Title : "Love via Interview"

Author : FannyHan

Pair : SiHan, Kyumin, Qmi

Genre : Romance, AU

Warning : Yaoi!

Disclaimer : I am not, in any way, take any profit from the story. All real people are used without their permission. Events portrayed are fictional and do not reflect on the actual people within the stories. The contents are purely made for personal entertainment.


"Choi Siwon. Kukira selama ini dia adalah orang yang hampir mendekati sempurna, tapi ternyata dia itu naïf dan sedikit tolol!" umpat Sungmin ketika dia dan sepupunya sudah kembali ke apartemen. Kini mereka berdua sedang menyiapkan makan malam di dapur. Tentu saja dia yang memasak, sedangkan Hankyung hanya bisa membantu sebisanya.

"Ucapanmu itu sangat kasar Sungmin."

"Tapi itu kenyataannya Gege! Aku tidak mengerti dari mana dia bisa mendapatkan ide untuk memintamu tinggal bersamanya. Demi Tuhan! Meskipun dia seorang aktor ternama, tetap saja dia orang asing di mata kita. Dan baginya kita juga orang asing. Kenapa juga sesama orang asing harus hidup bersama?" omelnya sambil memotong-motong sayuran yang sudah dicuci bersih oleh Hankyung.

"Aku rasa itu hanya pikiran spontan yang keluar begitu saja setelah dia melihat lukaku."

"Semoga saja begitu. Tapi kau juga tidak akan mau menerima tawarannya itu kan Gege?"

"Tentu saja. Setelah memikirkan kembali ucapannya malam ini dengan pikiran yang jernih, dia pasti akan menyesali apa yang sudah dikatakannya tadi. Seperti yang kau bilang, tidak ada alasan bagi sesama orang asing untuk hidup bersama."

"Entahlah Gege, saat melihat raut wajahnya tadi, aku dapat merasakan kalau dia bersungguh-sungguh dengan ucapannya." kata Sungmin sambil mengingat kembali kejadian di agensi siang tadi.

"Siwon-ah! Apa maksud dari ucapanmu itu?" Leeteuk adalah orang pertama yang tersadar setelah ketiganya terkejut mendengar kalimat yang dilontarkan oleh sang aktor tersebut.

"Bukankah sudah jelas hyung, aku ingin bertanggung jawab atas kekacauan yang sudah terjadi semalam."

"Ini bukan kesalahanmu Siwon. Cukup agensi kita yang turun tangan untuk menyelesaikan semuanya, dan kau juga sudah setuju. Kenapa sekarang tiba-tiba kau ingin mengambil bagian untuk bertanggung jawab?"

"Hyung! Kemarin aku setuju karena aku belum melihat sendiri keadaannya." Siwon pun mulai menunjuk Hankyung. "Lihatlah! Tangannya terluka lebih parah dari yang kubayangkan. Aku tidak mungkin lepas tangan begitu saja."

Leeteuk jadi bingung mendengar penjelasan dari anak asuhnya itu. Hatinya setuju dengan apa yang dikatakan oleh Siwon, tapi pikirannya mengatakan kalau hal itu nantinya bisa menimbulkan banyak masalah.

"Maaf, bisakah kalian mengikutsertakan kami ke dalam percakapan ini?" tiba-tiba Sungmin mengeluarkan suaranya dan membuat keduanya kini menatapnya.

"Anda?"

"Joesonghamnida, saya belum memperkenalkan diri. Saya adalah sepupu dari orang yang tengah kalian perbincangkan. Lee Sungmin imnida. Langsung saja Siwon-ssi, saya tidak bisa menyetujui tawaran Anda. Dan saya rasa sepupu saya juga berpikiran yang sama."

"Sungmin-ssi, bukannya saya ingin bersikap tidak sopan terhadap Anda, tapi Hankyung sendiri belum menyatakan pendapatnya." tukas Siwon lalu menghadap Hankyung. "Bagaimana Hankyung-ssi?"

Hankyung mendehem pelan sebelum menjawab pertanyaan dari sang aktor itu. "Sebelumnya saya berterima kasih karena Anda begitu bersimpati terhadap kondisi saya, tapi saya tidak bisa menerima tawaran Anda Siwon-ssi. Lagipula saya tidak menyalahkan Anda atau siapapun, karena ini murni kecelakaan yang terjadi akibat ketidaksengajaan. Jadi tidak ada pihak yang perlu bertanggung jawab."

"Tapi lukamu…"

"Mengenai tangan saya, perusahaan kami sudah membayar seluruh biaya pengobatan sampai saya benar-benar sembuh. Semuanya sudah teratasi dengan baik."

"Aku bukan sedang membicarakan siapa yang harus atau tidak harus membiayai lukamu. Tidakkah kau mengerti Hankyung-ssi, aku benar-benar merasa bersalah saat melihat lukamu itu. Kenapa kau tidak bisa membiarkanku untuk menebus rasa bersalahku?" kali ini Siwon sampai lupa untuk menggunakan bahasa formal pada Hankyung.

"Kaulah yang tidak mengerti Siwon-ssi!" Sungmin pun jadi terpengaruh untuk tidak menggunakan bahasa formal. "Kau memang sudah seharusnya bertanggung jawab atas luka yang dialami oleh sepupuku. Tapi yang menjadi persoalannya adalah kau ini adalah seorang public figure. Apa kau tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi pada sepupuku jika dia sampai nekat tinggal bersamamu dan publik sampai tahu? Bukan hanya kau, tapi dia juga nantinya akan mendapatkan masalah yang tidak seharusnya dia dapatkan. Sedangkan sekarang saja pun dia terpaksa harus menuruti kalian untuk ikut dalam konferensi pers demi menjaga nama baikmu. Jangan kau persulit lagi keadaanya!"

"Sungminnie, tenanglah." Hankyung segera memegang lengan sepupunya itu untuk menenangkannya. Dia tahu sebentar lagi Sungmin tidak akan bisa lagi menahan emosinya.

Siwon jadi kehilangan kata-kata setelah mendengar penuturan panjang lebar yang penuh dengan amarah oleh Sungmin.

"Ah, ah, saya rasa Hankyung-ssi harus menenangkan Sungmin-ssi ini dahulu sementara saya berbicara sebentar dengan Siwon. Bagaimana kalau anda berdua pulang saja ke rumah, karena bagaimanapun juga urusan kita dengan seongsangnim sudah selesai untuk hari ini. Bukan begitu Hankyung-ssi?" Leeteuk segera tanggap untuk mengatasi situasi yang tidak mengenakkan ini.

"Ne, saya setuju Leeteuk-ssi."

"Hati-hati di jalan Hankyung-ssi, Sungmin-ssi. Sampai bertemu lagi."katanya sebelum kedua saudara bersepupu itu pergi. "Nah Siwon, ikut aku!" tukasnya lalu menarik Siwon masuk ke dalam ruang kerjanya.

"Yah, kita tunggu saja bagaimana perkembangan selanjutnya." kata Hankyung acuh tak acuh.

Setelah selesai menyiapkan bibimbap untuk porsi dua orang, Sungmin lalu meletakkannya di atas meja dan melepaskan celemeknya. Hankyung sudah lebih dulu duduk dan menuangkan air putih untuk mereka berdua. Keduanya pun menikmati makanan dengan tenang dan tidak berbicara lagi.

"Gege, kau sudah tahu kapan konferensi pers itu akan diadakan?" Sungmin kembali melanjutkan pembicaraan di tengah-tengah kegiatannya mencuci piring.

"Ne, besok malam, tepatnya jam tujuh. Seongsangnim memberitahukannya melalui telepon sore ini, saat kau masih ada di kantor."

"Secepat itu?"

Hankyung mengangguk.

"Hah! Tidak bisa kupercaya mereka hanya memberimu waktu satu malam untuk mempersiapkan diri menghadapi puluhan pertanyaan dan kamera yang akan terfokus padamu! Agensi itu benar-benar buruk!"

"Sudahlah, kau sudah terlalu banyak marah satu hari ini. Biarkan aku saja yang memikirkannya, karena ini memang masalahku. Lagipula semakin cepat konferensi itu diadakan, maka semakin cepat pula aku akan mendapatkan kembali ketenangan hidupku."

"Ya, ya. Terserah apa katamu." kali ini Sungmin tidak mau lagi menekan sepupunya. Lalu dia berjalan ke ruang tamu bermaksud untuk menghabiskan waktunya dengan menonton televisi.

Sungmin mengambil remote televisi yang terletak di atas meja dan mulai menekan tombol untuk menghidupkan televisi di hadapannya itu.

"Baiklah penonton, setelah jeda iklan berikut Cho Kyuhyun akan mempersembahkan satu lagu khusus untuk kalian semua. Don't miss it!"

Terdengar suara tv dimatikan. Sepuluh detik kemudian tv kembali dinyalakan, lalu dimatikan kembali. Sepuluh detik kemudian tv hidup kembali, lalu dengan cepat dimatikan. Begitu seterusnya hingga Hankyung muncul dari dapur dan membentak Sungmin.

"Yah! Apa yang sedang kau lakukan? Kenapa kau menghidup-matikan televisi itu berulang kali?" tanyanya sambil merebut remote dari tangan Sungmin.

"Ada Cho Kyuhyun di sana." jawabnya datar, masih dalam posisi berdiri dan menatap layar televisi lurus-lurus.

Hankyung mengernyitkan dahinya. "Lalu? Bukankah selama ini kau selalu menantikan penampilannya?" Apa anak ini sudah kehilangan akal sehatnya lantaran terlalu banyak marah dalam satu hari ini ya? Pikirnya.

Sungmin tersentak mendengar pertanyaan sepupunya itu. "Gege! Aku kesal setengah mati padanya!" serunya.

"Kenapa?"

"Ah. Aku belum cerita padamu kalau tadi aku bertemu dengannya di agensi itu."

"Benarkah? Wah, akhirnya kau bisa bertemu secara langsung dengan idolamu itu." katanya sambil duduk di sofa.

"Dia bukan idolaku!" sergah Sungmin lagi, dia pun ikut duduk di sebelah Hankyung. "Setidaknya setelah apa yang terjadi hari ini."

"Memangnya apa yang sudah terjadi?"

"Hal buruk. Benar-benar buruk! Kau tahu Gege, begitu aku keluar dari kamar mandi, dia tiba-tiba muncul entah dari mana lalu dengan seenaknya memperlakukanku sebagai salah satu pegawai di sana! Dia menyuruhku untuk mengantarkan kopi ke tempatnya, lalu pergi begitu saja. Bagaimana bisa orang setampan dan seimut diriku ini disangka sebagai pelayan olehnya? Harga diriku benar-benar terluka, Gege!" semburnya panjang lebar. Lagi-lagi Sungmin emosi untuk kesekian kalinya dalam satu hari ini. Dalam hati Hankyung sudah bersiap-siap untuk membelikan obat penurun darah tinggi.

"Kenapa kau tidak segera mengejarnya dan mengatakan kalau kau bukan pegawai di agensi itu?" kata Hankyung menanggapi, setengah prihatin dan setengah lagi geli saat mendengar cerita sepupunya itu.

"Aku tidak sempat lagi mengejarnya." tukas Sungmin setengah berbohong. Tentu saja dia tidak bisa mengatakan kalau tadi dia sudah seperti orang tolol yang tidak bisa melakukan apa-apa begitu menyadari kehadiran si Cho Kyuhyun itu.

"Seandainya saja saat itu aku ada di sana."

Sungmin mendecak kesal.

"Jadi kau tidak akan menonton sampai idolamu ini menghilang dari tv?"

"Hidupkan saja tvnya kembali Gege."

"Lho, tapi…"

"Jangan salah paham." sela Sungmin. "Aku memang kesal setengah mati padanya, tapi aku juga tidak bisa melewatkan suaranya yang indah itu. Ingat ya, aku hanya ingin mendengarnya bernyanyi, bukannya melihat wajahnya yang mengesalkan itu!"


Siwon baru saja kembali ke apartemennya setelah menyelesaikan segudang aktivitasnya sebagai seorang selebriti satu hari ini. Dia berjalan ke dapur dan mengambil sebuah minuman kaleng dari dalam kulkas lalu duduk di salah satu kursi meja makan.

Saat ini dia sedang bingung dan gusar. Bingung, kenapa sejak tadi dia tidak bisa mengenyahkan bayangan orang itu dari pikirannya. Gusar karena sejak tadi pula dia tidak bisa tidak mengkhawatirkan luka di tangan orang itu. Dulu sekali Siwon juga pernah mengalami patah tulang akibat terjatuh dari tempat yang tinggi, dan rasanya sakit bukan main! Selama berhari-hari dia tidak bisa tidur akibat rasa sakit itu. Tapi kenapa orang itu bersikap seolah-olah dia tidak mengalami kesakitan sama sekali, sementara luka itu baru sehari dia dapatkan? Dan kenapa pula dia menolak tawaran Siwon untuk bertanggung jawab terhadap lukanya itu? Siwon benar-benar ingin tahu jalan pikiran orang itu.

Siwon lalu tersentak. Astaga! Apa yang sebenarnya terjadi dalam dirinya! Kenapa dia harus repot-repot memikirkan orang asing yang tidak sengaja sudah menggubris kehidupannya sebagai seorang selebriti itu?

Ah, sudahlah! Pikirnya lagi.

Setelah itu Siwon berjalan masuk ke dalam kamarnya dan berniat untuk mandi sebelum dia tidur. Besok dia akan menghadiri konferensi pers yang cukup besar, jadi dia harus mempersiapkan diri sebaik mungkin untuk menghadapi para reporter itu.

Begitu selesai mandi, Siwon tiba-tiba teringat sesuatu. "Ah! Jong Woonie hyung!" serunya. Tanpa ba bi bu lagi dia segera pergi meraih ponselnya dan menghubungi seseorang.


Keesokan harinya menjelang konferensi pers.

"Ini Ge. Lebih baik kau minum dulu untuk menenangkan diri." Sungmin menyerahkan segelas kopi hangat untuk Hankyung yang sedang duduk di ruangan kerja milik Leeteuk.

"Gomawo, tapi aku tidak sepanik yang kau pikirkan Sungmin."

"Aku tahu."

"Hankyung-ssi, Sungmin-ssi. Ternyata kalian sudah menunggu di sini. Maaf kami sedikit terlambat." sambut Leeteuk yang muncul bersama Siwon.

"Gwenchana Leeteuk-ssi. Kami juga baru saja tiba di sini."

"Jadi bagaimana Hankyung-ssi, apa Anda sudah siap untuk tampil di hadapan media? Biasanya kan Andalah yang meliput, dan sekarang Anda yang harus diliput. Pasti ini pengalaman yang mendebarkan, bukan?" tanyanya berusaha mencairkan suasana.

Hankyung tertawa pelan. "Ya, ini memang pengalaman pertama yang mendebarkan. Tapi sebenarnya saya juga tidak pernah melakukan pekerjaan para reporter di luar sana yang berusaha meliput seorang selebriti."

Leeteuk mengernyit bingung. "Bukankah anda seorang reporter?"

"Memang. Tapi saya seorang reporter yang bertugas untuk meliput berita tentang kebudayaan dan sejenisnya. Jadi bisa dibilang tugas saya beberapa hari yang lalu untuk meliput berita tentang Siwon-ssi bukanlah bidang yang saya kuasai."

"Ahhh." Leeteuk mengangguk paham. "Tidak heran kenapa insiden itu bisa terjadi."

"Leeteuk-ssi, Seongsangnim meminta kalian semua untuk keluar sekarang juga. Konferensinya akan dimulai beberapa menit lagi." salah seorang pegawai masuk ke dalam ruangan untuk memberitahu.

"Baiklah. Lebih baik kita ke aula sekarang." ajak Leeteuk pada ketiganya. Dia berjalan lebih dulu di depan, sementara Siwon berada paling belakang mengawasi Sungmin dan Hankyung.

Saat berjalan, Siwon menyadari bahwa Hankyung berulang kali membuka dan mengepalkan tangannya tanpa sadar. Pasti dia mulai gugup. Pikirnya.

"Leeteuk-ssi, Anda sudah membawa keduanya bersama-sama." ternyata CEO agensi mereka sudah menunggu di depan pintu aula untuk menyambut kedatangan mereka. "Para wartawan dan kameramen sudah duduk di tempat masing-masing." lalu dia menatap Hankyung. "Hankyung-ssi, anda sudah siap untuk masuk?"

"Ne, seongsangnim."

"Baiklah. Ini sudah waktunya. Biar saya yang lebih dahulu masuk bersama Leeteuk-ssi, lalu kalian berdua bisa mengikuti dari belakang." katanya sebelum masuk ke dalam.

Di saat itulah Siwon tiba-tiba menarik tangan Hankyung dan memutar tubuhnya agar mereka bisa saling berhadapan. "Sebentar." katanya pada Hankyung yang kebingungan atas aksinya itu. Siwon melepaskan kacamata yang sedang digunakannya lalu memakaikannya pada Hankyung. "Aku tahu kau pasti tidak nyaman karena wajahmu akan ditampilkan di beberapa media setelah konferensi pers, jadi hanya ini yang bisa kulakukan untuk sedikit menyamarkan wajahmu. Jangan panik, serahkan semuanya padaku dan orang-orang agensi." katanya lagi sambil memperkuat genggamannya pada tangan Hankyung.

Hankyung mengangguk pelan.

"Ayo." keduanya pun ikut masuk ke dalam meninggalkan Sungmin yang keberadaannya terabaikan selama beberapa saat tadi.

"Aigoo. Kedua orang ini!" keluhnya lalu ikut masuk ke dalam dan mengambil tempat di belakang para wartawan.

Saat memasuki ruangan, segera saja kilatan blitz kamera menyerbu keduanya diiringi suara dengungan para hadirin yang sudah tidak sabar ingin segera melontarkan pertanyaan mereka pada pihak-pihak yang bersangkutan. Siwon dan Hankyung dipersiapkan untuk duduk bersebelahan dan diapit oleh Leeteuk beserta CEO agensi itu.

"Selamat malam hadirin semuanya. Seperti yang sudah diumumkan sebelumnya, malam ini kami akan mencoba mengklarifikasi berita-berita mengenai kecelakaan yang terjadi saat Choi Siwon tiba di bandara dua hari yang lalu. Di sini anda sudah melihat bahwa kami sudah berhasil membawa reporter yang menjadi topik pemberitaan belakangan ini. Jadi tanpa membuang waktu lagi anda semua bisa mengajukan pertanyaan satu per satu baik kepada Hankyung-ssi ini maupun kepada Choi Siwon."

Usai menyampaikan sepatah-kata pada para hadirin, CEO tersebut mempersilakan berbagai pertanyaan untuk dijawab oleh Hankyung, Siwon juga manajernya Leeteuk.

Tidak ada seorang pun yang menyadari bahwa tangan kanan Siwon menggenggam erat tangan kiri milik Hankyung di bawah meja selama konferensi pers berlangsung.


Sungmin tersenyum puas.

Konferensi pers telah berlangsung dengan baik dan lancar lebih dari yang dia duga. Besok berita-berita mengenai kecelakaan itu pasti akan muncul lagi, tapi kali ini akan lebih bersifat positif karena klarifikasi yang sudah diberikan oleh agensi Choi Siwon itu.

Saat ini Sungmin tengah menunggu Hankyung di luar kantor CEO dengan sabar. Kelihatannya masih ada beberapa hal yang harus dibicarakan oleh pihak agensi bersama sepupunya itu di dalam sana. Tapi itu bukan masalah lagi baginya. Sebentar lagi mereka akan keluar dari tempat ini, pulang, lalu akan melanjutkan kembali kehidupan mereka seperti semula.

Akhirnya!

Sambil menunggu, Sungmin mulai memikirkan makan malam apa yang akan dibuat olehnya untuk merayakan hal ini bersama dengan Hankyung. Dia sampai tidak menyadari seseorang sudah berdiri tepat di belakangnya dan hendak masuk ke dalam.

"Hei kau!"

Sungmin tersentak karena lamunannya dihancurkan oleh oleh seruan orang itu. Refleks dia berjalan ke samping mempersilakan orang itu untuk masuk ke dalam ruangan CEO tersebut.

Padahal dia sudah memberikan jalan untuk masuk, tapi kenapa orang itu tidak kunjung masuk juga. Aneh! Pikirnya. Tapi Sungmin tidak terlalu perduli. Sekarang dia malah meraih ponselnya untuk mengirimkan pesan pada temannya.

"Hoi! Aku sedang bicara padamu." tahu-tahu orang itu sudah merebut ponsel milik Sungmin.

Omo! Pencuri! Pikir Sungmin yang marah lalu segera berbalik badan dan melayangkan tangannya ke arah orang asing tersebut.

Plak!

Terdengar suara tamparan yang sangat keras.


A/N : Buat reader yang udah gak sabar menunggu kelanjutan ff nya, nih author kasih chapter tiganya. Maaf ya kalau ff ini belum bisa memenuhi keinginan beberapa reader sepenuhnya. Maklum, author masih penulis pemula. Ada yang mau kasih ide ke ff ini? Boleh, boleh, ntar author tampung semua deh. Kalau idenya sejalan sama pikiran author, pasti author akan masukin ke ff nya biar ff ini tambah bagus.

Ohya, berhubung besok sampai lusa author harus beredar di kampus seharian penuh, mungkin author gak akan bisa mempublish chapter selanjutnya. Tolong bersabar ya. Tapi kalau memang ada waktu, author pasti akan usahain untuk ngelanjutinnya. Dan di chapter depan author bakal balas review yang udah masuk satu per satu. Oke?

Seperti biasa, setelah dibaca tolong berikan komennya. Semakin banyak komen yang masuk, maka lanjutannya semakin cepat datang. Hahaha! Gomawo buat para reader yang udah membaca dan mencintai karya amatir milik author ini.