Beloved
Jaehyun x Taeyong
NCT © SM Entertainment
Warning! Alternate Universe, OOC, Typo(s), YAOI, Older!Jaehyun, Implicit Lemon, etc
"Apa impian terbesarmu, hyung?"
"Aku ingin menangkapmu setiap kali kau jatuh, Taeyongie."
"Tapi bagaimana jika aku tidak pernah jatuh, hyung?"
"Maka aku akan diam, melihatmu dan menunggu kau membutuhkanku. Karena aku hyungmu."
Satu minggu berlalu begitu saja. Jaehyun masih sama, masih dengan pertanyaannya yang belum terjawab mengenai apa yang dia rasakan sejak bertemu Taeyong terakhir kali. Tapi dia mengesampingkannya sebisa mungkin. Membuatnya menjadi orang yang berbeda tanpa disadari. Bahkan sebagian besar temannya terus bertanya; Ada apa? Jaehyun kau baik? Ada apa, dirinya juga bertanya.
Jaehyun hampir tidak pernah datang ke perpustakaan jika bukan karena sesuatu hal yang sangat penting, seperti mencari buku referensi atau artikel tertentu yang hanya bisa dia temukan di sana. Membaca bukan salah satu hal yang menempati posisi atas dari list hobinya, dan dia juga lebih suka belajar di kamarnya sendiri daripada perpustakaan―memilih pulang setelah meminjam apa yang dibutuhkan. Sungguh suatu keanehan tersendiri ketika dia melangkah masuk ke tempat itu, hanya karena sedang bosan dan butuh pengalih perhatian. Hebatnya lagi, itu sedikit berhasil. Tadinya.
Kakinya tersandung pelan saat berjalan ke bagian art, dia tahu dia memang melamun dari tadi. Niatnya dia akan mengambil beberapa buku tentang fotografi untuk mengalihkan bosan. Tapi niatnya itu harus berhenti di sana. Tepat saat dia berbalik tak sengaja, di sudut sana, matanya menangkap bayangan dua sosok laki-laki. Duduk nyaman di sofa yang ada di ujung lain dari bagian itu. Hal yang baru disadarinya meski sudah hampir setengah jam di sini.
Salah satu dari mereka, yang sedang duduk dengan punggung bersandar di sofa itu adalah Taeyong dan yang satunya lagi berbaring mengistirahatkan kepala di pangkuannya. Dua buku berbeda ada di tangan masing-masing, sedang membaca. Tapi kemudian sosok yang berbaring itu meletakkan bukunya, terlihat bosan dan menarik kepala Taeyong mendekat, membisikkan sesuatu lalu saling melemparkan senyum satu sama lain. Wajah mereka terlalu dekat, hanya berjarak sekian senti sampai bibir keduanya bertemu.
Apa ini?
Tiba-tiba ada perasaan aneh, tidak nyaman, sungguh mengganggu Jaehyun saat melihat itu. Yang mengejutkan adalah Jaehyun bukannya merasa risih atau jijik sama sekali, dia hanya mengagumi bagaimana indah dan manisnya senyuman Taeyong saat itu. Senyum yang sudah lama tidak dia lihat, yang baru Jaehyun sadari, sangat dia rindukan. Taeyong tidak pernah tersenyum seperti itu lagi untuknya, tidak setelah pengakuan mengenai dirinya yang berbeda malam itu. Atau malah justru lebih lama lagi sebelum itu?
Sejak kapan. Jaehyun ingin bertanya. Sejak kapan perasaan Taeyong berubah menjadi sesuatu seperti itu padanya. Taeyong masih menjadi sosok penting yang berharga dalam hidupnya, itu takkan berubah. Dia masih menjadi orang yang paling Jaehyun sayangi selain orang tuanya. Adik tersayangnya. Tapi semuanya berbeda saat ini. Bahkan untuk sekedar datang dan bertemu dengannya, memeluknya, berbicara dan mengodainya, sesuatu yang sudah dilakukan bertahun-tahun lamanya sebelum ini, dia tidak bisa.
Jaehyun memandang sedih Taeyong yang kini terlihat begitu nyaman bercanda dan tertawa lepas di depan sana. Bersama orang lain.
Taeyongie, apa tidak mungkin kita bisa kembali seperti dulu?
Jaehyun masih ingat perjalanan pulang sorenya saat kecil bersama ayahnya, dengan Rufus. Mengingat itu, membuatnya mau tak mau mengingat masa kecilnya yang lain.
Dulu, dia yang sakit harus menghabiskan waktu seharian di rumah, tidak bisa bermain dan pergi ke TK seperti biasanya. Sebagai anak tunggal, Jaehyun selalu merasa kesepian karena tidak ada yang menemaninya. Dan itu semakin dia rasakan saat itu. Dengan pipi chubby yang dikembungkan, dia berlari mendekat pada ayah dan ibunya yang baru saja pulang dari kantor. Digendongan ayahnya dia merengut, langsung mengeluh. Jaehyunnie bosan sekali, ayah! katanya berlebihan. Bibirnya mengerucut lagi saat berkata sambil melonjak-lonjak manja. Bisa tidak ayah dan ibu libur bekerja sampai aku sembuh? Ya ya ya?
Jaehyun tidak bisa mengingat apa yang ayah ibunya katakan saat itu, yang jelas dia merasa sangat kecewa saat melihat orangtuanya memberi raut menyesal dan gelengan kepala, mencoba menghiburnya. Dia ingat langsung melonjak turun dari gendongan ayahnya, berlari ke kamar sambil menangis keras dan berteriak memanggil ayah dan ibunya jahat. Setelah itu, dia menolak bicara, makan dan bahkan minum obat dengan keras kepala meski dipaksa ibunya.
Tak lama, ayahnya datang mengintip dari pintu kamarnya dengan makhluk putih menggemaskan yang membuat bunyi whof whof.
"Jaehyunnie, lihat apa yang ayah bawa. Anak anjing lucu untuk menemani Jaehyunnie yang kesepian agar tidak bosan."
Sebuah senyum geli terkembang di wajahnya saat memikirkan itu sekarang.
Jaehyun ingat tidak langsung menerima begitu saja pemberian itu. Bersikeras marah. Jangankan menerima, mau menengok saja tidak. Tapi tidak lama anjing kecil berbulu putih itu tiba-tiba melonjak naik ke atas tubuhnya yang berbalut selimut, menjilatinya wajahnya sambil ber-whof whof. Dan seakan bekerja sama ayahnya juga datang menggelitiki tubuhnya hingga dia tertawa.
Itu awal mula Jaehyun bertemu dengan Rufus, anjing kesayangannya yang selalu menemaninya sejak masih kecil. Rufus selalu menemani Jaehyun kemanapun. Setelah sembuh, Jaehyun langsung mengajak ayahnya untuk berjalan-jalan sore, sesuatu yang rutin mereka lakukan di akhir pekan setelah itu. Saat dia sembuh dan kembali ke TK, Rufuslah yang pertama kali menyambutnya sampai di rumah. Dia juga yang menemani Jaehyun bermai hingga kedua orangtuanya pulang. Mereka akan main lempar-tangkap, atau kejar-kejaran di taman maupun halaman belakang rumah.
Jaehyun menceritakan banyak hal pada Rufus, meski anjingnya itu tidak akan menanggapi banyak, mungkin hanya sekedar ber-whof whof sambil menggerakkan ekornya. Dia menceritakan tentang anak TK baru yang baru ditemuinya di bawah pohon, memanggil anak manis itu sebagai teman barunya yang selalu cemberut. Dan ketika Taeyong datang ke rumah, untuk pertama kalinya bertemu Rufus, anjingnya itu langsung menubruk tubuh kecilnya hingga terbaring di lantai. Dia ingat bagaimana cemberut di wajah Taeyong perlahan berubah menjadi tawa dan senyum manis dengan mata hitamnya yang berbinar-binar. Sejak itu Jaehyun tahu jika senyum dan tawa Taeyongnya akan selalu menjadi favorit Jaehyun.
Taeyong kecil semakin sering datang untuk menemaninya bermain, juga untuk bertemu Rufus yang sangat dia sukai. Jaehyun tentu senang karena tidak lagi sendirian. Dia memang tidak merasa begitu kesepian bersama Rufus, tapi dengan adanya Taeyong dia bisa merasa lebih bahagia. Taeyong mengenal baik ayah dan ibu Jaehyun, begitupun dirinya yang mengenal baik paman dan bibi Lee yang ramah dan baik hati. Satu waktu, mereka memutuskan untuk berpiknik bersama di akhir pekan.
Sayangnya itu tak berjalan seperti rencana karena Taeyong yang tiba-tiba menangis dengan Rufus didekatnya saat Jaehyun pergi sebentar untuk mengambil bola. Anjingnya terkapar setelah memakan cokelat yang Taeyong berikan dan harus dibawa ke dokter hewan. Rufus baik-baik saja, setelah dibuat memuntahkan makanan yang dia makan. Tapi Jaehyun tetap menangis, dia menangis karena tangisan anak kecil di pelukan paman Lee yang tak juga berhenti. Sejak itu Jaehyun tahu jika dia sangat benci melihat Taeyongnya menangis.
Setelah itu Taeyong tidak pernah lagi datang, membuat Jaehyun sedih karena kehilangan teman bermain. Ibunya yang melihat itu akhirnya membawanya dan Rufus datang ke rumah keluarga Lee, bertanya padanya apa yang paling disukai Taeyong. Jaehyun langsung menjawab; Taeyongie suka sekali makanan manis! Ibunya tersenyum mengerti. Tadinya Jaehyun pikir, Taeyong akan senang karena dia membawa banyak sekali makanan-makanan itu, terutama cokelat kesukaannya. Tapi yang dia dapat malah Taeyong kecil yang marah dan seperti akan menangis berkata padanya; Aku tidak suka cokelat, hyung! Tidak suka lagi!
Dari sana Jaehyun tahu jika Taeyong tak mau bermain bersamanya dan Rufus lagi karena merasa bersalah. Meski akhirnya Jaehyun bisa membujuknya setelah berkata jika itu tidak sengaja dan Rufus tidak apa-apa, juga betapa sedih dan kesepiannya Jaehyun karena Taeyong tak mau bermain dengannya. Anjingnya itu bahkan menubruk tubuh kecil Taeyong dan menjilati wajahnya yang basah lagi. Dan setelah itu, mereka menghabiskan waktu bersama menghabiskan cokelat yang dibawa Jaehyun dengan ibu dan bibi Lee yang memberitahu mereka apa yang boleh dan tidak boleh dimakan oleh Rufus.
Jaehyun tersenyum mengingat itu semuanya. Masa kecilnya dan Taeyong adalah salah satu hal yang ingin dia alami lagi. Kebahagian dan kepolosan masa kecil yang jika dia pikir sekarang, sangatlah lucu, menggemaskan, dan tanpa beban. Rufus adalah bagian penting dari kehidupan Jaehyun, begitu juga Taeyong. Anjing putihnya selalu ada menemani mereka tumbuh. Rufus yang menyambutnya pulang di depan rumah tiap hari selain ibunya yang pada akhirnya memilih berhenti bekerja, dia yang selalu bersemangat saat Jaehyun mengajaknya jalan-jalan. Dia yang, seringnya, akan sangat Jaehyun cemburui hanya karena Taeyong mengabaikan dia, terlihat lebih menyayangi dan memperhatikan Rufus tiap berkunjung ke rumah. Dia juga yang akan membantu Jaehyun meminta maaf jika Taeyong marah karena Jaehyun melupakan janji atau membuatnya kesal. Seperti yang sudah dikatakannya, Rufus bukan hanya hewan peliharaan yang menemaninya sejak kecil. Tapi dia juga adalah bagian penting dari kehidupan Jaehyun yang tidak tergantikan, yang begitu Jaehyun sayangi.
Jaehyun hanya bisa memandangi foto-foto mereka sekarang, baru menyadari betapa dia merindukan anjingnya itu setelah dia pindah ke rumah sewa yang dekat dengan kampusnya sejak masuk Univesitas. Mereka jadi jarang menghabiskan waktu bersama seperti dulu dan Jaehyun menyesalinya. Apalagi saat dia mendengar kabar dari ibunya lewat telepon yang mengatakan jika Rufus, anjing kecil tersayangnya, kini sudah pergi meninggalkannya. Tidak akan ada lagi anjingnya yang lucu yang selalu menemani hari-hari Jaehyun, yang akan menubruk dan menjilati wajahnya saat dia pulang, yang akan menemaninya jalan-jalan dan mendengarkan cerita darinya. Tidak ada lagi Rufus.
Setelah ditinggalkan oleh Taeyong, kini Rufus juga meninggalkannya.
Jaehyun hanya bisa tersenyum miris.
Taeyong datang ke rumah sewanya malam itu, tepat setelah dia mendapat kabar dari ibu Jaehyun, sepertinya. Ibunya pasti memberitahu Taeyong tentang Rufus. Ibunya sama sekali tidak tahu jika hubungan dia dengan anaknya sudah tak seperti dulu, bahkan sampai sekarang. Ibu Jaehyun masih sering menanyakan Taeyong padanya dan menyuruh Jaehyun mengajaknya ke rumah, karena ibunya itu merindukannya teman baik anaknya yang tampan dan manis, yang sudah dia anggap sebagai anaknya sendiri. Jaehyun selalu mengelak dan berkata Taeyong sedang sibuk dan akan menyampaikan salamnya saat bertemu, yang tentu saja tak pernah dia lakukan.
Jaehyun tidak mengharapkannya datang. Tidak sama sekali. Mereka jarang bertemu lagi dan seakan mempunyai kehidupan masing-masing sekarang. Jaehyun sibuk dengan tugas akhir dan Chaeyoung, kekasihnya. Sementara Taeyong dengan kehidupannya bersama orang yang dia lihat di perpustakaan tempo hari, Nakamoto Yuta, kegiatan klub atau teman-temannya yang lain. Mereka benar-benar menjauh, tak pernah saling memberi kabar. Sekalinya bertemu tidak sengaja pun, Jaehyun lebih memilih berbalik arah dan pura-pura tak melihat meski harus merasakan rasa bersalah dan perasaan tak terdefinisi lain membebaninya.
Jadi Jaehyun terkejut ketika dia mendengar ketukan di pintu dan menemukan Taeyong di sana.
"Hai, Jaehyun-hyung," sapanya pelan. Matanya memerah dan jelas dia habis menangis. Taeyongienya yang cengeng pasti bersedih karena kabar Rufus. Jaehyun ingin sekali memeluknya saat ini tapi menahannya sekuat tenaga. Memilih tersenyum lemah dan membiarkannya masuk ke dalam.
"Taeyong? Ada apa?" Tanya Jaehyun serak.
"Aku datang berniat menghibur, hyung. Tapi sepertinya hyung baik-baik saja," jelas Taeyong, mendudukkan dirinya dengan nyaman di tempat tidur Jaehyun. Sebagaimana yang selalu dia lakukan saat datang ke sini, seperti sebelumnya.
"Aku baik-baik saja."
Jaehyun tahu Taeyong pasti sadar dirinya sedang berbohong. Kumpulan foto Rufus yang berserakan di atas tempat tidurnya tidak bisa membohonginya. Jaehyun mungkin tidak menangis, dia menunjukkan kesedihannya denga cara berbeda. Taeyong mengerti. Jaehyun sejak kecil selalu menjadi sosok kuat, tempatnya bergantung, tidak seperti dirinya yang manja dan cengeng. "Aku datang untuk menghibur hyung tapi merasa jika aku bahkan lebih membutuhkannya," gumam Taeyong, tertawa kecil dengan terpaksa. Dia mendongakkan kepalanya ke atas agar tidak menagis lagi setelah melihat foto masa kecil mereka dengan anjing peliharaan Jaehyun itu.
"Ya… kurasa."
Jaehyun hanya berdiri memandanginya dari jauh. Merasa seperti idiot. Dia tidak mengerti kenapa dia bisa segugup dan secanggung ini pada teman masa kecilnya, Taeyongienya. Tak ada yang berubah. Tidak ada, kecuali fakta kecil yang akhirnya dia ketahui. Fakta kecil yang merubah banyak hal diantara mereka. Seperti mereka yang kini lebih bertingkah seperti dua orang asing yang dingin dan sama sekali tak saling mengenal dan Taeyong yang bukan lagi anak kecil manis manja yang bergantung dan membuntuti di belakang Jaehyun kemanapun dia pergi dan meminta pelukannya. Tidak lagi.
Selama berbulan-bulan terakhir, sejak Taeyong mengakui orientasinya malam lalu, Jaehyun selalu menepis fakta bahwa di sana, ada jarak tak kasat mata yang membentang antara Taeyong dan dirinya. Pelukan mereka yang tak senyaman biasanya harusnya memberinya sedikit petunjuk untuk itu, tapi Jaehyun selalu mengabaikannya dan meyakinkan dalam hati jika semua baik-baik. Tapi setelah pengakuan Taeyong akan siapa dan bagaimana arti Jaehyun untuknya, yang sama sekali jauh dari kasih sayang antara teman dekat, adik ataupun saudara seperti anggapan Jaehyun, juga ciuman itu, semuanya semakin jelas. Jaehyun menyadari betapa jauhnya Taeyong terasa sekarang.
Jarak diantara mereka terasa begitu mencolok, meskipun Taeyong berada di ruangan yang sama dengannya, hanya duduk tiga meter jauhnya dari dia. Rasanya sungguh mengerikan, karena meski dia berada sedekat ini dengannya, dan merindukannya sebegini hebat, tapi tidak bisa menutup jarak itu dengan menarik Taeyong dalam pelukannya seperti apa yang biasa Jaehyun lakukan.
Memeluk Taeyong dulu adalah hal yang paling sering dia lakukan. Tapi sekarang, bahkan hanya berpikir untuk melakukan itu bisa membuat Jaehyun panik. Bukan berarti Jaehyun tidak tahu, karena demi Tuhan, betapapun dia merindukan Taeyong, tapi dia tetap tidak bisa melakukannya, tanpa menimbulkan sesuatu yang dia pikir akan menjadi lebih buruk dari sekarang.
Bisakah ini diperbaiki?
Apakah sudah terlalu terlambat bagi mereka untuk kembali seperti dulu?
Sementara Jaehyun sibuk dengan pikirannya, Taeyong melihat-lihat kamar ini dalam diam. Foto yang terbingkai dipajang di mana-mana, di rak, di dinding, di meja belajar. Begitupun polaroid-polaroid yang sengaja ditempel memenuhi ruangan. Tidak ada yang benar-benar berubah dari kamar Jaehyun-hyung setelah beberapa bulan berlalu, tapi Taeyong masih mengambil sedikit waktunya untuk mengamati. Itu seperti kebiasaan yang diperolehnya sejak Jaehyun mulai menyukai fotografi, untuk melihat pajangan foto-foto apa yang hyungnya itu ambil. Ketika tatapan Taeyong berhenti di bingkai foto tua di meja samping tempat tidurnya, Jaehyun bisa melihat sorot matanya yang tiba-tiba menghangat.
"Aku akan mengambil ini dan satu foto Rufus," katanya sambil mengambil bingkai foto itu dan satu foto lain di tempat tidur.
Jaehyun mengangguk kecil. Dia ingin Taeyong tahu jika dirinya masih menjadi salah satu orang terpenting dalam hidup Jaehyun. Selalu menjadi teman terbaik dan adik tersayang bagi Jaehyun, meski Taeyong menginginkan sesuatu yang lain. Tapi dia tidak mau membuat suasananya menjadi lebih canggung dari ini dan tak mengatakan apa-apa.
"Hyung pasti sibuk akhir-akhir ini karena tugas akhir," kata Taeyong setelah keheningan panjang. "Maaf karena aku datang dan mengganggu hyung seperti ini tanpa sempat bilang lebih dulu."
"Ah… Ya…" Jaehyun mengusap bagian belakang lehernya, merasa gelisah tanpa tahu mengapa. "Tidak apa-apa, aku senang bisa bertemu denganmu lagi, Taeyong."
Taeyong mengangguk, meski tidak bisa tidak merasa kecewa karena Jaehyun hanya memanggilnya Taeyong, bukan Taeyongie seperti dulu.
Jaehyun yang melihat ekspresi datar di wajah Taeyong tidak tahu harus bersikap bagaimana. Ya, sejak dulu Taeyong memang penyendiri, introvert dan sering terkesan dingin juga sinis pada orang lain, bahkan saat ada di sekitarnya. Tapi Jaehyun selalu bisa mematahkan sikapnya itu dan menggantinya dengan senyum manis dan bahkan tawa dengan perkataan atau perbuatannya. Mereka menghabiskan waktu yang lama bersama sejak kecil, membuat Jaehyun mengenal Taeyong sebaik dia mengenal dirinya sendiri. Tapi kini, ekspresi Taeyong terasa begitu asing dan tak terbaca, membuat Jaehyun tidak tahu harus berbuat apa. Jaehyun tetap mencobanya, meskipun.
"Bagaimana kuliahmu, Taeyong?" tanyanya. Jaehyun tidak bisa mencari topik lain yang lebih bagus dari ini, membuatnya merasa payah.
Taeyong mengangguk sekali sebelum berkata, "Baik, hyung. Aku sedang mempertimbangkan tawaran pertukaran pelajar ke USA, dan beasiswa untuk melanjutkan study di sana. Tapi aku ingin tinggal di Korea. Bahasa Inggrisku belum terlalu bagus."
Jaehyun mengangguk, setengah kagum. Adiknya memang jenius, mendapat tawaran seperti itu tidak mudah, tapi bukan hal yang tidak mungkin untuk seorang Lee Taeyong. Adik ya? Jaehyun hanya tidak bisa berhenti memanggil Taeyong seperti itu di kepalanya, meskipun sejujurnya dia tidak yakin tentang status Taeyong, atapun persahabatan mereka. "Itu kesempatan bagus."
Senyum hadir di wajah Taeyong, Jaehyun sekali lagi menyadari jika dia memang begitu merindukan senyuman itu. Secara diam-diam dia mengamati wajah di depannya. Taeyong itu indah. Visualnya luar biasa dan bisa membuat orang yang melihatnya menahan napas dan berdecak kagum, termasuk Jaehyun. Jawline, manik hitam yang berbinar, bibir tipis berwarna kemerahan. Sebutan living-anime-doll sejak sekolah menengah memang cocok sekali untuk Taeyong. Daya tariknya memang luar biasa, tidak heran begitu banyak wanita, dan bahkan mungkin pria, yang menyukai bahkan memujanya.
"Apa kekasih hyung tidak mengatakan apa-apa melihat berapa banyak foto-fotoku dipajang di sini?" tanya Taeyong, menarik kembali Jaehyun dari lamunannya.
Jaehyun melihat sekeliling kamarnya, dan menyadari, jika ya, dia memiliki puluhan foto Taeyong. Foto Taeyong bersamanya, foto Taeyong yang berpose di depan kamera karena permintaannya, foto Taeyong yang sedang belajar, tertawa, bicara dengan temannya, yang sedang memelototi Jaehyun kesal, cemberut, dan Taeyong, yang hanya menjadi Taeyong. Jaehyun tidak pernah memperhatikan ini sebelumnya. Tapi setengah dari foto yang dipajang di dinding-dinding kamarnya adalah foto Taeyong. Tapi kemudian Jaehyun berpikir, Taeyong adalah teman terbaiknya. Itu normal untuk mengambil banyak foto dari teman terbaikmu, bukan?
"Mmh... dia belum pernah ke sini," katanya kepada Taeyong.
"Benarkah?" Ada sedikit nada terkejut dalam suara Taeyong. "Yah, anggap saja aku bertanya apa yang akan hyung katakan jika kekasih hyung itu melihat ini?"
"Sebenarnya," Jaehyun menuju kursi di samping meja belajar dan duduk, berusaha tidak terlihat gelisah. "Kami berpisah beberapa hari lalu."
Dia dan Chaeyoung, keduanya memutuskan bahwa hubungan mereka tidak akan berhasil, terlebih saat keduanya sedang sama-sama sibuk dengan tugas mereka dan tak punya waktu bersama, hingga memilih mengakhiri semuanya. Tidak ada dendam atau kesan buruk dari perpisahan ini. Mereka masih berteman sekarang. Dan dia mengatakannya pada Taeyong tanpa kebohongan apapun.
"Oh. Maaf aku tidak tahu," komentar Taeyong setelah mendengar penjelasannya. "Tapi dari cerita hyung sepertinya perasaan kalian memang belum terlalu kuat."
Jaehyun tahu dia seharusnya tersinggung. Taeyong menyebutkan fakta dan memperjelas semuanya hingga terdengar lebih buruk lagi. Tapi dia juga tahu, Taeyong memang benar. Dia hanya mencoba untuk tidak peduli. Jaehyun memang sedih karena harus mengakhiri hubungannya dengan Chaeyoung. Dia gadis baik dan perhatian. Tapi dia tak menyesalinya. Jaehyun masih harus menempuh jalan panjang untuk menemukan seseorang yang benar-benar tepat untuknya.
"Kau sendiri? Bagaimana dengan Nakamoto Yuta?" tanyanya setelah itu, mengingat dia bukan satu-satunya pihak yang sedang terlibat dalam suatu hubungan. Taeyong selalu terlihat dengan Nakamoto Yuta, dan meskipun orang lain menganggap mereka sebagai sahabat, Jaehyun tahu ada sesuatu yang lain di antara mereka. Selain itu, Jaehyun juga tidak akan pernah lupa apa yang Taeyong katakan padanya beberapa bulan yang lalu, tentang dia yang akhirnya menemukan seseorang yang lain. Jaehyun berusaha berhenti berpikir tentang apa yang dirasakannya tentang ini, berusaha meyakinkan dirinya jika dia memang menerima kenyataan bahwa Taeyong kini tengah bersama orang lain. Dia tidak ingin mencari tahu lebih jauh tentang perasaan aneh itu. Lagipula banyak hal yang mesti dia lakukan juga mempermudahnya untuk mengabaikan pikiran tidak penting dalam kepalanya ini.
"Bagaimana aku? Dengan Yuta? Apa maksudmu, hyung?"
Jaehyun tidak menduga Taeyong akan berbalik tanya padanya, membuatnya sedikit terkejut. "Hm, itu, bukankah kalian berdua…" Dia tidak tahu kata yang tepat untuk digunakan. Bersama? Terlibat dalam suatu hubungan?
"Sepasang kekasih?" Ternyata Taeyong punya kata yang lebih baik untuk itu. "Siapa yang bilang begitu, hyung?"
"Tidak, tidak. Aku hanya menebak karena kalian… selalu bersama?" Dan aku juga pernah melihat bagaimana kalian saat berdua dengan mataku sendiri, tambah Jaehyun dalam hati.
Ada senyum aneh di bibir Taeyong sebelum dia berkata, "Hubungan kami tidak seperti, hyung. Yuta memiliki seseorang yang dia suka." Taeyong tidak menyebutkan itu aku, yang sudah ada di ujung lidahnya.
"Begitukah?"
Taeyong mengangguk.
Jaehyun tidak punya hal lain untuk dikatakan. Lalu kenapa kalian berdua terlihat begitu mesra saat bersama? Kenapa kau bisa tersenyum dan tertawa selebar itu saat bersamanya? Kenapa kalian terlihat seperti sepasang kekasih di mataku, Taeyongie? Jaehyun memutuskan untuk mengabaikan pertanyaan-pertanyaan semacam itu dari kepalanya. Membiarkannya tak terucap karena dia merasa takkan sanggup mendengar jawabannya.
Lalu ada keheningan.
Taeyong kembali memandangi foto lama mereka yang ada di tangannya. Jaehyun tidak memandangi hal lain, apapun, selain Taeyong. Kecanggungan ini bisa membunuhnya. Tapi Jaehyun tidak tahu harus berkata apa. Ironis sekali, karena sebelumnya dia tidak pernah kehabisan kata-kata, apalagi saat bersama Taeyong.
"Hyung…" Taeyong akhirnya berkata setelah beberapa menit yang terasa seperti seumur hidup. "Apa hyung tidak merindukanku sama sekali?"
Jaehyun berbalik menghadap Taeyong dan menemukan dirinya tidak mampu berpaling. Mata hitam Taeyong mengunci miliknya. Belum pernah Jaehyun menemukannya seperti ini. Taeyong selalu menjaga perasaan dan ekspresinya tersimpan di dalam, jauh tidak terlihat. Emosinya tidak penah mengkhianati ekspresi di wajahnya, yang selalu bisa ia kendalikan dibalik raut datar, sinis dan dingin. Belum pernah Taeyong menatap Jaehyun dengan cara yang dilakukan sekarang; kesedihan, sakit hati, rindu semua mulai terlihat. Seakan sudah terlalu banyak, terlalu lama tersembunyi dan kini muncul begitu saja tanpa bisa dikendalikan.
Jaehyun mengenal Taeyong dengan baik, setidaknya ia pikir begitu.
Gambaran Taeyong dari masa lalu mereka muncul begitu saja dalam benaknya. Ia bisa melihat berbagai jenis reaksi dan ekspresi yang dibuat oleh Taeyongienya. Kebanyakan adalah ekspresi terganggu, sinis, cemberut. Ekspresi bahagianya yang hanya muncul jika dia bersama Jaehyun, Rufus, kedua orangtuanya, atau orang-orang tertentu. Lalu ekspresinya saat hampir menangis karena dijahili Jaehyun di hari ulang tahunnya.
Jaehyun ingat cara Taeyong menjerit ketika Jaehyun pura-pura menghabiskan seluruh cokelat oleh-oleh pemberian nunanya dari Swiss saat pergi sebentar ke kamar mandi, dan bagaimana ekspresi lega bercampur kesalnya setelah mengetahui Jaehyun tidak benar-benar menghabiskan cokelat-cokelat itu, tapi menyembunyikannya hanya untuk menggoda Taeyong.
Dia ingat bagaimana mereka tertawa begitu keras sampai perut mereka terasa sakit saat bertukar cerita lucu, menonton film komedi atau membuat lelucon konyol tentang guru killer di sekolah menengah yang selalu memberi banyak tugas.
Selalu dia, orang yang bisa menciptakan berbagai reaksi dan ekspresi berbeda dari Taeyong, itu selalu dirinya. Tapi melihat Taeyong seperti ini, memandangnya dengan ekspresi seperti ini dan menyadari jika dia yang menyebabkannya, membuat Jaehyun merasa sangat, sangat, sangat buruk hingga tidak bisa memaafkan dirinya sendiri.
"Taeyongie…"
Jaehyun mendekat, membungkuk ke depan dan perlahan, mengulurkan tangan. Taeyong masih menatapnya dengan ekspresi yang paling memilukan yang pernah dilihatnya di wajah manis itu, dan segala sesuatu yang lain, yang membebani pikiran Jaehyun, atau apapun ada di sekitar mereka, seketika lenyap. Yang tersisa hanyalah dia, dengan Taeyong, dan dorongan untuk membawa kembali senyum di wajah itu.
"Sangat," katanya pelan sementara tangannya bertumpu pada pipi Taeyong, jari-jarinya membelai kulit lembut, pucat di bawah telapak tangannya. "Aku sangat merindukanmu, Taeyongie."
Dan itu dia, Jaehyun benar-benar bisa merasakan sesak di dadanya berkurang saat Taeyong tersenyum tulus padanya.
Taeyong menempatkan tangannya di atas tangan Jaehyun yang ada di pipinya, membagi dingin dari telapak tangan itu padanya. Wajahnya terdongak, membawa wajahnya sedikit lebih dekat. Jaehyun bisa merasakan napas hangat Taeyong berhembus di wajahnya, dan mata hitam indah itu menatapnya, hanya menatapnya. Mencari, bertanya-tanya, diam-diam meminta melalui tatapan itu, meski masih menjaga sedikit jarak di antara mereka.
Pada akhirnya, Jaehyun yang memangkas jarak itu pertama kali.
Suatu tempat di bagian terlogis dalam pikirannya menyuruhnya menjauh, memperingatkannya bahwa dia tidak boleh melakukan hal ini. Tapi itu terdengar terlalu jauh, sementara Taeyong di sini, begitu dekat, hangat, dan nyata.
Indera lain dalam dirinya terasa lenyap. Semua hal yang bisa ia rasakan adalah bibir lembut terhadapnya, sentuhan di kulitnya yang terasa panas membakar, dingin menggigil di saat yang sama. Pakaian dilepas, berserak di lantai tiap mereka bergerak hingga menyisakan kulit tak tertutupi. Menyentuh dan mencium. Menyentuh, menyentuh, dan lebih banyak lagi sentuhan.
Entah bagaimana Jaehyun menemukan dirinya berbaring telentang di tempat tidur. Taeyong sedang melakukan sesuatu dengan mulutnya, dan yang Jaehyun tahu suaranya berubah menjadi geraman dan rengekan. Tapi tidak ada waktu untuk mempersiapkannya atas apa yang selanjutnya terjadi, karena Jaehyun sepenuhnya kehilangan koherensi atas apa yang terjadi. Tak ada yang tersisa darinya saat dia merasa Taeyong perlahan, dengan penuh tekad menurunkan dirinya sendiri, membawanya masuk dalam sesuatu yang menakjubkan namun salah di saat yang sama. Jaehyun mati-matian berpegang pada kewarasannya saat Taeyong mulai bergerak perlahan di atasnya, semakin cepat, cepat, cepat. Keringat yang berkilau di atas kulitnya, tatapan sayu dan suara putus-putus memanggil namanya di sela senyum manis yang terlihat begitu bahagia.
Jaehyun-hyung, hyung, hyung, Jaehyun-hyung.
Tuhan, Taeyongienya begitu cantik, indah. Jenis keindahan yang bisa membawa napas Jaehyun pergi saat itu juga.
Malam itu,Taeyong merasa tenggelam dalam kebahagiaan hingga jatuh tertidur tanpa mimpi. Tapi Jaehyun dikejutkan dengan mimpi buruk yang membuatnya teringat senyum ayahnya.
Lanjut?
Terimakasih untuk review di chapter sebelumnya. Maaf jika ini membosankan karena lebih banyak narasi dibanding dialognya. Typo dan kesalahan ketik akan diperbaiki jika ada waktu.
So, Review please?
