Ino kembali mengatur nafas selagi bersembunyi di balik sofa. Pandangannya tertumpu pada vas kecil di atas meja baca. Itu adalah satu-satunya benda yang tersisa setelah lima belas menit pertarungan berdarahnya dengan Sasuke. Ruangan yang semula terlihat rapi dan berkelas kini tak lebih baik dari gudang penyimpanan barang bekas.
"Bagaimana?"
Suara Sasuke terdengar dari arah meja bar. Ino mengintip sekilas dari samping sofa untuk memastikan tebakannya.
"Apa kau masih mampu?" suara itu kembali terdengar dengan nada penuh ejekan.
"Aku sudah memperingatkanmu, Sasuke!"
Disambarnya vas bunga cepat lalu ia lempar ke arah lukisan Van Goh berlapis kaca di sudut kanan.
"Sial!" maki Sasuke sambil keluar dari pertahanannya dan berlari ke arah lukisannya berada, menginspeksi lukisan kesayangannya. Serpihan kaca bertebaran di mana-mana.
Bukk! Sebuah ensiklopedi menghantam tembok dengan keras. Sepersekian detik, kalau saja Sasuke telat menghindar mungkin ia sudah gegar otak sekarang.
Sasuke berlari cepat ke arah tujuan Ino. Berharap tidak cukup terlambat untuk mengantisipasi. Diraihnya Ino -yang sayang hanya tertangkap lengan kirinya saja- lalu Ia hentak ke seberang tubuhnya hingga terjatuh membentur pilar. Menjauh dari senapan angin miliknya tergantung.
Sasuke mengambil nafas selagi Ino bangkit dari duduknya. Ia mengenal Ino sebaik mengenal dirinya sendiri. Perempuan itu, ia yakin tidak akan segan menembaknya jika memiliki kesempatan. Dia adalah juara bertahan di club menembak mereka. Itu berbahaya.
"Seperti yang diharapkan dari seorang lulusan terbaik," ucap Sasuke dengan sarkas, berharap Ino segera menyudahi duel menyulitkan ini, "Staminamu luar biasa."
Ino berlari menerjang Sasuke. Sangat kuat hingga mampu mendorong Sasuke merapat ke dinding.
"Jauhi Sakura." Desisnya penuh amarah.
"Kau sudah tahu jawabannya."
"Sial."
Bukk!
"Argh," Sasuke meringis saat Ino berhasil mencuri satu tendangan di perutnya. Sasuke menggunakan satu tangan bebasnya untuk mencekal lengan Ino yang menjepit lehernya. Kini kedua tangan Ino sudah berada dalam cengkramannya. "Jangan melakukan sesuatu yang sia-sia Ino."
Mereka saling dorong untuk beberapa saat, hingga Ino memiliki kesempatan untuk menukar posisi mereka. Kini Ino memiliki pijakan dinding untuk mempertahankan posisi, atau kalau tidak, ia akan terhimpit seperti Sasuke tadi.
"Jangan melibatkannya, kau brengsek,"
Sasuke tidak lagi tersenyum meremehkan untuk peringatan Ino. Amarah mulai merasuki kepalanya.
"Kalau kau mencintainya, kau tidak akan membahayakan hidupnya." sentak Ino sambil memijak dinding secara vertikal lalu melakukan roling atas dengan tertumpu tubuh Sasuke yang masih mencekalnya.
Sasuke sedikit tak siap dengan itu. Ino yang sudah kembali memijak lantai di sisi lain tubuh Sasuke langsung melayangkan tendangan keras ke arah tulang keringnya. Membuatnya sedikit terhuyung.
"Aku tahu kemampuannya." desis Sasuke dengan tubuh mulai memanas marah. Ia sudah kembali berdiri tegak sekarang.
"Kau hanya mementingan dirimu sendiri."
"Aku tidak akan membela diri," ucap Sasuke lalu mencekal kaki Ino hingga jatuh ke lantai. Beruntung Sasuke sempat menahannya sehingga ia tidak perlu meringis sakit saat tubuhnya terkapar di lantai. Sasuke duduk di perut Ino agar gadis itu tidak kembali memberontak. Tangan keduanya saling mencengkram erat.
"Aku sudah memikirkan semua kemungkinan," ucap Sasuke di sela adu kekuatan mereka, "Kita membutuhkan Sakura, Ino. Kau tahu itu."
"Kita bisa menanganinya sendiri."
"Kau hanya membohongi dirimu kalau mengatakan hal itu, bodoh!"
"Dia sahabatku Sasuke,"
perlawanan Ino melemah seiring airmatanya yang mulai mengalir.
"Dia tidak seperti kita, hidupnya adalah hidup orang kebanyakan,"
Sasuke mengendurkan cengkramannya lalu berpindah dari tubuh Ino. Ditariknya Ino hingga dalam posisi duduk lalu menggesernya untuk bersandar pada sofa.
"Dia bahkan mungkin tidak tahu kalau nyamukpun bisa membunuhnya. Bagaimana," Ino mengusap airmatanya, "Bagaimana bisa aku tidak khawatir. Aku tahu apa yang akan ia lalui."
Sasuke merangkul Ino lalu menenggelamkan gadis itu di pelukannya, "Maafkan aku," gumamnya dengan pandangan menerawang, "Aku akan menjaganya. Aku janji."
"Ayo Sakura-chan, kau harus makan yang banyak," ucap Naruto di sela kesibukannya mengunyah ramen. "Ini ulangtahunku ttebayo, kau tidak boleh cemberut."
Sakura tersenyum kecil mendengar gerutuan Naruto. Perlahan sesendok kecil ramen ia suapkan ke mulutnya. Jujur ia sangat tidak berselera sekarang.
"Ummm... Naruto, apa Ino dan Sasuke..."
"Mereka hanya teman, Sakura chan. Kau tidak usah cemburu."
"Aku tidak cemburu," sahut Sakura sedikit kesal, Naruto hanya mengedikan bahu sambil terus menekuni kesibukannya. "Aku hanya merasa aneh, aku tahu kalian saling mengenal, tapi aku tidak tahu kalau sedekat itu."
Sakura mengaduk ramennya bimbang. Ada sesuatu yang mengganggu hatinya. Ia selalu bersama Ino selama ini, tapi tidak sekalipun Ino menceritakan kedekatannya dengan Sasuke. Ino hanya mengatakan kalau ia begitu sial harus terus bertemu Sasuke karena keluarga mereka sangat dekat. Seumur hidupnya, laki-laki yang bisa menginjak pekarangan rumahnya hanya Sasuke dan Naruto. dan itu membuat Ino terus merasa frustasi.
"Sasuke, dia sangat menyayangi Ino," gumaman Naruto membangunkan lamunannya, "Kami lebih tua tiga tahun darinya, suatu hari, saat Ino meminta Sasuke membelikannya permen kapas, Sasuke menolak." Naruto menerawang dengan pandangan kosong. "Kami sedang bermain game saat tiba-tiba utusan Inoichi datang dan mengatakan Ino di culik. Penjahat itu mengirimkan foto Ino dalam penyanderaan. Aku tidak tahu bagaimana Sasuke melakukannya, tapi ia berhasil menemukan tempat persembunyian penculik itu."
"Lalu?"
Sakura bergumam tanpa sadar, berharap firasat buruknya tidak menjadi kenyataan.
"Ia lebih dulu berusaha menyelamatkan Ino. Saat Itachi dan Inoichi datang, Sasuke dan Ino sudah dalam keadaan pingsan. Beruntung mereka belum terlambat. Meski karena itu, Sasuke harus terbaring hampir seminggu."
"Bagaimana dengan Ino?"
Naruto menghela nafas berat, "Ino dikirim ke luar negeri setelah kejadian itu. Ia baru kembali saat berada di tingkat menengah." Naruto menoleh untuk menatap emarald Sakura yang terbuka penuh rasa ingin tahu, "Sesuatu terjadi saat itu, aku tidak bisa mengatakannya. Tapi saat Sasuke terbangun, ia bersumpah akan menjadi lebih kuat untuk melindungi Ino."
Sakura menggigit bibir dalamnya kuat. Kalimat Naruto, entah kenapa membuat hatinya berdesir sakit.
"Jadi seperti itu?"
"Umm... ya begitulah," suara Naruto terdengar kembali ringan, "Mereka sering bertengkar karena Ino benci Sasuke terus membayanginya. Jadi apa yang kau lihat tadi belum seberapa. Saat mereka bertengkar, kami semua akan menyingkir. Hehehe."
Sakura ikut tersenyum meski sedikit terpaksa. Ia mulai bertanya-tanya, mungkinkah, kemarahan Ino tadi karena sahabatnya itu merasa tersaingi karena kehadirannya? Tapi itu sedikit aneh, selama ini Ino tidak begitu antusias dengan keberadaan Sasuke.
"Oi, Sakura chan, kenapa kau melamun?"
Naruto menyenggol bahunya pelan, memuatnya sedikit tersentak. Wajah ceria Naruto menjadi pemandangan yang sedikit menghiburnya.
"Terimakasih ya, Naruto."
Mata cemerlang Naruto berkedip memandangnya, "Terimakasih untuk apa?"
"Karena kau sudah mentraktirku, tentu saja." ucap Sakura sambil menjejalkan sesuap ramen di mulutnya.
"Oh, tentu saja. Setelah ini, aku akan lebih sering mentraktirmu."
Naruto mengangkat sebelah jempolnya sambil tersenyum lebar.
Teeettt... Teettt...!
Sakura menautkan alisnya mendengar bel kembali berbunyi. Rasanya sudah dari tadi bel itu terus berteriak mengganggunya. Disingkapnya selimut yang menutupi wajah kesalnya.
"Sial," makinya sambil mengulurkan tangan mengambil beker di atas nakas, matanya memicing melihat jarum pendek bahkan belum sampai di angka dua. "Benar-benar cari mati."
Menguap malas, Sakura lebih dulu berjalan menuju dapur sebelum membuka pintu. Ia butuh asupan minum untuk menghilangkan kantuknya.
"Lambat sekali."
"Astaga!" pekik Sakura kaget. Ia hampir saja menjatuhkan gelas yang di pegangnya kalau saja Sasuke tidak menangkapnya dengan cepat. "A-apa yang kau lakukan di sini?"
"Hn."
Sakura menoleh ke kanan dan ke kiri untuk meneliti, mungkin saja Sasuke datang bersama Ino atau Naruto, Tapi ruang apartemennya terlihat lenggang.
"Bagaimana kau bisa masuk?" tanyanya curiga. Ia yakin sudah mengganti kode apartemennya setelah penerobosan Sasuke malam lalu.
Sasuke terlihat mengedikkan bahu, meminum sisa air Sakura lalu berjalan menuju sofa di ruang tengah. Ia baru akan berbaring di sana saat Sakura mencekal tangannya.
"Keluar, aku harus istirahat," ucapnya cepat, tangannya masih mencengkram lengan Sasuke.
Sasuke memandang tangan Sakura sesaat sebelum akhirnya beralih ke mata hijau emerald yang bersinar tertimpa cahaya dari luar.
"Ke-kenapa?" Sakura melepaskan cengkramannya mendapat tatapan dari Sasuke, ia mengutuk dirinya sendiri untuk tidak bertindak konsisten atas niatnya menolak entitas Sasuke. Diam-diam dibuatnya catatan mental untuk tidak menatap Sasuke tepat di matanya, mata itu punya magnet yang mengerikan.
"Aku tidak ingat pernah melarangmu beristirahat." gumam Sasuke datar. Tubuhnya kini berbaring di sofa dengan mata tertutup. Mengabaikan Sakura yang semakin menatapnya kesal.
"Aku tidak mau jadi mentormu."
Sasuke membuka mata mendengar ucapan Sakura. Memperbaiki posisinya kembali duduk lalu menarik tangan Sakura agar duduk di single sofa di dekatnya.
"Maaf untuk yang kemarin, itu di luar prediksiku."
Sakura masih diam, cerita Naruto berputar di kepalanya. Membuat jiwanya terbelah dua, antara menolak atau tertarik dengan keberadaan Sasuke.
"Aku bukan orang yang tepat, sebaiknya kau cari orang lain."
"Aku tahu kau adalah jenius matematika sejak di lahirkan," Ucap Sasuke dengan pandangan lurus ke depan. Mengabaikan opini Sakura tentang dirinya sendiri. "Aku tidak akan berbasa-basi, ataupun menjanjikan kepalsuan jenis apapun,"
Kali ini pandangan Sasuke tertuju padanya, "Tapi kalau kau ingin melihat jalan menuju neraka, ikutlah denganku."
"A-apa?"
"Kali ini aku tidak akan memaksa," gumaman Sasuke terdengar sedikit menyakiti hatinya, "Tapi kalau kau bersedia menemaniku, aku bersumpah akan melindungimu sampai kapanpun."
"Ba-bahasamu terdengar mengerikan." ucap Sakura gugup. Diselipkannya helaian merah muda yang sedari tadi terasa mengganggu ke telinga kirinya.
"Hn."
"Kenapa aku harus menyetujuinya?"
"Karena ada aku," jawab Sasuke dengan smirk menggoda. Sakura berdecih jengkel melihat itu. Bola matanya berputar dramatis untuk menyuarakan 'yang benar saja' dari kepalanya.
"Karena hanya kau, Sakura. Kalau kau menolak, tidak akan ada kandidat lain untuk menggantikan posisimu."
Sakura memperbaiki posisi duduknya mendengar itu. Entah kenapa, ada sesuatu dalam dirinya yang mendorongnya untuk tersenyum senang, sesuatu yang ditahannya sepenuh hati.
"Seberapa penting ini untukmu?"
"Menurutmu?"
Sakura mengedikkan bahu, sejujurnya ia tahu jika Sasuke si pewaris sampai mau meminta langsung seperti ini, laki-laki itu pasti sudah berada di ambang keputusasaannya.
"Ceritakan padaku apa yang akan kuhadapi." ucap Sakura tenang. Berkebalikan dengan hatinya yang bersorak jumawa. Entah kenapa ia merasa tengah menjadi agen mata-mata seperti yang selalu di tontonnya di film-film. Ini terasa keren, bahkan meski nyaris tak masuk akal. Imajinasinya benar-benar berlebihan.
"Kita akan menghadapi organisasi berbahaya yang mungkin bisa mengancam dunia."
"Menarik sekali," cibir Sakura santai, "Apa aku akan jadi agen ganda?"
"Lebih dari itu."
"Berhenti bercanda."
Sasuke menghela nafas panjang, tatapannya tak pernah berhenti menatap Sakura.
"Seseorang mencuri sahamku dengan jumlah yang fantastis. Dan aku harus mengambilnya kembali," Sasuke menutup matanya sesaat, menyembunyikan lompatan amarah yang mungkin saja akan muncul. Ia tidak ingin Sakura menjadi takut karena itu, "Aku tidak bisa mengambilnya dengan cara baik, dia punya banyak pendukung yang membuat Uchiha terus kehilangan kekuatan."
"Apa ini hanya tentang nama baik?"
"Kau memberiku kehormatan itu, dan aku akan memberimu hidup yang tidak pernah kau bayangkan sebelumnya."
Sakura menegang di tempat. Tidak hanya oleh kata-kata yang Sasuke ucapkan, tapi juga nada bicara yang membuat seolah ada mantra ajaib mengikatnya.
"Aku ikut."
Pada akhirnya, rasa ingin tahu dan imajinasi 'keren' yang berlompatan mengalahkan akal sehatnya.
Sasuke tersenyum sekilas mendengar itu.
"Kita bertemu jam sepuluh di markas." Sasuke bangkit dari duduknya setelah meninggalkan secarik kertas di meja. "Kau masih bisa berubah pikiran. Sampai besok."
"Sa-suke," Panggilnya saat Sasuke tiga langkah melewatinya, Sasuke hanya menoleh pelan, "Apa ini ada hubungannya dengan penculikan Ino dulu?"
Sasuke terkesiap mendengar pertanyaan Sakura. Penculikan itu adalah kisah rahasia keluarga mereka. Sial, Naruto benar-benar ceroboh dengan menceritakannya pada Sakura.
"Ya." gumam Sasuke dengan tangan terkepal. Ia berjalan cepat setelahnya. Meninggalkan Sakura yang masih mematung di tempat.
Tbc
Chapt. 3 update kilat. hehehe... maaf ya teman-teman chapter kemarin sy salah post. semoga chapter ini gak salah lagi. :)
ngomong2, mulai chapter depan akan banyak membahas tentang gambling. Karena saya bukan pemain, tolong segera koreksi jika ada kesalahan. sy hanya bermodal google untuk referensi. jadi, harap maklum jika ada kekurangan ya.
terimakasih yg sudah membaca dan meninggalkan jejak, juga yg review dan follows. chapter depan sy update jika fav dan follws tembus di angka 20.
sekali lagi terimakasih yaa...
Salam hangat- Beb
