Ada?

Wah ternyata Miki masih Idup, senang bisa kembali. masih kebayang banget pristiwa mau nyerempet BUS & Terios di tikungan tajam kemarin. Nyesal banget naik motor sambil melamun bahkan saking cepetnya nyampe nggak sadar kecepatan diatas 60KM/H. Syukur banget Miki masih dikasih umur sampai hari ini. (Curhat mode)

Ternyata Miki takut juga ma kematian.

Sumpah bikin Miki takut naek Motor.

(curhat mode-Off)

.

Adakah yang masih ingat ma Fic Miki ini?

Miki Ucapin makasih Banget buat Reader yang udah fav, review & PM Fic Miki yang nggak jelas & ngawur ini.

Maaf buat reviewer yang 'pengen tahu' kejelasan kenapa Naru jadi Gitu, masih belum dimuat di Chap ini. Insya allah Miki perjelas di Chap Depan.

.

.

.

Story Begin

Ruang Osis KIHS

"Kalau kau memerlukan back up laporan ini, ada di folder biasa" Ucap Gaara sambil menyerahkan sebuah laporan pada Sang ketua osis yang nampak serius berkutat dengan laptop di depannya.

"Hn" Jawab sang ketua Osis.

Setelah meletakan laporannya di meja sang ketua Osis. pemuda bersurai merah bata itu meninggalkan ruang Osis. meninggalkan tanda tanya dikepala seluruh yang ada diruangan itu (a.k.a Neji, Shikamaru, & Sasuke).

'Tidak biasanya' batin mereka sambil saling pandang sesaat setelah Gaara hilang ditelan pintu (?).

.

.

.

Naru Enchanted

Warning : OOC, EYD berantakan, alur supersonic (cepat).

Rated : T

Genre : Family & other

Pair : Sasu Fem Naru

Spesial Chap ini Full Gaa Fem Naru

Ps : Kayaknya ini Chapter yang membosankan

.

.

Siang itu cuaca nampak cerah, seorang gadis berambut pirang sepunggung nampak menopang dagu dipinggir pembatas atap KIHS, sesekali ia berbalik menatap kearah pintu masuk atap. Gadis itu adalah Namikaze Naruto.

"Haaah…. lama sekali" gumamnya setelah melihat pintu masuk atap yang masih belum bergeming. kemudian ia berbalik dan mendongakan kepalanya keatas melihat langit biru tanpa awan yang menghalangi sinar matahari.

CLEK…..

Mendengar pintu dibelakangnya terbuka, Naruto langsung berbalik untuk melihat siapa yang masuk itu. Senyumnya langsung berkembang ketika mengetahui bahwa yang masuk adalah orang yang telah ditunggunya sejak bel istirahat berbunyi beberapa menit yang lalu.

"Sudah lama?" tanya Gaara setelah menutup pintu yang baru saja dilewatinya.

"Lumayan jika sejak aku menghubungimu" jawab Naru sambil melihat jam di ponselnya.

"Kapan kau menghubungiku?" tanya Gaara bingung.

"Tadi pagi ketika kita bertemu di gerbang" Jawab Naru lagi.

"Kau sebut itu menghubungi?.ada-ada saja" lanjut Gaara sambil tersenyum singkat.

"Gaara jahat" Gumam Naru sambil menggembungkan kedua pipinya.

"Maaf…Maaf…. Harusnya kau jangan bilang menghubungi tapi meminta" Jawab Gaara sambil menepuk pelan puncak kepala Naru. "Jadi dimana makan siangnya?" Lanjut Gaara.

"Ah iya, Sebaiknya kita segera makan siang. aku tidak mau membuang jam istirahatku berdebat denganmu" Balas Naru sambil menunjukan cengiran khasnya dan mengeluarkan makan siang yang dibawanya.

"Kalau tidak mau membuang waktu denganku. kenapa mengajakku" Jawab Gaara sambil menggambil Onigiri dari kotak makan siang itu.

"Bukan denganmu, tapi berdebatnya. B-e-r-d-e-b-a-t-nya" sambung Naru menekankan pernyataannya sambil menikmati makan siang itu.

"Hemm…Kau memang tidak berubah" Ucap Gaara sambil tersenyum singkat yang dibalas oleh cengiran lebar dari gadis didepannya.

sesaat hening menghampiri mereka.

"Hey, kau mau dengarkan ini?" Ucap Gaara sambil menyerahkan sebelah earphone yang terkonek pada ponsel yang berada ditangannya, sedang yang sebelahnya lagi tengah bertengger pada telinganya.

dengan senang hati Naru menerima Earphone itu. setelah earphone itu terpasang ditelinganya Gaara memutar sebuah lagu.

Déjà vu, itulah yang dirasakan Naru ketika mendengar awal lagu yang mengalun. perlahan wajahnya memerah ketika mengetahui lagu itu.

"Ka…kau. sejak kapan?" tanya Naru dengan nada terkejut.

"Hemm, kalau mengingat saat itu. lucu sekali" jawab Gaara seolah mengabaikan pertanyaan Naru.

mendengar jawaban Gaara wajah Naru semakin memerah.

"A…aku kan saat itu tidak tahu" elak Naru sambil menundukan kepalanya. "Andai saja saat itu tidak ada pernyataan itu" lanjut Naru sambil mendongakan kepalanya melihat kearah langit (lagi).

"Hemmm" Ucap Gaara sambil ikut mendongakan kepalanya.

"Ummm, mungkin tuhan enggan melihatku bahagia" lanjut Naru sambil menerawang.

"Bukan enggan, tuhan hanya mengujimu untuk terus berusaha. aku yakin siapapun yang akan bersamamu adalah Orang yang paling sempurna" Ucap Gaara sambil membawa kepala Naru untuk bersandar pada bahunya. "yah, meskipun aku sangat berharap orang itu adalah Aku".

"Maafkan aku Gaara. tapi kuharap kau akan teruslah seperti ini" Ucap Naru.

"Hem, aku akan berusaha terus seperti ini" ucap Gaara. 'meskipun mungkin suatu saat aku harus merelakanmu'

Naru maupun Gaara menutup mata mereka perlahan menikmati alunan Lagu melalui earphone itu. tanpa mereka sadari sepasang mata onyx yang sejak beberapa saat lalu menatap dingin (kosong) kearah mereka. terlihat map coklat ditangannya berkerut karena remasan yang dilakukan oleh sipembawa sebelum akhirnya ia beranjak meninggalkan atap itu.

.

.

.

Skip time & place

Uchiha Mansion

"Selamat Datang, tuan muda" ucap seorang pelayan yang membuka pintu mansion itu sambil menyambut seorang pemuda berambut Raven, bermata onyx, berkulit putih, dan jangan lupakan wajah dinginnya yang menguarkan hawa yang seolah mengatakan JANGAN GANGGU AKU ATAU KAU MATI. ya, tuan muda itu adalah Uchiha Sasuke. putra bungsu pemilik mansion itu.

BRAAK….

Setelah menutup pintu kamarnya dengan sedikit kasar. Sasuke melempar tasnya ke kasur dan langsung berjalan menuju kamar mandi yang berada di (salah Satu) sudut ruangan itu.

setelah berada di ruangan 2x2m itu sekitar 1jam. Sasukepun keluar sambil mengeringkan rambut ravennya. setelah memasang baju kaos ia memasang headset yang tersambung pada laptop yang berada disampingnya dan memejamkan matanya sambil bersandar pada punggung king bednya.

.

.

sebuah tangan terulur sambil mengibas kekiri-kanan sesekali keatas-bawah menyadarkan Sasuke yang saat itu tengah mendengarkan music.

"Apa maumu, baka aniki?" tanyanya dingin lengkap dengan aura membunuh yang pekat.

"Fuh, akhirnya kau sadar juga" Ucap pria yang dipanggil baka aniki itu, kemudian memasang pose menghapus keringat.

"Jika kau tidak ada urusan sebaiknya segera tinggalkan kamarku" lanjut Sasuke.

"Ck, kau pikir berapa lama aku berada disini" ucap pria itu yang tidak lain adalah Uchiha Itachi, anikinya. "Kaasan sudah memanggilmu sejak tadi untuk makan malam. yah, meskipun akhirnya kami tinggalkan" lanjutnya dengan wajah tidak bersalah.

"Lalu apa maumu?" tanya Sasuke untuk kesekian kalinya.

"Sebaiknya kau segera makan malam. Sebelum tousan yang menyuruhmu" perintah Itachi.

"Sudah selesai?" tanya Sasuke lagi sambil menatap tajam anikinya. "Nanti aku turun"

.

'ada apa dengan anak ini?' batin Itachi sambil mengamati adiknya dengan seksama. 'tidak ada yang aneh' pikirnya sambil memijat dahinya.

"Apa lagi?" tanya Sasuke saat melihat anikinya tidak menunjukan ciri-ciri akan meninggalkan kamarnya.

"Haaah" Hela Itachi pasrah.

"Oya, aku mau meminjam buku panduan KIHS. Kau masih menyimpannya kan?" pinta Itachi.

"Cari saja disana" Ucap Sasuke sambil menunjuk rak buku pelajaran yang berada disamping pintu balkon.

Itachi yang mendapat persetujuan adiknya pun hanya bisa mengerutkan dahinya sebelum akhirnya menuju rak buku itu untuk mencari buku yang dimaksudnya.

.

setelah beberapa saat mengubrak-abrik rak buku itu akhirnya itachi menemukan buku yang dicarinya.

"Otouto, buku ini aku bawa" Ucap Itachi sambil memperlihatkan buku yang dibawanya. namun, orang yang dipanggil tidak merespon, melainkan hanya duduk menyandar seperti saat itachi menemukannya pertama kali namun kali ini sebelah lengan menutupi matanya.

"Kau ada masalah Otouto?" tanya Itachi sambil menepuk bahu adiknya.

mendapati tepukan di bahunya mau tidak mau Sasuke membuka matanya dilengkapi dengan deathglare mematikan yang sama sekali tidak mempan bagi orang yang berdiri didepannya itu.

"Kalau kau sudah menemukan yang kau cari sebaiknya segera pergi dari sini" Ucap Sasuke lagi sesaat setelah melihat buku yang berada ditangan anikinya.

Lagi-lagi Itachi hanya bisa menghela nafas melihat tiangkah adiknya yang menurutnya sangat mengesalkan.

"Baiklah, karena sepertinya kau sedang galau". ucap Itachi sambil berjalan menuju pintu kamar otoutonya itu.

"Kalau kau menyukai seseorang sebaiknya segera kau utarakan" Lanjutnya ketika berhenti didepan pintu ruangan itu ketika hendak menutup pintu.

BRAAK….

Belum sempat Itachi memegang gang-gang pintu, sebuah laptop putih yang tadinya menemani Sasuke di kasurnya hancur setelah sukses menabrak dinding yang berada tepat disamping pintu yang akan dilewatinya.

Itachi menatap horror laptop itu sebelum melihat adiknya yang tengah menatapnya tajam seolah berkata Aku akan segera membunuhmu. Sehingga ia memutuskan untuk segera meninggalkan ruangan itu.

.

.

Skip time…

KIHS, keesokan harinya.

Naru Pov

"Sepertinya Gaara belum datang, kutunggu saja" gumamku pelan sambil melihat kearah parkeran mobil yang berada tidak jauh dari pos satpam sekolah. kulangkahkan kakiku menuju sebuah kursi panjang yang berada tidak jauh dari sebuah ferrary spot biru dongker yang tengah terparkir.

kaca mobil yang berada disamping kemudi itu terbuka menampakan seorang pemuda yang menurutku tidak asing tengah bersandar dengan mata tertutup dan earphone yang menutup sebelah telinganya.

Perlahan ingatanku tentang pristiwa 2hari yang lalu terlintas. "Dia? lebih baik aku mengucapkan terima kasih kepadanya" gumamku sambil tersenyum dan menghampiri (pemilik) mobil itu.

End Naru Pov

.

merasa mobilnya diketuk seseorang Sasuke membuka matanya. sedikit terkejut tergambar diwajah stoicnya saat mendapati sosok Naru yang tengah berdiri disamping mobilnya sambil tersenyum hangat (menurut Sasuke).

"Ada apa?" tanya Sasuke sambil menatap dingin Naru.

"Aku hanya mau mengucapkan terima kasih" Jawab Naru sambil masih menunjukan senyumnya.

Sasuke yang mendengar pernyataan gadis yang berada disampingnya itu hanya bisa menatap diam.

"Aku tidak ingat mengucapkan terima kasih saat kau mengantarku pulang 2 hari yang lalu. jadi terima kasih" Jelas Naru.

terkejut, mungkin itulah yang dirasakan Sasuke saat Naru menjelaskan maksudnya padahal Sasuke hanya diam tanpa bertanya 'untuk apa?' meski sebelum Naru menjelaskannya ia sudah hendak menanyakannya.

"Hn" jawab Sasuke akhirnya. singkat, padat, dan sangat tidak jelas (bagi Naru).

"kau mengatakan sesuatu?" tanya Naru.

Sasuke hanya menatapnya bingung, namun ekspresi itu kembali menjadi pandangan dingin.

"Ada lagi yang perlu kau bicarakan?" tanya Sasuke dingin.

"Tidak, itu saja" jawab naru singkat.

"kalau begitu pergilah" Ucap Sasuke seraya kembali keposisinya sambil berniat memasang earphonenya.

Begitu mendengar perintah dingin Sasuke, Narupun berlalu dari samping mobil itu dengan wajah kesal. Ia pun mendudukan diri di kursi panjang yang tadinya ia tuju sebelum menemui Sasuke sambil membaca buku yang di berikan Kyubi saat mengantarnya. Tanpa disadarinya Sasuke yang tadi disapanya tengah menatapnya dari dalam mobilnya yang kini kaca mobil itu telah ditutup sehingga tidak ada yang dapat melihat wajah sang ketua osis KIHS itu.

.

ting…tong…teng…tong….

.

"Gawat, sudah bel. apa Gaara tidak masuk?" Ucap Naru sambil memasukan buku yang tadi dibacanya dan berjalan kearah gerbang. Sambil melihat kearah jam yang melingkar ditangannya sesekali dilihatnya kearah gerbang yang dipenuhi siswa-siswi KIHS yang berlarian hingga akhirnya sepi.

"Kau tidak masuk, Dobe?" tanya Sasuke yang berdiri dibelakang Naru dengan ransel yang bertengger dibahu kirinya.

"Kau duluan saja" ucap Naru tanpa melihat kearah lawan bicaranya.

"kau menunggu seseorang?" tanya Sasuke lagi.

"Hemm" jawab Naru. Sesekali ekspresi cemas tergambar diwajahnya.

"Kalau kau menunggu Gaara, sebaiknya kau cari dia sekitar jam pelajaran ke 5" ucap Sasuke sambil meninggalkan tempat itu.

mendengar pernyataan Sasuke sontak Naru berbalik untuk melihat Sasuke, namun Sasuke sudah berjalan meninggalkannya. tanpa pikir panjang Naru segera berlari mensejajarkan langkahnya dengan Sasuke. Langkah Sasuke yang lumayan besar membuatnya terpaksa menarik lengan Sasuke bermaksud memperlambat langkah pemuda itu, atau syukur-syukur kalau Sasuke mau berhenti sebentar untuknya mengatur nafas sebelum bertanya.

"Teme, jangan cepat-cepat" Ucap Naru sambil memegang lengan Sasuke yang memasukan tangannya ke saku.

Mendengar ucapan Naru, Sasuke berhenti dan memberikan deathglare terbaiknya pada si pelaku.

"A…apa?" tanya Naru gugup sambil melepaskan pegangannya setelah mendapati tatapan tajam Sasuke.

"Ck, Dobe" Ucap Sasuke sambil meneruskan langkahnya yang sempat berhenti.

"Tu…Tunggu teme. kau belum menjelaskan padaku" ucap Naru kemudian kembali mengejar Sasuke.

Setelah mendengar penjelasan Sasuke. merekapun berjalan beriringan menuju kelas mereka yang berada dilantai 3. sepanjang perjalanan semua mata penghuni KIHS menatap Sasuke maupun Naru yang berjalan beriringan. Sasuke yang bersikap Cool seperti biasa. Naru yang berjalan dibelakangnya dengan sedikit tersenyum (setelah mendapat persetujuan Gaara untuk menemaninya makan siang lagi). membuat semua yang berada disepanjang lorong itu memberikan tatapan mengintimidasi padanya.

"Ck, beraninya anak itu. aku akan memberinya pelajaran" Ucap seorang siswi yang berdiri di balkon lantai 2 yang melihat kejadian itu sejak awal (setidaknya sejak kejadian dilapangan sekolah).

.

.

"Kau jahat sekali Gaara, aku menunggu seperti orang bodoh" ucap Naru sambil menggembungkan pipinya.

"Maafkan aku, lagi pula siapa yang menyuruhmu menungguku" balas Gaara sambil menikmati bekal makan siang yang tersaji didepannya.

"Tidak ada. Tapi kau kan tau kalau aku tidak mengenal siapapun disini" Jawab Naru murung.

"Aku senang" Ucap Gaara sambil tersenyum singkat menatap gadis disampingnya.

"Apa?" Tanya Naru dengan Ekspresi bingung nya sambil menatap balik kearah Gaara.

"Aku senang setelah kita bertemu kau masih senang menungguku seperti dulu" lanjut Gaara lagi.

Perlahan kedua sudut bibir Naru mengembang. Menunjukan sebuah senyum hangatnya.

"lalu, siapa yang memberitahumu kalau aku akan terlambat hari ini?" Tanya Gaara disela menikmati makan siangnya.

"Orang yang paling menyebalkan yang pernah kutemui" gumam Naru saat wajah Sasuke terbersit dipikirannya.

"Benarkah? Seperti apa dia?" Tanya Gaara tertarik karena menurutnya melihat wajah Naru yang kesal itu sangat menyenangkan.

"Gah, aku tidak mau membicarakannya. Yang pasti kau tahu orang itu dan dia sangat menyebalkan"Ucap Naru sambil mengepalkan tangannya.

"Siapa?" Tanya Gaara setengah penasaran.

"Entahlah. Aku tidak tahu namanya. Yah meskipun sekelas dengannya yang kutahu dia sering membolos. Tipikal anak berandalan" tambah Naru.

Gaara hanya bisa menatap bingung kearah Naru yang mendeskripsikan orang yang menurut Naru adalah temannya itu.

"mungkin kalian memiliki sedikit kesamaan" Lanjut Naru dengan pose berpikir.

"Kesamaan?" Tanya Gaara bertambah bingung.

"Sama-sama pelit ekspresi" Ucap Naru sambil nyengir kearah Gaara.

"haaah…..Apa itu pujian?" Tanya Gaara sambil memijat pelipisnya, sweatdrop.

"tentu saja kau lebih baik. Tidak sepertinya yang tempremental" Lanjut Naru.

Mendengar jawaban Naru, Gaara hanya dapat tersenyum singkat.

.

Ting….tong….teng…..

"Sudah bel, sebaiknya kita segera turun" ucap Gaara sambil berdiri dan menepuk-nepuk belakang celana.

"Hmm" Jawab Naru sambil membawa kotak makan siangnya.

Merekapun berjalan bersampingan menuju kelas masing-masing. Tanpa mereka sadari sepanjang lorong beberapa siswi nampak menatap dingin sambil sesekali berbisik saat melihat Naru dan Gaara melewat mereka.

"Gaara, kenapa perasaanku tidak enak?" bisik Naru sambil menggandeng tangan Gaara.

"Hanya perasaaanmu" jawab Gaara ringan.

Mendengar jawaban singkat Gaara. Merekapun kembali melanjutkan langkah mereka menuju kelas.

"kau tidak masuk kelasmu, Gaara?" Tanya Naru sesaat mereka melewati kelas Gaara, XI-C.

"Aku harus mengurus persiapan festival sekolah yang akan dilaksanakan 2 minggu lagi" Jawab Gaara. Sedangkan Naru hanya dapat ber'Oh ria mendengar jawaban Gaara.

"kau mau pulang denganku nanti? mungkin akan sedikit terlambat" Ucap Gaara ketika mereka berhenti didepan kelas XI-A.

"Hemm, kalau itu tidak merepotkanmu" angguk Naru.

"Ok, nanti kau tunggu saja di taman dekat parkir atau keruang Osis dilantai 2" ucap Gaara lagi sambil tersenyum singkat yang membuat beberapa siswi ditempat itu berteriak histeris melihat pemandangan langka.

"Hemm, aku duluan Gaara. Bye" Ucap Naru kemudian masuk ke kelasnya dan Gaara segera meninggalkan tempat itu sambil memasukan kedua tangannya di saku.

.

.

"Minggu depan kita ulangan. Kuharap kalian menguasai pelajaran hari ini" Ucap Kakashi sensei, selaku guru fisika yang mengajar dikelas Naru. "Selamat siang"

"Selamat siang sensei" Ucap seluruh penghuni kelas itu.

Setelah Kakashi sensei meninggalkan kelas itu siswa-siswi bergegas membereskan buku pelajaran mereka sambil sesekali terdengar gumaman atau keluhan terhadap pesan kakashi sensei yang baru saja meninggalkan kelas mereka.

"Namikaze-san, kau ada waktu sebentar tidak. Ada yang ingin ku'beritahu'?" Tanya seorang siswi bersurai pink yang menghampiri meja Naru ketika ia baru saja hendak memasang hearing aidnya.

"Ada apa?" Tanya Naru bingung.

"jangan disini tidak enak didengar yang lain" Ucap siswi yang berdiri disamping meja Naru itu sambil tersenyum tipis.

"Hemm" angguk Naru kemudian mereka berjalan meninggalkan kelas itu.

Merekapun berjalan menyusuri lorong lantai 3 itu dengan pelan sesekali sambil bercanda hingga tidak terasa mereka sampai diatap sekolah dimana Naru biasa beristirahat. Begitu pintu atap terbuka nampak 2orang siswi tengah berbincang dan mereka langsung menghampiri Naru yang baru saja muncul dari pintu atap, sedangkan siswi bersurai pink yang tadinya berjalan dengan Naru langsung menutup pintu atap.

"Well, lihat Ino gadis murahan ini akhirnya berada disini" Ucap Seorang siswi berambut merah kepada siswi yang berjalan bersampingan dengannya, Ino.

"Ya. besar sekali nyalinya sebagai siswa baru" Tambah Ino sambil menatap sinis kearah Naru ketika kedua siswi itu berada tepat didepan Naru.

"Ada apa ini?" tanya Naru bingung.

"Lihat Karin, bisa-bisa dia bersikap sok polos begitu padahal kesalahannya sudah jelas" Ucap Ino sinis sambil menatap kearah siswi bersurai merah disampingnya. "Jangan-jangan dia bersikap begini juga untuk menarik perhatian Sasuke dan Gaara" lanjutnya.

"A…Apa maksud kalian?" tanya Naru sedikit gugup saat mendengar nama Gaara disebut.

"Heh, Bitch. jangan pikir setelah kau sekelas dengan Sasuke. kau bisa memilikinya" teriak Siswi yang dipanggil Karin itu sambil meletakan tangannya di pintu atap yang sudah ditutup siswi berambut pink yang berdiri disamping Naru sambil menyilangkan tangannya didepan dada.

"A…aku tidak paham maksud kalian" bela Naru.

"Orang munafik sepertimu tidak akan mengerti biarpun kami jelaskannya, Bitch" Ucap Karin lagi.

"Haruno-san, apa maksud semua ini?" tanya naru pada Siswi yang mengajaknya itu.

"Jauhi Sasuke-kun, atau kau akan tahu akibatnya" Ucap siswi yang berada disamping Naru sambil menatap sinis kearah Naru.

"Baik" Ucap Naru.

Sakura, Ino, Karin yang mengelilingi Naru sedikit terkejut melihat jawaban cepat Naru.

"Beritahu aku siapa Sasuke yang kalian maksud?" tambah Naru.

Mendengar pertanyaan Naru ketiga siswi itu saling berpandangan. kembali tatapan sinis terpatri diwajah ketiganya.

"Ck, kupikir dia memang siswi jenius seperti yang kudengar" Ucap Ino sambil menatap kearah Karin dan Sakura.

"Ternyata hanya seorang siswi bodoh yang beruntung bisa berada dikelas yang sama dengan Sasuke" Tambah Karin. "Orang sepertimu, lebih baik mati daripada menjadi pengganggu disekolah ini" tambahnya.

setelah mengucapkan itu ketiga siswi menertawakan Naru. sedangkan Naru hanya bisa terdiam, terkejut. perlahan Air mata mengalir dari kedua sapphire itu.

.

Naru Pov

DEG

'Jangan lagi, kumohon'

'apa salahku?'

.

"Lebih baik kau pergi dari sekolah ini. Kau itu pengganggu"

"kuharap, aku tidak pernah melihatmu lagi"

"Pergi kau, kau hanya pengganggu"

Beberapa memori masalalu berputar bagai rekaman yang diputar ulang.

.

perlahan kulangkahkan kakiku meninggalkan ketiga siswi yang mengelilingiku.

"Aku senang berada disini"

Kurasakan angin berhembus kencang disekitarku. Membuatku akhirnya menutup mata.

"NARUTO"

'apa itu?' Batinku saat mendengar panggilan keras yang menyebut namaku. Perlahan kubuka mataku untuk melihat siapa yang memanggilku.

"Terima kasih, Gaara" gumamku saat melihat sosok Gaara yang tengah berdiri di pembatas atap.

aku hanya dapat berharap tuhan tidak mengirim siapapun selain dewa kematian untuk menangkap tubuhku. Agar aku tidak lagi merepotkan Gaara.

End Naru Pov

.

"Hei lihat dia menangis" Ucap Sakura saat melihat air mata yang mengalir dikedua pipi Naru yang tertunduk.

"Mau apa dia?" tanya Ino saat melihat Naru yang berjalan menuju pembatas atap dengan tatapan kosong.

Perlahan Naru menginjak pembatas dan berdiri di arah luar pembatas.

"Aku senang berada disini" tambah Naru sambil menatap kearah langit. sebelum akhirnya ia menjatuhkan dirinya.

"HEI…" Teriak ketiga siswi itu sambil berlari menghampiri pembatas yang sebelumnya menjadi pijakan Naru. Terkejut, itulah yang dirasakan ketiga siswi itu saat melihat tubuh naru jatuh bebas tanpa alat Bantu.

.

.

"NARUTO" teriak Gaara yang saat itu baru saja memasuki pintu atap sesaat sebelum Naru menjatuhkan dirinya.

.

BRUUUAK…

Bunyi debaman keras benda jatuh mengejutkan seluruh siswa-siswi KIHS yang saat itu baru saja hendak pulang.

"KYAAA….."

Jeritan beberapa siswi pecah ketika melihat kejadian itu.

.

.

TBC

.

Mudah-mudahan Ficnya bisa ngehibur buat reader.