang sengaja menunggu petugas datang untuk sekedar menyapa mereka. Saat itu pihak sekolah tentu belum mengetahui fakta ini.
Yang membuat wali kelasnya memutuskan untuk melapor pada polisi adalah, Min Tae Hee sudah tidak kembali selama seminggu dan panggilan terakhir darinya untuk Hyorin, sahabat terdekatnya, terdengar seperti suara ribut ayah dan oppa-nya tengah bertengkar hebat, bahkan telpon terputus dengan Min Tae Hee yang seolah-olah kemudian terlibat dalam pertengkaran itu. Dari sini kita memulai pencarian seorang Min Tae Hee.
Kami langsung bergerak ke rumahnya, di sana hanya ada Min Yoongi, kami tidak menemui ayahnya, dia bilang ayahnya pergi ntah ke mana. Seperti pengakuannya kepada pihak sekolah, dia tidak tahu menahu keberadaan Min Tae Hee, bahkan ia sendiri juga sedang mencari tahu di mana sebenarnya Min Tae Hee berada. Kau tau, polisi yang datang ke rumah dan menanyai Min Yoongi adalah aku. Tak terlihat kebohongan sedikitpun dari Min Yoongi, apa-apa yang aku tangkap dari perkataannya adalah sebuah kejujuran. Saat itu kami hanya bisa bergerak sebatas itu, setalah itu kami memulai pencarian di mana-mana dan kami memutuskan untuk mencari keberadaan sang ayah juga. Nihil. Min Yonhwa dan Min Tae Hee tidak di temukan di manapun.
Tiga hal yang membuatku mengajukan kasus ini tidak sekedar sebagai pencarian orang hilang biasa, kekerasan dalam keluarga Min Yoongi, Min Yonhwa dan Min Tae Hee yang sama-sama menghilang dan terakhir, jejak darah di kamar mandi rumahnya."
Jimin menahan napasnya sebentar. Kata darah membuatnya menelan ludah, tautan jemarinya kini jauh lebih erat dari Jungkook.
"Aku sengaja meminjam toilet untuk sekedar melihat lebih jelas keadaan rumah keluarga Min. Rumahnya tak terlalu rapi, dan ada beberapa sudut yang sedikit berantakan, namun cukup bersih. Di kamar mandi, tercium aroma darah manusia pada lubang pembuangan wastafel. Hanya sekilas. Sedikit sekali, bahkan tak akan tercium jika aku tidak benar-benar menempelkan hidung dan menghirup napas dalam-dalam di lubang itu. Pekerjaanku memang seperti ini, Jiminsshi, harus memikirkan segala kemungkinan yang ada. Sedangkan pada lubang pembuangan bathtub tidak tercium sama sekali. Dan tidak ditemukan hal aneh lainnya di sana.
Tentu aku ingin menanyainya lebih lanjut dan sekedar berdalih agar bisa ke dapur ataupun ke kamar Min Tae Hee. Tapi berdasarkan pengakuan Min Yoongi, adiknya tak pernah pulang sejak libur terakhir dan tidak terjadi masalah serius dalam keluarganya, akan sedikit mencurigakan jika kami berniat menyelidiki rumahnya, kan. Dan perlu anda ketahui Jiminsshi, saat pertama kali bertemu Min Yoongi, entah mengapa aku merasa yakin bahwa aku dihadapkan pada seseorang yang cukup cerdas dan sangat lihai menyembunyikan sesuatu. Serta instingku mengatakan bahwa sebenarnya Min Yonhwa dan Min Tae Hee telah meninggal.
Di sini aku memutuskan untuk bergerak sebatas itu, jika terlihat sedikit lebih jauh saja, maka Min Yoongi akan semakin mengunci petunjuk-petunjuk dalam kasus ini,"Jungkook melepas tangannya dari atas meja, menyandarkan punggung pada kursi dan sekali mendesah kasar karna sudah menjelaskan panjang lebar, "sampai di sini, apa kau sudah mengerti Jiminsshi?"
Jimin langsung mengangguk sedang Jungkook melepas sandarannya kembali, agar lebih dekat dengan Jimin yang di seberangnya.
"Nah, beberapa hari kemudian, surat penggeledahan rumah Min Yoongi secara resmi dikeluarkan,"lanjut Jungkook, "tak ditemukan apapun, bahkan sejauh ini kami sudah membongkar halaman dan lantai rumahnya. Tak ditemukan bercak darah ataupun hal-hal lain yang menunjukkan adanya insiden pembunuhan di rumah itu. Well, kami memang terlambat saat memeriksanya. Tapi, kami tetap membawa Min Yoongi ke kantor polisi, masih sebagai saksi tentunya, aroma darah yang hanya tercium olehku, kesaksian Hyorin tanpa adanya rekaman telpon, dan bukti-bukti lain yang masih terlalu lemah belum bisa dijadikan alasan untuk menahan Min Yoongi.
Dan, agh! Pengara Lee! Dia hebat sekali. Agar lebih mengamankan statusnya, Min Yoongi sengaja meminta Lembaga Bantuan Perlindungan Hukum untuk menyediakan jasa seorang pengacara. Kebetulan sekali Min Yoongi mendapatkan bantuan pengacara yang cukup hebat. Karna itu Min Yoongi sampai sekarang sudah tidak berurusan lagi dengan kami.
Tapi, aku yakin, Jiminsshi. Dua orang yang sedang kami cari ini sudah menjadi mayat entah di mana, instingku selalu benar, dugaanku memiliki dasar, meskipun terlalu lemah, dan terakhir Hoseok-hyung serta Namjoon-hyung mempercayaiku. Karena itu Namjoon-hyung menugaskan aku dan Hoseok untuk mengawasi Min Yoongi. Berdasarkan keyakinan ini, makanya kami mengaku padamu bahwa kami sedang mengawasi seseorang yang diduga telah membunuh keluarganya sendiri. Ah! Aku lupa mengatakannya, kami hanya mencurigai MIn Yoongi membunuh ayahnya, tidak adiknya.
Hubungan kakak adik ini sangat dekat, mereka berdua saling menyayangi satu sama lain. Memiliki ayah yang seperti itu, membuat Min Yoongi pasti sangat melindungi dan menyayangi adik sematawayangnya. Kesimpulanku sementara adalah malam itu Min Yoongi bertengkar hebat, sampai-sampai sang adik ikut terlibat dan malah menjadi korban ayahnya sendiri, dalam pikiran kalut Min Yoongi langsung membalas dendam dengan membunuh ayahnya sendiri.
Nah, mengenai ideku yang tiba-tiba muncul ketika kau datang. Begini, Min Yoongi mengaku adik dan ayahnya masih menghilang, kan. Nah, bagaimana jika adiknya tiba-tiba muncul dihadapannya? Bagaimana ia harusnya bersikap? Apa yang pertama kali ia lakukan? Dari sana kita akan tahu apa yang sebenarnya terjadi dalam keluarga Min, kan. Itu yang mendasari ideku, tapi well seperti yang sudah aku katakan meskipun kau sangat manis, kau itu laki-laki, semirip apapun kalian tentunya Min Yoongi tidak akan salah dalam membedakan.
Tadi aku sudah katakan bahwa Min Yoongi memiliki pribadi yang sangat tertutup kan, aku mengira karena itulah dia lebih memilih menyembunyikan kematian ayah dan adiknya dari pada melapor pada polisi dan berdalih bahwa apa yang dia lakukan murni sebagai bentuk perlindungan diri.
Namun, setelah melihat pertemuan kalian yang benar-benar diluar perkiraanku. Di mana Min Yoongilah yang menghampirimu duluan dan tanpa aba-aba langsung memelukmu, mendekapmu sangat erat bahkan setelah memperhatikan benar setiap jengkal tubuhmu dia masih saja mengira kau adalah adiknya. Ketika itu sesuatu yang lain langsung terlintas dipikiranku, Jiminssi.
Seorang Min Yoongi sepertinya mengalami trauma yang sangat berat pasca kematian adiknya dan menganggap adiknya masih hidup. Orang waras tak akan salah membedakanmu dengan perempuan, dan Min Yoongi malah salah mengira kau adalah adik perempuannya yang sangat ia sayangi yang tentunya sangat ia kenal seumur hidupnya. Di sini aku langsung memutuskan, aku harus membawamu ke hadapan Namjoon-hyung dan kami harus secepatnya menyusun sebuah rencana baru."
.
.
TBC
Gamsahamnida! yang udah baca sampai sini
Bbah!
Mian, penjelasan Jungkook panjang banget ya ^^'
Mian lagi, kalo ga begitu ngerti ama penjelasan Jungkook, mari direview atau PM aku kalau ada yang mau ditanyain
Ntar di next chapter moga aku bisa bikinin kronologi singkatnya ,,,,,
Once again, gamsahamnida
