21, 20
Ketika Jaebum melihat Jackson di keramaian mahasiswa baru yang berbaris mengikuti OSPEK di kampusnya, Jaebum tidak menyembunyikan keterkejutan yang ia rasakan dan bagaimana lututnya lemah karena itu. Melihat Jackson terlepas dari orbit waktu benar-benar luar biasa, seluar-biasa pertama kali Jaebum bertemu dengannya dulu. Karena semuanya terasa begitu nyata, begitu terlihat kokoh, tidak seperti dirinya di saat menjelajah waktu, yang rapuh dalam rengkuhan peluk Jaebum.
Jaebum tidak bisa melepaskan pandangannya dari Jackson yang kini sedang melintasi ruangan, tubuhnya yang berjalan penuh percaya diri menjadi sorotan siapapun yang dilewatinya. Di sebelahnya, seorang laki-laki cantik menemani, laki-laki yang mendapat perhatian sebanyak Jackson tapi seperti tidak menyadarinya.
Mereka berhenti di depan Jaebum.
Jinyoung menyenggol rusuk Jaebum dengan sikunya, wajah sahabatnya kini berubah menjadi wajah kegirangan, membuat perut Jaebum mulas. "Siapa itu?" bisik Jinyoung dengan nada separuh tertarik.
"Jackson Wang." Jackson mengulurkan tangannya, memandang Jaebum penuh antisipasi sementara Jaebum menjabatnya. Tangan Jackson begitu hangat dan kuat. Namun begitu, mata gelapnya tidak menyorotkan kekakuan, melainkan sorot lembut yang sangat Jaebum kenali. Jaebum setengah mati mengontrol ekspresinya, tetapi percuma juga, baik Jinyoung maupun teman Jackson sama sekali tidak memedulikan sekitar, terlalu sibuk memerhatikan satu sama lain, mungkin.
Setelah itu, semuanya terasa seperti mimpi. Jaebum menyuruh teman sekamarnya untuk mau pindah ke kamar Jackson—menyogoknya dengan macam-macam sih sebenarnya—agar Jaebum bisa satu kamar dengan Jackson. Mereka berbagi tempat tidur, lemari dan kotak sepatu yang baunya seperti telur busuk. Buku berceceran di mana-mana dan debu menumpuk di beberapa sudut. Tapi karena Jackson bersamanya, semua terasa seperti surga.
Terkadang, Jaebum masih tidak percaya, setelah sekian lama menunggu dan merindu, mereka pada akhirnya bisa bersama. Mungkin terasa begitu cepat bagi orang-orang di sekeliling mereka, tapi dunia yang semakin berpikiran terbuka membuat teman-teman Jaebum turut berbahagia. Jaebum selalu ingin berada di samping Jackson, agar dia bisa menjaga Jackson setiap dia kembali dari perjalanan waktunya dan menjaga rahasianya. Jackson selalu saja menjadi orang yang sok kuat, ingin memikul semuanya sendirian, tapi Jaebum tahu, dia lebih lemah dari kelihatannya. Hari demi hari yang mereka lalui bersama membuat Jaebum terbiasa untuk menyikapi kemampuan Jackson, menyesuaikan hidup mereka bersama sebaik mungkin.
Kalau ada yang Jaebum perlu ketahui selama beberapa tahun mengenal Jackson, adalah tanda-tanda kalau Jackson akan melesat bersama waktu. Tubuhnya akan gemetar hebat, berkeringat dan berubah warna menjadi pucat keabu-abuan. Jaebum tahu, mereka tidak bisa mengontrol kapan Jackson akan pergi, tapi mereka bisa membuat suasana yang bisa menghindari kepergian Jackson. Ketika Jackson mereka aman, nyaman dan tenang, waktu tidak akan pernah membawanya pergi. Sebaliknya, ketika Jackson berada dalam keadaan yang tidak menyenangkan, dalam pengaruh alkohol, panik, terlalu bahagia, atau ketika mood nya sedang tidak stabil, waktu tidak akan segan untuk membawanya.
"Bagaimana rasanya?" Jaebum bertanya pada suatu hari, heran kenapa setelah bertahun-tahun mengenal Jackson, dia baru terpikirkan pertanyaan sepenting ini. Harusnya ini adalah pertanyaan yang ia tanyakan sejak dulu, tapi tahun demi tahun berlalu, seolah hidupnya berputar dengan Jackson sebagai poros tanpa Jaebum sadari.
Jackson tertawa, alisnya bertaut sembari memikirkan kata yang bisa mendeskripsikan bagaimana rasanya. "Rasanya… luar biasa," jawab Jackson pada akhirnya. "Seperti… meledak menjadi berjuta-juta partikel, lalu terjatuh bebas dari ketinggian untuk kemudian disatukan kembali."
Jaebum mengernyitkan dahinya setelah mendengar jawaban Jackson. "Kok, sepertinya sakit?"
Jackson tersenyum simpul. "Sebenarnya tidak bisa dideskripsikan sih. Lumayan menyenangkan. Rasanya aku ingin membawamu ikut bersamaku."
"Lebih menyenangkan dari menciumku?" goda Jaebum sambil menyunggingkan senyum nakalnya, Jackson tertawa terpingkal.
"Tidak juga sih," Jackson mengakuinya.
22, 21
Jackson beberapa kali menjelaskan pada Jaebum tentang bagaimana luar-biasanya melakukan perjalanan waktu, tapi dia entah bagaimana berhasil menyembunyikan bagian yang tidak menyenangkan dari Jaebum. Kini, setelah mereka tinggal bersama, Jaebum bisa melihat dengan mata kepalanya sendiri bagaimana perjalanan waktu sedikit demi sedikit menghancurkan Jackson, menampakkan hal-hal negatif yang selama ini berhasil disembunyikan Jackson.
Jackson bukanlah manusia super, dia manusia biasa. Tubuhnya tidak didesain untuk memiliki kekuatan super semacam itu. Semuanya terlalu luar biasa bagi Jackson, juga bagi siapapun. Jaebum selalu saja bertanya, siapa yang tega memutuskan Jackson untuk menanggung segala beban itu di pundaknya yang ringkih.
Jaebum memapah Jackson ke atas tempat tidur setelah pesta kumpul-kumpul dimana Jinyoung mengajak Jackson dan Mark tanpa sepengetahuan Jaebum. Sesampainya di pesta itu, Jackson segera mabuk, membuat Jaebum benar-benar marah. "Kenapa tidak kamu hentikan?" Jaebum bertanya gusar pada Mark, namun hanya dijawab oleh Jinyoung yang berdiri di depan Mark seolah melindunginya. "Sudahlah, ayo kita bersenang-senang saja." Jinyoung terkekeh. "Jangan jadi kakek-kakek kuno dong."
Jaebum mendorong Jinyoung tidak peduli, lalu menarik Jackson dalam pelukannya menuju ke asrama. Ketika Jackson sudah sempurna terbaring di atas tempat tidur, tubuh Jackson sudah gemetar hebat dengan gigi yang bergemeletuk. Jaebum buru-buru berbaring di sampingnya dan memeluk Jackson sambil memenyelimuti tubuh mereka berdua dengan dua lapis selimut, berusaha menghangatkan.
"Hyung," Jackson bergumam, berusaha berbicara pada Jaebum lewat matanya yang sudah sayu. "Peluk aku sampai aku pergi." Katanya, lalu menutup matanya. Ada tatapan penuh ketakutan di dalamnya.
Jaebum memeluk Jackson makin erat, tidak henti memohon untuk Jackson agar bisa kembali dengan selamat. Itu adalah pertama kalinya Jaebum mengerti, bahwa perjalanan waktu tidaklah penuh hal-hal menyenangkan seperti apa yang selama ini Jackson ceritakan.
23, 22
Semakin lama waktu berlalu tanpa Jackson melakukan perjalanan waktu, Jaebum merasa semakin aman. Bagi Jaebum, kedatangan Jackson ke Korea sedikit banyak membawa pengaruh baik bagi Jackson dengan membuatnya menjadi jarang melakukan perjalanan waktu. Karena bersama Jaebum, Jackson seolah berpijak pada sesuatu yang pasti. Hal ini membuat mereka berdua terjebak dalam rasa aman yang palsu, berharap suatu hari nanti Jackson akan benar-benar berhenti melakukan perjalanan waktu.
Tapi baru saja mereka merasa aman, sebuah kejadian meruntuhkan harapan mereka. Di suatu malam, Jackson menampakkan diri di tengah kamar mereka, berjam-jam setelah dia menghilang, berjam-jam yang membuat Jaebum luar biasa khawatir. Biasanya Jackson akan muncul dengan diam-diam dan tenang, tapi tidak kali ini. Jackson menggeram penuh kesakitan. Membuat Jaebum segera turun dari ranjang dan membawa Jackson dalam pelukannya. "Jacks? Ada apa?"
Jackson memegangi kakinya, wajahnya pucat pasi. Darah di kaki Jackson sukses membuat hati Jaebum mencelos. Dengan hati-hati, Jaebum merobek celana Jackson hingga lutut, berdesis ketika melihat luka yang tertutup banyak darah.
"A-aku tidak sengaja menampakkan diri di rumah orang. Dia… punya pistol…" Jackson berkata tertahan, sibuk berdesis. Darah Jaebum benar-benar menggelegak. "Siapa yang berani melakukan ini padamu?" Jaebum bersumpah akan menangkapnya dan membunuhnya.
"Aku juga tidak tahu," napas Jackson pendek-pendek. "Mereka bicara Bahasa Yunani, atau apa, entahlah."
"Ya Tuhan," Jaebum terkesiap. Jackson tidak pernah bercerita perjalanannya ke negara lain, dan Jaebum sama sekali tidak memperhitungkan segala bahaya yang bisa saja terjadi. Seolah tersadar, Jaebum segera melihat luka di kaki Jackson kembali. "Ini buruk," kata Jaebum pelan, tidak ingin membuat Jackson takut. "Sepertinya kita harus pergi ke klinik."
"Jangan!" Jawab Jackson cepat, menyengkeram tangan Jaebum erat. "Mereka pasti akan bertanya-tanya—"
"Tapi kita harus mengeluarkan pelurunya, Jackson." Ujar Jaebum, meyakinkan Jackson. "Dengar," ujarnya lagi, namun terhenti ketika melihat Jackson kehilangan kesadarannya.
24, 23
Setelah mengetahui bahaya nyata dari perjalanan yang dilakukan oleh Jackson, kekhawatiran Jaebum semakin menjadi. Tiada hari tanpa Jaebum yang berada di samping Jackson dan mengingatkannya tentang segala hal. Jackson sampai kehilangan kesabaran, membuatnya kadang berteriak kesal pada Jaebum. Tapi Jaebum tidak peduli, yang penting itu semua membuat Jackson tetap tinggal bersamanya.
Jackson tidak pernah memakai celana pendek warna khaki atau bermudanya akhir-akhir ini, semenjak dirinya tertembak dan lukanya mengering menjadi bekas yang sangat jelek. Namun Jaebum tidak pernah lupa untuk selalu mengecup lukanya, meyakinkan Jackson bahwa dirinya masih indah, bahwa Jaebum tidak akan berhenti menyayanginya. Jaebum terlalu paranoid akhir-akhir ini, selalu khawatir jika Jackson tiba-tiba akan dibawa oleh waktu dengan sebab sekecil apapun.
Mereka sedang bersantai di ranjang pada suatu pagi, terlanjur terlambat ke kelas dan menimbang-nimbang apa sebaiknya mereka membolos saja, saat tubuh Jackson bergetar di pelukannya. Jaebum kaget, hatinya seolah membeku tiba-tiba, namun begitu Jaebum melihat Jackson, dia mendapati Jackson sedang tertawa berderai. Kelegaan membanjiri Jaebum, merasa sangat lelah tiba-tiba.
"Kalau ternyata—" Jaebum mengawalinya, segera dibalas Jackson dengan helaan nafas panjang, tahu dengan pasti apa yang ingin Jaebum katakan.
Pandangan Jackson tampak gusar, namun nada suaranya terdengar lembut begitu dia membelai pipi Jaebum dengan punggung tangannya. "Sssh," desisnya. "Jangan khawatir, aku ini laki-laki yang penuh keberuntungan."
25, 24
Mereka tinggal bersama setelah Jackson lulus dari universitasnya, menggunakan seluruh tabungan mereka untuk menyewa sebuah apartemen kecil yang nyaman. Jaebum yang mengambil jurusan seni film mendapat pekerjaan dengan mudah di sebuah perusaan film, sedangkan Jackson, dengan gelarnya sebagai sarjana musik, harus memulai dari bawah. Jackson bekerja di sebuah studio musik, awalnya hanya sekedar menjadi penjaga toko, tapi lambat laun naik pangkat menjadi instruktur musik. Tapi alasan sesungguhnya mengapa Jackson senang bekerja di sana adalah, karena Youngjae, pemilik studio musik itu, sama sekali tidak mempermasalahkan Jackson yang tiba-tiba harus ijin di tengah-tengah waktu kerjanya.
"Youngjae itu keren, man." Jackson bercerita dengan antusias sepulang dari bekerja, matanya berkilat penuh penghormatan, dan Jaebum berusaha menahan wajahnya agar tetap biasa saja. "Oh ya?" tanya Jaebum, menyesap gelas sampanyenya lambat-lambat.
Jackson menyipitkan matanya.
"Apa nih? Kamu cemburu, ya?!" Jackson berteriak kegirangan seperti anak kecil, membuat Jaebum menatapnya tidak percaya.
"Siapa yang cemburu? Astaga."
"Ciyeee cemburu!" Jackson tertawa girang. "Ya Tuhan, kamu manis sekali!"
Jaebum Cuma bisa mengerang tertahan, membuat Jackson tertawa lebih keras.
27, 26
Ketika mereka pergi double dates bersama Jinyoung dan Mark, mereka berdua menggoda Jaebum dan Jackson sebagai pasangan kembar siam yang tidak bisa dipisahkan, bahkan setelah bertahun-tahun berlalu. Jaebum hanya tersenyum dan tidak berkata apapun, karena mereka benar. Jaebum sama sekali tidak berencana untuk melepaskan Jackson dari genggamannya.
Jackson memutar matanya. "Iya, dia memang sulit dienyahkan. Kayaknya sudah takdir kalau aku akan terus bersama orang ini." Ekspresinya malas, tapi hangat tangan Jackson yang melingkupi tangan Jaebum di bawah meja membuat Jaebum tahu bahwa Jackson sama sekali tidak serius dengan perkataannya barusan. Jaebum balas menggenggamnya. Jaebum tahu, terkadang, Jackson selalu menganggap dirinya beban untuk Jaebum, bahwa Jaebum lebih pantas bersama dengan orang lain yang tidak merepotkan, bahwa Jaebum pantas menjalani hidup yang normal.
Tapi Jaebum tidak ingin hidup normal.
Jaebum hanya ingin Jackson.
32, 31
"Holy shit," Jaebum menghela nafas lega begitu Jackson menggebrak pintu dan terengah sambil memegangi lututnya, muncul kembali setelah satu jam menghilang dari ruang ganti tempat mereka saling merapihkan tuksedo putih yang mereka kenakan. Biasanya, Jackson akan muncul kembali di tempat yang sama ketika dia menghilang, tetapi mereka sadar, ketika emosi Jackson sedang tidak stabil, semesta sedikit mengacaukannya. Kali ini, Jaebum berharap ketidak-stabilang emosi Jackson karena dia sedang sangat bahagia.
"Aku kira kamu akan meninggalkanku di altar," canda Jaebum, tapi tetap tidak bisa menyembunyikan nada khawatirnya.
Jackson tertawa berderai, namun matanya menyiratkan keseriusan ketika akhirnya dia menjawab. "Tidak akan." Sumpahnya, dengan nada yang rendah dan tidak bergetar sama sekali.
"Lalu, kamu ke mana tadi?" Jaebum tidak tahan untuk merajuk sedikit, membuat Jackson menyunggingkan senyumnya.
"Aku sedang mengajari seorang anak kecil berbahasa cina. Aku telat gara-gara anak itu. Masa satu kalimat saja tidak bisa—" kata-katanya terhenti oleh bibir Jaebum yang menempel di bibirnya, menciumnya panas.
"Wo ai ni, kan?" jawab Jaebum, setelah melepaskan diri dari bibir Jackson, wajah Jackson berubah menjadi sangat cerah begitu mendengarnya.
Jinyoung dan Mark kemudian menampakkan diri, ekspresi mereka tampak kontras. Mark, dengan ekspresi tenangnya yang seperti biasa mendorong Jaebum agar segera bersiap di depan pintu menuju chapel, sementara Jinyoung dengan wajah pucat dan panik membetulkan dasi kupu-kupu Jackson sekenanya lalu menarik Jackson menuju pintu belakang. "Ayo, kalian sudah telat!"
Jaebum sedikit terseok berjalan menuju podium dengan kotak cincin di tangannya yang berkeringat, dia menaiki tangga dengan gugup, lalu berdehem ketika pastor melihatnya dengan pandangan tak setuju. Jaebum menyisir rambutnya dengan gelisah, kemudian membetulkan dasinya. Tepat ketika itulah pintu kayu yang berat terbuka, memberi jalan bagi Jackson yang terlihat sama gugupnya. Membawa segenggam buket bunga hydrangea, Jackson berjalan dengan wajah bahagia yang tidak dapat disembunyikan, langkahnya yang pasti semakin mempersempit jarak mereka berdua.
33, 32
Jaebum berusaha untuk tidak terlalu sedih ketika di suatu minggu pagi, Jackson tiba-tiba menghilang dari pandangannya, padahal mereka sedang berbaring berdua mengenakan sweater hangat menikmati kopi sambil menonton film romantis di sofa mereka.
Jackson kembali di saat film telah usai, ketika kedua tokoh utamanya berciuman hangat. Jackson tampak kusut walau tidak terlalu terlihat, tetapi pandangan matanya membuat Jaebum segera mengecilkan volume televisinya. "Kapan?" tanya Jaebum singkat, Jackson tertawa datar.
"Entahlah. Kamu masih muda, umur enam belas tahun, mungkin?" Jackson mengira-ngira. "Kamu menangis. Aku tidak tahu kenapa."
Jaebum mendekatkan dirinya ke Jackson, lalu menariknya dalam pelukan, membuat tubuh kaku Jackson perlahan rileks. "Pasti bukan apa-apa, palingan cuma gara-gara emosi labilku. Namanya juga masih remaja." Jaebum meyakinkan Jackson, membelai punggung Jackson lembut hingga Jackson seperti meleleh di pelukannya.
"Pertama kalinya aku melihat kamu sesedih itu," ujar Jackson, suaranya pelan, nafasnya menggelitik belikat Jaebum.
Jaebum menghela nafasnya, mencoba mengingat-ingat kenapa saatnya itu dia menangis. Satu kenangan melintas dalam pikiran Jaebum.
"Oh, waktu itu." Jaebum terkekeh. Jackson menengadahkan kepalanya, membuat Jaebum melanjutkan perkataannya. "Itu… emosiku sedang meluap-luap. Bayangkan, tujuh belas tahun, gay, jatuh cinta pada orang yang—sebenarnya—belum pernah aku temui. Aku cuma… agak stress waktu itu."
Daripada lega, Jackson malah terlihat makin merasa bersalah mendengar jawaban Jaebum. Dia melepaskan pelukan Jaebum, menolak ketika Jaebum mencoba memeluknya kembali.
"Nggak seharusnya kamu mengalami semua ini." Kalimat Jackson terdengar sangat berat, matanya tidak mau bertemu Jaebum, membuat jantung Jaebum seakan ingin berhenti. "Kamu terlalu baik buatku."
"Jackson," Jaebum berkata, tidak bisa menyembunyikan ketakutan dan keputus-asaan dalam suaranya. "Jangan begitu—"
"You're idiot." Jackson mengatakannya dalam Bahasa Inggris. "Kenapa mau-maunya denganku coba." Katanya pelan.
Jaebum tersenyum.
34, 18
Ketika Jaebum kembali ke kantornya setelah makan siang, dia menemukan Jackson sedang duduk di kursinya. Jaebum buru-buru menutup pintu, lalu mengernyitkan keningnya. "Kok kamu di sini? Bolos kerja lagi? Youngjae bisa marah, loh."
"Siapa itu Youngjae?" tanya Jackson. Saat itulah Jaebum sadar kalau Jackson tengah mengenakan seragam SMA-nya dan terlihat lebih dari sepuluh tahun lebih muda dari Jackson yang pagi ini ditemuinya.
"Kok—kenapa—umur berapa kamu?" Jaebum terbata-bata. Jackson tersenyum sangat lebar melihat Jaebum yang terkejut.
"Delapan belas." Jawab Jackson, berjalan mendekati Jaebum, sangat-sangat dekat sampai Jackson bisa melucuti Jaebum dengan pandangannya. "Kamu umur berapa? God, you're so hot." Ujarnya, langsung membuat milik Jaebum mengeras.
"Umurku terlalu tua untukmu, walau kamu sudah cukup umur sekarang." Jawab Jaebum, agak kasar, mencoba menyembunyikan kenyataan bahwa pujian Jackson membuatnya sangat senang. "Kamu nggak berbohong soal umurmu, kan?"
Jackson tertawa keras, membuat ramai seisi ruang, memaksa Jaebum untuk menutup mulut Jackson dengan tangannya. "Ssshh." Bisik Jaebum kesal, Jackson hanya menatapnya. Ketika Jaebum melepaskan tangannya, Jackson mendengus. "Beberapa bulan lagi aku sudah lulus SMA."
"Oh." Jawab Jaebum, masih tampak ragu-ragu. Jackson terlihat begitu muda, walau rambutnya sekarang terlihat lebih pendek daripada saat ia melihatnya di umurnya ke-15. Jackson yang ini memang terlihat lebih dewasa, entah di bagian yang mananya. Telinganya tertindik, sebuah simpai perak menghiasinya. Jaebum menatap benda itu tak suka, seolah dia ini orang tua Jackson atau apa. Mungkin karena Jaebum terlalu terbiasa melihat Jackson masa kini, sehingga dia bingung ketika melihat Jackson yang sedikit muda. "Oke, untuk sementara ini aku percaya."
"Jadi, Youngjae itu siapa?" tanya Jackson lagi, terlalu terlihat tertarik. Jaebum menelan ludahnya. Dia tidak begitu terbiasa dengan menyimpan rahasia agar tidak mengacaukan sejarah seperti yang sering dilakukan Jackson, jadi Jaebum buru-buru menjawab. "Bukan siapa-siapa." Yang tentu saja dijawab Jackson dengan pandangan skeptis.
Jackson tidak pernah memberitahunya kalau dia pernah mengunjungi kantor Jaebum di umurnya yang ke-delapan belas. Kalau saja Jackson memberinya peringatan, Jaebum pasti tidak seterkejut sekarang dengan kedatangan Jackson. Atau mungkin, Jackson memang sengaja merencanakannya agar Jaebum terkejut. Well, tentu saja Jaebum tidak akan terjebak dengan perangkapnya.
Tapi saat ini, melihat Jackson muda sedang duduk di bangkunya kembali, Jaebum tidak bisa tidak memerhatikan betapa terlihat rapuhnya Jackson sekarang. Tanpa sadar, Jaebum mendekat untuk mengenyahkan serpih salju di rambut Jackson. "Apa di sana sedang bersalju?" tanya Jaebum lembut.
Jackson terkejut begitu Jaebum menyentuhnya, namun segera mengijinkannya. Melihat itu, Jaebum jadi teringat anak kucing yang pernah ia pelihara ketika masih kecil. Ini kedua kalinya Jaebum melihat Jackson begitu muda, jadi dia bertekad untuk tidak mengambil keuntungan dan menyerah pada perasaannya seperti pertama kali dulu.
Tapi Jackson sama sekali tidak membantunya ketika dia menarik dasi Jaebum dan membuat tubuh Jaebum terjatuh ke depan dengan bibir mereka yang terbawa begitu dekat. Telapak tangan Jaebum mendarat di meja kerjanya, membuat dokumen-dokumen berserakan.
"Aku sudah menunggu tiga tahun," ujar Jackson, napasnya berat, bibirnya mencari bibir Jaebum. Jaebum mencoba mengelak, tapi cengkeraman Jackson penuh tekad. Pada akhirnya Jaebum menyerah pada keinginannya, dia mencium Jackson, merasakan bibir dan lidahnya yang tidak pernah gagal untuk membuat seluruh tubuh Jaebum bangun dan bergetar. Jackson menciumnya penuh gairah, membuat Jaebum bertanya-tanya penuh kecemburuan, darimana dia belajar semua ini. Jaebum melepaskan bibirnya dari bibir Jackson, mengecup sepanjang rahang Jackson dan berakhir pada daun telinganya. Jackson mendesah, membuat Jaebum sadar bahwa dirinya tidak akan bisa menolak Jackson sampai kapanpun, walaupun Jaebum tahu bahwa dia bisa saja menghentikan semua ini dalam sedetik. Masalahnya adalah, Jaebum tidak mau berhenti. Sepengecut itulah Jaebum. Selalu membuat Jackson menginisiasi semua tidakan awal yang membutuhkan keberanian.
Ada perasaan aneh yang tidak bisa terdefinisi ketika Jaebum mencium Jackson yang berumur 18 tahun sedangkan Jackson yang sebenarnya tengah bekerja di sebuah toko musik, sama sekali tidak tahu apa yang suaminya sedang lakukan saat ini. Jaebum bukannya punya kesukaan aneh atau semacamnya, tapi bayangkan saja, jika sekarang Jackson yang sebenarnya tengah memergoki seorang anak SMA berada di kantor suaminya, dengan kaki yang melingkari pinggang Jaebum, mendesah tertahan dengan bibir menempel erat pada bibir Jaebum, apa yang akan dia rasakan? Apa Jackson akan merasakan kecemburuan yang sama seperti ketika Jaebum cemburu pada dirinya sendiri di masa lalu? Atau, akankah dia tertawa dan ikut bergabung dengan mereka?
Lamunan Jaebum terhenti oleh tangan tak sabar Jackson yang sekarang tengah menelusup ke dalam pakaiannya, sambil melucuti kancing kemeja Jaebum, membuat dada bidang Jaebum terekspos. Ujung bibir Jackson terangkat begitu menyadari debar jantung Jaebum meningkat.
"Hei, hei." Jaebum mencoba berhenti begitu sadar semuanya sudah agak di luar kendalinya. "Mainnya di atas pinggang saja, oke? Jangan ke bawah."
"Hah?!" Jackson memekik kecewa, seolah Jaebum baru saja mengumumkan kapan dunia berakhir. "Lalu ini bagaimana?" tanya Jackson kesal, sambil membawa tangan Jaebum menuju sesuatu yang mengeras di balik celananya, membuat Jaebum tergesa-gesa mundur segera setelah merasakan milik Jackson yang berdenyut panas, membuat milik Jaebum juga mengeras.
"Hyung," Jackson menggesekkan tubuhnya ke tubuh Jebum sambil merengek, nada rengekan yang Jaebum tahu pasti disengaja oleh Jackson, karena Jackson tahu bahwa Jaebum selalu tidak bisa menolaknya. Tapi kali ini, Jaebum tidak akan terperangkap dalam rengekan itu.
Jaebum perlahan melepaskan pelukan tangan Jackson di lehernya, tidak menggubris pupil mata Jackson yang melebar dan berkaca-kaca dan bibirnya yang kemerahan seolah menunggu bibir Jaebum. Jaebum mundur, masih memegangi pergelangan tangan Jaebum dengan satu tangannya, tangan Jaebum yang lain melepaskan dasinya, kemudian mengikatkannya pada kedua pergelangan tangan Jackson.
Sebelum Jackson melawan, Jaebum berlutut di hadapan Jackson, membuka kedua paha Jackson, melepas celana Jackson lalu mengulum milik Jackson.
"Ah!" Jackson mendesah ketika kejantaanannya menyentuh hampir ke kerongkongan Jaebum. Jackson memegangi pundak Jaebum sangat erat karenanya. Matanya terpejam, penuh ekstasi. Membuat Jaebum sendiri tidak tahan untuk membuka celananya dan memijat miliknya sendiri. Bergerak seiring dengan irama nafas Jackson. Mencapai klimaks berdua ketika Jackson meneriakkan kata Jaebum-hyung.
"Hyung tidak mau memelukku?" Jackson merajuk, seolah barusan dia tidak membuat Jaebum melanggar hokum. Mendengarnya, Jaebum tersenyum, lalu merapikan seragam Jackson. Dia tidak ingin siapapun, khususnya Mark, melihat Jackson seperti ini ketika dia kembali. Walaupun sekarang Jaebum sudah tahu bahwa Mark sudah bersama Jinyoung, Jaebum tidak ingin mengambil risiko.
Setelah itu, sepanjang siang Jackson duduk di pangkuan Jaebum, segala pekerjaan terlupakan, terlalu sibuk membelai kepala Jackson hingga dia jatuh tertidur dengan senyum menghiasi wajah. Refleks, Jaebum mengecup kening Jackson lembut. Ketika Jackson terbangun dan separuh menghilang dari hadapannya, Jaebum masih memeluknya erat.
TO BE CONTINUED
verde's note :
Ternyata cuma tinggal 1 chapter lagi habis gini x"D bagian yang terakhir itu yang paling nghhh banget. Asli saya bacanya sampe kebawa mimpi, saking True Love nya Jackson sama Jaebum. Why mereka epic banget astagah.
Chapter terakhir akan saya translate ketika revisian skripsi sudah tidak begitu banyak. Semoga dalam satu atau dua minggu lagi. Byebye :") makasih yang sudah ngasih review. Penulis aslinya di benua lain sana pasti senang.
