HUNjustforHAN

.

Present

.

.

.

.

.

.

BLACK PIANO

.

Chapter 3

.

.

.

.

.

.

.

Dua minggu pertama mungkin bisa dilewati Sehun tanpa terlalu banyak mengeluh. Seluruh kartu dalam dompetnya memang tidak dapat memuntahkan uang lagi, namun beruntunglah Sehun masih memiliki ibu seperti Tiffany yang rutin mengiriminya beberapa juta won melalui Junhyung setiap kali perutnya kelaparan. Begitu Sehun bertahan hidup selama 14 hari.

Sayangnya dihari ke 15, Junhyung mengatakan jika ayahnya tau mengenai hal tersebut dan tidak adanya uang titipan lagi membuat Sehun memahami semuanya. Uang, kartu kredit ataupun debit, tidak ada lagi yang berfungsi.

Luhan beberapa kali bertanya pada Sehun mengapa lelaki itu punya banyak waktu untuk mengantar dan menjemputnya ke tempat mengajar, padahal setaunya seorang CEO bahkan sulit mendapatkan waktu luang untuk bernapas. Sehun yang masih berada ditahap pengumpulan keberaniaan untuk mengakui kondisinya sekarang malah memilih berbohong, mengatakan pada Luhan bahwa dia mengambil cuti beberapa minggu. Disyukuri ataupun tidak, Luhan percaya.

Sepulang mengantar Luhan mengajar les piano, maka Sehun akan langsung bergegas membawa surat lamaran kerja kesana-kemari, mendapat cemohan sana-sini dari orang yang pernah mengenalnya dan ditertawakan sampai harga dirinya remuk, tercabik dan nyaris bernanah.

Mantan seorang CEO melamar pekerjaan dan diterima sebagai staff bawahan. Lagipula perusahaan mana yang mau menerima karyawan baru langsung menduduki kursi teratas ? Kalaupun ada, Sehun tau dia tidak akan mendapatkannya. Dia mengenal bagaimana licik cara Oh Jisub berpikir. Dan menjadi staff bawahan adalah satu-satunya jabatan yang diperbolehkan ayahnya.

Perusahaan mereka memiliki jaringan besar. Memberi pemberitahuan kesana-kemari bahwa pelamar pekerjaan bernama Oh Sehun mendapatkan kartu blacklist itu semudah menempel poster ditembok jembatan. Ayahnya bahkan sanggup menyingkirkan kedudukan Sehun sebagai anak demi membuktikan bahwa dia punya kekuasaan yang bisa membuat Sehun menyerah.

Tapi Sehun punya kaki tegap untuk berdiri diantara semua ejekan yang membasahi seluruh tubuhnya seperti rinai hujan. Terlebih lagi, dia punya Luhan; segalanya di dunia ini yang ingin Sehun pertahankan. Wanita berbulu mata lentik yang punya sejuta pesona.

Sebulan kemudian merupakan waktu dimana Sehun mengambil keputusan menjual apartemennya dengan gantian yang lebih sederhana. Gaji staff bawahan bahkan tidak cukup membayar tagihan listrik. Dia juga mengganti mobilnya dengan sesuatu yang lebih irit bahan bakar. Lagi-lagi Sehun harus menutupi penderitaannya dari Luhan.

Miris memang hidup si pangeran mahkota setelah dibuang dari kerajaan hanya demi mengejar cinta seorang gadis kampung. Tapi kebahagiaan yang sedang diperjuangkan Sehun adalah mendapatkan gadis bermata seindah butiran hujan itu untuk dirinya sendiri.

Dia mungkin bisa menyembunyikan kesulitannya selama beberapa minggu kemudian dari Luhan, walaupun pacarnya sering bertanya kenapa Sehun sering tidak berada di apartemen, ataupun kenapa Sehun semakin jarang menghubunginya. Itu semua karena Sehun bukan lagi seorang CEO yang bisa dengan bebas mengotak-atik ponsel selama jam kantor. Sekarang jabatannya hanya sebagai staff bawahan yang disuruh bolak-balik ke ruang fotocopy, ataupun berlari ke coffee shop untuk mendapatkan beberapa cup kafein.

Pulang dengan mengurut lengan yang nyaris kebas selalu Sehun lakukan hampir setiap malam. Pertemuan dengan pacarnya menjadi sesuatu yang jarang. Begitu jam kantor selesai maka hal pertama yang dilakukan Sehun adalah mengecek notif ponselnya lalu mengumpulkan kebohongan lain demi membalas pesan Luhan.

Seperti itu dia melalui penat di otot dan di batinnya selama beberapa waktu, sampai di satu malam ketika handuk kecil masih menjuntai dilehernya serta rambut hitamnya yang belum kering sempurna, denting bel apartemennya berbunyi. Kemudian helai-helai kebohongan yang sudah disusun seapik mungkin harus dibereskan bersamaan dengan tatapan Luhan untuk dirinya. Dari balik pintu.

Siapa yang memberitahu wanita itu?

.

.

.

Tentu saja Luhan menyadarinya, Sehun yang mulai sulit dihubungi dan punya banyak alasan walau hanya sekedar meminta bertemu. Beberapa kali Luhan mengunjungi apartemen Sehun, tapi tidak ada satu orangpun yang tersedia untuk diajak bicara. Keadaan rapi, udara pengap serta lampu yang seutuhnya mati. Sebenarnya Luhan mulai bisa membaca sesuatu dibalik gorden yang labuh menutupi jendela. Sampai dua hari berikutnya, pintu apartemen Sehun tidak kenal lagi dengan password yang Luhan ketikkan.

Dia pulang menertawakan dirinya sendiri atas kebohongan yang mulai terjadi.

Sesuatu sedang disembunyikan. Bertanya pada Sehun sama saja mengalikan seluruh kecurigaan ini dengan nol. Luhan putuskan menghubungi Junhyung sore itu, memberi cara paksaan yang luar biasa mengagumkan sampai Junhyung mengangkat tangan dan membocorkan jawaban yang sedang diburunya.

Kemudian waktu membawa Luhan pada malam ini; malam dimana dia datang berkunjung ke apartemen baru pacarnya yang terbilang sederhana dan bertemu Sehun dalam keadaan tidak siap.

Ribuan pertanyaan mulai mengkerut di pucuk kepala.

Setiap kali mereka tidak sanggup menatap mata satu sama lain, maka disana ada masalah yang terselip. Sekarang juga, ketika mereka duduk berhadapan dengan Sehun yang terus menunduk sedangkan Luhan masih mencoba bernapas secara benar.

"Sejak kapan ?" si wanita memulai perbincangan di intonasi sedingin bongkahan es. Wajah muramnya berkata bahwa hatinya sedang dikecewakan oleh seseorang dan dia tidak pernah menyukai hal tersebut. "Sejak kapan mulai menutupi satu sama lain seperti ini ?"

Lelaki dihadapannya menelan ludah, "Tau dari mana ?" Tanya lelaki itu masih menunduk .

"Yang kubutuhkan disini adalah penjelasan, bukan pengalihan topik."

Masing-masing dari mereka bernapas kasar.

"Penjelasan tentang apa ?"

"Semuanya!"

Tubuh lemas Sehun terhempas kasar di sandaran sofa. "Aku tidak punya penjelasan apapun. Kuharap kau menghargainya," katanya tenang. Namun si wanita belum merasa terpuaskan.

"Pembohong!"

"Jaga kata-katamu, Luhan."

"Aku hanya meminta penjelasan. Apa itu berlebihan ?"

Sehun mengusap wajahnya frustasi, sedangkan Luhan memalingkan wajah kearah lain.

"Bisakah kita melupakan pembahasan ini ? Kau tau semua akan menjadi lebih buruk."

"Tidak akan menjadi lebih buruk jika kau memberiku penjelasan!"

"Kenapa selalu aku yang harus memberikan penjelasan ? Kenapa selalu aku yang harus memaklumimu ? Kau bukan gadis sepemaksa ini sebelumnya!"

"Se—" Luhan kehilangan kalimat.

"Oke. Kau menginginkan penjelasan, dan aku juga menginginkan hal yang sama. Jelaskan alasan mengapa kau menyiram wajah Nicholas di pesta waktu itu. Lalu jelaskan juga kebohongan yang kau maksud beberapa waktu lalu secara jujur. Maka kupastikan, akan kujelaskan apapun yang kau inginkan!"

Lelaki itu bersungguh-sungguh dengan omongannya, Luhan sendiri memilih diam alih-alih menyela. Dia tidak punya pembelaan yang cukup untuk menentang. Bahkan mendengar Sehun berbicara dengan nada setinggi ini membuat hatinya mengkerut sangat parah. Alasan kenapa dia menyiram wajah Nicholas terlalu menyakitkan hati untuk dikenang. Sementara tentang pertemuan kurang menyenangkannya dengan ayah Sehun beberapa waktu lalu lebih baik tetap disembunyikan. Entah untuk apapun, Luhan hanya merasa dia tidak pandai memulai cerita.

Luhan menarik napas kemudian menghembuskannya secara tertatih. "Baiklah. Kita Lupakan," jawabnya dangkal.

Sehun berdecih atas jawaban tidak bertanggungjawab dari pacarnya. "Egois," katanya tanpa sadar menyinggung perasaan Luhan hingga wanitanya merasa terlukai.

Cinta dalam jumlah berlimpah ruah Sehun kantongi untuk Luhan. Namun karena ketidaksiapan menghadapi keadaan ini, tubuh lelah, ataupun harga dirinya harus tersakiti setiap kali melakoni pekerjaannya, Sehun meluapkan amarah kepada subjek yang tidak tepat.

Wanitanya menitikkan air mata.

"Maaf."

Satu kata dari Luhan dan Sehun hanya bisa melihatnya melangkah pergi. Dengan jelas dan penuh kebimbangan.

.

.

.

.

Hanya butuh dua hari bagi Sehun untuk merasakan bagaimana penyesalan secara perlahan menjinjingnya ke lubang kematian. Tidak mendapatkan kabar sedikitpun dari Luhan; ataupun setiap panggilan dan pesan yang diabaikan wanita itu menyadarkan Sehun jika bentakannya dua malam kemarin tidak pernah bisa diterima dengan baik oleh pacarnya.

Pukul 9 malam kemarin Sehun mendatangi rumah Luhan. Si cantik sedang memainkan lagu-lagu sedih di atas piano hitamnya ketika Sehun datang, kemudian tanpa sepatah kata pun dia masuk ke dalam kamar dan membiarkan ketukan-ketukan pintu dari lelakinya menjadi percuma. Ada Kyungsoo sedang memakan cemilan di depan televisi yang menyaksikan betapa keruhnya raut wajah Sehun. Dia mengendikkan bahu saat Sehun melihatnya dengan tatapan memohon.

"Urus sendiri. Siapa suruh membuat masalah," katanya tanpa prihatin.

Jika malam kemarin tidak berhasil, maka Sehun masih punya malam ini. Begitu jam kantornya selesai, dia mengambil keputusan cepat untuk menunggu Luhan selesai mengajar les piano. Kaki Sehun bermain kecil di kursi tunggu luar ruangan, mengusir hawa dingin yang bisa saja membuatnya membeku ditempat.

Tiga jam yang Sehun perlukan demi melihat pacarnya keluar. Entahlah, yang jelas ada tatapan kecewa menggantung di ujung lentik bulu mata Luhan begitu tatapan mereka bertemu. Sehun yang berusaha tersenyum, sedangkan Luhan tidak mengerti harus memasang ekspresi apa untuk dirinya sendiri.

"Kita perlu bicara," ajak Sehun sebelum menjalin jemarinya pada jemari Luhan. Dia menggiring Luhan berjalan menikmati dinginnya kota Seoul malam hari tanpa tau Luhan bergidik begitu Sehun menyatukan tangan mereka.

Berapa jam lelaki ini berada diluar ? Kenapa dingin sekali ?

Sampai mereka tiba di apartemen Sehun, tidak satupun dari keduanya berniat melepaskan. Merasa meriang diseluruh tubuh lebih baik daripada kesepian.

Sehun mendudukkan Luhan di ranjangnya sedangkan dia berjongkok menggenggam jemari wanita itu. "Kau sudah lihat sendiri. Bagian mana lagi yang harus kujelaskan ?" tanyanya mendapat gelengan dari Luhan.

"Tidak perlu menjelaskan apapun. Aku terlalu kekanakkan waktu itu."

Sehun membuang napas berat. "Ayah mengusirku, tidak menyisakan apapun lebih dari yang kau lihat. Aku benar-benar harus memulai ulang semuanya dari nol," katanya lalu menunduk.

Semua ini mulai menyiksa begitu Luhan berusaha sebaik mungkin memperbaiki matanya yang perih. Dugaannya benar, Sehun berkorban terlalu jauh. "Apa itu karena…. aku?" getar dibibirnya bahkan terlalu berantakan. Luhan benci. Kebencian pada kekurangannya dalam mengimbangi latar belakang Sehun.

Lalu ketika Sehun berkata, "Bukan," saat itu pula tangisan Luhan berderai. Karena baginya, kata 'Bukan' yang Sehun maksudkan sesungguhnya berarti 'Ya. Semua ini karenamu, karena mempertahankanmu', dan karenanya Luhan merasa seperti ditampar oleh kenyataan.

Dia egois, Luhan menyadari keburukannya. Tapi salahkah seorang wanita egois mengharapkan nasib baik untuk hidup ? Jika itu salah, maka Luhan akan berhenti berharap.

"Aku tidak apa-apa," Sehun menenangkan. Tidak tau itu ditujukan pada Luhan ataukah pada dirinya sendiri. "Berhenti merasa bersalah. Kumohon."

Luhan sedang mencoba, tapi tetap saja dia punya rasa menyesal yang cukup untuk Sehun.

"Aku egois. Kenapa mencintai wanita egois sepertiku sampai separah ini ? Banyak wanita yang lebih baik."

Sehun tersenyum geli melihat cara Luhan menangis, seperti anak anjing yang kehilangan tulang busuknya. "Ternyata kau sadar. Kalau begitu kurangi kadar keegoismu. Banyak wanita yang menunggu diluar sana," katanya lalu mengusap tetes-tetes di pipi tirus pacarnya.

"Serius sedikit, Sehun," rutuk Luhan namun Sehun malah merangkul kepala wanita itu dalam pelukannya.

"Terlalu serius itu melelahkan. Sekarang berhentilah menangis. Dasar cengeng."

Luhan sedang berusaha, tapi setiap kali dia mencoba berhenti malah sesegukannya semakin menjadi-jadi. Hidungnya bahkan terasa meleleh.

"Maaf."

"Tidak apa-apa."

Dan malam itu, Sehun menghabiskan usapan dalam jumlah banyak dipundak pacarnya. Sampai rasa menyedihkan itu tertelan habis.

.

.

.

.

Luhan diberkati tubuh yang mengagumkan. Dia memasukkan apapun makanan yang dikendaki dalam perutnya dan tetap mendapatkan pinggang berukuran sempurna. Kulitnya kencang seperti adonan tepung kanji. Tidak pernah merutuk sampai kesal tentang banyaknya kalori dalam coklat batangan. Jadi Sehun bisa mengajak Luhan makan kapanpun dia merasa lapar, ataupun berkat pinggang ramping pacarnya, dia bisa duduk sambil memangku Luhan ketika wanita itu bercerita lewat nada disetiap denting piano hitamnya.

Sehun suka menyampirkan dagu dipundak Luhan, merengkuh pinggang si ramping dan mendapat tepukan keras setiap kali jemarinya beranjak ke atas. Luhan jarang sekali memakai bra dibalik piyama tidurnya yang pendek, menyulitkan Sehun bernapas tanpa nafsu disetiap karbondioksida yang dikeluarkannya.

"Remasanmu membuat laguku kacau," kesal Luhan, menoleh ke samping dan dikejutkan oleh satu kecupan jenaka dari Sehun.

"Sama. Payudaramu juga membuat otakku sinting," balas si lelaki kemudian menyesap leher pacarnya gemas.

Mata Luhan berputar jengah, memikirkan setinggi apa tingkat seksualitas lelaki yang dia kencani.

Sekarang Sehun mulai membelai pahanya, "Kudengar dari Kyungsoo, lagumu sudah jadi. Coba mainkan sekarang, aku ingin dengar."

"Mulut Kyungsoo memang ember," komentar Luhan pasrah. Dia membetulkan letak duduknya dipangkuan Sehun sekaligus mengaiskan belaian Sehun yang semakin dalam dari waktu ke waktu. "Akan kunyanyikan saat kau menatapku dari ujung altar."

"Lagu pernikahan ?"

"Sejenis itu."

"Hadiah untukku kah ?"

"Pede sekali."

Sehun mencibir. Tapi dia suka mendengar dengusan napas Luhan diantara tawa lembutnya.

"Kyungsoo dimana ?Kerja ?"

"Tidak."

"Lalu ?"

"Dia punya pacar baru. F&B Manager di hotel tempatnya bekerja."

"Om-om ?"

Luhan menggeleng, "Sebaya denganmu," katanya dan yakin Sehun sedang mengangguk dibelakang. "Mungkin malam ini Kyungsoo menginap di apartemen pacar barunya."

"Wow!"

"Kenapa ?"

Tawa sengal Sehun terdengar. "Beruntungnya pria itu. Baru berkencan sudah berhasil meniduri perawan. Seingatku dulu, butuh waktu 20 bulan bagiku hanya untuk mengajakmu tidur."

"Bersyukurlah karena masih menjadi lelaki pertama dan satu-satunya yang berhasil meniduriku."

"Ya. Aku bersyukur setiap kali kau mendesah," kata Sehun yang membuat Luhan mencubit lengannya. "Kalau begitu kita hanya berdua ?"

"Yap," kali ini Luhan mengangguk.

"Mau kutiduri ? Reverse Cowgirl style sambil bermain piano," katanya santai seperti mengorder seporsi kentang goreng dengan saus tomat.

Luhan mengerang, berdiri dari duduknya dan berkacak pinggang dihadapan Sehun.

"Pasti video porno yang mengajarimu seperti ini!"

"Video porno Jepang, Wanitanya cantik-cantik." usil Sehun mengacungkan jari jempolnya ke atas, membuat wajah gemilang Luhan merah karena frustasi.

"HAPUS!"

"Tapi, Lu…."

"SEKARANG!"

"Aku hanya bercanda say—"

"SE KA RANG, OH SE HUN!"

"Siap bos."

.

.

.

.

Sudah tiga malam Seoul dilanda gerimis berkepanjangan. Lebih dari sekedar mendung, namun tidak mencapai tahap hujan. Sebenarnya daripada badai, gerimis seperti ini lebih harus diperhatikan. Orang-orang akan berpikir bahwa payung cukup membuat mereka bertahan di suhu nol derajat celcius, tapi sistem imun tubuh manusia tidak menyetujuinya.

Sehun sempat mengomel ditelinga Luhan untuk tidak berkeliaran di malam hari meskipun dia memakai jaket setebal kulit beruang pada badannya, namun Luhan punya sejuta alasan menarik yang membuat Sehun mendesah agar membiarkannya bermain dengan gerimis di trotoar jalan.

Lalu kejadian yang telah diperkiran Sehun terjadi. Sejak Luhan terus bersin di percakapan telpon mereka tadi pagi, Sehun punya kekhawatiran yang cukup untuk pacarnya sehingga dia berpesan agar Luhan benar-benar memakai pakaian hangat. Dan ketika Sehun mengaktifkan ponselnya semenit setelah jam pulang kantor, pesan dari Kyungsoo menjadi alasan Sehun bergegas pulang.

Wanitanya yang keras kepala itu sedang menggigil di rumah; sendirian, karena Kyungsoo mendapat shift sore hari ini.

Satu kantong berisi parasetamol dan kompres gel serta sekeping kecemasan digenggam Sehun saat dia memasuki rumah, melabrak pintu demi pintu hingga matanya menemukan Luhan sedang bergelung dalam selimut. Hidungnya merah dan matanya berair. Bibirnya terbuka untuk meracaukan hal yang tidak jelas.

Saat Sehun meletakkan tangan di dahi Luhan, raut wajah lelaki itu berubah kacau. "Sudah kubilang jangan sok bersahabat dengan gerimis," racaunya menempelkan kompres gel pada kening Luhan yang panas. "Tunggu sebentar," berlari ke dapur dan kembali dengan satu gelas tinggi air hangat. "Bisa duduk? Minum obat dulu."

Luhan meringis karena rasa pening memutar kepalanya saat Sehun menuntunnya duduk. Dingin yang menggila menggerogoti setiap pori-pori tubuhnya sampai meminum obatpun Luhan tidak sanggup sendiri. Dia memuntahkan obat pertamanya pada baju Sehun, tapi lelaki itu hanya menghela napas tanpa berniat mengumpat atau semacamnya, lalu membuka bungkus obat kedua sampai Luhan berhasil. Sehun menidurkan Luhan kembali sebelum dia beranjak ke kamar mandi untuk mengganti pakaian.

Sehun sudah merelakan tidurnya lenyap demi menjaga Luhan. Demam pacarnya bertahan pada titik 38,8 derajat celcius dan itu cukup menjadikan Luhan meracau dalam tidur. Panas tubuh Luhan menyatu dalam pelukan yang Sehun sediakan. Tangan kanan Sehun terus bergerak menepuk ringan bahu si sakit sedangkan tangan yang lain dia jadikan penyangga bagi kepala pacarnya.

Sampai di sepertiga malam, rasa kantuk menyerang Sehun secara gila-gilaan. Dia terlelap ketika Luhan merintih akibat rasa mual meremas perutnya begitu parah. Tenaga Luhan nyaris kosong, dia butuh seseorang yang baik hati untuk menolongnya menuju kamar mandi, tapi yang tersedia hanya Sehun yang baru saja mendapatkan tidur dan raut lelah wajah Sehun membuat Luhan mengurungkan niat merengek lebih keras.

Kakinya sudah menjuntai ke lantai, tapi begitu Luhan berusaha berdiri dengan setumpuk rasa pusing dikepalanya, dia malah tumbang dan menghasilkan suara jatuh yang keras. Cukup keras untuk membangunkan Sehun.

"Luhan!"

Sehun melompat dari ranjang mereka sementara Luhan sudah membekap mulutnya. Mual diperutnya semakin buruk dan dia tidak mau mengotori Sehun lagi. Luhan tidak mau menumpahkan sesuatu beraroma menjijikkan pada lelakinya, karena semua itu akan merepotkan Sehun.

Tapi gejolak diperutnya bertambah akut, seperti usus yang ditarik oleh tenggorokan untuk dimuntahkan sampai perutnya benar-benar kosong. Hal yang disesali Luhan, Sehun menyadarinya. Lelaki yang mempersembahkan telapak tangannya untuk dimuntahi.

"Jangan ditahan. Keluarkan." Luhan menggeleng, "tidak apa-apa," kata Sehun memaksa dalam kalimat yang baik. Untuk itu, Luhan menjatuhkan satu tetes di ujung matanya saat memuntahkan seluruh rasa mual diperutnya dalam telapak tangan Sehun, permohonan maaf yang sesungguhnya tidak pernah Sehun minta.

Sudah lelaki itu katakan, Demi Luhan, apapun.

.

.

Pukul 4 pagi suhu tubuh Luhan turun secara stabil. Sebenarnya Sehun mendapat kesempatan tidur selama beberapa jam yang tidak banyak, tapi dia pikir untuk tidak tidur saja sekalian mengingat kesulitannya lumayan kronis dalam hal bangun pagi.

Semalam Kyungsoo langsung berlari ke kamar Luhan begitu sampai ke rumah, dia khawatir; tentu saja, tapi menemukan senyuman tipis Sehun seolah berkata 'aku sudah dapat sertifikat pacar yang baik, jadi percayakan temanmu padaku dan segeralah beristirahat'Kyungsoo sepenuhnya percaya pada lelaki itu.

Dalam keadaan sehat, Luhan mungkin akan marah jika mengatahui dapur cantiknya menjadi tempat ajang uji coba kemampuan memasak Sehun yang sangat tidak berkualitas. Untungnya; tidak juga sebuah keuntungan, Luhan sedang demam dan Sehun akan menahannya di kamar sampai dia berhasil mengembalikan keadaan dapur seperti semula. Kyungsoo mungkin bisa membantu, walau tidak banyak.

Mata Luhan terlihat cekung saat Sehun memasuki kamar dengan nampan kayu ditangannya. Wanita itu sedang bersandar di kepala ranjang. Bibir pucat, mata sayu, napas hangat dan tanpa tenaga. Dia seperti tersangka kasus narkoba yang sedang direhabilitasi. Ingin rasanya Sehun mengatai pacarnya dengan kalimat lelucon seperti itu, tapi Sehun tau sekarang bukan saatnya menjadi lelaki humoris.

"Sudah merasa baikan ?" Luhan mengangguk, tersenyum kecil begitu Sehun tiba disisinya. "Kau harus minum obat, tau kan ?"

Luhan menggangguk lagi. "Tau," suaranya serak.

"Bagus." Sehun mengangkat rendah nampannya, "Tau juga kan kalau obat yang ini harus dikonsumsi setelah makan ?"

Luhan mengintip isi mangkuk Sehun, "Siapa yang masak ?" seraknya masih belum sembuh.

"Aku." Percaya diri Sehun.

"Pantas."

"Kenapa ?"

Satu helaan napas prihatin dari Luhan. "Kyungsoo tidak akan pernah seburuk ini dalam memasak," katanya membuat Sehun melongo.

"Sedang menghina bubur buatanku ?"

"Hanya komentar," jawabnya yang dihadiahi satu jitakan gemas dari pacarnya.

"Baiklah. Terimakasih atas komentar menusuknya Juri Lu," ujar Sehun seiring tangannya menyendok ukuran bubur yang pas untuk mulut Luhan. "Sekarang makan apapun yang sudah pacar tampanmu ini buatkan. Tanpa banyak komentar."

Wajah Luhan memang tidak baik, tapi bertambah keruh begitu lidahnya bermain rasa. Entahlah, yang jelas Sehun bisa melihat raut haru yang dikeluarkan pacarnya. Luhan mungkin belajar paham bagaimana usaha Sehun demi menyelematkan perutnya. Lelaki itu sangat kekurangan kemampuan di dapur, tapi demi mengantarkan obat Luhan sampai di ususnya dengan lancar, Sehun nyaris membakar tangannya sendiri.

Luhan tidak perlu tau.

"Aku baik-baik saja, jangan terharu begitu," ujar Sehun mengusap rambut si sakit. "Seharusnya kau lihat secara langsung betapa sexy dan panas pacarmu di balik meja dapur," mencoba agar Luhan tidak lanjut menangis.

"Sehun…"

"Jangan menangis. Aku tau mungkin rasanya tidak enak, tapi….."

"Kenapa masih menyuruhku memakannya kalau kau tau ini tidak enak ? Ini sungguh buruk. Aku tidak mau sakit perut. Makanan ini beracun. Kau mau aku mati ya?"

"Astaga, wanita ini!"

Wanita itu mengusap hidungnya. "Apa?" katanya galak dalam tubuh yang lemas.

"Setelah sembuh, tunggu surat tuntutanku datang atas kasus 'Perilaku Tidak Menyenenangkan'. "

"Ah, sepertinya tubuhku panas lagi."

Cih..

Si cantik ini.

.

.

.

.

Waktu-waktu berlalu dengan kebahagiaan yang mereka coba karang sendiri meski takdir tidak memberkati. Detik demi detik diisi oleh senyuman yang berlandaskan kebohongan masing-masing.

Sehun berkata bahwa dia baik-baik saja, tidak keberatan sama sekali menjalani hidup seperti ini, padahal jelas terdapat masalah mengenai harga dirinya. Sering dia mengerang hanya demi melampiaskan cibiran orang-orang yang seolah berlomba menusuk jantung jantungnya sampai pecah. Setiap menggantungkan nametag pegawai bawahannya, Sehun merasa raganya kehilangan percayaan diri dalam jumlah tidak terhitung.

Begitu pula Luhan. Sampai otaknya lelah, dia hanya berpikir tentang kebohongan apalagi yang harus dikatakannya pada Sehun. Kekhawatiran semakin menjadi-jadi dan cinta mulai tersayat.

Ayah Sehun mulai memperlihatkan ketidaksukaannya. Setiap langkah, Luhan merasa dia sedang dimata-matai sampai tidak punya keberanian untuk menengadahkan kepala melihat langit.

Intensitas pertemuan dengan Sehun semakin sulit. Luhan banyak mengarang alasan agar lelaki itu tidak menemuinya. Karena setiap kali Sehun pulang berkunjung, maka Luhan harus siap menerima tamu lain yang akan datang. Dan kedatangannya tidak pernah membahagiakan.

Sore itu pukul 16. 00. Kyungsoo meletakkan mangkuk ramyunnya di atas meja ruang tengah. Rambutnya masih tertata rapi dan make up nya masih membias sempurna. Blush on coklat membuat pipitnya yang tembam menjadi tirus.

Baru setengah jam yang lalu dia kembali pada rumahnya yang kosong. Ini jam mengajar Luhan, jadi tidak akan ada siapapun yang akan menyambutnya selain tumpukan bungkusan mie instant di lemari dapur.

Tapi ketika Kyungsoo meraih remote TV di sudut sofa dengan gerakan malas, dia tersentak untuk pintu depan yang terbuka.

Luhan disana, dengan penderitaan yang tidak sanggup lagi dia katakan.

"Lu.."

"K-kyung.."

dan wanita itu berakhir menangis dipelukan Kyungsoo. Semakin besar seperti untaian ramyun Kyungsoo yang mengembang.

.

.

.

.

Awan masih putih dan langit tetap biru. Senin selalu mengawali selasa dan rabu dihari berikutnya. Buku tangan Luhan mengepal, dingin, menjepit sisi kancing depan coat hitamnya yang sedih. Rambut hitamnya dibuat ikal namun sedikit tidak terurus. Sudah sebulan, sesuatu yang salah sedang menjalar pada tubuh Luhan yang membuatnya kehilangan nafsu makan dan melakukan ekskresi hampa lewat mulut.

Emosinya juga tidak pasti, seperti grafik yang memiliki titik naik turun. Sehun memang punya kesabaran yang sangat bagus dan Luhan tidak perlu khawatir tentang hal tersebut. Tapi akhir-akhir ini Sehun sepertinya kehilangan separuh dari sel darah merah dari tubuhnya. Matanya yang biasa terisi pasokan kebahagiaan kini mulai meredup, sayu dan lelah. Sehun kurang istirahat. Lingkaran hitam di bawah kantung matanya menjelaskan pada Luhan secara tidak langsung.

Luhan pikir kepalanya sedang ditimpa setumpuk batu depresi dengan berat ribuan kilo. Keadaan mulai tidak berpihak pada mereka. Luhan kehilangan pekerjaannya sebulan lalu dan sampai sekarang penolakan atas dirinya terjadi dimana-mana. Ayah Sehun tentu punya peran penting di balik semua ini.

Hal itu yang membuatnya menangis dalam pelukan Kyungsoo beberapa waktu lalu. Nasibnya seolah diremas, diperas habis-habisan hingga hanya tersisa ampas.

Selain itu, Luhan merasa hidupnya sekarang tersedia dalam bidik kamera. Kemanapun, akan selalu ada hal yang mencurigakan mengikutinya.

"Selamat siang. Apa ada yang bisa saya bantu ?" Wanita berpakaian serba putih yang rapi di balik meja counter bersikap ramah pada Luhan. Aroma obat-obatan yang menyakiti hidung tersedia untuk dinikmati.

Luhan mengangguk, "Ya," katanya menurunkan sedikit syal yang menutupi mulutnya dan membiarkan topi hitam tetap melekat dikepala. Dia terlihat seperti buronan. "Sepertinya begitu," ucapnya lagi seraya mendekat ke meja counter. "Apa saya bisa mendapatkan beberapa obat demam, flu dan …. "

.

.

.

.

Setelah semua kebahagiaan, setelah tawa riang menggema, setelah cinta dipertaruhkan di atas meja perhidangan, firasat itu membuat Sehun tidak nyaman. Hujan kemarin mengajarkannya untuk tersenyum, tapi pelangi malah membuatnya termenung di sudut senja.

Ada apa sebenarnya ?

Luhan berubah.

Cukup dua minggu Sehun menarik kesimpulan atas senyuman kekasihnya yang seolah mati rasa. Mata yang seindah pecahan embun di awal fajar itu seperti tidak lagi mengenalinya, menolak kehadiran Sehun dengan cara sedingin salju di bulan April. Cara diam Luhan menarik Sehun pada kubangan rasa cemas yang menyesakkan.

Dadanya bergemuruh, punya banyak sekali pertanyaan mengapa Luhan semakin sulit dihubungi, semakin sering mengabaikan dan semakin lupa mengabari. Bulan sabit yang tergantung di hitam langit malam memberitahu Sehun jika hatinya menginginkan sebuah alasan; yang masuk akal, dan berharap Luhan mau untuk menjawabnya.

Sehun mendatangi Luhan, pukul sembilan lewat sepuluh menit, karena taburan bintang mengompori rindunya supaya berlari menuju Luhan secepat yang dia bisa.

Wanita itu duduk termenung dengan kepala menunduk di depan pianohitamnya, punya dunia sendiri yang membuat dia tidak menyadari Sehun sudah berada disinya. Ketika dingin tangan Sehun menyentuh pundaknya, Luhan terkejut.

"Kau lupa mengunci pintu"

Mulutnya terbuka dan bergerak-gerak kecil namun tidak berhasil menemukan kata-kata. Jadi Luhan mengatupkan lagi mulutnya, memilih diam menikmati pikirannya yang tidak tersedia untuk dinikmati.

Sehun duduk disamping, dengan arah berlawanan sehingga siku kanan mereka saling bersinggung. Sorot matanya tidak lepas mengawasi kegugupan di ujung pelipis Luhan.

"Sudah makan?"

Pacarnya mengangguk, tanpa kegembiraan.

"Tubuhmu semakin kurus. Sebenarnya apa yang kau makan ?"

Intonasi khawatir yang selalu memacu jantung Luhan berdebar. Keningnya berkerut menahan gejolak dalam tubuhnya. Sensasi dingin dari genggaman tangan Sehun pada jemarinya membuat Luhan terenyuh tanpa alasan yang benar.

"Terjadi sesuatu pada kita. Aku menyadarinya." Pendapat Sehun.

Lirikan sendu dari mata Luhan yang rapuh, apa makna dibalik kesedihan itu ?

"Ya, memang ada," dia menjawab sebelum memalingkan wajah ke bawah, menuju ujung kakinya yang mulai nyilu karena dingin. "Dari awal memang sudah terjadi."

"Boleh aku tau ?"

"Kau sudah tau. Lebih baik daripada aku."

Remasan Sehun bermain gusar di permukaan tangannya, memaksa Luhan memberi perlakuan yang serupa berlandaskan niat ingin saling menguatkan keyakinan masing-masing; yang nyaris rapuh.

"Masalah yang kita hadapi selalu sama, berputar di lingkaran yang semakin membesar dari waktu ke waktu. Tunggu sebentar lagi, aku sedang berusaha membawamu keluar. Tetap disampingku, karena kau adalah satu-satunya alasan mengapa aku bertahan."

Tidak ada respon yang setimpal, Luhan terdiam, begitu pula Sehun yang menanggung rasa bersalah di punggung belakangnya. Kebahagiaan, luka, kesedihan dan cinta, lalu segalanya terbakar hanya karena status sosial.

Kemudian Luhan menghela napas, sangat dalam, sangat menyiksa.

"Sampai kapan ?"

Apanya yang sampai kapan ?Tentu saja sampai kita berhasil.

"Kenapa lama sekali ? Aku jenuh."

Apa ?

"Lu, kumohon jangan menakutiku. Tidak boleh ada kata seperti itu."

Luhan menarik tangannya, mencoba lepas dari jutaan percikan api yang dengan sombongnya mereka genggam. Tapi Sehun tidak ingin begini, dia menahan pergelangan tangan kekasihnya, tidak peduli pada kulit yang melepuh karena derita.

"Pernahkah kau berpikir bahwa seluruh kisah yang kita jalani ini hanyalah sebuah permainan mengejar kemustahilan ? Aku tidak melihat apapun di depan kita selain sebuah akhir. Sebuah lelucon. Perasaan yang terlalu dipaksakan. Firasatku berkata sangat buruk pada akhir kisah ini."

"Cukup. Berhenti. Diam." Saat tubuhnya direngkuh Sehun dalam sebuah pelukan, rasanya Luhan tidak merasakan apa-apalagi selain mencair menjadi aliran sungai yang mendamba samudera. Sehun bernapas gelisah dipundaknya. "Jangan mengatakan apapun. Lebih baik diam. Aku tidak ingin mendengar kata-katamu sekarang. Aku tidak akan mendengarkan apapun."

"Sehun—"

"Diam! Tolong diam!" Sehun membentaknya. Gemuruh di dada laki-laki itu bahkan menggema dalam keheningan. Tangan Luhan mengambang di udara, tidak punya keberanian yang cukup demi membalas pelukan lelakinya. Takdir ini sungguh menggelikan. "Berpikir sebelum bicara. Satu kalimat yang kau anggap baik bisa saja menghancurkan satu kehidupan, dan sadarkah jika kau hampir sajamelakukannya ? Kita sama-sama lelah, jenuh dan muak. Ini sangat sulit. Seperti katamu, terlalu dipaksakan. Tapi aku memilihmu, Luhan, dan aku tidak pernah main-main."

Wanita itu benar-benar diam. Menjaga raut wajahnya pada titik yang tidak terbaca. Entah itu kesedihan ataupun keyakinan, Sehun hanya menemui kerutan lelah diujung lengkungan mata Luhan.

Keadaan ini membuat kepala Sehun berdenyut. Nyeri menusuk ulu hati dan keputusasaan terang benderang berpencar dari kedua bola mata wanitanya. Diragukan adalah kenyataan paling menyedihkan.

Tidak ada yang berbicara menaruh kepalanya di atas paha Luhan, meringkuk seperti anak anjing yang butuh dikasihani. Direngkuhnya pinggang Luhan dengan erat hingga hidungnya menyentuh perut wanita itu.

Mereka membutuhkan waktu untuk membuang seluruh firasat.

Lalu dalam kesunyian, dalam gelap kelopak mata yang tertutup, Sehun merasakan sesuatu menetes dipipinya. Dia semakin menguatkan pelukannya, semakin memejamkan matanya saat tetes-tetes itu bertambah banyak. Kalimat penenang yang biasa Sehun senandungkan untuk Luhan, dia tidak memilikinya saat ini. Kotak penyimpanan kosong. Bahkan Sehun memerlukan seseorang bernyanyi ditelinganya dengan lagu-lagu cinta yang menyakitkan.

.

.

.

.

Kemudian malam adalah waktu dimana Sehun merasa dia memiliki Luhan. Ditemani setangkai bunga dan juga jaket abu-abu yang tidak begitu tebal, Sehun memarkirkan mobilnya di halaman rumah wanita itu. Entahlah, mungkin beberapa minggu lagi dia juga akan kehilangan mobilnya. Kebiasaan hidup Sehun yang mewah kurang cepat mengikuti keinginannya untuk bertahan. Uang akan menjadi sesuatu yang berharga namun sangat cepat berakhir.

"Kyung, Luhan ada ?" tanya Sehun begitu Kyungsoo membuka pintu.

Bahu sempit wanita itu mengendik hambar, "Ada. Di kamar," ketusnya lalu meninggalkan Sehun.

Sekiranya Kyungsoo juga terjangkit virus itu, virus yang membuatnya kehilangan selera humor bahkan nyaris 80%. Kerutan kurang menyenangkan tersampir di dahinya ketika Sehun mencoba mengeluh akan sikap Luhan yang semakin hari semakin banyak membuat tanda tanya.

Kini dunia terasa menjauh.

Ada apa dengan perempuan di muka bumi ini?

Tok.. Tok.. Tok..

"Lu, aku masuk ya ?" mencoba nada sebagus mungkin.

Tidak ada balasan. Sehun mengambil inisiatif pada putaran knop pintu. Napasnya mengkerut dan nadinya menyempit. Aroma kamar Luhan juga tidak seharum dulu. Dia mengganti wewangian bunga wisteria yang manis menjadi setenang harum teh hijau. Bau relaksasi untuk meredam tekanan.

Luhan sedang duduk dipinggiran ranjang, kaki menjuntai ke bawah, wajah sedih, pipi pucat, rambut panjang terurai namun bibir pink alaminya membuat dia tetap secantik kadupul yang tak ternilai.

"Ada apa ?" nada bicara dingin dan cara bicara tidak tertuju ke mata, Sehun tidak suka. Tapi dia menepiskan itu sementara waktu. Tidak berniat mengakhiri hari ini seperti malam kemarin.

Kakinya berakhir dihadapan Luhan, "Untuk wanitaku," katanya meletakkan setangkai bunga di pangkuan kekasihnya, berperilaku seolah mereka masih menginginkan satu sama lain dengan kadar sebagus dulu. Tapi sayangnya, Luhan tidak tersentuh, tidak gembira lagi.

Sesuatu benar-benar sudah terjadi.

"Kemari," panggil Sehun, menarik tangan Luhan dan membiarkan bunga pemberiannya jatuh ke lantai karena Luhan terlihat tidak berniat untuk menggenggamnya. Betapa Sehun menanggung rindu yang menghunus tepat ke jantung, membuatnya berdarah dan menginginkan Luhan mengobati kerinduannya.

Wanita itu tidak menolak saat Sehun memeluknya, tapi dingin tubuh Luhan membuat Sehun cemas, ataupun dadanya yang seolah kesulitan bernapas membuat Sehun terus berprasangka buruk.

"Ternyata masalah kemarin masih mengganggumu. Keraguan itu, seberapa besar ?" bisiknya di telinga Luhan yang langsung bergidik. "Katakan padaku. Karena aku tau ini tidak menyenangkan."

Tidak ada respon yang dihasilkan dan kehangatan terlihat menertawakan dari atas. Sesungguhnya ini adalah bagian dimana Sehun menggigil di tengah panas rindu yang membakar tubuhnya.

Luhan tidak lagi merindu dalam jumlah yang sama.

"Sehun.."

Bisikannya seperti milik orang lain. Seperti dia telah menghabiskan waktu yang banyak hanya demi berpikir.

"Hm ?"

Sehun membiarkan wanita itu menghirup napas dalam hingga urat-urat dilehernya menegang, sedangkan dia berlaku seperti anjing bodoh di bahu sempit Luhan. Mencari kehangatan pada tubuh pacarnya yang hanya menyediakan kebekuan.

"Aku.."

"Katakan.."

"Menyerah."

.

.

.

.

.

.

.

TBC

.

.

.

.

.

.

No coment.

Gue tau itu mengecewakan.Terlalu banyak narasi dan dialog terlalu pendek.Gak nyambung juga tiba-tiba masalah gak jelas datang terlalu cepat. Ide bener-bener mampet kek kloset -_- Tetapi cobalah nikmati. Seperti ayah menikmati bunda *eaaaa :D

CBS Yaamsyooooooonngggg.. Chanbaek pengertian banget sama CBS, dikasi moment naik skuter berdua malem2 secara live (?). Nah, daku yang HHS disini bisa apa selain menebar senyum kesyahduan Cuma karena hunhan sering on weibo bareng. Yaamsyong, sedih banget nasib gue. hahahahahaha

AI LOP YU :* :*