VioletUngu presents,

A Heart For You

.

.

Disclaimer : Naruto seutuhnya milik Masashi Kishimoto

'A Heart For You' seutuhnya milik saya.

.

.

Warning!

Cerita ini hanya fiktif belaka.

segenggam konten dewasa, bahasa acak-acakan, kemungkinan besar adanya Typo(s), kemungkinan besar tidak terlaksananya EYD, karakter mungkin sekali OOC, alur tak beraturan, dan lain-lain, dan lain lain.

.

.

.

.

.

Happy reading :)


Bagian 3

.

.

.

.

.

Sedari pagi cuaca di kota itu sudah menggambarkan keadaan hati Kakashi dengan sempurna. Kelabu. Awan-awan gelap telah menutupi langit sejak matanya terbuka tadi. Tak ada sedikitpun cahaya matahari yang berhasil menembus lapisan-lapisan uap air yang berkerumun jadi satu itu. Seolah semua itu memang sengaja dipasang di atas sana supaya Kakashi tidak punya kesempatan untuk merasakan hangatnya matahari yang mungkin bisa meringankan hatinya.

To : Reira-sama

Kau di mana? Kenapa tidak datang ke kantor? Aku sudah meneleponmu, tapi kau tidak menjawab. Apa kau baik-baik saja? Tolong balas smsku.

Sudah lima kali Kakashi mengirim pesan pada gadis itu. Hanya ingin tahu dimana dia berada sekarang dan kenapa dia tidak masuk kantor sejak pagi. Waktu Kakashi bangun dari tidurnya, gadis itu sudah tidak ada. Itu memang bukan kali pertama hal itu terjadi. Tapi biasanya, entah bagaimana, Reira sudah ada di kantor saat Kakashi baru datang. Dan hari ini tidak seperti biasanya. Jelas Kakashi khawatir.

Tetes-tetes air mulai turun dari langit. Halus, nyaris tidak kelihatan. Tapi Kakashi tahu berkat tetes-tetes kecil air yang menempel secara acak pada dinding kaca di sisinya.

"Haaah…"

Kakashi tidak pernah membenci hujan sebesar hari ini sebelumnya. Kenyataan bahwa Reira 'menghilang' dan acara makan siang buatan ayahnya ini benar-benar memperburuk segalanya. Kakashi lebih memilih ada di ruangannya sekarang dan menghandel semua pekerjaan Reira yang bisa dia kerjakan. Fokus pada pekerjaan bisa membantunya melupakan beberapa hal yang memberatkan hati, paling tidak untuk beberapa waktu.

"Maafkan aku, Kakashi-san…" itu Anko. Datang dengan senyuman yang entah kenapa begitu cerah di tengah cuaca suram hari itu, "…maafkan aku, apa kau sudah lama menunggu?" Anko melepas blazernya dan meletakkanya di sandaran kursi yang ada di hadapan Kakashi lalu duduk di sana. Masih dengan senyum cerah itu.

Kakashi sama sekali tidak biasa dengan apa yang dilihatnya. Bukan senyum cerah yang biasanya ada di wajah Reira saat hari mendung seperti ini. Wajahnya justru terlihat sedih dan kesepian, kadang dengan tatapan mata yang kosong. Seolah matahari tidak akan terbit lagi setelah hari mendung itu. Tapi masih tetap terlihat cantik.

Tapi itu bukan Reira. Wanita di depannya ini jauh dari Reira. Dalam segala aspek. Dan wajar, kan, bila Kakashi merasa tidak biasa?

"Hm…" dilihatnya jam di arlojinya, sudah sekitar satu jam dia menunggu di sini, "…tidak, aku juga baru saja datang."

"Begitu, syukurlah… kau sudah memesan makanan?"

"Aku memang berencana menunggumu untuk memesan." Kata Kakashi, yang langsung mengangkat tangannya, memberi isyarat pada salah satu pelayan terdekat.

"Silakan, tuan dan nona…"

.

.

.

.

.

Makan siang hari itu adalah makan siang yang paling tidak nyaman yang pernah dilakukan Kakashi seumur hidupnya. Selama satu jam dia dan Anko makan sama sekali tidak ada kabar dari 'nona' kesayangannya itu. Dan gadis yang mengikat rambutnya ke atas itu berbicara sangat banyak tentang dirinya. Semua yang berhubungan dengan dirinya. Kakashi menanggapi seadanya dengan pertanyaan 'benarkah?' dan banyak 'Hm…' juga beberapa senyum singkat saat gadis itu menceritakan sesuatu yang menurutnya lucu –tapi tidak bagi Kakashi.

Pria itu tak benar-benar mendengarkan. Sebagian dirinya memikirkan dimana Reira berada –dia sudah sempat memaki entah pada siapa saat melihat ponselnya dan tak ada apapun di sana. Sebagian lain memikirkan pekerjaannya –seharusnya dia sudah kembali ke kantor saat Anko datang. Sebagian lagi dari dirinya berharap agar ini cepat selesai.

Seandainya Reira yang bersamanya untuk makan siang, pasti tidak akan semembosankan ini jadinya. Seandainya Reira ada di sana mungkin dia akan bicara lebih banyak. Seandainya Reira ada di sana mungkin…

"Kakashi-san…?"

Lamunan Kakashi buyar saat merasakan sesuatu yang dingin menyentuh tangannya. Dia melihat tangan gadis itu ada di atas tangannya, hampir menggenggamnya. Gadis itu bahkan kelihatan berusaha untuk melakukan itu. Duduknya jadi terlihat sangat tidak nyaman hanya karena berusaha menyentuh tangan Kakashi yang ada ujung terjauh meja itu.

"Apa ada yang menganggu pikiranmu?" Tanya gadis itu.

Gadis itu mengusap tangan Kakashi yang nyaris digenggamnya itu, mungkin berusaha membuat Kakashi nyaman, namun Kakashi memegang tangan itu dan menyingkirkannya. Meletakkannya kembali di tempatnya yang seharusnya.

"Tidak, maaf… sampai di mana tadi?" pria berjas hitam itu meletakkan tangan mungil yang asing itu kembali di meja.

"Playa de La Concha, di Spanyol. Pantainya indah. Kau pernah ke sana?" gadis itu selama sedetik terlihat kecewa, namun dia langsung mengembangkan sebuah senyuman sambil memasukkan sepotong kecil crème brulèe pesanannya.

"Belum. Tapi aku pernah mengunjungi Playa de Las Catedrales." Itu saat Reira memaksanya pergi ke sana, menemaninya liburan untuk merayakan ulang tahun ke-25nya. "Menurutku, dibandingkan Playa de La Concha, pantai ini lebih menarik. Ada bebatuan unik yang bisa dilihat di sana. Jadi tidak membosankan."

"Benar juga… kalau begitu, mungkin kapan-kapan kau bisa menemaniku berlibur ke sana kalau kau sedang senggang." Anko terlihat senang sekali dengan adanya kesempatan berlibur bersama calon suami masa depannya.

"Tentu."

Dan ketika gadis itu akhirnya selesai bicara dan berkata sudah harus kembali ke kantor. Untuk sesaat hati Kakashi berbahagia. Berbunga-bunga. Dia hampir saja menghela napas mengakhiri kebosanannya, beruntung dia masih bisa menahan diri. Dia sudah berbasa-basi menawarkan diri mengantar gadis itu –meskipun dia lebih berharap agar gadis itu bersikap baik dan pulang ke kantornya sendiri sama seperti bagaimana dia datang tadi. Anko menolak. Kakashi diam-diam senang.

Dengan sebuah payung hitam besar, Kakashi dan Anko berdiri di luar restoran Italia itu, menunggu datangnya pahlawan yang akan menjemput tuan puteri ini pergi dari Kakashi, yang bagi Kakashi, itu lebih dari sekedar menyenangkan.

"Kalau tidak salah kantormu ada di dekat sini, kan?" gadis itu sepertinya benar-benar berusaha agar mereka bisa lebih banyak mengobrol.

"Ya, yang itu." Kakashi menunjuk sebuah gedung pencakar langit tertinggi yang ada di ujung seberang jalan.

"Wah… gedungnya megah sekali… lokasinya juga bagus. Seandainya kantor ayah bisa seperti itu." Ujar gadis itu.

"Gedung kantor perusahaan ayahmu tidak kalah megah, kok." Ujar Kakashi.

"Menurutmu begitu? Kapan-kapan mampirlah kalau sempat." Kata gadis itu.

"Hm… Kalau sempat…" Kakashi sudah terlalu bosan, dan akhirnya menjawab dengan ala kadarnya.

"Ah, sopirku sudah datang!" Kakashi melihat sebuah mobil mulai memperlambat lajunya dan berhenti tepat di hadapan mereka berdua. Seorang pria tua keuar dari dalam mobil itu, dengan membawa payung dan siap menjemput sang puteri.

"Kalau begitu aku pergi. Terimakasih untuk makan siangnya yang menyenangkan…" tak disangka gadis itu memberi sebuah kecupan di pipi Kakashi, "sampai bertemu lagi, Kakashi-san…"

"…" Kakashi diam. Shock dengan apa yang baru saja dialaminya.

Sopir itu membungkuk pada Kakashi setelah berhasil mengantar sang puteri masuk ke dalam mobil tanpa basah sedikitpun. Kakashi balas membungkuk. Kesadarannya kembali setelah pintu mobil itu tertutup.

Mobil itu pergi, meninggalkannya di pinggir jalan yang lengang dan kelabu. Seketika memori Kakashi kembali penuh dengan 'nona' kesayangannya yang sama sekali belum memberi kabar apapun sejak terakhir kali Kakashi mengirim pesan. Dimasukkan tangannya ke dalam saku jasnya lagi, mencari ponselnya. Layar ponsel pintarnya yang sama seklai tidak menunjukkan tanda-tanda adanya pesan masuk saat Kakashi membukanya dengan sebuah password.

"Hah… kemana perginya tuan puteri ini…?" menyerah, Kakashi memasukkan ponselnya lagi dan berpaling menuju ke arah kantornya berada. Yang diinginkannya setelah ini hanya mengerjakan semua pekerjaannya tanpa sisa, tidak peduli butuh berapa lama, dan setelah itu dia akan menyibukkan diri mencari Reira.

Namun langkahnya terhenti segera setelah dia melihat seorang wanita muda dalam balutan coat berwarna marun yang elegan dan mahal, berdiri beberapa meter di depannya dengan sebuah payung hitam besar yang sama sebagai pelindungnya dari hujan.

"Eh…" untuk kedua kalinya hari ini, Kakashi dikejutkan oleh seorang wanita.

Wanita muda itu, Reira, melangkah mendekat dengan langkah yang lebar. Rambutnya yang dibiarkan tergerai lurus hari itu terbang di sapu angin saat dia berjalan. Wajahnya jelas terlihat kesal. Tapi tetap cantik seperti bidadari.

Kakashi membeku di tempatnya. Tak bisa bergerak, tak tahu harus berbuat apa, tak tahu harus mengtakan apa, sementara perempuan itu makin cepat mendekat. Reira bahkan menjatuhkan payungnya dan membiarkan tetesan hujan membasahi rambutnya yang hitam sempurna itu, tahu payungnya hanya akan memperlambat lajunya.

Wanita muda itu makin dekat. Semakin dekat hingga hanya beberapa langkah lagi sampai dia ada tepat dihadapan Kakashi. Tas tangannya yang super mahal jatuh ke tanah saat dia berjalan begitu cepat, seolah semua tenaganya terfokus ke kakinya yang jenjang itu.

Sedetik berikutnya, Kakashi tidak tahu bagaimana detailnya, tiba-tiba saja dia sudah merasakan bibir lembut gadis itu dibibirnya. Dingin di sentuhan pertama, namun menghangat seiring bertambah intensnya ciuman itu.

Reira mencengkeram kerah kemeja pria itu, memaksanya menunduk, wanita itu memperdalam ciumannya. Melumat bibir bawah Kakashi dan beralih ke bibir atasnya, memberinya gigitan-gigitan lembut di sana. Ciuman itu begitu intens hingga Kakashi tidak tahan untuk tidak menyentuh gadis itu, dia menjatuhkan payungnya dan memeluk pinggang gadis itu. Pria itu membalas ciuman si wanita dengan gairah yang sama. Tidak memerdulikan hujan yang membasahi mereka, tidak memerdulikan berpasang-pasang mata yang memerhatikan mereka dari dalam restoran berdinding kaca itu. Pria berambut perak itu hanya membiarkan dirinya merasakan kelegaan, wanita kesayangannya telah kembali, dan ciuman itu...

PLAKK!

Detik berikutnya yang dirasakan Kakashi adalah perih dan panas di pipinya. Wanita dengan sejuta kecantikan itu selesai dengan ciumannya dan menampar pipinya dengan sangat keras. Bahkan tidak membiarkan Kakashi meresapi sisa-sisa ciuman mereka barusan.

"Pulang!"

.

.

.

.

.

Bersambung


ehem...

pertama-tama mohon maafkan saya untuk keterlambatan yang amat sangat ini.

bukan maksud saya telat-telatan publish ini, tapi apa daya tangan tak sampai...

kuliah keras.

kedua saya ingin mengucapkan terimakasih untuk kalian yang sudah setia menanti dan menyemangati saya untuk menulis lanjutan fanfict ini.

saya nggak bisa berkata apa-apa lagi.

saya hanya ingin tahu pendapat minna-san tentang cerita ini.

apa yang bagus dan apa yang masih perlu diperbaiki, misalnya.

itu akan sangat membantu saya untuk melanjutkan cerita ini supaya lebih baik lagi.

terimakasih untuk partisipasinya, dan semoga saya bisa update lebih cepat :)

salam,

VioletUngu