STAGE #3: Bird's Nest

Siang hari yang cerah. Matahari tertutup awan, namun kehangatan sinarnya masih bisa menyelimuti bumi. Angin sepoi melambaikan dedaunan. Ditambah sedikit keramaian di lapangan bola di bawah sana, Shikamaru tidur di sela istirahat siang di atap sekolah dengan damai, ditemani oleh Shino.

"Aku sudah membaca sampai selesai," kata Shino. Semalam, Shino yang hanya bermaksud membaca satu bab Pay It Forward saja keterusan membacanya sampai selesai. Baru kali ini ia menyelesaikan membaca novel setebal itu dalam satu malam. Memang, ia jadi kurang tidur, namun seperti yang pernah dikatakan Shikamaru, novel itu memang bagus; Shino tidak merasa rugi mengurangi waktu tidurnya.

Shikamaru membuka sebelah matanya. "Yang benar? Coba kauceritakan ulang padaku."

"Semuanya?"

"Intinya saja."

Shino berpikir sejenak. "Trevor diberi tugas sekolah oleh gurunya," ia memulai.

Shikamaru mengangguk kecil. "Lanjutkan."

"Tugas untuk membuat suatu proyek sosial yang dapat mengubah dunia, dan Trevor harus terlibat langsung dalam proyek tersebut. Trevor menamakan proyeknya 'Pay It Forward'; konsepnya, melakukan hal-hal baik pada tiga orang, kemudian masing-masing dari mereka harus membalas perbuatan baik itu dengan melakukan hal-hal baik pada ketiga orang lainnya, sehingga akhirnya terbentuk suatu skema piramida. Proyek Trevor tidak berjalan dengan baik, karena Trevor akhirnya terbunuh secara tidak sengaja oleh salah satu orang yang ditolongnya. Namun sebelum kematian Trevor, salah satu orang yang ditolongnya telah melakukan kebaikan pada tiga orang lain yang kemudian meneruskan proyek itu. Maka kematian Trevor tidak sia-sia; 'Pay It Forward' yang semula hanya proyek kecil ternyata bisa mengubah dunia jadi lebih baik." Shino berhenti untuk mengambil napas. "Benar, 'kan?"

Shikamaru hanya tersenyum memandang Shino, dan sebelum Shino menanyakan maksud senyuman itu, Shikamaru sudah kembali tidur.

***

Naruto menendang bola ke arah Shikamaru. Shikamaru, yang sejak tadi sudah standby di dekat gawang tim lawan, menerima umpan tersebut dan meneruskannya pada Chouji. Namun karena gerak Chouji terlalu lamban, Sasuke dari tim lawan merebut bola dan membawanya ke arah sebaliknya. Naruto mengumpat pada Sasuke, namun Sasuke hanya melontarkan tatapan dingin dan terus menggiring bola. Kiba, kiper tim Naruto, maju melintasi garis gawang untuk mencegah Sasuke. Dengan lincahnya, Sasuke melewati barisan pertahanan tim Naruto dan tiba di hadapan Kiba. Naruto, Shikamaru, dan Chouji berusaha menghalangi gerakan Sasuke, namun Sasuke berhasil mengecoh mereka dan berhadapan satu lawan satu dengan Kiba.

Terdengar jeritan murid-murid perempuan dari luar lapangan. Beberapa menjerit karena terbawa panasnya pertandingan latihan, namun kebanyakan menjerit histeris melihat keahlian Sasuke dalam menggocek bola, padahal Sasuke sendiri sama sekali tidak mengacuhkan mereka.

Sasuke memanfaatkan celah kecil di antara kedua kaki Kiba untuk meloloskan tembakannya. Namun sayang, tak ada seorang pun pemain tim Sasuke yang berada di sekitar gawang tim Naruto. Bola yang ditembakkan Sasuke meluncur ke arah gawang. Kiba memekik tertahan, Naruto mengumpat lagi, dan Shikamaru menjerit frustasi. Namun tepat sebelum bola itu masuk ke gawang, Shino muncul dan menghalau bola keluar lapangan. Tim Naruto mendesah lega, tim Sasuke mengeluh. Hanya Sasuke sendiri yang tidak memasang ekspresi apa pun.

Maito Gai, guru Olahraga, meniup peluitnya tanda usainya latihan. Murid laki-laki meninggalkan lapangan bola dan bergabung bersama murid-murid perempuan dalam satu barisan.

"Kau keren, Sasuke," puji Haruno Sakura, kekasih Sasuke, sambil menyodorkan handuk kecil.

Sasuke hanya mengangguk kecil dan menerima handuk itu tanpa mengatakan terima kasih.

"Huh," gumam Naruto. "Sok gaya."

"Hei, kau ini kenapa, sih? Punya dendam pribadi, ya?" tanya Kiba.

"Tentu saja," jawab Naruto cepat. "Secara, dia 'kan belagu begitu. Padahal nggak keren-keren amat, tapi gokilnya nggak ketolongan. Benci banget, nih."

Sasuke menatap Naruto tajam.

"Suaramu terlalu keras, Naruto," tukas Shikamaru.

"Biar saja, biar dia sadar dia sebenarnya bukan apa-apa," ujar Naruto.

"Harap tenang, anak-anak," ujar Gai. "Saya akan mengevaluasi hasil latihan tadi."

Anak-anak langsung tenang.

Gai mulai mengeluarkan clipboard-nya dan membaca catatannya. "Tim Naruto sudah cukup kompak. Sebagai kapten, Uzumaki Naruto sudah berhasil membuat kesepuluh rekannya berperan. Sayang, walaupun Nara Shikamaru bisa mengontrol penguasaan bola, gerakan Akimichi Chouji sering membebani rekan yang lain, jadi kau harus banyak latihan. Sebagai kiper, Kiba sudah cukup gesit, sayangnya kau masih kurang perhitungan. Kurasa Aburame Shino yang berperan paling baik di sini."

Naruto bersorak girang dan ber-high five dengan Kiba. Shikamaru menyikut rusuk Shino dan mengacungkan jempol, lalu menepuk-nepuk punggung Chouji untuk menghiburnya. Sisanya bersorak girang mendengar penilaian tersebut.

"Naruto," panggil Hinata.

Naruto menoleh. "Hmm?"

"Selamat, ya," puji Hinata malu-malu.

Naruto nyengir kikuk. "Terima kasih, Hina-chan."

"Idih, kau itu," ujar Shikamaru, "dipuji sedikit saja langsung besar kepala. Dasar lebay."

"Apaan, sih! Rese banget, bilang saja kau iri!" balas Naruto sengit sambil berusaha menjejalkan sepatunya ke mulut Shikamaru.

"Tim Sasuke," ujar Gai. "Agak mengecewakan. Uchiha Sasuke sangat mendominasi. Kau memang hebat, aku mengakui semangat masa mudamu. Namun menjadi kapten bukan berarti menjadi dewa; kau harus mengajak rekan-rekanmu ikut memegang andil. Mengerti?"

"Mengerti, Sensei," jawab Sasuke.

Naruto tertawa mengejek.

Sasuke kembali menatap Naruto tajam.

"Kau dengar itu, 'kan, Sasuke-chan?" ejek Naruto.

"Uzumaki Naruto," tegur Gai. "Harusnya kau introspeksi dirimu sendiri. Kau terlalu besar kepala dan besar mulut, tapi kau tidak berhasil mencetak angka untuk timmu. Kusarankan kau mencontoh sifat rendah hati Sasuke. Mengerti?"

Naruto cemberut. "Mengerti, Sensei," jawabnya ogah-ogahan.

Kiba dan Shikamaru menertawakan Naruto.

Naruto malu sendiri dan melirik Sasuke.

Sasuke menatapnya mengejek.

***

"Sebal!" jerit Naruto. Ia menendang batang pohon lalu mengaduh kesakitan. "Pohon sialan!"

"Hei, hei, kau ini sebal sama Sasuke atau sama pohon, sih?" tanya Shikamaru di sela tawanya.

"Dua-duanya! Aku juga sebal sama Gai-sen! Juga sama kau!"

"Apa, sih? Kok aku juga ikut-ikutan?" tuntut Shikamaru.

"Kau menertawakanku, sih! Aku lagi bete, nih, pergi sana!"

Shikamaru tertawa lebih keras dan melenggang pergi.

"Mau ke mana?" tanya Shino.

"Minum," jawab Shikamaru. "Ikut, yuk."

***

Air ledeng memang terasa aneh di lidah, namun menyegarkan di tenggorokan. Shino merasakan air ledeng membasahi rongga mulutnya dan mengalir turun dari kerongkongannya. Sebelumnya, ia tidak pernah sudi minum air langsung dari keran. Namun sejak bersama Shikamaru, Shino sering mencoba banyak hal.

"Segar, 'kan?" Shikamaru melemparkan handuk pada Shino.

Shino menangkap handuk itu. "Yah, begitulah."

"Ayo ke ruang ganti," ajak Shikamaru. "Pakaian olahraga yang penuh keringat bikin pengap."

Shino mengangguk setuju dan mengikuti Shikamaru. Ketika mereka sedang melintas di bawah bayang-bayang pohon, Shino menghentikan langkah.

"Ada apa?" tanya Shikamaru.

"Anak burung," jawab Shino.

"Hah?"

"Kelihatannya jatuh dari sarangnya."

Shikamaru menunduk, matanya menemukan seekor anak burung yang tergeletak di atas tanah, tak jauh dari tempat Shino berdiri. Ia menengadah sambil memicingkan mata. Di salah satu cabang pohon, ada sebuah sarang. Di dalamnya, ada tiga ekor anak burung yang masih sangat kecil, ketiganya sedang berciap-ciap. "Kau benar."

Shino memungut anak burung itu dari atas tanah. "Dia belum bisa terbang, Shikamaru." Ditunjukkannya anak burung yang sedang berusaha mengepak-ngepakkan sayap kecilnya itu pada Shikamaru.

"Tentu saja, dia 'kan masih bayi. Letakkan saja dia di tanah, biar nanti ibunya yang mengembalikannya ke sarang."

Shino tercengang. "Bagaimana caranya?"

"Entahlah, toh itu bukan urusan kita. Ayo, Shino, kita harus cepat ganti pakaian."

"Tapi, bisa saja dia terinjak orang."

"Sudahlah, Shino, kau tidak mau terlambat kelas berikutnya, 'kan?"

"Kau duluan saja, Shikamaru," ujar Shino. "Aku akan mengembalikannya ke atas sana."

"Jangan bercanda, Shino."

"Aku tidak bercanda." Shino menggenggam lembut anak burung itu di tangan kirinya, lalu mulai memanjat pohon dengan satu tangan.

"Tapi kau bisa jatuh."

"Aku takkan mati hanya karena jatuh, tapi anak burung ini bisa mati kalau terinjak."

"Kau keras kepala, Shino." Shikamaru menarik bagian belakang pakaian olahraga Shino. "Kau turun saja, biar aku yang naik."

Shino menyerahkan anak burung itu pada Shikamaru. "Jangan menggenggamnya terlalu keras; dia sangat lemah, Shikamaru."

"Iya, iya," keluh Shikamaru. "Merepotkan sekali." Ia memasukkan anak burung itu ke dalam saku kaosnya dan mulai memanjat.

"Hati-hati, Shikamaru," kata Shino.

Shikamaru hanya menggeram pelan. Ia berhasil mencapai puncak pohon setinggi empat meter itu tanpa kesulitan. Namun tampaknya cabang-cabangnya agak sulit dipanjat. Ia berhenti sejenak untuk memastikan jarak antara dirinya dan sarang burung itu.

"Kau baik-baik saja, Shikamaru?" tanya Shino dari bawah sana.

Shikamaru menggeram lagi. "Tenang saja, deh." Si anak burung berciap-ciap dalam sakunya. Sejenak ia ragu, namun ia berusaha mengusir perasaan itu dan mulai meneruskan memanjat. Ia berhasil sampai pada sarang burung itu. Ketiga anak burung berciap-ciap semakin keras. Dikeluarkannya si anak burung dari dalam saku, lalu dengan hati-hati diletakkannya ke dalam sarang. Sekarang keempat anak burung itu mengepak-ngepakkan sayap-sayap kecil mereka. Mau tak mau, Shikamaru tersenyum melihat mereka.

Shino menggigit bibirnya tanda cemas. "Bagaimana?"

"Sudah beres," jawab Shikamaru. "Aku akan turun sekarang." Ia baru saja membalikkan badan dan bersiap untuk kembali ke pangkal cabang, ketika tiba-tiba pandangannya kabur. Ia tergelincir dan menggapai-gapai ke segala arah, namun tak berhasil meraih apa pun yang bisa menahan tubuhnya.

Di bawah sana, Shino—yang melihat ada yang tidak beres—meneriakkan nama Shikamaru dengan kalap.

Shikamaru jatuh.

Shino segera bersiap menangkap tubuh Shikamaru.

Shikamaru menimpa Shino.

Shino, masih terlentang, mengerang pelan. "Kau tak apa-apa, Shikamaru?"

"Begitulah," desah Shikamaru. Ia bangkit dari atas tubuh Shino.

Shino melihat darah membasahi bagian depan pakaian olahraganya. Ia terkesiap.

"Kau berdarah, Shino!" Shikamaru panik.

Shino tidak merasakan apa-apa. "Tidak, bukan aku."

Shikamaru masih terpana melihat darah yang merembes di pakaian Shino.

"Kau yang berdarah, Shikamaru," kata Shino akhirnya.

"Tidak."

"Ya. Kau berdarah."

"Aku tidak terluka."

Shino meraih lengan Shikamaru. Ia melihat beberapa goresan panjang di bagian dalam pergelangan tangan kiri Shikamaru yang masih mengucurkan darah. Shikamaru menyadari lukanya, lalu menyentakkan genggaman Shino dan bangkit berdiri.

Shino ikut bangkit. "Kau memang berdarah, Shikamaru."

Shikamaru diam saja.

"Ayo ke ruang kesehatan. Lukamu harus diobati."

"Tidak usah, kita tidak boleh terlambat ke kelas."

"Shikamaru, lukamu lebih penting—"

"Berisik!" seru Shikamaru.

Shino terperanjat. Belum pernah Shikamaru membentaknya seperti itu.

Shikamaru sendiri juga terkejut; ia tidak bermaksud sekeras itu pada Shino. "Maaf, Shino, bukan maksudku membentakmu," katanya irih.

"Tidak apa-apa," tukas Shino. Namun matanya masih mengamati wajah Shikamaru, mencari-cari sesuatu yang disembunyikan pemuda itu.

"Ayo, kita harus cepat ganti pakaian."

Shino mengangguk.

"Nanti biar kuobati sendiri saja."

Shino mengangguk lagi.

Shikamaru berjalan ke arah ruang ganti, diikuti oleh Shino.

"Shikamaru," panggil Shino ragu. "Maaf, ya."

"Soal apa?"

"Gara-gara aku memaksamu mengembalikan anak burung itu, kau jatuh dan harus terluka."

Shikamaru meninju pelan pundak Shino. "Bukan salahmu. Aku sendiri yang ingin naik, 'kan? Sudahlah, lupakan saja, kita benar-benar sudah terlambat masuk kelas, nih." Ia berlari kecil memasuki ruang ganti.

Shino masih merasa ada yang tidak beres. Namun melihat Shikamaru yang berganti pakaian sambil bersiul-siul seperti biasanya, Shino segera mengenyahkan pikiran itu.