(re-do)
3/?
.
Jihoon menatap Soonyoung yang berdiri di bingkai puntu rumah Jeonghan. Ia menyerahkan sebuah kantongan dari kertas yang di dalamnya berisi kotak ponsel beserta kartu operator seluler. Jihoon melirik isi kantongan dan ia menatap Soonyoung lagi.
Soonyoung balas menatapnya, "Sebenci itu padaku sampai kau tidak mempersilahkanku masuk ke rumah sepupuku sendiri?"
Jihoon baru sadar bahwa Soonyoung adalah sepupu Jeonghan. Ia minggir, "Masuklah, maaf tadi saya—"
"Kau suka sekali bicara formal, kita tidak sedang di kantor." Soonyoung masuk sambil melonggarkan dasi lalu tanpa sungkan mendaratkan punggung dan bokongnya di sofa rumah Jeonghan, ia menemukan kentang gorengnya masih ada di bawah sofa. Soonyoung mendengus, kakak sepupunya yang cantik sebenarnya punya sifat pemalas yang sama sekali tidak patut ditiru.
"Lalu, aku harus bicara seperti ini?" tanya Jihoon, bahasa sopannya hilang, "Kujamin kau akan tersinggung kalau mendengar cara bicaraku yang asli."
Soonyoung tertawa keras, mengibaskan tangan, "Sudah, coba saja ponselmu. Aku belikan asal, tidak murah dan tidak mahal. Semoga cocok dengan seleramu."
Jihoon cemberut. Memilih untuk duduk karena ia sadar sedari tadi Soonyoung melirik kakinya yang hanya dibalut celana pendek sepaha. Soonyoung baru berkedip ketika Jihoon menutupi paha dengan bantal sofa.
"Terima kasih." Jihoon mengangkat ponsel yang sudah dia aktifkan, ia memasang phonecase warna merah yang juga sudah dibelikan Soonyoung, "Phonecase nya juga."
"Syukurlah, kukira kau tidak suka warna merah stroberi seperti itu." Soonyoung berkomentar.
Jihoon mengambil secarik kertas dan mulai memasukkan kontak-kontak yang ia catat disana dalam ponsel. Soonyoung diam-diam melirik, ia bisa melihat Jihoon berhenti mengetikkan digit nomor di ponsel.
"Wah, kau mencatat nomorku?" Soonyoung mengatakannya sambil menyengir. "Simpan lah, cepat."
Jihoon merengut, "Tidak sopan." Dengusnya.
Jihoon mengetik nomor Soonyoung dengan cepat dan menamainya dengan 'Tuan Gila' sebelum memencet tombol simpan.
Soonyoung tidak memperhatikan gerakan cepat Jihoon. Ia kembali memperhatikan kaki Jihoon. Raut wajahnya kelihatan kesal—lebam di kulit Jihoon benar-benar kentara. Ia menaikkan pandangan hingga ke wajah Jihoon dan kebetulan ia bertemu pandangan dengan perempuan itu.
"Apa lihat-lihat?" Jihoon menghardik galak.
Soonyoung masih menatapnya serius. Ia membayangkan lebam lain yang ada di balik pakaian Jihoon.
"Sakit, kan?"
Jihoon berkedip sedetik, secepat itu pula ia sadar kalau tangan Soonyoung meraih dagunya dan mengecek kondisi wajahnya. Jihoon meringis, agak nyeri ketika jari Soonyoung mengenai bagian yang kena pukul Seyong semalam.
"Sakit." Jihoon menatap Soonyoung balik, wajahnya sendu, "Jarimu menekan disana."
Soonyoung sempat terdiam sejenak, kemudian menarik kembali tangannya, "Aku gatal mau memeriksa seberapa jauh lebammu, tapi kurasa Jeonghan-noona lebih bernafsu untuk hal itu. Atau kau mau memeriksanya sendiri? Kau dokter juga kan?"
Jihoon menyentuh pipinya dan menekan di tempat yang sebelumnya disentuh Soonyoung. Ia mengaduh pelan, tidak tahu bahwa tekanan yang ia berikan ternyata terlalu keras.
Soonyoung tertawa sekali lagi, ia menggusak rambut Jihoon lalu berdiri, "Aku lupa jam makan siang ada janji dengan seseorang." Lalu ia berjalan keluar rumah Jeonghan, Jihoon menatapnya dalam diam. Tapi, ketika Soonyoung berbalik ia kikuk lalu reflek melambaikan tangan dengan kaku.
"Ha—hati-hati."
Soonyoung tersenyum padanya, "Sembuhlah dengan cepat. Aku ingin cepat melihatmu lagi di rumah sakit."
Jihoon tidak tahu kenapa jantungnya mendadak beraktifitas lebih cepat. Ia tidak membalas ucapan Soonyoung, dan tetap duduk di tempatnya sekarang. Ia menyentuh lagi pipinya, di tempat yang sebelumnya disentuh Soonyoung—menekannya sekali lagi.
"Sakit kan?"
Jihoon menggigit bibirnya, menahan diri untuk meringis. Tanpa sadar menekan lebih keras.
Apa aku jahat sekali jika seandainya aku mengharapkan sakit ini hilang?
.
"Ya Tuhan, Jihoon! Kemana saja kau? Seyong sangat khawatir padamu!"
Jihoon diam mendengarkan suara Ibunya di telepon, "Aku ada di rumah teman, Bu. Aku baik-baik saja, Ibu tidak perlu khawatir."
Ibunya menghela nafas, "Syukurlah, kau sudah menghubungi suamimu atau belum?"
"Ibu, aku ingin bercerai dengan Seyong. Jika Ibu ingin tahu apa alasannya, tolong temui aku di kafe N setengah jam lagi."
Jihoon ingin menutupi rumah tangganya yang kacau dari Ibunya selamanya. Entah logika atau perasaan yang menguasainya, ia tidak tahu. Jihoon tidak ingin sakit lebih dari ini.
.
Nyonya Lee sedikit bingung ketika Jihoon datang dengan pakaian lengkap menutupi seluruh badan—bahkan Jihoon memakai masker. Setahu wanita itu, putrinya tidak suka memakai pakaian kelewat tertutup karena Jihoon suka mengeluh panas dan ia tidak suka berkeringat. Ketika Jihoon membuka maskernya, Nyonya Lee terkejut melihat ada lebam yang cukup besar di pipi putrinya—di dekat mulut.
"Astaga, Jihoon. Apa yang terjadi denganmu? Lebam itu—"
"Bu, sebenarnya aku tidak ingin Ibu mengetahui ini.." Jihoon menundukkan kepalanya, "Sungguh, aku tidak ingin merepotkan Ibu. Membuat Ibu khawatir seperti ini hanya akan melukai hatiku sendiri, aku ingin Ibu tahu kalau selama ini aku bahagia bersama suamiku, meskipun baru dua tahun, meskipun kami belum memiliki anak—"
"Tidak apa-apa, sayang. Dua tahun masih sangat awal, anak tidak selalu datang dengan cepat. Bahkan ada yang lima atau sepuluh tahun kemudian baru mereka diberikan anak. Tuhan selalu adil, jadi jangan pernah berpikir macam-macam." Nyonya Lee berkata lembut. Dan Jihoon berpikir bahwa ia memang lebih banyak memiliki kemiripan dengan Ayahnya dalam sifat dan pola pikir. Ibunya adalah orang yang sangat positif, sabar dan hangat. Beda dengannya, meskipun kalau dalam urusan fisik ia seperti kloningan sang Ibu.
"Aku tidak berpikiran macam-macam, Bu. Tapi, Seyong yang berpikir begitu."
Jihoon menunjuk pipinya, "Lebam ini, Seyong yang membuatnya. Dia sangat marah padaku kemarin malam. Dia mendengar gosip kalau aku berselingkuh dengan direktur rumah sakit jiwa tempatku bekerja. Aku mempertanyakan sumber isu itu tapi itu hanya membuatnya semakin marah. demi apapun, aku tidak selingkuh. Aku tidak mau menghianatinya, Bu. Aku bahkan merasa bodoh berharap jika suatu saat dia bisa berubah. Mungkin mentalku kurang kuat, tapi…tapi Bu—" Jihoon berjeda sejenak hanya untuk menarik nafas, ia perlu membuat dirinya tetap tenang, setidaknya ia bisa membuat dirinya tidak menangis di hadapan ibunya. "Ibu dan Ayah memang tidak pernah mendidikku dengan cara yang kasar, aku hidup dalam lingkungan yang tidak pernah mengalami kekerasan. Aku baru pertama kalinya menikah, Bu. Aku tidak tahu kelakuan Seyong terhadapku itu bisa dikatakan wajar ataukah tidak. Jika stress, ia akan melampiaskannya dengan memukuliku. Jika marah ia malah akan semakin menjadi. Emosi memang perlu pelampiasan jadi kupikir mungkin bukan cuma aku yang mengalami ini lalu aku bertahan. Tapi, ini kelamaan jadi sakit, Bu. Aku tidak tahan sakitnya."
Nyonya Lee menggenggam tangan putrinya, lalu ia sadar mengenai tulang-tulang jari Jihoon yang sangat terasa di permukaan telapaknya. Apakah putrinya tambah kurus? Matanya agak cowong, tapi kelopaknya bengkak pagi ini. Apa semalam dia menangis? Apa dia kurang tidur?
"Jihoon, sudah berapa lama kau mengalami ini?"
Jihoon tersenyum, menghela nafasnya. "Sejak Seyong tahu kalau rumah tangga kami tidak akan pernah dikaruniai anak."
.
Ibunya berkata akan membantu Jihoon untuk mengumpulkan bukti-bukti kekerasan yang dialami putrinya, tapi Jihoon menolak. Dia tidak ingin menggunakan bukti itu sebagai alasan perceraian karena itu akan mengungkit latar belakang yang lain dan alasan yang lain lagi dan Jihoon tidak ingin kekurangan suaminya terkuak di pengadilan. Ia ingin memakai alasan lain yang sekiranya bisa membuat Seyong akan setuju untuk bercerai dengannya. Dan Ibunya bukanlah orang yang tepat untuk membantu rencananya kali ini.
"Aku akan kembali bekerja besok."
Soonyoung kembali ke rumah Jeonghan lagi sore ini. Ia sehabis menjemput Hansol di penitipan anak karena Jeonghan menelepon dan mengatakan padanya bahwa ia memiliki tiga pasien yang akan melahirkan. Ia baru saja selesai menyuruh Hansol untuk mandi dan tidur saat Jihoon memintanya untuk menemuinya di kamar karena ada yang ingin dibicarakan.
"Serius? Lebam-lebam itu bagaimana? Ketika duduk bersandar saja aku masih melihatmu meringis."
"Soonyoung, kau mau aku bercerai dengan Seyong, bukan?"
Mata Soonyoung berkilat begitu mendengar kalimat yang baru saja diucapkan Jihoon.
"Kau mau bercerai dengan suamimu?"
Jihoon mengangguk, "Aku sering merasa kasihan, tapi aku tidak suka jika harus terus-terusan sakit. Bagaimana menurutmu, Soonyoung?" Jihoon menatap Soonyoung, lalu berkedip sekali sebelum melanjutkan, "Wajar atau tidak jika aku hanya berusaha untuk mencari kebahagiaan demi diriku sendiri?"
Soonyoung tersenyum puas, Jihoon seperti sebuah gumpalan kejutan yang tidak berhenti membuatnya terkesan. Kemarin ia terlihat begitu rapuh, namun hari ini dia sudah kembali menjadi sosok yang sangat kuat, dan sedikit mendorong egoisme serta ambisinya dengan keberanian. Sial, ada berapa populasi wanita seperti ini di Korea Selatan?
"Sangat wajar." Senyum Soonyoung sama sekali tidak pudar. "Jika kau perlu bantuan untuk itu, aku akan sangat siap."
Jihoon sendiri bukannya tidak tahu kalau kakinya gemetar. Membuat keputusan seperti ini sama saja seperti bermain api. Jika ia meminta Soonyoung membantunya maka ia tidak akan bisa mundur lagi. Jihoon hanya bisa bertaruh apakah Seyong akan menceraikannya atau tetap membuatnya menjadi sansak setiap hari. Pilihan kedua hanya akan membuatnya terpuruk seumur hidup.
Tidak—tidak ada pilihan kedua. Ia harus berhasil.
"Lakukan perselingkuhan yang sudah sering disuarakan orang-orang itu, aku tahu mata-mata suamiku ada di rumah sakit. Apa kau keberatan, Soonyoung?"
"Astaga, idemu benar-benar gila. Jadi kita berpura-pura selingkuh begitu? Kenapa tidak sekalian saja, Jihoon?" Soonyoung awalnya tertawa, tapi segera berhenti dan buru-buru menyambung ketika ia melihat raut masam Jihoon, "Haha, bercanda, baiklah, kau mungkin sudah gila karena mengajak orang yang terang-terangan menyukaimu untuk melakukan ini. Tapi, tenang saja, aku suka orang-orang gila."
Jihoon mencibirnya, "Kupikir kau lebih cocok menjadi pasiennya dibandingkan spesialis jiwa."
"Bukan cuma aku Jihoon, tapi kita."
Mereka sempat terlibat hening sesaat sebelum ponsel Soonyoung berbunyi. Ada nama Jeonghan di layar ponselnya. Ia mengangkatnya dengan cepat, "Ya, noona?"
Jihoon memperhatikan raut muka Soonyoung yang awalnya terkejut kemudian kesal. Soonyoung mematikan telepon Jeonghan tanpa membalas perkataan Jeonghan di dalam telepon.
"Ada apa?"
Soonyoung kelihatan enggan menjawab, "Seungcheol-hyung datang. Jeonghan-noona bilang dia tidak akan pulang malam ini dan akan menginap di hotel. Dua orang itu astaga, lalu mereka menyuruh kita menjaga Hansol malam ini."
"Kau keberatan menjaga Hansol? Hansol kan tidak rewel juga."
Soonyoung melirik Jihoon dengan wajah yang masih kelihatan sebal, "Begini namanya hanya membuatku sakit hati saja. Mengurus anak sementara orangtuanya sedang dalam proses membuat adik untuknya. Memangnya mereka tidak capek apa?"
Jihoon menyengir, "Ah, kau iri saja."
"Iri apanya?" Soonyoung mendelik.
"Ya iri karena tidak punya istri. Makanya cepat menikah."
Soonyoung mendengus, ia berjalan mendekati Jihoon dan dengan gerakan cepat ia memegang bahunya, menatapnya lekat.
"Dengar, aku ini selektif sekali memilih istri. Bukan yang wajahnya cantik ataupun dadanya besar."
Jihoon memalingkan mukanya, ia mendadak merinding menyadari bahwa di kamar hanya ada ia dan Soonyoung dan jarak mereka sedekat ini.
"Kalau kau mau aku cepat menikah, maka cepatlah bercerai karena aku hanya akan menikahimu."
Soonyoung melepaskannya dan itu membuat Jihoon merasa sangat lega—selega saat ia menyelesaikan tugas akhir di pendidikan spesialisnya dua tahun lalu. Ia mendengar langkah Soonyoung keluar kamar tapi tidak berniat untuk melihat sosok pria itu.
"Soonyoung—"
Eh, sial. Jihoon mendadak lupa apa yang ingin ia sampaikan, sementara Soonyoung sudah menoleh padanya, menunggu ucapan selanjutnya.
"—to-tolong tutup pintunya." Jihoon akhirnya hanya bisa mengatakan hal itu.
Soonyoung terkekeh, sebelum menutup pintu ia berbisik agak keras, "Malam ini aku ada disini, jangan lupa mengunci pintumu kalau tidak mau aku menyelinap masuk."
Jihoon menunjukkan wajah masam pada Soonyoung setiap mereka bertemu hingga ia tidur malam itu.
.
Pintu kamar yang ditempati Jihoon diketuk pada pukul tiga pagi, Hansol ada di sana sambil mengucek mata—bilang kalau ia ingin buang air kecil dan minta ditemani Jihoon, "Uncle Soonyoung tidak ada di kamar." Katanya dengan bibir mengerucut.
Jihoon tersenyum dan mengantarkan Hansol ke kamar kecil—Jihoon diam-diam kagum, bagaimana cara Jeonghan bisa mendidik anaknya jadi pintar dan sama sekali tidak rewel seperti ini?
Setelah mengantarkan Hansol kembali ke kamar, Jihoon pergi ke dapur untuk minum. Disana ia melihat Soonyoung tertidur dengan tangan terlipat di meja, satu tangan memegang pena, pipinya menempel di tumpukan kertas, disebelahnya ada kopi yang tinggal setengah. Setelah menuang air dingin kedalam gelas, Jihoon melirik isi kertas yang cuma bisa separuh terbaca—bacaannya; permohonan dana untuk penambahan unit bidang konsumsi. Di sebelahnya ada nota dinas, di sebelah nota dinas ada beberapa undangan relasi. Mungkin Soonyoung menyuruh seseorang untuk mengantarkannya karena Jihoon ingat, hari ini Soonyung tidak full berada di kantor.
Pipinya lucu, Jihoon membatin. Jarinya tidak tahan untuk mencolek, tapi ditahan.
Ini betulan pria umur tiga puluh kan?
"Tidak jadi minum?"
Jihoon kaget dengan suara yang tiba-tiba itu, air di gelasnya nyaris tumpah kena berkas Soonyoung sementara pria itu menyengir.
"Gugup sekali. Suara air yang dituang di gelas itu kedengaran nyaring. Aku jadi terbangun." Soonyoung matanya sipit sekali kalau baru bangun. Jihoon mendengus, meneguk cepat hingga air di gelasnya habis.
"Aku lupa memberitahumu kalau Lee Seyong mendatangiku ke rumah sakit ketika aku kesana malam tadi untuk mengambil berkas yang belum sempat kutandatangani. Aku heran darimana dia bisa tahu kalau aku sedang di kantor." Soonyoung menggaruk kepalanya, rambutnya yang sudah berantakan tambah berantakan saja.
Jihoon yang kaget, "Eh, dia?"
"Dia bilang aku membawamu kabur." Soonyoung melanjutkan untuk menandatangani berkas, lalu sedikit mendengung, "Duh, sampai mana aku tadi?"
"Lalu?" —yang terjadi selanjutnya apa? Jihoon membatin sekali lagi. Soonyoung berhenti menandatangani berkas selanjutnya.
"Aku bilang sekarang aku belum membawamu kabur, tapi nanti pasti aku akan membawamu kabur darinya."
Jihoon menoyor kepala Soonyoung, gregetan level maksimal. "Berhentilah bercanda, Pak."
"Menurutmu aku masih bercanda? Astaga, Jihoon." Soonyoung mengusap pelipis yang kena toyor, "Aku ini sudah masuk kepala tiga, Ayah Ibuku sudah pasrah masalah jodoh. Mereka sudah memaksaku menikah berkali-kali tapi tidak bisa, bahkan jika aku jatuh cinta pada janda yang sudah bercucu, mereka akan menyuruhku menikah sekarang juga." Giliran Soonyoung menusuk pucuk hidung Jihoon dengan ujung atas penanya, "Apalagi kalau aku jatuh cinta dengan janda kembang. Mereka tidak punya alasan untuk menolak perempuan pilihanku."
Jihoon menatap Soonyoung dengan dahi berkerut. Ia menyingkirkan pena Soonyoung yang mengenai pucuk hidungnya.
"Pak, Ingatlah kalau aku belum bercerai dari suamiku." Jihoon bicara dengan nada datar, "Apa ada lagi hal lain yang dikatakan Seyong padamu?"
Soonyoung bersandar di kursi makan, "Dia tidak melakukan apa-apa selain menggertakkan gigi. Mungkin ia ingin menunjuku, tapi ia menahan diri."
Jihoon menundukkan kepalanya. Soonyoung menepuk kepalanya dua kali.
"Sebenarnya dia mencintaimu, Jihoon. Aku tahu itu."
"Aku tidak tahu." Jihoon menghela nafas, "Aku tidak mengerti dirinya."
"Kau juga mencintai dia kan? Bagaimanapun kalian sudah dua tahun hidup bersama. Dengan perilakunya yang seperti itu, alasan apalagi yang membuatmu bertahan jika kau tidak mencintainya?"
Jihoon menatap Soonyoung tanpa berkedip, cukup lama hingga ia menggerakkan kelopak matanya dan membiarkan matanya basah. Soonyoung tertawa, lalu mengusap air matanya dengan lembut.
"Ya ampun Jihoon, sudah tidak malu menangis di depanku?" Soonyoung membawa Jihoon untuk menyembunyikan wajah di bahunya. "Sepertinya mendapatkanmu masih sangat sulit, kukira kau tidak mencintai suamimu, ternyata perasaanmu dalam ya."
Jihoon hanya diam, menggigit bibir. Yang dikatakan Soonyoung tidak sepenuhnya salah. Tapi, air matanya mengalir karena ia sadar ia mencintai suaminya tapi juga mulai menaruh hati pada Kwon Soonyoung. Spesialis jiwa bodoh yang bukannya membuat perasaannya lega, tapi malah menemukan sesuatu yang semakin membuatnya gelisah.
.
(to be continued)
.
Ps: hei, maaf ya saya baru nongol lagi. Serius niatnya minggu kemarin sudah publish dua chapter. Tapi pekerjaan saya lagi sibuk-sibuknya bolak-balik keluar-masuk kota/? dan pas pulang ke rumah di akhir pekan, saya tepar, kondisi lemes (sampe sekarang pun kayanya ya) tapi mudahan minggu ini saya bisa publish dua chapter, chapter empat mungkin bakal publish sabtu atau minggu, doakan otak saya masih bisa encer dan mata saya fit ga minta merem terus.
Pss: makasih buat yg udah review, makasih banyak pokoknya ya ~
Psss: OI LEE JIHOON DI GIMPO CUMAN PAKE JAKET DOANG ITU, PUTIH DIK JIHOON, PUTIH SEKALI KECIL SEKALI LEGIT SEKALI /pls
