.

.

.

SEQUEL
Part 2 of (?)

.

.

.

(Disarankan) Backsound : Tablo – Thankful Breath.

.

Baekhyun terbangun dengan pemandangan dinding di hadapannya. Ia mengerjap-kerjapkan matanya sejenak, sebelum akhirnya mencoba untuk bangun. Tapi kemudian ia meringis kesakitan merasa tubuh bagian bawahnya terasa nyeri. Ia juga baru menyadari sebuah tangan melingkari pinggangnya.

Dengan perlahan, Baekhyun mencoba membalikkan tubuhnya untuk melihat siapa yang tidur di belakangnya. Pancaran mata Baekhyun meredup ketika mendapati Chanyeol yang masih tertidur pulas. Seketika itu juga, semua hal yang terjadi tadi malam itu mengalir deras di otaknya. Bagaimana ia berada di balkon, ia yang berada di dalam kungkungan Chanyeol, Chanyeol yang menciumnya, Chanyeol yang menyentuh segala inci tubuhnya, dan Jongin—

Tunggu.

Jongin...

Mencoba mengabaikan Chanyeol yang begitu mempesona dengan cahaya matahari yang bersinar dari balik punggung Chanyeol, Baekhyun perlahan menyingkirkan tangan Chanyeol yang melingkari tubuhnya tanpa membuat Chanyeol terbangun. Begitu pinggangnya sudah terbebas dari lengan Chanyeol, Baekhyun bangkit dengan sangat pelan sambil menahan rasa nyeri di bagian bawahnya, berusaha untuk tidak bersuara.

Baru saja Baekhyun berhasil duduk, sebuah tangan menggenggam sebelah pergelangan tangan Baekhyun. Baekhyun mengerjap sesaat dan menoleh untuk mendapati Chanyeol yang menatapnya dengan tatapan khas orang bangun tidur. "Baekhyun..."

Tubuh Baekhyun meremang sejenak, kemudian ia menghela nafas sebelum bergumam pelan. "Hm?"

Chanyeol bangkit dari tidurnya tanpa melepaskan genggamannya pada pergelangan tangan Baekhyun. Mata Baekhyun masih mengarah pada Chanyeol, sampai kemudian Chanyeol bersuara. "Sakitkah?"

Tentu saja sakit ketika seseorang menyetubuhimu tanpa cinta, Chanyeol.

"Ya... lumayan." Ujar Baekhyun pelan, mencoba mengalihkan pemikirannya bahwa yang dimaksud Chanyeol adalah hole -nya, bukan keadaan hatinya. Chanyeol merenggangkan genggamannya pada pergelangan tangan Baekhyun, dan Baekhyun mulai bergerak untuk bangkit dari kasur. Tapi baru sedikit bergerak, dan Baekhyun sudah mendesis kesakitan. "Ssshh..."

"Tunggu aku." Ujar Chanyeol cepat, dengan siratan perintah di dalamnya membuat Baekhyun langsung diam di tempatnya. Chanyeol segera turun dari ranjang, mengambil pakaiannya yang berceceran di lantai, memakainya, dan mengambil sisa pakaian di lantai yang merupakan milik Baekhyun.

Kaki Chanyeol bergerak untuk mendekati sisi ranjang yang lain di mana Baekhyun berada. Chanyeol meletakkan pakaian Baekhyun di samping tempat Baekhyun terduduk di ranjang, kemudian Chanyeol membantu Baekhyun untuk mengubah posisinya secara perlahan hingga kini Baekhyun duduk di tepian ranjang dengan kaki yang menggantung. Chanyeol duduk bersimpuh di lantai menghadap Baekhyun, dan memakaikan pakaian Baekhyun satu persatu.

Tatapan Baekhyun terfokus pada Chanyeol yang memakaikan pakaiannya satu persatu. Tanpa sadar ia menggigit bibir bawahnya pelan. Ini hal lainnya dari sekian banyak hal yang paling Baekhyun sesali selama ia mencintai Chanyeol. Bagaimana Chanyeol membuat Baekhyun sakit hati dan kecewa, salah satu contohnya adalah dengan menyetubuhinya tadi malam apalagi tanpa pengakuan cinta atau apapun yang membuat mereka pantas untuk melakukan hubungan intim, dan kemudian Chanyeol dengan mudahnya membuat Baekhyun luluh kembali hanya karena, yah, seperti saat ini, memakaikan pakaiannya dengan perlahan dan nampak tulus. Seolah bertanggung jawab padahal itu semua belum berarti apa-apa. Tapi meski begitu, entah mengapa Baekhyun selalu, tetap saja, kembali jatuh dalam pesona Chanyeol untuk kesekian kalinya.

Tangan Chanyeol terulur dan namja itu mengalungkan lengan kiri Baekhyun di pundaknya, sedangkan lengan kanan Chanyeol melingkar di punggung Baekhyun dan berakhir di lengan kanan Baekhyun. Chanyeol mulai mengangkat tubuh Baekhyun dan Baekhyun berdiri, lalu Baekhyun berjalan dengan pelan sedangkan Chanyeol di sampingnya menuntun tubuhnya agar tidak terjatuh selama berjalan.

Ketika Chanyeol membuka pintu dan mereka berdua berjalan bersama menuju kamar mandi, semua member EXO-K yang sedang duduk santai di sofa langsung mengalihkan tatapan mereka ke arah Baekhyun dan Chanyeol. Baekhyun menoleh hanya untuk mendapati Jongin yang menatapnya sendu. Tapi kemudian Baekhyun mengulas sebuah senyuman—meski tak nampak baik-baik saja—dengan tatapan yang mengatakan jika ia baik-baik saja.

Sesampainya di kamar mandi, Chanyeol mendudukkan Baekhyun di tutup closet, lalu menyalakan kran untuk mengisi air ke dalam bath-up, sembari menuangkan sabun berbau lavender ke dalamnya dengan takaran secukupnya. Tubuh Chanyeol berbalik mengarah Baekhyun, dan ia mendatangi Baekhyun.

Baekhyun menurut saja ketika Chanyeol melepaskan pakaiannya hingga naked dan membiarkan Chanyeol menuntunnya sampai bath up. Ketika Baekhyun sudah mencelupkan diri di dalam air, Chanyeol mulai melepaskan pakaiannya dan ikut menceburkan dirinya. Tubuh Baekhyun sedikit bergeser untuk memberi Chanyeol ruang, dan Chanyeol memilih menyandarkan tubuhnya di dalam bath up lalu menarik pinggang Baekhyun untuk bersandar di atas tubuhnya.

Mata Baekhyun terpejam, mencoba menikmati meskipun seluruh tubuhnya-pun tahu bahwa ini semua ini sangat salah, tanpa alasan yang jelas, tanpa cinta. Semua sentuhan Chanyeol, mulai dari lengan besar dan hangatnya yang merengkuh pinggang Baekhyun dan dagu Chanyeol yang bersandar di bahu kirinya. Hembusan nafas Chanyeol yang hangat menerpa lehernya, membuat bulu kuduknya sedikit meremang. Kau tahu bagaimana rasanya kupu-kupu imajiner menggelitik perutmu di tengah-tengah sesuatu tanpa nama menekan dadamu sampai terasa sesak?

Itulah rasanya bagaimana kau bahagia di tengah rasa sakit hatimu, dan itu yang Baekhyun rasakan saat ini, sejak dulu.

.

.

.

Chanyeol keluar lebih dahulu dari kamar mandi, dan Chanyeol hendak berbalik untuk membantu Baekhyun melangkah keluar sebelum ada sebuah tangan yang menarik paksa bahu Chanyeol. Begitu Chanyeol berbalik, maka secepat itu pula sebuah tamparan menghantam pipinya. Dengan suara sekeras itu, sudah dapat dipastikan bagaimana perihnya tamparan tadi.

Mata Baekhyun membelak ketika mendapati Jongin dengan tangan yang menggantung di udara, menatap Chanyeol dengan sangat tajam, setidaknya tatapan tertajam yang pernah dilihat Baekhyun sejak mengenal Jongin. Baekhyun menolehkan kepalanya, mendapati Chanyeol yang meringis kesakitan dengan sebelah tangan yang menyentuh pipinya, sedangkan matanya menatap Jongin dengan campuran antara rasa marah dan heran.

Dari sudut matanya, Baekhyun juga dapat melihat sisa member EXO-K lainnya nampak sangat shock. Mungkin di antara mereka semua tidak ada yang menyadari jika Jongin beranjak dari tempatnya untuk mendatangi Chanyeol dan menamparnya. Beberapa detik penuh keheningan terpecah dengan suara Chanyeol. "Jongin, kau menamparku?!—"

Terdengar Chanyeol yang berusaha mengendalikan emosinya beberapa saat sebelum akhirnya Chanyeol kembali bersuara dengan suara tertahan. "—apa salahku?"

Mata Jongin melirik ke arah Baekhyun, dan Baekhyun yang menyadari itu mulai merasakan sinyal bahaya. Baekhyun balik menatap Jongin, sedikit melebarkan pupil matanya untuk mencoba memperingati Jongin agar tidak mengatakan sesuatu yang sudah pasti diketahui Baekhyun dengan jelas. Tapi Jongin justru mengalihkan tatapannya ke arah Chanyeol, seolah mengabaikan peringatan Baekhyun yang sudah disampaikan Baekhyun melalui matanya, lalu Jongin mulai membuka mulutnya. "Apa salahmu, Chanyeol? Kau, adalah makhluk terkejam yang pernah kutemui sepanjang hidupku."

"Atas dasar apa kau mengataiku kejam?" Tanggap Chanyeol, dengan suara rendahnya yang terdengar dingin. Jongin berdecih sejenak sebelum kembali bersuara. "Karena kau sudah menyetubuhi Baek—"

"—Jongin, jangan—"

"—hyun tanpa alasan!"

Baekhyun bergetar pelan di tempatnya. Peringatan yang sudah ia lontarkan sudah sepenuhnya diabaikan oleh Jongin. Kepala Baekhyun tertunduk, tak berani menatap Chanyeol yang entah bagaimana reaksinya mendengar ucapan Jongin. Diam-diam takut jika Chanyeol akan menghajarnya setelah ini, atau bahkan menghajar Jongin yang sama sekali tidak bersalah.

"K-kau—bagaimana kau bisa tahu, hah?" Dengan reflek Baekhyun mendongak, ketika menyadari suara Chanyeol yang sedikit bergetar. Sekilas Baekhyun dapat melihat kedua tangan Chanyeol terkepal, dan Baekhyun tidak tahu apakah itu karena Chanyeol menahan diri untuk menghantamkan kepalan tangan itu kepada Jongin—bisa jadi justru dirinya—atau karena sedang mencari kekuatan untuk diri Chanyeol sendiri. Mata Chanyeol menatap tajam ke arah Jongin, tetapi Jongin justru terlihat tidak takut sama sekali—Baekhyun justru berpikir bahwa Jongin seribu kali lebih menyeramkan saat ini dibandingkan dengan Chanyeol.

"Tentu saja aku tahu," Jongin menjawab dengan suara menantang. "Karena dari semua yang aku perhatikan, aku berpikir bahwa Baekhyun benar-benar butuh penjagaan atau kau akan berlaku semena-mena padanya."

"Aku tidak—"

"Park Chanyeol," Panggil Jongin sebelum Chanyeol sempat melanjutkan pembelaannya. "Selama aku masih bisa menahan diriku, berpikirlah dengan benar. Kurasa otakmu masih bekerja, bukan? Kau mendekati Baekhyun, memperlakukan seolah Baekhyun adalah seseorang yang berharga untukmu—tapi kau bahkan juga melakukannya kepada Kyungsoo, lalu kau memeluk Baekhyun, mencium Baekhyun, hingga menyetubuhinya, tapi kau tidak pernah mengatakan apapun yang dapat dijadikan alasan tepat sebagai alasan kau melakukan semua itu. Kau mengatakan apa? Kau merindukannya? Kau menyayanginya? Kau pikir itu semua bisa dijadikan alasan? Berpikirlah, Park Chanyeol!"

Baekhyun tersentak ketika Jongin menarik sebelah pergelangan tangannya. "Dengar, Chanyeol hyung, kau bisa saja menggantung perasaan orang lain, tapi tidak dengan selama itu. Tidak lagi. Kau tidak bisa memperlakukan Baekhyun seperti itu lagi, karena dia ada di bawah pengawasanku sekarang."

Mulut Baekhyun sedikit terbuka, tercengang dengan perlakuan Jongin yang sampai seperti itu demi membelanya, padahal Jongin tidak seharusnya ikut mempermasalahkan masalah ini. Pada dasarnya ini masalahnya dengan Chanyeol, tapi salahkan pada dirinya yang terlalu takut dan pasrah, Jongin justru melangkah mendahuluinya untuk menegasi Chanyeol.

"Kenapa kau ikut campur? Kau menyukai Baekhyun?"

"Tentu saja aku menyukainya, karena dia adalah hyung-ku, hyung terbaik dan terhebat yang pernah kutemui, hyung terkuat yang pernah kukenal karena bisa menahan dirinya selama itu untuk digantungkan seseorang tanpa alasan dalam kurun waktu yang sangat panjang. Dan untuk pertanyaanmu, Chanyeol hyung, aku menyukai yang lain, dan itu bukan Baekhyun. Kau harus tahu, aku melakukan ini karena aku tidak bisa melihat Baekhyun tersakiti lebih dari ini. Dia adalah bagian keluargaku juga, Chanyeol, keluargamu juga, keluarga EXO. Kita satu keluarga. Aku tidak bisa membiarkannya tersakiti karenamu untuk seribu kalinya dan aku juga tidak bisa melihatmu menyakiti orang sekejam itu untuk kesekian kalinya pada orang yang sama."

Kalimat yang Jongin katakan mengalir begitu saja memasuki indra pendengarannya, dan Baekhyun terenyuh. Ia tidak pernah menyangka bahwa Jongin mempedulikannya sebesar itu. Entah karena memang mereka adalah satu keluarga, keluarga EXO, seperti yang Jongin katakan, atau karena perasaan empati yang terjadi begitu saja karena sama-sama tahu bagaimana rasanya digantung tanpa alasan, membuat Jongin tergerak untuk membantunya. Mungkin karena memang di antara ia dan Jongin, ia lebih tersakiti. Baekhyun mengakui kalau memang ia tersakiti lebih dari apapun.

"Perasaan seseorang tidak bisa dipermainkan sekeji itu, Park Chanyeol." Jongin berujar final dan Baekhyun menurut saja ketika tangannya ditarik Jongin untuk meninggalkan ruang tengah. Chanyeol masih diam membisu di tempatnya, menatap—bukan Jongin, yang baru saja menasihatinya, tetapi tatapan Chanyeol justru menatap kepadanya. Baekhyun tidak tahu kenapa Chanyeol menatapnya seperti itu, tapi Baekhyun juga tidak pernah bisa mengerti apa yang ada dibalik tatapan Chanyeol, seperti saat ini. Apa yang Chanyeol pikirkan?

Sebelum benar-benar pergi dari ruang tengah, Baekhyun bisa mendengar Joonmyeon yang berbicara dari sofa. "Aku tidak tahu apa masalah kalian, tapi usahakan untuk menyelesaikan itu secepat mungkin dan jangan sampai mengganggu jadwal kita. Dan lagi, jangan sampai membuat kalian sampai sakit."

Baekhyun selalu tahu Joonmyeon adalah hyung yang tidak pernah ingin ikut campur masalah orang lain, tapi selalu mengharapkan hasil yang bagus untuk mereka semua. Dan Baekhyun menghargai itu semua, seiring dengan dirinya yang meninggalkan dorm bersama Jongin yang masih menarik tangannya.

.

.

.

Baekhyun merasakan Jongin berhenti menarik tangannya ketika mereka sampai di atap apartemen. Pundaknya dicengkram cukup kuat oleh Jongin, tapi justru membuat Baekhyun merasa bahwa ia mendapat kekuatannya kembali, meski tak sepenuhnya. Setidaknya Baekhyun bisa merasakan sedikit dorongan untuk melakukan pembelaan pada dirinya sendiri dengan bantuan Jongin.

"Hyung, berhentilah pasrah atas Chanyeol hyung." Ujar Jongin, penuh akan rasa pemohonan di dalam suaranya. Baekhyun terdiam, menatap mata Jongin yang nampak... tunggu, berair?

"Jo-jongin, kau tidak—"

Terlambat, Jongin sudah meneteskan air matanya sebelum Baekhyun sempat bertanya. Baekhyun tercenung sejenak, tapi belum sempat ia mencoba berbicara, Jongin sudah mendahuluinya. "Kau tahu, Hyung? Kau tidak pantas mempasrahkan dirimu begitu saja untuk Chanyeol semata, tidak pernah pantas. Kau tidak pantas berharap sedemikian rupa tanpa kejelasan pasti untuk sebegitu lamanya. Kau tidak pantas dipermainkan seperti itu, Hyung."

Baekhyun semakin bungkam di tempatnya. Ia benar-benar sangat tidak menyangka jika Jongin mempedulikannya sampai seperti ini. Dan dengan Jongin yang mengatakannya secara langsung bagaimana ia dipedulikan olehnya membuat Baekhyun terenyuh. Ditengah-tengah Baekhyun yang masih terdiam, Jongin kembali melanjutkan kalimatnya.

"Aku tidak bisa melihatmu yang terbiasa ceria luar dalam bisa tersiksa seperti itu karena Chanyeol hyung. Aku tidak suka melihat wajah ceriamu yang hanya di luar, hanya pura-pura, hanya tameng. Kau juga harus tahu, sumber kebahagiaanku yang tersisa, sumber kebahagiaan yang EXO punya, itu adalah kau. Setidaknya, Hyung, meski aku sakit hati dengan Kyungsoo, melihat EXO bahagia sudah lebih dari cukup untuk sekedar membuatku sedikit lebih tenang. Kau adalah salah satu dari EXO, jadi jika kau berpura-pura bahagia sedikit saja, itu sudah merusak semua mood dan kebahagiaanku yang tersisa, Hyung. Aku butuh kau yang ceria dan bisa meningkatkan mood-ku dengan segala caramu menghibur untukku bertahan di tengah semua ini, EXO butuh kau dan hiburanmu untuk meningkatkan semangat dan jerih payah di tengah-tengah masalah yang bisa kapan saja, akan menimpa EXO. Kesampingkan soal Chanyeol dengan Happy Virus-nya, aku dan EXO tetap butuh kau."

Ketika Baekhyun mencoba mendongak dan memberanikan diri untuk menatap Jongin dalam-dalam, Baekhyun bisa melihat bagaimana mata berkaca-kaca Jongin memancarkan rasa putus asa yang teramat sangat. Sekilas tersirat permohonan di sana. Bibir Baekhyun bergetar, ingin mengatakan sesuatu yang setidaknya bisa membuat Jongin sedikit lebih tenang, tapi nyatanya sejak tadi Baekhyun yang sama sekali tidak merasa tenang.

Berbagai macam pertimbangan terpikir di benak Baekhyun, di satu sisi ia merasa lelah dan ingin mengakhiri semuanya, di satu sisi lain ia tidak bisa dengan mudah melepaskan semua sentuhan Chanyeol, dan sisi sisanya ia ingin membuat semuanya menjadi normal. Tapi ketika cengkraman Jongin di pundaknya mulai melemah, Baekhyun tahu apa jawabannya.

"Aku harus mulai membela diriku sendiri di depan Chanyeol."

Bibir Jongin membentuk senyum yang jelas-jelas bergetar, dan Baekhyun menangis dalam diam di tempatnya.

.

.

.

TBC

.

.

.

Bikin fanfic ini sambil dengerin EunHae – Growing Pains kayaknya sesuanu banget yah :"v

Tau deh tau deh, yang penting fanficnya bisa cepet kelar dan galaunya saya cepet ilang wkwkwk.

Berdasarkan polling(?) sequel part one kemaren, banyakan yang minta happy ending daripada sad ending wkwkwk, saya mulai bingung harus buatnya gimana endingnya :v

Makasih banget yang udah ngasih saya ide wkwkwk, luvluv buat kaliannnnn. Nanti saya coba mikirin gimana kelanjutannya ini fanfic-_-

.

.

.

.

.

xoxo,
baekfrappe.